.
The Emperor
Naruto © Masasshi kisimoto
High School DxD © Ichie Ishibumi
WARNING : AU, OOC, OC, Typo (yang selalu ngikut), Semi-Canon, Universal World, dan sebagainya.
Pair : [ Naruto x Shizuka x Serafall ]
-o0{[ Blood Of Vampire ]}0o—
.
Chapter 11
.
Bruukk!
Satu tumpukan buku lagi bertambah didepannya. Dan yang melakukannya itu adalah sosok pria berusia lanjut dengan cerutu yang terus saja mengeluarkan asap. Sedangkan sang korban kini keningnya mulai berkedut karena kesal.
"Jangan bercanda pak tua!?" Seru Naruto pada sosok Hiruzen Sarutobi sang jendral tertinggi serta pelatih khusus Naruto pada satuan "S" atau lebih rincinya pasukan khusus anti terror jepang SOLDIER .
"Apa? Mau protes?... kau harus tahu kalau aku tidak mau punya bawahan orang bodoh. Jadi habiskan itu malam ini atau katakan selamat tinggal pada makan malammu mulai besok." Ancam Hiruzen.
Naruto langsung menelan ludahnya sendiri saat mendengar ancaman Hiruzen barusan, apapun asalkan tidak dengan makan malamya. Kenapa dia sangat terobsesi dengan makan malam adalah karena pada saat makan malam mereka bebas memesan apapun yang dia sukai, termasuk makanan favorit Naruto yaitu miso ramen super pedas yang ada di kafetaria.
Ini merupakan tahun ketiga dia berada dipasukan ini, namun meskipun begitu dia hanya diperbolehkan ikut dalam misi-misi ringan serta misi diplomatik. Karena usianya masih terlalu muda untuk misi yang harus membuatnya berlumuran akan darah.
Naruto yang tidak mampu menyuarakan protes apapun hanya mendengus kesal dan mulai membaca buku ditangannya seperti yang diperintahkan Hiruzen. Mau protes bagaimana, meskipun sosok didepannya itu terlihat tua, serta memiliki tampang biasa-biasa saja. Namun Naruto tahu jika gelar jendral didepan namanya itu bukanlah hiasan semata.
Bahkan dia pernah dengar rumor tentang masa muda Hiruzen dari penjaga kafetaria, kalau pria tua itu dulunya mampu mengalahkan ratusan teroris yang mengisolasi sebuah kota berbekal dua buah shotgun dengan amunisi penuh.
Jadi sekuat apapun dia mencoba, sosok didepannya itu tidak akan pernah dapat dia capai, apalagi dia kalahkan.
"Hey bocah!"
"Hmm.?" Balas Naruto tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang di pegangnya. Dan itu membuat sebuah senyum simpul keluar di pipi keriputnya.
"Besok kau akan ikut denganku... menjalankan misi khusus,"
Mendengar kata misi khusus, langsung membuat ekspresi Naruto 180 derajat, dia tidak menyangka jika setelah menunggu selama tiga tahun akhirnya dia mendapat misi khusus. Apa lagi dia akan berpasangan dengan orang terkuat dalam pasukan inipasti akan sangat seru. Itulah kira-kia yang tengah berputar dikepala Naruto.
"Jadi apa misi kita? Mengawal presiden, atau melawan teroris... atau-atau kita akan meledakan sebuah pusat perbelanjaan?"
"KAU PIKIR KITA TERORIS?... hah, semua yang kau tebak tadi tidak ada yang benar. Dan jika kau ingin tahu, habiskan dulu buku itu malam ini." Ujar Hiruzen.
Mendengar hal itu langsung membuat Naruto membaca buku-buku itu dengan semangat, dan sesekali menyenandungkan kata 'misi khusus'. Sementara Hiruzen hanya dapat menggaruk belakang kepalanya yang jelas-jelas tidak gatal karena menghadapi sifat bocah didepannya itu.
.
-o0o-
.
"Nee.. pak tua. Kenapa kau membawaku ke Kyoto?"
Dia menatap pria tua disampingnya itu. Sosok yang dia kenal sebagai Hiruzen Sarutobi, sang jendral sekaligus atasannya. Jujur dia masih tidak mengerti kenapa kakek tua itu mengajaknya, yang masih dalam masa pelatihan itu menjalankan misi diplomatik ke Kyoto.
"Kau akan tahu sendiri nanti,"
Naruto hanya dapat mendengus pelan saat mendengar itu. Selalu saja begitu, jika dia memang tidak ingin memberitahukannya lebih baik dia tidak perlu diajak kesini, dan lebih memilih menghabiskan harinya dengan tumpukan buku itu.
Deg!
Naruto tiba-tiba menghentian langkahnya, entah kenapa dia merasakan sebuah perasaan aneh saat dadanya seakan seperti ingin meledak pada setiap detakannya. Dan saat dia mengamati sekelilingnya waktu terasa seperti melambat, dan entah kenapa dia bahkan dapat melihat obyek yang dirasanya terlalu jauh untuk dia lihat dengan sangat jelas.
'Sebenarnya apa yang sedang terjadi?' Dia tidak mengerti, sebenarnya apayang membuatnya menjadi seperti ini.
"Ada apa Naruto?"
Dia langsung terkaget saat sebuah pertanyaan keluar dari Hiruzen, dan seketika dunia yang melambat itu kini menjadi normal seperti sedia kala.
"Ah,, bukan apa-apa"
Hiruzen mengangkat bahu tidak peduli. Naruto menunduk pelan dan melanjutkan kembali jalannya dibelakang kakek tua itu. Seakan perasaan barusan hanyalah sebuah ilusi belaka. Namun terasa begitu nyata sampai-sampai membuat jantungnya seakan diremas oleh sebuah tangan astral yang tak terlihat.
Mereka berdua berhenti disebuah gerbang dari rumah yang paling besar disana, seperti sebuah istana megah milik seseorang yang sagat penting. Ah ya dia baru ingat bahwa misi mereka adalah misi diplomatik, jadi hal seperti ini seharusnya sudah dia perkirakan.
"Naruto.."
"Hmm,,?"
Dia mengalihkan tatapannya pada Hiruzen yang barusan memanggil namanya. Dia melihat Hiruzen yang kini tengah mengorek-ngorek kantongnya seakan mencari sesuatu. Wajah Hiruzen berubah menjadi lebih cerah pertanda bahwa apa yang dia cari telah dia dapatkan. Sebuah dompet kodok berwarna hitam yang terlihat penuh dengan uang receh didalamnya.
Dan yang membuat sebuah keringat sebesar biji jagung dikepala Naruto adalah kenapa sepertinya sulit sekali mengambil dompet sebesar itu. Kecuali jika kantongnya itu merupakan kantong ajaib milik Doraemon.
",, Kau pergilah jalan-jalan disekitar sini, beli apapun yang kau mau dengan uang itu." Tunjuk Hiruzen pada dompet kodok yang kini sudah berada ditangan Naruto itu.
"Heh,, kau mengusirku?"
Hiruzen mendesah pelan. "Bukan begitu. Karena ini masalah orang dewasa jadi kenapa kau tidak menghabiskan waktumu dengan berkeliling, atau mencari pacar kalau bisa." Saran Hiruzen dengan sebuah kedipan diakhir kalimatnya.
"Hal seperti itu hanya akan menghambat pekerjaanku saja," ujar Naruto sembari melangkah pergi meninggalkan Hiruzen yang hanya dapat menggaruk kepala beruban miliknya menghadapi sifat bocah itu.
"Yare-yare,, sepertinya hal ini akan bertambah rumit."
Kreekk!
Dia langsung mengalihkan pandangannya pada pintu gerbang yang sepertinya telah dibuka. Dia langsung mendapati sosok perempuan cantik berambut keemasan dan mata yang senada dengan surai emasnya. Serta mengenakan pakaian khas gadis kuil.
"Jadi dia?" Ucap perempuan itu, sembari memperhatikan punggung Naruto yang semakin lama semakin mengecil. Hiruzen tersenyum kecil mendengar pertanyaan dari perempuan itu.
"Bagaimana, bagus bukan? Meskipun dia masih bocah, tapi kemampuan bertarungnya tidak dapat diremehkan." Pria tua itu berucap sembari menghembuskan asap dari cerutunya.
Perempuan itu mengangguk ringan, lalu berbalik masuk kedalam pekarangan rumah. "Kurasa aku akan mengetesnya sedikit." Perempuan itu berujar pelan dengan sebuah senyum misterius.
"Terserah kau saja"
Mereka berdua berjalan masuk kedalam pekarangan rumah megah itu.
.
-o0o-
.
Naruto berjalan dengan kepala tertunduk serta jutaan sumpah-serapah yang dia tunjukan pada kakek tua yang awalnya mengajak dia ke kota ini. Awalnya dia mengira jika mereka akan dihadapkan dengan pertarungan sengit dengan lawan. Atau bahkan memburu puluhan gembong kejahatan yang hendak menghancurkan Kyoto.
Namun alih-alih bertarung dengan lawan, ataupun menangkap penjahat. Dia malah harus berjalan di area pasar yang lumayan ramai seperti ini. Dia bersumpah jika misi mereka hanya seperti ini saja sampai selesai dia pasti akan langsung mencincang kepala beruban miliknya. Persetan dengan yang namanya atasan maupun bawahan, itu salahnya sendiri karena telah membuat Naruto jengkel.
Brukk!
Karena teralu sibuk dengan pikiannya sendiri Naruto jadi tidak memperhatikan jalan didepannya, sehingga dia menabrak seseorang.
"Ah,, gomen."
"Ya," ujar pria itu singkat lalu kembali melanjutkan jalannya tanpa menghiraukan Naruto yang tengah membingkuk minta maaf.
"Inu?" Alis Naruto terangkat sebelah saat melihat sosok yang dia tabrak adalah manusia yang memiliki kepala anjing berwarna hitam. Dia mengedarkan pandangannya kesegala arah dan dia baru menyadari jika semua orang yang ada disekelilingnya itu bukanlah manusia.
Mulai dari anjing, kucing, buaya, bahkan ada yang memiliki wajah monyet. 'Sebenarnya aku sekarang ada dimana sih?' Batin Naruto miris, pasalnya dia baru tahu jika Kyoto dipenuhi dengan makhluk-makhluk seperti ini.
"Kurama!" Ucap Naruto dengan pelan. Dan seketika sosok gadis kecil bertelinga rubah itu langsung muncul didepannya. "Ada apa Naruto-sama? Kurama bertanya" tanya Kurama masih dengan logat anehnya yang entah kenapa selalu membuat Naruto jengkel.
Untuk sesaat Naruto menghiaukan logat aneh guardian beastnya itu. Karena ada hal yang lebih penting dari pada mengurusi tata cara berbicara rubah itu.
"Sebenarnya apa yang terjadi disini, dan apa mereka semua ini, apa mereka semua sama sepertimu?"
"Naruto-sama aku tidak dapat menjawab pertanyaan boronganmu itu sekaligus, namun singkatnya mereka semua ini adalah Youkai. Kaum lain selain manusia. Kurama menjelaskan,"
Naruto mengangguk paham, jadi dia kini berada disebuah tempat atau mungkin dapat dia sebut habitat bagi para makhluk bernama youkai itu.
"Ah, terserah lah. Memikirkannya saja sudah membuatku pusing." Naruto kembali berjalan melihat-lihat area disekitar Kyoto. Kurama yang melihat tuannya berjalan pergi, langsung berubah menjadi rubah kecil berwarna putih salju dengan dua ekor dibelakangnya lalu meloncat kebahu Naruto dan langsung melingkarkan tubuhnya ke leher Naruto.
"Hoy hoy,, kau ini," desah Naruto menghadapi sifat makhluk dilehernya itu.
Karena tadi terlalu asik memikirkan rencana mencincang kepala Hiruzen, dia sampai tidak tahu sekarang ini dia ada dimana. Terlalu banyak persimpangan jalan yang membuatnya bingung. Dengan kata lain saat ini dia tersesat. Untuk pertama kali seorang Naruto Uzumaki tersesat dan tidak tahu arah kembali ke tempat dimana dia tadi berpisah dengan Hiruzen.
"Gah, persetan dengan tersesat. Kesini saja,"
Dia memilih berjalan kearah gang yang agak lumayan lebar diantara penjual takoyaki dan penjual buah. Berjalan pelan, karena dia memang tidak sedang terburu-buru. Toh kakek tua itu pasti tidak ingin diganggu.
"Kemari kau bangsat!"
Naruto menoleh kearah sumber suara yang tidak lain adalah sosok menusia berkepala kuda yang tengah mengejar sosok perempuan yang sepertinya seumuran dengan Naruto. Dibelakang pria berkepala kuda itu masih ada segerombolan youkai lainnya.
"Manusia?"
Dia melihat sosok yang dikejar itu bukanlah youkai seperti halnya gerombolan itu, melainkan manusia biasa yang sepertinya berlari menuju kearahnya. Dengan sekali hentakan kaki, Naruto langsung melompat keatas dan berdiri di atas seuntai tali jemuran yang mengikat di kedua sisi gang.
Mengamati apa yang sebenarnya terjadi sehingga gadis itu bisa dikejar oleh segerombolan youkai itu.
.
-o0o-
.
Shizuka berlari sekuat tenaganya agar tidak tertangkap oleh orang-orang itu. Dia tidak mengerti mengapa dia begitu dibenci oleh penduduk disini. Apa karena dia hanya manusia biasa, apa dia tidak pantas jika harus berada ditempat itu.
"Kemari kau bangsat!" Teriak salah seorang youkai bertubuh manusia setengah kuda itu. Tentu saja Shizuka tidak menuruti perintah yang dilontarkan youkai itu, karena jika dia menurutinya dia pasti akan dihajar habis-habisan.
Dug!
Brukk!
Entah kenapa sepertinya kesialan suka sekali mengikutinya. Dan itu terbukti dengan sebuah batu yang harus membuatnya tersungkur ketanah. Dia tidak tahu lagi apa yang akan terjadi padanya setelah ini.
"Kau tidak dapat lari kemana-mana lagi bangsat!"
Salah seorang youkai bertubuh macan maju kedepan menyiapkan jejeran kuku-kuku tajam yang sepertinya disiapkan untuk gadis itu. "Kau hanyalah aib bagi para youkai, manusia sepertimu tidak pantas menjadi anak dari Yasaka-sama. Jadi,,,,, MATILAH!"
Youkai itu menebaskan deretan kuku-kuku tajamnya kearah Shizuka yang kini hanya mampu menutup matanya pasrah menerima maut yang sepertinya telah siap menjemputnya. Sesaat sebelum kuku-kuku itu mengenainya dia merasa seperti ada tangan yang menariknya kebelakang.
Jrasshh!
Blarr!
Asap mengepul akibat hntaman kuku tajam itu dengan tanah didepannya. Saat debu-debu itu mulai menghilang nampak sang target tidak tergores sedikitpun kecuali bagian depan dari pakaian yang dikenakan gadis itu musnah akibat cakaran dari youkai tadi.
"Oke, cukup."-
Semua pasang mata langsung tertuju pada sosok pemuda berpakaian hitam berlapis rompi hijau yang berdiri dibelakang Shizuka. Shizuka sendiri tidak mengalihkan pandangannya pada sosok yang dia yakini sebagai orang yang telah menyelamatkannya barusan.
"S-siapa kau? Dan apa maumu mengganggu kami?" Ucap salah satu youkai berwujud kuda tadi. Naruto hanya tertawa ringan saat mendengar pertanyaan dari youkai itu. Menggelikan sekali, padahal mereklah yang mengganggu gadis itu. Dan bahkan berniat membunuhnya.
"Heh, Pertanyaan bodoh."
Mereka semua merasa geram mendengar balasan dari bocah didepannya itu. Dia pikir dia siapa berani-berani menyebut mereka bodoh.
"Kurang ajar!"
",,,?"
Saat berniat menghajar bocah didepannya itu, mereka baru sadar jika mereka semua tidak dapat menggerakan tubuh mereka bahkan seinchi pun dari tempatnya berdiri.
"N-nani.. sejak kapan?" Sahut salah seorang dari youkai itu, saat sadar bahwa setiap alat gerak mereka kini telah terikat oleh seutas kawat baja yang berujung pada lengan kanan pemuda berambut pirang itu.
"Sebenarnya aku ingin sekali memotong kalian jadi kecil-kecil, tapi berhubung aku sedang tidak membawa katana milikku maka aku tidak jadi mencincang kalian,,," Naruto menoleh kebawah lebih tepatnya kearah gadis yang tadi dia tolong.
",,oh. Begini saja. Aku akan membakar kalian, dan jika kalian masih hidup maka kalian boleh pergi bagaimana?"
"Jangan bercanda!" Teriak youkai macan tadi, sedangkan Naruto hanya mengendikan bahu acuh, sembari merogoh kantong yang ada dirompinya. Dia mengeluarkan sebuah korek api yang terbuat dari metal itu guna menunjukan bahwa dia tidak sedang bercanda.
"Bagaimana kalau kita lihat sendiri?" Ucap Naruto sambil melemparkan korek api yang sudah menyala itu pada mereka. "Oh ya aku lupa bilang kalau kawat itu semalam aku rendam dalam bak berisi bensin." Ucap Naruto dengan wajah tanpa dosa.
Semua youkai itu langsung menutup matanya karena jarak antara meraka dan korek itu sudah sangat dekat.
Tuk!
Namun ternyata korek itu tidak mengenai kawat manupun salah satu youkai disana melainkan langsung jatuh ketanah dan tentu saa api korek itu langsung padam.
"AREEE...!"
"Baka!" Cetus Shizuka.
"Siapa yang kau sebut baka, baka!" Sungut Naruto.
Sedangkan Shizuka langsung mengalihkan pandangannya kearah lain. Sepertinya harinya kini memang sudah digariskan sebagai hari tersial Naruto. Niatnya ingin terlihat keren, malah jadi terlihat bodoh.
"Hahaha,,, sepertinya kau hanya besar mulut saja bocah," ejek youkai kuda. Naruto yang sudah sangat jengkel langsung menghadap keaah segerombolan youkai tadi dengan wajah sangar. "Sepertinya tidak ada pilihan lain,"
Dia merampal beberapa hand seal dengan cepat. Kemudian menarik nafas dengan sangat kuat.
"Katon : Hosenka no Jutsu!"
Puluhan burung api yang keluar dari mulut Naruto langsung melesat dengan cepat kearah youkai-youkai tadi berada. Dan saat bersentuhan dengan kawat baja berlumur bensin yang mengikat mereka, langsung membuat sebuah kobaran api besar akibat reaksi antara api dan bensin itu.
"Rasakan,, Jurus pamungkas : Kawat pembakar Iblis!" Teriak Naruto, memamerkan jurus ampuhnya itu.
Sedangkan Shizuka langsung sweatdrop saat mendengar nama jurus Naruto. 'Dimana bagian iblisnya coba?' Batin Shizuka.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Naruto sembari mengulurkan tangannya pada Shizuka yang masih terduduk sedari tadi. Tanpa ragu Shizuka menerima uluran tangan dari Naruto.
"Arigatou," ucapnya dengan sebuah senyum simpul yang terukir manis di wajah cantiknya. Naruto malah mengalihkan pandangannya kesamping dengan wajah bersemu. Dan tentu saja hal itu membuat Shizuka bingung. 'Ada apa dengan pemuda ini ya?' Batin Shizuka.
"S-seharusnya aku yang berterimakasih," balas Naruto dengan sedikit agak tergagap. Dan pernyataan dari Naruto itu tentu saja menambah sebuah tanda tanya lagi dikepalanya.
"Loh, kenapa?"
"Terimakasih karena telah menunjukan pemandangan indah itu," tunjuk Naruto pada Shizuka, atau lebih tepatnya pada bagian depan tubuh Shizuka yang ter ekspose akibat akaran dari youkai macan tadi.
"H-"
"H?"
"HENTAI!"
PLAKK!
Shizuka kembali duduk sambil memeluk lututnya sendiri guna melindungi kedua asetnya yang ter ekspose karena bajunya hancur akibat cakaran kucing sialan tadi. Naruto bangun dari tidur telentangnya dengan wajah berhiaskan cap tangan berwarna merah.
Dia melepaskan rompi pasukannya, "Ini," dia menyerahkan rompi hijau itu kepada Shizuka yang tengah terduduk. Dengan gesit Shizuka menyabet rompi pemberian Naruto itu.
"Kau keberatan?" Ucap Shizuka sambil memasang pose seperti melindungi dadanya.
"Sebenarnya aku kebe-wadaww! Apa yang kau lakukan Kurama!?" perkataan Naruto langsung tergantikan dengan teriakan sakit saat merasakan sensasi gigitan dari dua taring tajam pada lehernya. Dan Naruto tahu betul jika yang menggigit itu adalah sang rubah putih yang seenak udelnya melingkari lehernya itu.
Sang rubah hanya mendengus pelan, "Hai hai wakatta!" Naruto langsung berbalik agar Shizuka dapat mengenakan rompi itu tanpa khawatir dilihat oleh mata mesum milik Naruto.
"K-kau boleh berbalik sekarang," sebuah suara lembut itu terdengar dengan pelan namun sangat jelas ditelinga Naruto, pertanda bahwa gadis itu telah selesai mengenakan rompi pemberiannya.
"Hah, setelah interaksi konyol seperti tadi aku bahkan sampai lupa menayakan siapa namamu, jadi?" Ucap Naruto setelah berbalik. Sedangkan yang ditanyai malah terus menunduk dengan muka memerah sembari terus menatap tubuhnya sendiri yang hanya memakai rompi hijau itu saja tanpa dalaman sama sekali.
"Hoy aku bertanya padamu bego!"
"T-tapi saat mengenakan ini entah kenapa aku merasa seperti sedang dilecehkan," gumam Shizuka masih tetap menunduk karena tidak berani menatap wajah Naruto. Naruto yang merasa jengah langsung mengusap wajahnya dengan kasar.
"Kalau begitu lepaskan rompiku dan kau boleh pulang dengan menggunakan kardus itu sebagai penutup, gimana?" Saran Naruto dengan jengkel sambil menunjuk sebuah kardus bertuliskan mie se***p yang berada di sudut gang.
"Kurasa memakai rompi ini bukanlah ide yang buruk,"
"Jadi?" Naruto kembali menayakan pertanyaan yang tadi dia lontarkan namun masih belum terjawab bajkan hingga detik ini.
"Bukannya tidak sopan menanyakan nama orang sebelum memperkenalkan dirinya dulu?" Entah itu pertanyaan atau malah saran, yang jelas itu kembali membuat sebuah perempatan lahir dipelipis Naruto.
"Hah, Naruto, Naruto Uzumaki, kau sendiri?"
"Shizuka, hanya Shizuka." Ujar Shizuka pelan, dia sendiri memang tidak mengetahui siapa orang tuanya yang sebenarnya. Yang dia tahu hanyalah dia adalah anak angkat dari youkai terkuat di Kyoto, sang pemimpin dari semua youkai. Yasaka, sang Kyuubi no Kitsune.
"Baiklah, sepertinya aku harus mengantarmu pulang, karena aku tidak mungkin memberikan rompi itu karena itu adalah seragam kerja." Ucap Naruto.
"Kerja?"
"Hm,, aku adalah tentara, meskipun masih tahap pelatihan sih," dia berujar dengan sebuah cengiran riang yang sepertinya selalu dia keluarkan jika sedang gembira.
"Oh, tentara ya," dia bergumam pelan.
"Kenapa?"
"Bukan apa-apa. Ngomong-ngomong rumahku kearah sini," tunjuk Shizuka pada arah yang berlawanan dengan langkah Naruto.
"Oh," hanya satu kata itu yang terucap dari bibirnya, saat mengetahui bahwa dia salah mengambil jalan. Dan tentu saja hal itu membuat Shizuka terkikik geli melihat tingkah pemuda itu.
Mengingat dia masih memiliki banyak waktu jadi dia rasa mengantar gadis itu pulang tidak ada salahnya. Naruto berjalan beriringan dengan Shizuka yang berjalan tepat disamping kirinya.
"Jangan pernah lengah,"
Naruto langsung menoleh pada sosok yang barusan mengucapkan kalimat itu, namun bukannya wajah sosok tersebut yang dia lihat. Melainkan sebuah pukulan yang dengan cepat mengarah padanya.
Duuagghh!
Blarr!
Meskipun Naruto sudah memblock pukulan tadi dengan menyilangkan tanganya didepan dada. Karena faktor kalah kekuatan, dia harus rela diterbangkan oleh sosok itu dan menghantam salah satu gerobak jualan disana.
"Naruto!" Teriak Shizuka pada remaja yang tadi menolongnya itu. Dia langsung mengalihkan tatapannya pada sosok pelaku yang membuat Naruto menjadi seperti itu. Shizuka mendapati sosok youkai berwujud monyet yang mengenakan sebuah jas hujan kuning.
Tangan kanan makhluk itu seperti dililit dengan sebuah perban, yang Shizuka sendiri tidak tahu apa fungsinya.
Blarr!
"Kau pikir dapat mengalahkanku hanya dengan itu? Berusahalah lebih keras, monyet!" Naruto keluar dari puing-puing gerobak yang hancur akibat bertabrakan dengan tubuhnya. Dia berjalan pelan seakan tidak mendapat luka akibat pukulan tadi, walaupun sebenarnya dia merasa bahwa tangannya seperti sudah remuk akibat pukulan monyet itu.
Blash!
Sosok itu langsung menghilang dan muncul kembali dbrlakang Naruto dengan sebuah tendangan yang mengarah pada punggung sang target. Tidak mau merasakan hal yang sama untuk kedua kalinya Naruto langsung kayang kebelakang dengan cepat sehingga tendangan dari monyet itu hanya mengenai usara kosong.
Melihat sebuah celah Naruto langsung menarik kaki yang terjulur kedepan itu dengan kuat kearah tembok yang ada disampingnya. Alih-alih menabrak tembok monyet itu malah berdiri vertikal pada sisi tembok selayaknya ninja.
Bukannya kesal Naruto malah tersenyum saat melihat musuhnya itu tidak menyadari jikalau dia sudah masuk dalam perangkap yang dibuat Naruto.
"Katsu!"
Cess! Blarr!
Ternyata didekat monyet itu berdiri telah terpasang tiga buah kertas peledak yang tidak diketahui kapan dipasangnya oleh Naruto. Meskipun ledakan tadi cukup besar Naruto yakin jika lawannya itu tidak akan kalah semudah itu.
Dan sepertinya asumsi Naruto terbukti benar, karena saat asap mulai menghilang nampak tubuh berbulu milik monyet itu tidak terdapat luka sedikitpun, meskipun jaket kuningnya tadi telah lenyap akibat ledakan barusan.
Naruto semakin memasang kuda-kudanya saat melihat lawannya itu mulai melepaskan lilitan perban ditangan kanannya. Setelah semua lilitan itu terbuka nampak dengan jelas sebuah tangan berbalut sisik ular serta cakar-cakar tajam selayaknya harimau. Naruto dapat menyimpulkan jika tangan dari lawannya itu adalah hasil eksperimen yang dilakukan oleh kaum youkai.
Naruto kembali dibuat terkejut saat sang lawan telah hilang dari tempatnya berdiri dan muncul kembali tepat didepan Naruto, lengkap dengan sebuah bogem dari tangan bersisik itu. Naruto yang merasa sepertinya mustahil untuk menahan pukulan itu, langsung melompat kebelakang sehingga pukulan yang dilepaskan lawannya itu hanya mengenai udara kosong.
Namun yang membuat Naruto terkejut adalah dia terlempar keudara dengan sangat kuat oleh sebuah energi tak kasat mata dari sang lawan. Naruto yang terpental keudara langsung meraih sebuah tali jemuran yang tadinya dia pakai berdiri itu sebagai pegangan yang menciptakan sebuah momentum sehingga dirinya dapat melesat kearah sang lawan akibat gaya tolak dari tali jemuran tadi.
Dan Naruto berani bersumpah jika dia melihat ekspresi terkejut lawannya saat melihatnya menggunakan tali jemuran sebagai ketapel yang melesatkan tubuhnya pada sang monyet.
Dengan gerakan simpel Naruto mengeluarkan kunai dari sarung kunai yang berada dibelakang pinggangnya. Dan saat jarak antara dia dan si monyet tadi sudah semakin dekat, Naruto langsung menebaskan kunainya tanpa ragu.
Kachiingg!
"K-keras seperti besi," rutuk Naruto saat tebasannya itu terpentalkan hanya karena tangan kanan bersisik itu. Tak mau ambil resiko diterbangkan seperti tadi, Naruto langsung meloncat kebelakang guna menjaga jarak dari lawannya.
"Ternyata kau cukup tajam juga, ya." Akhirnya setelah sekian lama pertarungan mereka. Sang lawan baru mengeluarkan suaranya, sembari menunjukan luka goresan dari tangan kanan berlapis sisik itu.
"Sebenarnya apa maumu!?"
"Bersenang-senang, mungkin," ujarnya acuh sambil mengangkat bahunya.
Sementara Shizuka menatap tidak percaya pertarungan yang tersaji secara real didepannya itu, dia tidak menyangka jika sosok yang tadi menyelamatkannya itu dapat mengimbangi seorang youkai yang dia tahu jauh lebih kuat ketimbang Naruto.
Atau itu karena faktor pengalaman, pengalaman yang dia dapat di pelatihan militer yang dia ikuti, atau juga karena pemuda pirang bernama lengkap Naruto Uzumaki itu memiiki kekuatan khusus yang bahkan dapat membalikan logika yang telah terpaten didunia ini. Entah sejauh manapun Shizuka memikirkan jawabannya dia sepertinya tidak akan menemukan jawaban sama sekali jika tidak bertanya langsung pada orangnya.
Dengan kecepatan yang sangat gila youkai itu kembali menghilang dan muncul kembali di samping Naruto.
Deg!
Deg!
Alih-alih alih terpental oleh pukulannya Naruto malah menggeser sedikit kepalanya kebelakang. Dan pukulan itu hanya mengenai udara kosong didepannya. Entah karena apa, Naruto merasakan perasaan ini lagi. Dia merasa dadanya sangat sakit seakan ditusuk-tusuk dengan jarum, tapi karena itu dia merasa bahwa waktu disekitarnya kembali melambat.
Melihat sebuah kesempatan emas, Naruto langsung melompat tinggi keudara. Dia meluruskan kedua jarinya selayaknya membuat setengah hand seal dengan tangan kanannya, dengan mengalirkan cukup cakra Naruto langsung menebaskan tangan kanannya secara diagonal.
"Burô Keshin!"
Tidak ada yang terjadi, bahkan angin berhembuspun tidak ada, seakan jurus yang diucapkan Naruto tadi hanya sebuah gertakan semata. Namun karena insting serta senjutsunya, youkai itu harus dibuat berguling kesamping saat merasakan energi yang samar melesat kearahnya.
Criiing!
Blarrr!
Sebuah tiang listrik yang berada dipinggir jalan tepat dibelakang youkai monyet itu langsung terpotong dan roboh oleh tebasan yang bahkan tidak memiliki wujud untuk dapat dilihat oleh panca indra.
Namun karena senjutsu yang dia kuasai, dia dapat merasakan sebuah serangan yang mengarah padanya, namun sayangnya dia hanya dapat merasakan serangan yang sudah sangat dekat padanya.
Keringat dingin mengalir deras dikepalanya saat melihat kekuatan darisabetan jari itu. 'Jika terkena sekali saja, pasti akan langsung tamat.' batin youkai monyet itu melihat mahakarya dari dua buah jari itu.
"MASIH BELUM!" Teriak Naruto sambil terus mengibaskan kedua jarinya itu secara acak, yang sukses membuat youkai monyet itu kalang kabut menghindari serangn tak berwujud dari Naruto. Melompat, berguling, merangkak, bahkan bergeliat seperti seekor ulat pun dia lakukan guna menghindari setiap serangan tak kasat mata itu.
"Sekarang... Kurama!"
Sebuah lingkaran sihir langsung tercipta dibawah kaki youkai monyet itu. Namun yang membuat youkai monyet itu mengumpat dalam hati adalah rubah yang berdiri didepannya kini tengah mengumpulkan energi kebiruan yang sangat padat dimulutnya.
Duusstt!
Blaarrr!
Tembakan energi padat yang dikeluarkan dari mulut Kurama itu sukses menerbangkan youkai monyet tadi dalam sebuah jalur lurus kearah hutan. Niat Kurama menghampiri majikannya langsung terhenti saat merasakan energi asing yang semakin lama semakin pekat keluar dari dalam tubuh Naruto.
Dia menggeram pelan saat melihat majikannya mulai mengalami perubahan yang signifikan seperti daun telinga yang mulai melancip, rambutnya mulai menghitam sedikit demi sedikit, kuku-kukunya yang memanjang serta bola mata merah bersinar dengan terang dibalik bayang-bayang poni Naruto.
"Darah... aku butuh darah!"
Sebuah suara berat tiba-tiba mulai terdengar dari dalam kepala Naruto.
"Bunuh semuanya... dan ambil darahnya!"
Seakan tidak mau berhenti suaa itu kian lama kian banyak dan saling bersahut-sahutan satu sama lain.
"Aku...ingin DARAH!"
Arrgghhhh!
Ledakan energi super dasyat itu keluar dari tubuh Naruto. Kurama yang melihat tuannya sedang lepas kendali langsung berubah ke mode manusianya. Dan tentu saja hal itu membuat Shizuka terkejut bukan kepalang.
Dia tidak menyangka jika rubah yang selalu melingkar pada leher pemuda yang siang tadi menyelamatkan hidupnya itu dapat berubah menjadi seorang gadis kecil yang memiliki sembilan ekor yang melambai-lambai seperti halnya ibu angkatnya, sang Kyuubi no Kitsune.
"S-siapa sebenarnya dirimu?" Tanya Shizuka yang masih berada didalam belenggu kebingungan yang menghantuinya semenjak pertarungan antara Naruto dengan youkai monyet tadi.
"Tidak penting siapa aku. Yang penting sekarang adalah bagaimana cara menghentikan Naruto-sama sebelum benar-benar lepas kendali," Shizuka langsung terdiam membisu saat mendengar pernyataan Kurama barusan.
'Sepertinya aku tidak dapat melakukannya dengan tubuh ini,,,, tidak ada pilihan lain!' batin Kurama berteriak saat melihat Naruto mulai menggerakan tangannya seperti ingin menampar seseorang. Namun insting rubah Kurama mengatakan bahwa yang akan dilakukan Naruto jauh lebih mengerikan dibandingkan dengan sekedar menampar mereka.
Kurama langsung meloncat menjauh sembari menyeret Shizuka ditangan kanannya.
Whuusss!
Blaaaarrrr!
Ledakan super dahsyat itu langsung meratakan bangunan-bangunan yang terjejer rapi didepannya, dan itu terjadi hanya karena satu kibasan tangan dari Naruto, dan jika dari pengamatan Kurama. Majikannya kini sepertinya sudah benar-benar hilang kendali. Dan itu terbukti dengan manik biru safire indah itu telah tergantikan dngan manik berwarna merah darah yang sangat identik dengan sosok vampir penghisap darah.
Tap brukk!
Kurama berhasil mendarat sempurna di tempat yang agak jauh dari sumber ledakan yang tidak lain adalah Naruto. Rintihan Shizuka tidak jadi dia lontarkan saat pandangannya terpaku akan sebuah kawah besar memanjang yang bahkan menghancurkan rumah-rumah penduduk yang mulanya berjejer rapi disana.
Kurama yang tidak ingin majikannya itu semakin liar dibawah pengaruh vampir yang sepertinya semakin menggerogotinya dari dalam, langsung menepukkan kedua tangan didepan dadanya.
"Fuuin : Tamashī o sokubaku... KAI!"
Sebah aura kebiruan langsung meledak dari tubuh Kurama, serta diikuti oleh munculnya sebuah lingkaran besar dengan pola bintang didalamnya, lalu muncul lingkaran-lingkaran sebesar bola sepak di setiap sudut lancip dari bintang tadi.
Di sisi lain atau lebih tepatnya di atas sebuah banginan tertinggi disana terlihat dua sosok yang berdiri mengamati setiap detik perubahan dai Naruto.
"Apa kita terlalu berlebihan?" Tanya sosok perempuan yang tidak lain adalah Yasaka kepada sosok Hiruzen Sarutobi disampingnya. Hiruzen hanya menghemnbuskan asap cerutunya pelan. "Kurasa begitu, sebaiknya kita lekas menghentikannya sebelum tempatmu rata dengan tanah." Saran pria tua itu.
Namun niat Yasaka untuk langsung terjun ketempat dimana anaknya serta bocah pirang itu terhenti saat melihat ledakan energi berwarna biru yang sangat dia kenali, senjutsu murni yang sangat kental itu adalah senjutsu dari kaum kitsune, kaumnya sendiri.
"Itu,,"
"Sepertinya Kurama tidak tidak ingin jika tuannya dikendalikan," gumam Hiruzen melihat kejadian didepannya. Dimana seorang guardian yang sangat loyal dan akan melakukan apapun demi kepuasan majikannya.
"Sebaiknya kita cepat kesana," dengan sekali lompatan panjang Yasaka langsung melesat ketempat dimana Naruto berada.
Lingkaran yang berada diujung lancip bintang itu perlahan terbakar dengan api berwarna biru satu demi satu. Diiringi dengan perubahan tubuh yang kian lama kian membesar, menunjukan sosok Kurama dalam mode dewasa, yaitu perempuan yang memiliki perawakan sangat mirip dengan Yasaka, namun dengan rambut serta mata berwarna perak. Mengenakan pakaian tempur berwarna abu-abu dengan sedikit aksen hijau dibeberapa bagian.
"Kaa-sama!?" Gumam Shizuka saat melihat sosok yang sangat mirip dengan ibunya namun dengan surai perak berkilau serta sepasang telinga rubah yang terukir manis dikepalanya. 'Tidak, dia bukan Okaa-sama, tapi kenapa dia mirip sekali dengan ibuku?' batin Shizuka.
Tap! tap!
"Lama tidak bertemu, Hishamaru," ucap Yasaka pada Kurama yang kini tengah berubah kemode dewasanya. Sedang Kurama hanya mendengus pelan menanggapi sapaan dari saudaranya itu. "Sekedar pemberitahuan saja, jika sekaang namaku adalah Kurama. Dan aku tidak ada niatan sedikitpun untuk menggantinya, karena nama itu adalah pemberian dari Naruto-sama. Yasaka Nee-san,"
Sementara Hiruzen dan Shizuka hanya mampu melotot dengan mata sebesar bola pimpong karena terkejut mengetahui jika kedua perempuan rubah didepan mereka adalah saudara.
Goooaaaarrr!
Sepertinya mereka harus menunda acara reunian mereka saat mendengar raungan keras dari sosok Naruto yang sepertinya hendak memasuki fase selanjutnya, terbukti dengan munculnya sepasang sayap kelelawar besar berwarna merah gelap itu.
"Kurasa sudah saatnya melakukannya,,,, itukan yang tadi hendak kau lakukan?" Yasaka memastikan jika tebakannya tidak melenceng. Dan dibalas Kurama dengan sebuah anggukan kecil.
"Hoy pak tua, apa kau bisa menahannya sebentar," ucap Kurama pada Hiruzen yang dari tadi hanya menjadi penonton saja bersama dengan Shizuka. Dia menghela nafas pelan serta mengeluarkan kepulan asap tembakau dari cerutu yang sepertinya tidak pernah lepas dari mulutnya.
Ctack!
Dia hanya menjentikan jarinya pelan tanpa melakukan apapun lagi, namun sesutu yang aneh keluar dari bawah kaki Naruto. Jika awalnya tadi dia menginjak tanah paving yang keras kini yang menjadi pijakannya adalah sebuah lumpur hisap yang perlahan menariknya kebawah.
"Tuh, sudah kulakukan, selanjutnya terserah kalian." Ujar Hiruzen.
Yasaka yang melihat pergerakan Naruto sudah terhenti akibat lumpur milik Hiruzen, langsung mengeluarkan sebuah kertas kecil dan menuliskan sebuah huruf aneh dengan darahnya sendiri. Dengan satu hentakan keras dia menempelkan kertas itu ditanah yang berada tepat didepannya.
Dari tanah bertekstur kasar itu terlihat berubah menjadi sebuah riak air yang perlahan membawa keluar sebuah gagang katana berwarna hitam legam, yang terus naik denfan perlahan hingga berhenti tepat didepan wajahnya.
"Muramasa, lakukan tugasmu!" Bisiknya pelan pada katana didepannya. Lalu dengan tenaga terkuatnya dia melemparkan katana itu kearah dimana Naruto berada.
Jrasshh!
Katana itu langsung menancap tepat di dada Naruto. Dan tentu saja hal itu membuat Shizuka memekik kaget melihat seperti ibunya ingin membunuh Naruto.
"APA YANG KAU LAKUKAN OKAA-SAMA!" Teriak Shizuka saat melihat itu.
"Diamlah Shizu-chan, dan biarkan orang dewasa bekerja." Balas Hiruzen yang berdiri tepat disampingnya. Meskipun rasa khawatir masih menghantuinya, namun saat melihat senyum meyakinnkan dari Hiruzen, mau tak mau dia harus percaya pada ibunya dan sosok yang mengaku sebagai Kurama tadi.
"Kita lakukan, Hi- Kurama!" Meskipun Yasaka hampir salah menyebutkan namanya, namun Kurama sama sekali tidak menggubris hal itu, karena keselamatan tuannya adalah prioritas utama baginya. Megikuti isyarat dari kakaknya, Kurama mengangkat tangan kanannya dan mempertemukannya dengan tangan kiri Yasaka.
Kemudian mereka mengangkat masing-masing tangan mereka yang sedang bebas kearah Naruto. Sebuah ledakan energi kembali menguar dari tubuh Kurama, begitu pula yang terjadi pada Yasaka. Dua sosok youkai terkuat itu menyatukan kedua youki mereka guna menyegel jiwa yang memberontak ingin keluar dari tubuh Naruto.
"Fuuin : Tamashī o sokubaku!"
Teriak mereka berdua, sebuah segel khusus dari klan rubah yang dapat menyegel apapun bahkan jiwa mereka sendiri. Seperti yang dilakukan Hishamaru yang meyegel tubuh dewasanya kedalam tubuh gadis rubah kecil yang dikenal dengan nama Kurama.
Sebuah lingkaran berbintang seperti yang awal tadi sempat keluar dibelakang Kurama, kini kembali muncul diatas tubuh Naruto yang sudah terbenam dalam kolam lumpur itu sebatas pinggangnya.
Sebuah cahaya menyilaukan tiba-tiba meledak dari lingkaran segel yang itu. Saat cahaya mulai meredup nampak sosok bocah berumur sekitar 12 tahun yang tergeletak tak berdaya didalam kawah berukuran 10 meter dan berkedalaman 3 meter itu.
"Naruto-sama!" Teriak Kurama saat melihat majikannya yang tergeletak tak berdaya didalam kawah. Meninggalkan saudaranya yang hanya dapat tersenyum kaku melihat adiknya yang sepertinya sangat menyayangi majikannya lebih dari nyawanya sendiri.
Kurama langsung mengangkat tubuh lemah Naruto dalam gendongannya, lalu membawanya ketempat dimana Yasaka, Hiruzen, serta Shizuka berada.
"Yasaka, dimana tempatmu?" Tanya Kurama, pada kakaknya yang tengah menggendong gadis berambut hotam dipunggungnya. "Setidaknya panggil aku Nee-san kenapa?" Sungut Yasaka pada sang adik yang seenak ekornya memanggil fia dengan tidak sopan.
"Jangan mulai deh,"
"Lewat sini," ucap Yasaka, sembari melompat keatas salah satu rumah disana, lalu di ikuti Kurama yang membawa Naruto dalam dekapannya. Sementara Hiruzen memandang mereka berdua dengan sebuah keringat dikepalanya.
"Kenapa aku merasa jika mereka itu lebih mirip dengan seorang ibu yang terlalu protektif terhadap anaknya ya?" Hiruzen bergumam pelan lalu mengikuti mereka berdua yang sudah pergi kearah mansion milik Yasaka.
.
-o0o-
.
Kurama meletakkan tubuh Naruto pada kasur yang disediakan Yasaka. Kemudia menyelimutinya dengan pelan, menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi kening bocah pirang itu. Dengan perlahan dia mendekatkan wajahnya kearah wajah Naruto lalu mencium pelan kening pemuda itu sebelum berbalik meninggalkan ruangan itu.
"Ouhh,, kau sudah terlihat seperti ibu yang baik, Hishamaru," ucap Yasaka yang bersandar disamping pintu ruangan itu, memperhatikan setiap tindakan dari adiknya itu.
"U-urusai, lagian sudah kukatakan jika namaku sekarang Kurama. Kuulangi Ku-ra-ma." Sungut Kurama pada sang kakak yang menggodanya dengan wajah super menjengkelkan itu.
"Apa salahnya coba, toh keduanya jua sama-sama namamu."
"Tentu saja salah, nama Kurama ini adalah pemberian Naruto sama saat dia pertama kali memanggilku. Meskipun dia mungkin tidak mengingatnya karena efek segel yang kugunakan untuk menyegel tubuh dewasaku ini." Dia berucap dengan pelan sambil menundukan kepalanya.
"Kurama, bisa kita bicara sebentar?"
Kali ini Kurama langsung berubah ke mode serius saat melihat ekspresi serius dari Yasaka. Dia tahu jika kakaknya itu sepertinya ingin membicarakan suatu hal yamg penting. Dan mau tak mau Kurama harus mengikutinya kearah ruang tamu, disana dia juga melihat sosok pria tua yang dia ketahui sebagai atasan dari tuannya.
Dia duduk di sofa yang ada di sana, disamping Hiruzen yang duduk dengan tenang sambil meminum teh yang disediakan oleh Yasaka. Beralih menatap Yasaka dengan raut serius yang terlihat sangat cocok bagi sosok dewasa Kurama.
"Jadi... apa yang ingin kau bicarakan?"
"Begini... ini mengenai Naruto-kun, seperti yang kau ketahui, jika kekuatan Naruto-kun saat ini begitu tidak stabil... aku bukannya takut akan kerusakan yang akan dihasilkan... tapi tubuh Naruto-kun hanyalah tubuh manusia, dan jika dia mengeluarkan kekuatan sebesar itu maka... tubuhnya akan hancur." Jelas Yasaka.
Kurama mengeratkan kepalan tangannya, dia tahu, dia mengerti jika tubuh majikannya itu tidak akan mampu menahan kekuatan vampir sekuat itu. Namun apa yang dapat dia lakukan, pasalnya segel yang dia dan Yasaka pasang hanya berguna untuk menyegel jiwa vampir yang terus mencoba menguasai tubuh Naruto.
"Jadi, tugas kalian adalah melatih Naruto agar dia dapat mengontrol berapa persen kekuatan yang harus dia keluarkan dalam sekali pertarungan." Lanjut Yasaka pada kedua orang didepannya, sedangkan Hiruzen malah menghela nafas pasrah pasalnya dia sudah yakin jika dia pasti juga menjadi sasaran.
"Kurasa kau benar, Nee-san." Ucap Kurama dengan sebuah senyum simpul yang terukir manis di wajah cantiknya.
"Juga,, aku tidak ingin menantuku nanti mati sebelum memberikanku cucu,"
"A-apa!? M-menantu?" Tunggu apa telinga Kurama mengalami konslet atau memang kakaknya tadi mengatakan menantu.
"Loh. Kau belum tahu jika alasan Hiruzen membawa Naruto kesini adalah karena dia akan ditunangkan dengan Shizuka-chan," tanya Yasaka.
Kurama langsung menoleh kearah Hiruzen dengan tatapan membunuh yang menguar dengan lancar dari tubuhnya. Sementara Hiruzen langsung menatap kearah lain sembari bersiul ringan.
"Apa maksudnya ini, pak tua!?"
"Eto,, gimana ya?,," Hiruzen malah bingung mau bilang apa melihat tatapan membunuh yang terus dikeluarkan perempuan rubah didepannya itu pada dirinya.
"Cepat jelaskan atau... kau akan pulang didalam peti mati." Ancam Kurama
"S-sebenarnya ini karena kekhawatiranku yang merasa jika bocah itu terlalu serius dengan masalahnya sebagai prajurit, hingga melupakan hal terpenting yaitu tentang perasaan... karena aku tidak ingin salah mendidiknya hingga dia berubah menjadi seoang mesin pembunuh tanpa perasaan." Jelas Hiruzen dengan keringat dingin yang membanjiri kepalanya.
Kenapa dia malah lupa jika perempuan yang marah itu bahkan lebih mengerikan ketimbang menghadapi segerombolan teroris bersenjata lengkap dengan hanya berbekal tongkat baseball.
"Hah, terserah kau saja, tapi jika Naruto-sama menolak, maka kau harus menerima kenyataan itu."
"Tentu saja. Jika dia menolak aku pasti akan membunuhnya seketika, karena dia telah meratakan sebagian daerahku." Ucap Yasaka di iringi dengan seringai kejam diwajahnya.
"Dan tentu saja kau harus menghadapiku dulu sebelum bisa menyentuh majikanku," balas Kurama juga dengan seringai yang tidak kalah mengerikan. Lalu mereka tertawa bersama karena sudah lama mereka tidak saling berinteraksi dan bersenda gurau seperti ini.
Seakan mereka melupakan sesuatu yang dirasa cukup penting.
"Nee,,, Yasaka-sama. Apa tugasku sudah selesai?" Gumam seorang youkai berwujud monyet yang kini tergantung layaknya pakaian kotor di dahan pohon yang berada ditengah hutan.
.
To be continue...
A/N : Cihuyyy akhirnya Arc Flashback masa kecil Naruto sudah selesai,, bagaimana? Ada yang terkejut saat tahu jika Kurama adalah saudara Yasaka?. Atau malah kalian sudah memprediksinya begitu? Oh ya... soal penampilan Kurama versi dewasa adalah sama persis dengan sosok Hishamaru dari anime "Tokyo Ravens" dengan tambahan delapan ekor sehingga totalnya jadi sembilan ekor.
Kurama disini tidak tidak berwarna oranye seperti halnya kyuubi di Naruto. Melainkan sosok rubah berekor sembilan berwarna putih salju dengan ujung ekor berwarna hitam. Dan dia adalah saudara kembar Yasaka, yang sudah sejak lama menjalin kontrak dengan klan Uzumaki.
Juga itu menjelaskan alasan kenapa Naruto selalu menjentikan jarinya saat mengeluarkan kekuatannya, yaitu guna menentukan berapa persen kekuatannya yang akan dia keluarkan. Karena bukannya Naruto tidak bisa mengeluarkan kekuatannya 100%. Mengeluarkan kekuatan penuh yang ada didalam diri Naruto bukannya perkara sulit, masalahnya seperti yang dikatakan Yasaka diatas. Meskipun dia dapat mengeluarkan 100% kekuatan dalam sekali pukulan maka tangannya akan langsung hancur saat mengenai target yang ingin dipukul.
Jadi bagaimana, apa cukup untuk membalas lamanya update cerita ini. Ahh yang penting jangan lupa menuliskan sedikit pendapat, kritik, saran, atau apalah (termasuk surat cinta pada author juga boleh) tentang chapter kali ini.
.
Re for Guest...
asd : Okrek
ardi : Siip
xxx : aku tidak tahu sebenci apa anda pada character Sasuke. Tapi setidaknya bisa anda sebutkan kenapa saya harus menghapus karakter Sasuke dalam fic saya.
Pendi uye uye : dirumah sakit
Guest : Sepertinya anda sudah tahu apa jawabannya :v
Hariazt : Ahaha...(garuk belakang kepala) saya hanya menulis apa yang ada dipikiranku saja. Dan jika itu dirasa mengganggu maka tidak akan saya ulangi lagi. Serta ini adalah Flashback terakhir jadi tenang saja :v
Senju-nara shita : Oke pertama-tama tolong jangan panggil saya dengan akhiran sama, karena itu membuat leherku gatal. :v oke akan aku jawab pertanyaan anda satu-satu.
1. Hari ini :v
2. Iya pair Naruto adalah Shizuka dan Serafall
3. Udah kejawab di pertanyaan nomer 2 :v
Tidak masalh, karena aku malah senang jika ada yang menyukai fic saya, dan jika ada yang membingungkan silahkan tanyakan saja jangan sungkan-sungkan.
Nameima : iya, tapi flashback terakhir.
.
Baiklah See you next time and thanks for reading...
.
Salam Kakha,,, :v
