Hai kamu!

Iyaaa, kamuuu~

Sori kelamaan update, semoga ntar bisa update kilat mengingat presentasi dan tugas udah kelar setengah :')

Sori kalau chapter ini pendek. Sengaja sih, biar fanfic ini punya bayak chapter. It will be end soon, guys. hehe

Sori kalo typo, sori kalo boring, sorii semuanya deh. hehe. Love you all

Enjoy!


Suara kehidupan malam di balik kaca besar ini terdengar begitu keras. Tentu saja semua orang pergi keluar dari rumah dan meninggalkan apapun pekerjaaan mereka agar dapat merayakan tahun baru. Mungkin ada yang menganggap new year's eve adalah sebuah kewajiban masyarakat untuk bersenang-senang di akhir tahun. Tak ada yang keliru dengan ide itu. Hanya tergantung pada apakah seseorang itu pantas untuk bersenang-senang atau tidak.

Dan Sasuke adalah salah satu orang yang tidak punya hak untuk merayakan hal basi tiap tahun itu. Ia memiliki sesuatu yang lebih besar untuk dipikirkan ketimbang kelayapan di luar sana. Well, ia terdengar sedikit lebih dewasa. Ia sudah melewati banyak hal.

"Pergilah," kata sebuah suara berat di belakangnya.

Sasuke tak bergeming, ia hanya tetap berdiri di depan kaca besar kamar ini. Kaca yang memisahkannya dengan dunia luar sana. Memandangi salju yang turun perlahan menjadi hobi favoritnya untuk beberapa hari terakhir.

"Aku hanya takut kau akan terjun jika terus memelototi ke arah luar seperti itu," tambahnya kemudian terbatuk sebentar.

"Aku tidak sedang melotot," kilah Sasuke. Kemudian ia membalikkan tubuhnya untuk memandang Fugaku yang terbaring di atas kasur dengan selang dialisis menempel di lengannya. "Lebih baik kau tidak perlu banyak bicara saat ini," tambahnya.

Ayahnya tertawa serak. "Jadi aku harus sekarat dulu seperti ini ya untuk bisa melihat sisi mengejutkan seorang anak darimu."

Sasuke menggigit bibirnya. "Karena kau akan melakukan hal yang sama bukan?"

"Oh, siapa yang bilang?"

Sasuke menyipitkan mata. "Just... someone. Kau akan mengabaikanku?"

"Sekaratlah lebih dahulu." Fugaku tertawa pelan dan Sasuke mendengus mendengarnya.

"Kubilang pergilah, teman-temanmu pasti menunggu," kata Fugaku.

"Bukan masalah," sahut Sasuke kembali memandang kerlap-kerlip dunia penuh cahaya di luar sana. "Kau lebih penting," dan ia sengaja menghadap jendela ketika mengatakan hal itu untuk mengurangi rasa malunya.

Fugaku tersenyum mendengarnya. "Aku takjub kau bisa sedewasa ini. Kudengar kau juga mengurus masalah dengan mitra kita yang... brutal."

"Oh, ya. Sangat menyenangkan." Ujarnya sambil menyentuh pelipisnya yang sobek karena menerima kemurkaan mitra Uchiha karena kemunduruan sementara sebab penyakit Fugaku, namun Sasuke berhasil menyelesaikannya hanya dengan kata-kata, yang sedikit mengintimidasi. Ia bahkan berhasil merekrut mitra baru yang lebih meyakinkan.

"Kapan-kapan akan kulakukan lagi," katanya sembari tertawa kecil.

"Kalau begitu kau bisa menerima hadiahmu. Pergilah merayakan tahun baru."

"Tidak—"

"Ini perintah," potong Fugaku cepat. Sasuke berbalik untuk menatapnya. "Sebagai orang yang sekarat, aku bisa memberimu nasihat bahwa kau hidup hanya sekali dan sudah menjadi tugasmu untuk mengisinya semaksimal mungkin." Fugaku berkata lagi, "Obito sebentar lagi akan sampai. Tenanglah, operasiku masih besok malam."

Sasuke menghela napas berat. "Oke," ia hanya tak ingin membuat ayahnya kelelahan untuk berdebat dengan Sasuke. Kemudian ia menyambar mantel biru gelap yang tersampir di sofa dan syal merah miliknya. Ia berhenti melangkah di dekat pintu hendak berpamitan yang belum pernah ia lakukan sebelumnya terhadap Fugaku. Karena tak tahu harus berkata apa, ia hanya menoleh pada Fuagku sekilas dengan senyum tipis lalu menutup pintu.

.

Langkahnya diseret perlahan menimbulkan jejak tak rapi di atas salju. Sasuke berjalan pelan melewati trotoar dingin yang begitu sepi ditemani cahaya keemasan dari lampu jalan di atasnya. Semua orang berkumpul di tengah kota, atau pantai, atau kuil. Meninggalkan jalanan kecil seperti yang tengah dilewatinya menjadi begitu sepi.

Ponselnya bergetar untuk kesekian kalinya dan akhirnya Sasuke membuka sepuluh pesan yang masuk. Sebagian besar adalah dari Naruto untuk cepat-cepat datag ke kuil utama di Tokyo. Ah, ia hampir melupakan hal itu. Lalu pesan dari tagihan rumah sakit. Lalu pesan selamat tahun baru dari Sakura yang bilang menyesal karena tak bisa menemani tahun baru Sasuke karena dia pergi ke pantai. Siapa peduli.

Ia hanya sedang berada di dalam tahap tidak peduli apapun. Ia seperti baru saja berbenar diri. Setelah ia menangis seperti orang gila saat ayahnya hampir mati, mengubah sebagian dalam dirinya. Karena seseorang. Karena seorang gadis. Dari dahulu hanya karena dia.

Sasuke mendongak untuk melihat keadaan langit yang gelap, salju turun begitu lambat dari kegelapan di atas sana. Itachi... apa ini adalah hal yang benar di lakukannya? Apa ia boleh untuk merasakan hal ini? Apa ia punya hak untuk merasa begitu dicintai dan mencintai saat ini?

Ponselnya bergetar kembali. Pesan dari Naruto untuk menyuruhnya segera datang jika tak ingin ketinggalan kembang api.

Sasuke menarik napas dalam.

Mungkin hanya malam ini saja.

Ia berjalan dengan sedikit kasar untuk bisa menembus lautan manusia yang memenuhi bahkan dari tangga batu untuk naik ke kuil. Setiap orang tampak bersemangat hanya untuk merayakan pergantian tahun yang dimana ia bertaruh akan sama saja dengan tahun kemarin. Salju tipis menyelimuti patung-patung batu dan gerbang utama kuil yang baru saja di lewatinya. Kuil penuh sesak oleh ratusan orang yang mengantre untuk peruntungan yang lebih baik. Namun Sasuke tidak tertarik, yang kini menarik minatnya adalah saat dimana matanya menangkap stand roti kukus yang tidak begitu ramai.

Sasuke bergerak gesit untuk menembus antrian tanpa disadari orang lain yang kebanyakan pasangan kasmaran. Ia berhasil mendapatkan dua buah roti yang uapnya masih mengepul panas ketika tak sengaja ia melihat gadis itu. Keberadaanya sulit untuk tidak disadari. Bahkan dari jarak beberapa meter dari tempatnya berdiri bego dengan roti kukus di tangannya, gadis itu tampak bersinar. Entah. Mungkin hanya di matanya saja.

Tapi memang tak bisa memungkiri fakta kalau daya tarik gadis itu begitu besar meski hanya mengenakan mantel abu-abu panjang dan syal putih yang meliliti lehernya. Rambut panjangnya digerai dengan sedikit jepitan di kedua sisinya. Bahkan beberapa lelaki menatapnya penuh nafsu saat melewati gadis itu, beberapa dari mereka malah nyaris tersungkur bego. Astaga jika saja gadis itu tidak tampak seperti idiot dengan celingukan mencari keberadaan anak-anak lain, dia akan sangat sempurna malam ini.

Sasuke hanya memandanginya dari kejauhan dalam diam ketika matanya nyaris melotor keluar saat melihat beberapa laki-laki bergerak mendekati gadis itu.


"Ah," gumam Hinata sekalem mungkin saat mendapati dirinya didatangi oleh orang brengsek seperti mereka. Sasori dan Hidan dari Housen tampak terkejut juga melihat keberadaan Hinata.

"Well, well. Lihat betapa beruntungnya kita, Sasori." Kata Hidan sambil menyikut bahu temannya yang juga tampak terhibur bisa bertemu dengan Hinata.

"Hai, sweety. Kau sendirian?" sapa Sasori dengan senyum lebar penuh maksud.

Hinata menghiraukannya, ia hanya berlagak membaca pesan di ponselnya yang sudah mati karena kehabisan baterai. Ia mengutuki kesialan yang datang bertubi-tubi malam ini. Tapi tidak mungkin bisa lebih buruk daripada bertemu dua begundal ini bukan?

Tentu saja tak semudah itu.

Tubuhnya membeku begitu menyadari orang yang berdiri di belakang Sasori. Cahaya dari lampu diatasnya menerangi siluet itu menjadi lebih jelas. Yahiko menatapnya dingin. Hinata melangkahkan kakinya ke belakang tanpa sadar.

Yahiko bahkan tidak perlu untuk mengucapkan sepatah katapun untuk bisa mengintimidasi Hinata, dia sukses membuat jantung Hinata gerdegup kencang karena takut. Memori akan sentuhan Yahiko membangkitkan mimpi buruk itu hingga membuat Hinata mendadak lemas. Ia menelan ludah.

Yahiko bergerak mendekati Hinata yang berdiri membeku, pria itu menyentuh dagu Hinata. "Kau gadis yang penuh kejutan, huh?"

Hinata mengalihkan pandangannya agar orang itu tak menyadari bahwa ia sedang gugup. Tapi kemudian seseorang melempar kasar tangan Yahiko agar lepas dari dagu Hinata. Detik selanjutnya mata Hinata terbelalak melihat Sasuke Uchiha beridiri di depannya. Mendadak semua ketakutan yang bergejolak di dalamnya lenyap saat Sasuke berdiri seakan melindunginya. Bahkan jika Sasuke hanya berpura-pura, Hinata tak pernah merasa begitu aman seperti saat ini karenanya.

"Kau sentuh dia lagi, aku bersumpah akan mematahkan jarimu satu-persatu sampai lepas," ancam Sasuke.

Ketiga orang itu tampak terkejut juga melihat kedatangan musuh terbesar mereka. Hidan tertawa mencemooh sembari mendekati Sasuke. "Astaga, kenapa banyak sekali pecundang yang datang kesini." Tangannya terjulur untuk meraih Hinata dan dengan cepat Sasuke mencengkeram tangan Hidan agar berhenti. Dia menekuk pergelangan tangan Hidan kasar.

"Brengsek—!"

"Sasuke!" seru sebuah suara yang familiar. Rombongan Suzuran akhirnya menemukan Hinata. Naruto menatap heran dengan alis terangkat melihat situasi yang sebentar lagi akan meledak di depannya.

"Apa-apaan ini?" tanya Lee keras.

Hinata bergerak kebelakang Sasuke, ia benar-benar tak ingin keaadan berbalik arah menjadi perkelahian. Ia hanya menginginkan bersenang-senang dengan teman-temannya. Tanpa sadar Hinata bersembunyi dibelakang Sasuke dan tangannya meremas kencang lengan mantel Sasuke karena jujur ia merasa takut. Keberadaan Yahiko merupakan ancaman terbesarnya saat ini.

Sasuke menyadari gelagat Hinata, dan dia tak bisa mengabaikannya begitu saja. Sasuke melepas cengkeramannya pada pergelangan tangan Hidan dan menyentak tangannya. "Enyahlah kalian," Sasuke memperingatkan.

Hidan mendengus. "Oh, singkirkanlah wajah sampah kalian dahulu."

"Merangkaklah kembali ke perut ibumu, asshole." Kata Sasuke.

"Brengsek!"

"Just fuck off," Sasuke bersikeras cuek. "Kalian tak ingin aku mematahkan tanganmu di tempat umum seperti ini 'kan?"

Hidan tertawa mendengarnya. "Kenapa kau menjadi pengecut seperti ini Sasuke? Berusaha melindungi jalang ini?"

Pernyataaan Hidan mengobarkan amarah Naruto dan yang lain di belakang. Mereka sudah saling menggeram dan atmosfir ketegangan menghinggapi area mereka berdiri dengan cepat. Hinata mengeratkan pegangannya pada mantel Sasuke. Ia tak peduli jika mereka akan berkelahi tapi Hinata tidak ingin berada dalam posisi penyebab semua masalah ini.

"Kalian sangat sensitif menyangkut gadis ini, biarkan kami bermain dengannya sebentar dan kalian bisa enyah," kata Sasori melipat kedua tangannya di depan dada tak sabar.

Hidan tertawa. "Oh, ya. Kami hanya ingin mengobrol dengan gadis ini. Apa masalahnya?"

"Tidak," tukas Sasuke tegas. Lalu hal mengejutkan terjadi ketika Sasuke menarik pinggang Hinata ke dalam dekapannya. "Gadis ini milikku."

Kalimat itu seperti menggema di udara beberapa saat membuat atmosfir dari tegang berubah menjadi canggung. Atau lebih tepatnya gelombang kejut menerjang tiap orang yang berada dalam radius pembicaraan mereka.

Hinata terperangah seperti idiot mendengarnya, ia mendongak sekedar mengkonfirmasi kalau Sasuke mengatakan kaliamat itu hanya sebagai guyonan, tapi tentu saja pemuda itu tidak akan pernah melakukannya. Tapi Sasuke tak memberi penjelasan lebih detail, hal itu membuat Hinata menjadi benar-benar sadar bahwa Sasuke memang bermaksud mengatakannya.

Wajahnya memerah.

"Kalian mendengarku. Hinata adalah milikku. Jadi sekarang enyahlah sebelum aku benar-benar akan melindas tangan kalian yang berani menyentuhnya." Sasuke berkata dingin, kali ini dengan memasang tampang serius tanpa celah.

Beberapa orang yang berlalu-lalang melewati mereka tampak berbisik-bisik tak nyaman. Menyadari mereka menjadi pusat perhatian yang pasti akan sangat merepotkan nantinya, membuat Sasori akhirnya mengambi keputusan cerdas dengan menarik bahu Hidan untuk mundur. Hidan masih ragu untuk mundur, tapi kemudian Yahiko mendengus keras tanda bahwa mereka akan pergi.

"Well, kuharap kalian menikmati malam tahun baru ini. Berharap saja besok bukan tahun terakhirmu hidup," kata Hidan sembari melangkah menjauh.

Kiba mengacungkan jari tengahnya kepada mereka sebelum akhirnya mereka bertiga menghilang berbaur dengan arus manusia yang bergerak asal.

Shikamaru menyalakan rokoknya sambil terus mengumpat karena nasib buruk bertemu Housen di hari seperti ini. Naruto menimpali dengan gerutuan kasar. Semua orang tampak masih merasa naik darah setelah kejadian tadi tanpa menyadari situasi saat ini dimana Hinata masih meringkuk diam di dalam dekapan Sasuke.

Naruto mengangkat alisnya, "Sampai kapan kau mau memeluk Hinata, huh, Sasuke?" sindir Naruto diikuti tawa dari teman-temannya.

Sasuke melepaskan tangannya yang sedari tadi berada di pinggang Hinata dengan cepat. Suara siulan menggoda dari anak-anak menambah hawa canggung yang mencekik. Sasuke masih terdiam tanpa ekspresi karena sesungguhnya ia tak tahu harus berkata apa selain dorongan kuat untuk memaki dirinya sendiri. Sedikit menoleh pada Hinata sekedar untuk memeriksa, menjadi serangan jantung kecil baginya, ketika menemukan wajah Hinata yang merona sedang balik menatapnya.

Hinata buru-buru memalingkan wajahnya dan tubuhnya bergerak-gerak tak nyaman seperti ingin kencing. Sasuke mencoba menenangkan pernapasannya sendiri.

"Ah, mereka datang juga!" seru Kiba bergairah saat melihat kedatangan dua orang yang muncul dari gerbang utama. Gaara dan Neji segera menghampiri ke tempat semua orang berkumpul. Tapi mereka dikejutkan dengan pekikan keras dari Hinata yang membuat mereka mengangkat tinju ke udara mengira akan orang mesum yang mengganggu gadis itu. Namun tak terjadi apa-apa selain Hinata yang bersikeras kalau ia akan mati jika tak segera membeli roti kukus di dekat mereka. Gadis itu segera berlari begitu cepat ke tempat roti kukus.

"Astaga, ada apa sih dengannya?" heran Naruto.

"Ada apa?" tanya suara berat Neji yang baru saja tiba di tempat mereka. Gaara tampak berdiri diam di belakang Neji.

"Entahlah, Hinata ngebet membeli roti kukus seperti orang tidak makan seminggu saja. Hinata jadi tambah aneh ya. Ah," Naruto tertawa kecil mendadak seperti teringat akan sesuatu. Dia memandang nakal ke arah Gaara. "Well, mungkinkah sejak liburan natal?"

Sindiran Naruto mengundang tawa dari yang lainnya. Orang yang tak mengerti arah pembicaraan ini tinggalah Sasuke, Neji, dan Sai yang memang tidak peka. Sasuke mulai curiga kalau ia menjadi satu-satunya orang yang tak mengerti entah-apa-itu menyangkut Gaara dan Hinata. Dan ia tidak suka.

Gaara menyipitkan matanya merasa terganggu dengan gurauan Naruto. Tapi dia tampak terkejut ketika melihat Hinata yang berdiri mengantre di depan penjual roti kukus. Gaara tampak berkutat heboh dengan dirinya sendiri, menimbang-nimbang sebentar sampai akhirnya dia beranjak pergi.

"Aku akan berbicara pada Hinata sebentar, hm... pergilah ke kuil duluan." Katanya kemudian berlalu, menghiraukan olokan dari yang lainnya.

Mata Sasuke bergerak mengikuti Gaara dengan tajam, sampai melihat orang itu mendekati Hinata dan Hinata nyaris terjatuh saking kagetnya. Matanya masih setia memandangi adengan mereka berdua yang membuatnya semakin marah, sampai akhirnya Naruto menyeretnya untuk pergi ke kuil lebih dahulu.


Salju berguruguran semakin sedikit seiring dengan larutnya malam. Hawa dingin tak begitu terasa menusuk karena mereka berada di tengah-tengah lautan manusia. Rasanya sudah sangat lama Sasuke tak berada di tengah keramaian selain tawuran masal terakhir kali. Begitu banyak orang, begitu besar atmosfir keceriaan yang menyelimuti sampai ke tiap sudut kuil yang dingin. Mereka berjalan santai menuju ke kuil utama dengan lonceng perunggu raksasa yang belum begitu ramai. Kebanyakan adalah orang-orang yang akan mengambil ujian nasional, ujian masuk universitas, dan pencari jodoh. Yang lain lebih menyukai berada di lapangan utama di bawah sana untuk menemukan spot yang tepat melihat kembang api.

"Aku ikut menyesal untukmu," kata Naruto tiba-tiba disampingnya.

Sasuke mengerlingnya sekilas. Naruto melanjutkan, kali ini sahabatnya menatapnya dengan mata yang tak main-main. "Kau serius dengan Hinata?"

Pertanyaan itu dianggapnya sebagai gurauan. Karena sungguh pertanyaan itu bisa membuat Sasuke benar-benar memikirkannya dan ia takut untuk itu.

Lampu berwarna-warni cerah menyilaukan mulai menerangi setiap orang yang berjalan melewati undakan batu licin yang sedikit keropos, tepat sebelum memasuki kompleks kuil utama. Mata Sasuke menatap lurus ke depan, kuil utama bermandikan cahaya keemasan yang hangat. Pohon-pohon bambu berdiri di kedua sisi lonceng besar. Daunya melambai malas menciptakan riak yang indah.

"Mungkin," kata Sasuke entah pada siapa.

Naruto menghela napas. "Oh, dude. Kau benar-benar jatuh cinta padanya kalau begitu."

"Dan apa yang membuatmu berpikir demikian?"

"Karena kau dibuat bingung olehnya," jawab Naruto tak sabar. "Sasuke Uchiha tak pernah dibuat kalut sebelumnya oleh seorang gadis."

Naruto mengatakannya sedemikian baik sampai Sasuke membuka mulut untuk berkilah pun tidak bisa. Ia ingin sekali menolak pemikiran itu dengan mengedepankan tembok kebenciannya terhadap Hinata. Tapi sesungguhnya hanya 'kebencian' itu satu-satunya pertahannya saat ini. Saat ini, hanya tinggal tersisa 'kebencian' di dalam daftar pemisah hubungan mereka berdua. Sekeras apapun Sasuke mencari alasan untuk mendorong Hinata dari hidupnya, ia tak menemukan satupun selain 'kebencian', yang mungkin, sekarang sudah tak ada artinya lagi.

Lee dan Kiba berlari melewati mereka untuk menghindari amukan Suigetsu atas bola salju yang tak sengaja mengenai benda berharganya, mereka tampak begitu menikmati pertengkaran kecil satu sama lain.

"Yah, tapi sayang sekali. Langit tak berpihak padamu malam ini, hahaha!" Naruto tertawa mencemooh.

"Apa maksudmu?" tanyanya sinis.

Naruto merangkul pundaknya penuh simpati. "Meski ini sangat menghiburku melihat seorang Uchiha Sasuke didepak oleh seorang gadis, tapi yah, Gaara adalah saingan yang berat juga."

Sasuke menatapnya menuntut penjelasan yang singkat dan tanpa omong kosong. Naruto meringis agak takut melihatnya. "Well, sepertinya kau tidak tahu ya kalau Gaara sudah mengungkapkan perasaanya pada Hinata—" jantung Sasuke seperti berhenti sebentar "—Gaara cukup agresif. Dia sepertinya benar-benar ingin Hinata jadi miliknya. Malam natal beberapa saat lalu, mereka berdua pergi ke pusat kota."

Sasuke menggerakkan bola matanya berpikir. Itu adalah malam ketika Hinata menemaninya sampai pagi di rumah sakit menjaga Fugaku. Sasuke tersenyum merasa menang satu poin.

"Tapi yah, kau tahu, Hinata naksir Gaara ketika SMP dulu. Neji yang bilang—please jangan melotot seperti itu." Naruto mengingatkan, kemudian ia berkata lagi. "Tapi Hinata menghilang malam itu sepertinya ada urusan mendesak. Jadi dia belum memberikan jawabannya."

Sasuke terdiam, masih berkutat dengan pikiran bagaimana mungkin Hinata bisa menyukai orang seperti Gaara.

"Tapi," Naruto mengelus dagunya sendiri. "Kau lihat Hinata memakai syal putih tadi?"

Sasuke mengangguk tak tertarik.

"Itu adalah kado natal Gaara. Dan jika Hinata memakainya ketika malam tahun baru ini, maka itu artinya Hinata menerima Gaara. Hahaha!"

Sasuke membeku untuk beberapa saat. Berusaha mengalihkan rasa sesak di dadanya, ia balik bertanya pada Naruto. "Tahu dari mana?"

"Oh, ada anak Suzuran yang melihat mereka berdua di malam natal kok. Bocah itu mendengar semua pembicaraan pemimpin Suzuran kita tersayang."

Sasuke tak menanggapi lagi dan Naruto sudah berlari menyusul Kiba ke barisan depan. Orang-orang berjejer memenuhi barisan untuk berdoa di depan lonceng raksasa dan patung Budha. Sasuke mendorong kasar beberapa orang agar memberinya ruang karena ia dalam suasana hati yang buruk. Dan itu bisa menjadi lebih buruk lagi ketika di menit-menit terakhir menjelang tahun baru, Gaara dan Hinata akhirnya muncul kembali dengan membawa atmosfir yang sulit di tebak.

Meski anak-anak yang lain menggoda mereka, Hinata tak melawan sama sekali dan itu membuat Sasuke marah. Tapi Gaara yang menjadi geram tiap kali mereka membuat lelucon, menghentikan secara permanen gurauan Kiba. Akhirnya mereka berbaris rapi menyamping, dan berdoa di depan lonceng tanpa ada yang berani bicara lagi.

Ia hanya berharap untuk bisa menjalani kehidupan normal seperti yang lainnya.

Mereka melewati momen itu dengan cepat karena banyak orang mengantre di belakang. Sasuke menuruni undakan batu dengan gontai, mengekor di belakang teman-temannya yang nyaris berlari karena bersemangat untuk melihat kembang api.

Halaman kuil yang tertutup salju kini dipenuhi orang-orang. Matanya memandang sekeliling dan menemukan suara tawa keras, gurauan, keluarga, pasangan. Semuanya tampak begitu menikmati momen pergantian tahun yang seharusnya, menurut Sasuke, tak perlu dirayakan. Setiap tahun selalu sama. Tradisi aneh.

Namun ajaibnya, kali ini terasa begitu berbeda. Salju tak lagi turun, meski langit masih tampak gelap di atas sana. Lampu-lampu hias yang meliiti batang pohon kering kini mulai dipadamkan. Hanya lampu jalan bergaya jepang kuno yang memancarkan cahaya keemasan di beberapa sudut kuil. Atmosfir penantian begitu terasa hingga bisa membuat bulu kuduk orang berdiri ketika setap orang menyerukan hitungan mundur. Kemudian ketika hitungan mencapai angka satu, semua orang berteriak hanyut dalam suka cita yang luar biasa.

"Selamat tahun baru!"

Lonceng dibunyikan dan suaranya menggema di udara begitu indahnya. Beberapa kembang api meledak satu-persatu diatas sana, membentuk formasi yang menakjubkan. Sasuke memandang keadaan langit dalam diam, ketika Naruto dan Shikamaru yang ada di sampingnya merangkulnya sambil tertawa-tawa tidak jelas. Entahlah. Sasuke mengikuti arus malam ini. Dan ia tidak menyesal karena merasa begitu hidup setelah sekian lama hidup seperti hantu.

Hinata melompat kecil di depannya karena kegirangan melihat kembang api. Gadis itu mendongak ke atas dengan mata berbinar, senyumnya mengembang lebar senang sampai mungkin bisa membelah wajahnya.

Dia begitu cantik.

Momen itu selesai begitu kembang api terakhir diluncurkan di udara. Euforia mulai mereda dan orang-orang mulai bergerak membubarkan diri di halaman. Hawa dingin terasa begitu menusuk mengingat mereka berada di luar pada lewat tengah malam. Sasuke pergi ke kamar mandi dan menyuruh mereka untuk pulang duluan.

Setelah menyelesaikan urusannya, ia mendapati keadaan kuil yang mulai sepi. Hanya tinggal beberapa orang yang berada di halaman, selain petugas kebersihan sisanya adalah pedagang. Ia berjalan lambat sembari melilitkan syal merahnya sampai ke atas hidung. Tapi kemudian ia dikejutkan dengan seorang yang tengah berdiri di depan pedangan roti kukus.

Sasuke menggigit bibirnya sebentar, lalu memutuskan bahwa hanya akan sekedar bertanya pada gadis itu.

"The hell are you doin' here?"

Gadis itu terlonjak kecil karena kaget. Hinata berusaha menenangkan dirinya.

"Hanya sedang membeli roti kukus untuk kumakan lagi nanti. Apa? Apa membeli roti kukus juga termasuk melakukan dosa?"

Sasuke menaikkan alisnya. "Aku tidak mengatakan apapun."

Wajah Hinata memerah. "Oh, ya. Kupikir kau akan mengolokku. Dari tadi wajahmu seakan ingin menghajar seseorang."

"Well, itu memang benar karena dirimu."

Hinata menekuk bibirnya kesal. Lalu dia membawa bungkusan kertas berisi roti miliknya. "Ehm, jadi di mana yang lain?"

Sasuke baru saja akan beranjak pergi. "Kau ini bicara apa?"

Hinata memincingkan matanya menatap Sasuke. "Bukankah Naruto-kun dan yang lainnya bersamamu?"

"Tidak," sahut Sasuke cepat.

Wajah Hinata berubah pucat mendadak. Gadis itu tampak berpikir keras sampai berjalan hilir mudik di depannya. Lalu menemukan ide sederhana untuk menghubungi Naruto. Dia meminjam ponsel Sasuke degan wajah merah dan berkumur-kumur bilang kalau ponselnya mati. Beberapa saat mereka berbicara di telepon penuh dengan argumen dan pekikkan heboh dari Hinata yang tampak marah, sambil sesekali mengerling ke arah Sasuke. Lalu gadis itu menutup teleponnya dengan wajah putus asa.

Ia menatap Sasuke sebentar lalu berdehem keras yang dibuat-buat, mengembalikan ponselnya kembali. "K-kalau begitu selamat malam."

"Mereka pergi duluan tanpamu?" tanya Sasuke tepat sasaran, menghentikan langkah Hinata yang baru akan pergi.

"Uh-uh," Hinata berjalan mencoba cuek.

Sasuke mengamatinya bergerak menjauh. Perlu beberapa detik untuknya bergulat dengan isi kepalanya sendiri.

Sasuke menghela napas.

Ya. Mungkin hanya malam ini saja.

Sasuke berjalan menyusul Hinata. "Aku akan mengantarmu."

Hinata menoleh padanya seakan Sasuke baru saja mengutarakan keinginannya menjadi seorang pendeta. Gadis itu menggeleng samar. "Tidak perlu."

"Aku tidak sedang meminta ijin darimu."


Mereka berjalan pelan menyusuri sepanjang pinggir sungai yang membeku. Jalan setapak ini agak terjal karena belum diaspal. Jalan menuju kuil memang agak membuat orang berkeringat. Setelah menelusuri sepanjang sungai akhirnya mereka memasuki jalan yang lebih lebar. Suara hewan malam dan salju yang jatuh dari dahan pohon yang patah menemani langkah mereka. Kini sungai sudah tak beku lagi, aliran airnya menciptakan efek keheningan yang nyaman. Lampu jalan menyinari mereka dengan cahaya yang redup.

Sasuke begitu menikmati hal sepele ini. Bahkan kegiatan berjalan seperti ini saja entah bagaimana bisa membuat hatinya tenang. Sasuke mengerling gadis yang berjalan gugup disampingnya. Gadis ini memiliki kekuatan untuk mengubah hal sederhana menjadi berkali lipat menyenangkannya. Hal-hal kecil seperti bunyi aliran air yang membentur batu di sungai, suara dahan kering yang saling bergesekan tertiup angin, bahkan suara napas gadis itupun sangat dinikmatinya.

Suara gemuruh keras terdengar sampai Sasuke celingukan mengira akan turun hujan, lalu ia menyadari kalau suara itu berasal dari perut Hinata. Gadis itu memukul pelan perutnya sendiri dengan wajah luar biasa merah. Sasuke tak bisa mencegah tawa yang terselip keluar dari mulutnya.

"Kenapa kau tak memakan rotimu dahulu," kata Sasuke kemudian ia menyadari ada sebuah taman bermain yang kosong di depan mereka.

Sasuke agak takjub kalau Hinata benar-benar menyukai idenya. Gadis itu nyaris berlari ke taman yang sepi itu. Hanya ada dua lampu taman yang menyala menerangi seluruh area itu. Hinata segera duduk di salah satu ayunan yang ketika digerakan kedenagran jelas kalau sudah karatan.

Hinata melahap roti miliknya dalam dua kali buka mulut. Sepertinya dia memang kelaparan.

Sasuke berjalan menghampirinya pelan dan berhenti di sampingnya. Berdiri dalam diam mengamati Hinata makan ia putuskan menjadi hobi favoritnya mulai sekarang.

"Kau mau?" tawar Hinata.

"Tidak perlu. Kau sangat menyukainya," jawab Sasuke.

Hinata tersenyum kecil mendengarnya. Dia menggerakan ayunannya ke depan dan belakang perlahan. "Jadi, bagaimana keadaan Fugaku-san?"

"Lumayan. Besok sudah akan dioperasi," ujarnya singkat.

Wajah Hinata menjadi lebih cerah memandangnya. "Benarkah? Syukurlah kalau begitu."

Sesungguhnya obrolan normal tanpa ada saling lempar olokan dan argumen sedikit terasa aneh, meski begitu menyenangkan. Mengobrol santai dengan gadis itu membangkitkan suasana hatinya menjadi lebih baik.

Hening kembali. Angin kencang menerpa mereka sampai menerbangkan beberapa salju.

Hinata bersin keras.

Sasuke menaikkan alisnya. "Kemana syal yang kau pakai tadi—ah," Sasuke teringat akan perkataan Naruto. Ia melipat kedua tangannya di depan dada. "Bukankah seharusnya Gaara yang mengantarmu pulang? Kalian... pacaran kan?" tanyanya lambat-lambat.

Hinata gelagapan mendengarnya. "Kenapa kau bisa bicara seperti itu?"

Sasuke mendengus keras. "Semua orang sudah tahu. Syal putih itu... darinya. Bukankah begitu?"

"Ya benar."

Sasuke menahan gejolak keras untuk tidak meninju tiang lampu di sebelahnya.

"Tapi kukembalikan padanya," lanjut Hinata pelan.

"Apa maksudnya itu? Kau mengenakannya hari ini karena menerima perasaan Gaara."

Hinata tersenyum pelan. "Aku memang mengenakannya hari ini. Tapi untuk kukembalikan padanya."

Tak ada respon. Sasuke ingin mengonfirmasinya sekali lagi, tapi ia urungkan niat itu karena wajah Hinata serius mengatakannnya. Yang keluar dari mulutnya malah pertanyaan ofensif.

"Kenapa?"

Hinata hanya menggerakkan ayunannya tanpa jawaban. Lalu gadis itu menghela napas panjang. "Tak ada alasan. Hanya saja...aku tak ingin terlibat dalam sebuah hubungan. Aku..." jeda agak lama. "Aku merasa takut. Yah, aku takut aku akan menghancurkannya." Hinata mendongak ke samping, menatap Sasuke penuh keraguan. "Aku takut melukai dan dilukai."

Dadanya terasa ditusuk oleh pedang tak kasat mata seketika gadis itu mengatakannya dengan sungguh-sungguh. Ia tahu kalimat itu ditujukan padanya. Darahnya mengalir deras sampai membuat jantungnya berdebar kencang hingga Sasuke takut kalau gadis itu bisa mendengarnya di tengah kesunyian malam ini.

Sasuke bergerak ke depan gadis itu, lalu melepas syal merah tebal dari lehernya. Ia berlutut di depan Hinata, kemudian melilitkan syal miliknya ke leher gadis itu.

"Gadis bodoh. Gaara tak akan menyakitimu," kata Sasuke sambil terus memakaikan syalnya. "Tapi aku mungkin." Sasuke mamakaikan syal itu sampai menutupi mulut Hinata.

"Kau selalu menyakitiku," bisik Hinata. Tapi kemudian jantung Sasuke rasanya akan jatuh saat tangan gadis itu menentuh tangannya, membimbingnya untuk menyentuh pipi Hinata yang dingin. "Tapi aku tidak bisa membencimu." Katanya dengan senyum lembut khas Hinata.

Sasuke benar-benar tersengat kecil dan tubuhnya benar-benar di buat lemas oleh kalimat Hinata. Sasuke terjembab kebelakang tak kuat menopang beban tubuhnya sendiri. Tapi tangannya masih menggenggam tangan Hinata. Sasuke terduduk di depan gadis itu dengan wajah merah. Koreksi, wajahnya tak pernah memerah selama bertahun-tahun. Rasanya sungguh tidak menyenangkan mendapati wajahnya terbakar.

Hinata menyadari gelagat Sasuke, dia buru-buru menarik tangannya namun Sasuke bersikeras. Ia menarik tangan Hinata untuk menutupi wajahnya yang memerah. Astaga, ada apa ini. Ia tak bisa mencegah dirinya sendiri untuk mencium keras telapak tangan Hinata.

"S-sasuke-kun," Hinata bahkan tak berusaha menutupi kegugupannya.

Sasuke berbisik di tangan Hinata. "Aku sudah terlalu banyak menyakitimu, huh?" ia mendongak untuk menatap wajah Hinata yang disinari lampu taman diatasnya. Wajahnya merona jelas.

"Kalau begitu, kita hentikan sampai di sini saja?" tanya Sasuke yang langsung direspon Hinata dengan sedikit gerakkan terkejut. Sasuke mendesah lirih. "Apa kita harus mulai dari awal lagi?" timpalnya.

Hinata terperangah mendengarnya, mulutnya terbuka seakan ingin mengatakan sesuatu namun tak bisa keluar. Dengan cepat gadis itu ingin melepas tangannya dari genggaman Sasuke, tapi Sasuke menahannya. Hinata tak merespon dengan wajah gelisah. Karena Sasuke tak suka dibuat menunggu, ia menarik tangan Hinata kencang hingga membuat tubuh gadis itu terlempar dari ayunan dan jatuh tepat di depannya.

Mereka terduduk di atas salju tebal yang menarik Hinata untuk lebih mendekat. "Kau menginginkannya? Kau ingin kita mulai dari awal lagi?"

Hinata yang sedari tadi menolak menatap Sasuke akhirnya memberanikan mengerling mata gelap itu sedikit. "Memang apa yang kau ingin kita lakukan kembali?"

Sasuke terdiam sebentar. "Sesuatu yang bahkan kita belum sempat memulainya." Sasuke menyentuh dagu Hinata, memaksanya pelan untuk menatap tepat ke arah mata Sasuke. Napas mereka saling berbenturan, uap panas menyapu kulit wajah Sasuke di tengah musim dingin dalam jarak sedekat ini. "Aku bisa menjadi Sasuke Uchiha yang dulu jika kau menginginkan itu."

Rona merah menjalar di pipi pucat Hinata sampai ke telinga. "Sasuke-kun, kau tak perlu berubah menjadi Sasuke yang dahulu. A-aku ingin bersama Sasuke Uchiha yang saat ini ada di hadapanku. Sasuke yang sudah melewati begitu banyak hal karena gadis yang menyakitimu seperti diriku. Apakah... kau masih ingin memulai dari awal?"

Sasuke nyaris tertegun mendengarnya, pertanyaan itu begitu rasional. Apakah ini yang benar-benar diinginkan Sasuke? Jawabannya adalah iya. Tapi membuang faktor-faktor lain pemisah mereka adalah hal yang cukup sulit. Namun kata-kata gadis itu sangatlah tulus.

Sasuke menarik pinggang Hinata lebih dekat. "Semua yang kuinginkan sekarang adalah dirimu. Tidak. Dari dahulu hanyalah kau. Kau tahu itu 'kan?"

Wajah Hinata merah padam tak bisa ditahan-tahan lagi mendengarnya. "S-sudah kubilang kau harus lakukan hal-hal semacam ini kepada orang yang kau sukai."

"Kau masih menganggapku sekedar teman?" ia mendekatkan wajahnya sebagai tindakan intimidasi.

"M-m-memang apa lagi aku harus menganggapmu?"

"Karena itu kubilang kalau kita akan memulai semuanya dari awal. Kau mau 'kan?" tanya Sasuke sekali lagi. Hinata tampak kesulitan membuka mulutnya agar bisa mengeluarkan napas dengan benar di dalam jarak yang sedekat ini.

"Katakan... kau menginginkannya."

Hinata mengerling Sasuke, tangannya mencengkeram erat mantel yang melekat di dada Sasuke, dengan gerakan memohon. "A-aku, aku menginginkannya. Aku ingin Sasuke-kun melihatku sebagai Hinata yang tidak kau benci."

Wajah mereka berdua merah padam.

"Maka aku juga ingin kau melihatku sebagai seorang laki-laki mulai sekarang. Kau mengerti?" tuntut Sasuke dibalas dengan anggukan malu-malu dari Hinata.

Sasuke tersenyum tipis, kemudian ia mencium pipi Hinata penuh penekanan. "Kau benar-benar membuatku gila."

"S-sasuke-kun!"


Angin segar musim semi berhembus membawa wangi rumput dan tanah yang basah oleh udara pagi melewati halaman Suzuran yang cukup ramai. Daun-daun hijau lebat bergerak dalam irama menciptakan gelombang kecil di setiap pohon. Bahkan bunga yang dominan berwarna kuning memenuhi halaman belakang Suzuran, bunga sakura merekah memamerkan keindahannya. Air turun membasahi kelopak-kelopak bunga di kebun sederhana ketika Hinata menyiramkan air dari selang ke atasnya tanaman itu. Hinata menghirup dalam-dalam udara musim semi yang begitu menyenangkan, berusaha mengesampingkan teriakan-teriakan marah orang yang sedang berusaha protes di belakangnya. Astaga ini merusak musim semi favoritnya.

"Hoi! Jangan berlagak tidak dengar Hinata!" seru Shikamaru dengan kedua tangan berada di pinggang, tampak cukup kesal.

Kebisingan anak-anak lain yang sedang bersorak mendukung perkelahian antara anak baru dengan Juugo di bawah pohon sakura menambah pusing kepala Hinata. Aktivitas reguler seperti berkelahi memang mustahil dhilangkan dari budaya Suzuran.

Hinata berusaha lebih baik lagi dalam memperbaiki Suzuran.

"Hinata, aku akan menyirammu dengan air itu jika kau tidak mau bicara masuk akal di sini," ancam Shikamaru.

Hinata akhirnya membalikkan badan dengan wajah sedikit takut. "Uhm, apa maksudmu?"

Urat kesal tercetak jelas di dahi orang itu. Shikamaru membuka kancing almamaternya dan mengibaskannya marah. "Bukankah seharusnya aku adalah orang yang berhak menuntut penjelasan dari tindakan konyolmu kemarin?" dia mengetuk-ngetukkan jarinya tak sabar.

"Tindakan yang mana?" Hinata mencoba berkilah sekali lagi.

"Tindakan disaat kau dengan tanpa ijin pihak yang bersangkutan—aku, telah memasukkan namaku ke dalam form pendaftaran lomba, astaga apa namanya itu..."

"Lomba Sains Nasional."

"Nah, kau mengingatnya dengan jelas. Sekarang hentikan sandiwaramu dan berikan penjelasan yang masuk akal, bisa?" Shikamaru mendekatinya.

Hinata tertawa pasrah takut-takut. "Oke, oke. Aku tak punya pilihan!"

Shikmaru menyipitkan matanya meminta lebih. Hinata meletakkan selang air ke tanah dan mengibaskan dabu dari belakang roknya, ia memandang Shikamaru meminta belas kasihan.

"Ayahku meminta setidaknya satu sertifikat lomba untukku bisa masuk ke Universitas di Inggris," Hinata mengangkat bahu.

"Kau tahu bukan itu yang ingin kudengar darimu," Shikamaru bersikeras.

Hinata memainkan ibu jari tangannya gelisah. "Well, kau adalah orang yang cerdas. Kau orang paling pintar yang pernah kutemui dan kuyakin kau bisa membantuku, sooooo..." ia menatap Shikamaru dengan mata memohon.

Shikamaru berwajah malas ketika membalas tatapannya. Dia menghela napas super panjang, lalu menggelengkan kepalanya samar. "You must be kidding me, right?"

"Apa salahnya ikut lomba? Kau bisa menunjukkan betapa hebatnya otakmu itu," pinta Hinata.

"Salahnya adalah, itu akan sangat sangat merepotkanku Hinata. Kau harus mengantre ketika memasuki gedung, kau harus bertemu lawan-lawanmu yang menyebalkan, kau harus cepat-cepat memencet tombol, dan kakiku akan pegal jika harus berdiri terus nantinya."

Hinata mengelap wajahnya sendiri ketika mendengar penjelasan khas Shikamaru itu. "Astaga kau bisa berkelahi selama berjam-jam, apa salahnya mengantre?" Hinata menggeleng-gelengkan kepalanya.

Shikamaru membuka mulut untuk membalas tapi tak ada kata yang keluar. Dia memejamkan matanya frustasi, lalu mengguncang-guncangkan bahu Hinata keras. "Aku hanya malas! Kau jelas tahu tak ada motivasi buatku mengikuti hal-hal macam ini..."

Seseorang memegang tangan Shikamaru dan mejauhkannya dari bahu Hinata. Wajah Hinata berubah merah detik itu juga ketika melihat Sasuke datang dengan Naruto di belakangnya. Sejak malam tahun baru itu mengubah segalanya di antara mereka. Selama musim semi ini Sasuke tak pernah sekalipun melempar tatapan kebencian, olokan, maupun sumpah serapah padanya. Kecuali orang itu ikut menggoda Hinata jika anak-anak lain melakukannya. Dan itu malah membuat Hinata semakin gugup.

"Ada apa ini?" tanya Sasuke kalem.

Shikamaru menaikkan alisnya. "Bukankah akhir-akhir ini kau sudah terlalu sering ikut campur urusan Hinata?"

Sasuke meluncurkan tatapan membunuh padanya. Naruto yang ikut penasaran, memprovokasi suasana dengan menyenggol rusuk Sasuke dengan sikunya berkali-kali. Sasuke memandang mereka kesal.

"Well, Hinata memasukkan namaku ke dalam tim lomba sains. Sungguh diluar dugaan, huh?" tanya Shikamaru jengkel sekaligus gemas mengusap rambut Hinata penuh penekanan.

Naruto tertawa terbahak-bahak mendengarnya, "Lomba sains katanya, hahaha!" Bahkan Sasuke ikut tertawa kecil.

"Hinata.. Hinata... kapan sih kau melakukan hal yang normal?" ucap Naruto masih terbahak.

"Aku mencoba mendorong kalian untuk melakukan hal normal, Naruto-kun," Hinata melipat bibirnya kesal.

"Kenapa harus diributkan? Ikut sajalah, Shikamaru. Kau bisa menggunakan otakmu yang berharga itu untuk mendapat uang dan reputasi. Jangan menggunakannya untuk hal tak berguna saja," kata Sasuke mencemooh.

Shikamaru menoleh padanya begitu cepat, dia memandang Sasuke penuh simpati. "Well, kalau begitu kau juga harus menggunakan otakmu untuk hal yang berguna, Sasuke."

"Apa maksudmu?" tanya Sasuke mengerutkan alisnya.

Shikamaru tertawa pelan. "Hinata juga memasukkan namamu ke dalam tim itu. Kau tahu itu 'kan?"

Sasuke mendelikkan matanya terkejut, Naruto tertawa lebih keras lagi. Pemuda itu menatap Hinata tajam, meminta penjelasan.

Hinata menelan ludah. "S-sasuke-kun, aku tahu kau sangat cerdas. Kau pasti bisa!" matanya berbinar memberi semangat.

Sasuke mendekati Hinata. "Kau melakukannya seenak jidatmu. Aku dan Shikamaru tak akan melakukannya," Sasuke meperingatkan.

Hinata menggigit bibirnya, lalu bergerak mendekat. Sasuke menatapnya penuh antisipasi jika Hinata menggunakan tendangannya pada mereka semua. Tapi Hinata hanya ingin mereka melakukannya bersama-sama. Hinata menjulurkan tangannya, menarik ujung seragam Sasuke penuh permohonan, meremas kecil seragam Sasuke. Jika ia melakukan haal ini beberapa minggu yang lalu, ia yakin tidak akan berani. Tapi Hinata ingin memulai semuanya dari awal.

"A-aku tahu lebih dari siapapun bahwa kalian berdua mampu. Aku yakin itu." Kata Hinata kemudian mendongak menatap Sasuke yang tercengang. "Sasuke-kun, kumohon ikutlah lomba ini. A-aku membutuhkanmu."

Shikamaru dan Naruto hanya menghela napas jika Hinata sudah seperti ini sambil menggelengkan kepalanya samar, mereka tidak tega mendorongnya lagi. Namun Sasuke memiliki reaksi yang berbeda sekarang, pemuda itu bergetar aneh seakan menahan sesuatu dengan wajah merah.

"Baiklah, aku akan membantumu." Ucap Sasuke pada begitu cepat menjawabnya. Sambil menepuk pelan ujung kepala Hinata, dia menoleh pada Shikamaru. "Kau juga ikut lomba ini," katanya dengan nada perintah.

"What the hell?!"

TBC

Review yuuk? ;)