Characters: Austria_P ( Roderich )– Prussia_SP ( Gilbert )
Rat : M
Genre : Angst – Hurt/ Comfort
Desc: Himaruya Hidekazu
A/N :
^_^ menggunakan nama dari character masing-masing dan ada beberapa perbedaan…
M ( master ) dan P ( pet ) + SP ( special pet ). Untuk apa? Akan dijelaskan didalam cerita. Ok~ mari kita mulai…
PoV : Roderich ( Austria )
Song: True Days ( Tohko ) – Namida no Riyuu ( School Days ) + sekaiichi Hatsukoi Bgm 3
A/N:
Untuk kali ini akan sedikit berbeda. Bagi kalian yang tidak ingin melihat hubungan mereka yang lebih da- *di bekep* silahkan kalian mengskip bagian yang diberikan tanda –ooxxxxoo- dan dilanjutkan untuk ke bagian berikutnya. Untuk cerita yang diberi tanda itu, tetap saling berhubungan dengan cerita sebelumnya. Jadi tidak perlu khawatir jika ingin melewati bagian yang kuberi tanda itu. Lebih lengkapnya, dichapter ini hanya berfokus kepada Roderich dan Gilbert. Tidak ada yang lainnya ^_^ jadi, mungkin bagi yang kurang tertarik namun ingin tau seperti apa kelanjutannya, bisa langsung kebagian bawahnya. Ok… Mari kita lanjutkan ^_^
-ooopart 11ooo-
-ooxxxxooo— ( peringatan terakhir. Full rat M, genre Full Romance – soft words n full S*x- couple PruAus ).
Bimbang. Lelah. Putus asa. Semua itu selalu didalam benakku sebelum aku bertemu dengan Elizabeta. Berjuang untuk tetap hidup tanpa memegang arti kehidupan yang sebenarnya. Ketika Elizabeta menjadi majikanku, perlahan kehidupanku mulai berubah. Kebahagiaan dan kehangatan memenuhi keseharianku, lalu itu semua hilang sejak Ivan dan Francis menjadi majikanku.
Tubuhku yang begitu kotor dan tidak berharga, pantas untuk diasingkan ataupun dibuang. Nyawa yang sangat berharga, sudah tidak berarti lagi untukku. Aku hanya berharap waktu bergerak cepat menuju ajalku. Ditengah keputus-asaanku, sebuah cahaya menyinari kegelapan didalam pikiran dan hatiku. Cahaya yang terasa nyaman dan hangat. Sebuah harapan muncul kembali setelah Gilbert menolongku dari mimpi burukku.
'…tanpa dia… aku bukanlah apa-apa… hanya dia yang membuatku begitu berharga…'
Dinginnya udara malam terasa hangat ditubuhku. Nafasnya yang terasa hangat, deru jantungnya yang begitu cepat, semua itu dapat kudengar dengan baik. Tubuhku yang tidak terbiasa tersentuh oleh orang lain, kini hanya bisa diam dan membiarkan orang tersebut terus menyentuhnya. Tidak ada rasa takut ataupun gelisah setiap kali bibir lembutnya menyentuh bibirku atau tubuhku. Aku hanya bisa pasrah dan menikmati setiap sentuhannya.
"Kamu tidak apa-apa?," tanya Gilbert setelah melepaskan ciumannya padaku.
Aku mengangguk pelan sambil mengatur deru nafasku. "Y-ya… ti-tidak apa-apa…"
Gilbert yang berada diatas tubuhku kembali mendekatkan wajahnya pada leherku. Jari kurusnya menggenggam tangan kananku dan aku hanya bisa diam menatap langit-langit kamar yang bercahaya dari cahaya bulan yang masuk melalui jendela kamar ini. Ketika wajahnya menuju dadaku, aku hanya bisa menutup kedua mataku dan menggigit bibirku. Sensasi yang dibuat olehnya membuat tubuhku lepas kendali.
"Roderich… jangan tahan suaramu, kesesese…," ucapnya saat mengecup luka di dadaku.
Aku menggeleng dan tertawa kecil. "Bu-bukan begitu, Gilbert… a-aku…," Gilbert diam menunggu jawaban dariku. "…aku… ge-geli…"
"Oh? Kesesese… Kalau begitu, kamu mau aku yang awesome ini bermain kasar?." Mendengar pertanyaannya itu, tubuhku menegang dan gemetar hebat. Kurasakan tubuhku bergerak mundur menjauhinya ketika dia mulai mendekatkan wajahku kembali. "Tenang saja," Gilbert mengecup pipiku. "Aku hanya bercanda, kesesese…"
Kurasakan wajahku memanas. "Gilbert…!"
Kami menatap satu sama lain, tersenyum dan akupun kembali merasakan hangatnya bibir Gilbert. Tanpa melepaskan dirinya, kulingkarkan kedua tanganku pada lehernya dan membiarkan dia kembali menyentuhku. Tangan kirinya terus menyentuh tubuhku hingga pada bagian tubuhku yang paling sensitif. Membuat tubuhku menegang sesaat lalu menatapnya. Gilbert hanya tersenyum dan kembali menyentuh tubuhku hingga membuat tubuhku bergetar hebat.
"G-gil…," desahku perlahan sambil berpegang pada bahunya. "A-aku…"
"Tidak apa-apa, Roderich. Aku tidak melarangmu untuk melakukannya…."
Rasa gelisah dan nyaman bercampur menjadi satu. Selama ini tubuhku selalu dipaksa dan tidak pernah mendapatkan perlakuan yang layak, seperti yang dilakukan oleh Gilbert. Walaupun tubuhku sama-sama disentuh, namun sensasi yang kurasakan sungguh berbeda. Seluruh tubuhku terasa panas dan ingin segera melebur bersatu bersama dengannya. Dalam waktu singkat, kurasakan genggamanku terasa keras dan sesuatu mengalir keluar dari tubuhku. Membuat pakaian dalamku terasa basah.
"Gi-gil… ma-maafkan aku…," isakku saat kutatap pakaianku yang lembab oleh cairanku.
"Kenapa kamu menangis? Apa aku marah padamu?."
"Ta-tapi… a-aku…," aku kebingungan harus menjelaskan apa dengannya, karena aku tidak terbiasa dengan keadaan seperti ini.
"Kesesese… Kamu melakukannya karena kamu merasa nyaman, bukan?," aku mengangguk. "Dengan begitu, aku yang AWESOME ini sudah berhasil mendapatkan hatimu, kesesese…"
Aku hanya bisa diam tercenga. Tidak tahu haruskah aku merasa takut atau senang. Semua perubahan ini terlalu cepat untukku. Aku belum terbiasa dengan segala perhatian yang diberikan oleh Gilbert. Seperti ada sesuatu yang kosong dari pikiranku…
Ditengah kebingunganku, Gilbert melepaskan seluruh kain penutup tubuhnya lalu dilanjutkan melepaskan kain yang masih menutup tubuhku. Diapun memposisikan dirinya diantara kedua kakiku lalu mendekatkan wajahnya. Tubuhku kembali menegang saat kurasakan lidahnya yang menyentuh tubuh sensitifku. Genggamanku pada jari yang dia kaitkan semakin mengeras.
"Gi-gil… a-apa yang kamu lakukan…," gusarku dengan deru nafas yang kembali tidak teratur. "Ja-jangan…ko-kotor…"
Gilbert menggeleng. "Aku tidak ingin menyakitimu, Roderich. Tenang saja. Aku yang AWESOME ini akan membuatmu merasa lebih nyaman, kesesese…"
Sungguh aku tidak mengerti. Aku baru mengenalnya saat dia mengunjungi apartmen Ivan, kini memperlakukanku selayaknya sudah mengenal satu sama lain. Tidak hanya dengan dirinya, akupun tidak mengerti mengapa aku bisa membiarkannya masuk kedalam hatiku.
Setelah beberapa saat, Gilbert memainkan jarinya dengan lidahnya lalu menatapku, "Roderich, walaupun kamu sudah sering melakukan ini, aku akan tetap melakukan persiapan untukmu. Bersiaplah, kesesese…"
Belum sempat aku menjawab, dengan perlahan jarinya sudah memasuki tubuhku. Tubuhku yang selalu menolak, membuatku merasakan sakit yang cukup membuat Gilbert terlihat khawatir.
"Roderich? Ka-kamu ti-tidak apa-apa?," tanyanya tanpa melepaskan jarinya dari tubuhku.
Tidak ada sepatah kata yang keluar dari mulutku. Aku tidak ingin mengecewakannya, namun tubuhku belum siap dengan tindakan ini. Kueratkan genggamanku pada bantalku sambil terus menenangkan nafas dan tubuhku. Ekorkupun kulingkarkan pada kakiku untuk tidak menghalangi tindakannya itu.
Gilbert masih menatapku penuh khawatir dan kembali menatap tangannya. "Sepertinya benar yang dikatakan oleh Ivan, Roderich. Tubuhmu sungguh unik. Lihat, jariku kamu remas seakan-akan kamu ingin mematahkannya, kesesese…"
Kurasakan wajah dan tubuhku memanas. Rasa malu yang begitu dalam membuatku meneteskan air mata.
"E-eeh… A-aku hanya bercanda. Kamu ja-jangan menangis…," dengan terburu-buru Gilbert menghapus airmataku dengan tangannya yang terbebas. "Ba-bagaimana? Mau kita lanjutkan atau kita akhi-"
"Tidak apa-apa," potongku. Aku tidak ingin mengecewakannya dan hanya ini yang bisa aku berikan sebagai gantinya. "Ti-tidak apa-apa… la-lanjutkan…"
"Be-benarkah?," aku mengangguk. "Baiklah. Akan aku teruskan,ya…"
Walaupun Gilbert memasukannya dengan perlahan, tubuhku tetap merasakan sakit, bahkan terasa semakin dalam. Gilbert memasukan jari keduanya dan diam sesaat membiarkan tubuhku untuk terbiasa dengan keadaan seperti ini. Air mataku kembali mengalir seiring Gilbert memasukan jarinya yang ketiga. Rasa sakit yang semakin membuat tubuhku gemetar, memaksaku untuk menggertakan gigiku dan mempererat genggamanku pada bantalku.
'Maafkan aku Gilbert… aku hanya tidak ingin membuatmu kecewa… hanya itu yang aku inginkan…'
"Roderich… kamu baik-baik saja?"
Kubuka kedua mataku walau bercampur dengan air mata. Aku mengangguk pelan dan kurasakan genggaman tangannya pada telapak tanganku.
"Jika kamu merasa sakit, genggamlah sekuat mungkin sehingga aku tahu apakah aku melukaimu atau tidak. Aku tidak ingin membuatmu merasa tidak nyaman, Roderich… karena tidak awesome bukan?" Gilbert terus tersenyum walau ini bukanlah kesalahan pada dirinya.
Rasa kesal pada diri sendiri membuatku kembali terisak. Dengan cepat aku langsung menyeka air mataku dan memalingkan wajahku. Untuk pertama kalinya aku tidak berani menatap orang yang berada dihadapanku saat ini.
"Roderich, kamu…," kupaksakan diriku untuk tersenyum sambil mempererat genggamanku. Gilbert menangkap apa maksud tindakanku, mengangguk pelan dan tersenyum. "Baiklah…"
Perlahan Gilbert menggerakan jarinya didalam tubuhku. Semampuku kutahankan posisi kakiku dan ekorku untuk menahan rasa sakit yang menghujam tubuhku. Gerakan jarinya semakin lama semakin dipercepat membuat airmataku kembali keluar dan tiba-tiba saja pandanganku hilang seketika. Tubuhku menegang dan terasa ada sesuatu yang mengalir keluar dari tubuhku.
"Gi-gilbert…"
"Sepertinya aku menemukan sesuatu…," Gilbert tertawa. "Kesesese…disini?"
Gilbert memasukan jarinya lagi dan menyentuh bagian yang membuatku gelisah dan mendesah. Kurasakan tubuhku kembali memanas dan tidak terkendalikan. Genggamankupun semakin keras seiring Gilbert mempercepat gerakan jarinya didalam tubuhku. Dalam sesaat, cairanku membasahi tubuhku dan tubuhnya.
Sebelum melanjutkan, Gilbert mendekatkan wajahnya padaku dan kembali menciumku untuk menenangkanku. "Akan aku lanjutkan, kesesese…"
Jari tangan kananku berkaitan dengan jarinya disisi kepalaku, sedangkan satu tangannya yang terbebas menaikan sedikit kaki kiriku dan dalam sekali hentakan, dia memasukan seluruhnya kedalam tubuhku. Kedua mataku dan mulutku terbuka lebar, tubuhku menegang, tangan kiriku menarik selimut dan genggaman tangan kananku semakin keras. Rasa sakit pada tubuhku tidak dapat kutahan lagi, seakan-akan ada sesuatu yang mencabik tubuhku. Air mata terus mengalir membasahi wajahku.
"Sa-sakit, gi-gil…," isakku.
Gilbert kembali menciumku dan mengusap rambutku. "Tenanglah… aku akan diam sampai tubuhmu terbiasa dengan kehadiranku, ya…" ucapnya perlahan sambil menghapus air mataku dengan jarinya.
"Ma-maafkan aku… maafkan aku…," kulingkarkan tanganku pada lehernya dan bersandar pada bahunya. "Maafkan aku… maafkan aku…"
"Hey, sudahlah. Tidak apa-apa. Aku yang AWESOME ini mengerti, kesesese…"
Gilbert melepaskan pelukannya lalu menciumku. Tubuhku tidak melawan sama sekali bahkan membiarkanku membuka mulutku untuk memberikan kebebasan baginya. Kurasakan lidahnya menguasai mulutku, dan atas tindakannya ini tubuhku mulai tenang menerima kehadirannya. Walau sesaat, kurasakan tubuh Gilbert yang mulai bergerak memasuki tubuhku. Tubuhku ingin bersatu dengannya namun kelamnya masalalu dalam pikiranku masih menolak dengan tindakan ini. Pikiranku kacau dan aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan dengan ini semua, selain membiarkan Gilbert mengambil keputusan atas diriku ini.
Nafasku semakin mempersulitku untuk berbicara. Perlahan, akupun memanggil namanya. "G-gil…"
"Ya, Roderich?," balasnya sambil bergerak pelan memasuki tubuhku.
Isak tangisku kembali datang. Kutarik selimut yang tidak jauh dariku, lalu kujadikan penutup wajahku. Lengan tangan kiriku, kuletakan didepan mulutku dan kucoba sebisaku untuk menahan suara tangis yang bercampur dengan deru nafasku.
"Roderich… bukalah. Aku ingin melihatmu," Gilbert menarik selimutku namun aku menahannya. "Roderich… Ada apa?"
"Ti-tidak…," gelisahku. "A-aku tidak bisa… aku takut…maafkan aku…," genggaman tangan kananku semakin erat dan kurasakan kurusnya jari Gilbert yang saling berkaitan denganku.
"Roderich…"
Gilbert menghentikan gerakannya, menarik lengan tanganku dan selimutku. Raut wajahnya terlihat sedih saat melihatku. Kupalingkan wajahku dan menutup kedua mataku. 'Maafkan aku, Gilbert… maafkan aku… aku takut…'
"Aku sayang padamu…" kedua mataku terbuka dan menatapnya. "Aku sayang padamu, Roderich. Bagaimana dengan dirimu?"
Aku mengangguk pelan dan membalas pelan, "…a-aku juga…"
Gilbert tersenyum dan mengecupku. "Tatap aku… dan pikirkan aku didalam pikiranmu. Bayangkan aku yang selalu ada disisimu. Biarkan itu semua menggantikan seluruh mimpi burukmu, Roderich…"
"…Y-ya…," aku kembali mendesah seiring tangan kanannya menyentuh dadaku dan mengecupnya.
Tubuhku yang sudah tidak bisa menahan sensasi ini, membuatku kembali mendesah. Kali ini aku tidak menutup mulutku karena tangan kirinya menahan kedua tanganku diatas kepalaku. Tangan kanannya kembali bergerak menuju bagian tubuhku yang paling sensitif. Tubuhku kembali menegang dan gelisah ketika dia menggerakan tubuh dan tangannya secara bersamaan.
"…Gi-gil…bert… ja…jangan…"
"Kenapa? Apakah masih terasa sakit?"
Aku menggeleng pelan. "…bu-bukan. Le-lepaskan ta…tanganmu Gi… akh…!," ucapanku tertahan ketika Gilbert kembali menyentuh pusat pengendali tubuhku. "Ja…jangan…Gilbert…ukh…!"
"Jangan katamu, kesesese…," tawanya pelan. "Bukankah disini tempat yang paling nyaman bagimu?"
Perlahan namun dalam sekali hentakan Gilbert terus menyentuhnya kembali, dan membuat pikiranku kalah dengan keinginan dari tubuhku. Tubuhku yang mulai kehilangan kendali, ekor dan kedua kakiku mulai bergerak bebas.
"Gil..bert…," desahku dengan tubuh yang terus bergerak. "Ja-jangan…hentikan…"
"Hentikan? Apa kamu yakin, kesesese…" Gilbert memperdalam hentakannya dan genggaman tangannya semakin dia eratkan membuat tubuhku semakin menjadi-jadi.
"…hmph…gi-gilbert… ku-kumohon… ji…jika tidak… a-aku…"
"Tidak apa-apa, Roderich. Sudah aku katakan kalau kamu bebas untuk melakukannya…"
Seiring dia mempercepat gerakannya, detak jantung dan nafasku ikut semakin memburu. Dengan perlahan aku memanggil namanya berulang kali sampai kurasakan tubuhku mencapai pada batas ketahananku. Tubuhku kembali mengeluarkan cairan yang cukup banyak dibandingkan dengan sebelumnya.
Deru jantung dan nafasku saling memburu. Tubuhku terasa panas dan pikiranku semakin kacau. Tenaga yang kusimpan kini hilang sudah dan aku hanya bisa membiarkan Gilbert meneruskan tindakan ini sesuai dengan keinginannya. Tubuhku sudah melemah dan tidak sanggup untuk melawannya.
"…Gil-gilbert…," ucapku ditengah aku mengatur nafasku.
"Tidak apa. Kini biarkan aku melayani diriku sendiri, Roderich…"
Aku hanya bisa mengangguk dan menutup kedua mataku seiring Gilbert menciumku untuk menenangkanku. Tanpa membuang waktu, Gilbert membalikan tubuhku dan memposisikan dirinya diatas punggungku dengan tangan kirinya yang melingkar didepan dadaku. Tangan kanannya memposisikan bantal dan selimut dibawah perutku untuk membantuku mempertahankan posisiku. Setelah persiapan selesai, jari tangannya kembali membuka jalan pada tubuhku. Dengan sekali hentakan, tubuhnya kembali memasuki diriku namun aku tidak lagi merasakan rasa sakit yang begitu dalam. Rasa sakit tergantikan rasa nyaman dan rasa panas yang membuatku kehilangan tenaga, bahkan untuk memanggil namanya.
Kusandarkan kepalaku pada kedua lengan tanganku dan menatap Gilbert dari sudut bahu kananku. Melihat wajahnya yang begitu senang membuatku merasa bahagia bisa memberikan tubuhku kepadanya. Aku sudah tidak perduli berapa kali Gilbert memasuki tubuhku, asalkan aku bisa melihatnya senang seperti ini.
"Ro-roderich… tu-tubuhmu benar-benar hebat! Kesesese… sungguh awesome!"
Gilbert menghentikan gerakannya sesaat, menarik tubuhku dengan tangan kirinya yang dia lingkarkan padaku, dan mengarahkan wajahku untuk kembali menciumnya. Tubuhku kembali menegang karena tanpa disadari, tubuh Gilbert yang masih berada didalam, menyentuh pusat tubuhku. Tanpa memberikan kesempatan, Gilbert terus memainkan lidahnya didalam mulutku ditengah desahanku yang semakin tidak tertahankan.
Setelah merasa cukup Gilbert melepaskan ciumannya, membiarkanku kembali pada posisiku, dan kurasakan kedua tangannya kembali menyentuh bagian-bagian tubuh sensitifku. Aku kembali mengeratkan genggamanku pada selimut dan bantal ketika Gilbert menarik ekorku, dan menggenggamnya bersama dengan tubuh sensitifku. Jika tidak ada bantal dan selimut, aku tidak dapat mempertahankan posisiku lagi. Bahkan kedua lututku sudah tidak bisa menahan godaan yang dibuat olehnya.
"…gi-gil…he-hen…hentikan…akh…!"
Ternyata tidak hanya aku. Nafas Gilbert –pun semakin memburu sering gerakan tubuhnya semakin cepat. Perlahan kurasakan tubuhku menegang namun bukan karena dia menyentuh pusat tubuhku. Tubuhku merasakan adanya sesuatu yang semakin terasa panas dan memenuhi seluruh rongga tubuhku. Walau rasa sakit kembali datang, kuusahakan sebisaku untuk menahannya. Kedua tanganku menggenggam selimut dengan erat dan mulutku menggigit selimut yang tidak terlalu jauh untuk menahan eranganku. Aku tidak ingin membuatnya kembali khawatir.
"Ro-roderich… se-sepertinya aku sudah tidak tahan…," ucapnya seiring dia mempercepat gerakannya. "Bo-bolehkah aku…"
"I-ia… Gil-," ucapanku terputus ketika kurasakan tubuhku menegang, cairan tubuhku yang keluar banyak dan kurasakan adanya sesuatu yang mengalir deras. Cairan tubuhnya memenuhi tubuhku dan dengan demikian tubuh berikut hatiku sudah menjadi milinya seorang.
Setelah melepaskan dirinya, tubuhku langsung jatuh melemah beserta dengan tubuhnya yang berada disampingku. Kami berdua tersenyum, saling menatap satu sama lain dan saling mengkaitkan jari didepan dada kami. Tangan Gilbert yang terbebas, dia selipkan dibawah leherku, menarikku lebih dekat dan lengan bahunya menjadi sandaran untukku. Akupun menerimanya dengan menyandarkan wajahku pada dadanya. Kurasakan ekorku yang bergerak dan melingkar pada kakinya. Ya, aku tidak ingin melepaskan dirinya dari pelukanku.
"Roderich…," aku bergumam sebagai ganti jawaban. "Terima kasih untuk hari ini, kesesese… benar-benar awesome!"
Aku tertawa kecil mendengar perkataannya. "Akulah yang seharusnya berkata demikian, Gilbert. Akulah yang seharusnya berterima kasih kepadamu. Bukan kamu ya-"
Gilbert menarik wajahku dan menciumku. Kurasakan wajahku kembali memanas dan detak jantungku berdetak sangat cepat. "Aku tidak ingin mendengar itu lagi. Tidak awesome, kesesese…"
Aku hanya bisa tersenyum dan melingkarkan tanganku pada pinggangnya. Gilbert membalas memelukku dengan erat dan mengusap rambutku dengan perlahan.
"Gil…," kali ini Gilbert yang bergumam. "Apa sebaiknya kita tidak…"
"Kesesesese…," pelukannya semakin erat. "Tidak usah khawatir. Istirahatlah…"
"Tapi bagaimana dengan dirimu?," tanyaku sambil menatapnya.
Gilbert kembali menarik kepalaku didepan dadanya. "Tidak apa. Aku ini AWESOME! Aku akan menemanimu sampai kamu tertidur, dan setelah itu akan aku rapikan semuanya, ya… Nah, sekarang lebih baik kamu istirahat. Aku tidak mau melihatmu terus menerus berada dikamar ini."
Aku tersenyum dan mempererat pelukanku. Usapannya pada rambutku dan suara detak jantungnya, bagaikan nyanyian tidur untukku. Perlahan kedua mataku terasa berat dan pandanganku semakin gelap. Nafas dan detak jantungku mulai teratur dan dalam sesaat kesadarankupun mulai menghilang.
-ooxxxxoo- ( lets continue ^_^/)
Keesokan paginya, aku terbangun tanpa Gilbert disisku. Kucoba untuk bangun dan mencarinya, namun tubuhku tidak bisa bekerja sama dengan keinginanku. Tubuhku terlalu sakit dan lelah setelah aku bersatu dengan Gilbert kemarin malam. Keinginanku yang begitu kuat mengalahkan rasa sakitku, dan kupaksakan diriku untuk bangun mencarinya. Aku tidak ingin ditinggal sendirian seperti ini lagi.
Brak.
Aku terjatuh dari tempat tidurku. Sedikit terisak dan perlahan aku berteriak memanggil namanya. Keheningan dipagi hari membuat pikiranku kacau dan kembali di saat-saat aku masih dipelihara oleh Ivan dan Francis. Rasa takut kembali menguasaiku dan tanpa kusadari air mata kembali membasahi wajahku.
"Gilbert…," ucapku perlahan sambil menarik tubuhku dengan kedua tanganku diatas lantai yang dingin. "…kamu dimana, Gil…"
Walau aku mengetahui Gilbert akan selalu berada disisku, rasa takut dan isak tangis menguasai diriku. Segera keluar dari kamar ini dan menemui Gilbert, hanya inilah yang ingin kulakukan saat ini.
"Roderich!," seru seseorang yang tiba-tiba masuk ke kamarku.
Aku menaikan wajahku dan ternyata orang tersebut adalah Gilbert dengan wajah yang terlihat panik. Tanpa kata, dia langsung memelukku dan mendekapku. Mengusap kepalaku hingga punggungku dengan lembut seiring dia mengatur deru nafas dan detak jantungnya.
"Ada apa dengan dirimu? Apa kamu mimpi buruk, kesesese…," aku menjawab dengan memendam wajahku pada pelukannya. "Maaf aku sudah meninggalkanmu. Tadi aku melakukan pemeriksaan ke kamar lain dan melaporkan perkembangan kesehatanmu pada Yao. Maaf aku tidak memberitakukanmu sebelumnya, ya…"
Aku hanya menggeleng didalam pelukannya. Untuk kesekian kalinya Gilbert meminta maaf padaku. Rasa egoisku membuat hati dan pikiranku semakin sakit. Aku tidak ingin menjadi beban untuk orang lain, namun mengapa selalu berakhir seperti ini…
"Sttt… Tenanglah Roderich. Tidak ada yang perlu kamu takuti lagi…," Gilbert melepas pelukannya dan menciumku. "Aku yang AWESOME ini sudah ada disini untuk menjagamu."
Aku mengangguk pelan dan melingkarkan tanganku pada bahunya. Perlahan Gilbert mengangkatku dan meletakanku kembali diatas tempat tidurku lalu duduk disisiku. Tangannya dia lingkarkan pada bahuku dan membiarkanku bersandar padanya. Kututup kedua mataku untuk menikmati saat menyenangkan yang singkat ini.
"Roderich…," kubuka mataku dan menatapnya. "Aku ingin memberikan sesuatu yang awesome kepadamu, kesesese…"
Gilbert membuka jarak pada pelukan kami, dan mengambil sesuatu dari dalam sakunya. Sebuah kalung leher 'peliharaan' berwarna biru laut dengan sebuah nametag yang terdapat namaku didepannya. Aku menatap matanya dan kalung itu secara bergantian. Gilbert tersenyum dan meletakan tangan kanannya diatas kepalaku.
"Lihat," ucapnya saat membalikan nametag dihadapanku dan terukir namanya disana. "Mulai saat ini kamu sudah menjadi 'peliharaan'ku, Roderich. Kamu tidak perlu khawatir lagi ataupun merasa takut jika berada diluar nanti, karena akulah yang akan menjagamu sepenuhnya, kesesese…"
Kurasakan kedua mataku terbuka lebar dan nafasku semakin memburu. Air mataku kembali mengalir membasahi wajahku. Bukan rasa takut atau khawatir, tetapi rasa bahagia yang tidak bisa aku tahan didalam pikiranku. Tanpa persetujuan darinya, aku langsung melingkarkan tanganku pada lehernya dan memeluknya dengan erat. Rasa bahagia ini belum pernah kurasakan sebelumnya. Sungguh aku merasa beruntung bisa bertemu dengan dirinya.
"Gilbert…," panggilku ditengah isak tangisku. "Terima kasih…"
Walau aku tidak melihat secara langsung, aku dapat merasakan bahwa Gilbert tersenyum padaku. Kedua tangannya membalas memelukku dengan erat. Pelukan yang terasa hangat dan menenangkan, tidak ingin aku melepaskannya. Air mataku terus mengalir deras membasahi bahunya seiring kupendam wajahku padanya.
"Roderich…," Gilbert melepaskan pelukanku lalu kedua tangannya memegang wajahku dan menghapus air mataku. Melihat senyumannya membuat wajahku semakin memanas. "Untuk masalah kalung ini, kamu bebas menentukan pilihanmu. Apakah kamu mau memakainya atau ti-"
"Akan aku pakai!," selaku. "Akan aku pakai, Gilbert."
"Kesesesese… Kamu memang menarik, Roderich," ucapnya yang membuatku semakin bingung. Gilbert kembali mengambil sesuatu dari saku kemeja putihnya dan terdapat sebuah kalung rantai dengan sebuah liontin berbentuk garis tebal berwarna hitam yang berukuran sama dan saling menyilang.
"Gil…?"
Gilbert mengecup bibirku sesaat. "Benda yang sebenarnya ingin kuberikan padamu adalah yang ini. Sebenarnya kalung ini hanya dimiliki oleh 'kaum'ku. Namun aku ingin kamu memilikinya, Roderich…," aku menunduk sedikit untuk mempermudah dia memakaikannya padaku. "Dengan ini, aku dan kamu adalah satu…," Gilbert mengeluarkan kalungnya yang tertutup kemejanya. "Tidak ada yang bisa menghalangi aku ataupun kamu untuk saling bertemu…"
Mendengar ucapannya, air mataku semakin deras. Kutundukan kepalaku dan kudekatkan punggung tanganku untuk menahan derasnya isak tangisku. Gilbert menarikku ke dalam pelukannya dan mendekapku seperti sebuah benda yang sangat berharga.
Kulepaskan pelukannya, menatapnya, dan menundukan kepalaku. "Tuan Gil-,"
Tiba-tiba saja Gilbert mendorongku dan memposisikanku dibawah tubuhnya. Kedua tanganku ditahan disisi kepalaku, wajahnya kembali dia dekatkan dan bibir kami saling bertemu dalam beberapa saat.
"Jangan pernah memanggilku yang AWESOME ini dengan sebutan itu, Roderich. Sungguh tidak awesome, kesesese… Panggilah namaku seperti biasa, ya…" Aku mengangguk dan Gilbert kembali menciumku.
Tidak pernah sebelumnya aku membayangkan dapat bertemu dengan seseorang seperti dirinya. Sejak tinggal bersama dengan Elizabeta, saat itu aku merasakan bahwa itulah kebahagiaan. Bersama dengan dirinya, kebahagiaan ini tidak dapat tergantikan sama sekali. Tidak ada kata yang dapat kukatakan ataupun kuberikan padanya selain memberikan seluruh hatiku dan tubuhku kepadanya. Bersama-sama dengan dirinya, yakin bahwa aku dapat melalui dan menghilangkan mimpi burukku yang masih tersimpan didasar pikiranku.
"Gilbert…," ucapku disela aku mengambil nafas. "Terima kasih..."
Gilbert menggeleng pelan. "Tidak. Akulah yang harusnya berterima kasih, Roderich. Berkat dirimu, aku menemukan seuatu yang aku cari selama ini. Sesuatu yang sempat menghilang dari genggamanku, namun kini hadir kembali dihadapanku. Hidupku yang awesome ini menjadi lebih berarti, Roderich…"
"Gilbert…"
Dengan lembut Gilbert kembali mengecupku. Jari tangan kami saling berkaitan, tangannya yang terbebas kembali menyentuh tubuhku. Wajah yang semakin memanas, deru nafas dan detak jantung yang saling memburu, membuatku semakin tercandu oleh kehadirannya. Tubuhku semakin terasa panas dan melemah setiap kali dia memasuki tubuhku. Jika tidak ada tulang, aku yakin tubuhku akan benar-benar lemas tidak berbentuk. Ya, hanya kehadirannya yang dapat membuatku yakin untuk melangkah hari esok.
"Roderich…"
Setiap kali dia menyebut namaku ditelingaku, pikiran dan tubuhku semakin tercandu. Sungguh aku tidak kuat dengan pemakaian 'obat' ini, namun aku tidak ingin menghentikannya. Hanya dan karena 'obat' inilah yang membuat kehidupanku menjadi lebih berarti dan penuh warna…
… dan ketika dia memanggil namaku ditengah kegalauanku, sesuatu yang hangat kembali mengalir deras kedalam tubuhku. Tubuh kotorku, kini sudah menjadi hak miliknya dan berakhir bersatu dengan dirinya seorang. Tidak ada orang lain lagi yang ada didalam hati dan pikiranku selain namanya.
Ya, hanya 'Gilbert Beilschmidt' seorang…
-oooTheEndoo-
A/N:
Huaaaa… akhirnya tamat juga ToT … terima kasih yang sudah mengikuti dari pertama hingga akhir dan juga yang membaca ataupun mengrepew cerita ini ^_^
hatakehanahungry : ya, inilah kelanjutannya dan… berakhir sampai disini. Thankz banget ya udah ikutin n mengrepew dari awal ^_^b
Rachel Aoive: Eh? Wa-waduh… gawat neh.. jadi virus donk aku…? *evil smile_dtabok*
Hahahaha.. sebelumnya kurang ya? Maaf… daku juga merasa begitu. Ngetik na sih gak buru-buru juga… hanya aja… errr… *natap langit* ( inner: lalu kenapa di publish? | me: karena daku juga bingung n kalo gak update juga bingung** ). Hahaha.. ya ^_^ gak discontinue sih.. hanya aja berakhir sampai disini ^_^ thanks ya buat repew na ^_^
Yap… inilah repew terakhir… terima kasih buat seluruh karakter yang sudah berperan di cerita ini… *dtabok* dan semua yang sudah mengrepew ataupun membaca..
Roddy: ada lagi kah?
me: hmm.. gak tau.. kenapa? *natap kertas naskah*
Gil: ne, buat aja lagi, kesesese… *senggol aoi, narik roddy ke kekamar*
Roddy: h-hoi! Le-lepaskan! Obakasan!
Me: … hahahaha… ^_^/ jya, minna
-ooooEndooo-
