AN : Okey... Cyaaz stop dulu ya, yang manis2... Ntar batuk... :P
(Author Geje... -_-' )
Guest : Nich update-nya... Selamat Menikmati... :)
pandamwuchan : Smangat bikin tugas-nya ya... - Cyaaz jg mau punya pcr kyk Athrun... :D - Ini Lnjutannya... :)
Yang lain... Udah Cyaaz bales lewat PM ya... ;)
Disclaimer : GS dan GSD Bukan Milik Author…
This Is Impossible!
Chapter 11
Normal POV
APRILIUS – 28/09/2012
Cagalli dan anggota tour lainnya, saat ini tengah berkumpul di tepi pantai APRILIUS untuk segera menikmati makan siang mereka setelah mereka puas melakukan Snorkeling di beberapa titik di sekitar pulau. Cagalli, Lacus, Kira dan Athrun sedang berjalan menuju pohon kelapa terdekat untuk berteduh. Sementara Heine, Yzak dan Dearka masih sibuk bermain air bersama beberapa anggota tour yang lain di sekitar pantai.
"Aku pergi ke toilet dulu!" Seru Kira sambil melambaikan tangan pada teman-temannya dan berlari menuju toilet terdekat.
"Ya, kami tunggu di sini." Jawab Athrun, yang kini berdiri di depan Cagalli dan Lacus yang sudah duduk dibawah pohon kelapa.
"Sepertinya pak Mwu sedang membagikan sesuatu." Ujar Lacus menengok ke arah Mwu, yang sedang dikerumuni oleh mahasiswa tidak jauh dibelakang mereka.
"Itu semangka." Jawab Cagalli setelah beberapa saat memandang benda berwarna merah di atas piring yang saat ini ada di tangan Mwu.
"Eh, benar. Sepertinya segar sekali. Ayo minta juga?" Ajak Lacus. Ia menoleh ke arah Cagalli untuk sesaat, lalu berdiri.
"Mau ku ambilkan?" Tanya Athrun menawarkan bantuan.
"Tidak usah, biar aku saja." Jawab Lacus sambil mulai melangkah.
"Akan kubantu," Sekarang Cagalli juga berdiri, lalu mengikuti Lacus, "Kau tunggu di sini ya! Aku akan ambilkan bagian mu dan Kira juga." Tambahnya.
Athrun tersenyum dan menjawab, "Ya baiklah." Lalu ia duduk dan menyandarkan punggungnya ke dahan pohon.
Beberapa menit kemudian Lacus dan Cagalli kembali ke tempat dimana Athrun seharusnya berada dengan masing-masing membawa 2 potong semangka di tangan mereka. Akan tetapi yang mereka temukan bukannya Athrun melainkan Kira, yang tengah melamun sendirian di bawah pohon.
"Kira? Kau sudah kembali?" Tanya Lacus, menghampiri Kira.
Kira kemudian menoleh ke Lacus, dan menjawab, "Iya, ini BB-mu, Lacus." Sambil memberikan BB Onix pada Lacus dan menerima sepotong semangka dari Lacus.
"Eh? Kau mengambilkannya untukku?" Tanya Lacus, yang kini menggenggam BB di tangan kanan-nya.
"Iya. Saat di tengah perjalanan kembali ke sini, aku bertemu dengan Bu Ramius dan dia menyuruhku untuk mengambil hand phone-ku. Jadi sekalian saja aku ambil punyamu." Ujar Kira, lalu ia menggigit semangka, pemberian Lacus.
"Ohh, terimakasih, Kira." Jawab Lacus sambil memposisikan dirinya untuk duduk disebelah Kira.
"Kau tidak mengambil hand phone-ku juga, Kira?" Tanya Cagalli tiba-tiba.
Kira, yang terkejut kemudian menoleh ke belakang, ia menatap Cagalli dengan senyum grogi dan menjawab, "Eh, iya maaf, tadi aku lupa. Hahaha," Kira mengunyah semangka, yang masih tersisa di dalam mulutnya, "Tapi tadi aku sudah meminta Athrun untuk mengambilkan hand phone-mu kok." Tambahnya.
Cagalli memasang ekspresi wajah merengut, ia lalu menghampiri Kira dan Lacus lalu mengulurkan kedua tanganya yang memegang potongan semangka pada mereka.
"Tolong pegang kan sebentar. Aku akan mengambil hand phone-ku dulu." Kata Cagalli.
"Untuk apa? Tadi 'kan sudah kubilang, aku meminta Athrun agar mengambilkan milikmu." Jawab Kira bingung, tapi ia tetap menerima potongan semangka dari Cagalli.
"Iya, tapi Athrun 'kan tidak tahu yang mana hand p-" Kata-kata Cagalli terpotong oleh keberadaan seseorang dibelakangnya.
"Ini milikmu, sudah aku ambil." Potongnya.
Cagalli menoleh kebelakang, dilihatnya Athrun sudah ada dibelakangnya sambil mengulurkan tangan kanannya, yang memegang hand phone milik Cagalli.
"Eh? Kau tahu yang mana hand phone-ku?" Tanya Cagalli bingung sambil menerima hand phone-nya dari Athrun. Seingatnya, ia tidak pernah memainkan hand phone-nya di depan Athrun, ataupun membicarakan hand phone-nya dengan Athrun. Jadi, bagaimana Athrun bisa tahu yang mana hand phone-nya?
"Hahaha, tentu saja aku tahu. Sejak di Archangel, aku sudah tahu kalau itu hand phone-mu." Jawab Athrun.
"….." Cagalli hanya menatap Athrun, dengan What-did-you-say-glare.
"Hey, ayo duduklah. ini semangka mu." Kata Kira memecah keheningan.
Athrun dan Cagalli kemudian duduk di sebelah Kira dan lacus, memakan semangka yang ada di tangan mereka masing-masing. Setelah selesai memakan semangkanya, mereka tetap duduk santai bersama di sana selama beberapa saat untuk menunggu makan siang mereka siap.
=.-.-.-.-.-. C .-.-.-.-.-. Y .-.-.-.-.-. A .-.-.-.-.-. A .-.-.-.-.-. Z .-.-.-.-.-.=
Hari sudah menjelang sore di pantai APRILIUS, Cagalli dan teman-temannya kini tengah berkumpul sambil bercakap-cakap mengenai berbagai macam topik setelah selesai menikmati makan siang dan kelelahan bermain di sekitar pulau.
"Waah, tak kusangka liburan kali ini jauh lebih menyenangkan dari yang kubayangkan!" Seru Yzak.
"Hahaha, ya kau benar. Walaupun perjalanannya sangat panjang dan menyiksa, tapi kurasa setara dengan kesenangan yang aku rasakan di sini." Lanjut Heine menyetujui pendapat teman-nya.
"Yang merasa tersiksa itu 'kan hanya kau Heine." Sindir Dearka.
"Hahaha. Iya benar, kau payah!" Lanjut Yzak, mengejek Heine.
"Hey! Jangan bicara sembarangan!" Jawab Heine sambil menoleh ke arah Dearka dan Yzak, "Mereka juga mabuk laut, sepertiku." Lanjutnya sambil menunjuk Kira, lalu Athrun yang duduk di hadapannya.
"Kami memang mabuk laut, tapi kaulah yang paling parah, Heine." Ujar Athrun tersenyum.
"Huh, maaf saja ya kalau memang begitu." Jawab Heine ketus.
"Sudahlah, yang penting, liburan ini sangat menyenangkan." Ujar Kira menatap Heine.
"Yah, kau benar, Kira." Sahut Cagalli, mendukung Kira sambil mengangguk kecil.
"Sayang sekali, besok kita sudah harus kembali ke ORB." Ujar Lacus disebelah Kira.
Kira menoleh ke Lacus, menatap-nya lembut dan menjawab, "Mau bagaimana lagi, walaupun kita semua sangat senang disini, tapi kita tetap tidak bisa liburan selamanya."
Lacus tersenyum dan mengangguk, lalu mereka dan teman-temannya yang lain, tertawa selama beberapa saat sampai Heine memulai topik percakapan yang baru.
"Ngomong-ngomong, setelah kita semua kembali ke ORB, jangan lupa traktir kami, Ath!" Kata Heine sambil mengedipkan sebelah matanya pada Athrun.
Athrun yang masih tertawa, tiba-tiba saja terhenti oleh kata-kata Heine. Ia tersentak dan menatap sahabatnya itu heran, "Kenapa aku harus mentraktir kalian?"
"Ck, jangan pura-pura! Tentu saja karena kau mendapat pacar baru…" Jawab Heine dengan senyuman usil terukir sempurna diwajahnya.
Mendengar kata-kata Heine, teman-temannya tertawa bersamaan kecuali Athrun yang blushing seketika dan ia spontan mengalihkan pandangannya. Namun saat ia menoleh ke kiri untuk menyembunyikan wajahnya, ia menemukan Cagalli yang justru menatapnya dengan sorot mata yang dipenuhi oleh rasa ingin tahu. Melihat ekspresi gadis berambut pirang di hadapannya, Athrun jadi semakin grogi dan wajahnya semakin memerah.
Cagalli masih saja menatap ke Athrun dengan wajah polosnya itu selama beberapa saat, sampai akhirnya ia tersenyum dan bertanya, "Haah? Jadi kau punya pacar baru? Siapa? Apa dia anggota tour ini juga?" Dengan nada yang innocence.
Pertanyaan Cagalli barusan, tentu saja membuat semua orang disekitarnya kaget tidak percaya, terutama Athrun yang ada di hadapannya. Pemuda yang memiliki rambut berwarna navy blue itu hanya bisa sweatdrop seketika.
'Apa dia benar-benar sepolos ini?'
Setelah beberapa saat ia menatap Cagalli yang masih nampak kebingungan, Athrun hanya bisa menggaruk pipinya, yang masih merah dengan telunjuknya dan menjawab, "Err, y-ya, mungkin?" Dengan grogi.
Mendengar jawaban dari Athrun, Dearka dan Heine hanya bisa menghela nafas panjang, Yzak menggeleng-gelengkan kepalanya, Lacus tertawa kecil dan yang terakhir, Kira menepuk dahinya sendiri dengan telapak tangan kanannya, sementara Cagalli hanya menaikkan alis matanya.
"Hmm? Apa maksudmu?" Tanya Cagalli.
Athrun sama sekali tidak bisa menemukan jawaban yang tepat untuk pertanyaan dari Cagalli, alhasil ia hanya terdiam grogi hingga beberapa menit. Melihat sahabatnya terdesak, Kira menggelengkan kepalanya perlahan. Ia merasa kasihan pada Athrun dan akhirnya memutuskan untuk membantu pemuda bermata emerald di samping Cagalli.
"Maksud-nya, dia masih dalam tahap pendekatan. Jadi belum tentu jadi pacarnya." Ujar Kira lembut.
Cagalli menoleh ke Kira yang duduk di samping kirinya, lalu ia mengangguk-angguk setelah mendengar penjelasan dari Kira, tanda ia mengerti. Saat itu, Athrun sempat menarik nafas lega karena sudah terselamatkan oleh Kira, tapi baru beberapa detik, ekspresi wajahnya yang lega, segera berganti menjadi serius. Kata-kata "belum tentu" yang di ucapkan Kira nampaknya juga sukses membuat pemuda bermata emerald itu sedikit kesal, ia lalu menatap gadis pirang di sampingnya.
'I'll make sure that you'll be mine, Princess.'
Tapi nampaknya, penyelamatan yang dilakukan oleh Kira tadi sia-sia. karena setelah beberapa saat, Yzak tiba-tiba saja berkata, "Kau itu bodoh, Athha! Pacar Athrun yang kami maksud itu adalah kau."
Mendengar perkataan Yzak, Athrun dan Cagalli blushing dan mengalihkan pandangan mereka ke pasir pantai di sekitar mereka. Sementara teman-teman mereka tertawa keras, terutama Yzak, Dearka dan Heine.
"A-apa sih? Kenapa jadi aku?" Tanya Cagalli dengan nada tinggi setelah ia berhasil mengontrol dirinya.
"Memangnya siapa lagi, kalau bukan kau? Tidak ada gadis lain yang dekat dengan Athrun sepertimu." Ujar Heine diselingi tawa.
"Yup, bahkan aku yakin kalau seluruh rombongan pasti juga sudah menyadari bahwa ada sesuatu di antara kalian. Hahaha." Lanjut Dearka.
Cagalli dan Athrun speechless mendengar ucapan Dearka. Mereka hanya memandang satu sama lain sejenak, lalu mengalihkan lagi pandangan mereka sejauh mungkin sambil menyembunyikan wajah mereka yang memerah. Cagalli sebenarnya ingin sekali memprotes, tapi entah mengapa ia tidak menemukan kata-kata yang tepat untuk diucapkan. Jadi ia hanya terdiam mendengarkan teman-temannya tertawa keras.
"Haha. Padahal sudah ada banyak kesempatan di kelas statistik, kenapa baru sekarang pendekatan-nya, Ath? Tanya Dearka lagi menggoda Athrun.
"Jangan bilang kalau kau takut?" Tambah Yzak menyindir.
Athrun sontak memberikan Death-glare pada kedua temannya itu dan menjawab, "Enak saja! Itu bukan urusan kalian!" Dengan nada tinggi.
Sedangkan Cagalli, yang belum bisa mencerna kata-kata Dearka sepenuhnya nampak bingung. Begitu ia memahami sepenuhnya kata-kata Dearka, ekspresi wajah-nya berubah menjadi terkejut dan matanya membesar, seolah mengatakan bahwa ia tidak mempercayainya.
Cagalli, lalu menoleh ke arah Lacus dan Kira yang ada di sebelahnya, dilihatnya Lacus sudah menggeleng-gelengkan kepalanya karena tidak percaya. Sedangkan Kira hanya memberikan I-can't-believe-you-glare. Mereka berdua sudah mengetahui, apa yang sedang dipikirkan oleh Cagalli saat ini.
Cagalli Yulla Athha, selama beberapa bulan ini ia mengikuti mata kuliah statistik bersama Milly, Shiho, Yzak dan Dearka. Selama ini ia sama sekali tidak menyadari bahwa seorang Athrun Zala juga merupakan teman sekelas-nya.
'How dense am I?'
Cagalli lalu membenamkan wajahnya dibalik kedua lututnya, memeluk lututnya erat-erat untuk menyembunyikan wajahnya.
=.-.-.-.-.-. C .-.-.-.-.-. Y .-.-.-.-.-. A .-.-.-.-.-. A .-.-.-.-.-. Z .-.-.-.-.-.=
Cagalli's POV
PLANT – 28/09/2012
Aku dan Lacus baru saja selesai mandi setelah kembali dari APRILIUS sekitar 1 jam yang lalu. Kami berencana untuk menikmati suasana senja sambil mengobrol santai di depan guest house kami, tapi nampaknya rencana kami harus sedikit berubah karena aku menyadari kedatangan seorang pemuda yang menghampiri kami di bebatuan dekat laut yang ada di depan guest house.
"Apa yang sedang kalian lakukan?" Tanya Kira, yang sekarang ada dibelakangku.
"Memangnya kau tidak lihat? Kami sedang duduk santai menikmati senja," Jawabku ketus sambil menaikkan alis.
Kira lalu menyipitkan matanya dan menatapku tajam, "Dasar kau ini, aku hanya bertanya. Tidak usah ketus begitu 'kan?" Jawabnya sambil duduk di sebelah Lacus.
"….."
"Kalian ini, apa kalian tidak bisa berhenti bertengkar untuk sehari saja?" Tanya Lacus.
"Hahaha, maaf…" Jawab Kira sambil menggaruk kepalanya.
"Sudah kebiasaan, Lacus." Tambahku, sambil tertawa garing.
Lacus hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu ia kembali menatap laut lepas.
Hening menyelimuti kami selama beberapa menit, sampai suatu ketika aku melihat ada sesuatu yang bergerak di punggung Lacus, dari sudut mataku. Saat aku menoleh untuk memastikan apa yang kulihat, aku menyadari bahwa itu adalah tangan Kira, yang mulai berusaha merangkul Lacus. aku memalingkan pandanganku dari tangan Kira ke wajahnya dan kulihat ia menoleh padaku di balik rambut panjang Lacus dengan Puppy-dog-eyes milik-nya.
Aku kemudian hanya memasang senyum nakal, mengerti akan maksud Kira. Aku berdiri dan berkata, "Aku akan mengambil hand phone-ku dulu." Lalu melangkah pergi. Kulihat Lacus mengangguk dan aku menaiki anak tangga menuju guest house.
'Kira payah!'
'Kau berhutang ice cream padaku.'
Aku menoleh sejenak memandang ke arah pasangan yang sangat manis itu, lalu masuk ke guest house. Aku menuju kamarku dan memeriksa Android-ku, ternyata ada 2 buah pesan yang masuk. Salah satunya dari Milly yang menanyakan bagaimana liburanku bersama Kira dan Lacus. Setelah aku selesai membalas pesan dari Milly, aku melihat pesan yang satu lagi. mataku membesar ketika aku membaca isi pesan tersebut.
From - xxx-xxx-xxxx-xx
Hey, Princess…
Kau sedang apa?
Ayo bermain denganku?
-Athrun Zala
Aku berkedip beberapa kali memproses isi pesan itu di otakku.
'Dari mana dia tahu nomer hand phone-ku?'
Lalu aku teringat kejadian siang tadi, ketika Athrun mengambil hand phone-ku dari tempat penitipan dan mengembalikannya padaku.
'Pasti dia mendapatkannya saat itu.'
Aku lalu membalas pesan dari Athrun.
To - Athrun Zala
Heeh!
Sudah kubilang jangan panggil aku "Princess"!
Lagipula bagaimana kau bisa tahu nomor hand phone-ku?
Penguntit!
Beberapa saat kemudian aku menerima balasan dari Athrun.
From - Athrun Zala
Hahaha.
Hey, ayolah…
Itu tidak penting…
Ayo kita ke dermaga sekarang?
Aku akan mentraktirmu…
Aku tersenyum tipis sambil membalas…
To - Athrun Zala
Benarkah, kau yang traktir?
Kemudian Athrun membalas.
From - Athrun Zala
Iya….
Akan aku traktir sepuasmu nanti.
Ayo keluarlah…
Tapi jangan sampai Kira dan Lacus tahu!
Aku tidak ingin mengganggu moment mereka berdua sekarang.
Aku lalu tertawa kecil dan membalas pesan Athrun dengan "Okay", lalu berdiri dan keluar dari guest house menuju dermaga. Aku melihat Athrun sudah berdiri di depan guest house-nya dengan senyum yang biasa ia tunjukan.
"Sudah siap?" Tanya Athrun beranjak dari tempat-nya.
"Ayo berangkat, aku ingin makan Takoyaki," Jawabku ceria, lalu mulai melangkah, diikuti Athrun dibelakangku.
=.-.-.-.-.-. C .-.-.-.-.-. Y .-.-.-.-.-. A .-.-.-.-.-. A .-.-.-.-.-. Z .-.-.-.-.-.=
T – B – C
