Chapter 11
"You and Me, Will Never Be Alone"
(Aku)
Beberapa waktu sebelumnya…
Setelah aku mendapati kenyataan bahwa organisasi pelindung umat manusia yang bernama Black Lotus itu benar-benar ada, di bawah pimpinan seorang pria bernama Hashirama Senju, aku heran kenapa aku begitu disambut hangat olehnya. Setelah aku mendengarkan rapat Black Lotus, walaupun sebagian besar aku tidak mengerti, dia menyuruhku ikut dengannya ke ruangan pribadinya. Dia ingin memberikanku sesuatu yang sebenarnya milikku sejak dulu.
Seusai rapat itu, aku mengikutinya ke koridor menuju ruangannya. Lorong koridornya terlihat begitu mewah dan megah, banyak ukiran yang tidak kukenali ditulis dengan bahasa apa, mungkinkah itu rune? Sambil mengikutinya dari belakang, aku mengagumi keindahan tempat itu dalam diam. Siapapun yang merancang arsitektur tempat ini, dia benar-benar punya selera terhadap hal yang berbau peradaban kuno.
Lorong koridornya saja sudah begini keren, apalagi ruang pribadinya. Itulah yang kupikirkan sebelum melihat isi ruang itu, sebelum ia mengizinkanku untuk memasuki ruangan itu.
Jauh dari yang kuharapkan dari ruangan seorang pemimpin. Kukira akan ada kursi singgasana dari emas, tapi yang kutemui hanyalah sebuah kursi kayu sederhana dengan meja hitam panjang yang terlihat biasa saja. Hashirama duduk di kursi itu sekarang, dia sepertinya sedang berusaha mengambil sesuatu dari laci bawah mejanya.
Ruangan itu bahkan tidak berpenerangan memadai. Hanya ada lilin yang menyala redup di mejanya, dan obor yang padam di dinding ruangan itu. Di salah satu sudut ruangan itu, hanya ada tempat tidur yang cukup untuk satu orang, dan kelihatannya juga kondisinya tidak terlalu bagus. Aku jadi heran sendiri, biasanya seorang pemimpin akan menghias sebagus mungkin ruang pribadinya untuk memperlihatkan kekuasaan dan kewenangannya. Yang satu ini tidak begitu.
"Maaf. Apa ruangan ini menurutmu kurang menyenangkan untuk dilihat?"
Aku menoleh pada pria dibalik meja hitam itu. Dia menatapku dengan matanya yang keemasan sambil tersenyum ramah, sepertinya tahu kalau aku sedang mengamati ruang pribadinya dengan seksama. Dipergoki seperti itu, tentu saja mau tak mau aku jadi salah tingkah. Aku hanya garuk-garuk kepala saja, walaupun sebenarnya tidak gatal.
"Yaah, bukan begitu juga…" kataku perlahan. "Aku hanya heran saja…"
"Apa yang membuatmu heran, Ichigo Kurosaki?"
Aku terdiam. Aku harus berhati-hati memilih kata-kata yang akan kuucapkan, salah-salah aku bisa membuatnya tersinggung. Karena sepertinya membuat marah seorang pemimpin saat pertama kali bertemu dengannya bukanlah kesan yang baik, jadi…
"Eh, tidak usah dipikirkan…" aku mengangkat tangan, tanda aku tidak ingin mulai membahas hal yang tidak menyenangkan. "Aku hanya sedikit penasaran, tapi tidak usah dipikirkan…"
"Aku akan sangat menghargai kalau kau mau memberitahuku apa yang membuatmu penasaran." Hashirama mengganti posisi duduk di kursinya agar lebih nyaman. "Tidak apa-apa. Tanyakan apapun yang kau mau, aku tidak keberatan."
"Benarkah? Tapi…"
Ini sekarang malah terasa seperti dia akan tersinggung kalau aku tidak bertanya. Karena itu, aku hanya menghela nafas dan menyerangnya dengan pertanyaan yang frontal. Gaya khasku.
"Kenapa kau tidak menghias ruangan ini seperti yang ruangan lainnya?"
Pertanyaan ini kupahami sendiri, sangatlah tidak sopan untuk ditanyakan pada orang lain, apalagi orang dengan posisi tinggi sepertinya. Tapi dia sendiri yang menawarkan pertanyaan padaku, dan aku hanya membalas tantangannya. Secara teknis aku tidak salah apapun…
Dia tidak terlihat terganggu dengan pertanyaanku. Sebaliknya, dia malah tersenyum maklum, sepenuhnya rileks. Jari-jari tangannya saling bertaut sementara ia mulai bicara dengan tenang.
"Banyak orang yang juga heran akan hal itu." Katanya. "Ini bukanlah pertama kalinya aku ditanya seperti itu…aku paham, tentu saja. Tidak ada pemimpin lain di zaman sekarang yang sepertiku, bukan?"
"Ya…begitulah." Aku melanjutkan seranganku. "Pasti ada alasannya, kan?"
"Tentu saja." Balas Hashirama. "Setiap perbuatan kita tidak boleh ada yang sia-sia."
"Jadi, apa alasannya?"
Hashirama menghela nafas, memejamkan matanya sebelum membukanya lagi dan menjawab.
"Aku berusaha mengikuti teladan seseorang yang mulia. Beliau juga seorang pemimpin bagi pengikutnya." Ujar Hashirama. "Beliau begitu rendah hati, begitu baik, begitu disayangi oleh semua pengikutnya…dan seorang yang dapat dipercaya."
"Siapa dia? Gurumu?" tanyaku.
"Bukan, aku hanya mengikuti teladannya dari buku-buku tentangnya. Beliau sudah lama tiada, tapi sampai kini beliau masih diingat oleh orang-orang di dunia ini sebagai pahlawan dan pemimpin yang terhebat. Aku sangat mengaguminya… Alexander The Golden."
Mata Hashirama bersinar dengan sinar yang sama seperti mata anak kecil yang baru saja menemukan hal yang menakjubkan. Perkataannya membuatku merasa ingin tahu lebih banyak.
"Tapi itu belum menjelaskan kenapa kau tidak menghias ruangan pribadimu dengan mewah dan megah seperti ruangan yang lainnya." Kataku pelan. "Apa orang yang kau kagumi juga begitu?"
"Tentu saja." Hashirama mengangguk. "Itu salah satu teladannya sebagai seorang pemimpin. Dia tidak pernah berlebihan dalam hal pribadinya, tapi selalu mementingkan kepentingan semua pengikutnya di atas hal apapun. Dia bahkan memberi semua hartanya demi membangun tempat untuk pengikutnya."
"Jadi itu alasannya…"
"Tepat sekali."
Diam-diam aku merasa kagum. Siapakah orang yang dikagumi Hashirama, sampai-sampai dia ingin mengikuti teladannya setengah mati? Aku kagum padanya, tapi lebih kagum lagi pada orang yang diteladaninya. Dia benar-benar seorang pemimpin sejati…kurasa hanya itu saja yang perlu kutahu tentangnya.
"Kurasa itu cukup untuk sekarang." Kata Hashirama, mengakhiri topik pembicaraan ini. "Lain kali akan kuceritakan lebih banyak lagi tentang beliau. Sekarang, kita ke urusan yang paling penting…"
Hashirama sepertinya telah menemukan hal yang dicarinya di laci bawah mejanya. Dia menarik benda itu keluar dan meletakkan di atas meja hitamnya. Dia segera menoleh padaku.
"Duduklah."
Aku menarik sebuah kursi kayu sederhana lain dari salah satu sudut ruangan itu, dan duduk di hadapannya, tepat menghadap benda itu. Sebuah kotak hitam dengan lambang V aneh yang sudah tak asing lagi untukku. Hashirama membuka tutup kotak itu, memperlihatkan padaku apa isinya.
Sebuah sarung tangan hitam dengan lambang segitiga terbalik di bagian punggung tangannya menarik penglihatanku. Di dalam lambang segitiga terbalik itu ada lambang lain, tentu saja lambang V aneh yang sangat kukenal. Yang agak ganjil, sarung tangan itu hanya sebelah, untuk tangan kiri saja.
"Apa ini…?" tanyaku segera.
"Ini adalah Glove of Restriction." Jawab Hashirama. "Mulai sekarang, aku memintamu untuk memakai ini saat bertarung, Ichigo Kurosaki."
"Memangnya kenapa aku harus memakai ini?"
Hashirama menghela nafas dan menatapku tajam. Ditatap oleh mata keemasannya memberi sensasi seakan aku sedang disinari oleh sinar x-ray, seakan sepasang mata itu bisa menembus diriku, menembus pikiran dan jiwaku dan membacanya.
"Kau sudah merasakannya sendiri, kan? Kekuatan yang kaumiliki." Hashirama berkata. "Itu terasa sangat hebat, tapi kau tiba-tiba saja kehilangan semua kekuatan itu dan pingsan…itu karena tubuhmu masih belum cukup kuat."
Itu mengingatkanku. Setelah pertarungan melawan para makhluk penghisap darah dan makhluk bermata satu yang namanya Deva entah apalah itu, aku jatuh tak sadarkan diri dan tahu-tahu sudah ada di Markas Besar Black Lotus. Kekuatan yang kurasakan saat itu memang begitu luar biasa, tapi baru memakainya beberapa saat saja sudah menguras habis seluruh tenaga fisikku. Staminaku habis dalam sekejap.
"Aku ingat. Sebenarnya apa yang terjadi padaku?" aku meraih ke bawah leherku, meraba kalung oktagram yang baru-baru ini kudapat. "Kekuatan apa ini? Kekuatan Kegelapan-kah? Apakah kau memberi kalung oktagram ini padaku untuk memberiku kekuatan itu?"
"Itu kurang tepat, Ichigo Kurosaki." Sanggah Hashirama. "Aku tidak memberimu kekuatan apapun. Kekuatan itu, adalah kekuatan yang kaumiliki sejak awal. Bahkan bukan kekuatan SF-mu. Kekuatanmu sendiri. Kuberikan kalung itu karena itu adalah milikmu sejak kau lahir, itu hanya membangkitkan kekuatan yang tertidur dalam dirimu. Walau tubuhmu sendiri belum mampu menanggung kekuatan itu…"
"Bisa kaujelaskan lebih banyak? Sepertinya kau tahu banyak tentang diriku."
Kalung itu adalah milikku sejak aku lahir? Kekuatan kegelapan yang kumiliki ini, bukan kekuatan SF-ku, tapi kekuatanku sendiri? Apakah ini artinya aku bukanlah manusia biasa dari awal? SF yang kudapat hanyalah sebagian saja dari kekuatan yang kumiliki, apakah itu yang dimaksudnya?
"Kau adalah manusia yang diberkahi oleh Kekuatan Kegelapan sejak awal, bahkan sejak dalam kandungan ibumu. Tidakkah kau menyadari, kau sering dijauhi orang lain selain keluargamu? Itu karena dalam keluargamu, keluarga Kurosaki, terdapat Darah Kegelapan."
"Keluarga…ku?" aku tergagap. "Apa kau mengenal mereka? Ayah dan ibuku?"
"Isshin dan Masaki. Tentu saja aku mengenal teman baikku." Hashirama tersenyum seperti mengingat masa lalu, seperti nostalgia. "Mereka orang-orang yang baik."
"Mereka tidak pernah bilang mereka kenal dengan orang sepertimu!"
"Mereka tidak ingin kau tahu secepat itu. Mereka ingin kau tahu secara perlahan, seperti yang kau lakukan sekarang. Aku berusaha membantumu…"
"Tapi ini tidak masuk akal!" seruku, suaraku meninggi. "A…aku dan Yuzu…hanyalah manusia biasa. Ibu kami juga meninggal dalam kecelakaan…dan ayah pun menghilang entah kemana. Kau pasti salah. Kami cuma manusia biasa!"
"Kalian memang manusia." Kata Hashirama. "Manusia yang memiliki Kekuatan Kegelapan."
"Itu mustahil! Tak mungkin…"
Aku berhenti bicara saat Hashirama mengangkat satu tangannya.
"Memang sulit dipercaya, tapi itulah kenyataannya. Kau harus menerimanya kelak, begitu juga adikmu." Hashirama berkata, begitu tegas dan tak bisa dibantah. "Kalian akan duji dengan takdir yang berat, tapi… selama kalian masih menjadi manusia, kalian akan bisa melewati ujian itu."
Ini bercanda, kan? Kenapa semuanya jadi seperti ini? Aku tidak bisa menerimanya!
Sekarang, aku tidak bisa menyangkalnya lagi. Aku memiliki Kegelapan di dalam diriku, dan aku tak bisa melarikan diri dari fakta bahwa kekuatan yang kumiliki ini dibenci, sekaligus dicari oleh banyak orang. Hanya aku sendiri yang bisa memutuskan takdirku, apakah kekuatan ini akan kugunakan untuk menghancurkan atau menyelamatkan. Aku tak tahu bagaimana nantinya di masa depan, tapi untuk saat ini…aku akan menyelamatkan seseorang yang sangat berharga bagiku dengan kekuatan ini!
Seseorang yang memiliki Kegelapan yang sama denganku, walaupun dia lebih menderita daripada diriku. Dia tak memiliki siapapun untuk dipercaya, sesuatu yang tak ingin kualami. Aku masih memiliki orang yang kupercaya, walaupun aku juga dijauhi orang. Penderitaanku bukan apa-apa dibanding sakit hatinya, aku yakin. Tapi aku paham satu hal yang membuat kami sama…kami sama-sama kesepian.
Itulah yang membuatku ingin menyelamatkannya dari Kegelapan dalam dirinya, lebih dari apapun.
Aku akan menyelamatkannya, pasti akan menyelamatkannya!
"Rukia!"
Kesedihan di mata birunya itu…aku akan menghilangkannya. Minimal, sedikit menguranginya.
Menurut Hashirama, kalau aku melepas Gloves of Restriction sekarang dan membuka segel kekuatanku, aku masih belum cukup kuat untuk menahan kekuatan penuh yang kumiliki. Seperti waktu itu, aku akan kehilangan kesadaran…dan kali ini mungkin saja tubuhku akan diambil alih oleh kegelapan.
Sekarang pada sarung tangan hitam itu ada angka 8 yang berpendar ungu. Itu artinya, kekuatanku yang sebenarnya masih disegel oleh 7 Level lagi. Saat kekuatan fisikku berkembang, level segel itu akan turun menjadi 7 dan seterusnya, dan kekuatanku meningkat. Tapi kalau aku ingin melepas seluruh segel itu sebelum waktunya, aku bisa melepas sarung tangan itu sekarang.
Resikonya hanyalah, aku hanya bisa mempertahankan kekuatan penuhku itu hanya dalam waktu singkat saja untuk saat ini. Kalau tubuhku tak bisa menahannya lagi, maka aku akan pingsan. Apakah ini sebenarnya masalah? Tidak, kalau aku bisa menyelamatkan Rukia sebelum waktuku habis. Ini taruhan nyawaku, tapi aku tidak keberatan.
"Belial? Sang Kegelapan?"
Aku melompat tinggi ke udara, sampai aku sejajar dengan makhluk kegelapan itu. Aku juga melayang seakan tanpa bobot di udara, ditopang oleh sayap hitamku.
Aku mengayunkan gunsword-ku kepada Belial, dan Sang Kegelapan di tubuh Rukia itu menangkisnya dengan mudah. Aku lalu melancarkan serangkaian serangan susulan yang dahsyat, dan tetap saja masih bisa ditangkis. Namun yang terakhir cukup untuk memaksa Sang Kegelapan melompat mundur, menjaga jarak dariku.
"Jangan buat aku tertawa!" seruku. "Kau itu Rukia Kuchiki, kan?! Jawab!"
"Kekeraskepalaanmu sangat tidak menyenangkan." Jawab Belial. "Akan kulenyapkan kau."
Belial mengangkat tangannya, dan tahu-tahu enam buah bola mata raksasa berkumpul di sekelilingnya, lebih kecil daripada yang ada di atas kepalanya, tapi tetap terlihat begitu menyeramkan melayang-layang di udara. Aku tahu ini tanda bahaya, tapi jangan pikir aku akan mundur sekarang. Tidak akan.
"Akan kulenyapkan kau duluan dari tubuhnya, dasar makhluk sialan!"
"Kau hanya manusia yang bisa memakai kekuatan kegelapan, tapi begitu lancang." Kata Belial. "Bagaimana kalau aku menutup mulutmu dengan taringku? Death Fang!"
Dengan satu tebasan pedang hitamnya, Belial melepaskan dust hitam yang berwujud seperti kelelawar raksasa, menerjang ke arahku dengan ganas. Serangan itu membuka mulutnya lebar-lebar, seperti akan menelanku. Dengan perlahan, aku menyiapkan gunsword-ku, lalu mengayunkannya dari bawah.
"Leviathan Spike!"
Dust hitam yang berbentuk seperti kepala ular raksasa meluncur dari tebasan gunsword-ku, berbenturan dengan kelelawar raksasa itu lalu meledak dengan dahsyat di hadapanku, saling meniadakan satu sama lain. Aku mengeluarkan teknik yang belum pernah kulakukan sebelumnya, tapi aku sama sekali tidak merasa aneh. Rasanya seakan aku sudah akrab dengan teknik ini.
"Bagaimana bisa…?" kata Belial, terlihat terkejut tapi segera dihalau. "Tidak, itu hanya kebetulan saja. Black Meteoswarm!"
Dia melayang lebih tinggi di udara, dan saat ia mengangkat tangan kanannya, dust hitam seperti batu meteor mulai jatuh dari langit, dari balik awan hitam yang kelam. Semua batu meteor itu mengarah padaku, seperti peluru kendali maut yang siap menabrakku sampai hancur.
Sama seperti sebelumnya, aku tahu apa yang harus kulakukan untuk menangkisnya. Pertama kali aku tak menyadarinya, tapi kini aku bisa mendengar suaranya. Suara Kaladbolg, SF-ku. Dia membisikkan nama sebuah teknik padaku, dan aku memercayainya sepenuhnya untuk langsung mengeluarkan teknik itu tanpa pikir panjang.
"Asmodeus Claw!"
Kukumpulkan dust hitam di tangan kiriku, lalu kugerakkan tanganku ke atas dalam satu gerakan seperti mencakar udara. Semua dust hitam di tanganku menjadi cakar hitam raksasa, yang membelah semua meteor dust hitam, membuat mereka semua meledak di udara sebelum bisa menyentuhku.
Di udara, walaupun dia berusaha terlihat setenang mungkin, bisa kulihat Belial mulai panik. Dia menggertakkan giginya, mulai terganggu. Saat itulah, Kaladbolg kembali berbicara dalam pikiranku, dengan suaranya yang lembut dan menenangkan.
"Sekaranglah saat yang tepat, Master." Kata suara itu. "Gunakanlah Black Distortion. Percayalah padaku."
Aku memusatkan semua dust hitamku, kemudian menyelimuti seluruh tubuhku dengan itu, membiarkannya menjadi pelindung sekaligus penguat untuk tubuhku.
"Black Distortion!"
Dengan ini, aku lebih terlindung dari serangannya dan seranganku padanya juga akan lebih kuat. Bukan maksudku untuk menghancurkan dirinya, aku hanya akan menghancurkan kendali kegelapan itu atas Rukia. Untuk benar-benar menyelamatkannya, aku harus mengalahkan Belial yang menguasai tubuh dan pikirannya.
"Kau ini sebenarnya apa?!" seru Belial. "Bisa memakai kekuatan Kegelapan sampai seperti ini…benar-benar tak bisa dipercaya!"
"Aku hanya seorang manusia, tak lebih dan tak kurang…" jawabku. "Ingatlah itu."
"Itu tak mungkin…!"
"Tentu saja mungkin. Sekarang, kembalikan tubuh Rukia padanya."
Aku melompat menerjang, saat bola-bola mata di sekeliling Belial menyebar. Semuanya mengepungku, lalu menembakkan dust hitam yang tepat sasaran mengenaiku. Harusnya serangan itu akan membuat makhluk apapun jadi debu dalam sekejap, tapi untungnya dust hitam yang menyelimuti tubuhku melindungiku dari dampak terburuk. Walaupun serangan itu terasa cukup menyakitkan.
"Percayalah, kau." Aku menunjuk Belial "Akan kubuat kau kapok merasuki tubuh orang lain!".
Sama sekali tak memedulikan aliran darah dari luka yang baru kudapat, aku menerjang lagi. Bola-bola mata kembali menembakku, tapi aku menangkisnya dengan menembakkan dust hitam dari gunsword-ku dalam jumlah yang sama. Aku berhasil menarik Belial ke pertarungan jarak dekat. Aku menebasnya beberapa kali, tapi ia masih teguh bertahan. Pastinya gelar Sang Kegelapan itu bukan sekedar lelucon.
"Jangan senang dulu. Coba serangan ini." Kali ini, dia memakai matanya sendiri untuk menembakkan dust hitam padaku.
Aku mengelak ke samping, tapi serangan itu bahkan tidak mengarah padaku. Dust hitam itu memantul di salah satu bola mata yang melayang, dan memantul di bola-bola mata yang lainnya dengan cepat. Dan bisa kutebak, saat energi itu memantul untuk yang terakhir kali, aku tertembus dari belakang sebelum aku bisa menangkisnya. Aku jatuh berlutut di tanah, darahku mengalir deras.
"Sial!"
Tersenyum penuh kemenangan, Belial mengulang lagi pola serangannya yang terbukti efektif. Tapi untuk yang kedua kalinya, Aku menghindar, lalu melompat dan membelah bola mata itu satu-persatu sampai tak tersisa satupun.
"Bodoh! Kau pikir serangan yang sama bisa mempan dua kali padaku?" kataku mengejek.
"Kau lancang, manusia." suara Belial meninggi. "Terimalah hukumanmu!"
Pedang di tangan kiri Belial berubah menjadi pedang hitam yang jauh lebih besar dari tubuhnya sendiri, dan ia mengayunkannya dengan mudah, tanpa beban sedikitpun. Aku yang terkena dampak serangannya tentu saja tidak berpendapat sama. Pedang ini benar-benar berat…aku jadi kewalahan.
Dengan satu ayunan pedang raksasanya, Belial dengan mudah membuat tempat itu bergetar hebat seperti terkena gempa. Energi gelap keluar bersama setiap tebasan, dengan segera menjadikan tempat itu dipenuhi kegelapan yang mematikan. Langit yang ditutupi awan hitam terasa makin gelap sekarang.
"Akan kuhancurkan dunia yang kubenci ini." Kata Belial. "Begitu kata Rukia Kuchiki sebelum aku mengambil kesadarannya. Jadi, usahamu sia-sia. Dia sendiri yang ingin aku mengambil alih tubuhnya."
"Jadi itukah yang dia katakan?!"
Belial hanya tersenyum sinis, sebelum melancarkan tebasan berikutnya, yang melontarkan diriku jauh sekali. Tapi, aku takkan menyerah. Sekali aku memutuskan sesuatu, maka akan kulakukan sampai gagal atau berhasil. Tapi kali ini pilihannya hanya ada satu. Aku akan terus mencoba menyelamatkan Rukia sampai berhasil. Aku tahu kesedihan yang ada di mata gadis berambut hitam itu, dan aku akan menghapusnya...minimal, bisa sedikit menguranginya.
"Hahaha. Aku tidak heran." Kataku pada sosok menyeramkan di hadapanku, seakan Rukia yang menatapku dan bukan Belial. "Kau tahu, Rukia? Dulu, aku juga pernah berpikir begitu. Dunia ini tidak adil, kan?"
Momo menyaksikan seluruh pertarungan itu dengan seksama, tanpa sedetikpun melepaskan pandangan dari kedua orang yang sedang bertarung itu. Di belakangnya, Sosuke dan Toshi melangkah mendekatinya, mereka tidak sedikitpun ingin menganggu konsentrasi gadis Vampire itu.
"Jadi…inikah, kekuatan manusia itu…?" gumam Momo. "Memang, dia itu…sama seperti yang pernah kulihat…"
Sosuke dan Toshi bertukar pandang, masing-masing dari mereka tahu apa yang dimaksud rekan mereka. Mereka mengerti, karena itu mereka hanya diam, membiarkan Momo tenggelam dalam pikirannya sendiri.
"Sama…seperti orang itu…"
Di matanya yang kini berubah menjadi emas, terpantul sosok Ichigo yang sedang bertarung…sosok pemuda yang sangat mirip dengan manusia yang pernah ditemuinya, berabad-abad lalu.
…Manusia pertama yang dia kagumi.
Belial menciptakan kembali bola-bola mata yang tadi Ichigo hancurkan. Dan, mengacuhkan usaha Ichigo untuk berbicara padanya, ia melepaskan tembakan dust hitam dari semua matanya. Beberapa berhasil ditangkis Ichigo, tapi ada juga yang menembus tubuh Ichigo dan menimbulkan ledakan hitam besar di kejauhan. Ichigo terhuyung, darah mengucur deras dari lukanya. Tapi ia takkan menyerah sampai ia berhasil...atau mati.
"Bodohnya aku...tidak langsung menyadarinya..." Ichigo perlahan melangkah maju. "Kalau kita ini sama. Jika aku tahu lebih cepat...mungkin aku bisa memberitahumu!"
Pancaran dust hitam menghantam Ichigo, akan tetapi ia tetap bergeming di tempatnya, walaupun itu membuat lukanya makin parah. Ia harus menahan rasa sakit ini...ini tidak seberapa dibandingkan yang Rukia rasakan. Bukan sakit fisik tapi sakit hati.
"Aku tahu kalau kau ini sebenarnya orang baik!" Ichigo berlari menyongsongnya. "Dari awal pun aku sudah tahu! Kau polos dan jujur! Tidak mungkin orang seperti itu bisa membunuh orang."
Dia harus meyakinkannya kalau ia tidak sendirian di dunia ini. Di dunia ini tidak ada orang yang dilahirkan benar-benar sendirian. Satu orang akan melengkapi yang lainnya, menutupi kekurangan mereka. Tidak ada yang sempurna. Tidak ada yang bisa hidup seorang diri di dunia ini.
"Aku suka dengan sifatmu itu...aku menganggapmu berharga, karena itulah aku datang sejauh ini!"
Ichigo melompat menyerbu Belial. Belial mengayunkan pedang raksasanya, dan Ichigo menangkisnya dengan pedangnya sendiri, yang dari ukuran saja sudah kalah telak. Akan tetapi kali ini dia tidak terpental sedikitpun. Seluruh tenaga dan tekadnya ia pertaruhkan untuk serangan terakhir ini...serangan yang akan menentukan segalanya.
"Kau putus asa, karena kesepian, kan?!" Ichigo menatap mata Belial yang diselimuti kegelapan dalam-dalam, berusaha agar suaranya bisa didengar Rukia. "Karena itulah kau menyerah pada kegelapan! Kau ini sangat, sangat bodoh! Kau tidak sendiri di dunia ini!"
Tak ada respon yang berarti darinya. Hanya senyuman sinis Belial yang membalasnya. Apa dia benar-benar sudah tertelan oleh kegelapan itu tanpa bisa kembali? Atau dia hanya menolak untuk mendengar suaranya saja? Ichigo harus berusaha lebih keras lagi. Sedikit lagi saja…
"Masih ada aku. Walaupun dunia ini membuangmu..." Ichigo memejamkan matanya, walau tahu nyawanya di ujung tanduk. Pedangnya nyaris kalah. "Aku akan tetap ada untukmu. Sampai kapanpun. Karena aku sudah berjanji, kan? Aku akan selalu melindungimu...dan selalu ada disisimu. Ingat itu...!"
Akhirnya, tenaga Ichigo sampai pada batasnya. Belial menghantamnya sampai gunsword-nya terlempar ke udara. Pedang raksasanya ia hunjamkan, menusuk perut Ichigo. Ia sendiri mendekat pada Ichigo, tangannya yang bercakar ia siapkan, untuk benar-benar mengakhiri riwayat pemuda itu. Semua gangguan...harus dilenyapkan. Ia harus menghancurkan dunia ini...untuk itulah kegelapan itu ada.
Dimulai dari pemuda ini...tapi kenapa tubuhnya berat sekali untuk digerakkan? Apakah benar-benar masih tersisa, kesadaran gadis yang menjadi wadahnya ini? Kalau benar, ia harus menghancurkannya.
"Sejak...pertama kali...bertemu denganmu...kau tahu apa yang kupikirkan tentang dirimu?" Kata Ichigo, tersengal-sengal karena rasa sakit yang amat sangat. "Kupikir kau ini cuma seorang gadis cantik biasa yang kesepian. Tak terpikir sama sekali akan jadi seperti ini akhirnya." Ia tersenyum.
Belial membeku. Bukan kehendaknya yang membuat tubuh ini berhenti bergerak, akan tetapi sesuatu yang lebih kuat. Kesadaran gadis itu. Kesadarannya makin menguat dan menghambat gerakannya...kini, menggerakkan satu jarinya saja sudah luar biasa sulit.
Ichigo melangkah maju mendekatinya, setiap langkahnya membuat pedang raksasa itu makin tembus di perutnya.
"Rukia… masih ada aku!" Ichigo mengulurkan satu tangan, berusaha meraih gadis itu. "Aku ada disini… kau tidak pernah sendiri di dunia ini!"
Tangan kanannya masih terulur ketika ia melihat keajaiban terjadi. Mata gadis itu, yang diselimuti kegelapan, kembali ke warnanya yang ungu cerah, warna mata yang dia sangat kenal. Terlebih lagi, ekspresi gadis itu tidak lagi dipenuhi oleh kegilaan dan kegelapan, melainkan dirinya yang semula, yang dipenuhi oleh kesedihan dan kesepian.
"Rukia…!"
(Rukia)
Aku mendengar suara.
Suara itu memanggilku…ataukah itu hanya perasaanku saja? Seringkali aku berharap akan ada seseorang yang memanggilku dengan nama yang diberikan padaku sejak lahir. Sejak mereka tahu aku memiliki Kekuatan Kegelapan dalam diriku, panggilan mereka untukku berubah.
Aku adalah vampire yang unik. Aku tidak lemah terhadap sinar matahari, dan aku juga tidak perlu menghisap darah manusia untuk bertahan hidup. Tubuhku bahkan tidak dingin seperti Vampire pada umumnya. Darahku berwarna merah gelap, tidak hitam pekat seperti yang lain. Aku harusnya merasa senang akan keistimewaan ini…tapi aku tak bisa.
Sang Kegelapan, Raja Iblis, Penguasa Kekacauan…itu hanya sedikit contoh dari macam-macam julukan yang diberikan padaku. Bahkan kakakku, yang dulu selalu baik padaku, mulai menjauhiku seakan aku ini anggota keluarga yang berpenyakit mematikan. Aku mulai tidak tahan…
Tapi, hanya satu orang yang berbeda. Dia tidak memanggilku dengan nama panggilan yang bisa membuat orang gemetar ketakutan, walau dia tahu persis siapa aku sebenarnya. Dan dia…seorang manusia.
Dia bernama Kaien. Pemuda berambut hitam sepanjang bahu dengan mata yang cukup aneh, karena sebelah kanan hijau, sebelah lagi ungu. Dia adalah perwakilan manusia untuk mengawasi pergerakan Vampire Nation, tempat para Vampire berada. Semacam duta besar.
Saat itu aku sendiri, tak ada yang mau menemaniku karena aku ini seorang Pemegang Kekuatan Kegelapan yang ditakuti akan menebar kehancuran dan kematian. Bahkan tidak ada yang sudi memandangku. Semuanya, teman maupun keluarga, menjaga jaraknya dariku.
Malam itu, aku sedang berbaring sendirian dibawah sebuah pohon besar, merasakan betapa pahitnya kesendirian yang menyiksa. Aku merasa mengantuk, suatu hal yang aneh bagi Vampire di malam hari. Baru saja aku mau menyerah pada rasa kantuk itu, sebuah suara menyapaku.
"Hey, kamu yang ada disana." Kata suara itu ramah. "Tidur di luar pada malam hari bukanlah hal yang bagus untuk seorang gadis, kan?"
Aku membuka mataku dan langsung duduk.
"Kau siapa?" tanyaku segera.
Pemuda itu cukup tinggi, lebih tinggi sekepala dariku. Dia berambut hitam sampai sepanjang bahu, rambutnya berantakan tapi entah kenapa pantas saja dilihat. Matanya hijau-ungu. Aneh, tapi aku merasa tentram dan damai hanya dengan balas menatapnya.
"Ah, maaf tidak sopan, Tuan Putri." Kata pemuda itu sambil membungkuk. "Aku Kaien Shiba. Aku disini sebagai Perwakilan manusia dari Black Lotus."
"Benarkah? Kau manusia?"
"Iya, Tuan Putri." Kaien tersenyum ramah. "Mulai sekarang mungkin aku akan mengganggumu dengan
menjadi pendampingmu. Tuan Putri Rukia Kuchiki."
"Eh? Pendamping…ku?"
"Iya. Makanya mulai saat ini…" Kaien membungkuk sekali lagi. "Mohon bantuannya, Tuan Putri."
Aku berpikir tentang hal yang aneh-aneh sewaktu dia mengatakan 'menjadi pendampingmu'. Tapi saat kami sudah mulai bisa mengobrol dengan nyaman, aku diberitahu olehnya bahwa dia ditugaskan oleh organisasinya untuk mengawasiku, karena pihak Vampire Nation memberikan tanggung jawab pengawas untukku pada mereka.
Awalnya aku pikir dia hanya mengawasiku kemanapun aku pergi dan mengikutiku juga murni karena tugas dari organisasinya. Tapi aku segera tahu kalau dia benar-benar ingin memahamiku, karena kecerewetannya dalam bertanya berbagai hal tentangku. Dia menjadi satu-satunya teman bagiku yang dijauhi oleh rasku sendiri. Padahal dia tahu siapa aku sebenarnya, tapi dia tidak pernah melihatku sebagai makhluk penghancur yang mengerikan. Dia melihatku sebagai diriku saja. Sebagai Rukia Kuchiki.
Aku berharap dia memang benar-benar peduli padaku. Peduli yang bukan kepedulian palsu, kepedulian yang bagaikan topeng, tapi benar-benar peduli. Aku ingin dia menyayangiku lebih daripada kakakku sendiri, yang kini menelantarkanku seperti sampah. Aku harap dia benar-benar kakakku.
Suatu hari, di bawah pohon besar yang sama…
Aku sedang berbaring di rumput yang sejuk, kepalaku ada di pangkuan pemuda itu. Aku sedang bercerita padanya tentang bagaimana aku merasa sedih, bagaimana aku merasa dikhianati oleh semua orang yang awalnya menyayangiku, kemudian meninggalkanku begitu saja. Aku menceritakan padanya semua penderitaan dan kesedihanku…dia dengan sabarnya mendengarkan semua keluhanku, sesekali sambil membelai kepalaku dengan lembut layaknya seorang kakak pada adiknya.
"Rukia…"
Aku hanya mendengarnya mengucapkan namaku. Aku tahu dia mengatakan hal yang lain setelah itu, tapi aku saat itu terlanjur letih untuk bisa mendengarkannya. Aku merasa ingin tidur…
Mulutnya mengucapkan kata-kata yang tak bisa kutangkap lagi.
"Apa yang kaukatakan, Kaien?"
Aku tak bisa mendengarnya. Walau aku ingin sekali mendengar apa yang dia katakan, tak ada yang dapat kudengar. Mulutnya bergerak sekali lagi…
"Ingatlah ini, Rukia… aku ada disini…"
Wajah Kaien mendadak disinari sinar matahari, dan aku tak bisa melihat wajahnya saat dia mengatakan hal yang sampai saat ini bisa kuingat dengan jelas, bahkan saat aku sedang tenggelam dalam kegelapan… Kata-kata yang selalu bisa menjaga akalku, menjagaku agar tidak jadi gila…
"Kau…tidak pernah sendiri di dunia ini."
Kenapa? Kenapa rasanya aku seperti mendengar kembali kata-kata itu? Kata-kata yang mencegahku agar tidak tenggelam dalam kegelapan, kini bisa kuingat lagi. Kesadaranku mulai menguat, dan pandanganku kembali, kegelapan di mataku telah memudar…membuatku kembali bisa melihat dunia.
Di hadapanku, seorang pemuda berambut hitam berantakan, bermata hijau dan ungu, membalas tatapanku dengan sorot matanya yang tajam. Walaupun mata itu terlihat kesakitan, mata itu tetap tak kehilangan kekuatannya.
Sama seperti Kaien. Mata itu tak pernah berhenti membuat dadaku berdebar kencang.
Aku memegang sebuah pedang raksasa di tangan kiriku. Itulah yang menembus tubuh pemuda itu, itulah sebabnya dia terlihat kesakitan. Akulah yang menyebabkannya, aku telah dikuasai oleh kegelapan dan melukainya. Aku tidak bermaksud untuk menyangkalnya, aku membiarkan diriku diambil alih oleh kegelapan…maka dari itu, ini salahku. Semuanya salahku…
Tapi kenapa dia tersenyum? Apakah dia tidak membenciku? Aku bisa mendengar suaranya saat aku di dalam kegelapan, tapi aku tidak mau mendengarkannya. Dia berteriak agar aku kembali, tapi aku memilih untuk tetap di dalam bayanganku yang dibenci segalanya, dan membenci segalanya.
Sampai ia mengatakan hal itu.
"Kau…tidak pernah sendiri di dunia ini!"
Kata-kata itulah yang membuat kesadaranku kembali. Kata-kata yang pertama kalinya memberi harapan padaku agar tidak membenci dunia ini, hanya beberapa patah kata yang mungkin tidak penting bagi orang lain. Namun bagiku, kata-kata itu adalah sumber kewarasanku…bagaikan air bagi orang yang hampir mati haus di padang pasir.
"A…aah…"
Kenapa…ini? Air mataku mengalir dengan sendirinya…
Perasaan apa ini? Menyakitkan karena ini membuat dadaku sesak, tapi pada saat yang bersamaan terasa hangat dan nyaman. Aku merasa sangat bahagia hanya dengan melihat pemuda itu, tapi aku tak tahu apa sebabnya. Hatiku bergetar dan berdesir hebat…
"Ichi…go…!"
Melihatnya tersenyum padaku walau dalam kesakitan yang luar biasa, membuatku cemas setengah mati. Apalagi akulah yang menyebabkan kesakitannya itu…apa yang bisa kulakukan untuknya? Walau aku sudah kembali mendapatkan kesadaranku, tubuhku masih belum mau menuruti perintahku. Kegelapan dalam diriku masih bergerak, bahkan saat ini berusaha mengambil alih kesadaranku lagi.
"Syukurlah…kau sudah kembali…" Ichigo berkata dengan suara lirih menahan sakit. "Rukia…apa kau baik-baik saja?"
"Apa kamu ini bodoh?! Harusnya aku yang bertanya seperti itu!"
Darahnya mengucur terus. Dengan ngeri, aku terbayang bagaimana dia akan mati saat dia kehabisan darah. Tidak, aku bahkan tidak mau memikirkannya…baru saja aku bertemu dengan orang sepertinya, orang seperti Kaien yang bisa membuatku merasa nyaman…
Jangan Ichigo. Jangan dia juga!
"Aku…akan menyegel…kegelapanmu." Kata Ichigo tiba-tiba.
Aku membelalak, dan kegelapan dalam diriku pun tertegun mendengarnya. Itu tidak mungkin, bagaimana caranya…?
"Bagaimana…kamu…melakukannya?"
Dia melangkah mendekatiku, membuat pedang di tanganku menembusnya lebih jauh lagi. Tapi dia tidak peduli sama sekali dan terus maju mendekatiku, langkah demi langkah. Matanya yang hijau-ungu menatapku dalam-dalam, menatap ke dalam mataku.
"Hanya…jika kau mengizinkannya."
Darah merah, tetes demi tetes mengalir jatuh dari tubuhnya, membuatku tidak tega untuk menahannya lebih lama lagi. Apapun itu, asalkan bisa mengakhiri rasa sakitnya, lakukanlah!
"Aku tidak peduli! Lakukan apapun yang kau mau!"
Aku berseru padanya dengan tegas dan keras, tidak penting lagi apa yang akan dilakukannya bagiku. Yang penting, dia bisa selamat. Itu yang paling penting, tidak peduli apa yang akan terjadi padaku!
Dia menyongsongku lebih dekat dan lebih dekat lagi. Jarak kami sudah amat dekat, aku bisa merasakan hembusan nafasnya yang terengah kepayahan dan bau darahnya yang rasanya sangat harum. Kenapa, baru kali ini aku merasakan keharuman saat mencium darah manusia. Pertama kalinya seperti ini…
Wajahnya sudah sangat dekat dengan wajahku. Saat itu, aku baru tersadar dengan apa yang akan dia lakukan padaku. Aku tidak bisa berpikir apa-apa lagi saat dia semakin dekat, dan aku menginginkannya…
Ciuman pertamaku.
(Ichigo)
Aku bahkan tidak tahu apa yang menggerakkan tubuhku sekarang. Ini pertama kalinya bagiku, dan aku yakin baginya juga. Bibir kami saling bersentuhan, tubuh kami saling merasakan kehangatan satu sama lain. Rukia akhirnya bergerak, melingkarkan tangannya ke sekeliling tubuhku. Perasaan ringan kurasakan, dan saat itu juga kudapati kalau pedang raksasa yang menembus tubuhku sudah tak ada lagi.
Aku hanya mengikuti instingku, balas melingkarkan tanganku di sekeliling tubuhnya. Tubuh kami terlihat seakan menyatu, tak mau lepas dari satu sama lain. Kami saling rengkuh untuk beberapa saat, berpelukan di udara tanpa memedulikan apapun seakan dunia ini hanya milik kami berdua.
Matanya yang berkaca-kaca. Bibirnya yang merah. Rambut panjangnya yang halus. Tubuhnya yang hangat dan berbau harum yang khas. Hanya itu yang kupedulikan, saat dia berada dalam pelukanku. Kubiarkan pertahanan terakhirku runtuh, kupeluk dia erat-erat saat bibir kami masih bersentuhan.
Aku menginginkan kehangatannya. Dia menginginkan kehangatanku.
Setelah beberapa saat, kami saling melepaskan diri. Dengan perlahan, seakan tak rela. Aku menatap mata biru cerahnya yang indah, dia juga menatap mataku dalam-dalam. Rasanya aku bisa tenggelam dalam keindahan mata itu selamanya, dan itu cukup.
"Rukia…"
"I-Ichigo…"
Pertama kalinya aku mendengarnya memanggilku dengan suara selembut itu, suaranya terdengar lebih menenangkan daripada sebelumnya. Sepertinya dia sudah bisa membuka dirinya lebih dalam lagi denganku, dan bayangan kesedihan di matanya juga kini tidak terlalu terlihat lagi, walaupun masih ada. Aku mengerti, ini perlu waktu. Kami masih punya banyak waktu bersama, aku dan dia…
"Terima kasih…Ichigo-kun."
Dia membenamkan wajahnya ke dadaku dan menempel dengan manja disana. Aku tidak keberatan, tapi apa dia nyaman di dadaku yang basah dengan darah? Ah, masa bodohlah. Yang penting kami bisa terus seperti ini…terus, selamanya…
"…!"
Kemudian, sesuatu yang ajaib terjadi. Mulai dari bagian atasnya, pakaian dan jubah Rukia yang serba hitam mulai mengurai menjadi dust hitam yang terbawa angin dan menghilang. Saat kubilang pakaiannya hilang, maksudnya semua yang dia kenakan menghilang! Kau tahu apa maksudnya? Sekarang, tidak ada sehelaipun kain menutupi tubuhnya yang indah bagai diukir malaikat!
"He-hey, bajumu…!"
Aku berusaha melepaskan pelukanku dari tubuhnya yang mulus itu, takut aku tak sengaja menyentuhnya di tempat yang tak pantas. Namun yang terjadi malah Rukia membenamkan dirinya lebih erat ke dalam pelukanku, kulitnya yang halus bisa kurasakan menempel di tubuhku…
"Jangan lepaskan!"
Dia memelukku lebih erat lagi, membuatku merasakan sensasi antara surga dan neraka. Di satu pihak, rasanya begitu menyenangkan…tapi sebaliknya aku merasa sesak nafas dipeluk begitu erat olehnya.
"Ja…jangan kamu lepaskan…" kata Rukia, suaranya mengecil. "Kalau kau melepaskannya, kau bisa melihat tubuhku…itu memalukan…"
Aku akhirnya mendiamkannya saja, menikmati pelukannya yang sedikit mengendur untuk beberapa saat. Lukaku masih terasa sakit, tapi aku bisa melupakannya hanya dengan melihat wajah Rukia yang kini merona bahagia. Aku juga merasa bahagia, walau masih belum yakin dengan perasaanku yang sesungguhnya padanya. Aku akan menunggu waktu yang tepat untuk memastikan perasaanku sendiri… tapi sebelum itu, aku ingin bersama dengannya sampai aku bisa menghilangkan kesedihan dan kesepian di mata birunya.
Aku mendongak ke langit.
Awan gelap mulai menyingkir, dan langit pun kembali cerah, biru cerah.
"Jadi, kerjasama kita berakhir disini."
Beberapa saat setelah pertarungan yang penuh kekacauan itu, kami akhirnya berpisah jalan. Aku dan Rukia akan kembali pulang menuju kota Karakura, sedangkan Momo, Sosuke dan Toshi akan tetap di reruntuhan gua yang hancur, katanya mereka masih punya sedikit urusan disana. Entah apa itu, aku tak tahu.
Walaupun mereka adalah Vampire, kurasa khusus untuk mereka saja, aku senang mereka adalah rekan seperjalanan kami. Momo sudah menyembuhkan sedikit lukaku dengan tenaganya yang tersisa, itu cukup kuhargai. Mereka juga sudah janji akan memberikan informasi palsu tentang keberadaan kami pada Vampire Nation. Aku harap kata-kata mereka bisa dipercaya.
Hanya Momo yang melepas kepergian kami, dua yang lainnya sudah pergi untuk menyelidiki reruntuhan gua itu lebih dalam lagi. Bajuku yang robek-robek baru saja selesai diperbaiki ke bentuk semula olehnya, dan bahkan dia menciptakan baju baru untuk Rukia dari udara kosong, seperangkat pakaian yang tampak seperti kimono untuk perempuan.
"Aku tidak menyangka akan mengatakan ini, tapi…" kataku sambil menggaruk dagu. "Terima kasih untuk bantuan kalian."
"Kalian juga sudah membantu." Balas Momo. "Terima kasih."
Dia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan denganku, dan kusambut uluran tangannya. Setelah aku, Momo juga mengulurkan tangannya pada Rukia, hal yang tak disangka gadis berambut hitam itu.
"A-aku?" Rukia menunjuk dirinya sendiri. "Tapi- aku yang membuat semua kekacauan ini…"
"Itu bukan kau, kan?" kata Momo, tersenyum padanya. "Itu diluar kendalimu. Takkan ada yang menyalahkanmu karena itu…"
Akhirnya Rukia, setelah malu-malu sedikit, dia juga menjabat tangan Momo dengan agak canggung.
"Lagipula kalau kau tidak menghancurkan semua ini…" Momo berkata, tangannya masih berjabatan dengan Rukia. "Aku takkan pernah tahu 'Potensi Manusia' yang sebenarnya."
"O-oh, begitu ya…"
Selesai berjabatan tangan, Momo kembali menoleh padaku. Mata jingganya menatapku dengan skeptis, entah bagaimana pandangannya terhadap manusia sekarang. Lebih baik, atau lebih buruk? Well, karena aku yang dijadikan acuannya, aku jadi merasa salah tingkah sendiri.
"Sampai bertemu lagi, manusia…tidak." katanya pelan. "Maksudku…Ichigo Kurosaki."
"Seorang Draculina mau mengingat nama manusia rendahan sepertiku, sepertinya aku harus merasa terhormat nih." Aku nyengir. "Sampai bertemu lagi, Momo."
"Yeah. Dan saat kita bertemu lagi…" Momo melambaikan tangan. "Semoga kita tidak menjadi musuh."
"Yeah, aku juga berharap begitu." Aku balas melambai.
Itu benar-benar kata hatiku. Mungkin selama ini pikiranku juga yang salah, menganggap semua Vampire itu makhluk licik yang busuk dan mengerikan. Dari pengalamanku kali ini, aku tahu ada juga Vampire yang baik sepertinya. Kalau bisa aku tak ingin bertarung dengannya sebagai musuh.
Momo segera berbalik akan pergi, dan dalam sekejap dia berkelebat menghilang menyusul teman-temannya yang sudah pergi duluan. Aku tak bergerak sampai hawa kehadirannya benar-benar menghilang dari sana. Aku menghela nafas panjang…
Aku menoleh pada Rukia, dan kudapati dia menatapku sambil cemberut.
"A…ada apa ya?" tanyaku bingung.
"Kalian kelihatannya akrab sekali." Katanya. "Bicara dengan gadis secantik dia menyenangkan, ya?"
"Eh, yah…"
Nada bicaranya setajam silet, dan langsung kututup mulutku sebelum aku mengatakan sesuatu yang salah. Diam itu emas…bicara itu bencana. Itu yang kupikirkan sekarang…
"Hey, Ichigo-kun. Kamu suka dengan Momo, kan?"
"Heeh?!"
Kesimpulan yang sepertinya ditarik dari pemikiran satu detik itu membuatku terbelalak seketika. Darimana dia dapat pikiran seperti itu. Lebih baik kukatakan dengan jujur dan kuperjelas agar masalah ini tidak diperpanjang lebih jauh lagi.
"Yeah, aku suka dia…"
"Hm?!" mata Rukia membelalak.
"…sebagai teman yang baik, tentu saja."
Kusambung kata-kataku dengan penjelas yang gamblang. Aku tersenyum kecil, kuharap tampangku kelihatan meyakinkan.
"Kenapa kau penasaran dengan hal seperti itu?" tanyaku.
"…Bukan apa-apa, kok. Lupakan saja…"
Walau nada bicaranya seperti tidak peduli sama sekali, tapi nyatanya ekspresi wajahnya terlihat lebih cerah daripada sebelumnya, kelihatan dari senyum-senyumnya yang mencurigakan. Aku kembali menghela nafas, rupanya aku masih harus belajar lebih banyak lagi tentang perasaan perempuan. Ada-ada saja ulah mereka yang tidak bisa kumengerti. Aku gagal paham lagi nih…
Selagi aku berpikir, Rukia hanya berdiri disana, mengamatiku.
"Hey, Ichigo-kun…"
"…apa?"
"Sekarang, kamu mau pergi kemana?"
"Aku mau kembali ke penginapan. Aku mau pulang…" jawabku, merasa heran. Bukankah itu sudah jelas? "Kenapa dengan itu?"
"Oh, aku mengerti…"
Suaranya jadi terdengar tidak bersemangat. Aku menggaruk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal, ragu harus bilang apa.
"Itu berarti…kita sampai disini saja.." Kata Rukia, menunduk dengan sedih. "Dari sini aku harus pergi sendiri. Terima kasih untuk semuanya, Ichigo-kun."
Aku terkejut mendengarnya. Jadi itu sebabnya kenapa dia jadi tidak semangat lagi mendengarku bilang akan pulang. Dia akan pergi…artinya dia akan sendiri lagi, berusaha melarikan diri dari kejaran para Vampire tanpa ada yang menemaninya. Kami akan berpisah dari sini, itulah sebabnya matanya kembali terlihat sedih…
"Kenapa kau tidak ikut saja denganku?"
Aku mengeluarkan pertanyaan itu sebelum aku bisa menahannya. Aku baru saja punya kesempatan untuk mengenalnya lebih jauh, memahaminya lebih dalam lagi, dan dia sudah akan pergi secepat ini? Yang benar saja, aku takkan membiarkan itu terjadi. Aku masih ingin bersamanya.
"Tidak bisa, Ichigo…kamu tahu sendiri aku sedang dikejar-kejar." Kata Rukia, masih menunduk, menolak untuk menatapku. "Bersama denganku itu berbahaya. Aku tidak mau kamu sampai terlibat…"
Hanya dengan melihatnya saja, aku bisa mengerti. Dia merasa bersalah telah membuatku terluka sangat parah sebelumnya, walau itu bukan salah dia juga. Dia pasti berpikir kalau dia hanya akan merepotkanku saja kalau terus bersamanya, dengan semua masalah yang mengejarnya. Dia mengkhawatirkanku, makanya dia tidak mau bersama denganku karena itu demi kebaikanku juga…
Tapi aku tak peduli akan semua itu. Aku takkan membiarkannya sendirian lagi, tidak akan. Aku akan melindunginya sekarang, tak peduli apapun yang terjadi. Egois memang, tapi aku sudah memutuskan jalan ini. Takkan kubiarkan ada kesedihan lagi di matanya.
"Aku tidak keberatan. Kau bisa ikut denganku dan membawa semua Vampire yang mengejarmu." Kataku tegas. "Akan kukalahkan mereka semua…karena itu, ikutlah denganku!"
Rukia mengangkat wajahnya yang menunduk. Matanya terlihat berkaca-kaca.
"Kenapa kamu mau melakukan itu?"
"Karena…"
Aku menaruh kedua tanganku di bahunya. Rasanya tubuhnya begitu rapuh, seperti gadis manapun juga. Aku menatap mata birunya lurus-lurus, dan dia memalingkan wajahnya dengan malu. Aku juga sebenarnya merasa malu melakukan ini, tapi kalau tidak kulakukan, aku bisa menyesal seumur hidup.
"…Aku ingin bersamamu, apapun yang terjadi." Kataku pelan. "Karena itu, ikutlah pulang denganku…"
"Setelah itu?" Rukia masih belum mau memandangku. "Aku tak punya siapapun, tak punya tempat untuk pulang dimanapun…aku hanya akan menghancurkan semua di sekelilingku kalau aku kehilangan kendali lagi…"
"Karena itulah," aku menyentuh wajahnya dan mengangkatnya, sehingga kami saling bertatapan. "Kau sekarang bisa tinggal denganku, di rumahku…aku takkan membiarkanmu kehilangan kendali lagi."
"Ta…tapi…"
"Serahkan saja semua padaku. Percayalah. Kau percaya padaku kan?"
Rukia kembali menunduk. Dia menggigit bibirnya sendiri, sepertinya tidak yakin akan menerima tawaranku atau tidak. Aku tahu , walau bagaimanapun dia menolaknya, dia tetap ingin ikut denganku. Dia hanya tidak mau membuatku susah, dia benar-benar mengerti apa resikonya bagiku jika tinggal dengannya. Dia pikir aku tidak tahu resikonya? Aku tahu, tapi aku tidak peduli.
"A…a…aku…"
"Tinggal bilang ya atau tidak, apa susahnya sih?" aku jadi tidak sabar. "Ayo, jawab…"
Dia masih ragu untuk beberapa saat. Tapi rupanya dia sadar kalau dia tidak akan menang berdebat denganku, tidak dengan wajah merona merah yang sudah bisa ditebak apa maunya itu. Akhirnya, dia menatapku dengan malu-malu, dan mengangguk pelan.
"I…iya, aku percaya padamu, kok…"
"Nah, kalau begitu kan urusannya beres!" Aku menggenggam tangannya, menariknya pergi sebelum dia bisa memprotes. "Yuk, kita pergi!"
"Eeh, tu…tunggu sebentar, Ichigo…!"
Apa dia baru saja memanggil namaku tanpa embel-embel –kun? Apa itu berarti dia sudah lebih percaya padaku? Ah, senang rasanya…
"Sudahlah~ pokoknya sekarang kau ikut aku~"
"He-hey, jangan tarik-tarik!"
Aku tidak mempedulikan protesnya dan terus menggenggam tangannya yang halus, aku hanya tersenyum ketika aku menyadari bahwa orang yang harus kulindungi telah bertambah satu lagi. Dengan bahaya yang mengerikan mengejar, dan kekuatanku yang masih sebatas ini, bisakah aku melindungi mereka semua?
Tanpa diketahui mereka, sesosok wanita berjubah hitam mengawasi mereka dari kejauhan, dia melayang di udara tanpa sayap atau apapun, dia berdiri disana seakan ada pijakan tak terlihat yang dia injak. Dia tersenyum hampir seperti menyeringai, melihat kedua orang itu.
"Yaa, mereka memang kandidat yang cocok…" katanya pada dirinya sendiri. "Mereka hanya perlu sedikit waktu lagi untuk menjadi 'Sempurna'…"
Yoruichi Shihouin berbalik di udara, lalu menjentikkan jarinya. Sesosok pria kurus berjubah ungu dan berambut pirang panjang muncul di hadapannya, entah darimana. Dia segera berlutut hormat di hadapan wanita berjubah hitam itu, juga menundukkan kepalanya.
"Anda memanggil saya, Nona Yoruichi?" kata pria itu. "Ada perintah untuk saya?"
"Perintahku. Segera pergi ke kota Karakura… dan menyusuplah untuk memata-matai Ichigo Kurosaki dan Rukia Kuchiki." Kata Yoruichi. "Dan jangan lupa, ada beberapa lagi kandidat Sang Kegelapan di kota itu. Kau juga harus mengawasinya selama tugasmu disana, kalau perlu bawa beberapa orang untuk membantumu."
"Sesuai perintah anda." Si pria berambut pirang mengangguk perlahan.
Sosok pria itu lenyap ke dalam udara kosong, seperti kabut perak. Yoruichi menghela nafas, kemudian berbalik kembali dan menatap ke arah langit yang kini cerah, matanya bersinar ungu.
"Tinggal menunggu waktu, sebelum Kekaisaran Kegelapan bangkit kembali…" katanya pelan, mulutnya melengkung menjadi seringai lebar yang tidak manusiawi.
CHAPTER 11 SELESAI
Chapter 12 bakal menyusul secepatnya, kalau ada waktu :v
Dan siap-siap untuk melihat kejutan di next chap!
Jaa, matta ne~!
