BAD BEHAVIOUR © Seynee

Characters © Masashi Kishimoto

Translator : Aika Harumi

Chapter 11

.

.

Mungkin lebih dikarenakan kebiasaan daripada kedisiplinan, Sakura menjadi orang yang selalu bangun pagi. Dia adalah tipe orang yang, jam berapa pun ia tidur, ia akan selalu bangun sekitar jam tujuh pagi.

Saat ini ia hanya berusaha untuk tak peduli. Ia bisa saja tetap tidur selamanya; kasurnya sangat nyaman, seprainya sangat halus dan lembut, bantalnya sangat empuk…

Mungkin karena itu bukan miliknya.

Sakura berkedip. Atau ia pikir ia melakukannya, karena kedua matanya masih tertutup, dan bisakah seseorang berkedip saat mata mereka tertutup? Kasur ini bukan miliknya. Seprai ini bukan miliknya. Bantal ini bukan miliknya.

Astaga, apa yang ku lakukan di sini?

Gelombang panik menghantamnya, Sakura terbangun kaget dan menjerit ketika kakinya menyentuh sesuatu–sesuatu yang lembut, sesuatu yang hangat–yang menghasilkan suara serak "Sial! Ada apa?" dari sesuatu itu, dan berteriak lebih keras ketika ia melihat apa–atau lebih tepatnya siapa–itu.

"S-Sasuke! Kenapa kau ada di sini?"

"Kau!" Sasuke menatap Sakura dengan tatapan membunuh sambil memegangi perutnya. "Berani-beraninya kau menendangku!"

"Tapi kenapa kau ada di sini?"

"Ini kamar-ku." Sasuke melotot.

"Kamarmu. Ini kamar-mu," mata Sakura membelalak mengamati sekitar, lalu menarik seprai dengan erat ke sekelilingnya dengan panik. "Apa yang ku lakukan di sini?"

"Kau tertidur saat kita sedang mengobrol tadi malam." Ucap Sasuke datar, memijat perutnya yang sakit, "Aku sudah cukup baik membawa mu ke dalam."

Sakura menatap Sasuke waspada, matanya menyipit. "Kau tak melakukan apapun, kan?"

"Aku? Padamu?" Sasuke menatap Sakura tak percaya. "Kau pasti bercanda."

"Kau bisa saja melakukan sesuatu," Sakura bersikeras, mengintip tubuhnya sendiri di bawah seprai. Oke. Dia masih memakai pakaian. Dia bahkan masih memakai sepatu. Oke, itu tak terlihat seperti Sasuke telah melakukan sesuatu padanya.

"Seberapa rendah aku di matamu, Sakura?"

"Tak terlalu rendah," Sakura memutuskan untuk menjawab, kemudian menyengir, "Kau punya kasur yang bagus. Kau harus mengatakan padaku di mana kau membeli furnitur mu."

Sasuke memutar matanya dan duduk di kursi yang berada di pojok kamar, mengamati Sakura sejenak. Dia bertanya-tanya mengapa Sakura tidak benar-benar panik karena jika hal itu benar terjadi, wanita ini akan benar-benar panik. Sasuke bukan tipe orang yang… suka mengambil keuntungan pada wanita yang tak berdaya, tapi serius! Sakura bertingkah terlalu nyaman berada di sekitarnya, mungkin seperti ketika wanita itu bersama Tenten, dan untuk beberapa alasan, ini agak membuatnya tidak senang.

Fakta bahwa itu membuat Sasuke tak senang, membuat pria ini lebih tak senang lagi, Sasuke menutup mata dengan tangan dan memaki dirinya sendiri dalam hati.

"Aku mendapatkan beberapa pakaianmu," ucap Sasuke ketika menyadari Sakura menatapnya, ia menunjuk ke tas yang ada di atas tempat tidur.

"Ya?" Sakura memiringkan kepala dan menatap tas yang segera dikenalinya. "Dari mana?"

"Tenten."

Sakura menaikan alis. "Jadi Tenten tahu aku menginap di sini."

"Hm, ya," balas Sasuke, merentangkan koran dan menatap sakura dari atasnya. "Apa ada masalah dengan itu?"

"Tidak," Sakura mengangkat bahu. "Lagipula dia sudah mengira aku tertarik padamu, jadi dia mungkin akan mengadakan pesta untuk ucapan selamat atau apapun saat aku pulang nanti. Itu bukan masalah besar."

Sasuke menaikan alis tapi tak mengatakan apapun saat Sakura mengambil tas dan membawanya ke kamar mandi. Dua puluh menit kemudian wanita itu keluar dengan segar dan rapi.

Menyikat rambutnya, Sakura menoleh ke Sasuke. "Ngomong-ngomong, kenapa kau bangun awal?" sekarang jam sepuluh dan itu bisa dikatakan tidak awal, tapi mengingat mereka… berdansa (atau mencoba untuk berdansa) dan mengobrol sampai jam dua pagi, ini masih bisa dibilang awal. Masih.

"Ino menelepon tadi pagi," jawab Sasuke, "Dia pulang hari ini."

Wajah Sakura bersinar. "Benarkah?"

"Kita akan menjemputnya di bandara nanti malam."

Sebuah seringai menggoda melengkung di bibir Sakura. "Kita?"

"Sebelum itu, aku akan membawamu keluar," ujar Sasuke, nada dan wajahnya datar.

Sakura mengamati Sasuke hati-hati. "Kencan?"

"Kencan," jelas Sasuke, matanya mengawasi Sakura seolah menantang.

Sakura, tentu, tak pernah membayangkannya. "Baik," ucapnya, tersenyum cerah, matanya mengantisipasi. "Mari lihat seperti apa kencan seorang Uchiha Sasuke."

Sasuke tak pernah terlalu senang menerima tantangan lain.

o.o.o.o.o

Memiliki sahabat, tentu, mempunyai keuntungan. Seperti mengetahui bahwa seseorang akan selalu khawatir tentangmu jika mungkin sesuatu yang aneh terjadi. Yah, seperti itu, atau mengganggumu.

"Tenten, aku bersumpah, tak ada yang terjadi," bisik Sakura di telepon sambil menutup wajahnya dengan tangan. Dia sudah berusaha meyakinkan Tenten bahwa tak ada, sungguh tak ada, yang terjadi antara dirinya dan Sasuke tadi malam dari tiga menit yang lalu, tapi itu tak berpengaruh. Mungkin karena Tenten terkikik terlalu keras dengan apapun tuduhannya membuat Sakura mencoba untuk menembak kepalanya. "Aku hanya tertidur, oke? Itu saja!"

"Tentu saja kau tertidur." Tenten kembali tertawa dan suaranya terdengar menyindir. "Kau selalu tertidur di kamar seorang pria, kan?"

"Tenten!" Sakura mengerang putus asa. "Aku akan memutuskan sambungan sekarang."

Tenten tertawa lagi, dan kemudian tiba-tiba berubah serius. "Oke, oke, aku mengerti. Dimana kau sekarang?"

"Dalam toilet di taman bermain."

"Benarkah?" Tenten terdengar heran. "Dia membawamu kencan ke sebuah taman bermain? Uchiha Sasuke? Sungguh?"

"Aku juga bereaksi sama," Sakura membenarkan. Dia memang terkejut ketika Sasuke melaju ke sebuah taman bermain. Dia adalah, er, Sasuke, dan keliatannya, taman bermain tak terlihat seperti kepribadiannya. "Aku tak tahu."

"Yah, tapi kau menyukai taman bermain!"

"Ya aku sangat menyukainya."

"Jadi bukankah itu bagus?" suara Tenten menggoda.

Sakura melotot pada bayangannya dalam cermin karena tak ada seorang pun yang bisa dipelototi. "Hanya karena aku menyukai taman bermain, dan bukan karena aku tertarik padanya."

Tenten tak mengatakan apapun beberapa saat, kemudian bertanya, "Kau yakin?"

"Ya. Tidak. Mungkin."

"Kau menyadari apa yang barusan kau katakan padaku, ya?" ketika Sakura tak menjawab, Tenten hanya tertawa kecil. "Baiklah, aku harus pergi sekarang. Aku akan menemuimu nanti, sayang. Telepon aku jika sesuatu yang… menyenangkan terjadi."

"Tenten!" Sakura mulai protes tapi sambungan sudah terputus. Menarik napas dalam, dia menatap dirinya di cermin. Oke, apapun ini, dia hanya tak menduga dirinya berada di taman bermain bersama Sasuke. Ini hampir terasa seperti kencan sungguhan. Menyimpan kembali ponselnya di dalam tas, Sakura melangkah keluar dan menemui Sasuke di luar.

"Kau terlambat," Sasuke mengerutkan dahi ketika melihat Sakura.

Sakura menaikan alis. "Untuk apa?"

"Kapalnya," jawab Sasuke, menunjuk sebuah kapal di kejauhan, "Satu-satunya yang akan membawa kita ke pulau."

"Kita tidak menghabiskan waktu di sini?"

"Di sebuah taman bermain? Kau serius?" Sasuke menatap Sakura tak percaya. "Aku tak melakukan kencan anak SMA lagi, Sakura."

"Ah," Sakura tersenyum, "Tapi kita kehilangan kapalnya."

"Karenamu."

"Jadi kita habiskan waktu di sini, ya?"

Sasuke menatap enggan. "Hanya sampai kapal selanjutnya datang. Dua jam lagi."

"Bagus!" Sakura bertepuk tangan penuh kemenangan. "Kalau begitu ayo kita bermain!"

Terdiam, Sasuke tak bisa mengatakan apapun saat Sakura tertawa dan menariknya ke antrian untuk menaiki roller coaster.

"Kau seperti anak kecil," Sasuke mengejeknya saat mereka menunggu.

"Itu lebih baik daripada menjadi seperti anak kecil yang galak," Sakura tersenyum pada Sasuke. Begitu Sasuke menyadari implikasi dari kata-kata Sakura, ia melotot tapi Sakura hanya tertawa. "Jadi aku menyimpulkan kau tidak pernah membawa teman kencanmu ke taman bermain."

"Aku hanya datang ke sini untuk naik kapal," jawab Sasuke pedas. "Tak satupun dari mereka menghabiskan banyak waktu di toilet seperti dirimu."

"Tenten menelepon," ucap Sakura, membela diri, "Dan dia… mencurigaiku. Jadi aku meyakinkannya kalau tak ada apapun yang terjadi. Itu menghabiskan waktu lebih lama dari yang kuduga ketika dia tahu kita sedang berada di taman bermain, karena, yah, aku menyukai taman bermain."

"Kau suka wahana yang mendebarkan."

"Ya."

"Kenapa?"

"Karena, mereka, yah," Sakura memutar matanya, "Mendebarkan. Jelas."

Sasuke menghela. "Aku tak pernah bertemu orang sepertimu."

Sakura tertawa. "Aku juga tak pernah bertemu orang sepertimu."

Mengerutkan dahi, Sasuke menoleh melihat ke baris antrian untuk rolles coaster. Ia merasa ini akan menghabiskan waktu lebih dari lima belas menit, dan dia tak pernah suka menunggu.

"Jadi apa yang ada di pulau?" Tanya Sakura berusaha mengalihkan perhatian Sasuke agar pria itu tidak jadi marah-marah.

"Restoran Italia," jawab Sasuke, "Seperti tempat bersantai. Itu pasti mempunyai pemandangan yang bagus."

"Kau tak pernah ke sana sebelumnya?"

"Tidak," jawab Sasuke, "Tapi Naruto pernah."

"Dan kau mengikuti jejaknya."

"Tidak. Aku kagum pada keasliannya," Sasuke memutar matanya, "Orang itu hanya peduli dengan makanan, jika kau tak menyadarinya."

"Dia pria yang manis," komentar Sakura ringan. "Apakah dia mempunyai pacar?"

"Tidak," Sasuke menaikan alisnya. "Tertarik?"

Sakura menyengir, "Yah, aku sudah tertarik pada seseorang, jadi itu tak adil untuknya."

Menatap mata Sakura, Sasuke membalas cengiran Sakura dengan seringaian. "Sangat menarik."

Sakura menjawab sambil tersenyum, "Tentu."

o.o.o.o.o

Sakura benar-benar bingung.

Yah, ia merasa senang, meskipun ia akan lebih memilih mati daripada mengakuinya.

Dia menghabiskan hari menaiki semua jenis wahana di taman bermain, berhasil menyeret Sasuke bersamanya, mengecewakan pria itu. Wahana roller coaster menghabiskan waktu lebih lama dari yang ia kira, otomatis membuat mereka terlambat untuk kapal kedua. Saat menaiki wahana di putaran lainnya, tiba-tiba sudah gelap dan Sasuke bersikeras mereka akan naik kapal ke tiga ke pulau. Seperti dirinya, Sakura tahu Sasuke berhak mengambil keputusan untuk membuat kencan ini berjalan sesuai keinginannya, jadi Sakura setuju. Klise seperti seharusnya, mereka berencana untuk melihat matahari tenggelam bersama—hanya saja itu tak terjadi dikarenakan hujan, deras, dan mereka terpaksa duduk di dalam restoran yang indah di pulau untuk menunggu sampai hujan reda. Sekarang, sudah tiga jam, dan Sakura sedang duduk di restoran Italia yang sangat indah—Sasuke benar, pemandangannya menakjubkan, terutama saat malam hari—dan makan makanan terenak yang pernah dia makan. Bahkan mereka tidak menjemput Ino karena wanita itu sampai lebih awal dari perkiraan dan Naruto yang menjemputnya.

Dan sekarang Sakura menemukan dirinya duduk di sini, dalam mobil Sasuke di depan apartemennya. Pintunya terbuka, tapi Sasuke sedang berdiri di sana menghalanginya keluar.

Sakura sangat, sangat bingung mengapa dia merasa sangat senang.

"Akui itu."

"Mengakui apa?"

"Akui bahwa aku melampaui harapanmu tentang kencan yang baik," balas Sasuke sombong. "Akui bahwa kau bersenang-senang bersamaku."

Mata emerald Sakura bersinar, dia menantang Sasuke, "Oh, benarkah?"

Sasuke menaikan alisnya dan menatap Sakura tajam.

"Oke, oke, aku akan mengakuinya," Sakura tersenyum ringan, mengangkat tangan, "Aku sungguh bersenang-senang. Itu merupakan satu dari kencan terbaik yang pernah ku lakukan. Meskipun Sai masih yang teratas."

Sasuke mengangkat alisnya. "Sai. Mantan pacarmu, Sai. Kau tak benar-benar berpikir dia lebih baik dari ku, kan."

"Yah, apa yang bisa ku katakan?" Sakura mengedikan bahu, kemudian tertawa. "Jangan terlalu sombong, Sasuke. Lagipula, kau melupakan satu hal paling umum yang biasa mereka lakukan saat kencan."

"Aku tak melupakan apapun," gerutu Sasuke.

"Mungkin. Mungkin tidak," Sakura tersenyum, "Bagaimanapun, aku sungguh bersenang-senang daripada yang ku kira, jadi terima kasih."

Sasuke mengamati wajah Sakura, matanya membara dalam mata Sakura, dan dalam satu gerakan tiba-tiba, ia menarik Sakura dalam sebuah ciuman di bibir, mereka berbagi napas begitu cepat. Saat Sasuke menatap Sakura, mata wanita itu membelalak dan ekspresinya merupakan salah satu hal terlucu yang pernah Sasuke lihat.

"Jadi," ucap Sasuke, sudut bibirnya menarik sebuah seringai seraya tangannya menggenggam tangan kanan Sakura.

"Jadi," ulang Sakura, pipinya sedikit merona.

"Apakah aku melebihi perkiraanmu?"

Mata Sakura membelalak dan memukul Sasuke dengan satu tangannya yang bebas, wajahnya merona seperti warna rambutnya, "Apakah kau melakukan itu hanya untuk mengejutkanku? Astaga, Sasuke, yang kau lakukan hanya untuk—"

Menyeringai dan tahu kalau Sakura akan mulai berbicara panjang lebar seperti biasanya, berbicara tak tentu arah, Sasuke meletakan jarinya di bibir Sakura untuk membuatnya diam, "Sakura."

Sakura terdiam sambil memelototi Sasuke.

"Selamat malam," gumam Sasuke parau, melangkah mundur untuk memberi Sakura jalan.

"Selamat malam," Sakura berusaha berbicara, melotot pada Sasuke untuk terakhir kali sebelum mulai melangkah.

Mengawasi Sakura berjalan ke depan pintu, Sasuke tiba-tiba merasakan dorongan untuk memanggil namanya. "Sakura!"

Sakura segera menoleh dan itu membuatnya hampir tergelincir. Ia merona seraya menenangkan diri dan bertanya, "Apa?"

Menahan tawanya, Sasuke menggelengkan kepala. "Tak ada apa-apa."

"Kalau tak ada apa-apa jangan panggil namaku!"

"Kenapa, apa kau tergila-gila dengan ku sehingga lutut-mu bergetar setiap kali aku memanggil namamu?"

"Kesombongan-mu sedikit—"

Sasuke terkekeh, memotong Sakura, kemudian ini merupakan keadaan yang sungguh, sungguh mengejutkan melihat pria itu tertawa. Sakura menatap kagum saat Sasuke tertawa, tertawa penuh, dan berusaha mengingat terakhir kali Sasuke tertawa begitu keras di hadapannya. Ia tak bisa mengingat satupun—mungkin karena Sasuke tak pernah tertawa lepas di depannya sebelum ini—jadi Sakura hanya menatapnya, setengah jengkel, setengah geli, saat Sasuke tertawa.

"Besok, jam tujuh malam," ucap Sasuke, "Aku akan menjemputmu."

"Apa—"

"Pakai pakaian yang hangat."

Sakura menatap Sasuke, ingin protes, tapi sesuatu menyentak hatinya dan membuatnya terdiam, jadi akhirnya ia menyetujuinya, "Oke."

Sasuke menyeringai menang, lalu berbalik dan masuk ke mobilnya. Sakura melihat saat Sasuke mengemudi keluar halaman dan akhirnya menghilang dari pandangan.

Sakura memeluk dirinya, dia duduk di tangga dan menghela napas berat dan lelah, lalu menundukan kepala diantara kedua tangannya. Ia tak pernah menyangka ini akan terjadi karena… Astaga, Sasuke terkadang berperilaku brengsek dan pria itu senang mengejeknya dan terkadang keluar dari karakternya hanya untuk melihat Sakura malu dan dia kasar dan dia kejam pada banyak orang dan dia seperti bajingan sombomg yang seenaknya berpikir kalau Sakura jatuh cinta padanya—oh, beraninya dia!

Tapi kemudian… tapi kemudian dia membuat Sakura merasa seperti ini, dan seketika Sakura bertanya-tanya apakah Sasuke benar. Bahwa Sakura mungkin—hanya mungkin—merasa seperti sedikit mencintainya.

Suara bip nyaring dari ponselnya membuat Sakura melompat. Mengambilnya dari tas, ia melirik pada layar—nomor tak diketahui—dan, untuk beberapa alasan yang tak dapat dijelaskan, ia menekan tombol hijau pada ponsel.

"Halo?"

Sakura membeku saat sebuah suara mengalun menjawabnya.

"Ini aku, Sakura."

o.o.o.o.o

Sasuke, bisa dikatakan, merasa puas.

Cukup luar biasa, oleh beberapa jenis sihir mungkin, semuanya berjalan baik hari ini. Naruto menjamin kesepakatan lain dengan perusahaan Hyuuga, dan jika kerjasama mereka kali ini sukses besar seperti terakhir kali, mereka mungkin akan bergabung dan setuju untuk bekerjasama penuh, yang mana akan sangat menguntungkan baginya dan perusahaan Hyuga. Ino pulang ke rumah, dan kedengarannya, dia akan tinggal lebih lama kali ini. Dan kencannya dengan Sakura…

Sasuke tidak benar-benar tahu apa yang terjadi dengan wanita itu. Sakura meneleponnya tengah malam untuk menyuruhnya tidur saat ia sedang sibuk mengerjakan sesuatu. Sakura mengunjunginya setiap hari, kadang-kadang membawakannya makanan dan kopi, memberi Sasuke tatapan aneh karena terlalu keras kepala. Sejak awal hubungan mereka, Sakura sering membuatnya merasa sangat kesal hingga membuatnya sangat ingin menghancurkan sesuatu. Sekarang, tak ada tindakan Sakura yang mengganggunya lagi, dan hal ini sangat mengganggunya, dia juga ingin menghancurkan sesuatu sekarang.

Bukan karena Sasuke membencinya. Ini jauh, jauh, jauh dari itu, sungguh. Sakura menyenangkan dan baik dan wanita itu mengerti dirinya tak seperti seorang pun sebelumnya. Ini baru lima, hampir enam, bulan sejak mereka… membuat kesepakatan itu, dan masih terlalu awal untuk Sasuke mengatakan apa yang mungkin dirasakannya—atau mungkin tak dirasakan—pada Sakura, kan?

Bel pintu berdering dan Sasuke bangkit untuk membuka pintu. Hal yang tak diharapkannya, bagaimanapun, adalah Itachi sedang berdiri di depan pintu.

"Otouto."

Untuk kedua kalinya Sasuke membeku, dan matanya mengarah pada dokumen yang Itachi pegang—dokumen yang merincikan perjanjian antara perusahaan Hyuuga dan perusahaan Uchiha hari ini, yang seharusnya dilakukan oleh Naruto.

"Kau—" Sasuke menatapnya, marah. "Naruto seharusnya mengurus kesepakatan itu."

"Dia melakukannya. Aku bertemu dengannya saat menuju ke sini," jawab Itachi lancar, kemudian menyerahkan file itu ke Sasuke.

Mata Sasuke menyipit seraya menerima file itu. "Kenapa kau di sini?"

"Ada sesuatu yang harus ku katakan padamu."

Sasuke menyilangkan tangan di depan dada. "Cepat katakan. Aku tak punya waktu untuk orang sepertimu."

"Ini tentang waktu di mana aku akan kembali, Sasuke," ucap Itachi tenang, wajahnya datar, tak membuang-buang waktu, "Jadi aku akan kembali. Aku kembali untuk mengurus perusahaan. Aku sudah membicarakannya dengan Uchiha tertua, dan mereka semua setuju. Aku akan mulai minggu depan."

"Kau pasti bercanda."

"Tidak."

Sasuke ingin membunuh bajingan ini. "Bagaimana—sebagai apa?

"Aku hanya mengikuti sekitar untuk saat ini." Suara Itachi halus dan matanya tak menyembunyikan sesuatu. "Jika aku bisa menangani semuanya dengan baik, aku bisa mendapatkan posisimu."

"Kau ingin menjadi CEO," ujar Sasuke, menyadari dengan baik maksud dari ucapan Itachi. "Kau menginginkan perusahaan. Kau menginginkan perusahaan dari-ku."

Itachi menatapnya datar. "Itu wajar."

"Aku tak akan membiarkannya," Sasuke menggeram, megepalkan tinjunya. "Kau pergi ketika semuanya berantakan. Kau pergi ketika kau seharusnya melakukan sesuatu untuk menjaga perusahaan dari kebangkrutan. Kau pergi, kau sama sekali tak peduli dengan perusahaan, dan kau tak layak mendapatkannya, kau pengkhianat."

Mata Itachi berkilat aneh. "Namun tak ada yang bisa kau lakukan tentang itu."

"Kau tak tahu apa yang mampu ku lakukan sekarang."

"Apa yang kau takutkan, Sasuke?" Tanya Itachi. "Kau takut aku akan mengambil semuanya darimu?"

Menggeretak, Sasuke menarik tinjunya dan melayangkannya ke wajah kakaknya.

"Kau tak akan mengambil semuanya," Sasuke meludah, menyaksikan darah menetes dari mulut Itachi, merah pekat di bawah sinar bulan, "Kau hanya mengambil apa yang penting, kan? Itu satu-satunya cara kau bisa merasa senang."

"Anak pintar." Itachi berdiri, seringai kejam melengkung di bibirnya mengingatkan Sasuke betapa dirinya sangat terluka. "Ini hanya soal waktu, kau mengerti."

.

.

.

TBC

.

.

Terima kasih sudah membaca, review, follow, dan favorite.