Disclaimer : Masashi Kishimoto

Warning : AU, OOC, aneh, dsbl (dan saya bingung lanjutinnya…), untuk nama tempat, Luna memakai daya imajinasi Luna sendiri, jadi gak usah terlalu dipikirin ya?

Untuk chap ini ada sedikit editan karena kesalahan tulis. Waktu bikinnya luna lagi setengah sadar sih.

Disini, seharusnya Asuma belum muncul. Dia berperan penting di chap selanjutnya. Dan seharusnya, yang bersama dengan Naruto itu adalah Ibiki Morino. Inget kan? Coba deh baca chap enam.

Luna bener-bener minta maaf atas kekeliruannya. Cuma itu kok yang salah. hanya salah nama aja.

Oh iya, terima kasih buat reader dan reviewer, terutama untuk:

AmarillisBlossom

QRen

Hoshi Yamashita

Shadow Shirayuki

Soraka Menashi

7color

Fae-chan

Me

Inori Chan

Yume Shinkou

4ntk4-ch4n

meitantei cherry

Just Ana

Michi-chan Phantomhive626

Matsumoto Rika

XXX

Midori Kumiko

CTSS

KataokaFidy

Blue Sakuchan

Silent readers

.

Happy Reading

.

Chapter 11: Lukisan 'Putih'

.

Sakura's POV

.

Perasaan rindu itu menyebar dalam hatiku. Aku tidak ingat siapa pemuda berambut merah ini, tapi tubuhku tetap merespon. Bibirku yang melengkung ke atas serta air mata yang mengaburkan ini adalah bukti bahwa aku mengenal pemuda ini. Sangat mengenalnya.

Untuk kali ini aku tidak merasa takut untuk mengetahui ingatanku yang hilang, yang ada malah rasa penasaran yang begitu kuat membuncah dari dalam diriku.

Aku ingin tahu. Sangat ingin tahu, siapa dia sebenarnya, apa artinya bagiku, dan mengapa dia begitu berharga bagiku untuk kuiingat.

Satu kata itu terucap bersamaan dengan sebulir air mataku yang jatuh perlahan, "Kakak…"

Satu kata itu begitu dalam karena aku tahu, aku menghabiskan waktu lebih banyak dari siapa pun di dunia ini dengannya. Bahkan mungkin lebih dari Naruto.

Dia segalanya bagiku, dalam konteks berbeda.

Karena 'rasa' itu beragam dan untuk orang yang berbeda pula.

Kemudian aku pun melihat adegan kilas balik sembari tubuhku menyatu dengan gadis kecil bermata emerald itu.

.

mmmoooonnn

.

Normal POV

.

"Kau pikir begitu?"

"Ya, tentu saja, Naruto, kita tidak bisa melanjutkan perjalanan ini sekarang. Semuanya sudah lelah, ada baiknya kita beristirahat sebentar," kata seorang pria sambil menghisap rokoknya. Dia adalah Ibiki, orang yang telah memberikan info mengenai Sakura pada Naruto.

Naruto berpikir sejenak, lalu dia melihat teman-teman seperjalanannya. Dan dia langsung menghela nafasnya, "Baiklah. Kita istirahat sekarang. Maaf karena aku, kalian jadi terlalu memaksakan diri…"

"Sudahlah Naruto… tidak apa-apa. Lagipula, kami semua tahu kalau kaulah yang paling mengkhawatirkan Sakura saat ini," kata Ibiki menenangkan. Dia lalu menepuk bahu kanan Naruto sekali, "Aku yakin Sakura baik-baik saja sekarang. Dia gadis kuat, kau tahu?"

"Aku tahu," kata Naruto muram. "Tapi dia juga tetaplah seorang perempuan."

Ibiki menggeleng pasrah, "Lebih baik kita istirahat saja sekarang, tidak baik bagimu jika selalu cemas seperti ini. Semuanya pasti baik-baik saja."

Ibiki pun berlalu meninggalkan Naruto, berkumpul dengan teman-temannya di belakang. Naruto mengangkat wajahnya dan menatap punggung Ibiki, "Kuharap juga begitu, Ibiki. Aku sangat berharap demikian."

Pria bermata langit itu pun melesat loncat ke atas pohon dan duduk di dahannya.

Dia menatap kejauhan, berharap bisa menjernihkan pikirannya. Tapi ini tidak membantu sama sekali, justru jika dia tidak melakukan apa-apa, rasa cemasnya terhadap gadis emerald itu akan semakin besar. Karena itulah dia berlari tanpa henti, mencoba mengenyahkan pikiran buruknya seraya mempercepat langkahnya agar ia bisa bertemu dengan gadis yang membuatnya hampir gila itu.

Sakura.

Ingatkah gadis itu tentang janji mereka berdua? Ingatkah gadis itu akan pentingnya musim semi serta taburan bunga Sakura bagi mereka berdua, khususnya Naruto?

Karena dulu, mereka bertemu dalam suatu takdir yang tak terlupakan, di bawah pohon Sakura.

"Aku merindukanmu, Sakura-chan… semoga kau baik-baik saja," katanya sambil menatap cincin bertuliskan nama gadis itu.

Entah kenapa, angan Naruto lalu berpindah tempat ke masa dulu, saat dia masih kecil dan polos. Saat sebuah rasa suka diartikan sama untuk semua orang.

.

mmmoooonnn

.

Gadis kecil itu sedang menangis sendirian di tengah ranjang. Suara tangisannya menggema di kamar itu dan air matanya meleleh hingga matanya bengkak tidak karuan. Tapi dia tidak peduli. Hatinya terasa sakit dan pedih. Dan tangisannya ini untuk seseorang.

Setelah beberapa saat berlalu suara tangisannya berubah menjadi isakan kecil. Mungkin karena dia sudah terlalu lama menangis dan kelelahan karenanya.

Gadis itu mengusap matanya sejenak lalu kepalanya mendongak saat pintu kamarnya terbuka. Terlihat laki-laki yang lebih tua darinya memasuki kamarnya. Rambut merahnya tertiup angin pelan yang masuk melalui jendela yang terbuka.

Laki-laki itu mendekat ke arah gadis kecil itu, dia duduk di tepi ranjang sembari memandangi gadis itu yang menangis lagi. Wajahnya tanpa ekspresi dan luka. Lebam, sayatan, dan perban menghiasi wajah dan mungkin tubuhnya yang terbalut pakaian.

Gadis kecil itu mendekat, mengusapkan tangan kecilnya di pipinya, "Sakit? Apa Kakak sakit?" air matanya mengalir lagi.

Laki-laki berambut merah itu menggeleng, "Sama sekali tidak sakit. Sakura sendiri, kenapa menangis?"

Sakura sesenggukan lagi, "Pasti sakit. Kakak bohong, itu pasti sakit."

Sang Kakak hanya terdiam, raut wajahnya tetap datar tanpa ekspresi, "Kakak tidak bohong, ini memang tidak sakit. Sakura jangan nangis lagi, ya? Nanti kakak juga jadi ingin nangis."

Sakura mengusap kedua matanya perlahan dan memasang wajah tegar. "Iya! Sakura gak mau Kakak nangis." Dia memalingkan mukanya, melihat keluar jendela, "Kapan kita bisa pergi keluar, Kakak? Aku ingin berjalan-jalan di luar bersama Kakak."

Sekali ini, wajah Kakaknya langsung terlihat sedih, "Entahlah, Sakura… Kakak… tidak suka pergi keluar…"

"Bohong… Kakak hanya takut pergi keluar, kan? Kalau ada apa-apa, Sakura akan melindungi Kakak, kok! Lagian, Sakura ingin melihat bunga Sakura!" katanya dengan penuh harap.

"Di sini tidak ada bunga Sakura, sayang…"

"Tapi aku ingin lihat! Ibu bilang kalau warna rambutku mirip dengan Bunga Sakura, makanya aku ingin lihat! Ibu suka Bunga Sakura, kan, Kak?"

Pemuda berambut merah itu terdiam sejenak, "Ya…"

Sakura mendekat dan duduk di pangkuan Kakaknya, meminta perhatian, "Kak, kalau aku bawa bunga kesukaan Ibu, apa Ibu akan bangun dari tidurnya?"

Kakaknya tersentak, lalu mereka berdua saling berpandangan. Tidak ada jawaban ataupun senyum terukir di wajah Kakaknya, hanya ada sorot mata sedih yang mungkin masih tidak dimengerti oleh adiknya yang baru berumur tujuh tahun itu.

.

mmmoooonnn

.

Sakura bangun pada tengah malam dengan nafas terengah-engah, gadis kecil itu baru saja bermimpi buruk. Seakan-akan takut jika mimpi itu terulang lagi, dia keluar dari kamarnya, berniat masuk ke kamar Kakaknya.

Sakura bisa saja pergi ke kamar Ayahnya, tapi Sakura membenci Ayahnya yang bersikap dingin pada Kakaknya. Dalam pikiran kecilnya, dia menganggap bahwa Ayahnya adalah orang jahat yang melukai Kakaknya dan membuat Ibunya tertidur terus.

Langkah kecilnya terasa pelan menyusuri lorong gelap gulita. Kamar Kakaknya memang agak jauh dari kamarnya. Dia tidak tahu, bahwa Ayahnya melakukan semua itu untuk menjauhkannya dari Kakaknya. Gadis itu juga tidak tahu bahwa bagi Sang Ayah, tidak ada yang lebih berharga daripada kedua anaknya, namun terkadang idealisme dan tanggung jawabnya sebagai pemimpin melarangnya untuk menunjukkan semua itu.

Sakura membuka pintu kamar Kakaknya yang tidak terkunci. Dia tahu kalau Kakaknya tidak pernah tidur, tapi sayangnya, dia tidak tahu alasannya, dan mungkin akan lebih baik baginya jika dia tidak tahu.

Cklek!

"Kakak…" Sakura mendekat ke arah Kakaknya yang sedang berdiri di tepi ranjang. Dia menoleh, menatap Sakura sambil merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Sakura.

"Ada apa, Sakura?" tanyanya.

"Aku mimpi buruk. Aku takut tidur," kata Sakura kecil sambil menguap.

"Tidurlah, kau butuh itu."

Sakura menggeleng, wajahnya berubah sedih dan bibirnya mencebik, "Aku rindu pada Ibu, aku ingin bertemu dengannyaaa…"

Kakaknya hanya terdiam. Dia juga, dia juga sangat ingin bertemu dengan Sang Ibu, sama seperti adiknya. Dia menyayangi Ibunya, sangat malah. Baginya, Sang Ibu dan Sakura-lah alasan utamanya untuk tetap hidup di dunia yang dia benci ini, di dunia yang membuat dia merasa asing ini. Tapi bagaimana caranya? Bagaimana caranya dia bisa bertemu Ibunya? Jika Sakura tahu, apa yang akan adiknya rasakan saat itu?

"Kakak…" Sakura merengek, bulir air matanya mengalir lagi. "Aku gak mau tinggal di sini. Aku mau sama Ibu. Ayah jahat sih," kata Sakura.

"Ayah tidak jahat kok, sayang," katanya menenangkan adiknya. Memang Ayahnya mungkin membencinya atau jijik padanya. Tapi dia tidak jahat, karena memang itu adalah reaksi yang alami jika seseorang bertemu dengan… monster…

Sakura menggeleng keras, tapi dia tidak berkata apa-apa. Dia bingung mengatakannya. Bingung mengatakan apa yang ia dengar jauh-jauh hari sebelumnya di ruang kerja Ayahnya. Tentang bagaimana Ibunya menjadi seperti itu karena ulah kakaknya. Bagaimana perkataan ayahnya yang bilang jika kakaknya lebih baik tidak ada di dunia ini.

"Kita pergi yuk, Kak? Ke tempat Ibu! Kalau ada Ibu, pasti gak ada yang bakal jahat sama Kakak! Ibu kan kuat, dia juga bisa ngobatin luka Kakak."

Ibu mereka adalah seorang kunoichi yang kuat sekaligus dokter yang handal. Satu-satunya dokter terhebat di Suna setelah Nenek Chiyo yang sudah memutuskan untuk pensiun dan melanjutkan eksperimen apalah-nya itu.

"Kakak…" Sakura memanggil lagi, meminta persetujuannya.

"Baiklah. Kita pergi ke tempat Ibu," kata pemuda berambut merah itu pada akhirnya.

"Horee! Sakura sayang Kak Gaara!" kata Sakura senang.

Gaara tersenyum, "Benarkah?"

"Ehm!" Sakura mengangguk mantap sambil mencium pipi kiri Gaara.

.

mmmoooonnn

.

Mereka berdua pergi ke ujung Desa Suna, di tempat terbelakang dan tersembunyi di desanya. Tidak ada yang mengetahui mereka pergi ke mana karena gelapnya malam membuat orang enggan pergi keluar.

Bayang temaran mereka berdua tercipta karena sinar bulan yang redup. Sosok bayangan mereka berdua menyatu seiring langkah mereka yang saling bertautan. Si Kakak yang tanpa ekspresi dan Si Adik yang rasa bahagianya terpancar dengan sempurna di wajahnya.

"Kita pergi ke tempat Ibu kan, Kak?" tanya Sakura memastikan.

"Ya," jawabnya tanpa menoleh.

Sakura mengangguk dengan suka cita sambil menatap pemandangan di depannya dengan tidak sabar. Gadis kecil itu sangat merindukan Ibunya.

Setelah beberapa menit berlalu, mereka tiba di sebuah lapangan luas yang sepi. Ada sebuah pohon kering yang hanya tinggal dahan tanpa daunnya di tengah lapangan itu. Dan di sanalah tujuan mereka.

Saat sampai di dekat pohon itu, mereka berhenti melangkah dan terdiam.

Sakura mulai merasa bingung, "Mana Ibu?"

Gaara yang mungkin telah jarang tersenyum, hanya menatap adiknya dengan pandangan sendu. Bisakah dia mengatakannya? Kuatkah ia?

"Di sini…" Gaara berjongkok sambil meraih sebuah nisan. "Ibu ada di sini."

Sakura mengikuti gerakan Kakaknya, dia tidak mengerti. "Aku gak lihat. Di mana?"

"Sakura," Gaara membelai puncak kepala Sakura, "Ibu ada di sini. Dia tidur di tempat ini."

"Di sini?" kata Sakura sambil menunjuk tanah di bawahnya.

Gaara mengangguk.

"Kenapa?"

Gaara termenung sejenak, dia menghela nafas sekali, "Sakura, Ibu… Ibu sudah meninggal." Setahun yang lalu… tambahnya dalam hati.

Bola mata Sakura membesar, "Me…ningg…meninggal? Jadi, aku gak bisa ketemu Ibu lagi? Kenapa? Kenaapaaa?"

Sakura menangis terisak, sekeras-kerasnya, memanggil Ibunya, sedangkan Gaara hanya bisa memeluk adikknya dengan erat. Dia tidak bisa menangis, padahal hatinya terasa pedih dan sakit, mungkin dia bisa gila, tapi dia tidak bisa menangis. Air matanya sudah kering.

Gaara menatap sekali lagi sebuah nama di nisan itu. Nama yang telah menyelamatkan hidupnya dengan mengorbankan nyawanya.

Sabaku No Tsunade

Masih jelas dalam ingatannya bagaimana dia disebut sebagai monster, pembawa sial, orang yang paling ditakuti di Suna. Kehadirannya tidak diharapkan, dibenci, dan dijauhi, bahkan oleh keluarganya sendiri.

Malam hari bagaikan mimpi buruk baginya. Dia tidak bisa tidur dikarenakan ketakutan pada monster yang berada di tubuhnya. Gaara yang masih kecil, tidak tahu harus bersandar pada siapa karena tidak ada seorang pun yang ingin berdekatan dengannya. Kecuali Ibunya dan juga adiknya yang masih kecil.

Ibunya yang merasa sedih pun, berusaha melakukan sesuatu. Ya, sesuatu…

Saat itu Gaara tidak mengerti mengapa Ibunya menariknya dan membawanya ke sebuah ruangan yang berisi ribuan mantra yang tertulis di dinding dan lantai. Ibunya hanya menyuruhnya berdiri di tengah ruangan dan bilang bahwa keadaan akan jauh lebih baik dari sekarang dan menyuruhnya untuk menjaga adiknya dengan baik, serta betapa Ibunya menyayanginya walau apapun yang terjadi.

Gaara yang tidak mengerti hanya terdiam menatap Ibunya. Saat Ibunya merapalkan sebuah mantra, tubuhnya gemetar hebat dan rasa sakit luarbiasa muncul di setiap sendi tubuhnya.

Kesadarannya menghilang.

Dan saat dia membuka matanya, hal yang pertama yang dilihatnya adalah Ibunya yang terbaring tak berdaya. Satu hal yang juga disadarinya adalah "sesuatu" yang berada dalam tubuhnya telah menghilang. Walau tidak sepenuhnya.

Sejak saat itu, mata Ibunya tidak pernah terbuka. Dan Gaara telah menyakinkan dirinya sendiri bahwa dialah penyebab Ibunya tidak bisa membuka matanya lagi.

Karena kejadian yang begitu tiba-tiba itu, Gaara dan juga Ayahnya, memutuskan untuk menyembunyikan hal ini dari Sakura. Inilah yang terbaik bagi Sakura. Sang Ayah menunggu waktu yang tepat sampai Sakura sedikit dewasa untuk menerimanya, alasan yang sama berlaku juga untuk Gaara, hanya saja ada satu alasan. Gaara tidak ingin adiknya juga ikut membencinya karena telah merenggut nyawa Ibu yang disayanginya.

"Ingatlah selalu, Gaara… Ibu menyayangimu, apapun kau, Ibu tetap menyayangimu, Anakku…"

Itulah kata-kata terakhir Ibunya pada Gaara.

.

mmmoooonnn

.

Sakura baru berumur tujuh tahun saat dia mengetahui bahwa Ibunya sudah meninggal. Rasa sedih yang dirasakannya begitu besar mengingat bagaimana peran Ibunya baginya, betapa dia menyayanginya dan begitu kehilangan.

Dia hanya bisa menangis dalam dekapan Gaara, menangis terus dengan air mata yang ia miliki.

Sampai seseorang menyeruak dan mendatangi mereka berdua. Ah, bukan seseorang, tapi sekumpulan orang.

Mereka berkumpul mengelilingi Gaara dan Sakura. Wajahnya tak terlihat karena terhalangi oleh topeng yang mereka kenakan. Beberapa detik kemudian mereka menerjang keduanya. Gaara berusaha melindungi Sakura, tapi gagal. Dia tak sekuat dulu saat di mana monster itu masih mendekam dalam tubuhnya.

Mereka banyak dan begitu kuat, sementara Gaara sendirian bersama adiknya. Mereka tidak berdaya. Pukulan demi pukulan, tendangan, dan tebasan serta sayatan kunai menyambut mereka. Dengan tubuhnya, Gaara meraup Sakura dalam pelukannya. Tak akan dia biarkan Sakura terluka.

Jeritan histeris Sakura menyeruak malam. Belum habis kesedihannya tentang kehilangan Ibunya, dia malah harus menyaksikan bagaimana Kakaknya dilukai oleh banyak orang, di depan matanya. Bau darah yang anyir tercium dengan jelas.

Sakura menjerit, memohon, memelas, serta menangis, agar mereka semua berhenti. Tapi itu semua sia-sia. Mereka tidak mendengar.

Kemudian mereka pun menyerah saat warna hitam kelam menyebar dalam pandangan mata mereka.

.

mmmoooonnn

.

Pertemuan Naruto dengan Sakura adalah saat Musim Semi menyambut desa Konoha. Saat itu seperti biasa, dia berpetualang ke pelosok desa untuk bermain-main. Naruto berjalan menuju tempat rahasianya, di mana sebuah pohon Sakura mekar tanpa ada satu orang pun yang tahu.

Dia bernyanyi-nyanyi riang sambil sesekali berhenti jika ada yang dirasa bagus untuk diperhatikan. Saat dia tiba di tempat itu, dia langsung memanjat dan duduk di dahan pohon itu, menikmati indahnya pohon Sakura.

Dia juga berpikir pasti menyenangkan jika bisa menikmatinya dengan orang lain, teman mungkin? Sayangnya hanya sedikit orang yang mau berteman dengannya karena keadaannya yang bisa dibilang menakutkan. Walaupun Ayahnya seorang Hokage, tetap saja ada beberapa orang yang tetap takut padanya.

Walau Naruto sendiri tidak tahu apa itu. Tapi setidaknya memang ada orang yang mau bergaul dengannya. Hanya saja saat ini mereka lebih memilih bersama dengan orang tuannya atau temannya yang lain untuk menghabiskan waktu disbanding bersama Naruto.

Bukannya orang tuanya tidak menemaninya atau apa, tapi Naruto juga ingin mempunyai waktu bersama dengan orang yang seumur dengannya. Yah, ini dan itu berbeda.

Saat dia sedang asyik melamun, dia mendengar suara tangisan kecil. Naruto bergidik takut dan berpikir jika suara itu milik hantu yang mendiami pohon ini. Tapi pikiran itu langsung tertepis dengan pertanyaan bodoh lainnya, memang-ada-hantu-muncul-di-siang-bolong?

Naruto mendongak ke belakang, dan dia langsung melihat gadis kecil yang seusia dengannya sedang menangis sesenggukan, terkadang dia akan mengucapkan kata tolong dan kakak dengan nada rendah.

Naruto terpana seketika saat melihat warna rambutnya yang senada dengan warna bunga Sakura yang dia lihat sekarang. Dia langsung turun dengan semangat, mendekati gadis itu dan bertanya ada apa.

Saat mata safirnya berpandangan dengan emerald itu, Naruto terpaku, entah karena apa. Barulah saat isak tangis gadis itu berhenti dan malah menarik tangannya untuk mengikutinya, Naruto tersadar.

Dia diam saja saat gadis itu menuntunnya, membawanya ke tempat di mana terbaring seorang laki-laki yang terluka parah.

Gadis itu terisak, "Kakakku… hiks… tolong Kakakku…"

Naruto mengangguk mantap dan menyuruh gadis itu menunggu sejenak saat dia memanggil bantuan.

Konoha gempar saat itu juga saat mengetahui siapa orang yang ditolong Naruto. Mereka adalah putra tunggal dan putri tunggal Kazekage Negeri Pasir.

Walaupun pertemuan mereka tidak terlalu manis, tapi harus mereka akui bahwa itu bukanlah pertemuan yang mudah dilupakan.

.

mmmoooonnn

.

Orang-orang yang menyerang Gaara dan Sakura adalah pasukan kudeta yang berniat melingsirkan kedudukan Ayahnya sebagai Kazekage. Beruntung mereka berdua selamat saat dibuang di tepi sungai yang berarus deras, jauh dari Suna agar mereka tidak bisa ditemukan.

Kazekage yang mengetahui pemberontakan ini pun murka, dan menghukum pasukan kudeta itu dengan seberat-beratnya. Saat dia mengetahui anak-anaknya masih hidup, dia mengutus tangan kanannya untuk menjemput mereka berdua. Sungguh, dia ingin sekali menjemput kedua anaknya dengan tangannya sendiri, tapi kedudukannya sebagai Kazekage tidak mengizinkan. Bagaimanapun juga, keadaan masih belum bisa disebut aman, dan tidak mungkin pemimpin Suna itu bisa meninggalkan desanya.

Hubungan antara Suna dan Konoha menjadi semakin erat dengan adanya kejadian ini. Demikian juga dengan kedua bocah itu. Memang, mereka tidak selalu bisa bertemu, tapi setidaknya mereka bisa bertemu walau hanya sekali dalam beberapa bulan. Khususnya saat musim semi.

Saat musim semi, Sakura pasti pergi ke Konoha, bertemu Naruto, dan duduk di dahan Pohon Sakura di mana mereka pertama kali bertemu. Entah hanya untuk bercakap-cakap, bermain, ataupun menulis di dahan pohon itu.

Mereka merasa bahagia dengan hal itu.

Dan entah bagaimana, hubungan mereka selalu bertambah erat dengan bertambahnya usia mereka. Dan musim semi tahun depan, tahun depan, dan tahun depannya lagi, mereka selalu berjanji untuk bertemu di Pohon Sakura yang sama.

.

mmmoooonnn

.

Pemandangan di depannya tiba-tiba memudar dan Sakura kembali menjadi dirinya sendiri. Menjadi Sakura dewasa.

Ingatannya memang belum kembali, tapi pemandangan yang terlihat tentang masa lalu sangat jelas seolanh-olah dia mengulang kembali kejadian itu.

Agak sedikit bingung dengan informasi yang baru didapatnya, Sakura berjalan perlahan di lapangan yang semakin lama semakin menghilang. Lalu saat menoleh ke bawah, Sakura melihat sesuatu.

"Lukisan lagi?" tebaknya.

Lukisan itu hanya sebuah gambaran tentang jalanan dan bangku beton saat malam. Gambarnya gelap dan datar. Seperti jalan yang selalu kau temui di dekat taman kota. Tidak ada yang istimewa.

Saat Sakura menyentuhnya, sensasi tarikan kembali tercipta. Dia tertarik masuk lagi. Pikirannya masih belum terlalu fokus untuk menyadari apa yang dilakukannya.

Pikirannya penuh dengan pertanyaan apa benar yang dia alami barusan adalah ingatan tentang masa lalunya?

.

mmmoooonnn

.

Sasuke benar-benar merasa cemas dan kaget saat Sakura tiba-tiba masuk ke dalam lukisan itu. Saat Sakura telah sepenuhnya masuk ke dalam lukisan, gambar dalam lukisan itu langsung menghilang. Berubah menjadi warna hitam.

Dia bingung bagaimana caranya untuk menolong Sakura. Masuk ke dalam lukisan jelas tidak mungkin, karena dia telah mencobanya dan itu tidak berhasil.

Ada apa dengan padang pasir? Apakah ada hubungannya dengan ingatan Sakura? Ada sebersit rasa takut dalam hatinya saat ini. Dulu, saat dia membaca sebuah nama di cincin milik Sakura, rasa takutnya tidak sebesar ini. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, rasa takut itu bak bola salju yang meluncur turun, semakin lama semakin takut.

Sasuke menyadari dia merasa takut. Dia takut kehilangan gadis itu, gadis yang semakin lama semakin terasa berarti baginya. Gadis yang mengisi kekosongannya.

Gadis payah, buta arah, lugu, cengeng, cerewet, dan mungkin juga menyusahkan. Tapi entah mengapa Sasuke menyukai senyuman Sakura, rona merah yang tercipta di pipinya, dan Sasuke merasa nyaman saat ada orang yang menunggu kepulangannya saat dia pergi barang sejenak.

Lalu tiba-tiba saja dia mulai merasa bahwa menyenangkan gadis itu bukanlah hal yang menyusahkan melainkan sebuah kebiasaan baru. Dan dia merasa itu bukanlah hal aneh. Karena dia ingin Sakura merasa bahagia saat dia ada dan juga karena dia.

Sasuke berhenti sejenak saat pikirannya mulai melantur keman-mana. Maka dari itu dia memutuskan untuk menyelidiki rumah atau labirin ini. Sasuke melangkah pelan menyusuri setiap lukisan yang berderet berantakan di lantai.

Tiba-tiba dia berhenti saat dia melihat sebuah lukisan yang pemandangannya tak asing dengannya. Lukisan itu menggambarkan punggung seseorang. Tapi Sasuke mengetahui dengan jelas siapa orang itu. Dan seperti Sakura, tangan Sasuke terulur tanpa dia perintah, mencoba menyentuh lukisan itu. Dan dia pun tertelan dalam lukisan itu.

.

mmmoooonnn

.

Sakura jatuh terduduk di sebuah jalanan datar dengan ornament batu acak yang menghiasinya. Di sampingnya terdapat batu beton berkaki dua. Dia melihat sekeliling. Hanya ada pepohonan dan malam yang membentang.

Tempat apa ini?

"Sakura…"

Sakura berbalik seketika. Lalu dia melihat Sasuke di sana. Ada beberapa perban menghiasi tangan dan juga kepalanya.

Sakura berdiri dan berjalan cepat ke arahnya, "Sasuke? Apa yang terjadi? Mengapa kau terluka?"

Bukannya menjawab pertanyaan Sakura, Sasuke malah berbalik dan berjalan menjauh dari Sakura. Dia pergi tanpa menjelaskan apapun.

"Sasuke!" Sakura memanggil. Dia masih tetap terpaku di tempatnya. Ada apa dengannya? Mengapa dia pergi?

"Sasuke, tunggu!"

Sakura berlari mengejar Sasuke sambil menjulurkan tangannya, berusaha menggapai laki-laki raven itu. Saat tangannya menyentuh lambang kipas di baju Sasuke, tangannya terhisap dengan cepat!

"A-apa?"

Sakura terkejut. Belum sampai sedetik, pemandangan di depannya langsung menghitam dan dalam beberapa detik kemudian dia kembali melihat lambang kipas itu. Dan seolah belum cukup bingung, badan Sakura melayang ke arah punggung Sasuke dan menabraknya dengan telak dari belakang.

Bruk!

"Kyaa!"

Sakura bisa mencium aroma tubuh Sasuke, dia juga bisa merasakan bagaimana canggungnya saat tubuhnya menempel erat dengan tubuh Sasuke.

Sontak dia berdiri dan menjauh dari Sasuke sambil mengucapkan maaf berkali-kali.

Sasuke meringis, dia memegangi belakang kepalanya, "Sakura?"

"I-iya?"

"Kau darimana?" tanya Sasuke.

Sakura bingung bagaimana cara menjelaskannya, "Aku juga kurang tahu. Tapi rasanya aku masuk ke sebuah lukisan lalu masuk lagi sampai aku bertemu dengan Sasuke. Sasuke sendiri, bagaimana bisa sampai ke sini?"

Sasuke diam, wajahnya menggelap, "Sama sepertimu."

"Oh…" Entah karena apa, Sakura menyadari bahwa perasaan Sasuke sedang galau saat ini. Dan dia tidak tahu mengapa.

Sakura mengedarkan pandangannya dan matanya melebar seketika.

"Sa-sa-sasuke, ini… ini… ini di…" Sakura terbata menyaksikan pemandangan yang menakjubkan di depannya ini.

Senja yang temaran membiaskan warna bunga Sakura yang tertiup angin. Bukan hanya ada satu pohon Sakura, tapi berderetan pohon Sakura mengelilingi mereka berdua. Samar-samar dari kejauhan terdengar bunyi lonceng yang menggema. Sakura juga bisa mendengar gegap gempita orang-orang dan nyanyian yang sayup terdengar dari jauh.

Saat Sakura tersadarkan dari kekagumannya, dia mendapati Sasuke sedang menatap tajam ke arahnya. Tiba-tiba dia merasa gugup karena itu. Dia tidak memiliki cukup keberanian untuk membalas tatapan Sasuke.

"Syukurlah kau baik-baik saja," kata Sasuke pada akhirnya.

Sakura mendongak. Ah, ternyata Sasuke mengkhawatirkannya. Rasa senang pun menyelip di hatinya kala itu.

"Iya, maaf aku tiba-tiba pergi begitu saja."

"Berjanjilah jangan pergi kemana-mana tanpa aku," pinta Sasuke.

Sakura mengangguk sambil tersenyum. "Eng, Sasuke, bagaimana caranya agar kita bisa keluar dari lukisan ini?"

Sasuke langsung melihat sekeliling, pandangan langsung terpaku pada satu titik, "Lihat di pohon itu, Sakura. Mungkin itu jalan keluar untuk kita."

Pohon yang ditunjuk oleh Sasuke ternyata berisi sebuah lukisan di dahannya. Lukisan itu berisi gambar sebuah ruangan yang penuh dengan lukisan juga. Interior kamar itu mirip dengan kastil yang mereka datangi. Dan yang paling menyakinkan adalah adanya Yamato di dalam lukisan itu.

"Kita masuk ke sana. Dia pasti bisa menjelaskan apa maksud semua ini," kata Sasuke dengan penuh keyakinan.

"Iya."

Mereka pun masuk bersamaan ke dalam lukisan itu dan berharap untuk tidak sampai di tempat lain lagi selain tempat yang memang benar-benar mereka tuju.

.

mmmoooonnn

.

Mereka sampai di sebuah ruangan yang mirip kamar pribadi seseorang. Walaupun begitu, masih banyak lukisan yang berserakan di sana.

Sakura melihat Yamato sedang menyusun lukisan dalam diam. Sepertinya dia tidak menyadari keberadaan Sasuke dan Sakura di sana.

"Ano… Yamato…" panggil Sakura pelan.

Yamato berbalik sambil tersenyum, "Ya?"

"Bisa kau beritahu di mana pintu keluarnya? Kami sudah bosan dengan lukisan-lukisan ini!" kata Sasuke langsung ke pokok masalah.

"Begitu? padahal masih banyak lukisan yang menarik yang belum kau masuki," celetuk orang di belakang Sakura dan Sasuke.

Mereka berdua langsung berbalik dan melihat seorang laki-laki berkulit putih pucat sedang tersenyum, sebuah senyuman palsu. Di tangannya terdapat kuas yang masih baru.

"Jadi kau Si Pelukis itu?" tanya Sasuke.

"Benar. Apa lukisanku menarik? Kau bisa pergi ke tempat lukisan itu berada. Di mana saja dalam waktu apapun. Hebat bukan?"

"Kami hanya ingin keluar dari tempat ini," ujar Sasuke.

"Sayang, padahal sudah lama tidak ada orang yang kemari. Ah, aku belum memperkenalkan diri ya?" kata Sai masih tersenyum. "Namaku Sai, dan yang di sana, Yamato, pelayanku. Kau pasti sudah berkenalan."

"Tempat apa sebenarnya ini? Dan lukisan-lukisan aneh itu apa?" tanya Sakura penasaran.

"Aneh? Tidaak…" Sai menggeleng. "Itu bukan aneh, tapi ajaib. Bukankah Yamato sudah menjelaskan tentang lukisan itu padamu?"

"Tapi bagaimana mungkin bisa lukisan itu…" Sasuke tak percaya, "apa itu ilusi?"

"Tidak. Itu kenyataan. Tentang tempat dilukisan itu nyata, tapi waktu dalam lukisan, masih bias, kabur. Yah, itu karena masa lalu tak bisa diubah dan masa depan itu bercabang, sulit dideteksi."

"Jadi apa yang kami lihat dan alami itu, nyata?" tanya Sakura.

"Tentu saja. Yah, kecuali untuk masa depan. Kadang bisa berubah, atau mungkin sama dengan apa yang kau lihat barusan. Entahlah aku juga tidak tahu."

"Tapi kau tahu jalan keluar dari sini, bukan?" tanya Sasuke tak sabar.

"Tentu saja!" Sai bertepuk tangan. "Jadi, kalian benar-benar mau pergi? Apa kau tidak ingin melihat keseluruhan ingatanmu di sini?"

Pertanyaan Sai tentu saja ditujukan untuk Sakura.

Gadis itu langsung gelagapan, "Mak-maksudmu apa?"

"Tentu saja ingatanmu yang tersegel?" ujarnya santai.

"Tersegel?" kata Sasuke dan Sakura bersamaan.

"Ya, tersegel. Karena suatu jurus."

"Dia amnesia," tekan Sasuke.

Sai menggeleng, "Tidak, aku tahu pasti hal itu. Aku bisa melihatnya. Kau menyegel sendiri ingatanmu, Nona."

"Aku? Menyegel ingatanku?" kata Sakura tak percaya.

"Ya, kaulah orang yang menyegel ingatanmu sendiri sehingga kau kehilangan ingatanmu. Jadi, apa memang kau ingin mengingat kembali ingatanmu?" tanya Sai.

Sakura berpikir sejenak. Jika memang dia yang menyegelnya, untuk apa? Dan jika memang benar, bukankah itu berarti akan lebih baik baginya untuk melupakan masa lalunya, jika memang dulu ia menginginkan untuk melupakannya?

"Aku… tidak tahu," jawab Sakura.

Sai mengedikkan bahunya, "Kalian mau keluar kan, kalau begitu, ini adalah jalan keluar yang terbaik untuk kalian," kata Sai sambil menunjukkan lukisan kosong berwarna putih.

"Apa maksudmu?"

"Ini Lukisan 'Putih'. Dia tidak terkungkung oleh tempat yang dilukis di dalamnya, tapi lebih kepada apa yang kalian inginkan. Kalian bisa pergi ke mana saja dengan lukisan ini. Tapi untuk masa sekarang, bukan masa lalu atau masa depan. Jadi, kalian mau kemana?" tanya Sai.

Sai menatap Sasuke, "Pergi ke tempat di mana Kakakmu berada, atau…" Sekarang Sai menatap Sakura, "atau pergi ke tempat di mana keluargamu berada. Ke mana? Pilihlah dengan bijak karena kalian bisa pergi kemana pun yang kalian inginkan. Kemana pun…"

Mereka berdua terdiam beberapa saat, memikirkan beberapa pilihan yang ditawarkan oleh Sai. Begitu menggiurkan.

Bagi Sasuke, mungkin ini adalah kesempatan emas. Sudah sangat lama Sasuke mencari kakaknya, dan sekarang, ada kesempatan untuk bertemu dengan kakaknya dengan masuk ke dalam lukisan. Akankah dia menolaknya?

Dan Sakura, pikirannya penuh kemelut yang berkecamuk. Gadis itu sibuk memikirkan berbagai macam alasan tentang mengapa dirinya malah menyegel ingatannya sendiri? Karena apa? Dan jika dia bisa pergi ke tempat keluarganya berada, mungkin saja dia bisa mendapatkan jawaban yang tepat dibandingkan beberapa kemungkinan yang tak pasti dalam benaknya. Tapi, pertentangan juga terjadi. Bagaimana memang jika dia lebih baik tidak tahu dan tidak ingat lagi? Sakura juga mulai merasa nyaman dengan keadaannya bersama Sasuke. Sakura tidak ingin berpisah dengannya…

Mereka lalu berpandangan sejenak, "Kami rasa kami tahu kemana kami akan pergi, ya kan Sakura?" tanya Sasuke.

"Err… iya?" jawab Sakura dengan nada bertanya karena sesungguhnya dia tidak tahu.

"Baiklah, silakan masuk kalau begitu. kapan-kapan datang ke sini lagi ya?" kata Sai.

"Tidak, terima kasih," jawab Sasuke ketus kemudian dia memegang erat tangan Sakura dan berkata, "Jangan lepaskan tanganku dan pikirkan tempat yang kita tuju."

Sakura mengangguk walau masih agak bingung.

Kali ini, mereka berdua lagi-lagi masuk ke dalam lukisan. Sebelum benar-benar ditelan lukisan itu, samar-samar suara Sai terdengar, "Sampai jumpa!"

.

T*B*C

.

.

A/N

Errr… maaf kelamaan apdet-nya, soalnya Luna baru masuk kuliah tanggal tujuh, jadi musti konsentrasi gitu… mana baru kuliah dosennya langsung kasi tugas lagi? Haduuuhhh… dosa apa Luna ama bapak siiihh? *plak

Untuk chap depan kayaknya gak bakal terlalu lama. Paling seminggu doang kok!

Ehehehe…

Eh, ada yang belum nyadar kalo itu Gaara sebelum Sakura nyebut nama kakaknya? Hayooo… ngakuuuuu… ehehehehe…

Inget kan si Sasori udah punya peran laen di fic ini? Masih inget dia jadi apa? Yah, Sai-nya malah muncul sedikit, padahal Luna suka ama Sai.

Nah, kali ini pergi kemana mereka ya? Ada yang tahu kemana?

Luna ngucapin terima kasih juga bagi semuanya yang udah nge-fave fic missing ini. Beribu-ribu terimakasih!

Review?