~Fall in Love With You, again and again ~ [Chapter 11]
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Judul : Fall in Love With You, again and again.
Author : Ciel Bocchan
Genre : Romance, School, Comedy, and Fantasy
Pairing : NaruHina ( Uzumaki Naruto dan Hyuuga Hinata)
Rating : T
[ Aku mungkin abadi, karena itu aku akan mencintaimu dalam waktu yang sangat panjang. Jangan menghitung berapa puluh tahun itu. Karena jika kau menghitung, kau takkan pernah berhenti tersenyum membayangkan berapa banyak waktu yang akan kita habiskan bersama. Tapi ada syaratnya... ]
"Sepertinya, Itachi mengetahui sesuatu yang tidak kakek dan paman Hiashi ketahui. Kenapa Itachi merahasiakannya dariku?" gumam Shisui sambil berjalan menuju kamarnya.
"Karena kau tak bisa menjaga rahasia" suara Itachi.
Shisui menoleh cepat dan mendapati Itachi sudah berada di belakangnya.
"Sejak kapan..."
"Sejak kau keluar dari kamar kakekmu" jawab Itachi bahkan sebelum Shisui melanjutkan kalimatnya. Shisui menatap Itachi heran. Sahabatnya itu selalu mengagetkan orang dengan tiba-tiba muncul tanpa ada yang menyadari.
"Aku ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting denganmu" kata Itachi pelan sambil mengarahkan Shisui untuk mengikutinya.
Itachi berpura-pura mengajak Shisui untuk bermain ke rumahnya dengan suara lantang. Ia tahu kalau orang-orang suruhan kakek Shisui akan mendengarnya. Berbicara pelan malah akan menimbulkan kecurigaan yang akan membuat mereka semakin nekat untuk memantau dari jarak dekat. Setidaknya jika Itachi berbicara dengan suara keras, orang-orang suruhan kakek Shisui tak akan terlalu curiga dan akan tetap mengawasi dari jarak jauh.
"Oh, hai, Sakura-chan" sapa Shisui ketika mendapati gadis Haruno itu berada di rumah Uchiha Itachi dan Uchiha Sasuke. Yang disapa adalah Sakura, tetapi Sasuke juga ikut menoleh. Mereka sedang mengerjakan sesuatu, mungkin semacam tugas dari sekolah.
"Hai, Shisui-niisan" sahut Sakura dengan senyum lebar.
"Orang-orang akan mengira kalian berpacaran jika kalian terus menempel seperti itu" sindir Sasuke tanpa melihat ke arah Itachi dan Shisui. Itachi tak memperhatikan obrolan teman dan adiknya itu. Ia sibuk melihat kondisi sekeliling dan mendapati dua orang pria Uchiha sedang mengawasinya dari sebuah pohon yang tak jauh dari pintu rumahnya. Sepertinya, mereka hanya mengawasi gerakan Itachi kalau ada yang terlihat mencurigakan. Mereka tidak sampai mengawasi apapun pembicaraan Itachi setiap harinya.
"Kalau Konan mendengar kau berbicara seperti itu, pacar kakakmu itu akan mencekikku sampai aku tak bisa bernafas dan akhirnya aku akan mati muda" kata Shisui dengan wajah yang di buat pura-pura takut. Sakura tertawa kecil mendengar candaan Shisui. Dan Sasuke membenarkan dengan antusias.
"Ayo" ajak Itachi kemudian. Mereka kemudian masuk ke kamar Itachi dan menutup pintu rapat-rapat. Itachi duduk di meja belajarnya yang berada tepat di arah jendela dengan tujuan untuk bisa mengawasi gerakan dua orang tersebut. Sementara Uchiha Shisui, duduk di kursi lainnya.
"Oya, kakek bilang, orang-orang yang disuruh untuk mengawasimu itu bukan untuk berbuat jahat. Kakek bermaksud melindungimu dari Izuna-sama" jelas Shisui.
"Aku tahu...tunggu! melindungi dari siapa?" tanya Itachi kaget ketika mendengar nama yang terdengar sangat familiar di telinganya.
"Dari Uchiha Izuna. Kau tahu? Dia masih bertahan hidup sampai saat ini. Kakek bilang, dia mengambil kekuatan dari beberapa klan Uzumaki yang pernah dia kalahkan" info Shisui dengan wajah serius dan sedikit takut.
"Jadi, ada Uchiha yang lebih tua dari kakek?" tanya Itachi. Shisui mengangguk yakin.
Itachi langsung menyadari satu hal, bahwa orang-orang yang menguntit Uzumaki Naruto, pasti orang-orang suruhan Uchiha Izuna.
"Dengarkan aku. Aku butuh bantuanmu untuk menghentikan acara penguntitan seperti ini"
"Untuk apa? Lagipula mereka tak berniat jahat"
"Aku tahu. Tetapi, ada seseorang yang harus segera aku temui. Jika dua orang itu melihatku, mereka pasti akan melapor pada kakek dan semuanya akan berantakan" jelas Itachi serius.
"Memangnya siapa? Yang ingin kau temui itu?"
"Ssst!" Itachi langsung meletakkan telunjuk kanannya di bibir begitu ia tak lagi mendapati dua orang suruhan Uchiha Obito di tempat semula. Pemuda itu beranjak turun dari mejanya dan melihat keluar jendela. Itachi tak menemukan dua orang itu lagi di sekitar rumahnya.
"Kenapa kau tak pernah menceritakan apapun padaku tentang siluman rubah itu?" bisik Itachi setelah memastikan bahwa dua orang itu telah pergi.
"Kakek bilang aku tak boleh menceritakan rahasia penting seperti itu pada siapapun"
"Termasuk aku?" tanya Itachi. Shisui terlihat berpikir sebentar, lalu menjawab agak ragu, "Sepertinya begitu. Tetapi, kau juga sudah mengetahui semuanya, bukan? Jangan memberitahu siapapun"
"Aku tahu di mana rubah itu"
"Benarkah? Kau sudah bertemu dengannya?" seru Shisui
"Aku harus bertemu dengannya sekali lagi untuk memastikan. Karena itu aku butuh bantuanmu. Jangan memberitahu kakek tentang pembicaraan kita mengenai siluman rubah. Aku tahu kakek ingin melindungiku dari Uchiha Izuna. Tetapi, beritahu dan yakinkan kakek bahwa aku bisa menjaga diri sendiri. Jika aku butuh bantuan, aku pasti akan langsung memberitahu kalian. Hanya itu cara satu-satunya agar aku tak diawasi lagi. Katakan kalau kau akan menjamin bahwa aku takkan tertangkap ataupun membocorkan rahasia tersebut. Kakek pasti akan menurutimu, mengerti?" jelas Itachi serius. Shisui menatap sahabatnya itu bingung. Dia masih mencerna semua yang baru saja Itachi jelaskan padanya. Pikirannya memang agak lambat. Jadi, Itachi harus sedikit bersabar untuk menunggu sahabatnya itu mencerna rencana mereka.
"Aah, baiklah. Tetapi, bagaimana kalau kau tertangkap oleh Izuna-sama?"
"Jika selama dua puluh empat jam aku tidak kembali saat pergi menemui rubah itu, beritahu kakek. Sekarang, kau pulang, bilang pada kakek apa yang sudah aku katakan tadi, tapi, jangan bicara apapun mengenai siluman rubah. Begitu kakek menyetujui permintaanku, segera beritahu aku agar aku bisa langsung menemui rubah itu"
"Mengerti. Tetapi, untuk meyakinkan kakek, kurasa tidak bisa hanya dalam waktu dua puluh empat jam. Karena itu, kau harus bersabar" ujar Shisui. Itachi mangangguk
Naruto menatap makanan malam yang telah ia masak sendiri. Makanan tersebut sudah ia tata rapi di atas meja. Tetapi, Naruto tak yakin kalau ia akan bisa memakan sayuran hijau seperti itu lagi. Saat Hinata datang dan memasakkan sayuran untuknya, Naruto harus menahan diri untuk tidak memuntahkan sayur itu dan mencoba menelan tumbuhan hijau tersebut. Inilah salah satu yang paling Naruto tak sukai ketika berada bersama manusia, memakan tumbuhan hijau seperti ini. Tetapi, Naruto harus memakannya agar ia tak dipandang berbeda dan untuk membiasakan diri juga.
"Kenapa rasanya tak bisa jauh lebih baik lagi?" gerutu Naruto lalu mengambil sumpit dan menjepit sayuran dengan dua benda kurus itu. Pemuda itu hampir saja memasukkan sayuran ke mulutnya ketika pintu rumahnya diketuk. Naruto kaget. Pemuda itu langsung berdiri dan berjalan cepat menuju pintu rumahnya. Ketika ia membuka pintu, raut wajahnya langsung berubah, orang yang datang bertamu bukanlah seseorang yang sejak dua hari lalu ia harapkan. Uchiha Itachi. Sejak menelponnya dua hari lalu di sekolah, Itachi sudah tak mengabarinya lagi, bahkan untuk menelpon atau sekedar mengirim email singkat. Pemuda Uchiha itu membuatnya sangat penasaran karena pembicaraan terakhir mereka saat itu adalah sesuatu yang sangat penting bagi Naruto.
Naruto menghela nafas dan segera merubah raut wajahnya.
"Hai, Sakura-chan" sapa Naruto ramah, "Ayo masuk."
Sakura tersenyum lalu masuk ke rumah Naruto. Gadis itu melepas mantel tebalnya karena kamar Naruto telah dinyalakan pemanas ruangan.
"Apa aku mengganggu?" tanya Sakura
"Tidak. Aku baru saja akan makan malam, Sakura-chan boleh ikut kalau ingin" kata Naruto sambil kembali duduk di tempatnya. Sakura tersenyum lalu duduk diseberang meja lainnya.
"Apa ada yang bisa aku bantu? Aku kaget ketika melihat ternyata Sakura-chan yang datang malam-malam begini, apalagi salju sedang turun" tanya Naruto.
"Aah, t-tidak, aku hanya ingin datang bermain saja" jawab Sakura. Naruto menganguk-angguk.
"Makanlah, aku baru saja memasaknya" ujar Naruto lalu memulai makan malamnya. Pemuda itu hanya makan daging sekarang. Dengan adanya Sakura, Naruto bisa menyuruh Sakura untuk menghabiskan semua sayuran itu.
"Naruto-kun, ada yang ingin aku bicarakan...denganmu" ujar Sakura tiba-tiba. Naruto menatap gadis itu dengan kening mengerut. Wajah Sakura berubah sangat serius.
"Bicaralah" kata Naruto. Pemuda itu berhenti mengunyah untuk menunggu Haruno Sakura berbicara.
"...A-aku...me-menyukai...N-Naruto-kun" ucap Sakura tegang.
Wajahnya terlihat agak takut dan cemas. Naruto menatap gadis itu kaget, sebentar, karena pemuda itu langsung mengangguk-angguk lalu kembali mengunyah dan berkata dengan nada senang, "Aku juga menyukai Sakura-chan. Kenapa harus berwajah tegang seperti itu? Kukira Sakura-chan ingin mengatakan sesuatu yang tidak enak padaku, hahaha". Pemuda itu mengoceh tanpa tahu apa yang saat ini Sakura rasakan. Sakura menghela nafas sambil memjamkan matanya. Gadis Haruno itu memaklumi sifat dan cara berpikir Naruto.
"Bukan menyukai sebagai teman" kata Sakura dengan tegas.
Ekspresi Naruto kali ini berubah bingung sambil memikirkan maksud kalimat Sakura.
"...Aku menyukai Naruto-kun. Mencintai, sebagai seorang wanita pada pria" jelas Sakura. Gadis itu menatap Naruto semakin dekat, berharap pemuda bermata biru safir itu mengerti.
"Mencintai? Aku? Sakura-chan?" tanya Naruto sambil menunjuk tepat di depan hidungnya sendiri. Sakura mengangguk. Naruto melongo. Pemuda itu berubah gelisah. Sekarang Naruto mengerti, bahwa Haruno Sakura mencintainya. Tetapi bagaimana? Gadis itu manusia.
"Ngng...ini tidak benar, maksudku, Sakura-chan belum mengenalku dengan baik dan..." Naruto tiba-tiba menghentikan kalimatnya karena kaget mendapati Sakura sudah duduk di sampingnya. Gadis berambut merah muda itu menatap Naruto serius. Membuat pemuda itu merasa seperti terintimidasi.
"Apa Naruto-kun tidak menyukaiku?" tanya Sakura.
"Aku menyukaimu, t-tapi..."
"Mencintaiku?" tanya Sakura lebih tegas. Naruto bingung ia harus menjawab apa. Ia menyukai Sakura, sebagai teman, sama seperti teman-temannya yang lain. Tetapi kalau mencintai, ia tidak mencintai siapapun, ia tak pernah mencintai siapapun apalagi manusia. Kecuali Hyuuga Hinata, Naruto. Naruto kaget, kenapa dalam pikirannya nama gadis Hyuuga itu tiba-tiba muncul? Kenapa wajah Hinata tiba-tiba membayang di matanya? Kenapa gadis Hyuuga itu tiba-tiba muncul di kepalanya?
Naruto ingin melanjutkan kalimatnya tetapi ia tiba-tiba tidak bisa berbicara. Bukan, bukan karena Naruto gugup atau takut menyakiti Sakura jika ia berbicara. Tetapi, karena gadis Haruno itu tiba-tiba menarik kepalanya dan menciumnya tepat di bibir. Gerakan gadis itu sangat cepat dan tiba-tiba sampai Naruto tak punya kesempatan untuk menghindar. Naruto menatap Sakura dengan mata terbelalak, kaget. Tetapi, gadis Haruno itu tentu saja tak bisa melihat ekspresinya karena Sakura menutup matanya. Kedua tangan Naruto mengepal. Ia ingin mendorong gadis itu, tapi ia takut menyinggung Sakura. Ia tak ingin membuat teman-temannya marah padanya, atau tersinggung. Manusia adalah makhluk yang tak boleh ia sakiti lagi.
Uzumaki Naruto masih terdiam, tak membalas apa yang sedang Sakura lakukan padanya. Gadis Haruno itu bahkan belum mengambil nafas lagi ketika hampir satu menit berlalu. Naruto hanya merasa bahwa bibir Sakura terlalu keras menindih bibirnya. Sakura seperti baru saja melihat seonggok daging segar dan langsung melumat daging tersebut tanpa berpikir.
Ketika akhirnya Naruto sudah tak bisa membiarkan Sakura semakin menjadi-jadi, pemuda itu langsung mendorong baru Sakura dengan pelan, agar gadis itu tak tersinggung.
Naruto tersengal. Dan tentu saja Sakura. Gadis Haruno itu menunduk untuk mengatur nafasnya yang hampir habis kalau saja Naruto tak segera mendorong bahunya untuk menjauh. Keduanya sama-sama tersengal.
Sakura kaget ketika dering ponsel terdengar di dalam kamar Naruto. Bukan ponselnya, tapi ponsel pemuda Uzumaki itu.
Naruto beranjak dari duduknya dan meraih ponselnya yang berada di atas tempat tidur. Kening pemuda itu mengerut. Nama Hinata tertera di layar ponsel. Kenapa gadis Hyuuga itu tiba-tiba menelponnya? Maksudnya, Hinata tak pernah menghubunginya selama ini, gadis itu selalu menyampaikan secara langsung apa yang ingin dia sampaikan meskipun harus datang ke rumah Naruto.
Naruto mengatur detak jantungnya yang tiba-tiba meliar. Sebuah perasaan buruk entah kenapa tiba-tiba muncul di pikirannya. Pemuda itu langsung menekan tombol hijau pada ponselnya. Lalu menempelkan benda mungil itu di telinganya dengan wajah tegang.
Suara pertama yang Naruto dengan adalah suara tangisan. Itu suara Hinata. Gadis Hyuuga itu sedang terisak di ujung telpon. Desau angin juga terdengar sangat jelas.
"...N-Naruto-kun..." Hinata memanggil namanya dengan suara bergetar. Isakan gadis itu terdengar sangat jelas.
"Hinata-chan? ada apa? Kenapa kau menangis?" tanya Naruto panik. Pemuda itu menatap keluar melalui jendela kamarnya dan melihat salju yang turun cukup lebat. Naruto langsung mengambil mantel tebalnya yang tergantung di dinding. Sakura yang sudah bisa bernafas seperti biasa langsung menoleh ke arah Naruto yang sudah bersiap pergi.
"T-tolong...Neji-niisan...I-Itcahi-niisan...a-aku...takut" Hinata berbicara disela isakannya. Suara gadis itu gemetar. Rahang Naruto mengeras.
"Naruto-kun!" panggil Sakura terlambat karena Naruto sudah berlari keluar dari rumahnya. Sakura langsung keluar untuk menyusul. Tetapi, ketika gadis itu sudah berada di luar rumah, Naruto sudah tidak ditemukan di manapun. Pemuda itu pergi sangat cepat. Seperti menghilang.
"Di mana? Di mana kau sekarang? Cepat!" tanya Naruto sambil meloncati rumah demi rumah yang ada. Pemuda itu panik medengar suara Hinata. Mendengar Naruto berteriak padanya membuat Hinata semakin menangis. Bukan karena ia takut mendengar suara pemuda itu yang keras. Tetapi karena ia ingin Naruto segera berada di sisinya.
"T-tidak jauh...dari rumahmu... Di d-depan...kedai berwarna merah." Sambungan telpon kemudian terputus begitu Naruto mendengar Hinata memekik tertahan. Naruto memasukkan ponsel ke saku jaketnya dan mencari di mana kedai berwarna merah yang paling dekat dengan rumahnya.
Pemuda Uzumaki itu menemukannya. Ia mengenal kedai itu, kedai yang selalu ia lewati setiap bepergian. Naruto hanya butuh satu kali lompatan untuk bisa sampai di depan kedai itu. Jalanan yang sangat sepi membuat penjahat akan lebih leluasa bergerak, apalagi di musim dingin seperti ini. Manusia jarang berjalan-jalan keluar rumah kecuali untuk pergi ke sekolah atau berangkat kerja.
Naruto melompat tepat di depan Hinata yang terduduk di atas tanah bersalju sambil menangis. Pemuda itu menoleh dan mendapati dua orang Uchiha hampir membawa pergi Hyuuga Neji yang sudah tak sadarkan diri. Naruto menatap dua orang itu dengan penuh amarah. Pemuda itu baru saja akan menyerang, namun dua Uchiha itu telah menghilang dari hadapannya.
Begitu kedua Uchiha itu pergi. Naruto mengeluarkan satu sosok bayangan yang semakin lama semakin berwujud sebagai manusia. Bayangan yang sangat mirip dengannya. Bayangan itu langsung mengangkat tubuh Hyuuga Neji dan membawa tubuh pemuda Hyuuga yang tak sadarkan diri itu kembali ke rumahnya.
"Hinata-chan!" panggil Naruto pada Hinata yang masih juga menunduk dan terisak di belakangnya. Pemuda itu memegang bahu Hinata dan mengguncangkannya pelan agar Hinata mengembalikan kesadarannya yang sepertinya telah hilang akibat tetegangan dan ketakutannya. Gadis Hyuuga itu mendongak dan menatap Naruto dengan wajahnya yang basah.
"N-Neji-niisan...I-Itcahi-niisan...N-Naruto...kun?" Hinata sepertinya sedang berusaha meyakinkan dirinya bahwa pemuda yang sedang berada di hadapannya saat ini adalah Uzumaki Naruto.
"Ini aku!" ujar Naruto tegas. Pemuda itu langsung memeluk Hinata begitu gadis itu hampir saja menangis semakin keras. Naruto langsung merasakan hangat tubuh gadis itu yang gemetar. Hinata terisak. Naruto mengeratkan pelukannya.
"Berhentilah menangis, Hinata-chan. Aku sudah di sini sekarang" ujar Naruto. Hinata tak bisa mengentikan air matanya yang mengalir. Gadis itu mencengkeram bagian depan mantel Naruto begitu kuat. Naruto langsung mengangkat tubuh Hinata. Membawa tubuh gadis itu dengan kedua tangannya. Hinata tiba-tiba tak sadarkan diri. Gadis itu pingsan dengan wajahnya yang basah oleh air mata.
Naruto membaringkan Hyuuga Hinata di tempat tidurnya. Lalu melepaskan mantel tebalnya dan menggantungkan kembali mantel itu pada tempatnya. Pemuda Uzumaki itu lalu bergegas mematikan pemanas ruangan karena suhu panas di ruangannya akan membuat Hinata gerah. Naruto baru saja ingin menyalakan pendingin kamarnya ketika ia tersadar bahwa ia sama sekali tak memasang alat pendingin apapun. Tentu saja, untuk apa ia yang bersuhu tubuh dingin memasang pendingin ruangan?
Akhirnya, Naruto hanya duduk di sisi Hinata. Menunggu gadis Hyuuga itu sadar.
Naruto baru menyadari bahwa ternyata Haruno Sakura sudah tak ada di rumahnya. Sepertinya gadis itu sudah pulang sebelum menunggunya kembali ke rumah. Sudahlah.
"Hei...Hinata-chan, sampai kapan kau akan tidur dan membiarkan aku menunggu seperti manusia bodoh?" tanya Naruto dengan senyum kecut. Melihat Hinata dalam keadaan seperti membuat sesuatu dalam dirinya seperti ingin melompat. Sesuatu dengan kekuatan yang sangat besar. Kekuatan yang dulu ia jadikan sebagai alat untuk membunuh semua yang mengganggu keberadannya. Tetapi Naruto telah berubah setelah ia merasakan bagaimana tak menyenangkannya hidup abadi itu. Naruto menyadari bahwa ia membutuhkan seseorang untuk selalu berada di sampingnya. Seseorang yang bisa menerimanya dengan semua latar belakang atau hal buruk apapun yang pernah ia lakukan di masa lalu. Dan satu-satunya makhluk yang sangat menarik perhatiannya adalah manusia. Mungkin karena Ibunya adalah seorang manusia jika yang dikatakan Uzumaki Mito padanya adalah benar. Bahwa ia memiliki orangtua. Seorang Ibu keturunan Uzumaki. Dan seorang Ayah yang menurut beberapa cerita, bukanlah manusia.
"Ngh..." Hinata melenguh karena gadis itu telah tersadar. Naruto segera mengelus puncak kepala gadis itu, berharap elusannya bisa membuat Hinata sedikit merasa nyaman dan membaik.
"...Naruto...kun?" tanya Hinata dengan mata yang belum terbuka sepenuhnya. Naruto tersenyum lebar lalu mengangguk. Hinata menggumamkan sesuatu yang tak jelas lalu bangun dari tidurnya dan duduk dengan tegak.
"Di mana Neji-niisan?" tanya Hinata dengan wajah cemas.
"Tenang saja, aku sudah membawanya kembali ke rumah kalian. Tetapi maaf, aku tidak langsung membawamu pulang. Aku juga sudah mengatakan pada Ayahmu, kalau malam ini Hinata-chan akan menginap di rumah Karin dan dalam keadaan yang sangat baik" jawab Naruto lalu tersenyum lebar.
"K-kenapa?" tanya Hinata.
"Kenapa?" Naruto malah bertanya balik dengan bingung. Pemuda Uzumaki itu terlihat berpikir sebentar, kemudian menjawab dengan wajah senang,
"Aah, kurasa karena aku ingin Hinata-chan berada di sini bersamaku." Kening Hinata mengerut, sebentar, karena gadis Hyuuga itu langsung tertawa kecil melihat ekspresi Naruto. Bagi orang lain, Uzumaki Naruto memang terlihat bodoh, tetapi baginya, apapun yang Naruto lakukan dan katakan, semuanya adalah sesuatu yang sangat menyenangkan. Tapi...tunggu dulu! Apa yang Naruto maksud dengan Hinata menginap di rumah Karin? Wajah Hinata langsung memerah.
"J-jadi? A-aku...m-mengi..." Hinata yang terlalu kaget belum sempat melanjutkan kalimat terbata-batanya karena Naruto langsung memotong kalimatnya.
"Ya! Menginap di sini, di rumahku" lanjut Naruto dengan senyum yang sangat lebar. Jika orang lain melihat senyum itu, maka, orang akan berpikir kalau senyum Naruto adalah karena pemuda itu baru saja mendapatkan sebuah hadiah cantik dari surga.
Mendengar kalimat Naruto. Tentu saja Hyuuga Hinata melongo. Kalau tadi perumpamaan senyum lebar Naruto seperti orang yang baru saja menerima hadiah cantik dari surga. Maka, ekspresi kaget Hinata adalah, seperti seseorang yang baru saja mengetahui kalau untuk mencapai langit, caranya sungguh sangat mudah. Mereka bisa membeli tangga ajaib di sebuah supermarket untuk bisa sampai di langit biru dan melihat dunia dari atas sana.
"B-ber-du-a?" tanya Hinata yang terlihat akan segera pingsan lagi.
"Berdua? Tentu saja. Bukankah aku hanya tinggal sendiri?" jawab Naruto dengan wajah polosnya sebagai manusia yang benar-benar tak tahu apa-apa. Pemuda Uzumaki itu lalu menatap ekspresi kaget di wajah Hinata dan berpikir apakah ada sesuatu yang salah dengan kalimatnya. Pemikiran manusia dan siluman tentu saja berbeda. Bagi manusia, terutama lawan jenis yang belum terikat dalam sebuah hubungan yang pasti. Tidur berdua dalam satu rumah adalah sesuatu yang cukup berbahaya. Apalagi jika rumah tersebut seperti rumah Naruto, yang hanya memiliki sebuah kamar dan sebuah tempat tidur. Sementara bagi siluman seperti Naruto, semuanya terlihat normal dan baik-baik saja. Siluman tak pernah mengenal aturan apapun.
"Ada apa? K-kenapa kau menatapku aneh?" tanya Naruto heran.
"T-tidak, tidak apa-apa. A-Aku baik-baik saja" jawab Hinata lalu berusaha tertawa meskipun tawanya terdengar memaksa dan raut wajahnya masih sangat kaget. Apakah ini hanya mimpi?
Naruto langsung tersenyum senang begitu mendengar jawaban 'baik-baik saja' dari Hinata.
"Baiklah, sekarang ceritakan padaku apa yang sebenarnya sudah terjadi tadi" kata Naruto kemudian. Raut wajahnya tetap terlihat ramah padahal dalam hatinya sedang cemas. Naruto hanya tak ingin membuat Hinata tegang jika ia memasang wajah serius.
Menghilangkan semua rasa yang sedang bercampur aduk dalam hatinya, Hinata akhirnya menceritakan apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Tepatnya sekitar beberapa menit sebelum Sakura datang ke rumah Naruto. Uchiha Itachi sedang dalam perjalanan menuju rumah pemuda Uzumaki itu. Shishui mengatakan kalau kakeknya sudah menghentikan penjagaan atas Itachi dengan jaminan seperti yang Itachi telah beritahukan pada sahabatnya itu. Karena itu Itachi langsung pergi menemui Naruto. Tetapi, ketika hampir mencapai rumah Naruto. Itachi bertemu dengan Hinata dan Neji yang juga sedang dalam perjalanan menuju rumah Naruto. Karena Itachi sudah mengetahui semuanya tentang hubungan yang sebenarnya pernah terjadi antara kedua orangtua Uzumaki Naruto, klan Uchiha dan Hyuuga, pemuda itu kaget ketika Neji mengatakan bahwa ia dan Hinata pergi ke rumah Naruto untuk membawa pemuda Uzumaki itu ke kediaman Hyuuga sebab Ayah Hinata ingin bertemu dengan rubah tersebut. Walaupun Itachi tahu kalau Neji, dan Hyuuga lainnya belum tahu kalau Naruto adalah rubah yang mereka cari selama ini, juga Uchiha Obito yang belum mengetahui apapun tentang rubah yang telah menyamar menjadi manusia itu.
Akhirnya, mereka bertiga memutuskan untuk pergi bersama menemui Naruto. Itachi tidak mungkin tiba-tiba melarang kakak-beradik Hyuuga itu untuk menemui Naruto karena mereka, terutama pemuda cerdas seperti Neji, akan langsung mencurigai bahwa ada sesuatu yang telah terjadi.
Sialnya, Itachi telah melupakan bahwa Naruto pernah bercerita kalau ada anggota Uchiha yang beberapa kali mengawasinya. Tiba-tiba saja, empat orang berjubah hitam dengan lambang klan Uchiha muncul dan menyerang mereka. Tak ada yang bisa melawan walaupun diantara mereka adalah Uchiha Itachi. Pemuda Uchiha itu hanya memiliki kecerdasan dan kejeniusan. Itachi sama sekali tak memiliki kekuatan apapun untuk melawan anggota klannya yang tentu saja memiliki kekuatan yang tidak semua manusia biasa miliki. Hyuuga Neji juga tak memiliki kekuatan apapun tentu saja. Hal terakhir yang Itachi lakukan sebelum ia diseret pergi adalah menatap Hyuuga Hinata, lalu berbicara tanpa suara, menyebut nama Naruto dengan gerakan bibir yang sangat jelas.
"Jadi...mereka membawa Itachi-niisan?" gumam Naruto marah. Hinata mengangguk.
Naruto membatin heran. Apa karena Uchiha Itachi telah mengetahui sesuatu yang sangat penting, jadi, Uchiha Izuna menyuruh anak buahnya untuk menangkap Itachi? Naruto mengacak rambutnya frustasi. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Ia bahkan tidak tahu kemana mereka membawa Itachi pergi.
"...N-Naruto-kun, a-apa tadi...Sakura-chan ke sini?" pertanyaan Hinata membuyarkan lamunan Naruto. Bagaimana Hinata bisa tahu? Batin Naruto.
"Aah, i-iya, tadi dia sempat ke sini. T-tapi sudah pulang! Ya, dia sudah pulang sejak beberapa jam yang lalu. Sudah sangat lama" jawab Naruto cepat. Pemuda itu tiba-tiba gelagapan menghadapi pertanyaan Hinata. Mengingatkannya pada apa yang telah terjadi antara ia dan Sakura beberapa menit lalu.
"Beberapa jam yang lalu? Seharusnya harum parfum ini sudah hilang" ujar Hinata heran. Ya, gadis Hyuuga itu mencium harus parfum Sakura di tubuh Naruto.
"P-parfum?" tanya Naruto. Pemuda itu seolah merasa bahwa ia telah menghianati Hinata. Rasanya seperti waktu lalu, saat banyak sekali manusia yang mencurigainya sebagai pelaku tunggal atas semua kejahatan yang terjadi.
Hinata menatap perubahan yang terjadi di wajah Naruto. Pemuda itu terlihat gugup dan gelisah. Kening Hinata mengerut sebentar. Ia benar-benar mencium wangi parfum Haruno Sakura di tubuh Naruto karena pemuda Uzumaki itu duduk berhadapan sangat dekat dengannya. Hinata sangat menghapal harum parfum yang sering dipakai oleh teman-teman terdekatnya. Seperti parfum kesukaan Uzumaki Karin dan Tenten. Juga Haruno Sakura.
Ketika menyadari sesuatu, Hinata langsung menatap Naruto dengan mata terbelalak. Kedua tangannya mengepal. Detak jantungnya meliar. Hanya satu alasan kuat kenapa harum parfum Haruno Sakura sampai membekas cukup lama di kaos yang Naruto pakai. Hinata ingin bicara, tetapi ia tak bisa, suaranya tak ingin keluar.
"H-Hinata-chan?" ujar Naruto sambil menatap Hinata yang sedang menatapnya dengan mata memerah. Hyuuga Hinata sedang berusaha menahan air matanya untuk tak tumpah di depan Naruto. Apa yang akan Naruto pikirkan jika melihatnya tiba-tiba menangis tanpa sebab?
"Biarkan aku pulang" kata Hinata tiba-tiba. Suara gadis itu terdengar sangat tegas. Hinata sudah tak lagi menatap Naruto. Tiba-tiba saja, menatap pemuda Uzumaki itu membuatnya seperti melihat bagaimana Naruto dan Sakura bermesraan hingga membuat harum parfum gadis Haruno sampai membekas di kaos Naruto. Hinata bergegas turun dari tempat tidur.
"Di luar salju sedang turun lebat, Hinata-chan. Kenapa kau tiba-tiba ingin pulang?" tanya Naruto heran sambil berjalan mengikuti Hinata yang sedang mencari sepatunya di rak yang berada di arah pintu keluar. Gadis Hyuuga itu tak menjawab, menolehpun tidak.
"Hinata-chan, di luar sedang dingin sekali, aku tak bisa..." kalimat Naruto terhenti karena Hinata yang sudah duduk dan ingin memakai sepatu, menoleh ke arahnya sangat cepat. Naruto kaget melihat bahwa wajah gadis Hyuuga itu telah basah oleh air mata.
"Apa kau lupa, Naruto-kun?... bahwa aku memiliki suhu tubuh yang hangat. Aku tidak akan membeku meskipun kau menguburku dengan salju" ujar Hinata marah. Tidak, Hinata tidak marah meskipun kelihatanyannya gadis itu memang seperti orang marah. Gadis Hyuuga itu hanya sedang cemburu. Sangat cemburu.
"Kenapa kau menangis?" tanya Naruto panik. Hinata telah selesai memakai sepatunya lalu berdiri dan berjalan menuju pintu. Naruto mengikuti gadis itu. Ketika Hinata membuka pintu dan udara dingin menyerbu masuk, Naruto menarik salah satu lengan Hinata. Membuat langkah gadis itu terhenti.
"Tolong, jangan seperti ini padaku, Hinata-chan. Aku baik-baik saja jika orang lain yang bersikap seperti ini, tetapi jika orang itu adalah Hinata-chan,... aku mohon. Katakan jika aku telah menyakitimu. Aku berjanji akan meminta maaf dan memperbaiknya." Naruto menatap Hinata dengan kedua matanya yang telah berubah coklat. Raut wajahnya berubah sangat sedih.
Hyuuga Hinata menatap mata Naruto kaget. Gadis Hyuuga itu kemudian berhenti menangis dengan tiba-tiba.
[to be continued]
