Disclaimer: Masashi Kishimoto

Warning: Sho-ai, gaje, OOC dan hal-hal lainnya.

Pairing: NaruxSasu

Rating: T (Aku harap XD)


Daily Life Of Yakuza

.

.

(Part 11)

Special: Camping part 3


_Previous Chapter_

"Kau..." Hinata mengarahkan pistolnya ke Sasuke -DORR!- meleset.

Sasuke segera bangkit lalu berusaha lari masuk ke hutan.

.

-Trek- Naruto menginjak sesuatu di tanah.

"Apa ini...? Simbol apa ini?" Naruto menyentuh ranting pohon kemudian menatap tajam ke dalam hutan.

Sasuke...

.

.

.

Sasuke terus berlari melewati beberapa pohon, pandangannya sedikit mengabur karena uap napasnya.

-Bruk- Sasuke terjatuh, kakinya tersangkut akar pohon. Sial..Sial... Tangannya berusaha menarik akar pohon tadi. Ayolah...

"Sasuke-kun, kau dimana? Kau tidak mau bermain denganku?" Suara Hinata membuat telinga Sasuke waspada. Beberapa keringat keluar dari pelipisnya. Ayolah, cepat... Tangannya masih sibuk melepaskan lilitan akar pohon di kakinya.

"Sasuke-kun~" Hinata bergerak perlahan menuju ke arah Sasuke tetapi dia masih tidak bisa melihat sosok cowok itu.

Hinata menyimpan pistolnya di kantong jacket lalu memungut potongan kayu di tanah, "Sasuke-kun~ Ayo bermain."

Deru napas Sasuke terdengar putus-putus, jantungnya berdetak lebih kuat.

Lepas! Kakinya sudah terbebas dari lilitan akar pohon.

Hinata melirik ke suatu arah, "Kau disini?" -DRAK!- Hinata mengayunkan tongkat kayunya ke batang pohon, "... Ah, bukan ya?" Kata Hinata kecewa.

Sasuke merangkak ke semak-semak tepat disamping Hinata beberapa meter, mata Sasuke nyalang menatap Hinata. Semua gadis itu mengerikan...

-Trek- Sasuke tanpa sengaja menginjak daun kering. Telinga Hinata waspada, pandangan gadis itu beralih ke sosok Sasuke yang merangkak beberapa meter darinya.

"Sial..." Desis Sasuke. Hinata menyeringai.

"Disini kau rupanya, Sasuke-kun." Hinata mengangkat tingi-tinggi tongkat kayunya lalu mengayunkan ke arah Sasuke.

Sasuke berguling ke samping. -DRAK!- Hinata menghantam batu besar.

Mata Hinata menatap Sasuke tajam, "Kenapa? Kau tidak ingin bermain denganku..?"

Sasuke hanya bisa menatapnya dengan deru napas yang cepat. Cowok itu mundur perlahan.

Hinata menyeringai.

"MATI KAU!" -DUAGH!- Sasuke terlempar, hantaman Hinata tepat mengenai sisi kepalanya.

Hinata menggelegak senang, "Ha..ha..ha...Aku ingin melihatmu sekarat."

Sasuke berusaha menahan rasa sakit di kepalanya, dia berusaha berdiri.

-BUGH- "GWAAAHH..." Sasuke berteriak. Punggungnya dihantam dengan kuat oleh Hinata.

Gadis itu terkikik geli, "Wajahmu yang kesakitan makin membuatku muak. Kau sama saja dengan gadis-gadis itu."

Sasuke berbalik menatap Hinata tajam, "Kenapa?! Kenapa kau lakukan ini?!" Seru Sasuke tidak terima.

Hinata memiringkan kepalanya bingung, "Kenapa..?" Kemudian gadis itu lagi-lagi terkikik geli, "...Karena kau sama seperti mereka, kau hanya bisa menertawakanku, mengejekku, tidak pernah membantuku, kecuali dia.."

Sasuke mundur perlahan, "Dia?"

Hinata menatap Sasuke, "Ya... Dia... Naruto... Dia selalu membantuku dan baik padaku..." Kini nata Hinata nyalang menatap Sasuke, "...TAPI KAU! KAU SELALU MENGANGGUKU UNTUK DEKAT DENGAN NARUTO!"

Hinata mengeratkan pegangannya pada tongkat kayunya, "Kalau kau tidak ada, maka... AKU BISA MEMILIKI NARUTO!"

-DRAAKK!- Sasuke merunduk ditanah, membuat Hinata memukul kayu di belakang Sasuke.

Sasuke berdiri lalu segera berlari masuk ke hutan.

"Cih..." Desis Hinata tidak suka.

.

.

.

Naruto masih menelusuri jejak Sasuke di hutan. "Sial... Si teme itu kemana sih?"

Kemudian mata birunya memandang hutan disekelilingnya, sedikit perasaan takut kalau hantu tiba-tiba muncul langsung membuatnya merinding.

Naruto menggelengkan kepalanya, "Tidak... Tidak... Tidak ada hantu... Oke, fokus Naruto. Fokus!" Ucap Naruto berulang-ulang.

"GWAAAHH!" Suara teriakan seseorang.

Telinga Naruto langsung waspada. Mata birunya berusaha melihat ke dalam hutan.

"Sa...Sasuke?..." Naruto berlari menuju asal teriakan. "...SASUKE! DIMANA KAU!"

-Krak- Naruto menginjak ranting ditanah. Mata birunya menatap ke bawah, sebuah cairan merah menjiplak di beberapa dedaunan kering.

Naruto berjongkok, lalu menyentuh cairan merah tadi, "Sa..Sasuke.."

Mata birunya nyalang menatap ke dalam hutan, Naruto menggeram, "Aku bersumpah... Jika sesuatu terjadi pada Sasuke, aku akan membunuh orang yang melukainya."

Naruto mengepalkan tangannya dengan marah.

.

.

.

"Sasukee~Kuun~" Suara Hinata terdengar ceria, matanya tajam menatap beberapa sudut pohon, berusaha menemukan Sasuke.

"Ayo keluar~" -DRAK!- Hinata menghantam batang pohon, membuat gertakan kecil.

"Sasuke-kuun~ kau tidak mau membuatku menunggu'kan?" Desis Hinata sambil menggelegak senang.

Sasuke masih merunduk di balik salah satu pohon. "Hahh...hahh...hahh." Cowok itu berusaha bernapas dengan normal tapi tidak bisa, denyut jantungnya sakit, dia bernapas terlalu cepat.

Sasuke berusaha merangkak pelan menjauh, ekor matanya melirik Hinata yang berusaha mencari dirinya. Gadis itu memukul batang-batang pohon sambil sesekali menyebut nama Sasuke dengan ceria.

Pandangan Sasuke sedikit mengabur, pukulan Hinata dikepalanya membuat darah menetes di kening dan masuk ke matanya. Perih.

Sasuke berusaha bergerak lagi, tapi kali ini dengan berhati-hati.

"Ternyata kau disini, ya...Sasuke-kuunn~..."

Sasuke berbalik dengan cepat -DUAGH!- pelipis kirinya dihajar Hinata. Gadis itu menggeram senang.

Hinata menjambak rambut Sasuke, mencengkramnya dengan kuat, "Kau bahkan tidak bisa bersembunyi dariku. Kau... Lebih menyedihkan."

Hinata membalikkan tubuh Sasuke lalu duduk diperut cowok itu, "...Aku ingin melihat kau sekarat." Hinata mencengkram leher Sasuke dengan erat. Membuat Sasuke tercekik.

"Ghhh...Arghh...hhgg.." Sasuke berusaha berontak, tapi dia sama sekali tidak bisa melepaskan cengkraman Hinata. Cowok itu terlalu banyak kehilangan darah.

Hinata menggelegak senang, "...Hum? Kau sulit bernapas? Baguslah...Teruslah meronta seperti itu. Kau membuatku jijik."

"Hgghhh... Na..Hggh...Ru..Ughh.." Sasuke berusaha menggapai udara, tenggorokannya sakit.

Hinata menatap Sasuke benci, "JANGAN!..." Teriaknya tiba-tiba, kemudian gadis itu mengecilkan volume suaranya dan berbisik dengan desisan ngeri, "...Jangan... Jangan pernah memanggil nama Narutoku, dengan mulut kotormu itu...Mengerti?... "

Hinata mencekik Sasuke lebih kuat, membuat cowok itu tidak bisa bernapas. "Hhgghh...Ghhh..."

Pandangan Sasuke mengabur kemudian semaunya menjadi hitam, tangannya yang menggapai udara kini melemah kemudian jatuh ditanah.

Hinata menyeringai senang.

.

"SASUKE!" Teriakan Naruto membuat Hinata berbalik dengan cepat. Cowok blonde itu menatap Hinata tidak percaya.

Gadis itu cepat-cepat berdiri lalu menatap Naruto dengan wajah ketakutan, "A..Aku... Bu...bukan aku yang melaku~"

Naruto menyingkirkan tubuh Hinata dari atas Sasuke, membuat gadis itu terjatuh ke tanah, "Sa..Sasuke.."

Mata biru Naruto menatap sedih wajah Sasuke yang berdarah, tangan nya menyentuh kening Sasuke, "...Jangan lakukan ini padaku, Sasuke."

Naruto mencium tangan Sasuke dengan gemetar, tangan cowok raven itu dingin, "Bangun... Aku mohon, bangunlah.."

Gadis itu memandang Naruto dengan tatapan sedih, -Trak- kayu di tangannya di lempar begitu saja ke tanah, "Nar~.."

"DIAM!" Naruto berteriak. Hinata kaget.

"Diam...Jangan bicara lagi..." Nada suara Naruto bergetar, "...Aku tidak mau mendengar alasanmu..."

Naruto memeluk tubuh Sasuke erat, cowok blonde itu menangis.

Hinata terduduk di tanah, dia menatap kedua tangannya dengan ngeri, "Aku...Aku membunuh... Sasuke.."

Hinata mengambil pistolnya dari jacket, matanya mengabur karena air mata. "Naruto...Maaf.."

Naruto berbalik, dibelakangnya, Hinata mendekatkan moncong pistol ke kepalanya sendiri.

Gadis itu berniat bunuh diri.

"Maaf..."

-DORRR!-

.

.

.

Kiba lagi-lagi menatap ke arah bukit, "Ini suara tembakan yang ketiga kalinya..."

Sakura dan Ino berpegangan tangan, "Aku benar-benar merasakan firasat buruk." Sahut Ino sambil menatap Shikamaru.

Cowok pemalas itu mengiggit bibirnya keras-keras, "Cih..." Matanya beralih ke Rock lee, "Lee, Panggil polisi kesini..."

"Siap!" Seru Rock lee kemudian berlari keluar dari tempat kemah, menuju kantor polisi.

Shikamaru menunjuk Shino, Sakura dan Ino, "Kalian rapikan tenda, setelah polisi datang kita segera pergi..." Shikamaru terlihat mencari seseorang, "...Mana Sai?"

Choji yang merapikan ranselnya menatap Shikamaru dalam diam, "Dia pergi... Setengah jam yang lalu, dia bilang ingin mencari Naruto."

Shikamaru menatap Choji lalu berdecak kesal, "Ini benar-benar gawat..."

.

.

.

Pistol yang dipegang Hinata terjatuh ke tanah. Gadis itu menatap ke arah lain.

Sai berdiri disana, dengan monocng pistol yang mengeluarkan asap. Yup! Sai menembak pistol yang dipegang Hinata, sehingga nyawa gadis itu selamat.

"Tepat waktu..." Kata Sai sambil mengambil pistol Hinata yang terjatuh tadi.

Sai menatap gadis itu, "Kau tahu? Pistol berbahaya bagimu... Untung aku tepat waktu menyelamatkan kepalamu."

Hinata menggeretakkan giginya kesal, "AKU TIDAK BUTUH BANTUANMU!" Teriak Hinata sambil mendorong Sai.

Cowok itu hanya terdiam, kemudian menatap Hinata tajam, "Kalau menurutmu terlihat hebat dengan bunuh diri kau salah. Bagiku kau terlihat menyedihkan."

Hinata terisak, "Kalian semua sama saja... Kalian selalu memandangku dengan tatapan rendah, tatapan jijik... Aku benci."

Sai menarik lengan Hinata dengan kasar, "Kau sendiri yang membuat dirimu rendah makanya kau direndahkan orang lain. Kalau kau bisa menghargai dirimu sendiri maka orangpun pasti bisa menghargaimu."

Hinata menatap Sai sedikit kaget, "Sa..Sai?"

"Ghok...Ohok..." Sasuke terbatuk.

Hinata dan Sai berbalik.

Naruto menatap Sasuke kaget, bibirnya tersungging senyuman kecil, "Sa..Sasuke?..."

Sasuke membuka matanya pelan, "Na..Naruto, Tenggorokanku sakit..." Katanya sedikit serak.

Cowok blonde itu tersenyum lega lalu memeluk Sasuke, "Syukurlah...Aku pikir aku kehilanganmu..."

Hinata tersenyum lega tetapi sedetik kemudian wajahnya tertunduk merasa bersalah, Sai hanya melirik gadis itu dalam diam.

"Kita menyukai orang yang sama dan membenci orang yang sama juga." Kata Sai sambil menatap Naruto dan Sasuke.

Hinata menatap Sai dengan bingung, "Sa..Sai?"

-Srek-Srek- Suara langkah kaki membuat mereka siaga. Hinata berdiri dengan takut-takut.

Seorang pria muncul disusul pria lainnya sambil membawa pistol, Salah seorang pria tersebut berbicara melalui Handy Talkie nya, "...Disini regu satu, Kami menemukan mereka, ganti."

Beberapa polisi membantu mengangkat Sasuke, dibelakang polisi itu terlihat Shikamaru yang berjalan ke arah Naruto.

"Ada apa sebenarnya?" Tanya Shikamaru, Naruto menunduk sebentar kemudian menatap Hinata.

Gadis itu terlihat ketakutan.

Naruto berbalik ke arah Shikamaru, "Hanya pemburu liar, benarkan Sai?" Seru Naruto sambil melirik Sai.

Sai tersenyum, "Ya, pemburu liar."

Hinata yang ketakutan hanya menatap bingung ke arah Sai dan Naruto, "Sa..Sai?"

Sai tersenyum ke arah gadis itu, "Tenang saja, tidak ada bukti kau yang melakukan penembakan, lagipula pistolnya tidak ada." Jelas Sai lagi.

Hinata terdiam sebentar lalu menangis lega. Sai menepuk kepala gadis itu.

"Kita menyukai orang yang sama... orang yang seperti matahari itu." Kata Sai sambil menatap Naruto yang membantu mengangkat Sasuke. Hinata mengusap airmatanya lalu mengangguk pelan.

.

.

.

_Konoha's Hospital, 08.00 Pagi_

Naruto duduk di depan kamar rawat Sasuke, mata birunya sibuk menatap perawat yang berlalu lalang di depannya.

"Hei.." Suara Hinata membuat cowok blonde itu berbalik. Hinata menyodorkan jus jeruk kaleng ke Naruto.

"..Thanks." Jawab Naruto singkat.

Hinata menatap sekeliling lalu duduk disebelah Naruto, agak sedikit canggung untuk mereka bicara teringat kejadian tadi malam saat kemah, "Well... Bagaimana keadaan Sasuke?"

Naruto menggenggam jus kalengnya, matanya menatap lantai, "Dia baik-baik saja, tidak ada yang gawat."

"Baguslah..." Sahut Hinata lagi sambil merapikan rambutnya ke sisi telinga. "..Aku...Minta maaf." Sambung Hinata pelan.

Naruto tersenyum tanpa memandang Hinata, "Tidak ada yang perlu dimaafkan, sifat Sasuke memang selalu membuat semua orang kesal."

Hinata merasa tidak enak, dia memainkan jus kalengnya, "Aku... Tidak bermaksud begitu, hanya saj~.."

"Sasuke, Dia..." Naruto memotong pembicaraan Hinata. Gadis itu melirik Naruto.

Mata biru Naruto menatap Hinata, "Dia memukul cewek-cewek itu..."

"Apa?"

Naruto mengalihkan pandangannya, "Dulu saat kau diejek gerombolan cewek-cewek di kelas, Sasuke memukul mereka semua..." Naruto tertawa kecil, "...Bahkan aku tidak sanggup melakukan hal seberani itu."

Hinata terlihat bingung, dia langsung berdiri di depan Naruto, "I..Itu tidak mungkin... Sasuke... Bukankah dia mengejekku juga? Dia bahkan mengatakan kalau aku tidak berguna..." Jelas Hinata agak sedikit emosi. Gadis itu memeluk lengannya.

Naruto menghela napas, "Dia mengatakan itu padamu dengan suatu tujuan..." Cowok blonde itu menatap Hinata dalam-dalam, "...Agar kau jangan menjadi lemah, kau harus berani melawan."

Hinata terdiam, Naruto berjalan ke arah jendela, memandang langit biru diluar sana, "Dia tidak bisa berkata manis, dia selalu bermuka masam..." Naruto berbalik memandang Hinata dan tersenyum, "...Tapi dia selalu setia pada temannya."

Naruto menunduk lagi, pikirannya melayang ke kejadian dulu.

.

Naruto ditarik Sasuke keluar kelas, meninggalkan Hinata yang masih menangis.

Di koridor, Naruto menepis tangan Sasuke, "Kenapa kau begitu?"

Sasuke melirik Naruto, "Kau ingin memanjakan dia?"

"Apa?"

Sasuke berdiri tepat didepan Naruto, menatap tajam mata biru cowok blonde itu, "Kalau kau menganggapnya sebagai teman kau pasti tidak mau melihat temanmu lemah kan? Kalau begitu, jangan manjakan dia."

"Tapi Sasuke..." Naruto ingin protes tapi langsung menghentikan perkataannya ketika melihat Sasuke mengepalkan tangannya.

"Aku...Aku juga kesal temanku dihina seperti itu. Tapi.. aku lebih kesal lagi dengan Hinata yang cuma bisa menangis. Aku ingin Hinata melawan mereka, walaupun nantinya akan kalah tetapi dia sudah berusaha..."

Naruto terdiam lalu menghela napas, "...Lalu kau mau apa?"

Sasuke berbalik menatap gerombolan cewek yang tidak jauh berada disana. Gerombolan cewek yang sudah menghina Hinata.

"Aku akan menghajar mereka." Kata Sasuke lagi. Naruto terlihat kaget.

"He..Hei..Hei... Cowok tidak berkelahi dengan cewek."

Sasuke melirik Naruto lalu menyeringai, "Itu prinsipmu, tapi prinsipku beda." Sahut Sasuke lagi.

Naruto hanya terdiam lalu tersenyum kecil.

.

"Dia bodoh'kan?" Kata Naruto mengakhiri ceritanya, Disampingnya Hinata menutupi wajahnya yang menangis.

Diantara isak tangis Hinata, Naruto dapat mendengar suara lega Hinata, "Dia..Bodoh.."

Naruto tersenyum kecil lalu meninggalkan Hinata yang masih menangis dan masuk ke kamar rawat.

-Cklek- Naruto memutar kenob pintu lalu menutupnya pelan. Sasuke masih berada diranjang, sambil duduk memandang jendela luar.

Sasuke melirik Naruto, "Bagaimana dengan Hinata? Apa dia terluka?"

Naruto menggeleng pelan, "Tidak... Dia baik-baik saja. Bagaimana dengan lukamu?" Naruto menarik sebuah kursi lalu duduk disamping ranjang Sasuke.

"Huh... Ini hanya luka kecil, tidak akan membuatku mati." Jawab Sasuke enteng. Naruto tersenyum.

Mata biru Naruto menatap leher Sasuke yang terluka karena bekas cekikan Hinata, "Apa kau membenci Hinata?"

Sasuke menatap Naruto, "Kenapa aku harus membencinya?..." Sasuke merapikan selimutnya sedikit, "...Aku tidak mungkin membenci temanku sendiri."

Naruto menunduk dan tersenyum simpul, "Kau benar... Aku ingin membenci Hinata karena membuatmu terluka tapi aku tidak bisa membencinya... Karena kau tidak membencinya... Kalau kau menyuruhku untuk membunuhnya, aku pasti akan membunuhnya..."

Sasuke menatap Naruto dalam diam, tangan Sasuke menyusuri helaian rambut Naruto, "Terima kasih..."

Naruto menatap Sasuke.

Cowok raven itu menyentuh pipi Naruto dan tersenyum lembut, "...Terima kasih untuk tidak membenci Hinata."

Naruto membalas menyentuh pipi Sasuke, kening Sasuke terlihat mengerikan dengan jahitan operasi dan matanya bengkak karena hantaman Hinata. Naruto tidak habis pikir, Seharusnya Sasuke membenci Hinata, tapi dia malah berterima kasih karena Naruto tidak membenci gadis itu.

"Sasuke... Bolehkah aku minta sesuatu?"

Sasuke memiringkan kepalanya bingung.

Naruto menatap Sasuke dengan pandangan lembut, "Bolehkah aku... menyukaimu?"

Sasuke tidak menjawab, dia sedikit kaget dengan pernyataan Naruto.

Naruto bergerak perlahan lalu merengkuh Sasuke ke dadanya. Ciuman singkat jatuh di kening Sasuke, tepat di bekas jahitan operasinya.

"Aku... menyukaimu, Sasuke..."

.

.

.

TBC

Special thanks:

AiCinta, Collin Blown a.k.a AnakYunjae, TheBrownEyes'129, MORPH, Rannada Youichi, RANadAU, Sabaku-Yuuhi, CCloveRuki, Akasaka Kirachiha, Anaatha Namikaze: Makasih banyak buat kalian *hug* hehehe XD