ada yang udah nonton knb last game?
saya nonton, kalo ngeliat nash, ingetnya nash yang ada di fic ini lol
Dan Aokise nya banyak banget~~~~
From : Akashi
Subject : pertemuan
Semuanya, malam ini jam 8, aku minta kalian berkumpul di rumah Haizaki. Ada hal penting yang harus dibicarakan.
Kalau telat, kalian sudah tau apa akibatnya kan?
Pesan Akashi terkirim sesaat setelah Aomine memasuki rumah. Tubuhnya basah kuyup.
Wajahnya memerah ketika ia ingat apa yang ia lakukan sebelumnya. Aomine Daiki mencium seorang Kise Ryouta. Bibirnya masih dapat merasakan aroma dan rasa buah dari lip gloss yang menempel di bibir si pirang. Teksturnya kenyal dan lembut, membuatnya ketagihan untuk mencumbu si pirang.
Sekarang Aomine tau kenapa banyak orang—baik perempuan ataupun laki-laki—yang mengejar dan memperebutkannya.
Cepat-cepat Aomine mengganti pakaiannya dan pergi menuju kediaman keluarga Haizaki.
Suatu firasat buruk tiba-tiba menghantuinya.
.
.
.
.
BLOOD OF INNOCENCE
Chapter 11: Nightmare
Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi
Story and Cover © Murrue Mioria
Rating: M
Genre: Romance, Supernatural, Fantasy, Horor, Suspense (mix)
WARNING! AU, OOC, Boyxboy, Shounen-ai, yaoi, Typo, kaku, gak jelas, terlalu banyak percakapan
Don't like, don't read!
Pairing: Mainly Aokise, platonic Haikise, slight allxkise
.
.
.
.
Hujan mulai mereda di sore hari. Kise dan yang lainnya mendapat pesan dari Akashi dan beramai-ramai menuju kediaman keluarga Haizaki.
"Kenapa harus di rumahku?! Bikin repot saja..." Haizaki menggerutu sambil memasukan koin ke mesin penjual miniman otomatis. Saat ini mereka tengah berhenti di sebuah deretan mesin minuman penjual otomatis di pinggir jalan.
"Mungkin karena rumahmu adalah tempat yang tepat," sahut Kuroko. "Ah, dan aku juga ingin membicarakan sesuatu juga," tambahnya, teringat dengan arsip di ruangan kepala dan wakil kepala sekolah. Manik aqua nya melirik ke arah Kise yang sibuk melihat pojokan deretan mesin penjual otomatis.
Pemuda pirang itu tampak tersenyum. Padahal di sana tidak ada orang sama sekali. Aneh.
Kuroko mulai bertanya saat mereka melanjutkan perjalanan, "Kise-kun, kenapa tadi kau tersenyum?"
"Eh, Kurokocchi... Itu... Tadi ada anak kecil yang menyapaku di pojokan sana, jadi aku senyum saja... Dan dia senyum balik! Imut!" Kise bercerita dengan wajah berseri-seri.
Kuroko diam. Wajahnya datar, namun keningnya mengkerut.
"Kau sedang tidak bercanda kan?"
"Apa maksudmu, Kurokocchi! Tentu saja tidak!" Kise cemberut. Si pirang sangat menggemaskan, tapi bukan saatnya untuk memikirkan itu sekarang.
Kuroko menengok ke belakang, menatap kembali deretan mesin penjual otomatis yang barusan mereka tinggalkan. Pandangannya kembali mengarah ke pemuda pirang di sebelahnya.
"Apa kau yakin? Habisnya aku tidak melihat siapapun tadi. Aku malah melihatmu tersenyum sendiri."
Kise mendadak menghentikan langkahnya. Wajahnya pucat pasi. Jangan-jangan ia tadi tersenyum pada hantu!
"Kise-kun?" Kuroko agak khawatir.
"Kurokocchi jangan menakutiku dong! Sudah jelas tadi ada anak kecil disana! Tuh!" Kise menunjuk-nunjuk seorang gadis kecil yang meringkuk di pojokan dekat mesin penjual otomatis. Kepalanya menunduk.
Seberapa keras Kuroko memelototi pojokan itu, tetap tak ada siapapun. "Tidak ada siapapun, Kise-kun... Iya kan, Kagami-kun?"
"Hah? Apa? Kalian sedang bicara apa?" Kagami—yang dari tadi sibuk adu bacot dengan Haizaki—sepertinya tidak mendengarkan pembicaraan mereka.
"Kudengar tiga hari yang lalu ada kecelakaan di dekat sini," ucap Midorima sambil membenarkan kaca matanya.
Haizaki menyambung, "Korbannya seorang anak perempuan. Dia tewas ditempat karena kepalanya terlindas truk." Ia bicara dengan nada santai seolah itu hal yang biasa. Ucapannya disahut oleh anggukan dari Momoi.
Pemuda abu-abu itu menatap Kise lalu menyeringai.
'Yang kau lihat itu hantu, Ryouta.' Itu yang dapat Kise baca dari seringainya.
Kise langsung merinding. Ketika menoleh lagi, ia melihat anak itu mengangkat kepalanya. Wajahnya hancur tak berbentuk. Kise pun menjerit dan lari terbirit-birit.
"RYOUTA/KISE/KISE-KUN/KI-CHAN!" Kelima temannya lari menyusul.
.
.
.
"WUAAAAA!"
Nijimura meloncat kaget, terbangun dari tidurnya dan hampir jatuh dari sofa. Sesaat kemudian kepala kuning menubruknya dengan pelukan.
"R-Ryouta?!"
"Nijimuracchi..." Kise mendongak menatapnya dengan mata sembab.
"K-kau kenapa?! Apa terjadi sesuatu?!" Nijimura panik.
Kise menggeleng kepalanya. "Aku cuma kaget. Kadang aku tidak bisa membedakan yang mana orang dan yang mana yang hantu."
"Itu sudah biasa terjadi dengan orang yang baru bisa melihat hantu. Aku dulu juga begitu kok," Nijimura mengusap-usap surai pirangnya lalu mengajaknya duduk disebelahnya. "Bertemu hantu masih lebih baik dari pada bertemu dengan demon."
"Demon?" Kise menatap penuh tanya dengan wajah polos. Ia tak tau apapun tentang hal supernatural semacam itu.
Nijimura bredeham, "Suatu makhluk supernatural yang bisa membuatmu celaka."
Sebelum Nijimura melanjutkan, tiba-tiba pintu terbuka. Haizaki muncul dengan terengah-engah.
"Ryouta!"
"Kau ini kenapa!? Jangan teriak-teriak!" Nijimura menimpuk kepalanya dengan remot tv—yang refleks ditangkap oleh sirambut abu-abu dengan satu tangan.
Setelah melihat Kise baik-baik saja, Haizaki menghela napas lega. Kise kalau takut, larinya kencang sekali. Susah dikejar.
Tak lama kemudian, Kagami, Midorima, Kuroko, dan Momoi sampai.
"Ada apa ramai-ramai begini?" Nijimura mengerutkan kening.
"Akashi menyuruh kami berkumpul disini," jelas Kagami. Wajahnya masih merah dan terengah-engah akibat lari barusan.
'Seenaknya saja si kepala-merah-demen-gunting itu memilih rumahku untuk berkumpul?!' gerutu Nijimura dalam hati.
"Yasudah terserah. Aku mau ke kamar," Nijimura bangkit.
"Tunggu!" Haizaki menghentikan langkahnya. "Demon. Aku ingin tau soal demon! Akashi menyuruhku untuk bertanya padamu!"
Nijimura diam sejenak lalu berbicara, "Aku akan segera kembali," Ia melanjutkan jalannya lalu kembali dengan sebuah buku tebal ditangan. "Baca ini, dan kau akan tau segala hal tentang demon," Nijimura pergi ke kamarnya.
"Ryouta, mandi dan istirahatlah sebentar. Aku akan membuat makan malam," suruh Haizaki.
Kise hanya mengangguk patuh lalu pergi ke kamarnya.
"Yang lainnya bisa tunggu disini," Haizaki meletakan tasnya di sembarang tempat dan berjalan menuju dapur. Buku tebal yang diberi Nijimura tadi diletakan di atas meja.
"Aku akan bantu buat makan malam!" Kagami menyusulnya.
.
.
.
Kise masuk ke kamarnya yang gelap dan langsung melompat ke kasur. Entah kenapa tubuhnya kelelahan. Mungkin karena lari barusan.
Matanya terpejam dan beberapa saat kemudian dirinya sudah larut ke alam mimpi tanpa menyadari jendela kamarnya yang sedikit terbuka dan sesosok pria dengan topi hitam berdiri di dekatnya.
"Mimpi yang indah, Ryouta," pria itu mengecup keningnya.
.
.
.
"Oh, aku lupa beli bahan untuk makan malam," gumam Haizaki setelah membuka isi kulkas. "Bukannya aku sudah suruh Shuuzou-nii belanja... Hah... dasar kakak gak guna! Pasti lupa lagi..."
"Memang di dalam kulkas ada apa saja?" Kagami ikut mengintip isi kulkas. "Mungkin aku bisa buatkan sesuatu yang simple."
"Aku tertolong! Terima kasih Kagami!"
Kagami mengangguk lalu mengambil segala macam bahan yang ada dari kulkas. Untuk urusan masak-memasak, Kagami ahlinya.
(Sementara keduanya sibuk memasak, mari kita kembali ke ruang tengah tempat Midorima, Kuroko dan Momoi menunggu.)
"Sebenarnya ada hal yang ingin kukatakan," ucap Kuroko ditengah keheningan. "Tapi sebaiknya aku akan menunggu sampai semuanya lengkap."
"Bukannya aku peduli, tapi apa ini soal Kise?" Midorima membenarkan posisi kaca matanya.
"Ya. Ini sangat serius. Aku tidak ingin Kise-kun tau. Jadi kalau bisa, aku ingin membicarakannya saat dia masih dikamarnya."
Momoi mengambil buku yang diletakan Haizaki tadi. Tidak ada judulnya. Hanya sebuah buku dengan sampul kulit yang sudah usang. Kertasnya juga sudah menguning karena termakan usia.
Gadis itu membaca paragraf pertama dari bab awal. "Demon? Apa ini sebuah novel fantasi?"
"Kurasa bukan, Momoi-san," Kuroko mengambil buku tersebut dari tangan Momoi. Ketiganya kemudian membacanya bersama.
Semakin jauh dibaca, semakin jelas rahasia dunia ini. Demon hidup di sekitar mereka, menyamar menjadi manusia sejak dahulu kala. Tidak ada yang bisa membedakan demon dan manusia, kecuali jika kau memiliki kemampuan supernatural—seperti Haizaki. Kau bahkan tidak akan menyadari demon ada didekatmu. Mungkin saja dia tetangga, atau teman dekatmu atau binatang liar yang sering kau lihat di lingkungan sekitar.
Tidak ada yang tau. Rahasianya terkunci rapat. Hanya sekelompok orang yang tau kebenarannya. Pemerintah, tokoh spiritual, dan organisasi tertentu.
Selain demon, ada juga penyihir. Penyihir diketahui dapat membuat kontrak dengan demon. Menjadikan demon sebagai pelayan setia. Namun seiring berjalannya waktu, kaum penyihir sudah mulai berkurang dan punah. Kaum penyihir berdarah murni sangatlah langka. Sebagian besar penyihir berdarah campuran.
Seseorang yang memiliki darah penyihir campuran, ada yang memiliki kemampuan magis dan ada juga yang tidak. Dan sebagian besar penyihir berdarah campuran, kadang tak menyadari bahwa didalam dirinya mengalir darah seorang penyihir.
Hubungan perkawinan antara demon dan manusia akan menghasilkan keturunan manusia atau demon. Tidak ada demon setengah manusia. Jika ada pun, perbandingannya satu banding satu juta dan mereka tak memiliki umur panjang.
Perkawinan Demon dengan manusia penyihir berdarah murni atau campuran, manghasilkan keturunan demon atau penyihir berdarah campuran.
Perkawinan antara manusia normal dengan penyihir murni atau campuran, menghasilkan keturunan manusia normal atau penyihir berdarah campuran.
Perkawinan antara sesama demon menghasilkan keturunan demon yang memiliki umur panjang dan abadi.
Ini hanyalah sebuah teori. Pada kenyataannya perkawinan antara demon dan kaum lainnya diianggap tabu dan langka. Karena pada umumnya demon menganggap manusia sebagai life stock mereka.
Seiring perkembangan zaman, demon terbagi menjadi dua kubu. Kubu pertama memilih hidup berdampingan dengan manusia dan sebisa mungkin memakan daging manusia yang legal oleh pemerintah—atau bahkan tidak memakannya sama sekali. Kubu kedua melakukan hal sebaliknya. Beberapa menyebutnya dengan sebutan demon baik dan demon jahat.
"Bacaan ini sangat berat dan membuat kepalaku pusing," gumam Momoi, mengalihkan pandangannya dari buku.
Meski begitu, Kuroko dan Midorima terus melanjutkan. Buku ini membuat mereka membuka mata lebar-lebar.
.
.
.
Suatu cahaya meyilaukan, membuat Kise membuka matanya. Pandangannya terarah pada langit-langit kasur. Ia tidak ingat kasurnya memiliki langit-langit dan tirai yang mengelilinginya. Jelas ini bukan ranjangnya. Teksturnya lembut dan empuk seperti tidur di atas awan.
Kise bangkit duduk dan mendapati dirinya mengenakan pakaian tidur tradisional jepang berwarna putih yang terbuat dari bahan berkualitas tinngi. Arsitektur ruangan ini begaya jepang campur eropa kuno.
Ini dimana?
Kise masih mengantuk. Mungkin ia akan tidur kembali jika tidak merasakan sebuah tangan yang tiba-tiba melingkar di pinggulnya.
Asalnya dari pria yang tidur di sebelahnya. Nash.
Nash membuka matanya, "Tetaplah disini." Nada suaranya lembut.
Bukan seperti Nash yang Kise tau. Nash yang ini memandangnya penuh cinta. Tattoo tribal di lengannya juga tidak ada.
Apa orang ini benar-benar Nash?
Apa ini mimpi?
'Ya, ini mimpi' ada suara bisikan yang menjawabnya. Suaranya tidak dikenal.
"Kise?" Nash bangkit. "Kau melamun?"
Kise hanya menatapnya lalu menggeleng pelan. Entah kenapa suaranya tidak mau keluar. Kepalanya disenderkan kebahu bidang Nash.
Pria bule itu mengusap rambutnya lembut. "Mimpi buruk?"
Kise tak menjawab. Rasanya begitu nyaman berada dekat dengannya. Kepala di dongakan menatap manik hijaunya.
Tanpa bicara, Nash mengecup bibirnya. Kecupan yang lembut. Tangannya mengusap pinggulnya. Kise terhanyut dalam belaian pria itu.
Dari sebuah kecupan hingga sebuah ciuman panas menggairahkan. Kise tidak meronta sama sekali. Hal seperti itu tak terbesit dipikirannya. Ia hanya mengikuti apa yang Nash lakukan pada dirinya. sentuhan, belaian, kecupan, cumbuan...
Kise tak menolak ataupun keberatan sama sekali. Semua terasa aneh. Mimpi yang sangat aneh. Begitu nyata.
"Aku ingin melakukannya," Nash berbisik di telinganya. Suaranya serak basah dan nafasnya hangat. "Bolehkah?"
Kise menggeliat dalam dekapannya. Tubuhnya panas dan napasnya berat. Ada sensasi aneh di bagian selatannya. Dengan wajah memerah, Kise pun mengangguk.
Nash mengecup keningnya. "Aku akan melakukannya pelan-pelan," Nash mendorongnya perlahan, membaringkan Kise dibawahnya. "Aku tanya sekali lagi, apa kau yakin? Aku tidak akan memaksamu."
"Aku yakin..." itu adalah satu-satunya kalimat yang bisa Kise keluarkan dari bibirnya sebelum bibir Nash melumatnya. Mata terpejam, menikmati belaian pria diatasnya melalui indra perasa.
"Mmhh.." Kise membiarkan pakaiannya dilucuti oleh pria itu. Membiarkan seluruh tubuhnya diraba dan dipermainkan.
"Aku mencintaimu..." Nash berbisik disela-sela cumbuannya di leher pemuda dibawahnya. Jari telunjuk dan jari tengahnya dimasukan ke mulut Kise, meminta pemuda itu melumerinya dengan air liurnya.
Setelah merasa cukup, jemari itu ia letakan tepat di lubang kenikmatan pemuda tersebut. Menggesek-gesekan jemarinya di permukaan, lalu perlahan-lahan memasukannya.
"Hyahh! Mmmhhh..." Kise menjerit lalu mendesah keenakan. Sentuhan Nash begitu lembut. Awalnya memang tersasa sedikit sakit, namun beberapa detik kemudian ia menikmatinya.
Nash menghentikan gerakan jemarinya. Membiarkan pemuda di bawahnya terbiasa.
"Apa sakit?" tanyanya lembut. Kise menggeleng dan memintanya untuk melanjutkan.
Nash melanjutkan. Gerakannya perlahan dipercepat. Ia memasukan satu jarinya yang lain setelah Kise meminta lebih.
"Ah! Ah! Hah! Hah... lebih cepat! Ah!" Kise menjerit keenakan ketika jemari Nash menyentuh tepat ke pusat kenikmatannya. Tubuhnya melengkung indah.
Melihat reaksi itu, Nash mempercepat temponya. Bibirnya melumat salah satu nipple Kise dan tangan lainnya bermain dengan ereksi pemuda dibawahnya.
"HYAH! AHHH! AH! Hahh... S-stop... Stop... ahh... N-nash..." Bibir Kise megap-megap.
Seketika Nash berhenti. "A-apa aku berlebihan?!"
Kise menggeleng lemah. "Aku tidak mau cum hanya dengan jarimu. Aku mau milikmu berada didalam diriku... Nash..."
"Tentu saja... dengan senang hati!" Nash kembali melumat bibirnya.
BOHONG!
BOHONG!
ITU BUKAN AKU! BUKAN AKU!
Kise menjerit menyaksikan dirinya sendiri dinodai oleh pria yang paling ditakutinya. Terlebih lagi sosok dirinya itu sangat menikmatinya.
Ya, Kise Ryouta tengah berdiri jauh di sudut ruangan itu. Menyaksikan adegan tak senonoh yang dilakukan sosok dirinya yang ada diranjang dengan Nash yang ada di atasnya. Beberapa menit sebelumnya, ia merasa berada diatas ranjang itu—ketika ia membuka matanya—tapi mendadak ia berpindah ke tempatnya berada sekarang. Rasanya seperti orang ketiga yang menonton adegan mesum dua orang lelaki di atas ranjang itu. Mereka juga tak melihat Kise, seolah dirinya adalah hantu tak kasat mata.
"AAAAAAAAA!" Kise menjerit sambil sambil menarik rambut pirangnya sendiri. Air matanya mengalir deras ke pipi.
Siapapun?!
Siapapun?! Bangunkan aku dari mimpi buruk ini!
Rasanya bisa gila jika terus melihat ini.
PATS
Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahunya dari belakang. Ketika menoleh, manik madunya bertatapan langsung dengan manik abu-abu dari pria di belakangnya. Rambutnya putih keabu-abuan dan ekspresinya datar sedatar ekspresi milik Kurokocchi.
"K-kau... siapa?"
Pria itu tak menjawab. Dia hanya tersenyum tipis dan berkata, "Bangunlah."
Suara itu…
Dan tiba-tiba ada cahaya putih yang menyilaukan matanya.
.
.
.
?!
Mata Kise terbuka lebar. Napasnya memburu dan peluh membasahi pakaian seragam yang masih membungkus tubuhnya. Yang tadi benar-benar mimpi.
"Kau kelihatan sangat berantakan, Ryouta."
Kise tersentak. Ia langsung bangkit duduk dan menolehkan kepala ke asal suara. Ruangan kamarnya begitu gelap hingga tak menyadari sosok pria dengan topi hitam berdiri di sebelah tempat tidurnya.
Nash hanya tersenyum sambil mengangkat topinya. "Rasanya sudah lama tidak berkunjung kerumah dengan pakaian ini," katanya.
"B-bagaimana k-kau..."
"Bagaimana caranya aku bisa masuk kesini? Ckckck... Ryouta kau sangat ceroboh," Nash melirik ke arah jendela, "Kau terlalu ceroboh hingga lupa untuk menutup jendela berandamu rapat-rapat."
Kise melihat ke arah yang ditunjuk. Yang dikatakan Nash benar. Tirai jendela melambai-lambai menandakan kaca jendela yang tidak ditutup rapat.
Pria itu duduk di pinggir kasur dan membelai poni pirang Kise yang basah karena keringat, "Aku merindukanmu, Ryouta. Tiada hari tanpa memikirkanmu."
Kise tak berkutik. Tubuhnya tak bisa digerakan. Rasa takut itu kembali menggerogoti dirinya. Napasnya tercekat.
"Hmm..." Tangan Nash berhenti di pipinya. "Mimpi buruk?"
Pria itu menyeringai, "Aku bisa melihatnya. Itu bukan mimpi buruk, Ryouta. Itu masa lalu kita."
Kise melotot. Pandangannya horor.
BOHONG?!
Seolah bisa mendengar pikirannya, Nash dengan santai menjawab, "Aku tidak bohong."
Tangan dingin Nash tak lepas dari pipinya. Jempol mengusap lembut bibir ranum Kise yang menggoda.
"Beautiful like always..." gumam Nash bersiap untuk melumat bibir hangat nan menggoda itu.
Kise tak bisa berbuat apapun. Hanya bisa mengikuti permainan dari pria di depannya. Seperti ada sihir yang membuat tubuhnya menolak perintah dari otaknya.
"Mmmhh!" sepersekian detik saat bibir mereka bertemu, tubuh Kise dapat digerakan kembali. Hanya saja kondisinya lemas dan tak bertenaga.
Tangan itu berusaha mendorong Nash. Sesuatu yang Kise tau sangat sia-sia, namun tidak ada salahnya untuk dicoba.
Seolah dorongan itu tak berarti, Nash makin mendekatkan dirinya dan merengkuh pinggul si pirang. Menempelkan diri masing-masing. Lidah Nash berusaha untuk masuk menerobos pertahanan bibir Kise yang terkatup rapat.
"Buka mulutmu," perintahnya dan bibir kise menurut, membukanya perlahan.
"Ngh!" Kise dapat merasakan lidah Nash menerobos masuk dan bermain-main dengan lidahnya.
Kise lemas begitu Nash menyudahi cumbuan panasnya. Saking lemasnya, tangan Nash menopang tubuhnya agar tetap berada dalam posisi.
Napas Kise tak teratur. Wajahnya berantakan. Nash membuka pakaian seragamnya dan membuangnya sembarang tempat. Kise tidak meronta atau melawan—terlalu sibuk dengan oksigen yang terampas dari paru-parunya.
Nash juga melepas pakaiannya dan memposisikan dirinya diantara kaki si pirang. Kepalanya ditempelkan ke perpotongan leher Kise. Menjilat, menghisap, mencium dan menggigitnya ringan. Ia menuntun tangan Kise untuk menyentuh dirinya sendiri.
"Kau sangat seksi," ciuman Nash turun ke dada, mencicipi kedua nipple Kise yang merekah indah. Memelintir, menghisap dan menggigitnya hingga bengkak.
Kise hanya bisa mengeluarkan suara-suara cabul dari bibirnya. Setiap sentuhan Nash membuatnya melayang hingga lupa daratan. Ditambah lagi dengan kedua tangannya sendiri yang bermain-main dengan ereksi dan lubang anusnya.
"NGGHH... AHHH... MMMHH... AHH..." Kise menikmati penetrasi yang dilakukan oleh jarinya sendiri.
Apa yang kulakukan?! Aku tidak bisa berhenti! Rasanya sangat aneh, tapi tubuhku menyukainya?!
Seseorang! Tolong hentikan aku! Shougo-kun! Nijimuracchi! Teman-teman!
Tanpa disadari, tempo gerakannya dipercepat.
"HYAHH! AHH!"
Nash bangkit, menikmati pemandangan tak senonoh yang disuguhkan pemuda di bawahnya. Pemandangan yang membuat libidonya naik.
Secepat apapun tempo yang digunakan jarinya, tidak membuat tubuhnya merasa puas. Ia ingin lebih. Ia ingin Nash.
"N-nash... more... sentuh aku..." Kise meminta. Menggerakan pinggulnya kesana-kemari hingga bokonya bertemu dengan ereksi Nash.
Nash—yang sedari tadi diam dan menonton—menyeringai lebar. Akal sehat yang ada dikepala model seksi dibawahnya sudah berantakan. Sekarang dia bertingkah seperti pelacur yang berada dalam masa heat nya. Kise Ryouta lupa dengan segalanya. Hanya peduli dengan rasa nikmat dibanding rasa takut.
Nash kembali melanjutkan kegiatannya. Mengambil semua kesempatan yang ada. Meraba dan mencumbui seluruh lekuk tubuh si model yang bermandi peluh. Lalu membantu tangan Kise memompa ereksinya yang menegang sempurna. Precum dari si model membasahi dan melumasi tangan mereka. Nash menggunakan itu untuk melumasi miliknya sendiri, lalu memposisikannya tepat di lubang kenikmatan Kise.
"Aku akan masuk."
Tanpa menunggu respon dari pemuda dibawahnya, Nash langsung memasukan miliknya dalam sekali hantaman. Kise tersentak dan menjerit kencang hingga suaranya melengking. Sakit, namun langsung terasa nikmat ketika milik Nash menyentuh langsung tepat ke pusat kenikmatannya.
Kise menjerit, mendesah, mengerang tak karuan. Kenikmatan yang begitu luar biasa menggerogoti tubuh bagian selatannya. Ia tak berhenti menggoyangkan pinggulnya menyamai kecepatan Nash.
Kise menjerit, menikmati setiap hantaman yang diberikan Nash pada prostatnya. Reaksi itu membuat Nash menyeringai.
"Menjeritlah, keluarkan suara cabulmu itu Ryouta. Tenang saja, tak ada yang akan mendengar—bahkan teman-temanmu yang ada dibawah sana," Nash terus menghantam prostatnya, hingga si model berteriak dan mendesah seperti orang gila karena keenakan.
"AH! AH! HYAH! NGHH! AH! AH! Aku akan cum!"
"Let's come together, Ryouta~" Nash mempercepat lajunya, makin cepat, cepat, dan cepat.
"Hyahhh!" Kise menyemburkan cairan putih itu, disusul dengan Nash.
Keduanya mengatur napas masing-masing dan peluh membuat tubuh mereka terasa lengket. Pemuda dibawahnya pingsan.
Nash bangkit, mengambil tisu yang ada di meja belajar, lalu membersihkan noda-noda yang ditinggalkannya pada si model pirang itu. Sex berusan sangat panas—lebih panas dari sex yang dilakukan dikamarnya waktu lalu. Apa lagi, Kise melakukannya dengan sadar.
Ia ingin membawa pemuda itu pergi sekarang juga. Melakukan ronde birikutnya di kamar pribadinya hingga fajar menyingsing. Tapi ia batalkan.
Ia ingin Akashi melihat ini.
Tidak. Bukan Akashi.
Tapi Aomine.
Nash menyeringai lebar.
"Sampai jumpa besok di tempat pemotretan, Ryouta," Nash menyelimuti tubuh telanjang Kise dan mengecup keningnya. Nash—yang sudah kembali berpakaian lengkap—menghilang dibalik kegelapan.
.
.
.
PRANG!
Haizaki tak sengaja menjatuhkan alat makan dari genggamannya. Firasat aneh tiba-tiba menyerangnya. Pemuda itu segera memungutnya, tapi tangannya gemetaran.
"Haizaki! Kau tidak apa-apa?" Kagami membantunya.
"Ya... Aku hanya dapat firasat aneh," Haizaki memijat pelipisnya.
"Apa itu sering terjadi?"
"Tidak, tapi beberapa minggu ini lumayan sering," Haizaki melanjutkan kegiatannya menata makanan diatas meja. "Aku akan memanggil Ryouta."
Ada aura aneh di lantai atas ketika Haizaki menyusuri tangga. Asalnya dari kamar Kise. Tapi aura itu segera menghilang begitu ia sampai di depan pintu.
"Ryouta, makan malam sudah siap," ucapnya sambil mengetuk pintu.
Tidak ada jawaban.
"Ryouta?" Haizaki mengetuk sekali lagi.
Masih tidak ada jawaban.
Haizaki membuka pintu, tapi terkunci dari dalam.
"Ryouta?" panggilnya lagi. Kali ini mendapat gumaman dari pemuda pirang yang ada di dalam sana.
Tak lama, pintu kamar terbuka dan menampilkan sahabat kecilnya. Wajahnya berantakan dan berlumuran air mata. Tubuh telanjangnya tertutup kain selimut. Ada bercak-bercak merah keunguan di sekitar leher jenjangnya yang terekspos. Hanya dengan sekali lihat, Haizaki tau sesuatu yang buruk terjadi pada si model.
"S-shougo-kun..." bibir Kise gemetar tak sanggup berkata lagi.
.
.
.
.
To Be Continue
saya nulis apa ini! /frustasi
lagi pingin buat lemon
kise baru bangun tidur, tau-tau udah adegan nganu aja...
sebenarnya saya ingin memunculkan 2 karakter baru, tapi gak jadi... mungkin chapter depan...
ada satu karakter lain yang muncul sekilas sih, kira-kira sudah ada yang nebak itu siapa? Pasti sudah tau dong dari ciri-cirinya...
dan ngomong-ngomong, saya baru tau ada fitur publish di aplikasi ff net android... tapi pas saya coba update fic saya yang lain, ternyata notif pemberitahuan updatenya gak masuk email...
mungkin update lewat mobile jadi pilihan terakhir aja...
Shirayukeii: sempat kepikiran untuk pakai angel tapi gak jadi haha... demon saja sudah cukup :')
Midorima Ryouta:
makasih, walau midokisenya dikit... sebenarnya midokise lebih sering muncul pas latarnya ada di sekolah...
Akashi gak bisa move on /eaaa
Akashi (sambil elus dada): "aku ra popo"
Yukiya92:
maaf update nya lama... orz
tenang... masih allkise kok~ aomine kan masih mau berbagi kise /ditendangAomine
Ratu demon? why i want to laughing so hard! bwahahaha...
yah pokoknya kise itu sesuatu...
Orang yang buat kontrak sama Akashi ada di chapter ini loh... tebak aja~
shiroo:
akashi gak bikin kontrak sama kise kok
nash ngebet sama kise karena masa lalu, yang bahkan kise sendiri gak tau apaaan...
bahkan sampai chapter 11, identitas kise masih belum jelas... /digeplak
liciousnam:
ku juga belum bisa move on dari chapeter itu :')))
mungkin setelah baca chapter ini, udah bisa move on dari chapter 8 kali ya...
ah, saya juga nih... padahal aokise shipper, tapi malah lebih banyak nulis nashkise... orz
gak usah request, toh saya sudah berencana buat... chapter ini buktinya...
Baby'Alien Kim TaeTae: udah lanjuutt~~
Chapter berikutnya updeatnya agak lama karena harus mengantri dengan 2 fic lainnya… gomen /bow
terima kasih untuk review, fav, dan follow nya!
sampai jumpa di chapter berikutnya!
