Olo! DeathCheater is cheating over death again! DeathCheater balik lagi di chapter sebelas. Siapa yang puas Sakura gak jadi aborsi?! DeathCheater pengennya sebenernya aborsi sih tapi, gimana ya.. Hmm tapi bakalan ada yang lebih dari aborsi! Terus baca fic ini dan anda akan mengetahui jawabannya! Bwahahah! Anyway, langsung ke disclaimer.

Disclaimer: I dont have Naruto and Naruto belongs to Masashi Kishimoto


Hari semakin berat dan hari semakin membawa Naruto semakin dekat menuju pertemuan kedua belah pihak yang sedang bertikai. Konohagakure dan Otogakure. Daun melawan Suara. Dan sekarang adalah tiga hari sebelum pertikaian itu dimulai. Kita bergabung kembali bersama jagoan kita dan karakter utama kita, Namikaze Uzumaki Naruto.

Duar!

Suara alarm pagi menyerupai suara tembakan mesiu merusak pagi indah sang Hokage. Suara itu bisa dibilang merusak pendengaran. Kalau anda bukan Hokage, mungkin gendang telinga anda akan pecah, karena kalau diukur, suaranya mencapai mencapai puluhan desibel.

"Hah! Siapa yang menghancurkan sesuatu!" Naruto terbangun dari tidurnya yang lelap. Ia masih menggunakan piyama kesukaannya dan topi tidurnya serta guling dengan sarung Gama. "Huh? Tidak ada?" Naruto menoleh kesekitarnya masih dalam mata bertegangan lima watt. "Kalau begitu, mari kita lanjutkan tidur kita, Sakura.." Naruto sedikit melantur. Padahal ditempat tidurnya tidak ada Sakura atau seseorang pun disampingnya. Dan sesaat ia membaringkan badannya lagi,

Duar!

Suara kedua dari alarm! Suara itu benar-benar membangunkannya sekali lagi. Naruto membuka matanya sekaligus dan warna merah iritasi terlihat disekitar area putih matanya. "Astaga! Apa itu tadi?!" kembali ia menoleh sekeliling dan tidak melihat siapapun kecuali dirinya. Lalu ia kembali melantur, "ayo kita lanjutkan Sakura" ia kembali membaringkan badan dan,

Duar!

Suara ketiga dari alarm pagi! Naruto benar-benar kesal. Ia mulai tersadar sepenuhnya dan mulai mencari asal suara itu. "Aarghh! Apa ini?! Coba lihat! Masih pukul tujuh?!" faktanya biasanya ia baru bangun pukul setengah delapan dan masih ada setengah jam. "Ini terlalu awal! Terlalu awal setengah jam!"lalu ia mengambil selimut dan membentangkannya dan ia tutup seluruh bagian tubuhnya dengan selimut tebal itu. Dan tentu saja ia menutup telinganya.

Dan tidak beberapa lama kemudian.

Duar!

Tembakan keempat!

Duar!

Tembakan kelima!

Duar!

Dan terus hingga tembakan ke dua puluh tujuh. Bahkan sang Hokage yang sudah memakai tutup telinga masih bisa mendengar suara itu menembusnya.

"Baiklah aku sudah muak!" Naruto melepas topi tidurnya dan Gama. Serta melepaskan selimut tebal yang menutupinya. Lalu ia bawa jam alarm digital itu ke halaman. Sambil membawa alarm itu dia juga menutupi kedua telinganya dibantu kloningannya.

"Hei! Sampai berapa lama kami harus menutup kuping kau?!" kata salah satu klon.

"Kau pikir hanya kau yang menderita?!" jawab salah satu klon lainnya.

"Oh diamlah! Aku berusaha mengancurkannya!" lanjut Naruto dengan penuh kekesalan ia tumpahkan ke alarm yang bisa dibilang mampu membuat orang tua jantungan. "Oke tuan alarm yang menyebalkan! Kita sudah sampai diruang eksekusimu, halaman!" Naruto mulai bisa bernapas lega tapi ia masih kesal dan mulai mengaktifkan chakra Sagenya. "Senpou: Cho Odama Rasengan!"

Haruskah sampai seperti itu? Pikir kedua klon bersamaan. Mereka berdua sweatdrop melihat induk kloningannya mengumpulkan chakra angin plus chakra Sage ditangan kanannya hingga sebesar seperempat lapangan sepak bola!

"Rasakan ini!" teriak Naruto kepada alarm yang menurutnya sialan itu. Tapi ada yang aneh dari alarm itu. "Hah?!" alarm itu tidak hancur!

Wow, coba lihat itu! Bahkan Naruto sendiri tidak bisa menghancurkan alarm itu menggunakan Senjutsu. Kita tidak boleh anggap remeh alarm itu. Kedua klon itu saling berhadapan dan mengangguk.

"Baiklah! Ini tidak memberiku pilihan terakhir!" Naruto kembali mengangkat tinggi-tinggi tangan kanannya bersiap membuat Rasengan lagi. "Fuuton: Rasenshuriken!"

Sebuah Rasengan berbentuk shuriken Fuuma terbentuk ditangannya. Bersiap menghancurkan segalanya hingga ke sel dan molekul terkecil.

Duar!

Itu bukan suara alarm lagi, tapi itu adalah suara ledakan akibat pertemuan antara Rasenshuriken dengan tanah halaman. Dari ledakan itu mulai terbentuk asap kecoklatan tanah yang bertebaran diudara. "Hah?!" Naruto kebingungan sesaat asap itu mulai hilang. Ia masih melihat sebuah balok berwarna hitam menunjukkan pukul "07.13 AM" dan disaat itu, ia makin kesal dan merasa dipermainkan.

"Ah!"

Naruto berubah dalam chakra merah dan tangan kanannya terbuka. Ia mulai mengumpulkan chakra hitam dan chakra putih ditangannya. Setelah delapan banding dua,

Duar!

Bijuudama tepat mengenai jam alarm hitam itu. Dan sekarang lebih banyak debu tanah menutupi halamannya dan benar saja.

"Hah! Rasakan itu alarm bodoh!" Naruto menghilangkan dua klonnya yang daritadi menatapnya heran. Sampai harus di Bujuudama segala.

"Hei apa itu?!"

Setelah debu hilang ia melihat sebuah kertas surat. Ia kenal tulisan itu. Itu adalah tulisan Sakura. Ia berjalan mengambil kertas itu dan dibacanya.


Jika kau baca surat ini

Berarti kau telah menghancurkan alarm yang aku buat untuk membangunkanmu

Aku akan berada di toko bunga Yamanaka

Membeli bunga untuk ayah dan ibu

Sakura


"Sial aku dikerjai Sakura" katanya pelan sambil menyeringai."Yah sebaiknya aku juga bergerak" gumamnya sambil merobek kertasnya dan membakarnya dalam Karyuu Endan.


Sementara itu di toko bunga Yamanaka.

Krining

Lonceng bergetar sesaat Sakura memasuki toko bunga itu. Bau campur lavender, mawar, melati, tulip dan lainnya membuat suasana dalam toko semakin tenang.

"Ah!"

"Oy, Sakura!" teriak seorang perempuan dari belakang meja tokonya.

"Hey, Ino" jawab Sakura sambil melambaikan tangan ke arah rival abadinya. Sakura melihat sekelilingnya dan ia juga melihat seorang lelaki rambut pendek tanpa raut mengenakan celemek yang lumayan kotor. Ia sedang mengangkat setumpukkan bunga. Menyadari kehadiran pria itu juga, Sakura menyapanya. "Hoi, Sai! Apa kabar?"

"Hei Sakura, senang bertemu denganmu" jawab pria itu tanpa menunjukkan emosi yang berarti. Hidup bersama Ino, membuatnya kini lebih sensitif terhadap emosinya sendiri. Bahkan ia menunjukkan signifikansi lebih lanjut ketika ia sedang melakukan aktivitas yang berhubungan dengan bunga.

"Sakura, apa yang membuatmu datang pagi-pagi kemari?" tanya si pirang sesaat Sakura berjalan mendekatinya.

"Hari ini aku akan mengunjungi ayah dan ibuku, begitu juga Naruto" ia sedikit ragu menyebutkan nama suaminya. Mungkin pikir Sakura.

Ino tahu. Ia bisa melihatnya dari raut wajahnya. Ia sedang dalam kesedihan yang luar biasa. Bekerja sebagai interogator di Konoha dan kepala psikiater rumah sakit, membuat menjadi lebih peka dalam mempelajari emosi orang lain.

Ino tersenyum, "sesuatu terjadi, Sakura?" tanyanya. Tak ada keraguan, dia tahu Sakura benar-benar sedih dan sedang berpikir sesuatu.

Sakura kembali mengangkat kepalanya sejajar dengan teman dan rivalnya itu. Yah sebenarnya kalau memang ingin mengetahuinya, bisa saja ia menggunakan Shintensin no Jutsu. Tapi karena ini istri Hokage, mau bagaimana lagi.

"Hmm" jawabnya menggumam iya.

"Oh" Ino mulai memikirkan apa yang akan ia katakan, "kau tahu Sakura, kau selalu bisa cerita kepadaku, jidat besar.." lanjutnya tersenyum.

"Aku tak tahu, Ino, hanya saja.."

"Oh aku mengerti" ia kembali tersenyum menyemangati temannya. Lalu ia panggil Sai, "Sayang! Cepat kemari!"

Sai berjalan menghampirinya pelan dan masih dalam celemeknya yang kotor. "Ada apa?"

"Bisa tukar posisi sebentar? Aku ingin berbicara dengan Sakura" katanya pelan.

"Oh tentu" ia langsung berjalan kebelakang meja kasir dan bersiap untuk kembali menghancurkan toko bunga itu.

"Ingat Sai, bersikaplah natural! Pengunjung akan menyukainya" Ino ingat terakhir kali ia meminta Sai menjaga toko. Semua pengunjung mengeluh dengan sikap si kasir yang tidak memiliki ekspresi apapun dan pengunjung juga merasa aneh dan bagaimana ya.. Susah menjelaskannya.

"Oke, aku mengerti" ia tersenyum. Tersenyum palsu.

"Sai, aku serius, aku tahu kau masih gugup. Kau bawa buku panduanmu, kan?" ia tahu senyuman Sai, mana yang palsu mana yang tidak.

Lalu Sai mengeluarkan empat puluh delapan buku mengenai, "cara menghadapi pelanggan dengan baik" ada lagi, "cara menghadapi orang keras kepala" dan ada juga "panduan untuk tersenyum yang benar." Itu adalah tiga dari segelintir bukunya.

"Baguslah, sekarang aku ada dibelakang, panggil aku jika ada sesuatu yang bermasalah!"

"Iya" jawabnya sambil tersenyum. Tersenyum asli. Kemudian ia mengalihkan pandangannya ke arah Sakura, "santai saja Sakura, oke?"

"Ya" dan kemudian mereka berjalan ke arah kebun pribadi milik keluarga Yamanaka.

Beberapa saat kemudian di halaman keluarga Yamanaka, kedua Kunoichi sedang duduk saling berhadapan di dalam pagoda putih dengan banyak bunga yang melilit ditiap pancangnya. Teh hijau kesukaan Sakura masih utuh belum diminum sedikit pun.

"Jadi, Sakura" Ino mengambil cangkirnya dan mulai meminum sedikit, "apa yang mengganggu pikiranmu. Kau tahu aku selalu bisa membantu"

Ino masih memegang cangkirnya dan posisi duduknya masih menyilangkan kakinya. Tapi sakura hanya merapatkan kedua kakinya dan memegang lututnya kuat-kuat. "Ino"

"Hmm?" Ino kembali menyeruput tehnya dan Sakura masih mencoba mengatakan sesuatu yang mengganjal.

"Bagaimana Naruto menurutmu?"

"Hah?"

Sudah lama sekali ia pernah mengajukan pertanyaan seperti itu. Ia pernah menanyakan pertanyaan seperti itu ketika Naruto kembali lima tahun lalu dalam pengembaraannya.


Flashback

Perasaan wanita ini tidak bisa lebih bingung lagi! Seorang perempuan berambut pink ini sedang meratapi kegalauannya dalam kamarnya. Semalaman ia tidak bisa tidur. Ia memikir seorang cowok terkeren dan terhebat di Konoha. Seseorang dengan rambut pirang.

Wanita ini masih mendekap bantal gulingnya dengan eratnya dan memikirkan pria itu yang sedang ia peluk saat ini.

"Aah! Ayolah jangan bohong Sakura! Kau menyukainya, kan?" kata seseorang yang kembar sepertinya dalam pikirannya.

"Apa iya?" Sakura hanya blushing mendengar olok-olokan kembarannya.

"Haha! Kena kau! Kau sedang jatuh cinta!" kembarannya terus menggodanya.

"Hentikan!" Sakura wajahnya semakin memerah dan menandingi warna rambutnya yang pink.

"Naruto dan Sakura berjalan-jalan berdua dan kemudian duduk disamping sungai" lanjutnya sambil bernyanyi, "B-E-R-C-I-U-M-A-N" ejanya masih dalam nada nyanyiannya yang sama. Bahkan dia mengeluarkan tertawaan yang luar biasa tidak terbendung saat melihat Sakura wajahnya memanas bagaikan panci yang digunakan untuk memasak air.

"Hey!"

"Oh, apa aku mengatakan sesuatu yang salah, Sa-ku-ra? Haha" ia terus mengejeknya dengan meniru nada bicara Naruto.

"Diam!" semakin kesal Sakura, semakin senang kembarannya mengejek Sakura yang asli.

Dia pasti tidak akan bisa menahan yang satu ini pikir si kembaran sambil menyeringai. "Kau tahu Sakura, dahimu begitu lebar, membuatku ingin menciumnya"

Wajah Sakura menggelap untuk sesaat memikirkan godaannya. Dan Blush! Berhasil! Bahkan ia lebih panas dari matahari!

"Hei! Hentikan itu!" pekiknya dalam pikirannya.

Knok

Knok

Knok

Suara ketukan pintu menghentikan blushingnya sesaat dan mengerinyit dalam pikirannya, aku akan mengurusmu nanti!

"Siapa itu?" teriaknya kepada siapapun dibalik pintu apartemennya.

"Hey, jidat besar! Ini aku!" teriak balik sosok anonim dari belakang pintu.

"Ah! Tepat waktu!" ia meloncat dari tempat tidurnya dan segera menghampiri pintu tersebut.

Krek

"Aku sudah menunggu seumur hidup kau akan bukakan pintu itu!" keluh si pirang yang ternyata dan tak lain adalah seorang wanita Yamanaka.

"Oh ayolah, kau tidak menunggu selama itu!"

"Tch, terserahlah" balas si pirang mendengus.

"Kenapa kau tidak membuat dirimu nyaman disini?!" ia menyuruh si pirang masuk dan menyuruhnya juga untuk beradaptasi dalam apartemennya yang bisa dibilang, berantakan.

"Astaga, Sakura.. Ada apa ini?! Apa yang terjadi padamu?" ia melihat pemandangan yang tidak biasa. Berantakan. Tidak bisanya Sakura betah dengan suasana seperti ini. Sakura adalah seorang perfeksionis. Dia senang tinggal dilingkungan yang rapih. Kecuali.. Ada sesuatu terjadi yang terjadi kepada Sakura.

Ino memicingkan matanya ke arah Sakura dan menyipitkan kedua matanya walaupun yang satunya tidak terlihat karena tertutup poni. "Ah maaf, ini, anu, mm" kata Sakura tergagap. Ino juga merasakan sikap Sakura mulai seperti Hinata.

"Katakan, Sakura" pada saat ini, Sakura mulai berpikir Ino sedang berjalan dipikirannya. Sakura menelan ludah. "Ada apa dengan perubahan emosi ini?"

Deg

Deg

Deg

"Hehehe, aku bisa merasakan detak jantungmu Sakura" lanjut Ino menyeringai. Sakura makin tidak nyaman. Ia semakin takut jika pikirannya dibaca oleh si pirang bawel tukang gosip. Dan jika ia mengetahui hal ini terjadi, maka tidak dalam hitungan harian bahkan jam, berita itu sudah tersebar kemana-mana. "Katakan atau tidak sama sekali, atau aku akan mencari tahunya sendiri!" tangannya sudah bersiap dengan segel khusus untuk, "siap atau tidak aku akan masuk ke pikiranmu! Shintenshino no-"

"Tunggu"

Ino semakin menyeringai mendengarnya. Akhirnya si pink menyerah dan menghela nafasnya. "Hah, ternyata gertakan itu berhasil"

"Anu, mm" Sakura agak sedikit memerah mukanya dan bisa dibilang agak malu untuk mengatakan sesuatu. Dan sekarang ia makin mirip dengan Hinata.

"Hei Sakura, cepat katakan!" kepala Ino makin dipenuhi dengan tanda tanya besar yang keluar dari pengelihatannya melihat Sakura begitu.. Aneh.

"Ini, Ino, menurutmu" ia sedikit menahan bibirnya dan mulai memainkan tangannya seperti Hinata. Oke ini tidak lucu, Sakura semakin mirip Hinata.. Ino sweatdrop melihat kelakuannya makin sebelas dua belas! "Menurutmu"

"Menurutmu, menurutmu, menurutmu! Apa sih yang ingin kau katakan Sakura!" Ino agak sedikit jengkel. Tapi Sakura sama sekali tidak memperdulikannya.

"Menurutmu, Naruto itu bagaimana?"

Dang!

Ino kaget dengan pertanyaan temannya. Sejak kapan ia begitu memikirkan dan bertanya soal si baka itu? Dan semua orang juga tahu Sakura tidak pernah menyukai Naruto.

Tapi kemudian si pirang itu menyeringai, "Wow, Sakura, aku tidak tahu semua pembicaraan kita akan mengarah ke si baka itu" kenyataannya dia juga agak sedikit syok mendengarnya.

"Iya"

"Jadi" Ino mulai mengambil ancang-ancang untuk duduk "sejak kapan ini terjadi, maksudku, kau jadi suka si baka itu?"

"Aku tak tahu" Sakura mulai tersenyum senang, "mungkin sejak ia kembali"


Flashback

Beberapa hari yang lalu

Hari yang cerah sekali bagi Konoha. Lima tahun sudah perang berakhir. Konoha untuk lima tahun ini merasakan kedamaian yang sangat berarti. Sasuke, si ninja pelarian telah kembali ke desa. Ia ditarik paksa oleh seorang pahlawan. Awalnya ia akan dijerat hukuman tapi, sang Hokage, Senju Tsunade mengambil alih kasus dan membebaskannya. Tidak lama sang pahlawan pergi. Ia pergi meninggalkan semuanya

Dan sekarang sang pahlawan telah kembali.

"Neji? Sudah lama ya.." kata sang pahlawan yang sedang berdiri disebuah batu nisan. Batu nisan itu tertulis sesuatu yang membuat si pahlawan bersedih.


Disini terbaring,

Hyuuga Neji

Keluarga dari Rookie dan Hyuuga

Yang mengorbankan nyawanya demi teman


"Kawan, apa kabar? Sudah lima tahun aku mengembara kesana-sini tidak jelas. Aku tahu kau meneriaki diriku bodoh dari sana! Aku bisa dengar itu!" katanya sedikit bersedih. "Kau tahu, kalau saja aku lebih kuat saat itu, kau tidak perlu mati.. Dan kita bisa bertarung, Neji.." katanya sambil mengepalkan tangannya. "Heh, aku harap ada Jutsu yang bisa membawaku ke masa lalu" pahlawan itu tersenyum dan kemudian memeggangi batu nisan itu. Lambang Hyuuga terlihat jelas terukir.

"Neji, aku pikir cukup dulu ya, aku harus ke ayah, ibu, dan pertapa genit sekarang, kita akan bicara lagi nanti!" dan dengan itu, sang pahlawan pergi menuju makan satunya lagi yang tidak jauh dari makan sang Hyuuga.

"Ayah! Ibu!" teriak si pahlawan dengan senangnya. "Sudah tiga tahun semenjak pertemuan terakhir kita. Aku berharap, Tuhan akan mengijinkan kalian sekali lagi untuk bertemu denganku walaupun hanya dalam bentuk suara atau bisikan atau mimpi atau apalah" tangan kanannya memegang nisan yang saling berdampingan itu.


Disini terbaring

Namikaze Minato

Yondaime Hokage dari Konoha

Ayah dan Suami yang penyayang


Disini terbaring

Uzumaki Kushina

Ibu dan Istri yang penyayang


Melihat kedua nisan itu, dia menangis. "Ayah, ibu, aku berharap kalian disini.." ia bahkan memegangi nisan itu lebih keras.

Sementara itu dilain arah ada seorang perempuan berambut pink sepinggang sedang berjalan menyusuri jalan setapak yang memisahkan antar petak pemakaman. Ia terlihat sedang membawa sebuah bunga. Bunga itu adalah bunga yang lazim dibawa tiap orang ke acara seremonial pemakaman.

Perempuan itu memakai ikat kepala yang ia modifikasi sebagai bando. Dia juga memakai rompi standar Jounin dengan baju lengan panjang, sepanjang setengah lengan bawah dan rok pendek, sependek tiga perempat paha.

Perempuan itu berhenti sebentar setelah melihat sosok sang pahlawan. Ia melihat sang pahlawan memakai sebuah jubah berwarna merah dengan ornamen api hitam diujung bawahnya. Ditengah punggunganya tertulis tulisan kanji untuk "Sage."

Sang pahlawan juga terlihat membawa sebuah pedang. Pedang yang biasa digunakan para samurai di negara besi. Dan pedang itu ia gendong di punggungnya.

Dan ia juga menemukan sebuah gulungan besar berwarna merah pada covernya.

Aku seperti pernah lihat orang ini, tapi dimana? Katanya membatin.

Lalu ia tilik lagi penampilannya. Orang ini memiliki rambut pirang cemerlang. Mirip seperti Yondaime Hokage dengan cambang yang sedikit menjalar kebawah dagu sang pahlawan. Tapi tidak cambangnya terlihat tidak sekasar Yondaime. Yang ini terlihat lebih lurus.

Aneh, tapi dia mirip Yondaime dan dia juga berdiri di depan makam Yondaime ia terus memperhatikan sosok ini untuk sesaat dan akhirnya sosok itu membalik. Ia melihat sosok yang sangat ia kenal. Sosok itu yang memiliki mata biru sebiru langit dan kumis kucing.

Astaga! Sosok itu benar-benar mengejutkan si perempuan. Tampan sekali! Apa lagi dengan kumis kucing itu.. Tunggu! Kumis kucing?! Ia menyadarinya. Sosok itu adalah sosok yang sangat ia kenal!

"Sakura?" kata Naruto sedikit syok.

"Na-na-naruto?!" Sakura itu sedikit terbata-bata. Ia bingung harus berbicara apa. Ia melihat sosok berbeda dari si baka. Lebih ganteng! Dua ratus kali lebih ganteng!.. Tunggu! Kenapa aku bisa berpikir seperti itu?!

"Hei Sakura, apa kabar? Sudah lima tahun ya?" tanya Naruto sambil tersenyum. Aah! Bahkan ia jauh lebih ganteng saat tersenyum! Pekik Sakura dalam pikirannya.

Sakura menundukkan kepala dan entah kenapa ia mulai menitihkan air mata. "Baka.. Kenapa?"

"Hah?"

"Kenapa kau berbohong?" katanya sambil menitihkan lebih banyak air mata.

"Sakura aku bisa jelaskan" dan ya! Sakura langsung memeluknya tepat di makam ibu dan ayah mertua masa depan.

"Baka! Kenapa? Kata guru Tsunade kau hanya melakukan misi tingkat C! Lalu kenapa harus lima tahun?!" kata si perempuan dalam nada kesal.

"Bukankah dia bilang juga walaupun memang ini setingkat C tapi sangat rahasia setingkat S?" benar kata Naruto. Tsunade memang berkata demikian. Lalu apa yang sangat dirahasiakannya?

"Rahasia apa Naruto?"

"Hmm, aku tidak bisa beritahu itu! Kata nenek, itu terserah padaku mau diberathu atau tidaknya" Naruto tertawa melihat Sakura yang begitu ingin tahu tentang segala hal harus kecewa.

"Baka" lagi pula itu bukan masalah lagi, yang penting si bodoh sudah kembali lagi kemari.. Pikirnya. Tanpa sadar, ia mulai begitu sangat perhatian kepada sang pahlawan.

"Sakura" Naruto mulai berbisik, "bisa lepaskan pelukanmu? Aku sulit bernapas, kau tahu?"

Blush!

Wajah Sakura kini memerah semerah cabe. "Ah? Oh!" Sakura mulai melepaskan pelukannya.

"Haha.. Sakura, kenapa muka mu memerah?"

"Tidak! Aku tidak!" jawabnya bersikeras. "Katakan, Naruto.. Apa aku terlihat lebih seperti wanita?"

Naruto menginspeksi tubuhnya dari atas sampai bawah dan melihat ia sungguh banyak berubah. "Tentu, Sakura! Kau telah tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik!"

Sakura benar-benar semakin blushing mendengar jawabannya. "Benarkah?"

"Benar! Siapapun bisa melihatnya Sakura!" lanjut Naruto dengan penuh semangat. Dan kau juga telah tumbuh menjadi lelaki yang sangat tampan, Naruto.. Pikir si pink.

"Haha, baka" ia berusaha menyingkirkan sikap blushingnya dengan mengatakan baka, tapi tetap saja suasana canggung ini membuatnya susah untuk menghilangkan rasa malunya.

"Jadi Sakura, untuk apa kau disini? Aku lihat kau membawa bunga"

"Oh, iya, aku akan ke makam ayah dan ibu"

"Hmm begitu" kata Naruto. Naruto bisa melihat kesedihan luar biasa di wajah Sakura. "Maaf Sakura"

"Iya, tidak apa" Sakura sedikit tertawa canggung. Melihatnya sedang didepan makam Hokage membuatnya bingung. "Hei Naruto, apa yang kau lakukan di makam Hokage?"

"Apa nenek tidak pernah memberi tahumu?"

Sakura menggelengkan kepalanya, "Tidak. Tidak pernah"

"Bagaimana aku menjelaskannya, ya?" Naruto menggaruk pipinya bingung, "Yah, kau lihat, apa aku mirip Yondaime?"

Sakura melihat tubuhnya yang tinggi dan badannya yang kekar. Rambut yang spiky dan berwarna pirang mirip Yondaime. Serta gaya berpakaian mirip juga. Sakura melenguh sambil menutup mulutnya. Astaga! Jangan bilang!

"Yap! Benar! Aku ini anaknya!"

Tidak mungkin! Sakura tidak percaya. Tentu ia punya seluruh bagian tubuh dan selera sang Namikaze berada dalam tiap potong tubuhnya.

"Sakura percaya atau tidak, aku memang anak darinya" lanjutnya sambil tersenyum.

"Tapi Naruto, kalau memang Yondaime ayahmu, kenapa dia mau menyegel Kyuubi kedalam tubuhmu?" pertanyaan ini begitu vulgar. Jika membawa pertanyaan ini pasti Naruto langsung tersedih. "Apa aku berkata sesuatu yang salah?"

"Tidak, Sakura, hanya saja.. Aku tidak mau menjawab pertanyaan itu"

"Oh, baiklah, kau tidak perlu menjawabnya" suasana semakin canggung dan kedua belah pihak saling diam satu sama lain hingga, "Naruto, tidakkah kau harus ke nona Hokage?"

"Kau benar Sakura, tapi masih ada satu orang lagi yang harus aku kunjungi"

"Benarkah? Siapa dia?"

"Pertapa genit" katanya sambil tertawa.

Duak

"Ow, sakit! Apa itu tadi?" Naruto hanya bisa meratapi rasa sakitnya yang terlanjur terasa di ubun-ubun.

"Kau ini memang tidak pernah berubah Naruto"

"Ah?"

"Kau masih memanggilnya pertapa genit daripada harus memanggilnya tuan Jiraiya" ujarnya tersenyum.

"Hehe, kau tahu, aku benci jika harus memanggilnya seperti itu. Untuk apa aku harus bersikap formal ke orang tua wali sendiri?" Naruto hanya bisa tertawa sambil mengingat saat-saat mesum bersama si super mesum.

Sakura kembali melenguh kaget, "orang tua wali?" Segala tentang Naruto adalah kejutan. Pertama dia adalah anak sang Hokage, kedua dia punya orang tua wali dan dia adalah salah satu dari tiga Sannin. Kejutan apa lagi yang ia punya?

"Hmm" katanya mendehem tersenyum. "Tapi aku agak malu punya orang tua wali yang super-sangat mesum seperti dia" Sakura juga tidak bisa menahan tawa kecilnya.

"Kau benar Naruto"

"Kau bilang kau akan pergi makam ibu dan ayahmu? Keberatan jika aku temani?"

"Ah?" Sakura mengambil langkah seribu untuk kabur dari rona merah pipinya. "Te-tentu" dan dalam hitungan detik mereka sampai di makam orang tua Sakura. "Kita disini"

"Iya"

Sakura menaruh bunganya diatas batu semen yang berisi banyak karangan bunga. Dan sekarang Sakura membereskannya dan menggantinya dengan yang baru.

"Ayah, Ibu, lihat siapa yang datang?" katanya kepada kedua batu kotak yang terukirkan nama orangtuanya. "Aku kali ini tidak sendirian, aku bersama Naruto" ia terus mengoceh ke batu itu dan tidak mengalihkan sedikit pun pandangannya.

Sedangkan Naruto terdiam tersenyum melihat Sakura, "Sakura" gumamnya tanpa membuat si perempuan mendengar.

"Ayah dan ibu ingat Naruto, kan? Itu lho, laki-laki yang baka yang seting aku bicarakan! Yah, setelah lima tahun, aku pikir dia tidak akan kembali lagi. Aku tidak tahu apa yang ada di kepalanya. Apa mungkin penuh dengan ke idiotan? Mungkin.. Tapi dia adalah pria yang peduli, kalian tahu? Dia membawa Sasuke kembali, mengalahkan Madara, Tobi, Akatsuki, dan Juubi. Sungguh pria yang hebat bukan?"

Naruto mulai memerah pipinya, mendengar Sakura berbicara seperti itu kepada orang tuanya. Untuk beberapa alasan, dia mungkin masih menyukai Sakura.

"Ah! Aku juga mengganti bunga yang lama!" katanya sambil berdiri. "Ayah, ibu, cukup ya untuk bulan ini? Aku ada urusan yang mendesak, oke? Sampai nanti!" ia membungkukkan badannya untuk memberi salam perpisahan.

"Hei Sakura, apa benar aku pria yang hebat?"

Duak!

"Tidak juga" jawab Sakura sambil berjalan menjauhi Naruto. "Kau bahkan bisa aku kalahkan hanya dengan satu pukulan"

"Hei Sakura tunggu!" Naruto mencoba bangkit dari rasa sakitnya. "Bagaimana jika kau temani aku ke tempat pertapa genit?"

"Hmm" ia mulai berpikir, "oke!"

"Baiklah! Ayo!" tanpa berbicara lebih lanjut, Naruto mengambil tangan Sakura. Dan mulai melakukan sesuatu. "Hiraishin!"

"Hei, tunggu Naruto aku-" bahkan sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, ia merasakan dirinya sudah berada ditempat yang berbeda. "Wow! Cepat sekali"

"Hehe, sudah kuduga" katanya menyeringai. "Orang yang baru pertama kali bertemu denganku setelah lama berpisah akan merasa sangat kaget dengan kekuatan baruku" setiap kata-katanya menunjukkan percaya diri yang luar biasa.

"Oh ayolah!" dan tanpa sadar Naruto masih memegang tangan Sakura. Hal ini membuat wajah Sakura makin memerah.

"Ah! Maaf!" menyadarinya juga, kedua Ninja ini sudah masuk dalam keadaan senyap penuh canggung.


Batu ini dibuat untuk mengingat jasa

Jiraiya dari Tiga Sannin Legendaris

Dalam upaya melawan Akatsuki

Semoga jiwanya tenang dialam kedua


Tak jauh dari tugu itu ada sebuah batu yang bersenderan dengan sebuah pohon. Batu itu adalah batu sederhana dengan ukiran "Shi" yang artinya guru. Batu itu dibuat juga karena sebenarnya, mayat sang pertapa tidak pernah ditemukan dan dikatakan tenggelam. Di depannya ada sebuah bunga kertas. Naruto menyebutnya bunga harapan. Itu adalah hadiah dari Konan. Juga di depannya ada sebuah copy-an buku yang berjudul, "Cerita Tentang Ninja yang Benar-benar Berani", sekumpulan seri Icha Icha dari Kakashi, dan sebuah kunai Hiraishin. Dan kunai Itu yang membuat Naruto dapat berpindah ke batu itu dengan cepat.

"Hei, pertapa genit. Apa saja yang kau lakukan selama aku pergi lima tahun? Apa kau memulai seri baru Icha Icha? Hehe, itu benar-benar terdengar seperti kau. Tapi mungkin guru Kakashi sangat menderita karena tidak bisa melihat hasil karyamu lagi" katanya sambil tersenyum. "Lima tahun, pertapa genit. Aku pergi mengembara ke desa lain untuk mencari apa yang kau cari" Naruto menahan sedikit percakapannya dengan batu, "tapi aku malah berakhir untuk berlatih dan berlatih." Lanjutnya sambil menggaruk kepalanya.

"Naruto, jadi lima tahun ini kau berlatih?" katanya pelan tapi sepertinya Naruto tidak mendengar apa pun.

"Apa kau melihatku?" katanya tersedih. "Terserahlah, lagi pula tak ada gunanya aku terus berbicara ke batu. Aku akan ke nenek, oke? Kita akan bicara lagi nanti" lalu ia putar badannya dan mengajak Sakura kembali.

"Jadi Naruto, lima tahun ini, kau berlatih?"

"Yap! Tapi rahasia sebenarnya tidak ada disitu!" jawabnya terus membuat Sakura penasaran.

"Oh.. Tapi apa kemajuannya, Naruto? Aku masih melihat sifat baka itu mengelilingimu"

"Benarkah?! Aku pikir aku terlihat lebih dewasa?!"

"Aku bercanda, jadi sampai mana kekuatanmu, Naruto?"

"Maaf Sakura bukan bersikap sombong ya" jawab Naruto dan Sakura memutar mata seolah mengatakan 'terserahlah.' Naruto mulai membuka mulutnya dan Sakura mendengarnya ditiap bait ia mengatakannya, "mari kita lihat, aku menguasai elemen api. Aku juga menguasai elemen petir, tanah, dan air serta tentu saja menyempurnakan elemen anginku. Kontrol chakraku semakin baik. Aku juga menguasai teknik Kenjutsu serta Taijutsu. Dan aku master dalam teknik penyegelan. Mode Sageku sudah sempurna begitu juga mode Bijuu" lanjut Naruto pamer. "Tapi, Genjutsu sepertinya masih menjadi kelemahanku" kata Naruto sedikit depresi.

Sakura kembali dibuat terkejut lagi oleh si Jinchuuriki. "Apa benar itu kemajuan atau itu bualan?" katanya menyeringai.

"Lalu untuk apa mereka memanggilku, tuan Naruto yang hebat?" ia tertawa lebar. Memang itu kenyataan. "Tahun pertama aku habiskan untuk mempelajari sistematika serta dasar dan aplikasi penyegelan. Tahun kedua dan ketiga aku gunakan untuk masterisasi lima elemen. Tahun keempat aku pergi ke Kirigakure untuk belajar Kenjutsu dan ditahun terakhirku, aku tinggal di gunung Myouboku untuk menyempurnakan semuanya"

"Yah, aku bisa terima itu semua"

"Bagaimana denganmu Sakura? Apa kau membuat banyak kemajuan juga? Apakah kau sudah mulai melirik seorang pria? Mungkin seorang Uchiha?"

Pertanyaan Naruto meninggalkan tanda tanya besar diwajah Sakura.

Ada rahasia tingkat S selama lima tahun kepergian Naruto? Apa jawaban Sakura setelah ditanya mengenai si Uchiha? Dan apa pula jawaban Ino mengenai penilaiannya tentang Naruto? Semua ada dilanjutan Flashback di chapter dua belas!


And Cut! Chapter sebelas selesai! Ini kedua kalinya DeathCheater update di minggu yang sama! Buat Chapter berikutnya bakalan diupdate dua hari setelahnya, oke? Dan beberapa chapter berikutnya mungkin masih soal flashback gimana hubungan mereka tumbuh. And that means, more romantic matters is here!

And hey, baca karya epik romantis DeathCheater lainnya, "Setengah dan Setengah" dan fic itu karakter utamanya Naruto dan Kurotsuchi. Be sure to read that story okay?

Terakhir, jangan lupa review! DeathCheater butuh respon dari kalian, readers!

Akhir kata maafkan fic ini yang banyak salah kata karena masih fic pertama dan maafkan juga fic ini yang tidak sempurna karena sempurna hanya milik Tuhan dan Andra and The Backbone.

Im out!