[Chaptered]
Title : You Can't Hear
Chapter : 11/?
By : Gatsuaki Yuuji
Main Cast : Uzumaki Naruto, Uchiha Sasuke
Disclaimer : All Chara punya Papi Kishi. FYI, Papi Kishi itu Papiku.
Genre : Shounen Ai
BGM : Fish Leong - Can't Hear
"Sasu kenapa?" "SASUKE KENAPAAAA?" "SI UKE KEEENAAAFFA?"
Mungkin chapter ini bisa sedikit menjelaskan tentang keadaan sasUKE, atau bisa jadi malah tambah riwet dan penasaran karena tidak jelas.
Gomen untuk alur yg tidak jelas dan status sasUKE yang masih dan tetap berkabut.
Hontou ni gomennasai #bowbarengsasUKE
Chapter ini ada slight NaruGaa lho.
Di cafe kampus.
Itachi-san menatap tablet berwarna orange di hadapannya.
"Sasuke memberimu ini?", tanya Itachi-san meyakinkanku.
"Hn!", anggukku.
"Dan kau tidak mau menerimanya?", tanya Itachi-san lagi.
"Hn! Itu barang mahal, aku tidak pantas menerimanya", jawabku.
"Sasuke memberimu ini, tapi kau malah mengembalikannya padaku", Itachi-san tertawa pelan.
"Aku tidak bisa mengembalikannya pada Sasuke, aku tahu dia pasti akan membanting ataupun membuang tablet tersebut. Dan aku sudah bosan melihatnya melihatnya melakukan itu", cibirku, aku berharap Itachi-san mau menerima alasanku ini.
Itachi-san tersenyum.
"Mengembalikan ini padaku, tidak menjamin bahwa Sasuke akan membantingnya lho",
"Aku menyerahkan ini pada Itachi-san, itu karena aku yakin kau bisa mencegah Sasuke untuk membantingnya",
"Mengapa tidak kau terima saja? Sasuke sudah membelikannya untukmu, dia pasti punya alasan untuk memberimu ini", bujuk Itachi-san
"Aku tidak bisa menerima ini, Itachi-san. Alasan Sasuke membeli ini hanya untuk menghambur-hamburkan uang, dan aku... tidak suka", tolakku.
"Anggap saja ini hadiah untukmu karena sudah direpotkan oleh Sasuke",
"Aku tahu Sasuke itu merepotkan, tapi ini terlalu mahal, Itachi-san~", kataku dengan nada sedikit memelas.
"Aniki~", Sasuke tiba-tiba muncul dan memeluk leher Itachi-san dari belakang.
Itachi-san tersenyum lembut sambil mengusap-ngusap kepala Sasuke. Sasuke merasa senang diperlakukan seperti itu.
"Dasar bocah!", ejekku.
"Kau iri padaku karena kau anak tunggal!", ejek Sasuke balik.
Ejekan Sasuke membuatku tertohok. Ya, aku memang anak tunggal.
"Sasuke!", tegur Itachi-san dan seseorang bersamaan.
Sasuke melepaskan jeratannya dari leher Itachi-san, dia menoleh ke belakang. Ternyata ada Neji.
"Kau tidak melupakanku kan?", tanya Neji yang dari tadi tidak diperhatikan keberadaannya.
Sasuke hanya tersenyum pada Neji.
Damn! Sasuke kau manis sekali! Tersenyumlah padaku juga!
"Aniki, ini Neji. Neji, ini aniki", Sasuke memperkenalkan Neji secara singkat.
"Hyuuga Neji", sapa Neji sambil memberi hormat.
"Uchiha Itachi. Salam kenal!",
Setelah sesi perkenalan, aku memberanikan diri untuk berpamitan.
"Dobe!", seru Sasuke yang mengejarku di belakang.
"Aku tidak ingin bicara denganmu!', cibirku.
"Kau melupakan ini!", Sasuke meletakkan tablet orange di tanganku.
"Ini bukan punyaku!", tolakku.
"Kalau kau tidak suka, kau boleh membuangnya!",
"Gah! Teme!",
"Tolong hargai uang yang telah aku keluarkan untuk membeli itu!", tegasnya.
Percuma membantahnya terus, bisa-bisa dia marah dan membanting tablet ini.
"Baiklah! Akan kucicil pembayarannya tiap bulan! Sankyuu, telah banyak, banyak, baaaaaanyak merepotkanku!", omelku.
Sasuke hanya tersenyum penuh kemenangan.
Kantin kampus.
10 October...
Hari ini adalah hari ulang tahunku.
Aku berharap hubunganku dengan Sasuke membaik, tapi ternyata tidak ada kemajuan, hubungan kami malah semakin memburuk.
Sasuke mulai cuek padaku, dia juga semakin berani bermesrah-merahan dengan Neji di hadapanku, kalau mereka bermesrahan di belakangku sih tidak masalah. Ini di depanku! Dan aku sangat cemburu!
Aku juga tidak mau kalah darinya! Aku juga bisa bermesrah-mesrahan dengan Gaara, karena kami memang Teman Tetap Mesrah. Dan Gaarapun sangat memahami kondisiku, Gaara berakting layaknya uke yang manis untukku.
Damn! Kalau seperti ini bisa-bisa aku malah jadian dengan Gaara!
"Bagaimana kalau kita pacaran?", tanya Gaara membuyarkan lamunanku.
"Haah!", seruku melongo.
"Daripada bermain pacar-pacaran lebih baik kita berpacaran saja?", saran Gaara.
"I, itu...", aku tidak tahu harus berkata apa?
"Aku tahu kau mencintai dia, tapi dia sudah ada yang punya. Kau harus move on, move on, bro!", bujuk Gaara dengan semangat pendemo.
"Aku masih dan tetap mencintainya, sulit bagiku untuk move on. Tapi... akan kucoba...", aku tersenyum pada Gaara.
"Kau menerimaku?", tanya Gaara girang.
"Ya, kita jalankan saja. Mohon bimbingannya", anggukku sambil sedikit membungkuk.
Gaara tersenyum gemas. Dia manis, tapi Sasuke jauh lebih manis. Ah, tidak! Sasuke tidak ada manis-manisnya lagi! Dia menyebalkan! Tapi aku merindukannya~
"Aha! Hari ini hari ulang tahunmu! Aku ada hadiah special untukmu! Nanti sore jam 4, kutunggu di taman timur ya! Bye koi!", seru Gaara.
Aku harus move on. Aku tidak bisa mengharapkan Sasuke lagi. Semoga aku bisa menjalani hubungan serius dengan Gaara.
Hari ini adalah hari ulang tahunku, hari dimana aku akan memulai kembali kisah cintaku dengan orang yang baru juga. Doakan aku ya kawan !
Sore hari di taman timur, tempat yang dijanjikan Gaara.
"Apa aku telat?", tanya Gaara.
"Tidak! Kau tepat waktu...sayang~", aku mencoba untuk memanggil Gaara dengan panggilan mesrah.
Gaara tersenyum dan langsung memelukku. Beruntung taman timur selalu sepi, jadi tidak ada yang melihat adegan dua lelaki saling berpelukan ini.
"Ada yang ingin kuberikan padamu, tapi tolong tunggu sebentar", bisik Gaara.
"Apa itu? Aku penasaran. Hehehee", cengirku.
"Aku menunggu moment yang tepat untuk mengungkapkannya",
"Sepertinya itu kado yang special", tebakku.
"Tentu saja! Ini sudah direncanakan jauh-jauh hari",
"Wah! Aku tidak sabar untuk melihatnya", aku memeluk Gaara dengan erat, aku sangat penasaran dengan apa yang ingin diberikannya.
"Terus peluk aku, dan jangan lepas sebelum aku melepaskanmu duluan", perintah Gaara sambil memelukku semakin erat.
"Ga, Gaara, kau tidak sedang mengancamku kan?", tanyaku merasa aneh dengan cara Gaara memelukku.
Gaara hanya tertawa pelan. Dia pasti merencanakan sesuatu.
"It's show time, baby~", bisik Gaara.
Gaara mulai melepaskan pelukannya. Dia menatapku dengan intens.
"Ikuti perintahku", bisik Gaara.
Gaara membelai rambut pirangku dengan lembut.
"Tetap memelukku", perintah Gaara pelan.
"Baiklah, lalu?",
"Pejamkan kedua matamu, lalu ikuti instruksi berikutnya", jelas Gaara.
"Kau ingin menciumku?", tebakku.
"Pejamkan dan kau akan tahu",
"Baiklah!",
Aku memejamkan kedua mataku, aku penasaran dengan apa yang sedang dilakukan Gaara.
Chuuuu~
Aku merasakan sesuatu yang lembut menempel di bibirku.
Gaara pasti menciumku. Apa aku harus membalasnya? Ya, aku harus meresponnya.
Belum sempat aku merespon, Gaara sudah menjauhkan bibirnya dariku.
"Buka matamu", perintah Gaara.
Aku langsung membuka kedua mataku, kulihat Gaara sedang berseringai.
Apa maksud seringaimu itu, Gaara?
"Balas ciumanku~", perintah Gaara sepelan mungkin.
"Hn!", anggukku.
Aku menarik dagu Gaara kemudian mendekatkan wajahku ke wajahnya.
"Kau brengsek, Dobe!", teriak seseorang yang kukenal.
Dengan cepat aku menghadap ke belakang, kulihat Sasuke sedang memandangku dengan tatapan kematian, aura di tubuhnya terasa menyeramkan.
"Sa, Sasuke...", cengirku ketakutan, sejak kapan Sasuke ada di belakangku?
"Aku membencimu!", ketus Sasuke sambil melempar sesuatu ke wajahku.
Dengan sigap aku menangkap sesuatu yang kecil itu sebelum mengenai wajahku.
Sebuah gantungan mini berbentuk rubah berekor 9 dengan bulu berwarna orange?
"Intruksi selanjutnya", Gaara mulai bersuara.
Aku hampir saja melupakan keberadaan Gaara di sini.
"Kejar dia. Tanyakan padanya mengapa dia memarahimu 'brengsek'? Mengapa dia membencimu? Dan mengapa dia kabur begitu saja? Sana! Cari tahu!", perintah Gaara.
"Ga, Gaara...", aku tidak percaya ternyata Gaara sengaja merencanakan ini.
"Maafkan aku~", lirihku.
Aku segera berlari mengejar Sasuke.
Beruntung Sasuke larinya lambat, jadi aku tidak kehilangan jejak.
Aku mendekati Sasuke yang berdiri menopang diri di dinding gedung, dia mencoba mengatur nafasnya yang tidak beraturan.
"Sasuke?", panggilku.
"Pergi~", lirihnya.
"Mengapa kau memarahiku 'brengsek'?", tanyaku.
"Kau... memang brengsek~",
"Mengapa kau membenciku?",
"Karena kau menyakitiku!", ketusnya.
"Aku menyakitimu?", tanyaku.
Sasuke terjongkok, menyandarkan punggungnya di dinding.
"Aku sakit, Dobe~ dan ini karenamu~ kau menyakitiku~ kau terus menyakitiku~", lirih Sasuke.
Aku berjongkok, menyamakan posisiku dengan Sasuke.
"Apa yang telah kuperbuat sehingga kau tersakiti?", aku menyingkirkan poni Sasuke yang menutupi wajahnya.
"Jangan sentuh aku!", Sasuke menepis kuat tanganku, dengan cepat dia menutupi wajahnya kembali dengan poni.
"Come on, Sasuke~ Jelaskan padaku~", rengekku sambil menguncang-guncang lutuk Sasuke.
"Aku sakit saat kau bersama si panda itu!", jelas Sasuke.
Panda? O, maksudnya Gaara?
"Kau cemburu?", godaku.
"Tidak tahu!", ketus Sasuke.
"Iyaa! Kau pasti cemburu!", tegasku.
"Aku tidak tahu! Rasanya sakit melihat kau dekat dengannya! Rasanya ingin...", tubuh Sasuke bergetar kuat.
"Huhuhuhuuu~ Kau menyakitiku~ kau menyakitiku, Dobeee~", Sasuke berhuhuhuhu sambil meninju brutal ke arahku.
Aku mencengkram kedua tanganya supaya tidak mengenai wajahku.
"Kau mencintaiku?", aku memelukknya.
"Aku membencimu~", jawab Sasuke.
Sasuke memelukku, dia mencengkram kaos belakangku dengan kuat.
"Aku membencimu~ sangat membencimu~", lirih Sasuke.
"Aku mencintaimu, saaaangat mencintaimu!", balasku.
"Kau selalu bermesrahan bersama si panda itu. Kau tidak peduli padaku lagi, kau selalu tidak menghiraukanku, kau juga selalu marah-marah padaku, aku memanggilmu dan kau sama sekali tidak mendengar. Kau tahu aku sangat sakit, sangat sakit diperlakukan seperti itu olehmu!", Sasuke mencurahkan semua isi hatinya dalam pelukanku.
Aku membelai rambut pantat ayamnya.
"Aku sengaja bermesrahan dengan Gaara, karena aku cemburu melihatmu bermesrahan dengan Neji. Maaf kalau aku terkesan tidak peduli dan cuek terhadapmu, ini aku lakukan agar aku bisa melupakanmu. Aku marah karena kau selalu menarik perhatianku, kalau aku terus melihatmu, bagaimana aku bisa move on?", jelasku.
"Kau membenciku, aku tahu itu",
"Aku membencimu, tapi rasa cintaku mengalahkan semuanya",
"Berhenti bergombal gembel!", Sasuke meninju dadaku.
Aku melepaskan pelukanku darinya.
"Uchiha Sasuke, tolong beri aku kepastian!",
Aku menarik dagu Sasuke dan menempelkan bibirku ke bibirnya. Aku terus melumat bibirnya.
Come on, Sasuke! Balas aku! Kalau kau tetap tidak mau membalasku, aku terpaksa harus menyerah sepenuhnya.
Hampir saja aku menyerah dan melepaskan ciumanku, karena Sasuke hanya diam saja.
Tapi, aku merasakannya!
Ooh! Jashin! Aku tidak menyangka bahwa Sasuke meresponku!
Sasuke melumat bibirku, lidahnya menggelitik bibirku. Sasuke membuka mulutnya, dengan mudah aku memasuki mulutnya. Bermain-main dengan lidah Sasuke.
Hey, Sasuke! Akhirnya kau mendengarkanku!
Terputus
Wah, ini udah chapter 11, tapi masih belum menunjukkan kejelasan tentang sasUKE dan keluarganya.
Apa sebaiknya saya ganti sudut pandang aja ya?
tapi ini bakal melenceng dari misi saya yang rencananya mau bikin full sudut pandang Naruto.
Aduh~ Galaw saya #peluksasUKE
