Kris adalah enigma. Kris adalah paradoks. Kris adalah pandora.

Bahkan otak encer Joonmyeon tak bisa memecahkan orang seperti apa pria bernama asli Wu Yifan itu.

Bukan salah Joonmyeon kalau dia mendapat kesan pertama yang buruk dengannya karena insiden kopi. Ia sudah berniat untuk tidak memaafkan Kris karena kekesalannya, tapi ia lihat tindakan itu tidak bisa dibilang tepat karena, mau tidak mau, mereka adalah satu grup untuk tahun-tahun ke depan.

Debut mereka berjalan dengan sangat mulus. Terlalu mulus, bahkan, membuat Joonmyeon sedikit khawatir berapa jumlah pasti uang yang diinvestasikan untuk mereka. Karena makin besar jumlah digitnya, maka makin besar ekspektasi dan beban mereka.

Joonmyeon benar-benar terkejut saat ia dipilih menjadi leadernya. Alibi umurnya yang tertua atau lama pelatihannya tidak menenangkan, karena sesungguhnya Joonmyeon orang yang kikuk dan kadang bingung harus berbuat apa. Tidak seperti Kris yang ramah dan humoris walau dengan cara yang berbeda, yang bisa beradaptasi sedemikian cepat sampai-sampai Chanyeol dan Minseok lengket padanya, padahal mereka beda bahasa dan beda negara.

Joonmyeon tidak bisa seperti itu. Dengan anggotanya yang sesama Korea saja dia terlanjur kagok. Ia tidak bisa mendekati anggota dari Cina dengan mudah.

(Tidak seperti Kris yang dalam satu minggu sudah dekat dengan separuh anggota EXO—yah, kecuali dirinya)

"Aku tidak pernah menyangka kalau Kris-hyung orangnya seperti itu."

Baekhyun melempar tatapan aneh pada Chanyeol yang tampak bangga pada ucapan Kyungsoo.

"Benar, kan? Aku tahu kau akan bilang begitu, Kyungsoo! Maksudku, aku bahkan tidak pernah kenal dekat dengannya saat masih trainee dulu, tapi dia benar-benar baik dan aku tak bisa tak menganggapnya seperti kakakku."

"Walau dia orang Cina?" potong Baekhyun.

Chanyeol mengangkat sebelah alis. "Iya, walau dia Cina. Memangnya kenapa?"

Baekhyun memalingkan muka.

Di antara enam anggotanya, memang Baekhyun yang agak sinis pada anggota Cina. Tetapi sebenarnya dia pemuda yang baik, Joonmyeon tahu itu. Walau agak pemarah dan sensitif, dia pembuat keramaian nomor satu dan dekat hampir dengan semuanya. Mungkin Baekhyun hanya terseret arus stereotip Korea-lebih-baik-daripada-Cina, Joonmyeon hanya berharap waktu bisa menghilangkannya.

Joonmyeon mendapati banyak masalah di tahun pertama mereka. Tentang Baekhyun yang sensitif. Tentang Chanyeol yang berkencan dengan seorang wanita padahal jelas-jelas peraturan dilarang-berkencan-untuk-tiga-tahun-pertama diberlakukan. Tentang Jongin dan Kyungsoo yang kurang akur karena masalah Moonkyu—dia calon trainee yang hendak debut tetapi digantikan Kyungsoo, dan notabene adalah sahabat Jongin. Tentang Sehun si maknae tujuh belas tahun yang sulit beradaptasi. Tentang dirinya yang tak bisa memanajemen grupnya sendiri...

Kadang saat Joonmyeon pulang ke rumah orang tuanya, ibunya harus direpotkan oleh tangis frustasi pemuda itu.

"Mereka tidak mau mendengarkanku, Ma," adunya. "Aku sudah berusaha semampuku. Aku menyuruh Jongin dan Kyungsoo untuk duduk bersama dan menyelesaikan masalah mereka. Aku sudah menasihati Baekhyun agar tidak bersikap seperti itu karena ia bisa menimbulkan masalah. Aku sudah menyuruh Chanyeol memutuskan hubungannya karena ini bisa jadi skandal. Aku juga sudah mencoba bicara dengan Sehun dan bahkan mengajaknya tinggal sekamar denganku tapi dia tidak mau."

Joonmyeon bukan tipe anak manja. Tapi ada saatnya di mana ia jatuh dan butuh seseorang untuk menyangganya. Seperti saat ini.

Ibunya hanya mengelus rambut lembutnya.

"Aku harus bagaimana?"

"Bukankah kau punya rekan sesama leader? Anak Cina itu?"

Joonmyeon mengangkat kepala.

"Kris?"

"Bukankah kau bilang di televisi waktu itu kalau kau sangat dekat dengannya? Kalau kau tidak bisa menyelesaikan masalahmu seorang diri, mintalah bantuannya. Dua batang lebih kuat dari satu, begitu kata orang-orang lama. Lagipula, Joon-ie, dia terlihat seperti orang baik."

Hari itu, Joonmyeon mendengus.

Tetapi keesokannya, dan keesokannya lagi, dan keesokannya lagi, ia menemukan dirinya mengamati pria jangkung itu.

"Gege! Aku mau mandi tapi airnya dingin!"

"Tao, kita tidak punya pemanas di sini. Kalau kau mau mandi air hangat, biar kupanaskan dulu airnya. Tunggu sebentar."

Joonmyeon tidak tahu mereka bicara apa karena keduanya menggunakan Mandarin cepat, tetapi Kris kemudian pergi ke dapur dan mengisi satu panci penuh dengan air sementara Tao duduk menunggu di depan televisi dengan sikat gigi digenggam dan handuk melingkari. Lalu beberapa menit kemudian Kris memanggil nama Tao dan pemuda mirip panda itu melompat ke kamar mandi dengan Kris membawa sepanci air panas. Belum sampai di situ, Tao bahkan merengek minta ditemani (Joonmyeon mengasumsikan seperti itu, karena nyatanya Kris tetap berdiri di ambang pintu dengan muka masam).

"Ayo cepat mandinya!"

"Sebentar, Ge! Sabunnya belum dibilas!"

"Aish, kau ini! Kutinggal kalau lama."

"Jangan, Ge! Jangaaan!"

Itu hanya permulaan. Lalu Yixing datang dan berkata sesuatu pada Kris, yang lalu mengusak rambut pemuda itu dan menyuruhnya duduk, sementara ia pergi ke dapur dan berkutat dengan beberapa bubuk obat.

Tao menjerit karena ditinggal mandi sendirian. Kris tergopoh datang masih dengan bubuk jahe di tangan.

"Jangan ribut! Kau mau kusiram jahe? Aku sedang membuat obat untuk Yixing!"

Joonmyeon terkesiap mendengar Kris keceplosan bicara dalam bahasa Korea.

"Ada apa dengan Yixing?"

Itu pertama kalinya ia memberanikan diri memulai percakapan dengan co-leadernya. Joonmyeon mendekati Kris yang menatapnya bingung.

Hubungan mereka kurang baik, sampai detik ini.

"Uh," Kris masih belum terlalu terbiasa bicara bahasa Korea. "Yixing bilang perutnya tidak nyaman. Aku takut maagnya kumat."

"Yixing punya maag?"

"Iya. Ini gara-gara saat trainee dia jarang makan tepat waktu. Terus saja memaksakan diri latihan, latihan, latihan. Padahal aku sudah bilang kalau itu bahaya." Ia menggerutu. "Jadi idol itu susah. Kalau kesehatan tidak dijaga, dia mana bisa tampil maksimal, kan? Tapi Yixing memang keras kepala. Obat ini harus cepat diminum agar lambungnya tidak makin parah."

Kris sampai tahu sejauh itu, Joonmyeon terkesiap. Dan di sini ia merasa sudah melakukan semua yang ia mampu sebagai seorang leader. Padahal, apa ia tahu riwayat penyakit anggotanya?

Tidak.

Joonmyeon mendadak merasa kecil. Kris menoleh padanya.

"Yang lainnya juga. Jaga mereka baik-baik. Kalau sampai terjadi sesuatu pada EXO-K, kau yang harus pertama bertanggung jawab."

"Karena aku leadernya?"

Kris mengernyitkan alis.

"Tentu tidak. Ini bukan masalah siapa leadernya. Bukankah dalam tim kita harus saling menjaga?"

Kris meninggalkan Joonmyeon termangu akan ucapannya.

Esoknya, Yifan mendapati lemari es mereka penuh dengan bermacam obat. Joonmyeon mendapat gelar "maniak vitamin" dari Baekhyun karena sikap barunya.

Kesibukan mereka terus berlanjut. Rangkaian wawancara, penampilan, menerima penghargaan, dan yang sebagainya itu terus berdatangan tanpa henti.

"Whoaaa! Dimsum!"

Joonmyeon menengadah dari ponselnya. Ruang ganti tiba-tiba ramai. Luhan, Tao, Yixing, dan Minseok mengerumuni sesuatu dalam sterofoam—yang ternyata adalah empat porsi besar dimsum panas.

"Ini semua Kris yang belikan?" mata Minseok membulat senang. "Terima kasih, Kris!"

Kris tergelak dari depan meja rias, tatanan rambutnya belum selesai dirapikan. "Sudah, makan sana."

"Gege tahu saja kalau aku kangen masakan ini," Tao menggigit dimsum dengan lelehan air matanya. Luhan buru-buru mengusap dengan sehelai sapu tangan. "Aku terharu sekali... hiks. Terima kasih, Kris-ge! Hiks..."

"Tao-yah, jangan menangis," Yixing berkata. "Dimsumnya nanti jadi asin kejatuhan air matamu."

Minseok tertawa, sekaligus menyeret tangan Jongdae yang daritadi bersandar pada tembok. "Ayo, Chen, kita makan bersama!"

"Tapi, Hyung—"

"Alaaah! Ayo, ikut!" Jongdae yang ditarik tidak bisa melawan. "Walau kau cemberut terus, kau tidak akan mengubah apa-apa. Lebih baik terima saja dan nikmati semua ini."

Joonmyeon tahu betul apa maksud mereka. Bukan rahasia lagi kalau Jongdae kecewa karena ia diputuskan masuk subunit Cina dan bukan Korea. Bukan rahasia juga kalau subunit Cina sudah diremehkan dibanding Korea.

Padahal menurut Joonmyeon tidak. Mereka punya ciri khas sendiri-sendiri. Jika EXO-K terkenal di kalangan staff karena skill mereka, maka EXO-M terkenal karena mereka lebih berwarna.

Tapi walau Joonmyeon melakukan pembelaan seperti itu, bukan berarti ia tidak akan kecewa juga seandainya ia di posisi Jongdae.

Hipokrit.

Ia hanya mengamati dari kejauhan saat Minseok tertawa dan main-main menjejali Jongdae dengan dimsum, dibantu Yixing. Ruang ganti jadi lebih ramai dengan riuh kerumunan kecil itu, sampai hair stylist Chanyeol sendiri terkikik mendengarnya.

Lalu Sehun, Oh Sehun, si maknae yang pendiam dan super pemalu, si remaja tanggung jawab Joonmyeon, mendekat selangkah demi selangkah pada mereka. Luhan yang melihatnya lalu tersenyum lebar, kemudian meraih tangannya, menariknya dan mengajaknya makan bersama.

Joonmyeon terkesiap. Ini pertama kalinya ia melihat Sehun tertawa.

(Padahal saat bersama anggota EXO-K lainnya, dia jarang sekali lepas seperti itu)

Kemudian makin ramai saat Kris sudah selesai dengan tatanan rambutnya dan sekarang giliran Minseok. Jongdae sudah bisa memulas senyum kecil dan diperlebar dengan Kris yang menepuk pundaknya, berkata sesuatu tentang 'kerja bagus' dan 'jangan cemberut terus, oke?'

Joonmyeon tidak tahu pikiran ini datang dari mana. Tapi setelah melihat subunit Mandarin di depannya dan beralih pada anggotanya sendiri yang sibuk dengan ponsel mereka...

Perbedaan yang begitu mencolok.

Joonmyeon merasa EXO yang sebenarnya adalah pimpinan Kris. Bukan EXO-nya.

"Dasar Cina," dengus Baekhyun di sampingnya. "Tidak bisa diam, ya. Itu cuma dimsum."

Joonmyeon menggelengkan kepala. Berusaha mengenyahkan pikiran negatif.

Tidak baik pesimis seperti ini.

Ia bertekad. Dalam hati ia bertekad akan menaikkan sumbu persaingan itu. Ia akan menjadi leader yang lebih baik dari Kris. Tunggu saja, Kris. SM telah memilihnya dan dia akan menjadi leader yang terbaik dan ia akan mengalahkannya. Ia akan menunjukkan kalau ia adalah yang terbaik. Walau Joonmyeon kalah tinggi badan dan kharisma, ia akan pastikan ia tidak kalah—

"Myeon, mau?"

Senyum kecil Kris saat menyodorkan sepotong dimsum seperti sekaleng air disiram pada lilin kecil permusuhannya.

Joonmyeon berkedip.

Ia mengambil dimsum itu, lalu menggigitnya sepotong kecil. Kris pergi setelah mengusak rambutnya.

Seraya menelan, pemuda mungil itu menunduk. Malu akan dirinya sendiri.

.:xxx:.

Prekuel

.

.

.

Dusta Putih

.

.

.

.

.:xxx:.

"Kenapa kau begitu membencinya?"

Baekhyun merasa Chanyeol menanyakan hal yang jelas jawabannya.

"Entah. Karena dia Cina?"

"Tidak ada yang salah dengan menjadi Cina! Baekhyun, kau jangan rasis—"

"Ah, ah. Aku tidak suka bicara dengan tim pro Cina sepertimu dan Jongin."

"Baekhyun, kuberitahu kau sesuatu. Kris-hyung bukan orang seperti itu. Rasa bencimu tidak beralasan. Dia orang yang baik dan sangat dewasa. Cobalah mengerti posisinya."

Baekhyun melenggang pergi tanpa menghiraukan. Tapi ucapan Chanyeol terus berngiang.

"Hati-hati naik eskalatornya."

Yixing menoleh dan berterima kasih. Minseok mengangguk dan tersenyum. Kris mempersilahkan mereka jalan lebih dulu.

"Baekhyun, hati-hati dengan eskala—"

"Yah! Kau pikir aku ini anak kecil?!"

Ekspresi Kris berubah.

"Ssh, ini bandara. Jangan buat keramaian."

Baekhyun mendengus. Berlalu, tidak menoleh sedikitpun pada Kris yang menunggu hingga anggota terakhirnya sudah naik dan baru ia menapakkan kaki pada pita berjalan itu dengan segunung troli koper yang ia dorong sendiri.

"Hyung, mau kuban—"

"Duluan saja, Jongin. Kakimu masih sakit, kan?"

Jongin menunduk seraya bersemu. Malu karena Kris tahu titik lemahnya.

Yang paling sulit adalah menembus kerumunan fans yang berkumpul menunggu mereka. Kris sudah memberikan bawaannya pada petugas imigrasi ketika keramaian itu menarik perhatiannya.

Ia bersyukur tinggi badannya membuatnya tidak perlu berjinjit untuk mengetahui apa yang terjadi. Seorang fans mendorong Jongin sampai jatuh, lalu mengerubunginya dan mengarahkan lensa bazooka mereka padanya.

"JONGIN-IE!"

"NINI!"

Joonmyeon, Kyungsoo, dan Chanyeol tampak begitu terkejut akan serangan itu. Tapi tidak bisa disalahkan, posisi mereka agak jauh dari Jongin yang berusaha bangkit tapi gagal untuk sekian kali.

Darahnya mendidih tiba-tiba. Jongin adalah maknae yang sangat ia sayang. Walau kelihatan keren dan tampan 24/7, Jongin itu masih kecil dan ia masih lemah. Cedera pergelangan kakinya bisa bertambah parah kalau ia mendarat pada kaki yang salah saat jatuh tadi.

Kalau sampai fans itu menyakiti Jongin... walau mereka adalah fans... Kris bersumpah...

Lalu Baekhyun berlari, mendekati Jongin, menyenggol kamera besar seorang fans (atau masternim?) dan memapah Jongin berdiri.

Tapi tidak. Ia mendengar seruan itu dilayangkan pada Baekhyun keras sekali seperti tamparan.

"Dasar anjing! Minggir! Kau menghalangi kami!"

"Yah, minggirlah, Anjing!"

Kris tidak bisa diam lebih lama lagi.

Terberkati tubuhnya yang gigantik, ia bisa memandu Baekhyun dan Jongin keluar dari kerumunan gila itu. Sekalipun ia harus meringis saat fans-fans yang marah itu memukulkan lensa mereka dan mencakarnya kulitnya yang hanya dibalut kemeja berlengan sepertiga.

Kyungsoo segera berlari menghampiri Jongin, Chanyeol di sampingnya.

Joonmyeon sudah sembab matanya. Bukan hanya dia, sebenarnya, tapi semuanya.

Baekhyun menunduk, tak berani mendongak. Dikatai seperti itu tentu melukai harga dirinya.

"Gila," Jongdae akhirnya bisa bernafas. "Jongin, tidak apa-apa? Bisa jalan? Perlu kucarikan kursi roda?"

Jongin menggeleng, tentu saja. Ia tidak mau jadi beban.

Chanyeol marah luar biasa. Ia mengatai para fans itu selama perjalanan mereka menuju ruang tunggu. Baekhyun masih lesu di sampingnya, hanya menghadap ke luar tanpa minat.

Pemuda mungil itu menoleh saat tangan besar mendarat di pundaknya.

"Kau sudah bertindak benar. Bagus sekali, Baekhyun."

Baekhyun mendongak, menatap Kris yang tersenyum kecil. Tetapi ia menampik tangannya.

"Aku tidak butuh hiburan."

Kris tidak beradu mulut dengannya. Ia mengangguk, mengusak rambut Baekhyun main-main, lalu beranjak mendekati Joonmyeon yang masih memijat kaki Jongin.

"Inilah kenapa kau harus beritahu anggotamu untuk berhati-hati, dan selalu berjaga di dekat mereka. Kalau perlu, berjalan di paling belakang. Tidak ada yang tahu apa yang perempuan gila itu bisa lakukan lain kali."

Joonmyeon menunduk dari tatapan tajam Kris. Mencatat semuanya dalam otaknya.

"Baik. Maafkan aku."

Kris mengangguk, lalu menghembuskan nafas.

"Maaf, aku tidak bermaksud marah padamu. Aku hanya... kesal." Ia menatap Joonmyeon lama sekali. "Aku tidak ingin ada yang terluka."

.:xxx:.

Joonmyeon tidak pernah tahu ada yang aneh dengan manajemen grup mereka sampai saat itu.

"Tidak, Manajer-ge, tunggu sebentar—"

"Ada apa lagi?!"

Pemuda mungil itu berhenti dari langkah riangnya, berdalih sembunyi di balik dinding dan menguping. Kertas berisi bagian liriknya ia pegang erat. Hendak berbangga setelah tadi direktur voka memuji suaranya.

Antara Kris dan manajer mereka seperti sengit sekali. Ada apa?

"Apa maksudnya aku tidak dapat bagian?!"

Joonmyeon berkedip. Kris tidak pernah bicara seperti itu pada orang lain. Ia selalu bicara dengan lembut dan penuh sopan, tidak meninggikan nadanya seperti—

"Sudah jelas, kan? Semua bagian akan diberikan pada Chanyeol. Ada yang tidak kau mengerti?"

Bagian? Bagian lirik untuk album musim dingin mereka, maksudnya?

"Maaf, aku tidak suka kita bicara seperti ini. Tetapi Lee sonsaeng sudah memberiku part rap itu dan aku sudah mati-matian berlatih selama tiga bulan! Kau tidak bisa—"

"Bukan aku yang memutuskan, Kris. Aku hanya menyampaikan saja. Dan bukan urusanku kalau kau sudah berlatih sampai tiga bulan atau tiga tahun. Part rap itu diputuskan lebih cocok jika Chanyeol yang melakukannya dan kita harus segera eksekusi semua itu karena tanggal rilis albumnya makin dekat."

"Tapi—"

"Jangan bertindak bodoh. Kau tahu kalau kau memaksa, akan jadi lebih buruk lagi. Biarkan saja seperti itu."

"Kalau begitu, aku tidak dapat part lirik sama sekali?"

Joonmyeon bisa dengar dengan jelas kekecewaan yang melapisi suara berat Kris.

"Tidak. Kau sudah selesai?"

Tidak ada jawaban.

"Aku pergi dulu."

Ada kata 'terima kasih' pelan dan Joonmyeon terlonjak saat manajer mereka menyapanya dengan muka heran.

"Sedang apa kau di situ, Suho?"

"Uh... t-tidak."

"Jangan terlalu banyak main-main. Segera latihan vokal. Kau punya jadwa sparring setelah ini, kan?"

Joonmyeon mengangguk pelan. Pria itu menepuk pundaknya untuk memberi semangat, lalu melenggang pergi.

(Joonmyeon tidak yakin Kris juga mendapat tepukan yang sama pada pundaknya)

"... Suho?"

Kris jelas telah mengusap apapun itu yang keluar dari matanya. Joonmyeon pura-pura tidak tahu kalau mata jernih Kris sudah berubah merah dan suaranya jadi serak.

"Hao, Kris, um... aku hanya mau... mengajakmu makan ayam goreng?"

(Joonmyeon menyembunyikan kertas liriknya di belakang punggung)

.:xxx:.

Tidak hanya itu. Joonmyeon memperhatikan saat akhir Desember tiba dan mereka harusnya mendapat jatah upah bulanan mereka.

Joonmyeon bertugas menyampaikan pada anggotanya kalau gaji mereka sudah dibayar lewat transfer menuju rekening masing-masing. Lima anggotanya yang tengah bersantai di ruang utama asrama segera mengecek rekening masing-masing melalui ponsel mereka. Chanyeol dan Baekhyun yang paling heboh. Kyungsoo hanya mengonfirmasi dengan anggukan kalau uangnya sudah masuk. Jongin mengajak semuanya untuk makan bersama di restoran cepat saji terdekat dan semuanya sudah merencanakan menu yang akan dipilih—yang tentunya lebih mahal dari biasanya. Jongdae dan Minseok bergabung, lalu berencana mengajak Sehun juga yang saat itu sedang ke toilet.

Joonmyeon tersenyum melihat keceriaan mereka. Tetapi ia tidak tak melihat Yifan yang meng-scroll ponselnya dengan muka datar. Ia juga tidak tak mendengar Tao bernafas berat dan Luhan berbisik, 'Ini sudah keterlaluan.'

"Tidak bisakan kalian berlaku adil pada kami sedikit saja?!"

Joonmyeon tidak pernah berniat buruk dengan menguping. Tidak. Ia hanya kebetulan mendengar gebrakan meja di kantor pribadi manajer mereka dan ia segera mencari tempat untuk sembunyi.

"Beraninya—"

"Kau bukan atasanku, Tuan!"

"Aku pun bukan orang yang membagi gajimu!"

Joonmyeon masih belum memahami apa yang terjadi hingga mereka saling adu suara seperti ini.

Hening sebentar. Sepertinya Kris dan manajer mereka masih menenangkan pikiran. Joonmyeon tanpa sadar menggigiti kukunya sendiri.

Khawatir.

"Ini... bulan ke lima gaji kami ditahan."

Kami?

"Kau pikir kami korupsi, bocah? Seenaknya saja! Gaji anggota Cina akan dibayarkan secara penuh awal tahun nanti—"

Anggota Cina?

"Akhir tahun, awal tahun, pertengahan tahun, akhir tahun lagi! Kalian tidak memikirkan perasaan kami saat melihat rekan kami menerima gaji mereka? Gege," Kris terdengar memohon kali ini. "Kami juga butuh uang itu. Bukan untuk kami sendiri, tapi juga untuk keluarga kami."

Joonmyeon menoleh pada ruangan itu.

Jadi... selama ini para anggota Cina belum mendapat gaji mereka?

"Kami tidak berasal dari keluarga kaya. Kalian tahu itu."

Manajer mereka berteriak lagi.

Joonmyeon tidak mendengarnya. Pikirannya sudah penuh dengan keterkejutan karena ternyata ada ketidakadilan yang tidak mereka ketahui—kenapa Kris tidak pernah memberitahunya hal ini? Joonmyeon pasti bisa membantunya, kan? Kenapa Kris diam saja dan, apa dia bilang, sudah lima bulan?

Sudah lima bulan bayaran mereka tidak turun?

Lalu Yifan keluar dari ruangan itu, dengan muka kusut, langsung menuju toilet. Mengabaikan teriak marah manajer mereka dari dalam.

Joonmyeon tidak menampakkan diri. Tetapi ia berbalik, keluar dari gedung agensi itu. Tidak jadi mengonfirmasi pada manajer mereka kalau EXO-K sudah menerima semua gajinya.

Perasaannya campur aduk.

Tapi sudah mendingan saat keesokannya, Luhan dan Tao dan Yixing tampak berseri. Ditilik dari tawaran Luhan menraktirnya bubble tea, Joonmyeon menerka dalam hati bahwa masalah gaji sudah selesai—bayaran mereka sudah turun.

Joonmyeon mengurungkan diri untuk menuntut hal yang sama pada manajernya. Ia pun di pihak anggotanya, Cina maupun Korea.

Tapi serekah senyumnya memudar saat larut malam, di samping ranjang Luhan yang sudah terlelap, ia melihat Kris duduk dengan kepala menunduk, melempar ponselnya ke belakang dan memejamkan mata dengan nafas berat.

"Semuanya sudah menerima bayaran mereka. Kenapa hanya saya yang belum?"

Siang harinya, lagi-lagi Kris menemui manajer mereka di COEX Atrium. Joonmyeon masih berada di tempat sembunyi yang sama saat itu.

"Bukankah menurunkan bayaran anggotamu sudah cukup? Itu kan keinginanmu? Agar anggotamu bisa tersenyum seperti anggota Suho?"

"Tapi saya juga bekerja untuk SM! Ini tidak adil, Manajer-ge."

"Kris, kuberitahu kau satu hal. Harusnya kau senang karena anggotamu senang. Kau ini leader mereka, ingat?"

Joonmyeon tidak mendengar sanggahan dari Kris untuk waktu yang lama.

"Aku juga membutuhkan uang itu. Kumohon."

"Uang, uang, uang terus! Kerja lebih giat lagi dan asah kemampuanmu! Kalau skillmu hanya begini saja, Chanyeol bisa menggantikanmu sepenuhnya!"

"Jika kalian tidak bisa bersikap adil," Kris menggeram. "Aku bisa saja menuntut kalian! Ini pelanggaran kontrak!"

Gebrakan meja.

"Jangan macam-macam! Kau akan tahu sendiri akibatnya kalau bermain-main dengan agensi terbesar di Korea! Kau ini berada di negeri orang, Kris! Ingat posisimu!"

Joonmyeon tidak pernah melihat Kris semarah itu. Setekad itu.

Ia juga tidak pernah merasa dirinya secemas itu.

.:xxx:.

Joonmyeon ingat Kris bercerita saat itu.

"Aku bukan berasal dari keluarga konglomerat di Cina. Aku tidak seperti Luhan."

Kris duduk di sampingnya, dan Joonmyeon mendengarkan semuanya.

"Luhan berasal dari keluarga ternama di Cina. Orang tuanya orang terpandang, tapi mereka ingin Luhan jadi pebisnis dan bukan jadi selebriti. Itulah kenapa orang tuanya sangat melarang Luhan kembali ke Korea untuk ikut audisi trainee SM." Ia terkekeh saat mengenang sesuatu. "Tapi kau tahu sendiri Luhan orangnya seperti apa. Dia betul-betul keras kepala. Tidak mengabari orang tuanya saat ia diterima jadi trainee... Luhan malah kabur ke rumahku satu bulan sejak dia jadi buronan keluarganya. Uang bukan masalah untuk Luhan. Tapi passionnya pada musik dan bukan bisnis yang mendorongnya kemari."

Joonmyeon mengaduk teh gelas di tangannya.

"Yixing berasal dari keluarga sederhana di desa kecil di Changsha. Ayahnya juga positif hemofilia, sama sepertinya. Maka dari itu ibu Yixing yang selalu kerja banting tulang karena ayah Yixing tidak bisa menerima sembarang pekerjaan, sehingga ia diasuh kakek dan neneknya dan jadi begitu dekat dengan mereka. Di sana, hemofilia dianggap jadi kutukan keluarga. Yixing adalah anak semata wayang yang suka menyanyi dan menari, suka bermain musik dan membuat lagu sendiri. Dari kami berempat, kami sepakat kalau Yixing adalah yang paling bertalenta. Aku tidak tahu bagaimana Yixing bisa terdampar sampai kemari, tapi sejak kecil dia memang aktif muncul di televisi Cina sejak masih kecil. Semua uang yang ia terima sejak debut, semuanya dikirim ke Changsha dan tidak ada yang ia gunakan untuk dirinya sendiri. Yang ia kenakan, yang ia makan, semuanya adalah kiriman fans. Dan bagi Yixing yang sederhana, semua itu sudah cukup."

Kris menyeruput jus dari gelasnya. Joonmyeon diam mengamati. Menyimak dengan teliti.

"Tao... dia tidak berasal dari keluarga berkecukupan. Dulu keluarganya punya usaha tetapi mereka bangkrut. Tao adalah jenis... orang kaya baru. Matanya silau dengan semua kemewahan dari hidup selebriti. Aku sudah sering mengingatkannya kalau ia tidak perlu semua koleksi Gucci itu, tapi dia tidak pernah dengar." Kris menghembuskan nafas panjang. "Keluarganya di Cina sedang berusaha membangun usaha mereka lagi. Ayahnya sangat protektif pada Tao, dan ibunya juga ibu yang sempurna. Tao sesungguhnya tidak perlu sampai datang kemari dan menjadi artis karena ia bisa hidup sejahtera hanya dengan mengajarkan kungfu dan wushu di Daratan Utama."

Kris menoleh, manatap matahari terbenam dari lantai dua restoran keluarga yang mereka tempati. Joonmyeon ikut menoleh.

"Jongdae dan Minseok... Minseok sangat ramah pada kami, tapi Jongdae tidak. Aku tidak menyalahkannya. Ia berharap begitu banyak pada debut kali ini, dan begitu dengar kalau ia dimasukkan dalam subgroup Mandarin yang notabene adalah nomor dua, perasaannya pasti hancur sekali. Aku betul-betul mengerti itu, dan aku tidak menyalahkannya."

Ceritanya selesai sampai saat itu.

Joonmyeon merasa dadanya sesak akan fakta bahwa ia tahu sedikit sekali mengenai anggotanya.

Tidak seperti Kris.

"Lalu kau?"

Kris melirik.

"Maaf?"

"Kau sudah menceritakan semua orang. Lalu kau sendiri?"

Kris tersedak, lalu menatap Joonmyeon dalam-dalam.

"Tidak ada dariku yang bisa diceritakan."

"Ceritakan padaku mengenai dirimu, apapun itu."

Joonmyeon menunggunya bercerita. Menunggu Kris membuka dirinya.

Pemuda yang lebih jangkung terkekeh sejenak.

"Apa yang menarik dariku, Joonmyeon? Aku lahir di Cina. Orang tuaku bercerai dan ayahku yang bajingan itu pergi bersama wanita lain. Aku dan ibuku memulai hidup baru di Kanada. Beberapa tahun kemudian, aku kembali ke Cina, bersama hutang seribu dolar yang ibuku pinjam untuk memberiku makan dan menyekolahkanku di sana." Senyumnya jatuh, dan Joonmyeon menelan ludah. "Aku tidak mau munafik. Aku bekerja di sini agar aku terkenal dan mendapat banyak uang. Aku punya hutang yang ditanggung ibuku dan aku yang akan membayarnya."

Mereka berpisah tidak lama kemudian. EXO-M punya jadwal promosi di Cina dan Joonmyeon tidak sempat mengantar mereka ke bandara karena ia pun punya kesibukan sendiri.

Tapi seraya mengirim pesan 'semangat untuk promosi di Cina, Kris', ia tak bisa tak memikirkan semua ucapan Kris tadi.

Kris benar. Semua orang punya kesulitan sendiri-sendiri dalam hidup mereka, dan tak selayaknya Joonmyeon menganggap hidupnya adalah yang paling susah.

Kris telah tumbuh dewasa begitu cepat daripada pemuda seumurannya. Joonmyeon tak bisa tak mengaguminya. Semua niatan untuk menyainginya musnah dan berganti dengan keinginan untuk belajar lebih darinya.

.:xxx:.

Chanyeol meminta maaf pada audiens dan fans karena leader mereka, Kris, berhalangan hadir di acara sejenis Music Bank itu. Joonmyeon samar-samar mendengar Yixing berbisik pada Luhan di sampingnya.

"Aku khawatir dengan Gege."

Tidak hanya Yixing. Tidak hanya Luhan. Tidak hanya Chanyeol.

Joonmyeon juga.

Pemuda itu sejujurnya tidak setuju dengan perintah manajernya yang meninggalkan Kris sendirian di asrama. Kris demam tinggi sejak malam kemarin, dan bahkan obat serbuk yang Yixing dapatkan dari kiriman orang tuanya belum bisa meredakan demam itu. Luhan menawarkan untuk memanggil dokter, tetapi manajer mereka melarangnya.

"Apa maksud Hyung?" Luhan melotot pada manajer mereka—sudah diganti dengan manajer lain. "Kris-ge sakit! Kau melarangku memanggil dokter?! Bagaimana kalau penyakitnya serius?!"

"Tidak akan serius. Itu cuma demam biasa karena kecapaian. Kalau Kris tidur seharian, pasti nanti sembuh sendiri. Sekarang cepat, kalian bersiap untuk Music Chart hari ini!"

Luhan menolak dan memaksa untuk menemani Kris bersama Yixing, tapi manajer mereka mencengkeram lengan mereka begitu erat dan menyeret keduanya keluar dari kamar Kris dan bentakan 'aku akan mengurus Kris nanti!'

(Joonmyeon sempat kabur dan masuk kamar Kris, meninggalkan segelas air hangat dan segera beranjak sebelum ko-leadernya terbangun.)

Mereka punya event fansign dan baru bisa pulang hampir jam dua belas malam. Manajer mereka berangkat lagi untuk menemui direktur vokal dan sebelas pemuda itu sudah siap untuk jatuh telentang di ranjang masing-masing—saat tiba-tiba Tao berteriak karena tidak menemukan Kris di manapun.

Mereka mencari bersama-sama waau dengan erangan sebal di sana-sini, karena, serius, di asrama sekecil itu untuk apa Kris main sembunyi, kan?

"Merepotkan saja! Aku sudah capek! Aku mau tidur! Kris-hyung!" Baekhyun menyalak, tapi ia segera didiamkan dengan tatapan dingin Jongin.

Tidak ada yang menemukannya. Kekesalan berubah menjadi kekhawatiran, dan moonmyeon sudah akan menelepon manajer-hyung ketika pintu depan terbuka dan Kris masuk dengan kantung hitam di tangan.

Yixing dan Tao seketika menerjangnya dengan berbagai pertanyaan. Chanyeol mendesah lega dan Joonmyeon menurunkan ponselnya saat Kris menjawab pertanyaan mereka—dari mana dia?

"Aku ke apotek sebentar. Beli obat penurun demam."

Semuanya bertatapan. Bahkan Baekhyun pun berkedip bingung.

"Kenapa tidak minta tolong pada staff saja?"

Kyungsoo bertanya, tetapi tidak ada yang menjawab. Sebagian karena tidak tahu jawabannya, sebagian karena mereka terlalu tahu kalau staff takkan ada yang sudi diperintah seorang pekerja hiburan dari Cina.

Kris hanya tersenyum kecil. "Aku tidak mau menyusahkan mereka. Maaf kalau aku membuat kalian khawatir."

"Kau membuat kami khawatir," ujar Tao sedih.

"Apa Kris-hyung sudah baik-baik saja?" Chanyeol menyela.

Kris tidak menjawab. Tapi dirinya yang tiba-tiba hilang keseimbangan sudah menjawab semuanya. Untunglah ada Luhan di sampingnya yang langsung memapahnya.

"Kris, dokter belum memeriksamu?"

Kris menggeleng pelan. Kepalanya tertunduk.

Tangan Luhan mengepal. Chanyeol mendecih.

"Dasar manajer gila, dia belum memanggil dokter?! Kalau penyakit Kris fatal, memangnya dia mau tanggung jawab, hah?! Ada apa dengan semua ini?"

Joonmyeon sendiri tidak kalah murka. Semua ini sudah keterlaluan. Bagaimanapun, Kris adalah artis SM dan dia sedang sakit. Bagaimana bisa ia dibiarkan berjalan ke apotek sendirian untuk membeli obat—

Luhan bersumpah ia akan menghabisi manajer mereka keesokan harinya. Itu satu dari sekian momen langka di mana Luhan menunjukkan sisi liarnya.

.:xxx:.

2013. Wabah flu melanda Korea Selatan dan Joonmyeon adalah salah satu penderitanya.

Memang aneh. Joonmyeon adalah yang paling rutin minum vitamin dan suplemen dan dia yang pertama kena flu. Ironis.

"Kau yakin bisa berdiri, Suho?"

"Tentu, manajer-ge. Jangan terlalu khawatir."

Grup mereka sudah mengalami pergantian manajer lebih dari dua kali selama setahun ini. Tapi itu wajar, mengingat SM memang biasanya menggilir manajer mereka per tahun dari satu grup ke grup lain. Manajer mereka yang baru ini punya aksen Busan yang khas, dan sekarang tengah membantu Joonmyeon berdiri walau sebenarnya itu tidak perlu.

"Tidak pusing?"

"Tidak. Hanya sedikit pilek saja."

Joonmyeon tetap ikut di acara pembagian penghargaan itu untuk menerima sejumlah trofi. Walau kadang ia terbatuk-batuk dan suaranya berubah sumbang, ia tetap harus ikut selaku leader dari grupnya.

Tapi yang tidak ia sangka, Kris juga ikut.

Joonmyeon sudah akan bertanya apa Kris sudah baik-baik saja, karena baru kemarin pria itu memeriksakan kesehatannya ke dokter dan ia diminta beristirahat, tapi Kris menyuruhnya kembali ke tempatnya tanpa memberi jawaban.

Kris lalu terbatuk-batuk, dan Joonmyeon berbalik.

"Kris? Kau flu juga?"

Pria jangkung itu kentara sekali tengah menahan batuknya, dan itu membuat mukanya terlihat aneh.

"Tidak. Sudah san—uhk! Uhuk!"

Joonmyeon mendekat tetapi Kris melemparinya tatapan tajam. Joonmyeon berhenti dan dengan agak ragu kembali ke posisinya.

Acara memasuki sesi pembukaan dan Joonmyeon juga yang lainnya tentu mawas dengan keberadaan kamera yang menyorot ke arah mereka. Mau bagaimanapun, tak bisa dielak lagi kalau mereka adalah bintang yang paling terang di galaksi Hallyu tahun itu. EXO adalah sorotan di seluruh penjuru Korea, dan bahkan sampai seluruh dunia. Mereka menikmati sajian hiburan dari berbagai artis, juga memberi fanservice pada fans dan kamera mereka.

Tapi ketika Kris mendadak menutup mulutnya dan segera melangkah cepat menuju backstage, Joonmyeon tak bisa tak khawatir dan ia mengikuti.

"Uhuk! Uhuk! Uhuk!"

"Kris?" panggil Joonmyeon, betul-betul khawatir. "Kris, Kris, kau tidak apa-ap—Kris!"

Seorang staff memanggil bantuan saat Kris tiba-tiba ambruk ke samping, dan Joonmyeon yang jelas kalah ukuran kesulitan menahan tubuhnya.

Riuh ramai di luar sana memekakkan telinga. Sepertinya grup lain yang juga sedang naik daun tengah menampilkan performa mereka. Setelah ini bisa jadi giliran EXO untuk tampil, tapi Joonmyeon tak bisa memikirkannya.

Yang ia pikirkan hanya pria yang tak sadar dalam dekapannya.

Apapun itu penyakit yang diderita Kris, pastilah bukan flu biasa.

Joonmyeon dipaksa kembali ke kursi tamu sementara Yifan digiring masuk ruang kesehatan. Seorang koordinator acara menemuinya dan menjelaskan dengan Korea cepat bahwa EXO harus segera bersiap karena mereka masuk dalam daftar tampil berikutnya. Manajernya datang dan menarik kasar lengannya karena ia hanya bengong di depan koridor.

"Apa yang kau lakukan, Suho? Setelah ini giliran kalian!"

EXO tampil bersebelas malam itu untuk pertama kalinya. Membawakan Wolf dan Growl yang mendunia. Sorak fanchant benar-benar memekakkan telinga, dan kali itu pertama kalinya Hallyu menyaksikan panggung bintang yang sesungguhnya.

Bintang yang tidak sempurna.

Mereka merasa kosong. Sebelas pria yang menari dan menyanyi di panggung megah itu merasa kosong. Lautan remaja muda yang bersorak di bawah juga merasakannya.

Absennya Kris untuk pertama kalinya jadi titik balik untuk mereka.

Mereka kembali ke asrama dengan koper Kris yang sudah menghilang. Manajer menginformasikan kalau ia kembali ke Cina untuk menjalani pengobatan. Tao sudah nyaris menangis karena cemas, dan Yixing hanya bisa menggelengkan kepala.

Tidak ada yang tahu kapan Kris akan kembali. Tapi mereka terus dipaksa untuk menghadiri wawancara, penghargaan, dan penampilan hari demi hari.

"Kita akan membuat sebuah variety show untuk kalian. EXO Showtime. Kita pastikan ini akan jadi hit besar!"

Manajer itu berucap semangat di depannya. Tapi Joonmyeon tidak mendengarkan.

Benaknya cemas tidak karuan.

.:xxx:.

Kris pulang satu bulan kemudian.

Miokarditis. Yifan bercerita padanya seraya menangis.

Joonmyeon hanya terdiam, membeku, tak tahu harus bicara apa. Ini bukan saat yang tepat untuk menghiburnya atau memberinya semangat. Tidak. Saat ini, Kris hanya butuh tempat bercerita.

"Dokter itu bilang aku betul-betul beruntung datang tepat waktu. Satu minggu lagi saja dan ia tidak yakin apa jantungku masih bisa menahan bebannya."

Pembengkakan otot jantung yang ia derita bukan penyakit bawaan dan bukan sesuatu yang bisa diremehkan. Semua itu karena beban kerjanya yang tidak seimbang dengan waktu istirahat. Tidak heran Kris sering sekali batuk-batuk dan bahkan sampai sesak, satu kali itu pula dia hampir jatuh pingsan.

"Aku takut aku tidak bisa terus bekerja kalau seperti ini... Pasien miokarditis biasanya langsung menerima rawat inap, dan sedangkan aku..."

Joonmyeon tahu tanpa Kris harus meneruskan. Ia membawa beban lebih dari lainnya.

Ia membawa beban untuk menyenangkan hati fansnya, anggotanya, rekannya, agensinya, dan orang tuanya.

Manusia biasa takkan bisa bertahan menghadapi semua stress itu.

(Tetapi Kris berbeda. Joonmyeon tahu itu)

"Kau tidak boleh berhenti dari dunia hiburan, Kris..."

Joonmyeon berbisik, menangkup muka Kris pada dadanya.

Entah sejak kapan mereka jadi sedekat ini. Tali batin yang semula tiada itu mengencang.

"Aku tahu, Joon. Aku tahu." Kris meremas belakang kemejanya. Joonmyeon kesakitan tapi tidak menolak. "Tapi aku takut. Aku benar-benar takut..."

Dalam skala yang parah, miokarditis adalah kelainan mematikan.

"Kau tidak akan apa-apa, Kris," Joonmyeon merasa suaranya gemetar. "Kau akan sembuh. Kau akan sehat dan bisa bekerja seperti biasa lagi. Kita akan latihan bersama, bernyanyi bersama, dan menampilkan yang terbaik untuk fans bersama. Kau tidak sendiri, Kris. Ada aku, ada Luhan, ada Chanyeol, ada semuanya. Kau juga punya fans yang selalu mendukungmu. Kau... jangan pernah merasa seolah kau hidup sendiri di dunia ini."

Joonmyeon tak tahu apa yang merasukinya. Tapi semilir angin musim semi memang benar-benar menyejukkan. Ia mengangkat dagu Kris dan mencium dahinya.

Ini di luar kebiasaannya.

"Jangan menyerah. Kris yang aku kenal bukan seorang yang seperti ini. Kau pasti bisa. Kita akan lalui semua ini bersama."

Cheesy. Tapi Joonmyeon meyakini setiap kata-katanya.

"Terima kasih, Myeon."

Tirai kamar mereka belum ditutup, tapi Joonmyeon tak bisa peduli. Ia jatuh tertidur seraya memeluk seorang pria dewasa yang saat itu begitu rapuh seperti bocah. Ia ingin melindungi pria ini dengan tangan-tangan mungilnya seandainya ia bisa.

.

.

.

.

.

.

.

.

Prologue – 1/2.

.:xxx:.

AN: Mungkin banyak banget reader yang kesel sama Yifan ya. Engga di sini, engga di Kosmos, dia kaya antagonis banget hehe. Bukan berarti aku mau ngebash dia lo, hehe. But actually here, I want to show you what kind of a person I think Yifan is (walau ini cuma ff sih). Karena manusia ga ada yang hitam atau putih, mereka adanya abu-abu, ya kan? Sejahat-jahatnya orang masih ada setitik kebaikan dan sebaliknya, sebaik-baiknya orang pasti ada jahatnya. Buat yang masih bingung, ini bisa disebut prekuelnya Lubang Hitam muehehe.

Update berikutnya... ung, kapan ya? Hehehe, aku ga bisa janji. Mungkin 2 minggu? Jadwalku agak padat di tahun ajaran baru, hehe.

Lastly, makasih buat semua yang udah review, fav, dan follow! Balesin review sebentar ya di sini... ada beberapa yang protes 'kok NC nya lebih panas yang cuma foreplay doang sih? Yang full mah kenapa cuma gini?' Jawabnyaaa because I want their first time to be a little awkward, hehehe. Entar aja kalau hubungan mereka udah progresif, Yifan will be back to his wild self, and Joonmyeon will be back to his submissive!tsundere side. There will be KrisHo moments in every chapter, tapi untuk pairing lain akan bervariasi porsinya. But good news—I'm planning on a ChanBaek off-spin after a few chapters. CB shippers, wait for this!

Next, 'ini ada tamatnya nggak? Lanjutin sampai Monster era?' Ebuseeeettt aku aja nulisnya kaya kelelet gini, keburu masuk era baru kalau nungguin aku nulis sampe Monster era xD There will be an end in this story, but not in their relationship /ciee/

'Ini sampe chap berapa sih?' Perkiraanku ini sampai puluhan... Aku masih belum berani sebut angkanya x3 Kalau terlalu panjang juga ga enak, kan?

'Biasnya author siapa, sih? OTPnya siapa?' Nah lho ini pertanyaan melenceng banget x3 Bias aku tuh si domba Cina 3 OTP aku ChanBaek. 'NAH TERUS KRIS SAMA SUHONYA DI MANA, THOR?' Welp, kalau KrisHo mah kastanya udah di atas OTP buat aku hihihi

'Thor ada akun lain?' Adaaa. Boleh cari saya di ig, di _rhey. Itu double underscore by the way. Tell me you know me from ffn or else I won't follow you back :3 Ayok fg-an bareng di sana hahaha

'FFn keblokir jadi ga bisa baca deh' duh, gimana ya? Aku tahu perasaanmu, ga enak banget, kan. Apa perlu bikin akun di Asianfanfic? (eh aku udah bikin ding lol)

'nyari wangsit di mana siiiih?' Di rumah mertua aku di Changsha hAHAHA /plak

'Fic berikutnya apa?' Eiittt tunggu ini tamat dulu, yah :3 Kalian maunya apa? /HEH

Terakhir, apa kalian punya kritik buat fic ini sejauh ini? Mungkin gaya bahasaku kurang mendayu-dayu (?), atau mungkin bahasaku terlalu vulgar, atau banyak typo, atau plotnya terlalu cepat, atau updatenya kelamaan, atau feelnya susah ditangkep, atau Yifannya terlalu jahat dan Myeon terlalu unyu? Tell me, tell me!

Sekali lagi, thank you for your stay! Please enjoy this together with me :3