10

KELOMPOK PAYAH

.

.

.

"Siapa lagi yang ada di kelompok kita?" tanya Kyungsoo pada Soojung untuk memecah ketegangan.

Soojung tidak menjawab. Malah, dia berpura-pura Kyungsoo tidak ada di situ sama sekali.

Pelajaran terakhir hari itu, Pertahanan Dalam Dongeng, adalah satu-satunya pelajaran yang menggabungkan murid-murid Kebaikan dan Kejahatan. Mereka semua dibagi ke dalam beberapa Kelompok Hutan, 4 anak Ever dan 4 anak Never pada setiap kelompok. Setelah setiap kelompok menjumpai ketua-ketua mereka (ogre untuk Kelompok 2, centaur untuk kelompok 8, dan peri untuk Kelompok 12), Kyungsoo dan Soojung yang pertama tiba di bawah bendera dengan cap "3" semerah darah.

Kyungsoo ingin bercerita banyak pada Soojung tentang senyuman, ikan, kebakaran, dan bahwa si putra Arthur memiliki keturunan Korea, tapi menatapnya saja Soojung tidak mau.

"Bisakah kita pulang saja?" Kyungsoo memohon.

"Bagaimana kalau kau saja yang pulang sebelum kau gugur atau berubah jadi tikus mondok? Kau berada di sekolahku," gerutu Soojung.

"Kalau begitu, kenapa mereka tidak mengizinkan kita bertukar sekolah?"

Soojung memutar bola matanya. "Karena kau... karena kita–"

"Harus pulang." Kyungsoo melotot.

Soojung memasang senyum paling murah hati. "Cepat atau lambat, mereka akan melihat bagaimana yang seharusnya."

"Menurutku cepat," sebuah suara menggema.

Mereka menoleh dan melihat Kai dengan seragam birunya yang hangus, matanya berwarna pink dan biru karena bengkak.

"Kalau kau tidak tahan ingin membunuh, bagaimana kalau kau bunuh saja dirimu sendiri?" semprot Kyungsoo.

"'Terima kasih' saja sudah cukup," balas Kai. "Aku sudah mempertaruhkan nyawaku waktu membunuh gargoyle itu."

"Yang kau bunuh itu anak tak berdosa!" teriak Kyungsoo.

"Aku menyelamatkanmu dari kematian tanpa menghiraukan semua insting dan akal sehat!" raung Kai.

Soojung melongo. "Kalian saling kenal?"

Kyungsoo menoleh pada sahabatnya. "Kau kira dia pangeranmu? Dia cuma tukang ngoceh yang sok dan tak unya kerjaan lebih bagus selain ke sana kemari setengah telanjang dan menebaskan pedang tidak pada tempatnya!"

"Dia cuma marah gara-gara berutang nyawa padaku," Kai menguap, menggaruk-garuk pelipisnya. Dia menyeringai pada Soojung, "Jadi, menurutmu aku pangeranmu?"

Soojung merona lembut seperti yang sudah dipraktikannya sendiri sebelum pelajaran ini.

"Saat Penyambutan, aku sudah menduga ini pasti kekeliruan," kata sang pangeran, mengamati Soojung dengan mata biru menari-nari. "Gadis sepertimu seharusnya tidak dekat-dekat dengan Penjahat." Dia menoleh pada Kyungsoo sambil melotot. "Dan penyihir sepertimu seharusnya tidak dekat-dekat orang seperti dia."

Kyungsoo berjalan ke arah Kai. "Pertama, penyihir ini adalah sahabatnya. Dan kedua, bagaimana kalau kau bermain dengan sahabat-sahabatmu sendiri sebelum aku membuat kedua matamu serasi?"

Kai terbahak keras sampai harus berpegangan pada tiang bendera. "Seorang putri bersahabat dengan penyihir! Itu baru dongeng namanya."

Kyungsoo mengernyit ke arah Soojung, menunggunya ikut bicara. Soojung menelan ludah lalu menatap Kai.

"Wah, lucu juga kau bilang begitu, karena seorang putri memang pastinya tidak bisa berteman dengan penyihir, tapi bukannya tergantung penyihir tipe apa? Maksudku, apa sebenarnya definisi seorang penyihir–"

Sekarang Kai yang mengernyit pada Soojung.

"Dan jadi–emm, maksudku–"

Dia melangkah ke depan Kyungsoo, lalu menjabat tangan Kai.

"Namaku Jung Soojung, dan aku suka mata lebammu."

Kyungsoo menyilangkan tangannya.

"Wah, wah," kata Kai, memandangi mata hijau Soojung yang menggoda. "Bagaimana kau bisa bertahan di tempat itu?"

"Karena aku yakin kau akan menyelamatkanku," sahut Soojung lembut.

Kyungsoo terbatuk-batuk untuk mengingatkan mereka bahwa dirinya masih ada di situ.

"Kau pasti bercanda," kata suara seorang gadis di belakang mereka.

Mereka menoleh dan melihat Seulgi, di bawah angka "3" semerah darah, bersama Luna, Hort, Ravan, dan Rosé. Mereka semua menatap tajam pada Kai dan Soojung.

"Mm," gumam sebuah suara dari bawah.

Mereka semua melihat ke bawah dan menjumpai seorang jembalang setinggi satu meter yang berkulit cokelat keriput, bermantel hijau dengan ikat pinggang, dan topi jingga lancip yang memberengut di sebuah lubang di tanah.

"Kelompok payah," gumamnya lagi.

Sambil menggerutu, Yuba si jembalang merangkak keluar dari liang, menarik pintu pintu pagar dengan tongkat putih buntaknya, dan menunjukkan jalan ke Hutan Biru.

Sejenak, semua lupa dengan dendam mereka dan mengagumi negeri ajaib berwarna biru di sekeliling mereka. Setiap pohon, setiap bunga, dan setiap helai rumputnya memancarkan corak warna yang berbeda-beda. Sinar matahari menembus tipis dari celah kanopi biru ningrat, menyinaribatang-batang pohon biru pirus dan bunga-bunga biru laut. Seekor rusa memakan rumput di antara bunga-bunga lilac biru langit, burung-burung jalak dan hummingbird mematuk-matuk jelatang biru safir, tupai dan kelinci berlompatan di antara semak biru kobalt menghampiri burung-burung bangau minum air dari kolam biru kehijauan.

Tidak ada satupun binatang yang terlihat gugup atau terganggu sedikit pun dengan acara tur lintas hutan murid-murid itu. Sementara Soojung dan Kyungsoo selalu menghubungkan huta dengan bahaya dan kegelapan, yang ini menampilkan keindahan dan kehidupan. Setidaknya sampai mereka melihat sekawanan burung stymph yang kurus kering, tidur di sarang biru mereka.

"Mereka memperbolehkan binatang itu dekat-dekat murid?" bisik Soojung.

"Tidur di siang hari. Sama sekali tidak berbahaya, kecuali kalau dibangunkan oleh penjahat." Luna balas berbisik.

Sementara murid-muridnya membuntuti, Yuba menyerocos tentang sejarah Hutan Biru dengan suara lantang dan terputus-putus. Pada zaman dahulu, tidak ada kelas gabungan untuk Kebaikan dan Kejahatan. Anak-anak yang lulus dari pelatihan sekolah langsung masuk ke Hutan Tak Bertepi. Namun sebelum mereka sempat memulai pertarungan, Baik dan Jahat terus menerus menjadi mangsa babi hutan kelaparan, imp yang mengais-ngais, laba-laba sewot, dan kadang-kadang tulip pemakan manusia.

"Kami telah menyepelekan kenyataan. Kalian tidak akan bisa bertahan dalam dongeng bila kalian tidak bisa bertahan di Hutan." Ujar Yuba.

Maka sekolah menciptakan Hutan Biru sebagai tempat latihan. Dedaunan biru tumbuh karena mantra perlindungan yang melindungi tempat itu dari penyusup, sekaligus mengingatkan para murid bahwa hutan itu hanya sekedar tiruan dari Hutan Tak Bertepi yang amat berbahaya.

Tentang seberapa bahaya medan yang sesungguhnya, murid-murid langsung merasakannya ketika Yuba membukakan Pintu Utara untuk mereka. Meskipun masih ada sinar matahari yang tersisa di malam musim gugur, Hutan yang lebat nan gelap itu menghalanginya bagai perisai. Hutan malam abadi, yang tiap jengkal tetumbuhannya menghitam karena bayangan.

Setelah mata mereka beradaptasi dengan kegelapan kelam, para murid bisa melihat jalan tanah sempit yan membentang samar di antara pepohonan, seperti garis kehidupan yang memudar di telapak tangan seorang kakek. Di kanan kiri jalan itu, sulur-sulur membelit pepohonan sehingga menyerupai rumpun berlapis baja, nyaris tak ada semak-semak di antara pohon-pohon itu. Yang tersisa di dasar hutan telah terkubur di bawah potongan duri-duri, ranting-ranting tajam, dan selimut sarang laba-laba.

Namun semua itu tidak lebih menakutkan bagi para murid dibandingkan suara-suara yang terdengar dari kegelapan di balik jalan setapak itu. Erangan dan raungan menggema dari dalam perut hutan, sementara suara-suara serak dan geraman menambah keharmonisan yang angker.

Kemudian anak-anak mulai melihat dari mana datangnya suara itu. Beberapa pasang mata mengawasi mereka menembus kejauhan yang suram–merah dan kuning bagai mata iblis, berkedip-kedip, menghilang, lalu muncul kembali lebih dekat dari sebelumnya. Suara-suara menyeramkan itu bertambah keras, tatapan-tatapan buas berlipat ganda, semak-semak bekersak menandakan kehidupan, dan tepat saat para murid melihat sosok-sosok yang mengendap-endap bangkit dari balik kabut–

"Lewat sini," panggil Yuba.

Murid-murid bergegas meninggalkan pagar dan mengikuti jembalang itu memasuki tanah lapang biru tanpa melihat ke belakang.

Pertahanan Dalam Dongeng sama seperti pelajaran-pelajaran lainnya, Yuba menjelaskan dari atas tunggul pohon biru pirus, dengan murid-murid berperingkat 1 sampai 16 untuk setiap tantangan. Hanya saja sekarang lebih banyak dipertaruhkan: dua kali dalam setahun, 15 kelompok akan mengirim anggota kelompok Ever dan Never terbaiknya untuk bertanding dalam Uji Dongeng sekolah. Yuba tidak menjelaskan apa-apa lagi tentang kompetisi misterius ini, kecuali bahwa pemenangnya menerima bonus 5 peringkat pertama. Murid-murid di kelompoknya saling pandang, memikirkan hal yang sama. Siapa pun yang memenangkan Uji Dongeng, sudah pasti akan menjadi Kapten Kelas.

"Nah, ada lima peraturan yang membedakan Baik dari Jahat," ujar jembalang itu dan menulisnya di udara menggunakan tongkat berasapnya.

1. Jahat menyerang. Baik mempertahankan diri.

2. Jahat menghukum. Baik memaafkan.

3. Jahat menyakiti. Baik menolong.

4. Jahat merampas. Baik memberi.

5. Jahat membenci. Baik mencintai.

"Selama kalian menaati peraturan dari pihak kalian, kalian memiliki peluang besar untuk selamat dalam dongeng kalian. Peraturan-peraturan ini semestinya mudah saja. Kalian sudah diseleksi masuk ke sekolah kalian masing-masing dengan tepat karena kalian sudah menunjukkannya pada taraf tertinggi." Jelas Yuba.

Soojung ingin berteriak. Menolong? Memberi? Mencintai? Itu kehidupannya! Jiwanya!

"Tapi sebelumnya, kalian harus bisa mengenali yang Baik dan yang Jahat. Di Hutan, penampilan sering kali menipu. Putri Salju nyaris binasa karena mengira wanita tua itu baik. Si Tudung Merah mendapati dirinya di dalam perut serigala karena dia tidak bisa membedakan antara keluarga dan iblis. Bahkan Beauty pun berjuang keras untuk membedakan raksasa mengerikan dan pangeran mulia. Mereka semua mengalami penderitaan yang tak semestinya terjadi. Entah sejauh apapun Baik dan Jahat menyamar, mereka selalu bisa dibedakan. Kalian harus melihat lebih dekat, dan kalian harus mengingat peraturan-peraturannya." Tutur Yuba panjang lebar.

Untuk tantangan kelas, Yuba mengumumkan bahwa setiap murid harus menyebutkan perbedaan antara Ever dan Never yang menyamar dan mengamati perilaku mereka. Siapapun yang mengidentifikasi murid Baik dan Jahat tepat dalam waktu tercepat akan menerima peringkat pertama.

"Aku belum pernah melakukan peraturan-peraturan Jahat itu," ratap Soojung sambil berdiri di samping Kai. "Andai saja mereka tahu Kebajikan-kebajikanku."

Seulgi menoleh. "Anak Never seharusnya tidak bicara pada anak Ever."

"Anak Ever seharusnya tidak menyebut anak Ever anak Never," sentak Soojung.

Seulgi kelihatan bingung sementara Kai menahan senyum.

"Kau harus membuktikan mereka agar menukarmu dengan penyihir itu," bisik Kai pada Soojung setelah Seulgi berpaling. "Menangkan tantangan ini dan aku sendiri yang akan menemui Profesor Dovey."

"Kau mau melakukan itu demi aku?" tanya Soojung, matanya membesar.

Kai menyentuh tunik hitam Soojung. "Aku tidak bisa merayumu kalau kau memakai ini, kan?"

Andaikan bisa, Soojung pasti sudah membakar jubahnya saat itu juga.

Dengan sukarela, Hort mengambil giliran pertama. Segera setelah dia mengikat penutup mata rombeng di kepalanya, Yuba mengarah bidikan tongkatnya ke arah Rosé dan Ravan, yang secara ajaib menyusut dan mengecil sampai mereka merayap keluar dari pakaian mereka. Kobra kembar.

Hort membuka penutup matanya.

"Mereka kelihatan sama persis," ujar Hort.

"Uji mereka! Gunakan peraturan-peraturannya!" bentak Yuba.

"Aku bahkan tidak ingat peraturan-peraturannya," sahut Hort.

"Selanjutnya!" Jembalang itu mengomel.

Pada giliran Luna, Yuba mengubah Seulgi dan Hort menjadi unicorn. Tapi unicorn yang satu mulai menirukan gerakan unicorn yang satu lagi dan sebaliknya, sampai mereka berdua berlarian seperti badut peniru. Luna menggaruk-garuk kepalanya.

"Peraturan pertama, Jahat menyerang! Baik mempertahankan diri!" salak Yuba. "Yang mana memulai, Luna?"

"Uh... apa kita bisa mulai dari awal?"

"Terburuk!" gerutu Yuba. Kemudian dia menyipit pada perkamen daftar nama murid. "Siapa yang mau disamarkan untuk Kai?"

Semua cewek Ever mengangkat tangannya kecuali Kyungsoo, tentu saja.

"Kau belum dapat giliran," kata Yuba sambil menunjuk Soojung. "Kau juga belum," katanya pada Kyungsoo.

"Nenekku saja bisa menyelesaikan ini dengan benar," gumam Kai, mengencangkan penutup matanya.

Kyungsoo berjalan malas ke depan dan berdiri di samping Soojung yang merona seperti pengantin.

"Kyungie, dia tidak peduli aku ada di sekolah mana," bisik Soojung menggebu. "Dia bisa melihat siapa aku sebenarnya."

"Kau bahkan tidak mengenalnya!" Kyungsoo balas berbisik.

Soojung merah padam. "Kau tidak... bahagia untukku?"

"Dia tak tahu apa-apa tentangmu! Yang dia lihat hanya penampilanmu!"

"Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa ada yang memahamiku." Ujar Soojung seraya menatap Kai.

Rasa sakit memeras kerongkongan Kyungsoo. "Tapi bagaimana dengan–maksudku, kau bilang–"

Soojung menangkap sorot mata Kyungsoo. "Kau sudah jadi teman yang baik selama ini, Kyungie. Tapi kita kan berada di sekolah yang berbeda?"

Kyungsoo berpaling.

"Siap, Kai!" Yuba membidikkan tongkatnya, kedua gadis membengkak hingga merobek seragam mereka, menjadi hobgoblin yang berlendir dan bau busuk.

Kai membuka penutup matanya dan melompat mundur, tangannya memegangi hidung. Soojung mengatupkan cakar-cakar hijaunya dan mengedip-ngedipkan bulu mata cacingnya pada Kai. Ucapan Soojung masih berdentum-dentum di kepalanya, Kyungsoo pun melorot sambil cemberut dan menyerah.

"Kelihatannya jelas sekali" ujar Kai sambil terus memperhatikan hobgoblin yang genit.

Soojung berhenti mengedipngedipkan bulu matanya, kebingungan.

"Dan si penyihir itu terampil dari yang bisa dibayangkan," kata Kai, memandangi kedua goblin itu secara bergantian.

Kyungsoo memutar bola matanya. Otak anak laki-laki ini sebesar kacang.

"Rasakan dengan hati, bukan pikiran!" Yuba meneriaki sang pangeran.

Sambil meringis, Kai menutup mata. Untuk sejenak sang pangeran bimbang. Tapi kemudian, dengan yakin dan penuh kekuatan, dia merasa dirinya ditarik ke salah satu hobgoblin.

Soojung terkesiap. Bukan dirinya.

Kai mengulurkan tangan dan menyentuh pipi Kyungsoo yang basah dan berkutil. "Yang ini Soojung, sang putri." Dia membuka mata.

Kyungsoo melongo pada Soojung, tercengang.

"Tunggu. Aku benar, kan?" tanya Kai, kerutan tampak di dahinya.

Sejenak hening.

Soojung menyergap Kyungsoo. "KAU MENGACAUKAN SEMUANYA!"

Bagi yang lain, kedengarannya hanya seperti "GOBBOH HOUJAH UUWAAH!" tapi Kyungsoo bisa memahaminya dngan baik.

"Lihat, kan? Betapa bodohnya dia! Dia bahkan tidak bisa membedakan kita berdua!" jerit Kyungsoo.

"Kau menipunya!" lengking Soojung. "Sama seperti kau menipu burung dan ombak–"

Kai menonjok matanya.

"Jangan ganggu Soojung!" teriaknya.

Soojung melongo ke arah Kai. Pangerannya baru saja menonjoknya. Pangerannya tadi tidak bisa membedakannya dari Kyungsoo. Bagaimana dia bisa membuktikan siapa dirinya?

"Gunakan peraturannya!" Yuba berkoar dari atas batang pohon.

Mendadak mengerti, Soojung tiba-tiba berdiri tegak agar tubuhnya menaungi Kai dan tangan hijau berminyaknya mengelus dada Kai. "Kaiku sayang, aku memaafkanmu karena tidak tahu dan aku bahkan tidak mempertahankan diri meskipun kau menyerangku. Aku hanya ingin menolongmu, pangeranku, dan memberi kita kasih yang akan membawa kita untuk saling bergandengan dalam cinta, kebahagiaan, dan Kebahagiaan Abadi."

Namun yang didengar Kai hanya geraman goblin yang menyembur, maka diinjaknya kaki Soojung dan berlari ke arah goblin Kyungsoo dengan tangan terentang. "Aku tak percaya kau berteman dengan–"

Lutut Kyungsoo menyodok selangkangan Kai.

"Sekarang aku bingung," ringis Kai sambil memegangi selangkangannya sebelum ambruk ke tanah. Sambil mengerak kesakitan, dia mendongak dan melihat Soojung mendorong Kyungsoo ke semak-semak blueberry. Kyungsoo menampar Soojung dengan seekor tupai yang melengking. Kedua goblin itu mondar-mandir dan saling pukul.

Kyungsoo melotot. "Neo michyeosseo*?!"

Pertengkaran bertambah sengit hingga sampai pada titik klimaks yang menggelikan–Kyungsoo memiting leher sahabatnya dengan kuat dari belakang, Soojung berusaha memukuli Kyungsoo dengan labu biru, dan seisi kelas dengan riang membuat taruhan mana yang Kyungsoo mana yang Soojung.

"Membusuklah di Jangho sendirian!" teriak Soojung.

"Lebih baik sendirian daripada bersama orang palsu!" seru Kyungsoo.

"Pergilah dari hidupku!"

"Kau yang datang ke dalam hidupku!"

Sambil terpincang, Kai melompat ke tengah-tengah mereka dan–

"Cukup!"

Waktunya salah. Kedua goblin menoleh pada pangeran itu dengan raungan banjir lendir sekaligus memekakkan telinga, lalu menendangnya begitu keras hingga sang pangeran terpental cukup jauh dan mendarat di atas tumpukan kotoran babi hutan.

Kulit hijau keduanya menyusut, sisik mereka menghalus jadi kulit, tubuh mereka meleleh ke dalam seragam masing-masing. Perlahan Soojung dan Kyungsoo berbalik, mendapati seluruh kelompok membelalak ke arah mereka.

"Akhir yang bagus," komentar Hort.

"Tahan dulu putusanmu," ujar Yuba. "Ketika Baik bertingkah Jahat dan Jahat bertingkah tidak cakap, dan peraturan-peraturan dilanggar di sana-sini sampai aku sendiri tidak bisa mengungkap mana yang sebenarnya... yah, jelas hanya ada satu akhir."

Dua pasang sepatu besi secara ajaib muncul di kaki kedua gadis itu.

"Ini jelek sekali," rengek Soojung.

Kemudian sepatu-sepatu itu menjadi panas hingga sedikit memerah.

"Aaw! Panas! Panas sekali!" pekik Kyungsoo seraya melompat-lompat.

"Hentikan ini!" Soojung menjerit sambil menari-nari kesakitan.

Di kejauhan, para serigala melolong tanda pelajaran berakhir.

"Kelas bubar," ujar Yuba yang mulai berjalan pergi.

"Kami bagaimana?!" jerit Kyungsoo sambil menyentak-nyentak alas kakinya yang membakar–

"Sayangnya, hukuman dalam dongeng memiliki pikiran sendiri," jawab jembalang itu sambil berteriak. "Akan berakhir setelah pelajarannya sudah dipahami."

Seisi kelas mengikutinya kembali ke pagar sekolah, meninggalkan Soojung dan Kyungsoo menari-nari dengan sepatu yang dikutuk. Kai terpincang melewati kedua gadis yang dihukum itu, berlumur lendir dan kotoran babi. Dia melemparkan pandangan jijik yang sama pada keduanya.

"Sekarang aku tahu kenapa kalian berteman."

Selagi sang pangeran melangkah berat ke balik semak-semak biru, kedua gadis itu melihat Seulgi berjalan menyamping ke arahnya. "Aku sudah tahu mereka berdua memang Evil," katanya seraya menghilang ke balik pohon-pohon ek.

"Ini salahmu!" Soojung mendengking pada Kyungsoo, berdansa dalam penderitaan.

"Kumohon, hentikan ini." Kyungsoo gemetar–

Namun sepatu itu tidak menunjukkan rasa ampun. Menit demi menit, sepatu-sepatu itu semakin bertambah panas, sampai kedua gadis itu bahkan tak kuat berteriak. Bahkan binatang-binatang pun tak sanggup meliat penderitaan semacam itu dan menjauh.

Siang berganti sore dan kemudian malam, mereka masih saja menari-nari seperti orang gila, berputar-putar dan berkeringat menahan rasa sakit serta penderitaan. Rasa terbakar merobek hingga ke tulang-tulang mereka, api menjadi darah mereka, dan tak lama kemudian mereka berharap penderitaan ini berakhir, apapun bayarannya.

Maut tahu kapan dia dipanggil. Namun tepat saat kedua gadis itu menyerah pada keua tangannya yang keji, pancaran sinar matahari membelah dan memecah kegelapan, menghujam kaki mereka dan sepatu-sepatu itu pun menjadi dingin.

Kedua gadis itu ambruk bertumpuk siksaan.

"Siap pulang?" tanya Kyungsoo yang masih terengah-engah.

Soojung mendongak, pucat seperti hantu, dan sama terengahnya seperti Kyungsoo.

"Aku kira kau tak akan mengajakku."

.

.

.

TBC

Sorry for typo(s), huhu.

Go read the next chapter, yo!


*Neo michyeosseo = Are you crazy?