Halo, dear readers~
Maaf untuk keterlambatan update fic yang satu ini, secara fic crossover yang satu lagi, Hogwarts: Wizards and Death Reapers cukup menyita perhatian. Nah, karena fic itu sudah mulai memasuki chapter akhir, author gaje ini bisa menyelesaikan fi cabal yang satu ini (semoga begitu!)
Nah, tanpa banyak bacot, cekidot…
Happy reading~
Chapter 11
"Ya." Suara Kusaka membuat perhatian Toushiro teralih. "Kita ada di Bukit Soukyoku. Tapi sepertinya teman-temanmu tidak sengaja terbawa kemari; mereka dalam jangkauan kekuatan Segel Raja ini."
Toushiro mengerling ke arah penyihir Fairy Tail yang tak jauh di belakangnya. Semuanya tampak agak kaget dan bingung, serta masih belum terbiasa dengan atmosfer Soul Society; Natsu dan Gajeel tampak pucat, memandang berkeliling dengan mata tak fokus. Tapi, kata Toushiro dalam hati, paling tidak mereka sepertinya baik-baik saja.
Dan mereka tak boleh terlibat lebih jauh dari ini.
"Inilah kekuatan Segel Raja; mengendalikan ruang dan waktu sekehendak pemegangnya. Kau lihat, aku membuatmu menghabiskan beberapa hari selama kau berada dalam dunia itu, dimensi itu, namun di sini, hanya beberapa jam saja."
"Kusaka, kau-"
"Ya. Dan kekuatan itulah yang menyelamatkanku. Membangkitkanku kembali, seklipun aku waktu itu terbangun di Hueco Mundo! Dan sekarang, kekuatan ini akan membuat kita bisa membalaskan dendam kita pada Seireitei!"
"Apa…" engah Natsu perlahan; perpindahan dimensi tadi masih meninggalkan efek padanya, reaksi yang mirip setelah naik kendaraan. Memualkan. "… yang mereka… bicarakan?"
Namun, Kusaka tak mempedulikan para penyihir itu. Matanya tertuju pada Toushiro. Pada Hyourinmaru di tangan si rambut putih.
"Toushiro, potong Segel Raja ini dengan bankai-mu."
Mata Toushiro melebar kaget. "A-apa? Memotong… Segel Raja?"
"Ya," seringai Kusaka mengembang. "Dan kekuatannya akan kita gunakan untuk mencapai apa yang kita inginkan." Tawa gila itu kembali terdengar, seakan-akan Kusaka telah melihat harapannya menjadi nyata.
Para penyihir memandang Kusaka tak percaya; pemuda itu bermaksud menggunakan kekuatan Toushiro untuk menghancurkan tempat ini? Untuk membalas dendam? Apa yang sebenarnya terjadi?!
Erza menatap punggung Toushiro. Benar apa dugaannya. Punggung kecil itu menerima beban berat yang tak seharusnya ditanggungnya. Erza tahu apa yang akan dilakukan Toushiro pada pemuda bernama Kusaka itu. Kenapa, apa yang terjadi antara dia dan Jellal yang dulu juga terjadi pada Toushiro? Keharusan untuk menghentikan seorang teman menjadi iblis yang begitu nyata?
Mendadak saja, tiga sosok hitam muncul begitu saja. Tiga pria muda ber-shihakuso hitam mengepung Toushiro dan Kusaka. Sekilas ketiganya mengerling ke para penyihir dengan tatapan tak ramah, membuat Wendy sedikit berjengit. Namun, tampaknya fokus perhatian mereka bukanlah para ryouka itu.
"Sepertinya kami bertiga yang sampai lebih dulu." Pria botak berkata dengan nada santai; katana-nya di bawanya di belakang lehernya, seringai menghiasi wajahnya.
"Memang begitu, Ikkaku," kata pria muda berambut hitam dalam potongan bob yang berdiri di sampingnya dengan tenang. Tak seperti si botak yang terkesan liar, si rambut bob bisa dibilang modis; bulu mata palsu yang panjang berwarna merah dan kuning menghiasi mata kanannya.
"Komandan Hitsugaya! Kenapa anda-?"
"Jangan repot-repot, Renji," potong si botak – Ikkaku. "Apa gunanya bertanya soal itu sekarang. Dia datang bersama musuh yang mencuri Segel Raja, membuat alarm peringatan terdengar di seluruh Seireitei. Kalian akan segera ditangkap sebagai tahanan Soul Society."
"Hah?!" Gajeel terbelalak.
"A-apa?!" Lucy dan Wendy menangkupkan tangan di depan mulut, menahan jerit kekagetan.
"Ikkaku Madarame," Kusaka menatap si botak dengan senyum angkuh. Ikkaku melempar seringai yang tak kalah sinis. "Bangku Ketiga Divisi 11, dengan kemampuan bertarung yang sangat menjanjikan bagi Gotei 13. Tapi kau tetap bukan lawan yang pantas untukku."
Ikkaku mengangkat senjatanya. Dengan gerakan cepat, ia melompat, bermaksud menerjang Kusaka. "Oh, yeah? Kau kira begitu?!"
Bunyi dentang keras terdengar saat dua pedang beradu. Toushiro bergerak untuk menangkis tebasan Ikkaku untuk Kusaka. Dengan tenaga tak terduga, ia mendorong Ikkaku dengan hentakan keras pada Hyourinmaru, membuat shinigami botak itu terdorong mundur. Namun, usaha itu sedikit mempengaruhi Toushiro, yang sedikit terhuyung untuk berdiri menghadapi tiga shinigami di depannya.
"Dengan luka seperti itu masih mau bertarung untuknya… Sepertinya anda benar-benar serius…"
"Komandan Hitsugaya! Apa yang anda pikir anda lakukan?!" teriak Renji tak percaya.
"Kalian," kata Toushiro, kendati terengah, tiap katanya menunjukkan ketegasan, "jangan menggangguku."
"Toushiro-nii," bisik Wendy, ketakutan dan kecemasan dan kebingungan bercampur dalam benaknya.
Namun, tampaknya tiga shinigami itu serius untuk melawan Toushiro. Ketiganya telah menghunuskan senjata masing-masing. Senjata Renji, Zabimaru, telah aktif dalam mode shikainya. Tak mau kalah, kedua rekannya pun mengaktifkan tahapan pertama pelepasan zanpakutou mereka. Mengetahui bahaya, Toushiro melafalkan mantra pelepasan shikai Hyourinmaru. Rantai yang tersambung dengan sabit nan tajam itu berhasil menghentikan bilah-bilah Zabimaru untuk terpisah dan menyerangnya.
Sebelum pertempuran berlanjut lebih jauh, sosok-sosok lain mucul di puncak rata Bukit Soukyoku itu. Suara tegas perempuan kelihatannya yang memimpin mereka berseru lantang.
"Sudah cukup!"
Orang-orang ber-shihakusou hitam, bahkan beberapa di antara mereka berpakaian ala ninja, mengepung Toushiro dan Kusaka. Secara refleks, Natsu bergerak mendekati si rambut putih, namun Erza menahannya.
"Jangan dulu," bisik Erza. "Kita masih belum tahu apa yang sebenarnya terjadi."
Natsu menatap Erza dengan berang. "Tak perlu ada alasan untuk menolong teman sendiri!"
"Berpikirlah dulu, Natsu!" gertak Erza. "Masalah yang dihadapi Toushiro jelas bukan sesuatu yang mudah! Jangan membuatnya bertambah buruk jika kau menerjang begitu saja tanpa tahu apa-apa!"
Tepat saat itu, tiga sosok lain muncul dari tengah barisan para pengepung itu. ketiganya juga memakai shihakuso hitam, dengan haori putih di atas pakaian itu. yang berdiri paling depan di antara ketiganya adalah wanita muda bertubuh kecil, dengan rambut hitamnya yang dikepang dua dililiti pita putih. Lalu pria muda di sampingnya juga berambut hitam, yang panjangnya melewati bahunya. Hiasan rambut berwarna putih – kenseikan – bertengger di atas kepalanya, wajah khas aristokratnya tampak angkuh menatap Kusaka, bukannya Toushiro. Sosok berhaori yang terakhir bisa dibilang yang paling mencolok. Entah apapun atau siapapun dia, Natsu mungkin akan menertawakan kepala anjing itu jika situasinya tidak segawat itu. Beberapa sosok berhaori lain muncul; seorang pria paruh baya berambut putih panjang, seorang pria yang wajahnya dengan ganjilnya tertutupi cat hitam dan putih, serta seorang wanita berwajah keibuan yang rambut hitam panjangnya dikepang di depan lehernya.
"Turunkan senjatamu, Hitsugaya," kata si wanita berkepang dua dengan nada tinggi. Toushiro mengernyit, namun dengan gerakan cepat ia menarik rantai Hyourinmaru dari senjata Renji.
"Dan kau juga, siapapun kau," tambah si kepala anjing pada Kusaka.
"Konyol," kata Kusaka dengan nada menghina. Ia tertawa lagi, seakan menemukan sesuatu yang sangat lucu. Namun, Toushiro tahu apa yang membuat Kusaka tertawa tanpa keriangan begitu. Terakhir kali Kusaka menurunkan senjata, ia kehilangan hidupnya.
"Sudah cukup! Kau akan di tahan!" kata si kepala anjing lagi.
"Hm… Hitsugaya, tidakkah ini sudah cukup? Inilah saatnya! Mari kita tunjukkan para shinigami sombong ini pelajaran!"
Semua pasukan pengepung itu langsung siaga. Tangan mereka mencengkram senjata masing-masing. Toushiro sedikit berjengit.
"Erza, kita tak bisa menunggu la-"
"Tahan, Natsu!" kata Erza, namun hatinya sama tak tenangnya. Ia masih belum bisa bertindak. Ia – mereka – masih belum tahu apa-apa!
Kusaka mengangkat Segel Raja yang kembali bersinar keemasan ke atas. "Untuk semua kesakitan, untuk semua penderitaan yang kita alami… Ini waktunya pembalasan!" pusaran angin terbentuk dalam lingkaran di sekeliling Kusaka, energi gaib Segel Raja. "Potong Segel Raja ini, Hitsugaya! Lakukan!"
"Serang!" perintah si wanita bertubuh kecil garang.
Natsu berusaha melepaskan diri dari pegangan Erza; Wendy berdiri gemetar. Toushiro hanya berdiri di tempat, membeku dengan keraguan yang terpeta di wajahnya yang pucat, tercabik antara ikut menyerang atau bertahan.
"Getsuga Tenshou!"
Sebentuk sinar merah-hitam yang menyerupai sabit raksasa melesat cepat, seakan jatuh dari langit, menghantam tanah begitu keras sehingga bukit itu berguncang dan mengirimkan asap tipis ke udara. Begitu asap menghilang, terlihatlah torehan memanjang sedalam satu setengah meter di permukaan tanah, seakan pedang besar baru saja membelahnya. Sekalipun itu mengejutkan mereka, paling tidak itu cukup untuk menghentikan gerakan para pengepung yang bermaksud menyerang Toushiro.
Mereka semua mendongak. Dua sosok lain dalam pakaian shinigami muncul dari petak cahaya di langit. Sosok pertama adalah seorang pemuda jangkung dengan rambut jingga cerah. Mata hazelnya berkilat penuh emosi, mencengkram katana hitam legam di tangannya dengan penuh determinasi. Sosok kedua adalah seorang gadis bertubuh kecil dengan rambut hitam pendek, juga membawa katana di tangannya. Keduanya mendarat di antara Toushiro dan para pengepungnya, menatap kumpulan besar shinigami itu dengan kemarahan yang tak dapat ditutupi sama sekali.
Toushiro mendesah pelan. Bagaimana cara untuk membuat Ichigo Kurosaki untuk tidak ikut campur urusan orang lain?
"Hentikan ini!" bentak si rambut jingga berang. "Kalian semua punya otak, tapi apakah satu-satunya penyelesaian masalah kalian hanya dengan bertarung?! Sekalipun ini perintah, apa kalian tidak berpikir dulu sebelum mengayunkan pedang pada teman sendiri?!"
"Sudah cukup, Ichigo Kurosaki! Shinigami pengganti sepertimu tak perlu ikut campur!" gertak shinigami berhaori angka dua dalam huruf kanji itu – Soi Fon – dengan berang. "Ini perintah langsung dari Komandan Tertinggi. Kami harus mematuhinya apapun perintah itu, apapun konsekuensinya, karena kami adalah shinigami Gotei 13!"
"Apa-apaan ini?!" kata Natsu frustrasi, namun tak ada yang mendengarkannya.
"Ini tidak masuk akal!" bentak Ichigo tak kalah berang.
"Sudah kubilang jangan ikut campur! Jika kau bermaksud membelanya, maka kau juga harus disingkirkan!"
Para shinigami pengepung sekarang kembali bersiap, mengangkat senjata mereka. Para penyihir Fairy Tail bisa melihat kekesalan dan geram di wajah Ichigo; Wendy bergidik sedikit.
"Sial" geram Ichigo, mencengkeram senjatanya.
"Tahan!"
Lagi-lagi, pergerakan mereka semua teralihkan. Kali ini, seorang pria tua yang melakukannya. Penyihir Fairy Tail bisa merasakan kekuatan yang luar biasa sekaligus wibawa dimiliki oleh pria itu. Ia juga memakai haori, dengan angka satu dalam huruf kanji di punggungnya. Jenggot putih yang panjangnya mencapai pinggangnya dan kepalanya yang botak menunjukkan keuzuran pria itu, namun tak ada tanda-tanda kelemahan di sana. Bersamanya ada seorang pria lagi, juga berhaori putih, yang puncak kepala berambut ikal panjangnya ditutupi caping jerami. Pria itu tampak dipapah oleh seorang shinigami wanita berkacamata. Di samping mereka, berjalan seorang shinigami wanita lain. Rambut strawberry blonde-nya yang panjang dan tergerai membingkai wajah cantiknya yang tirus. Scraf merah muda yang tersampir di antara bahunya sedikit bergerak jika ia melangkah. Mata abu-abu kebiruan wanita itu terarah pada sosok mungil Toushiro yang membelakangi mereka semua.
"Itu Komandan Tertinggi Gotei 13, Genryuusai Shigekuni Yamamoto," kata shinigami wanita yang sejak tadi bersama Ichigo – Rukia Kuchiki. Gadis itu, bersama para shinigami lain yang tidak berhaori langsung berlutut, memberi penghormatan atas kedatangan sang Komandan Tertinggi. Ichigo hanya berdiri, mengernyit kesal. Bagaimanapun juga, Komandan Tertinggi itu yang telah mengeluarkan perintah untuk memburu Toushiro dan mengeksekusinya.
Tak ada yang melihat senyum licik Kusaka melihat kedatangan pria tua itu, kecuali Toushiro.
"Kyouraku," sambut shinigami pria berhaori angka 13 dengan nada lega, "senang melihatmu kembali, Teman."
"Ah, yeah," kata Kyouraku, shinigami berhaori angka 8 yang memakai caping dengan nada kalem. "Aku tak bisa memaafkan diri sendiri kalau orang yang tak bersalah harus menanggung semua ini, eh?"
"Jadi," Komandan Tertinggi menghentakkan tongkat kayunya ke tanah, menghadapi sang pencuri Segel Raja, "kau masih hidup, Soujiro Kusaka?"
"Kau berpikir seharusnya aku sudah mati, hm? Maaf mengecewakanmu." Kusaka menyeringai tipis.
Komandan Tertinggi membuka matanya, menatap pria muda yang memang seharusnya sudah mati itu dengan lebih intens. "Sepertinya kekuatan Segel Raja memang membangkitkanmu dari kematian di Hueco Mundo."
"Ya. Benar sekali. Aku kembali," Kusaka berkata dengan nada puas.
Pandangan Komandan Tertinggi terarah pada sembilan sosok asing tak jauh dari Toushiro, yang kesemuanya bertampang bingung.
"Para ryouka itu…"
"Ah," Kusaka tersenyum angkuh. "mereka tak sengaja terbawa dari dimensi di mana aku mengirim Toushiro agar kalian tak berhasil menjangkaunya. Mereka berada dalam jangkauan kekuatan Segel Raja sewaktu aku menggunakannya untuk kembali ke Soul Society. Dengan kekuatan Segel Raja ini, aku akan menggunakannya untuk menguasai Soul Society! Menjadi Raja Soul Society! Dan kemudian, tak perlu mencemaskan para ryouka itu karena tak akan ada yang tersisa dari mereka."
"Menjadi Raja Soul Society?" ulang Komandan Tertinggi, ada nada geram di sana; mungkin kegeraman yang sama dengan para penyihir Fairy Tail. "Sombong sekali kau."
"Huh. Kau tidak berhak bicara begitu, Pak Tua, karena orang yang sombong di sini adalah kau!"
"Kau benar-benar tidak punya sopan santun pada orang tua."
Mereka semua memandang kelompok kecil ryouka itu. Pemuda berambut merah muda menyilangkan tangan di depan dada, menatap Kusaka dengan alis nyaris menyatu. Teman-temannya, anehnya, tampak agak terkejut.
"Apa-?" Kusaka menatap Natsu dengan tajam, namun kata-katanya terpotong saat pemuda berambut hitam di samping Natsu memelototinya.
"Apa kau bilang tadi? Apa benar kau bicara begitu? Sejak kapan kau bicara soal sopan santun, hah?"
Ichigo bertukar pandang dengan Rukia, tampak sama bingungnya.
"Aku bisa belajar sopan santun kalau aku mau…"
"Belajar?! Satu-satunya yang kuketahui kau pelajari dan berhasil hanyalah bagaimana bernapas api, Kadal Idiot!"
"Aku harus berhenti memukul kepalanya," kata gadis berambut merah yang memakai armor dengan nada serius. "Sepertinya semua pukulan itu merusak sesuatu di otaknya."
"OI!" protes Natsu, menatap kedua temannya dengan kesal.
"Salamander," kata pemuda bertubuh besar yang membuat para shinigami langsung teringat pada Kenpachi Zaraki. Tampang pemuda yang di wajahnya terdapat beberapa tindikan itu tampak tak percaya. "dia… belajar?"
"Apa-apaan mereka itu?" tanya Ichigo, sangat heran.
Perhatian mereka semua teralih saat gelombang energi ganjil terasa. Kusaka mengangkat tangannya ke udara, Segel Raja di tangannya itu bersinar keemasan. Mendadak saja, terdengar bunyi desiran halus saat Toushiro menerjang Kusaka. Kusaka menyadari serangan Toushiro, menahannya dengan katana-nya, membuat bunyi dentang keras. Kusaka menggeram, menghantamkan tinjunya pada pemuda mungil di depannya.
Para shinigami langsung berdiri, beberapa terkesiap kaget melihat Toushiro terdorong mundur. "Komandan Hitsugaya!" Wanita berambut strawberry blonde yang sedari tadi tampak paling cemas langsung berlari, berusaha mendekati si rambut putih.
"Tetap di tempat, Matsumoto," kata Toushiro tanpa menoleh, tak melihat ekspresi terluka wanita jelita itu. "Ini pertarunganku!"
"Apa maksudnya ini, Hitsugaya?!" seru Kusaka marah.
Toushiro mengangkat senjatanya, terhunus ke arah Kusaka. Saat bicara, nadanya tegas, tanpa keraguan, dan sedingin es, "Aku tak pernah punya niat untuk bergabung denganmu."
"Jika Hitsugaya tidak mengkhianati Soul Society," kata shinigami berwajah ganjil, Komandan Divisi 12, Mayuri Kurotsuchi dengan heran, "kenapa dia pergi begitu saja tanpa memberitahukan apapun pada kita?"
"Dan kenapa dia menolak untuk kembali ke Seireitei dan malah menyerang balik kita?" tambah Soi Fon.
"Kau mau melawanku?! Membunuhku sekali tak cukup untukmu?!" kata Kusaka geram.
"Aku hanya mencoba menebus semua kesalahanku dulu," kata Toushiro datar.
"Menebus kesalahanmu? Kau kira membunuhku bisa menghapus semuanya?!"
Jawaban Toushiro adalah gerakan cepatnya untuk menebaskan Hyourinmaru pada Kusaka. Lawannya itu dengan murka membalasnya, membuat adu pedang yang sengit terjadi.
"Kurasa aku mengerti sekarang," kata Rukia. Suaranya yang jernih terdengar oleh mereka semua sekalipun dilatari oleh bunyi adu pedang dua Hyourinmaru. "Kusaka adalah pria terhormat yang telah bersumpah untuk mengabdikan diri dan kesetiaannya pada Soul Society, segalanya, sebelum peristiwa zanpakutou kembar itu terjadi, untuk menjadi shinigami hebat untuk Gotei 13. Tapi karena duel itu, dia malah kehilangan segalanya; kepercayaan, teman, dan juga Hyourinmaru, yang tak mengakuinya sebagai masternya."
"Kau benar," kata Ichigo, menatap pertarungan di depannya. Para shinigami yang mendengarkan penjelasan itu terdiam, begitu pula para ryouka. "Itulah sebabnya Toushiro berpikir bahwa semua ini adalah kesalahannya, bahwa semua ini adalah tanggung jawabnya."
"Ya. Dan karena Komandan Hitsugaya adalah salah satu petinggi Gotei 13, dia tidak bisa menjadikan posisinya sebagai alasan untuk melawan Kusaka lagi. Itu terlalu menyakitkan," tambah Rukia muram.
"Lagipula, Kusaka seharusnya sudah mati, dan sangat sedikit yang mengetahuinya karena kasus ini ditutup-tutupi. Tidak ada yang tahu tentang Kusaka selain Toushiro, karena itu dia bermaksud menyelesaikan semuanya seorang diri, meninggalkan tempatnya bertugas untuk mengalahkan Kusaka. Tentu saja dia tahu kalau tindakannya itu memiliki konsekuensi besar, bahwa Seireitei akan menghukumnya."
"Si bodoh itu…" Natsu menggeram pelan, tangannya terkepal. Ia teringat bahwa ini bukan pertama kalinya ia melihat peristiwa yang mirip. Bagaimana Erza berusaha menanggung beban atas kegagalan masa lalunya sebagai teman Jellal Fernandez, juga bagaimana Gray bermaksud menanggung kesalahan atas kenaifan yang berujung maut sang guru, dengan temannya Lyon Vastia sebagai lawannya. Ia menatap Erza, yang sekarang ia yakin telah mengetahui apa yang terjadi. "Sekarang, kita bagaimana?"
"Kurasa kau sudah tahu jawabannya, Natsu," kata Erza pelan.
"Jadi," kata Kusaka dengan ketenangan yang dipaksakan saat zanpakutou-nya bersilang dengan zanpakutou Toushiro, "kau benar-benar tak berada di pihakku?"
"Tentu saja," sahut Toushiro tegas. Ya. Dia sudah tidak memiliki keraguan lagi.
"Begitu." Kusaka mendengus, kecewa. tapi segera senyum licik terbentuk di ujung bibirnya. "Kukira kau lebih pintar dari itu, ternyata aku salah.'
Segel Raja mendadak bersinar. Dan bersamaan dengan itu, dengan kekuatan tak terduga, Kusaka membuat gerakan menebas, memaksa Toushiro melompat mundur. Pusaran angin bergerak pelan dalam lingkaran di sekeliling Kusaka.
"Kalau begitu akan kulakukan sendiri! Memotong Segel Raja ini! Dia akan menjawabku!"
Sinar keemasan itu semakin terang. Para shinigami langsung waspada.
"Jangan lakukan itu, Kusaka!" seru Toushiro.
"Hahaha! Sekarang, aku tak perlu ragu untuk memotongnya tanpa bankai!" Kusaka menyeringai. Ia melemparkan kotak emas itu ke udara, dan dengan gerakan cepat, ia memotong Segel Raja menjadi dua.
"Apa?!"
Cahaya yang sangat terang membuat semuanya silau. Ledakan energi yang besar mengirimkan gelombang angin yang sangat kuat ke sekitarnya. Kolom angin berwarna keemasan sekarang menyelubungi Kusaka. Tiba-tiba saja, tombak-tombak udara melesat dari pusaran itu.
Toushiro menatap salah satu tombak udara itu melesat ke arahnya dengan mata melebar. Ia mendengar dengung ganjil dan teriakan, dan mendadak saja, sesosok jangkung berdiri di depannya.
"Ice Make: Shield!"
Toushiro memandang Gray yang berdiri di depannya, sangat terkejut. Penyihir es itu membuat perisai es besar yang berbentuk seperti bunga; lingkaran sihir berwarna putih keperakan berputar pelan di depan hasil sihirannya, melindunginya dan Toushiro dari tombak udara itu.
"Apa yang-?"
"Kau tak perlu menanggung semua sendirian." Toushiro menoleh, mendapati Erza berdiri di sampingnya, rambut merahnya tersibak ditiup angin yang berhembus kencang di sekitar mereka. Erza menatap Gray, yang kemudian berbalik untuk menatap balik si rambut merah; senyum puas menghiasi wajahnya.
"Kita masih bisa menggunakan kemampuan kita di sini! Lihat, perisai es-nya bahkan lebih besar!"
"Apa- Bagaimana kau melakukannya?" tanya Rukia terkejut. Ia tak melihat para ryouka itu memegang zanpakutou… Atau, apakah mereka memiliki kemampuan seperti Orihime dan Chad?
"Well," Gray menggaruk belakang kepalanya, "Konsentrasi, alirkan energi ke telapak tangan, lalu," Gray menempelkan kepalan tangannya ke atas telapak tangan kirinya, lingkaran sihir berwarna putih keperakan muncul di sana, membuat Rukia terkesima," tinggal pikirkan mau bentuk seperti apa."
"Ryouka macam apa kalian ini?" tanya Komandan Tertinggi, membuat kesembilan sosok asing itu menatapnya; Toushiro masih memusatkan perhatiannya pada kolom energi di depannya.
Erza menatap pemimpin para shinigami di jajaran Gotei 13 itu dengan tenang. "Saya tidak mengerti apa maksudnya ryouka, tapi yang jelas, kami adalah penyihir. Penyihir Fairy Tail."
A cliffhanger!
But, keep review~
