A Namjin's Fanfiction

.

Kim Namjoon | Kim Seokjin

.

#RMusic.

Pernah berpikir tentang alasan dibalik lagu-lagu rekomendasi dari Rap Monster di Twitter?

.

.

.

.

.


We're too different

You know that well

We aren't able to embrace

Each other's realities (난 너를 사랑해 by Mate)

Rap Monster's song recomendation on 5 July 2013 via BTS_twt

.

.

.

.

.

.

.

.

"Yoongi-ya."

"Hmm?"

Seokjin berdecak kesal, pasalnya ia mengajak Yoongi makan siang bersama bukan untuk di abaikan. Bahkan di panggil namanya pun sang dokter orthopedi sama sekali tak mengalihkan pandangan dari layar ponselnya.

"Apa Jimin selalu seperti itu?"

Park Jimin. Junior mereka saat kuliah kedokteran dulu, sekarang menjadi intern di rumah sakit yang berbeda dengan Yoongi dan Seokjin.

Sekaligus kekasihnya Min Yoongi empat tahun ini.

"Seperti apa maksudmu?"

"Menghubungimu saat makan siang."

Kali ini kalimat Seokjin berhasil membuat yang lebih muda menatapnya, meletakkan ponsel pada meja dimana sseondae miliknya masih tersisa setengah. "Ya, tentu saja. Bukankah semua pasangan melakukannya? Bahkan bukan hanya saat makan siang, hyung, Jimin bisa kapan saja menghubungiku jika ia merindukanku."

Seokjin hanya mengangguk-anggukan kepala, seolah mengerti. Padahal ia sama sekali tak mengerti.

"Namjoon tidak seperti itu."

Gumaman kecil Seokjin masih bisa di dengar oleh Yoongi yang sedang meraih orange juice-nya untuk di minum.

"Namjoon siapa?"

"Kekasihku."

Satu kata yang berhasil membuat Yoongi tersedak minumannya. Ia terbatuk-batuk sembari menatap tak percaya senior sekaligus sahabatnya.

"Siapamu?"

Mendapat reaksi yang cukup ekstrim, Seokjin menghela nafas dengan berat. Ia tahu ini akan mengejutkan. Meski mereka sudah berteman sejak kuliah dan bekerja di rumah sakit yang sama, tapi akhir-akhir ini kesibukan keduanya di specialis masing-masing sangat menyita waktu hingga makan siang bersama seperti ini saja terasa sudah lama sekali tidak terjadi. Jadi Seokjin tidak akan terkejut jika Yoongi tidak mengetahui statusnya sekarang.

"Kekasihku, Yoongi."

"Sudah berapa lama?!"

Ponsel Yoongi lupakan sama sekali, mungkin Jimin di seberang sana tengah menggerutu karena pesannya yang belum di balas. Kim Seokjin dan kekasih barunya adalah prioritas utama Yoongi sekarang.

"Dua tahun di bulan Agustus nanti."

Demi seluruh tulang yang Yoongi pelajari dulu, dua tahun dan ia tak mengetahui apapun. Entah Seokjin yang jahat atau Yoongi yang terlalu anti sosial.

"Well, hyung. Seharusnya sisa jam istirahat kita cukup untuk menjelaskan semuanya."

.

.

Pukul delapan malam jam praktik Seokjin selesai, pasien terakhirnya baru saja pulang saat ponsel miliknya bergetar dua kali.

'Hey.'

'Keberatan kuantar pulang hari ini?'

Namjoon. Dalam bentuk apapun eksistensinya berhasil membuat Seokjin mengukir senyum. Jemarinya dengan lincah bermain di layar ponsel mengetik balasan.

'Ada apa ini? Sang polisi sedang mangkir dari tugas malamnya?'

Lalu pesan kedua Seokjin kirimkan dalam jeda yang tak sampai satu menit.

'Aku akan turun dalam lima menit. Siapkan senyum untukku, oke?'

Seseorang berseragam lengkap polisi kota tengah duduk di salah satu kursi ruang tunggu utama rumah sakit Seoul adalah pemandangan yang sangat langka. Seokjin tersenyum karena berhasil menangkap hal langka tersebut sembari mempercepat langkahnya menuju sang polisi yang dengan mudah menyadari kehadiran Seokjin di dekatnya.

Lalu Seokjin mendapatkan pesanannya, sebuah senyum dengan bonus lesung pipi yang ikut mengintip. Seokjin pikir semua rasa lelah hari ini menguap dengan mudahnya.

"Senang dengan apa yang kau lihat?"

Suara husky yang bahkan Seokjin lupa kapan terakhir kali mendengarnya, menjadi penyambut tambahan saat posisi mereka sudah saling berhadapan satu sama lain. Tak ada yang lebih menyenangkan di banding menatap langsung orang terkasihmu setelah dua minggu tidak bertemu.

"Kenapa mendadak menemuiku?"

"Karena merindukanmu?" Meski jawabannya terkesan menggantung dan berakhir menjadi pertanyaan lagi, Seokjin tetap tersenyum manis sebagai balasan.

"Alasanmu di terima, Letnan."

Bersama Namjoon, Seokjin rasa malamnya jadi sehangat udara pagi musim semi. Terlebih saat tangan besar Namjoon melingkari pinggangnya, menarik Seokjin untuk ia dekap dalam pelukan hangat yang nyaman.

Saat ini obrolannya dengan Yoongi siang tadi kembali terlintas, tentang bagaimana Jimin berkata bahwa ia merindukan Yoongi setiap saat hingga sebisa mungkin mencuri waktu untuk menelepon dan berkirim pesan singkat. Namjoon tak pernah melakukannya dua tahun ini, tak ada pesan singkat penuh pujian mematikan, atau telepon mesra yang menghayutkan rasa rindu mereka.

Hanya sebuah pelukan dan senyuman saat keduanya telah sekarat karena rindu.

.

.

We're too different

You know that well

.

.

Satu minggu kembali terlewati tanpa pertemuan. Kali ini, Seokjin yang mengambil tindakan atas saran Yoongi, untuk mengirimi Namjoon pesan sekedar menanyakan kabar. Karena menurut Yoongi hubungan Seokjin dengan Namjoon tak boleh lebih aneh lagi dari sebelumnya, malah harus bisa lebih baik.

Dan Seokjin dibuat terkejut saat ponselnya terus bergetar di jam istirahat, melihat nama sang pemanggil tanpa pikir ulang ia pilih menunda makan siangnya.

"Namjoonie."

"Kupikir aku berhalusinasi saat menerima pesan darimu tadi, hyung."

Seokjin langsung lemas di tempat, apa separah itu? Sampai menerima pesan singkat berupa 'Namjoonie, jangan lupa makan siang.' saja terasa seperti tidak nyata bagi mereka.

"Hyung, kau baik-baik saja?"

Di sadarkan dari lamunannya, Seokjin menelan ludah sekaligus keraguannya.

"Memangnya kenapa? Aku baik-baik saja."

"Hanya bukan seperti kau yang biasanya."

Yang biasanya seperti apa? Seokjin bertanya dalam hati. Rasa ketidapedulian mereka yang tinggi, mungkin.

"Tutup teleponnya dan nikmati makan siangmu, aku sungguh baik-baik saja."

Terdengar helaan nafas dari seberang sana. "Ingin bertemu hari ini?"

"Jangan di paksakan jika kau tidak bisa, lagipula hari ini aku harus jaga malam menggantikan temanku yang izin."

Sebenarnya, bisa saja Seokjin mencuri waktu sebentar untuk sekedar menemui Namjoon. Tapi ada hal yang menahannya untuk melakukan itu. Fakta bahwa Namjoon menganggap aneh pesan singkatnya tadi, Seokjin berpikir mereka memang benar-benar tidak seperti Jimin-Yoongi atau pasangan lainnya. Dan tidak seharusnya Seokjin memaksakan hal itu pada hubungannya dengan Namjoon.

"Baiklah, kututup teleponnya."

Nyatanya, ada sedikit rasa sakit tak mengenakan saat Namjoon benar-benar memutus sambungan telepon, dan Seokjin berusaha mengabaikannya.

.

.

Berjalan dalam koridor rumah sakit yang sudah sepi membuat Seokjin kembali tenggelam dalam lamunan, ia sedang menuju kantin untuk mengambil makan malam. Masih Kim Namjoon yang menjadi pusat pikirannya. Seokjin tanpa sadar berusaha mengingat semua hal yang telah ia lalui bersama sang letnan polisi. Tak banyak hal manis yang mampu ia ingat, hanya satu yang tak terlupakan adalah saat pertemuan pertama mereka dimana Seokjin sebagai ahli bedah ditugaskan mengeluarkan peluru yang bersarang di lengan kiri Namjoon. Pada dasarnya, Namjoon dan Seokjin sendiri terkenal dengan kecanggungan mereka. Jadi hubungan mereka selanjutnya sangatlah kaku. Seokjin hanya tahu bahwa berada di dekat Namjoon adalah hal yang menyenangkan, nyaman, bahkan menjadi satu-satunya tempat dimana Seokjin bisa menangis tanpa keraguan sedikitpun. Seokjin bukan seorang amatir tentang cinta dan semacamnya, ia tahu pasti bahwa ia menyanyangi Namjoon dalam konteks yang amat dalam. Meski Seokjin kesulitan mengingat kapan terakhir kali mengungkapkan rasa cintanya pada Namjoon.

Dan lamunannya kali ini berujung pada sebuah keraguan akan status hubungannya dengan Namjoon. Kenapa mereka berbeda seperti pasangan lain? Yang dengan mudah mengungkapkan cinta secara gamblang tiap detiknya. Apa salah jika Seokjin hanya menikmati rasa nyamannya dalam diam tanpa pengungkapan? Toh Namjoon juga melakukan hal yang sama dengannya selama ini, dan mereka baik-baik saja.

Seokjin kembali pada kesadarannya saat beberapa perawat melewatinya dengan langkah terburu-buru, ia berkedip beberapa kali sebelum tangannya refleks menahan salah satu perawat wanita yang lewat di sampingnya, raut wajah panik terbaca jelas oleh Seokjin.

"Apa yang terjadi?"

Selanjutnya, jawaban sang perawat membuat Seokjin kehilangan oksigen untuk bernafas.

"Letnan Kim tertembak saat melawan perampok di Gangnam."

.

We aren't able to embrace

Each other's wounds

.

Kim Seokjin yang biasa dikenal memiliki sikap pengendalian diri terbaik. Tenang dan tidak mudah panik karena seorang ahli bedah memang selalu dituntut begitu.

Tapi untuk saat ini, Seokjin kehilangan jati diri dengan mudah. Ia menerobos kerumunan di koridor depan UGD. Menatap satu per satu orang disana dengan air mata yang membasahi wajah.

"Dimana Namjoon?!"

Masa bodo dengan sikapnya yang mungkin akan dibilang kurang ajar, menyebut nama kecil sang letnan dengan fasihnya. Seokjin sangat tahu bahwa baru segelintir orang yang mengetahui hubungannya dengan Namjoon.

"Letnan Kim sedang dalam penanganan, dokter."

Tanpa menunggu penjelasan lebih jauh, dokter muda itu segera mengambil langkah berniat memasuki UGD tempat pasti dimana Namjoon-nya ditangani.

Tepat saat seseorang menahan kuat lengannya, "Kau tahu kode etiknya, hyung."

Yoongi menatap penuh padanya, seolah menyuruh Seokjin sadar dan segera kembali pada akal sehat.

"Persetan dengan kode etik, Yoongi. Namjoon di dalam dan membutuhkanku, jadi tolong lepaskan tanganmu."

Tapi Yoongi melakukan hal sebaliknya, ia justru mencengkram lengan Seokjin lebih kuat lagi. Meski Yoongi tahu ia akan kalah jika Seokjin berontak sedikit saja, tapi ia tak peduli. Apapun akan dilakukan untuk menyadarkan Seokjin akan statusnya disini.

"Seorang dokter dilarang menangani langsung pasien yang merupakan kerabatnya. Disini kau seorang dokter, hyung, bukan kekasih Kim Namjoon."

Saat ego itu runtuh, seluruh persendian Seokjin melemas. Ia nyaris jatuh berlutut jika saja Yoongi tidak menangkapnya dan polisi lain disana membantu menuntunnya untuk duduk di kursi terdekat.

"Yoongi-ya, sejak awal memang lebih baik aku tidak mengenalnya 'kan?"

Melihat Seokjin yang menangis sedemikian rupa, Yoongi duduk di sampingnya, meraih Seokjin untuk ia peluk agar tangisnya tersembunyi.

"Dia akan baik-baik saja, hyung. Begitupun dirimu."

Kalau saja dua tahun lalu Seokjin mengabaikan ajakan Namjoon untuk berkencan, saat ini ia pasti sudah di dalam dan menjadi penyelamat Namjoon untuk yang kedua kali.

Tapi parahnya, Seokjin sama sekali tidak bisa membayangkan dua tahunnya tanpa Namjoon.

.

.

I love you, I love you

To your warm touch..

.

.

Enam jam menjadi waktu-waktu paling menakutkan bagi Seokjin, ia tetap menunggu di depan ruang UGD bersama beberapa rekan polisi Namjoon meski mereka menyuruhnya beristirahat di rumah karena Namjoon tetap dalam penjagaan. Yoongi sendiri sudah pulang dengan Jimin yang datang menjemputnya, tak lupa dengan segelintir wejangan dan ancaman yang tidak lagi mempan pada Seokjin. Tapi di akhir, Yoongi justru memeluknya erat sembari berbisik lembut bahwa semua akan baik-baik saja. Seokjin tahu bahwa ia beruntung memiliki Min Yoongi sebagai sahabat.

Sekitar pukul empat pagi dimana Seokjin sudah nyaris tertidur di ruang tunggu dengan jas dokter miliknya yang ia gunakan untuk menyelimuti diri. Saat itulah salah satu tim dokter yang melakukan operasi keluar ruangan, menurunkan maskernya, lalu tersenyum pada Seokjin yang langsung lompat dari duduknya karena terkejut.

"Bagaimana, Dokter Ahn?"

Masih dengan senyumnya, sang dokter yang berumur jauh di atas Seokjin, menepuk-nepuk bahu yang lebih muda. Membuat Seokjin perlahan rileks dan sedikit menurunkan bahunya yang menegang.

"Apa kau sedang meremehkan seniormu, Seokjin? Tentu semua berjalan lancar. Kekasihmu adalah sosok yang kuat kan?!"

Seokjin tahu ini bukan waktunya ia untuk blushing, tapi kenyataan bahwa kini mungkin seluruh rumah sakit sudah mengetahui status hubungannya membuat Seokjin ingin menenggelamkan diri saja ke sungai.

"Maaf, aku benar-benar panik tadi."

"Aku mengerti. Jadi, Dokter Kim, kenapa tidak membantuku menulis resep sementara perawat menyiapkan kamar inap untuk Letnan Kim?"

Dengan gerakan terburu-buru Seokjin mengenakan lagi jas dokternya, mengangguk penuh antusias, untuk selanjutnya berjalan mengikuti Dokter Ahn ke ruangannya.

.

No matter how hard I try to push you out, even if I burn all my feelings

I can't do it

I must be in love with you

.

Tiga jam selanjutnya yang di lalui Seokjin tidak terlalu buruk, meski Namjoon belum sadarkan diri, paling tidak sosoknya ada di hadapan Seokjin. Tangan yang biasanya hangat itu kini terasa dingin, meski begitu Seokjin tetap menggenggamnya erat-erat.

"Kutebak kau tidak tidur semalaman."

Lagi-lagi Seokjin tersadar dari keadaannya yang nyaris tertidur, Namjoon sudah sadar dari lima menit yang lalu nyatanya cukup terhibur dengan Seokjin yang duduk sambil menahan kantuk.

"Apa itu hal terbaik yang bisa kau katakan setelah sekarat?"

Sekarang Seokjin terlihat kesal, bibir tebalnya mengerucut dan alisnya menukik tajam. Bukan ekspresi favorit Namjoon memang, tapi Seokjin yang tetap terlihat manis membuatnya tak bisa menahan tawa.

Tak sampai satu menit tawa Namjoon berhenti, digantikan ringisan kesakitan karena jahitan di perutnya tertarik saat ia tertawa tadi.

"Oh Tuhan, mungkin aku akan benar-benar mati karena terlalu mengkhawatirkanmu!"

Namjoon berhenti tertawa, seketika pandangannya terlalu fokus pada Seokjin di hadapannya yang mendadak salah tingkah.

"Hyung, kau tahu pekerjaanku itu penuh resiko kan?"

Seokjin mengangguk, begitupun pekerjaannya. Tangan mereka masih bertautan dengan erat.

"Aku ingin menyembunyikanmu dari orang-orang yang mengenalku selama mungkin. Karena mereka akan tahu bahwa kau memegang kelemahanku, dan mengincarmu untuk menyakitiku."

Seokjin ingin mengerti hal ini, mengerti bahwa selama ini Namjoon bersikap tak peduli pada hubungan mereka karena tak ingin orang lain mengetahuinya. Melindungi Seokjin, dalam kata lain.

"I know we are different from other, but you have no idea how much I love you, hyung."

Hal yang paling diinginkan Seokjin saat ini adalah mencium Namjoon, menyampaikan seluruh perasaan yang ia miliki untuk Namjoon dua tahun ini. Tapi mungkin satu kalimat saja sudah cukup untuk memberi sedikit gambaran akan isi hatinya.

Jadi hanya sebuah kecupan ringan dan ucapan lembut, "I love you too." sebagai balasan yang mampu Seokjin berikan.

Selebihnya, biarkan waktu yang membuktikan perasaan keduanya.

-END-

.

.

.

.

.

.

.

.


God, I ship Yoongi-Seokjin relationship as bff! And who's said I don't ship MinYoon?! XD

Fyi, pada dasarnya kata I love you dalam bahasa korea hanya butuh 'saranghae'. Dan di lagu ini 'nan neoreul saranghae' menjelaskan I love you dengan cara yang lebih strong and deep. So, aku coba menuangkan hal itu disini, tapi sepertinya gagal(lagi), sorry.

Dan ya, Jin meng-cover lagu ini di ulang tahunnya kemarin karena itu aku bikin chapter ini dari sisi Seokjin. Entah ada pengaruh Namjoon atau tidak saat Jin memutuskan untuk menyanyikan lagu ini.

Gimme your review about this, please? ^^