Instant Princess
Pair and Cast:
Kim Namjoon (Rap Monster) x Kim Seokjin (Jin)
Kim Taehyung (V)
Jeon Jungkook (Jungkook)
Park Jimin (Jimin)
Min Yoongi (Suga)
Jung Hoseok (J-Hope) x Lee Jihoon (Woozi)
Rated: T
Length: Chaptered
Summary:
Seokjin yakin dia adalah orang yang 'cukup' baik, dia rajin bekerja, membantu orang tuanya, dan tidak keberatan memiliki adik cerewet dan suka gossip seperti Jungkook. Tapi kenapa Tuhan memberikannya cobaan yang amat sangat berat seperti menjadi istri dari Kim Namjoon, sang Putera Mahkota Korea Selatan? / NamJin, slight! Other couple, GS, AU.
Warning:
Fiction, AU, GS! for Seokjin, Jungkook, Yoongi, and Jihoon. Inspired by Princess Hours.
.
.
.
Enjoy!
.
.
.
Chapter 9
"Kau akan.. apa?" tanya Seokjin gugup.
"Aku akan menidurimu di sini." jawab Namjoon dengan tenang.
"Ta-tapi kita tidak boleh melakukan itu."
"Kenapa tidak? Aku suamimu."
"Ki-kita belum melakukan ritual itu di istana." Seokjin memalingkan wajahnya karena dia tidak sanggup terus menatap Namjoon yang berada di atas tubuhnya. Astaga, posisi mereka benar-benar berbahaya.
"Hmm, lalu?"
"D-Dayang Lim bilang, kita akan melakukan ritual itu di istana."
"Tapi ini adalah istana milik keluargamu, kan? Apa bedanya?" Namjoon menundukkan kepalanya dan mengecup rahang bawah Seokjin.
"Astaga!" pekik Seokjin kaget.
"Kenapa?" tanya Namjoon dengan suara yang bertambah berat.
"Kau tidak serius, kan?"
"Apa aku terlihat seperti sedang bercanda?"
Seokjin mendorong bahu Namjoon, "Aku belum siap! Astaga, aku belum siap! Aku akan mengizinkanmu tidur di tempat tidur asalkan kau tidak berbuat macam-macam!"
Namjoon tersenyum kecil dan menarik bibir bawah Seokjin dengan giginya. Seokjin merona parah karena ulah Namjoon karena dia merasa bahwa tindakan Namjoon itu sangat erotis.
"Aku tidak masalah kalau harus tidur di bawah, karena itu berarti aku boleh melakukan sesuatu padamu, kan?"
Seokjin menjerit takut dan berusaha mendorong Namjoon, "Aku belum siap, Namjoon! Tidak sekarang!"
Namjoon menarik tubuhnya dari Seokjin dan tertawa keras.
"A-apa?" ujar Seokjin seraya berkedip bingung.
"Astaga, seharusnya kau melihat wajahmu saat kau berteriak 'aku tidak siap!', kau lucu sekali." Namjoon tertawa begitu keras seraya berguling-guling di tempat tidur Seokjin.
"Yya! Kau mengerjaiku?"
Namjoon mengangguk polos dengan senyum lebar di wajahnya.
"Argh! Kau menyebalkaaaan!" jerit Seokjin seraya melompat ke atas tubuh Namjoon dan mengguncang-guncang bahunya keras.
Namjoon tertawa semakin keras. Dia sama sekali tidak keberatan dengan Seokjin yang menduduki perutnya, sebaliknya, Namjoon malah memegang pinggang Seokjin agar gadis itu tidak jatuh dari atas tubuhnya.
Cklek
"Apa kalian baik-baik sa– oh.."
Namjoon dan Seokjin menoleh ke ambang pintu saat mendengar suara ibu Seokjin dan mereka melihat ibu Seokjin sedang menutupi wajahnya yang memerah dan menggumam maaf, sementara di belakang ibunya ada Jungkook yang tengah mengarahkan ponselnya ke arah mereka berdua.
"Daebak, aku dapat foto ekslusif." Jungkook berujar polos seraya menatap layar ponselnya. Dia mengangkat kepalanya dan tersenyum menatap Namjoon dan Seokjin. "Terima kasih untuk fotonya! Aku akan menguploadnya di SNSkuuu~" ujar Jungkook semangat seraya berlalu dari kamar Seokjin.
"Eh? Apa?" Seokjin melompat turun dari atas tubuh Namjoon dan berlari mengejar Jungkook. "Kim Jungkoookk! Jangan macam-macam! Jangan upload ituuuu!" jerit Seokjin seraya berlari mengejar Jungkook yang masuk ke dalam kamarnya sendiri dan menguncinya.
"YYA! Kim Jungkook! Jangan pernah upload itu di SNSmu!" jerit Seokjin.
"Tidak mauuuu!"
"Kim Jungkoook!"
"Sudah, Seokjin.. jangan ganggu adikmu." Ibunya berujar seraya menarik Seokjin dari depan pintu kamar Jungkook.
"Tapi, dia.."
"Ayo, makan malammu menunggu. Ajak Namjoon juga."
Seokjin mengangguk pasrah, "Baiklah."
.
.
.
.
.
.
.
.
Seokjin dan Namjoon sedang duduk bersama di ruang tengah rumah keluarga Seokjin sambil memakan pudding buatan ibu Seokjin. Ayah dan ibu Seokjin sudah masuk ke kamar jadi hanya ada mereka berdua di sana. Jungkook tidak keluar kamar untuk makan malam bersama dan ibunya bilang Jungkook memang sudah makan sore tadi, jadi mungkin Jungkook belum lapar.
Seokjin duduk dengan memangku bantal sofa dan mata yang terus tertuju pada adegan drama di TV, sementara Namjoon duduk di sebelahnya dan menonton adegan itu dengan wajah bosan. Namjoon menguap sambil menutup matanya dan dia mendengar erangan kesal Seokjin.
"Kenapa?"
"Mereka memotong drama favoritkuuu!" Seokjin mendengus kesal.
Namjoon menatap ke TV dan dia menyadari kalau saat ini TV sedang menayangkan breaking news. "Mereka melakukan itu karena ingin menyiarkan berita, Princess."
Seokjin meraih piring pudding di meja dan menyendokkan pudding dalam potongan besar ke mulutnya. Sementara Namjoon memperbaiki posisi duduknya karena mungkin saja berita itu penting.
Dan ketika berita itu ditayangkan Seokjin langsung tersedak keras karena saat ini di TV terpampang foto mereka berdua saat di kamar tadi. Dimana Seokjin sedang duduk di atas perut Namjoon dan mencengkram bahunya, sementara Namjoon tengah memegangi pinggangnya agar dia tidak jatuh.
"Kim Jungkook!" teriak Seokjin. "Mati kauuu!"
Namjoon terkekeh pelan saat membaca headline berita itu. Karena posisi mereka, para wartawan itu mengatakan kalau Seokjin adalah gadis yang agresif, bahkan dia berani berada 'diatas' Namjoon.
Seokjin mencengkram kepalanya, "Aah, reputasiku.."
Namjoon tertawa keras, "Hei, santai saja, Princess. Ini bukan berita yang buruk."
"Tapi mereka menyebutku sebagai gadis yang agresif dan dominan! Aku kan tidak seperti itu!" raung Seokjin kesal sekaligus malu.
Namjoon tertawa dan meraih Seokjin agar bersandar di bahunya, "Astaga, biarkan saja mereka mau bilang apa. Bagiku kau tetap Princessku yang lugu dan manis."
Seokjin mengerang lagi dan memukul dada Namjoon pelan. Dia merasa amat sangat malu dengan berita itu.
.
.
.
.
.
.
.
'Foto Panas' diantara Namjoon dan Seokjin benar-benar membungkam mulut para wartawan yang mengatakan rumah tangga mereka dalam masalah. Bahkan para wartawan mulai memberikan spekulasi yang mengatakan kalau istana sudah melakukan ritual Malam Pertama untuk pasangan Putera dan Puteri Mahkota ini tanpa memberitahu media.
Hal ini membuat banyak sekali media yang mengerubungi rumah Seokjin dan juga istana. Istana tidak bisa memberikan pernyataan apapun karena saat ini Namjoon dan Seokjin tidak berada di sana, sebaliknya, Namjoon juga tidak berani memberikan pernyataan saat dirinya berada di rumah Seokjin karena pengamanan di rumah Seokjin jelas tidak seaman di istana.
Seokjin mengembungkan pipinya kesal seraya menatap Jungkook tajam. Dia masih merasa kesal pada adiknya itu karena berkat ulang Jungkook yang benar-benar mengupload foto tadi di SNSnya, wartawan langsung memberitakan berita itu besar-besaran dan sekarang Seokjin terkenal sebagai Puteri Mahkota yang agresif.
Jungkook tersenyum polos dan menatap Seokjin dengan pandangan mata penuh aegyo andalannya. "Maafkan aku, Eonnie~"
"Tidak akan."
"Ayolah, Eonnie~" rengek Jungkook lagi.
"Sudahlah, Princess. Maafkan Jungkook, dia hanya mengupload foto itu di SNSnya." Namjoon berusaha melerai perang dingin di antara Jungkook dan Seokjin.
Sudah setengah hari berlalu tapi kedua kakak-beradik ini masih saja perang dingin. Dan Namjoon kasihan pada Jungkook yang terus saja meminta maaf pada Seokjin dan harus menerima tatapan tajam dari Seokjin selama setengah hari penuh.
"Aku tidak akan memaafkannya." Seokjin berujar tegas dengan mata yang terus menatap Jungkook tajam.
Jungkook menunduk sedih, tak lama kemudian dia mengangkat kepalanya dan menatap Namjoon dengan wajah yang dia pasang sesedih mungkin lengakap dengan mata yang berkaca-kaca dan bibir yang melengkung ke bawah. "Oppa.." rengeknya.
"Jangan seperti itu, Princess. Kasihan Jungkook." Namjoon berdiri dan duduk di sebelah Jungkook kemudian memeluknya sayang.
Jungkook membalas pelukan Namjoon dan menatap Seokjin yang terlihat sangat kesal. Jungkook tertawa tanpa suara dan mengeluarkan ekspresi mengejeknya untuk Seokjin.
Seokjin mendelik kesal, "Kau!"
"Kyaaa, Oppa! Kookie takuuutt.." ujar Jungkook dengan nada yang dia buat ketakutan.
"Jinnie!" tegur Namjoon.
Seokjin mendengus kesal dan bergerak mengipasi wajahnya agar dia tidak benar-benar meledak dan menarik rambut Jungkook.
Namjoon menghela nafas pelan, Seokjin terlihat sangat kesal dan dia mulai khawatir Seokjin akan menangis karena tadi dia bisa melihat kilatan airmata di mata Seokjin. Namjoon melepas pelukannya dan menatap Jungkook, "Masuklah ke kamarmu, Jungkook-ah."
Jungkook tersenyum lebar dan mengangguk, "Oke, Oppa!"
Namjoon bergerak mendekati Seokjin saat Jungkook sudah berlalu ke kamarnya, dia meraih bahu Seokjin namun Seokjin menepis tangan Namjoon.
"Hei, Princess. Kau marah padaku?"
Seokjin mendengus keras dan memalingkan pandangannya dari Namjoon.
"Princess.." Namjoon meraih bahu Seokjin dan memaksa untuk memeluknya walaupun Seokjin menolak pelukan Namjoon.
"Kenapa, hum?" tanya Namjoon lembut. "Sudahlah, maafkan Jungkook."
"… gi."
"Apa?" ujar Namjoon karena dia tidak mendengar apa yang baru saja Seokjin ucapkan.
"Jangan peluk Jungkook lagi! Kau tidak boleh memeluknya! Pokoknya tidak boleh!"
Namjoon mengerjap bingung kemudian dia tertawa, "Astaga, kau cemburu pada adikmu sendiri? Adikmu itu adikku juga, sayang."
Seokjin merengut dan menatap Namjoon, "Pokoknya kau tidak boleh memeluk orang lain selain aku!"
Namjoon mengangguk pasrah, "Baiklah, apapun untuk Princessku."
.
.
.
.
.
.
.
Empat hari berlalu sejak liburan kecil Namjoon dan Seokjin di rumah keluarga Seokjin. Media memang sudah tidak terlalu membahas masalah 'foto panas' mereka, tapi media benar-benar percaya bahwa rumah tangga Namjoon dan Seokjin memang baik-baik saja.
Raja dan Ratu terlihat agak kesal karena mereka menganggap Namjoon dan Seokjin mengungkap kehidupan pribadi mereka dengan gamblang. Tapi Ibu Suri jelas sangat gembira saat melihat berita itu. Bahkan dia meminta foto aslinya yang ada di ponsel Jungkook untuk disimpan sebagai koleksi pribadi.
Hari ini Seokjin kembali ke kampusnya untuk mengurus beberapa urusan. Namjoon juga pergi bersamanya hari ini. Jadi mereka berdua berjalan bersama menyusuri koridor dengan masing-masing penjaga mereka yang berjalan di depan dan di belakang mereka.
Beberapa mahasiswa membungkuk dan mengucapkan salam yang dibalas dengan senyuman lembut Seokjin dan anggukan singkat dari Namjoon.
"Kapan kau selesai?" tanya Namjoon pada Seokjin.
Mereka berdua berada di fakultas yang berbeda dan Namjoon agak mengkhawatirkan Seokjin apabila gadis itu berkeliaran sendirian.
"Mungkin sekitar 2-3 jam lagi." Seokjin menjawab seraya mendongak menatap Namjoon.
Namjoon mengangguk paham, "Kalau kelasmu sudah selesai, tetap diam di kelasmu. Aku akan menjemputmu."
"Aku bisa pergi sendiri, Namjoonie."
"Aku akan tetap menjemputmu."
Seokjin mengangguk pasrah, "Ngomong-ngomong, dimana teman-temanmu? Biasanya mereka selalu menghampirimu kalau kau datang ke kampus."
"Hoseok sedang keluar negeri untuk urusan keluarga, dan Yoongi sedang mengambil cuti kuliah."
"Ada apa dengan Yoongi?"
"Dia sedang depresi karena Jimin ingin berhenti bekerja."
"Aaah, pasti karena Jimin sudah tidak tahan cintanya terus bertepuk sebelah tangan, kan?"
"Darimana kau tahu?"
"Lho? Memangnya tidak terlihat? Bagiku rasa cinta Jimin untuk Yoongi itu terlihat begitu jelas, seolah-olah kata cinta itu tertulis di dahi Jimin."
Namjoon tertawa, "Kalau begitu, Yoongi adalah manusia paling tidak peka di dunia ini."
Seokjin mengangguk, "Ya, kurasa begitu."
.
.
.
.
.
.
.
Yoongi menatap pantulan dirinya di cermin besar yang ada di kamarnya. Berdasarkan informasi dari Jihoon, hari ini adalah hari dimana acara pertunangan yang diurus Jimin itu akan dilaksanakan. Dan Yoongi sudah bertekad untuk mengacaukan acara itu dengan membawa Jimin kabur dari sana.
Dia tahu rencananya itu sangat konyol, tapi dia lebih baik melakukan tindakan super konyol daripada kehilangan Jimin selamanya. Dia jelas tidak mau kehilangan Jimin.
Yoongi merapikan penampilannya lagi lalu dia melangkah keluar dari kamarnya. Dia yakin Jimin tidak akan menolak pesona yang dimiliki oleh seorang Min Yoongi. Jika memang Jimin menyukainya, maka Yoongi yakin Jimin tidak akan bisa berpaling darinya lagi.
Yoongi meminta supir keluarganya untuk mengantarnya ke gedung tempat acara pertunangan itu akan dilaksanakan. Setelah sampai di gedung tempat berlangsungnya acara, Yoongi segera melangkah masuk ke dalam tanpa repot-repot memperhatikan nama pasangan yang sedang melangsungkan acara pertunangan ini.
Yoongi menginjakkan kakinya di aula pesta dan matanya segera bergerak mencari sosok Jimin. Dia terus memutar kepalanya ke segala arah demi menemukan Jimin dan akhirnya dia melihat sosok Jimin. Jimin berdiri tegap dalam balutan setelan jas rapi dan dia tengah menyambut para tamu.
Yoongi benci mengakuinya, tapi Jimin terlihat begitu tampan. Dia juga tetap bertubuh setegap biasanya dan dia benar-benar tampan. Aah, gadis yang akan bertunangan dengan Jimin itu sangat beruntung.
Yoongi menarik nafas dalam dan berjalan melintasi aula pesta untuk menghampiri Jimin. Dia berhenti melangkah saat sudah berada di hadapan Jimin.
"Nona Yoongi?" ujar Jimin bingung.
Dan sebelum Jimin sempat mengatakan sesuatu, Yoongi menarik kerah pakaian Jimin dan menempelkan bibir tipisnya ke bibir tebal milik Jimin. Yoongi memejamkan matanya dan bergerak melumat bibir gemuk milik Jimin.
Yoongi mengacuhkan bisik-bisik yang terdengar mendengung di telinganya. Dia tetap berkonsentrasi untuk mencium Jimin. Dan akhirnya Yoongi melepaskan pagutan bibirnya dan tersenyum menatap Jimin.
"Kau menyukaiku, kan?" ujar Yoongi.
"A-apa?" tanya Jimin bingung dengan wajah blank.
"Kalau kau menyukaiku, kau tidak boleh pergi dariku. Kau tidak boleh bertunangan dengan yang lain, karena yang boleh bertunangan denganmu hanya Min Yoongi." Yoongi tersenyum lebar dan mengalungkan tangannya di leher Jimin.
"Ber-bertunangan? Siapa yang akan bertunangan?" ujar Jimin.
Yoongi mengerutkan dahinya bingung, "Bukannya kau yang akan bertunangan?"
Jimin menggeleng, "Yang mengadakan pesta hari ini adalah adik saya, Nona Yoongi. Saya hanya membantu persiapannya dan menyambut tamu."
"APA?!" jerit Yoongi. Yoongi melepaskan pelukannya dan melangkah mundur sambil menutupi wajahnya, ah sial, dia malu sekali. Seharusnya dia memperhatikan nama pasangan yang mengadakan acara sebelum masuk ke aula pesta.
Sial, kalau dia tahu ini bukan acara pertunangan Jimin, dia pasti akan mengurungkan niatnya untuk mencium Jimin di depan umum seperti tadi! Sialsialsial!
"Nona Yoongi?"
"Menjauh dariku! Ah sial, aku malu sekali.."
Jimin berkedip pelan kemudian dia tertawa kecil, dia meraih tubuh mungil Yoongi dan memeluknya erat-erat di dadanya.
"Ji-Jim?"
"Tadi Nona bilang Nona merasa malu, kan? Kalau begitu saya akan memeluk Nona agar Nona tidak perlu menunjukkan wajah Nona pada semuanya."
Yoongi tersenyum kecil, Jimin tidak pernah berubah. Jimin tetaplah Jimin yang selalu mementingkan Yoongi.
"Terima kasih, Jimin.."
"Sama-sama, Nona.."
"Jim.."
"Ya?"
"Jangan panggil aku 'Nona' lagi. Kau bisa memanggilku dengan nama mulai sekarang."
"Baiklah, Yoongi-ah."
"Itu terdengar jauh lebih baik."
.
.
.
.
.
.
.
Seokjin baru saja menyelesaikan kelasnya dan dia memutuskan untuk pergi ke toilet sebentar. Dia berjalan menyusuri koridor dan dia mengerutkan dahinya saat nyaris semua mahasiswi menatap ke arahnya dengan pandangan jijik.
Dia menoleh ke arah pengawalnya , "Apa ada sesuatu di wajahku?"
"Tidak, Yang Mulia."
Seokjin mengangguk pelan dan meneruskan langkahnya menuju toilet. Dia meminta pengawalnya untuk berjaga di luar karena baginya kegiatannya di dalam toilet itu sangat pribadi jadi pengawalnya tidak perlu ikut mengawalnya hingga ke dalam toilet.
Seokjin yang sudah menyelesaikan urusannya berjalan keluar dari bilik toilet yang digunakannya dan bergerak untuk mencuci tangannya di wastafel. Disaat Seokjin sedang sibuk mencuci tangannya, dua orang mahasiswi masuk ke dalam toilet dan mereka terhenti karena melihat Seokjin.
"Oh, ada Puteri Mahkota berwajah palsu dan bertubuh penuh bekas luka."
Seokjin mengerutkan dahinya saat mendengar ucapan salah satu mahasiswi itu. Apalagi temannya langsung menanggapi itu dengan tawa yang mengejek Seokjin.
"Apa maksud kalian?"
Kedua mahasiswi itu mendecih pelan kemudian berjalan meninggalkan Seokjin di toilet. Seokjin mengerutkan dahinya bingung, dia meraih ponselnya dan bergerak mencari berita terbaru soal dirinya dan matanya membelalak lebar saat membaca sebuah artikel online yang dirilis satu jam lalu.
Artikel itu menyebutkan soal kejadian dimana dia pernah kecelakaan hebat di perjalanan pulang dari study tour saat dia masih Junior High School. Kecelakaan itu membuat Seokjin terluka parah di bagian wajah dan punggungnya.
Dulu, ada bekas luka yang sangat besar yang memanjang dari dahi hingga ke rahang bawah milik Seokjin. Bekas luka itu membuatnya dijauhi dan diejek sebagai gadis buruk rupa hingga Seokjin menolak untuk masuk sekolah dan meneruskan masa Junior High Schoolnya dengan homeschooling.
Seokjin mengalami krisis percaya diri selama kurang lebih dua tahun sampai orangtuanya mengatakan kalau mereka akan membawa Seokjin ke ahli bedah plastik terbaik untuk menghilangkan bekas luka di wajah dan punggung Seokjin.
Tapi karena biaya yang terlampau besar, orangtuanya hanya mampu membiayai operasi wajah Seokjin, mereka tidak mampu membiayai operasi penghilangan bekas luka di punggung Seokjin. Maka dari itu Seokjin tidak pernah mau menunjukkan punggungnya pada orang lain.
Satu-satunya orang lain selain keluarganya yang pernah melihat punggung telanjangnya adalah Dayang Lim, dan Dayang Lim sudah bersumpah dia tidak akan mengatakan apapun soal bekas luka di punggung Seokjin.
Seokjin berusaha untuk melupakan masa lalu kelamnya dan dia berhasil. Tapi dia tidak menyangka bahwa akan ada orang lain yang membongkar masa lalu kelamnya itu. Seokjin tidak mau diejek lagi, dia tidak mau.
.
.
.
.
Namjoon berlari cepat menyusuri koridor di universitasnya untuk menemui Seokjin. Dia baru saja membaca sebuah artikel soal masa lalu Seokjin dan lukanya dan dia merasa kalau dia harus segera menemui Seokjin secepatnya.
Namjoon menghentikan larinya saat dia melihat pengawal Seokjin tengah berjalan ke arahnya dengan wajah pucat pasi. "Ada apa?" tanya Namjoon cepat.
"Y-Yang Mulia Puteri Mahkota menghilang, Yang Mulia!"
"Apa?"
To Be Continued
.
.
.
.
.
Aku.. tidak bisa berkomentar apa-apa. Hehehe
Jadi aku menunggu tanggapan dari kalian saja ^^v
.
.
.
Thanks
