Mencurigakan. Sangat, sangat mencurigakan. Bagaikan bulan, matahari, dan juga bumi yang sangat berbeda, kali ini Lui, Rinto, dan juga Len berjalan bersama di hadapanku. Mereka berbincang-bincang seakan-akan mereka adalah teman lama, lalu setelah itu saling merangkul satu sama lain, bahkan tertawa bersama.
Astaga, kali ini ada apa lagi?
Memilih
By: Lixryth Rizumu
-Ternyata memilih itu sangat susah-
Vocaloid © Yamaha Corp
Words: 3500 (Story Only)
Pair: Kagamine Rin
Rate: T
Genre: Romance, Friendship
Warning: OOC, Typo, EYD berantakan, sudut pandang orang pertama.
"Lui." Suaraku langsung saja memecahkan suasana hening di antara aku dan Lui. Lui melirikku sejenak dan kembali melihat ke depan. "Sebenarnya apa yang sudah terjadi di antara kau, Rinto dan juga Len?" tanyaku penasaran.
Sejak kemarin hubungan Trio Aneh itu semakin mencurigakan. Padahal sebelumnya mereka selalu bersaing satu sama lain, tapi kali ini kelakuan mereka seratus delapan puluh derajat berbeda. Karena aku sangat penasaran dengan apa yang sudah terjadi di antara mereka bertiga, saat aku sedang berangkat ke sekolah bersama Lui pagi ini, aku langsung saja bertanya kepada Lui.
"Tidak ada apa-apa," jawab Lui dengan singkat, padat, dan tidak jelas.
Aku menggerutu kecil. "Pasti ada sesuatu di antara kalian! Tidak mungkin hubungan kalian bisa baik-baik saja seperti itu!" Aku sudah mulai ngotot ingin tau apa yang sedang terjadi, tapi tetap saja Lui tidak buka mulut. "Baiklah kalau kau tidak mau memberi tahuku," lanjutku dengan kesal, dan Lui tetap saja bungkam.
Angin berhembus kencang dan aku mengeratkan jaket putih bersih yang aku gunakan. Cuaca hari ini memang sangat dingin. Tidak ada hujan ataupun salju, tapi anginnya berhembus sangat kencang sampai mengacak-acak rambut pirangku.
"Memangnya ada apa kalau hubungan kita bertiga membaik?" tanya Lui.
Hening. Ah, benar juga, memangnya apa yang akan terjadi kalau hubungan mereka bertiga membaik? Bukankah itu bagus? Lalu, apa yang membuatku risih melihat mereka bertiga menjadi sahabat? "Tidak apa-apa, sih." Aku tersenyum kecil. "Hanya saja aku curiga dengan kedekatan kalian itu."
Di kelas.
"Rinto, sebenarnya apa yang terjadi di antara kau, Lui dan juga Len?" Yah, ternyata sampai sekarang aku masih saja penasaran.
Rinto menoleh dan menaikkan sebelah alisnya bingung. "Maksudmu?"
Aku menghela napas kecil dan melihat ke sekelilingku, ruangan kelas yang sangat ribut karena tidak ada guru yang sedang mengajar. Sebenarnya sih guru yang mengajar di kelasku sudah datanag, tapi tiba-tiba guru tersebut harus menjemput anaknya dari sekolah, jadi kelasku hanya mendapat tugas yang harus dikerjakan saja.
Membuka celah di bibirku, aku mulai berucap, "Belakangan ini kalian terlihat sangat akrab, apa yang terjadi?" tanyaku, sama seperti pertanyaan yang tadi aku lontarkan kepada Lui.
Rinto terlihat menahan tawanya, entahlah apa yang ditertawakan olehnya, aku tidak begitu peduli. "Tidak ada sesuatu yang penting yang terjadi." Rinto menatapku singkat lalu kembali berkonsentrasi dengan buku paket tebal yang berada di genggamannya.
"Benarkah?" tanyaku untuk memastikan. Tentu saja aku tidak yakin dengan jawaban Rinto yang mengatakan tidak ada sesuatu penting yang terjadi. Pasti ada sesuatu yang terjadi, tidak mungkin tidak ada. Setahuku, Rinto sangat pandai berbohong. Jadi mungkin saja saat ini dia sedang berbohong kepadaku. Mungkin saja.
Rinto menoleh singkat dan mengangguk pelan, lalu kembali memandang tajam buku paket tersebut, seakan ingin melubangi buku tersebut. Aku menghela napas kecewa. Sepertinya aku tidak akan mendapatkan informasi apapun mengenai ketiga orang aneh itu dari Rinto. Dia sangat pintar dalam urusan bungkam mulut. Tidak heran banyak orang yang menyimpan rahasia kepadanya.
"Rinto, kau sangat-sangat pintar!" ujarku memuji, namun dengan nada mengejek.
Pulang sekolah.
"Len, aku mau tanya," ujarku seraya menyuruh Len berjalan mendekatiku. "Apa yang terjadi di antara kau, Rinto, dan juga Lui?" tanyaku tidak menyerah.
Senyum Len mengembang. "Kau akan tahu sebentar lagi," jawab Len dengan nada yang sangat sangat mencurigakan. Oh ayolah, lama-lama aku bisa mati karena penasaran. Padahal 'kan yang membuat mereka mengenal satu sama lain adalah aku, tapi kenapa aku tidak boleh mengetahui apa yang sudah terjadi di antara mereka bertiga?
"Bagaimana caranya agar aku bisa mengetahuinya?" tanyaku dengan menggebu-gebu.
Len tertawa kecil, meskipun mencoba untuk tidak tertawa. "Nanti pasti kau akan mengetahuinya, percayalah."
Aku menghela napas panjang. Sambil menyeka keringatku dengan handuk kecil yang ada di genggamanku, aku memperhatikan seluruh anggota basket yang sedang latihan, kecuali Len, tentunya. Ah, tidak terasa aku sudah lama menjadi manager di klub basket ini. Aku jadi ingat, dulu aku memasuki klub ini hanya karena Len sudah memintaku untuk membantunya, jadi aku masuk saja tanpa basa-basi.
Sebenarnya dulu Rinto juga pernah memintaku untuk menjadi manager di klub sepak bola, tapi yang benar saja, aku tidak menyukai sepak bola, aku tidak mengerti apapun mengenai sepak bola. Jadi aku langsung menolak tawaran itu mentah-mentah.
Kalau untuk klub Lui, tentu saja klub itu tidak pernah kekurangan manager, karena banyak sekali yang mendaftarkan diri untuk menjadi manager di klub bulu tangkis, baik laki-laki maupun perempuan. Mengapa? Tentu saja karena di sana ada salah satu anggota berwajah imut, yaitu Lui. Jadi, yah, di klub bulu tangkis pasti tidak kekurangan seorang manager.
"Lalu, latihan kali ini sampai di sini saja?" Mikuo sedikit berteriak seraya melambaikan tangannya kepadaku―menyadarkanku dari lamunan kecilku itu. "Aku sudah mulai capek, manager!"
Aku membuang napas panjang dari bibirku dan meniup dengan kencang peluit yang menggantung di leherku. "Ya, latihan sampai di sini saja! Kalian semua boleh pulang!"
Semua anggota basket itu bersorak gembira dan berloncat-loncat senang. Aku heran, kalau mereka sangat ingin pulang seperti itu, lalu untuk apa bersusah payah latihan? Yah, sudahlah. Aku mengambil semua barang-barang milikku dan berjalan menuju lapangan bulu tangkis, untuk pulang bersama dengan Lui, tentunya.
"Kagamine Rin, bukan?" Suara ngebass milik seorang laki-laki menghentikan langkah lebarku dan membuatku membalikkan badanku. "Ah, tadi Lui memintaku untuk memberikan surat ini kepadamu setelah kau sampai di lapangan," ujarnya seraya menyodorkan selembar kertas yang sudah terlipat.
Senyum kecil muncul di bibirku. "Terima kasih untuk pemberitahuannya." Aku mengambil surat tersebut dan menunggu orang yang memberikan aku surat itu untuk pergi lalu membaca setiap kata yang ada di dalam surat tersebut.
Aku berencana pulang bersama dengan Rinto dan juga Len, jadi bisakah kau datang ke tempat Rinto latihan sepak bola?
Aku menghela napas panjang. Muncul lagi rasa curiga dalam diriku saat membaca surat dari Lui itu. Pulang dengan Rinto dan juga Len? Yang benar saja. Hanya dengan membaca satu kalimat itu, aku langsung melangkah dengan cepat menuju lapangan sepak bola dan―lagi-lagi―ada seseorang yang memberikanku secarik kertas. Katanya, itu surat pemberian dari Rinto. Mau tidak mau, aku membuka lipatan kertas itu dan membaca isinya.
Kau mencariku? Kalau iya, datanglah ke tempat Len latihan, ya, Putri Tidur!
Dari tulisan yang lebih berantakan dari surat yang sebelumnya, aku bisa menebak kalau surat yang kali ini merupakan tulisan tangan Rinto. Napasku sedikit memburu seiring dengan langkahku yang semakin cepat menuju tempatku tadi latihan. Kalau begini, seharusnya aku tidak usah pergi dari tempatku saja! Dasar merepotkan.
Setelah sampai ke lapangan basket, tidak ada siapa-siapa di sana. Yang tersisa hanya lapangan kosong dengan daun-daun kering yang berserakan di sana―oh, tidak―di tengah-tengah lapangan aku bisa melihat ada sebotol air mineral penuh yang sedang menahan secarik kertas agar tidak terbang. Dan, isi kertas tersebut adalah…
Hei, apa kau sudah mulai lelah? Kalau iya, minum minuman pemberianku ini dan temukan kami bertiga di ruang perpustakaan. Tenang saja, minuman ini tidak beracun!
Kalau tulisan tangan ini, jelas-jelas bukan tulisan Rinto maupun Lui. Aku mengenal tulisan rapih ini, tulisan Len. Apakah kalian ingat saat Len memberikan sepucuk surat untuk menyelesaikan truth or dare-nya? Yah, dari situlah aku mengenal tulisan tangan Len.
Setelah membaca untuk kedua kalinya dan melirik sejenak botol air mineral tersebut, alisku berkerut. Apa-apaan ini?! Apa mereka sedang mempermainkanku? Jadi, kedekatan mereka selama ini hanyalah untuk mempermainkanku?
"Dasar anak-anak Bodoh!" umpatku seraya meremas surat yang ada di genggamanku dan meminum air mineral tersebut dengan kasar. "Lihat saja! Akan aku habiskan kalian bertiga!"
Hanya dengan beberapa langkah yang sangat besar, ruangan perpustakaan sudah di depan mata. Pintu perpustakaan itu tertutup, terkunci lebih tepatnya. Dan di pintu coklat tua tersebut terdapat secarik kertas yang dilekatkan menggunakan perekat. Tentu saja, di kertas tersebut ada beberapa tulisan.
Wah, sepertinya perpustakaan sudah tutup! Bagaimana kalau di ruangan kelas saja? Kelas delapan dua, mungkin?
Aku menggeram dan merobek kertas tidak berdosa tersebut hingga sudah tidak memiliki bentuk lagi. Sambil menghentak-hentakkan kakiku ke lantai, aku mulai berjalan menuju kelasku, delapan dua.
Sialnya, setelah aku sampai di kelasku dan masuk ke dalamnya, ruangan itu kosong melompong. Hanya ada kursi beserta pasangannya, yaitu meja dan beberapa perabotan belajar yang lainnya. Arrgh! Ingin rasanya aku mencekik tiga leher milik seseorang sekarang juga!
Tarik napas, buang, tarik napas, buang lagi. Baru saja aku ingin keluar dari kelas ini untuk pulang seorang diri, pandanganku langsung tertuju kepada papan tulis berwarna hitam yang terdapat beberapa tulisan kecil.
Yang benar saja? Seorang Kagamine Rin ingin menyerah begitu saja setelah tidak menemukan tiga orang pemuda tampan? Oh ayolah, itu sama sekali tidak sepertimu, Rin! Bagaimana kalau memakan cheese cake dulu di kantin? Aku yang traktir!
Cih. Rinto! Meskipun kau akan mentraktirku dengan cheese cake yang sangat enak itu, aku tidak akan memaafkanmu yang sudah mempermainkanku dengan tulisan jelekmu itu! "Aah, sebenarnya apa yang sedang kalian lakukan, sih?!"
Satu suap, dua suap, tiga suap. Rasanya memang seperti masuk ke surga begitu satu sendok penuh dengan cheese cake berdiam di dalam mulutku.
Aku menggenggam erat secarik kertas yang baru saja aku baca. Kertas tersebut terletak tepat di bawah piring kecil yang berisikan cheese cake yang sudah dibayar oleh Rinto. Kertas yang sedari tadi sudah membuatku kesal sudah aku taruh di dalam tasku untuk dijadikan kenang-kenangan. Yah, aku tahu ini konyol, tapi entah kenapa aku menikmati permainan mereka dan juga kata-kata konyol mereka yang ada di setiap kertas tersebut.
Aku tahu kau pasti lelah, manager, jadi kita hentikan saja permainan ini, ya? Atau mungkin kau masih ingin bermain? Haha, tenang saja,aku hanya bercanda. Kalau kau sudah memakan makananmu yang lezat itu, segera pergi ke atap sekolah. Kami bertiga akan menunggumu di sana. Jangan lama, ya! Kalau lama, bisa-bisa ketampanan kita bertiga luntur.
Aku tertawa kecil seraya menaruh sendok yang ada di genggamanku di atas piring kecil yang sudah kosong itu. Kata-kata narsis ini sangat mirip dengan kenarsisan yang biasanya Mikuo tunjukan padaku. Jangan-jangan Len belajar darinya?
Bangkit dari dudukku, aku langsung berterima kasih kepada Ibu-ibu yang menjual cheese cake dan bergegas berjalan menuju atap sekolah. Awas saja kalau sampai tiga orang Idiot itu tidak ada di atap sekolah. Aku sudah susah-susah pergi kesana-kesini sambil membawa barang-barangku yang banyak―sampai terlihat seperti orang yang mau pindah rumah―dan kalau sampai mereka tidak ada, aku akan membunuh mereka detik itu juga!
Tinggal satu tangga lagi, dan aku akan tepat berada di hadapan pintu atap sekolah. Kutarik napasku panjang, dan kemudian membuangnya keras-keras ke udara. Aku mengulurkan tangan kananku dan memutar kenop pintu tersebut hingga muncul celah kecil yang membuat beberapa cahaya menusuk bola mataku.
"Ah, Rin!" ujar ketiga orang aneh―entah kenapa―secara bersamaan.
Aku melipat kedua tanganku di depan dada setelah menaruh tas yang aku bawa di sampingku. "Jadi, ada apa susah-susah membuatku kehabisan napas seperti ini?"
Secara bersamaan lagi, ketiga orang tersebut tertawa renyah. "Maaf, Rin, sebenarnya kita hanya ingin memanggilmu kesini saja," ujar Lui seraya menahan tawanya.
"Tetapi kita akan bosan kalau tidak menjahilimu," lanjut Rinto.
"Yah, jadilah acara kejar-kejaran ini. Apa kau menikmatinya?" Len membenarkan posisi kacamatanya yang hampir terlepas dari hidungnya yang mancung. Aku sampai heran, untuk apa dia memakai kacamatanya padahal dia masih memakai baju basketnya? Dia terlihat sangat tidak cocok jika berpenampilan seperti itu.
"Sebenarnya sih, aku kesal." Aku menghentikan ucapanku sejenak dan mengembangkan senyuman kecil di bibir. "Tapi aku sedikit menikmatinya."
Kami berempat tertawa keras. Entah apa yang kita tertawakan, kita juga tidak tahu. Yang penting saat ini adalah, kita ingin menikmati kesempatan seperti ini dengan canda tawa, bukan dengan rival seperti biasanya. Ah, hampir saja lupa. Memangnya tujuan mereka bertiga membawaku kemari itu apa?
"Pasti kau sedang memikirkan apa tujuan kita menyuruhmu kemari, bukan?" ujar Rinto seakan bisa membaca pikiranku. Oh, tidak, mana mungkin ada orang seperti Rinto yang bisa membaca pikiran seeorang?
Aku mengangguk singkat dan melihat ketiga pemuda yang memakai pakaian berbeda-beda tersebut satu per satu. Kelihatannya mereka sehabis latihan langsung pergi kemari, baju mereka saja masih terlihat lengket dan basah seperti itu.
"Yah, seperti yang kau ketahui, Rin." Lui membuka suara dan menatap Rinto dan Len sejenak lalu kembali memandangku. "Kami bertiga sangat mencintaimu," lanjutnya dengan singkat, membuat seluruh wajahku memanas.
Len melepas kacamata yang dipakainya dan menaruhnya ke dalam tasnya. "Dan, sebagai laki-laki yang tidak sabaran, kami ingin tahu." Len menatapku dengan tajam, namun lembut. "Dari kita bertiga, siapa yang kau pilih?" lanjut Len, dan aku meneguk dengan susah payah ludahku.
"Rin pernah bilang kalau kita tidak boleh melupakan perasaan khusus orang lain terhadap kita, bukan?" Lui kembali membuka suara.
"Jadi kita yakin, kalau kau tidak melupakan perasaan kita terhadapmu," ujar Rinto dengan suaranya yang sangat berat seperti suara bapak-bapak.
Len tertawa kecil ketika melihatku yang mulai merasa panik. Bibir tipis Len mulai terbuka dan suaranya yang tegas langsung menghampiri gendang telingaku. "Bagaimana kalau kita mendengar langsung dari mulutmu tentang siapa laki-laki yang kamu cintai di antara kita bertiga?" Ugh, sialan kau, Len! Jangan mengucapkan kata-kata tabu itu di depan mukaku!
Aku hanya terdiam sangaaaaat lama, menimbulkan suasana hening. Dengan perlahan dan takut-takut, aku menggaruk-garuk kepalaku yang sama sekali tidak gatal. "Apakah aku boleh kabur sekarang juga?" tanyaku. Aku tahu, pertanyaanku itu sangat konyol, tapi yang ingin aku lakukan saat ini memang kabur secapat mungkin dan langsung memeluk Ibuku.
Rinto membuka mulutnya, namun menutupnya lagi―mungkin dia ragu akan berbciara atau tidak. "Kurasa kita harus membiarkan Rin kabur dan berlari-larian di lapangan seperti orang gila. Bukan begitu, teman-teman?" ujar Rinto, entah membelaku atau hanya ingin menghinaku. "Tapi tentu saja dengan syarat, yaitu Rin harus memberikan jawabannya besok pagi, secepatnya."
Ketiga orang tersebut mengangguk-angguk setuju―tanpa mengalihkan pandangannya dariku. "Aku juga sangat setuju! Boleh aku kabur sekarang?" Aku memaksakan senyuman di bibirku dan langsung mengambil barang-barangku lalu melesat pergi dari atap sekolah tanpa menunggu respon dari mereka bertiga.
Gawat, aku benar-benar membutuhkan pelukan Ibuku!
Di rumah.
"MAMAAAAA!" Suara teriakanku yang begitu menggelegar dunia hampir membuat seluruh kaca di rumahku pecah.
Aku berlari menuju kamarku, kamar Ibuku, kamar mandi, ruang keluarga, ruang makan, hingga dapur dan aku menemukan makhluk yang sedari tadi aku cari, yaitu Ibuku. Tanpa ba-bi-bu, aku langsung memeluk perut Ibuku yang besar. Tunggu… besar?
"Astaga, Mama?! Mama hamil lagi?!" Aku berteriak histeris dan menekan-nekan perut Ibuku yang sangat besar. "Tidak bisakah mama mengikuti persetujuan sekeluarga tentang Keluarga Berencana?! Tahan nafsumu, Maaaa!"
"Berisik, Rin!" Ibuku membalikkan badannya dan memukul kepalaku menggunakan spatula. "Jangan sembarangan menuduh begitu! Dan sembarangan sekali kalau kau mengatakan perut Mama besar! Mama tidak hamil ataupun gemuk, Mama langsing!"
Aku tertawa kikuk. Mungkin aku terlalu panik, sampai-sampai mengira perut Ibuku yang besar adalah perut seorang Ibu yang sedang hamil. "Maaf, Ma, aku hanya sedang tidak bisa konsentrasi berpikir."
"Sebenarnya Mama tahu kalau Rin memang tidak pernah berkonsentrasi dalam berpikir, tapi sepertinya kali ini ada masalah?" ujar Ibuku seraya menuntunku untuk duduk di ruangan keluarga.
Aku tidak menghiraukan ucapan Ibuku yang sedang meledekku tersebut dan menghela napas panjang. "Sebenarnya tadi ada tiga orang laki-laki yang me'nembak' Rin."
"Astaga, kau ditembak?! Apa rasanya sakit?! Ditembak di bagian yang mana?! Darahnya banyak?!"
"Maaaa! Dengarkan Rin dulu!" Aku mengerang dan melipat kedua tanganku di depan dada. "Mama gaul dikit, dong! Maksud Rin itu ada tiga orang yang meminta Rin untuk menjadi pacar Rin!"
Ibuku terkikik. "Ibu hanya bercanda. Lalu? Memangnya apa yang terjadi kalau ada yang mengajakmu berpacaran?"
"Aku hanya bingung mau memilih siapa di antara Lui, Rinto dan Len," ujarku seraya memajukan bibirku.
Menjentikkan jarinya dengan kencang, Ibuku tersenyum lebar. "Kalau begitu kita pakai tahap penilaian saja! Bagaimana?" tanya Ibuku dan dibalas dengan anggukan singkat dariku. "Ibu akan menuliskan beberapa pertanyaan untukmu dan Rin harus menjawabnya, ya!"
Selagi menunggu Ibuku menulis beberapa pertanyaan di kertas yang berbeda, aku memainkan berbagai permainan di ponselku. Hingga dua menit terlewatkan, Ibuku sudah selesai menulis dan menunjukkan kertas yang baru saja dituliskan oleh beberapa pertanyaan olehnya, lalu pergi kembali menuju dapur meninggalkanku sendirian di ruang keluarga.
Siapa yang mengetahuimu lebih dari yang lain?
Begitulah bunyi pertanyaan yang pertama. "Lui, mungkin," ujarku pada diriku sendiri. "Tentu saja karena Lui yang mengenalku lebih lama dan juga kurasa Lui sudah mengetahui segalanya tentangku."
Siapa yang selalu menghabiskan waktunya bersamamu?
"Kalau yang ini kurasa Rinto." Aku menyentuh daguku seolah-olah sedang berpikir. "Kalau mengingat-ingat lagi, memang Rinto yang sering menghabiskan waktunya untukku. Pada saat mentraktirku makan, menemaniku sarapan, bermain sepak bola, pada saat aku sakit, drama, dan yang lainnya."
Siapa yang menurutmu pertemuan diantara kalian berdua adalah takdir?
"Ini baru Len." Senyumku mengembang. "Siapa sangka hanya pertemuan pertama yang sederhana―bertabrakan―bisa menumbuhkan rasa cinta pada diri Len? Bahkan Len bilang aku bisa mengubah sifatnya yang dulu sangat dingin. Bukankah itu takdir?"
Siapa yang membuatmu cemburu jika dia bersama perempuan lain?
"Kali ini Lui lagi." Aku menghembuskan napasku panjang. "Habisnya, kalau aku tidak ada di dekatnya, pasti yang menggantikan posisiku adalah Ring. Rasanya seperti kehilangan boneka kesayangan saja."
Siapa yang selalu membuat hatimu cerah?
"Satu poin lagi untuk Rinto, kurasa." Kuperhatikan tulisan tangan Ibuku tersebut lekat-lekat dan kembali berbicara, "Habisnya diantara mereka bertiga, yang paling sering bercanda dan membuatku tertawa adalah Rinto."
Siapa yang sudah membuat hari-harimu menjadi berbeda?
Sebuah senyuman tipis terukir di bibirku. "Len," ujarku singkat. "Kalau saja aku tidak bertemu dengan Len, mungkin aku tidak bisa mengenal orang-orang yang aneh seperti Mikuo dan yang lain." Aku menghentikan ucapanku sejenak. "Lagipula dia sudah memberiku banyak kejutan seperti surat cinta yang ternyata hanya dare dari temannya, memasuki klub basket, mengadakan promnight, dan masih banyak lagi."
Siapa yang membuatmu bahagia?
"Kalau ini, aku tidak bisa memilih. Mereka semua membuatku bahagia." Aku menaruh kertas tersebut di atas meja dan menghitung ulang. "Tinggal satu pertanyaan lagi, dan skor mereka bertiga masih seri." Aku membuka dengan gugup pertanyaan terakhir yang memiliki pertanyaan sangat panjang dan merupakan pertanyaan yang paling menentukan.
Menurutmu, siapa laki-laki yang selalu terngiang-ngiang di kepalamu, dan juga laki-laki yang kau inginkan selalu berada di dekatmu, melindungimu, tertawa denganmu, membuat harimu berwarna, dan laki-laki yang membuatmu ingin lebih mengetahui tentangnya?
Aku menghela napas panjang dan menatap kembali pertanyaan yang panjang tersebut. Aku tidak menyangka kalau pertanyaannya bisa sangat panjang dan berbelit-belit seperti itu. Dan juga, aku tidak pernah terbayangkan siapa di antara mereka bertiga yang selalu terngiang-ngiang di kepa―
Kats!
Seluruh wajahku mulai memanas kembali. Saat aku sedang memikirkan siapa yang terngiang-ngiang di kepalaku, wajah seorang pemuda di antara tiga orang tersebut menghampiri pikiranku. Wajah dengan berbagai ekspresi berputar dengan cepat di kepalaku. Mulai dari wajahnya yang panik, khawatir, kelelahan, berpikir, tersenyum, dan semua wajah tampannya.
Astaga, aku tidak merasa, kalau selama ini aku selalu memperhatikan berbagai ekspresi wajahnya. Apa ini maksudnya aku telah mencintainya? Tapi, sejak kapan? Aku menutup mulutku rapat-rapat yang terasa sangat kering, dan berteriak dengan kencang di dalam hati. Aku harus memberikan jawabanku besok!
Aku langsung bergegas bangkit dari dudukku dan menyambar telepon rumahku dan menekan nomor rumah yang sudah kuhapal, rumah Lui. "Lui, beri tahu dua orang itu kalau aku akan memberikan jawabanku besok!"
Esoknya. Pulang sekolah.
Aku mencoba untuk menetralkan deru napasku yang terdengar sangat memburu. Bahkan detak jantungku tidak berdetak dengan normal seperti biasanya. Wajahku juga sama, entah sudah berapa lama aku merasa pipiku seperti terbakar hingga mencapai ujung telingaku.
"Kudengar dari Lui, kau sudah mempunyai jawabanmu?" tanya Rinto dengan senyuman lebar di bibirnya.
Aku mengangguk kecil dan langsung berbicara. "Sebenarnya aku sempat berpikir kalau aku tidak akan memilih salah satu diantara kalian karena kalian semua sangat baik untukku." Aku membuang napas panjang. "Tapi kurasa itu tidak adil kalau aku sama sekali tidak memberikan harapan pada kalian."
Pandanganku memperhatikan ketiga pemuda dihadapanku berkali-kali. Mereka semua tidak terlihat ingin memotong pembicaraanku. "Menurutku kalian sangat sempurna untukku, sangat. Bahkan kalian terlalu sempurna." Angin berhembus kencang, membuatku mengeratkan jaket tipis yang aku kenakan. "Jadi aku mohon, setelah aku memilih salah seorang dari kalian, jangan mengubah persahabatan kita ini. Aku tidak ingin kedekatan ini hancur karena pilihanku."
Aku menutup mataku dengan ragu, lalu membukanya kembali. "Aku sudah memilih salah satu di antara kalian melalui voting aneh yang disuruh Ibuku, jadi aku merasa pilihanku itu pilihan yang tepat." Senyuman kecil terukir di bibirku. "Aku sendiri tidak menyangka kalau aku bisa jatuh cinta pada salah satu diantara kalian."
Pandanganku menatap satu per satu dari mereka, namun pada saat pandanganku tertuju kepada satu orang yang akan aku pilih, pandanganku melembut. "Apa kalian sudah siap untuk mendengarnya?"
"Tentu saja siap!" ujar Rinto.
"Aku akan mendengarkan baik-baik!" sahut Lui.
"Selama Rin siap, maka aku siap!" ucap Len.
Aku menghela napas lagi. Setelah ini, mungkin hubunganku di antara salah satu dari mereka akan berubah, tapi persahabatan kita tidak akan berubah.
"Diantara kalian bertiga, Kagami Len, Kamine Rinto, dan Hibiki Lui, yang aku pilih sebagai kekasih adalah—"
Aku memotong ucapanku—meniru adegan di komik yang menurutku sangat menyenangkan—untuk membuat orang-orang yang mendengar akan penasaran dengan apa yang akan aku lanjutkan. Tapi tentu saja, itu hanya terjadi di komik-komik. Dan ini bukanlah cerita di komik.
Kedua iris biru lautku menatap lekat-lekat ketiga pemuda yang sudah sekitar lima menit berdiri di hadapanku. Aku tertawa kecil saat menyadari bahwa ketiga pemuda di hadapanku memasang poker face mereka yang terlihat tenang-tenang saja namun aku yakin, mereka gugup di dalam hati.
Kakiku yang panjang dan bisa dibilang ukuran kaki yang ramping—banyak yang berkata seperti itu—melangkah dengan pelan ke arah salah satu dari mereka yang kini berekspresi sangat kaget karena aku menghampirinya dengan senyuman kecil tertampang di bibirku.
"—kamu."
Tamat.
Loh? Udah sampai sini saja? Kalian benar! Cerita ini sudah selesai! Meskipun kalian scroll ke bawah, lanjutannya engga ada. Yahaa! Beginilah ending dari ficku kali ini. Aku susah payah banget loh bikin chapter ini, habisnya minggu depan bakal ujian praktek #curhat
Sebenarnyaaa, fic ini masih ada chapter bonusnya, kalau kalian mau. Dan di chapter bonus itu, akan diumbar siapa orang yang sudah dipilih Rin. Tapiiii, kalau kalian ingin chapter bonus dipublish, ada syaratnya! Syaratnya adalah…. Apa? Hehe. Bercanda. XD
Aku juga bingung sebenarnya persyaratannya apa, tapi begitu aku melirik kotak review chapter-chapter sebelumnya, ada lampu yang keluar dari kepalaku lalu berbunyi, "TING!" nah, jadiii, karena selama ini dalam satu chapter review paling banyak yang aku dapatkan itu 8, persyaratannya adalah…. Di chapter ini kalau reviewnya melebihi 8, maka chapter bonus akan dipublish! Satu orang satu review, ya! XD
Apa kalian setuju? Aku sih setuju setuju aja, soalnya aku penasaran banget sama reaksi yang akan terjadi pada kotak reviewku. Mwahaha! Aku mau berterima kasih banyak banget sama semua yang sudah mendukung cerita ini! Makasih banget! Aku senang dengan komentar-komentar kalian terhadap fic ini. Jadi, don't forget to review, okay? tanpa kalian, aku tidak akan semangat untuk mempublish chapter ini! :3
Sampai berjumpa lagi di fic yang lain! (atau mungkin di chapter bonus? Gyahaha)
