Disclaimer: All related things to P3 belong to ATLUS. Shadow the Hedgehog belongs to Sonic Team and SEGA. All campus IPB belong to Direktorat IPB.


Chapter 11 To the Rescue

(POV Hadi)

Jumat, 8 Mei 2009
Dark Hour
Tartarus BS Ruang ke-66

"Gimana, ketemu nggak?!" tanyaku tidak sabar. "Euh....maaf, aku tidak bisa merasakan keberadaannya. Mungkin dia berada di tempat yang lebih jauh, sehingga aku tidak bisa mendeteksinya." jelas Feby. "Hm, kalo gitu lebih baik kamu ikut kita ke dalam Feb. Siapa tau nanti kamu bisa mendeteksi dia." usul Adipta ke Feby.

"Lho, tapi Feby 'kan nggak bisa bertarung!" protes Nana. "Aku tau, makanya kita harus melindunginya selagi di sana. Dan saat kita bertarung, lebih baik kamu bersembunyi di tempat yang aman." jelas Adipta. "Emang ada tempat yang aman di Tartarus?" tanya Hari nyerocos. "Lho, terus kamu pikir ruangan kita berada sekarang ini nggak aman?" kataku balik nanya. "Yah, emang sih di Tartarus nggak ada tempat yang 100% aman. Maksudku sebaiknya Feby menjauh saat kita bertarung. Agar dia tidak menarik perhatian shadows." jelas Adipta.

"Kalo gitu tunggu apalagi?! Ayo kita segera ke sana!!" kataku semakin tidak sabar. Kami berlima langsung menuju transporter dan menyentuhnya. Kami pun berpindah ke tempat terakhir kali kami menggunakan transporter.


Tartarus BS Basement ke-10

"Lho, kok kita di sini? Bukannya kita udah sampe basement ke-13 ya?" tanya Hari bingung. "Lupa ya, 'kan waktu itu transporternya diancurin shadows sebelum kita sempat kabur. Nah, transporter yang di sini dipake Adipta buat tuker tempat sama dia." kata Nana mengingatkan kejadian kemarin. "oh, iya ya...." respon Hari. "Berarti kita harus siap-siap. Siapa tau ada shadows di dekat sini." kataku bersiaga.

"Eh, tapi aku tidak merasakan satupun shadows di sini." kata Feby. "Mereka lagi pada liburan kali. 'kan besok tanggal merah." kata Hari bercanda. Aku langsung sweatdropped. "Apa hubungannya liburan sama shadows?! Emangnya mereka punya kalender." kata Nana ikut bercanda. "Heh, kok malah bercanda sih?! Kita nih lagi misi penyelamatan tau!! Serius dikit kenapa?!" kataku ke Hari dan Nana dengan kesal. mereka berdua langsung menundukkan kepala mereka.

"Ya udahlah Di, relax aja. Kalo kita terlalu tegang nanti malah makin capek. Keadaan fisik kita 'kan masih belum pulih sepenuhnya." kata Adipta menenangkanku. "Oke, kalo gitu lebih baik kita langsung ke basement berikutnya. Feby, di mana tangganya? Siapa tau nanti shadows kuat itu datang lagi kalo kita nggak cepat-cepat pergi dari sini." kataku tetap bersiaga. "Oh...iya, tangganya ada di sebelah kiri dari sini. Lalu kita terus sampai mentok. Nah, tangganya ada di sebelah kanan." jelas Feby mengarahkan kami.

Kami segera menemukan tangga itu dan turun ke basement berikutnya. Anehnya, sesampainya kami di sana. Feby juga tidak merasakan keberadaan shadows maupun dia. "Tuh 'kan, udah kubilang mereka lagi libur!! Buktinya kita udah menjelajahi dua basement, mereka nggak ada juga." kata Hari. "*bletak* Dan udah kubilang juga untuk tidak bercanda!!" kataku kesal sambil memukul kepala Hari. "Duuuh....Gae, sakit tau!! Aku nggak bercanda kok! Mereka emang nggak ada 'kan?!" kata Hari membela diri.

"Mungkin perkataan Hari ada benernya juga." kata Adipta tiba-tiba. Aku langsung kaget mendengarnya. "Maksudku, shadows itu 'kan merupakan sifat-sifat negatif manusia yang sudah tidak bisa dikontrol. Sehingga mereka menjadi monster yang tidak terkendali. Nah, kalo liburan itu membawa good mood. Maka sifat negatif orang-orang akan berkurang 'kan?! Jadi shadows tidak akan terbentuk selama manusia berpikiran positif. Makanya saat ini kita tidak menemukan satupun shadows." jelas Adipta panjang lebar.

"Lalu bagaimana dengan Persona?" tanya Feby. "Good question. Persona adalah bentuk dari kepribadian kita di masyarakat. Jika kita bisa mengendalikan diri agar sifat-sifat negatif kita tidak meledak, maksudku lepas kontrol. Maka kepribadian kita akan menjadi Persona." jawab Adipta. "Jadi Persona dan shadows itu sama saja?!" tanyaku tidak percaya. "Ya, itu sebabnya kita bisa melawan shadows dengan Persona kita." jawab Adipta meyakinkanku.

"Tunggu, kalo soal dia gimana?" tanya Nana penasaran. "Hm, kalo dia kasusnya emang beda. Mungkin karena dia memiliki berbagai sifat dan ekspresi yang berbeda, bahkan sifat yang satu dengan yang lainnya agak ekstrim. Makanya dia special. Bahkan dia bisa mengganti Arcananya, itu menandakan dia memiliki berbagai kepribadian yang berbeda." jelas Adipta berasumsi.

Aku langsung berpikir. 'Emang sih, dia tuh lain daripada yang lain. Seumur hidupku aku belum pernah bertemu dengan orang seperti dia. Sifat dia tuh bisa baik banget sama temen, jahat kalo lagi serius, pinter soal pelajaran, goblok soal kehidupan, santai pas belajar, serius pas ujian, dermawan....kalo banyak duit aja sih, pelit soal ongkos transportasi, bercanda setiap saat, marah sama hal nggak penting, peduli kalo ada yang kesulitan, egois kalo dia mau main. Ben-'. "Bener-bener nggak bener tuh anak!!" kata Hari. Ternyata dia juga berpendapat sama denganku soal dia. Kami semua langsung tertawa mendengarnya.

Kemudian kami kembali melanjutkan pencarian kami ke basement berikutnya. Nah, saat kami di basement ke-12. Dua shadows jenis Gigas berada di depan kami. Untungnya mereka belum menyadari keberadaan kami. "Nah yang ini nggak liburan. Kerja lembur ya?!" kata Hari. "Gimana, kalian sudah siap?" tanyaku mengambil posisi bertarung. "Tidak, lebih baik kita langsung lari ke tangga. Mereka tidak akan bisa mengejar kita." Perintah Adipta. "Lho, kenapa?! Emang sih tangganya ada di sebelah kiri mereka. Tapi 'kan sayang kalo kita langsung kabur!" protesku.

"Tidak perlu, Kita tidak tau sampai sejauh mana kita harus mencarinya. Jadi lebih baik kita menyimpan tenaga." jelas Adipta. Aku pun mengalah dan kami langsung berlari saat kedua shadows itu berjalan ke arah yang berlawanan dari posisi tangga berada. Saat mereka menyadari keberadaan kami, kami sudah sampai di basement ke-13.

"*Fyuh* Untung kita berhasil lolos! Soalnya aku masih agak capek untuk bertarung." kata Nana lega. "Ditambah lagi di sini juga udah nggak ada penjaganya. Thanks to him." kata Adipta juga lega. Kami pun berjalan ke arah tangga berikutnya. "Eh, tunggu dulu!! Transporter yang di sini nggak diaktifin dulu?!" tanya Hari. "Bener juga!! Tapi bukannya udah ancur kemarin?" kataku ragu. "Cek aja dulu, siapa tau udah ada lagi." jawabnya santai. Kami langsung berjalan ke arah transporter, dan menemukan alat itu utuh. Seperti tidak terjadi apa-apa pada benda itu.

"Wah, bener juga kamu Geh! Untung kita cek dulu." kataku. "Siapa dulu dong, Prince Harry!!" kata Hari bangga. "Gitu aja bangga, udah deh, cepet aktifin terus kita lanjutin lagi!" perintah Nana. "Santai nek, gitu aja kesal. Nggak bisa lihat orang ganteng seneng ya?!" ejek Hari. *srriing* Nana langsung mengarahkan rapiernya ke leher Hari. "Eh....ma-maaf deh, aku cuma bercanda kok! Gitu aja marah!" kata Hari ketakutan. Kami bertiga sweatdropped melihat kelakuan mereka berdua.

Setelah kami mengaktifkan alat itu, kami kembali melanjutkan pencarian kami ke basement berikutnya. "Oh, tidak!! Di ruang ini terdapat shadows yang lebih banyak dari biasanya!" kata Feby setelah men-scan ruang ini. "Oh, kalo gitu pasti mereka lagi bikin pesta di sini! Ikut yuk!!" ajak Hari sambil berlari. Adipta langsung melempar tombaknya dan menancap tepat di depan Hari, sehingga dia langsung berhenti karena kaget. "Hei Weton, hati-hati dong kalo melempar tombakmu!! Aku hampir aja kena!!" teriak Hari kesal.

"Feb, di mana shadows terdekat berada?" tanya Adipta tidak mempedulikan omongan Hari. "Setan, malah dicuekin!! Heh, Weton!!" kata Hari makin kesal. "Oh, mereka tepat di depan kita. Kira-kira 20 meter dari sini." jawab Feby. "Tangganya ada di mana?" tanya Adipta lagi. "Ngg....masih jauh. Yang jelas kita harus melawan beberapa grup shadows untuk mencapai tangga di ruangan ini." jawab Feby agak kecewa.

"Apa boleh buat. Oke, semuanya!! Persiapkan diri kalian, kita sekarang dalam status siaga satu!!" perintah Adipta. "Eh....siaga satu? Maksudnya siap bertarung ya?!" kata Hari bingung sambil berpikir. Sementara kami sudah jalan duluan. "Woi, tungguin dong!!" kata Hari menyusul kami.

Tidak lama kemudian, kami berhadapan dengan dua shadows jenis Gigas, persis dengan yang tadi kami lewati. "Feby, kamu di belakang aja ya." kataku. "Hoshiton, bersiaplah!!" teriak Adipta memanggil Personanya. Hoshiton pun muncul dan langsung menyerang kedua shadows dengan Magaru. Mereka langsung terjatuh begitu terkena serangannya. "Semuanya, All Out Attack!!" perintah Adipta. Kami berempat langsung menyerang musuh bertubi-tubi hingga mereka hancur.

"Ah, gawat!! Dua shadows jenis Turret menuju ke sini!!" kata Feby memperingatkan kami. Benar saja, begitu Feby selesai berbicara, dua shadows berbentuk tank langsung muncul. "Pegasus, munculah!!" kali ini giliranku memanggil Persona. Pegasus segera kuperintahkan untuk menyerang musuh dengan Mazio. Untungnya kedua makhluk itu juga terkena telak dan terjatuh. "I've waiting for this, Attack!!" teriakku bersemangat menyerang. Tapi kali ini musuh kami masih bertahan. Kami langsung mundur untuk menghidari tabrakan mereka.

"Oke, sekarang giliranku! Dark Ape!!" kata Hari tidak sabar. Personanya langsung muncul dan melakukan serangan Maragi kepada kedua shadows itu. Mereka langsung hangus terbakar. "Makan tuh api, dasar tank karatan!!" ejek Hari.

"Feb, masih ada lagi nggak?" tanya Adipta. "Untuk sementara ini nggak ada shadows yang mendekat kok. Jadi kita bisa istirahat sebentar." jawab Feby. Kami langsung mengambil nafas karena kelelahan. Kami tidak menyangka akan ada musuh lagi begitu grup shadows yang pertama kami kalahkan. Setelah merasa cukup beristirahat, kami meneruskan perjalanan kami.

"Teman-teman, ada tiga shadows jenis knight dari sebelah kiri menuju ke sini. Tapi tangganya ada di sebelah kanan, jadi lebih baik kita segera berlari agar tidak ketahuan." saran Feby. Kami langsung berlari ke kanan. Sialnya, ketiga shadows itu menyadari kami dan mengejar kami. "Gimana nih, lari terus atau melawan mereka?!" tanya Hari. Adipta segera menghentikan langkahnya dan berbalik. "Kalian duluan aja! Biar aku yang menahan mereka. Lagian kelemahan mereka elemen angin kok, jadi aku pasti bisa mengalahkan mereka dengan mudah." kata Adipta menggenggam Arcana Card miliknya.

"Tapi mereka 'kan bertiga! Kamu pasti kewalahan kalo melawan mereka sendirian. Aku bantu ya!" kata Nana kuatir. "Nggak usah!! Lebih baik kalian menyimpan tenaga dan terus mencarinya. Aku pasti nyusul kok! Yang penting kamu tetap tunjukin jalannya, ya Feby." kata Adipta menolak. "Kalian dengar perintahnya 'kan?! Ayo kita lanjutkan! Dan Weton, jangan kalah ya!" kataku kembali berlari. Kulihat Adipta hanya tersenyum mendengar perkataanku. "Tenang aja Di, meskipun aku nggak sekuat dirimu, tapi aku masih memiliki kemampuan yang lain. Hoshiton!!" kata Adipta siap bertarung.

Kami berempat terus berlari menuju tangga, lalu turun ke basement ke-15. Sayangnya, begitu kami sampai, tiga shadows berbentuk samurai langsung menyambut kami dengan suprise attack. "Menghindar!!" perintahku sambil menunduk. Salah satu shadows menyerang kami dengan serangan pedang bertubi-tubi. Untung kami semua bisa menghindarinya. "Hati-hati, mereka kuat terhadap serangan Slash. Kelemahan mereka adalah elemen listrik, tapi mereka memiliki skill Evade Elec." jelas Feby men-scan mereka.

"Hm....berarti nggak bisa langsung samber mereka dong. Kalo gitu hajar aja!!" kataku menyerang musuh terdekat. Aku mengarahkan tinjuku ke mukanya, tapi dia langsung menangkis dengan pedang. Dengan cepat tangan kiriku langsung memukul tangan kanannya sehingga pertahanannya goyah. Aku pun langsung memukul kepalanya selagi dia lengah. Makhluk itu langsung mundur karena kesakitan. "Now!! Pegasus, Zionga!!" kataku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan. Sebuah petir langsung menyambarnya hingga terjatuh.

Tiba-tiba shadows lainnya langsung menyerangku. Karena kaget, aku jadi tidak sempat menghindar. Aku langsung terjatuh kesakitan, serangan tadi melukai dada dan perutku. Lalu banyak darah keluar dari tubuhku. "Hadi!!" teriak teman-temanku kuatir. Hari dan Nana langsung maju menolongku. "Dark Ape, bakar mereka!!" teriak Hari menyerang ketiga shadows dengan Maragi. Sementara Nana menarikku ke belakang, menjauhi wilayah bertarung. "Kamu sih, langsung maju aja! Kita 'kan belum siap, jadi luka parah deh!!" kata Nana menasehatiku selagi menyembuhkan lukaku.

Meskipun terkena serangan Maragi, ketiga shadows itu tidak terluka parah. Bahkan shadows yang tadi kuserang sudah berdiri lagi. Aku langsung bangkit untuk bertarung. "Hadi, tunggu!! Lukamu belum di-heal semua!!" kata Nana berusaha menghentikanku. "Biarin, nanti aja kalo kita udah selesai bertarung! Sekarang lebih baik kita bantuin Hari dulu. Musuh kita saat ini kuat-kuat!" kataku menyusul Hari. Nana juga mengikutiku.

"Oh, kamu udah sembuh Gae?! Bantuin dong, mereka kuat banget nih!! Dark Ape, kita coba Swift Strike!!" kata Hari kembali menyerang. Dark Ape langsung memukul ketiga musuh di depannya berkali-kali. Tapi dua shadows berhasil menghindarinya. "Pegasus, Mazio!!" kataku ikut menyerang. Seranganku hanya mengenai satu shadows. "Yah, setidaknya dia terjatuh, jadi kita bisa urus dua dulu. Nana, kamu fokus ke healing aja ya! Kalo ada kesempatan baru kamu ikut menyerang!" perintahku ke Nana.

"Geh, kamu urus yang udah luka parah aja. Biar aku urus yang masih sehat. Lagian aku mau balas serangan dia yang tadi!" perintahku ke Hari. "Oke deh Gae!!" kata Hari setuju. Aku langsung menyerang musuhku dengan Zionga sambil berlari. Tentu saja shadows di depanku bisa menghindarinya dengan mudah, tapi aku sudah memperkirakan hal ini. Begitu dia menghindar, aku langsung memukulnya sekuat tenaga ke perutnya. Tidak kuat menahan tekanan serangan yang kuberikan, shadows itu langsung terdorong hingga jatuh.

Sementara Hari juga berhasil menjatuhkan musuhnya dengan di bantu Nana dari jauh. 'Kesempatan nih!!' pikirku. Yang lain juga sepertinya mengetahui maksudku. Kami bertiga langsung menyerang ketiga shadows yang terjatuh. Satu shadows langsung hancur, sementara dua lagi berhasil menghindari serangan kami. Kami langsung mundur untuk menjaga jarak dari mereka. Sesuai dugaanku, keduanya langsung menyerang kami. Mereka melakukan serangan Blade of Fury secara bergantian. Karena banyaknya serangan yang mereka lakukan, kami akhirnya tidak bisa menghindari serangan mereka dan aku pun terkena beberapa tebasan.

'Uuugghh!! Aku tidak boleh kalah!! Weton aja bisa menghadapi tiga shadows sendirian. Masa aku nggak bisa ngalahin mereka, padahal aku udah dibantuin!!' pikirku kesal sambil berusaha bangkit. Kulihat Hari dan Nana terluka parah sehingga mereka tidak bisa berdiri. "Duuuhh, maaf Di, aku nggak bisa healing kita semua. Lukaku terlalu parah, sampai-sampai berdiri aja nggak bisa!" kata Nana berusaha bangkit. "Aku juga nih Gae, mendingan kamu sama Feby lari aja deh. Biar kami yang menarik perhatian mereka." kata Hari juga terluka parah.

"Mana mungkin aku meninggalkan kalian terkapar di sini?! Bisa-bisa kalian mati hanya dengan satu serangan! Feby, Weton ada di mana?! Dia bisa ke sini nggak?!" tanyaku panik. Feby hanya menundukkan kepalanya. "Maaf Di....Adipta masih melawan tiga shadows lainnya. Padahal tadi dia sudah hampir sampai di tangga." kata Feby lesu. 'Damn it!! Bukannya berhasil menyelamatkan dia, malah kita yang harus diselamatin!' pikirku kesal.

Salah satu shadows berjalan mendekatiku. Aku sudah tidak bisa berlari lagi, berdiri saja susah payah. Makhluk itu menghunuskan pedangnya ke leherku, aku makin panik hingga berkeringat dingin. 'Cih, apakan ini akhir hidupku?! Lalu bagaimana dengan dia dan yang lainnya?!' pikiranku sudah tidak fokus lagi kepada musuh di depanku. Aku hanya memikirkan nasib teman-temanku yang kesulitan. Musuh di depanku bersiap mengayunkan pedangnya ke leherku. Aku hanya bisa menutup mataku berharap keajaiban akan terjadi.

*Ngggiiinggg* tiba-tiba aku merasakan sesuatu muncul di depanku. Aku membuka sedikit mataku untuk melihat apa yang terjadi. Seberkas cahaya bersinar dan menyilaukan mataku hingga aku tidak bisa melihat apapun. Tiba-tiba cahaya itu mulai menghilang, dan shadows di depanku sudah menjauh. Lalu aku melihat sosok manusia muncul di antara aku dan musuhku. Sosok itu adalah....dia!! Tidak salah lagi, itu...."Anggir!!" teriakku gembira.


(POV Anggir)

Dark Hour
Tartarus BS Basement ke-15

"Uuuaaahhh!!" teriakku panik begitu keluar dari cahaya yang tadi menyedotku. *bruk* Aku langsung terjatuh ke lantai. "Duuuhh, nggak bisa apa tiap ganti tempat ku jatuh dengan properly?!" kataku masih pusing. Setelah agak mendingan, aku melihat keadaan disekitarku. "Gelap, udah malam lagi ya? Oh, ini Tartarus!! Shadow, kita berhasil kembali ke sini!!" kataku gembira.

Kemudian aku melihat tiga orang tidak jauh di depanku dan satu orang di belakang mereka. "Hm, kayaknya ku kenal deh....Oh, Hadi, Hari, Nana, Feby!! Kalian di sini!! Wah senangnya, begitu pulang langsung ada yang menyambut!!" kataku melihat mereka. "Anggir, awas di belakangmu!!" teriak Hadi. "Hm?" tiba-tiba kakiku menendang sesuatu. "Oh, headphoneku terjatuh!" kataku langsung menunduk untuk mengambilnya. Tiba-tiba aku merasakan hembusan angin di atasku, seperti ada benda yang melewatiku dengan cepat. "First thing first, never forget your headphone." kataku sambil menggantungkan headphone di leherku. Lalu aku berlari mendatangi teman-temanku.

"Kamu ini emang high luck ya!! Ada musuh di belakangmu tau!!" teriak Hadi lagi. "Eh, musuh?!" aku langsung menembakkan Evoker ke kepalaku. Shadow langsung muncul dan menahan pedang di belakangku yang hampir mengenaiku. "You're wrong. First thing first, never let your guard down!" kata Shadow sambil menahan pedang dengan kedua tangannya. Aku langsung balik badan dan melompat mundur. "And second thing second, never underestimate your enemies!! Arcana Weapon!!" kataku mengeluarkan Dual Sword.

Aku langsung menyerang musuh yang pedangnya masih dipegang Shadow. karena terlalu fokus dengan pedangnya, makhluk itu terkena seranganku telak. Tapi dia tidak terluka sama sekali. "Anggir, dia kuat terhadap serangan Slash, tapi lemah dengan elemen listrik!" jelas Feby. "Oh, kalo gitu sih santai aja!" kataku mundur. Shadow juga melepaskan pedangnya dan mengikutiku. Sebuah petir langsung menyambar shadows itu dan menjatuhkannya. "Tuh kan, tinggal nungguin petir, beres deh!" kataku santai.

Tiba-tiba musuh yang satu lagi langsung menyerangku dan Shadow dengan pedangnya berkali-kali. "Hm....Shadow, cepat lempar ku!!" perintahku berlari ke Shadow. Aku langsung melompat ke tangan Shadow, dan menggunakan tangannya sebagai tumpuan untuk melompat lebih tinggi sehingga tidak terkena serangannya. Sementara Shadow dengan mudah menghindari serangan makhluk itu. "Too slow, even I could evade it with my eyes closed!" ejek Shadow.

Selagi aku di udara, aku langsung mengarahkan diriku untuk menyerang shadows yang baru saja menyerang kami. Aku langsung menendangnya hingga terjatuh. "Let's have some fun!!" kataku menghajar kedua musuh. Shadow langsung ikut menyerang mereka. Tapi mereka masih bisa bertahan. Kami berdua langsung mundur. "Shadow, let's use 'the X combo'!!" saranku. Shadow langsung mengeluarkan Dual Gun dan melemparkan salah satu pistolnya ke aku, aku pun melempar salah satu pedangku ke dia.

Aku dan Shadow berlari berlawanan arah, sehingga membuyarkan konsentrasi kedua musuh kami. Lalu aku dan Shadow mulai menembaki mereka berdua. Kedua makhluk itu berusaha menangkis tembakan kami dengan pedangnya. Kami terus menembaki mereka hingga mereka semakin berdekatan. Dan akhirnya kami langsung berlari menebas mereka membentuk huruf 'X' dengan kedua shadows berada ditengahnya. Ditambah sambaran petir yang akhirnya menghancurkan mereka.

"*fyuh* That went well!" kataku lega sambil mengembalikan pistol Shadow. "Anggir!!" teriak Hadi mendatangiku dengan membopong Hari. "Hey guys, long time no see!" kataku menyambut mereka. "Kamu tuh beruntung banget sih!! Hampir aja kamu ditusuk sama shadows tadi kalo kamu nggak nunduk!" kata Hadi sambil menepuk pundakku. "Begitulah, untung Evokernya juga udah stand by, jadi ku bisa langsung manggil Shadow!" kataku sambil memutar bagian pelatuk Evoker dengan telunjukku, lalu memasukkannya ke kantongku seperti koboi.

"Gaya amat sih kamu, kayak koboi aja!! Ke mana aja sih kamu?!" tanya Hari sambil berusaha untuk berdiri sendiri. "Yah, bisa dibilang menemui masa lalu." jawabku santai. "Masa lalu? Ngomong apaan sih?! Kamu ngigau ya?!" tanya Hari bingung. "Ya udahlah, yang penting 'kan selamat. Untung kamu baik-baik aja!" kata Nana yang dibopong Feby. "Yah, tadinya ku juga luka sih! Tapi udah sembuh kok, lagian lukaku nggak separah kalian! Emang kalian langsung masuk lagi ya begitu gempanya reda?" tanyaku penasaran.

"Gempa? Oh!! Maksudmu saat Dark Hour berakhir!! Yah, karena Tartarus hanya muncul saat Dark Hour. Kami harus menunggu sehari untuk bisa menolongmu." jelas Feby. "Sehari?! Perasaan ku baru setengah jam nggak ketemu kalian!" kataku bingung. Yang lain malah ikut bingung mendengar perkataanku. "Setengah jam?! Kamu tuh udah hilang selama sehari tau!!" kata Hari. "Yang bener!! Terus kuliahku gimana?! Keluargaku nelpon nggak?!" tanyaku panik.

"Relax, urusan absen kuliah udah aku tulis sakit kok. Kalo keluargamu, tadi sore orangtuamu telepon. Terus aku bilang kamu lagi mandi, dan kubilang kalo kita ada acara kampus malam ini. Makanya kamu nggak pulang. Untungnya orangtuamu percaya dan bilang nggak masalah. Eh, maksudnya mereka bilang kamu jangan bikin masalah!" jelas Hadi. "Padahal kenyataannya sih udah bikin masalah! Buktinya kita sampe luka parah begini gara-gara nyariin anak ini!" ejek Hari. "Maaf deh, sebagai gantinya kapan-kapan ku traktir deh!" kataku meminta maaf. "Kapan-kapannya tuh besok atau nunggu kita lulus?!" ejek Hari lagi. "Pokoknya nanti deh kalo ku ingat sama lagi banyak uang!" kataku berjanji.

"Eh, ngomong-ngomong Weton mana? Nggak ikut?" tanyaku mencari Adipta. Tiba-tiba kami mendengar suaranya dari kejauhan. "Speaking of the devil. There he is." kata Shadow menengok ke arah Adipta yang sedang berlari. "*hosh, hosh* Sorry kelamaan, tadi aku ngelawan satu grup shadows lagi sih! Untung mereka nggak terlalu kuat, jadi aku nggak luka parah. Gimana, Anggir udah ketemu belum?" kata Adipta sambil mengambil nafas.

"Terus kamu anggap ku ini apa? Hantu?!" tanyaku bercanda. "Oh, Anggir!! Kamu di sini!! Wah, gimana keadaanmu?! Kamu baik-baik aja 'kan?!" tanya Adipta kuatir. "Gimana ya....antara baik dan buruk deh." jawabku asal. "Gimana kalian bisa nemuin dia?! Ceritain dong!!" kata Adipta penasaran. "Gimana ya....sebenarnya sih bukan kita yang nemuin. Lebih tepat dia yang menyelamatkan kita, padahal tadi niat kita ke sini buat nolong dia." jawab Hadi agak bingung. "Seingatku, saat Hadi dan yang lainnya sudah tak berkutik melawan shadows tadi. Tiba-tiba Anggir muncul dari sebuah cahaya dan menghabisi musuh yang membuat kami terluka parah." jelas Nana.

"Oh begitu ya. Terus tadi gimana pertarungannya? Kamu ke mana aja Gir?! Ceritain detailnya dong!!" kata Adipta masih penasaran. "Let's save the detail for later. I think we should going back now. The other need some rest." saran Shadow. benar juga perkataannya, kulihat Hadi, Hari dan Nana sangat kelelahan. Mungkin karena lelah yang tadi (kemarin bagi mereka) belum hilang sepenuhnya. "Oh, maaf teman-teman!! Aku tidak tau kalo kalian butuh istirahat! Kalo gitu Feby, cepat bawa kita kembali ke gerbang Tartarus!" perintah Adipta. "Oke!! Shinta, tolong bawa kami kembali!!" kata Feby memanggil Personanya. Tiba-tiba cahaya menyelimuti kami dan membawa kami ke gerbang Tartarus.

"Wait a sec!! Kalo kamu punya skill kayak gini, terus kenapa tadi...eh, kemarin kamu nggak pake skill ini untuk menolong kita?!" tanyaku penasaran. "Soalnya aku cuma bisa pake skill ini untuk diriku sendiri. Makanya aku tidak bisa menolong kalian karena saat itu aku tidak bersama kalian." jelas Feby. "Tanggung amat!! Kalo bisa 'kan ku nggak perlu dikejar-kejar sama the Reaper terus nyasar!" gerutuku. "Maaf, aku akan berusaha untuk meningkatkan kemampuanku." kata Feby meminta maaf.

"Udahlah Gir, yang penting 'kan kamu selamat, dan sekarang kita udah bersama lagi!! Yuk kita pulang, badanku pegal semua nih!! Nanti kamu ngurusin aku ya selama liburan!!" kata Hadi. "Terus kapan ku pulangnya?! Kalo cuma besok pagi sih masih nggak apa-apa!" kataku kesal.

"Kalo gitu aku sama Nana juga kamu urusin dong!! Kita begini 'kan gara-gara kamu!" tuntut Hari. "Kalo kamu sih luka segitu juga nggak masalah, anggap aja latihan sebelum di Neraka. Nanti di sana lebih parah lho!!" jawabku bercanda. "Setan!! Emangnya aku udah pasti masuk Neraka?! Ada juga kamu tuh yang ke sana karena nyusahin kita!!" kata Hari kesal. "Lho, satu-satunya setan yang ada di sini 'kan cuma kamu! Ku 'kan innocent." ejekku. Kami semua langsung tertawa, kecuali Hari tentunya yang malah makin kesal. Dan juga Shadow yang tidak ikutan bercanda.


Sabtu, 9 Mei 2009
Pagi hari, 08.30
Kost Hadi

*kriiingg, kriiingg* Handphoneku tiba-tiba berbunyi. Aku yang masih nyenyak tidur berusaha membalik badanku dan mengabaikannya. Tapi benda itu masih terus berbunyi. 'Angkat tuh, penting kali!!' kata Shadow berusaha membangunkanku. Akhirnya aku terbangun dan meraba-raba handphoneku karena masih setengah sadar. "*hoooaamm* Halo?" kataku sambil menguap. "Halo, Hes ya? Kamu kok belum pulang juga sih?! Kemarin kamu ngapain, kok telepon Mama nggak dijawab?! Malah Hadi yang jawab." tanya Ibuku kuatir. "Iya maaf Ma, kemarin Hes lagi mandi sih! Makanya Hadi yang jawab. Tadi malam acaranya seru banget sih, jadi kemalaman deh tidurnya. Nih ku baru bangun, bentar lagi ku pulang deh! Tapi ku ngurusin Hadi dulu ya, dia sakit gara-gara kecapekan semalam." jelasku panjang lebar.

"Tapi kamu nggak sakit 'kan?! Mama kuatir sama keadaanmu, makanya Mama telepon. Ya udah, kamu urus Hadi dulu aja. Nggak usah buru-buru! Kamu 'kan udah nyusahin dia dengan numpang nginep di situ, masa langsung pulang pas dia sakit! Tapi kamu juga jangan main melulu di sana! Minggu depan 'kan ketemu lagi. Udah ya, Mama mau ngurus rumah lagi. Begitu Hadi baikan, kamu langsung pulang ya! Bantuin Mama ngurus rumah. Kamarmu berantakan tuh!" kata Ibuku menasehatiku.

"Yes Ma'am, nanti Hes langsung pulang deh! Suruh Ade aja yang bersihin kamar, itu 'kan kamar dia juga! Daag!!" kataku menutup telepon. "*sigh* Baru bangun, udah dikasih tugas." keluhku. 'Namanya juga hidup, ya nggak ada yang gampang dong! Hidup tuh penuh pengorbanan!!' kata Shadow. "Yeah, yeah, I knew it already!!" kataku kembali tiduran karena malas mendengar perkataan Shadow.

*beep, beep, beep* kali ini handphoneku berbunyi menandakan ada sms. 'Pasti makhluk itu!!' pikirku mengambil handphone. "Woi, bangun!! Ada berita baik, aku punya kerjaan buat ngisi waktu luang!!" isi sms dari makhluk bernama Arif. 'Just I thought!'. "Kerjaan apaan? Mungutin sampah di jalan?" ejekku. "Enak aja!! Kamu aja yang mungutin tuh sampah!! Aku mau buat fanfiction nih!!" balasnya. "Fanfiction? Oh, cerita buatan kita soal anime atau game yang kita suka ya?!" tanyaku. "Yup, aku mau buat cerita tentang Yugioh. Soalnya kita 'kan udah mainin tuh kartu sejak kita SMP." jelasnya. Aku jadi teringat dengan kejadian kemarin.

"Hey Rif, kamu masih ingat nggak kapan kita jadi sahabat?" tanyaku penasaran. "Hm....samar-samar sih. Kalo nggak salah waktu itu kita kenalan pas pulang sekolah ya?! Tiba-tiba aja kamu dateng terus ngajakin ngobrol. Sebenarnya sih aku kesal gara-gara kamu ngoceh melulu. Tapi karena waktu itu kamu tiba-tiba ngomongin Yugioh. Aku jadi tertarik deh!" jelasnya. "Wah, ku aja lupa apa yang kita omongin waktu itu! Berarti game ini udah menolongku mendapatkan sahabat dong!!" kataku bangga.

"Ya gitu deh, makanya aku mau buat ceritanya. Tapi nggak ada hubungannya sama kita sih. Atau kamu mau jadi tokoh antagonisnya aja?! Tapi begitu kalah kamu langsung mati ya!" sarannya bercanda. "Makasih!! Nggak ada peran yang lebih bagus apa?! Ku mendingan jadi pembaca yang baik aja deh. Nanti kalo udah jadi sms ya!" kataku. "Tenang aja, kalo kamu muncul pasti ku jadiin character nggak penting. Kayak waktu kita SMP, kamu 'kan orang paling nggak penting di kelas!" ejeknya. "Berisik!! Daripada kamu, jadi bola di kelas. Tinggal digelindingin deh kalo mau dipake pas olahraga!" balasku.

"Cih!! Emang dulu aku berbadan besar sih, tapi 'kan sekarang udah mendingan!" katanya kesal. "Bilang gendut aja susah amat! Hehehe....Ya udah, buat deh ceritanya! Ku mau ngurus Hadi dulu nih! Dia lagi sakit.". "Emangnya lu apain? Jangan-jangan semalam kamu gigit ya?! Makanya dia kena rabies." godanya. "Enak aja, emangnya ku anjing gila?! Udah deh, cepet urus tuh cerita! Daripada gangguin ku melulu!!" kataku mengakhiri sms kami.

Kemudian aku pun mengambil MP3 Player dan mendengarkan musik sambil tiduran. Aku mendengarkan lagu 'We Can' dari Crush 40, lagunya pas dengan suasana hatiku saat ini. 'Hey Dow, kurasa ku tau kenapa kita bisa nyasar ke masa lalu.' kataku. 'Untuk mengingatkanmu pentingnya sahabat 'kan?!' tebak Shadow. 'Yeah, ku baru sadar kalo dulu ku benar-benar hopeless. Mungkin kalo kita nggak nyasar ke sana, ku akan tetap menyendiri hingga sekarang.'. 'Kalo gitu jagalah baik-baik hubunganmu dengan sahabatmu. Jangan sampai kau melakukan sesuatu yang dapat melukai mereka atau pun melupakan mereka.' katanya menasehatiku.

'Hm....you're right. Lagipula merekalah yang memberikanku kekuatan! Begitu juga denganmu, karena keinginanku untuk melindungi mereka kau jadi datang ke sini. Kau juga memberiku kekuatan, karena kita adalah sahabat. Dan kita adalah satu!'. kataku mantap. 'All for one, and one for all!' kata Shadow semangat. 'Heh, that's right!' kataku setuju. 'Kalo gitu....jangan sampe kamu merusak hubungan dengan sahabatmu saat ini juga.' kata Shadow. 'Maksudmu?' tanyaku bingung. 'Hadi.' jawabnya. "Oh iya!! Ku lupa liat keadaannya!!" teriakku baru sadar. Aku langsung bangun dan menuju ke kamar Hadi.

Kulihat Hadi sudah bangun, tapi dia masih tiduran di kasur. "Gimana lukamu, masih sakit?" tanyaku kuatir. "Udah mendingan kok. Untung semalam langsung diobati, kalo nggak mungkin aku udah kekurangan darah." jawabnya. "Terus masih capek nggak?" tanyaku lagi. "Kalo itu sih masih. Untung hari ini tanggal merah, 'kan sayang kalo aku nggak kuliah." jawabnya lega. "Ku aja yang kemarin nggak masuk tenang-tenang aja kok! Ya udah, istirahat aja dulu. Kalo perlu sesuatu panggil ku aja, nggak usah keluar kamar dulu. Ee....kecuali kalo mau ke kamar mandi." kataku sambil keluar kamar.

"Maaf ya Gir, aku jadi ngerepotin kamu." kata Hadi meminta maaf. "Justru ku yang ngerepotin kamu sama yang lainnya. Kalo ku nggak pake sok jagoan melawan shadows kuat waktu itu, pasti ku nggak akan hilang dan membuat kalian kuatir. Ya udah, ku mau mandi dulu ya." kataku kembali ke kamarku.

Selesai mandi, kulihat Hadi sudah duduk di ruang tengah menonton televisi. "Lho kok di sini?! Katanya masih capek!!" tanyaku. "Ah, abis bosen sih di kamar melulu! Kamu nggak pulang Gir? Nanti dicariin lho!" katanya balik bertanya. "Ku udah bilang mau ngurusin kamu dulu." jawabku. "Nggak usah Gir, aku udah mendingan kok! Kamu pulang aja, daripada bikin ortu kuatir." saran Hadi. "Bener nih? Kalo gitu ku beres-beres dulu ya." kataku menuju kamarku.

"Okay, ku pulang dulu ya! Kamu bener-bener udah nggak sakit 'kan?!" tanyaku kuatir. "Iya, tenang aja! Kalo cuma capek udah biasa kok!" jawab Hadi santai. "Ya udah. Daag!!" kataku membuka pintu. Sebelum menutup pintu, aku menoleh ke Hadi. "Apa lagi? Ada yang ketinggalan?!". "Nggak, kok! Ng....thanks ya, karena berusaha menolongku!" kataku malu. "Namanya juga sahabat, ya harus saling tolong menolong dong! Santai aja!" katanya. "Kalo gitu....thanks karena sudah menjadi sahabatku!" kataku berterima kasih lagi. "Heh, sama-sama." jawabnya mantap. "Sampe ketemu Selasa ya!!" pamitku. "Iya, hati-hati ya!!" balasnya.


Akhirnya ku kembali!! (dalam hal update dan dari masa lalu) Nah, udah ketahuan 'kan anak SMP gemuk yang muncul di masa lalu ku?!

Kali ini battlenya nggak terlalu banyak. Lagi bingung mau kayak gimana battle story-nya. Jadi segini aja deh.
Dan thanks buat Mocca-san. Lain kali ku pake Traesto Gem deh. Anggap aja Trafuri Gem-nya diupgrade. (upgrade kok malah ninggalin party)

Ku usahain selama liburan ini ku update SMOKE (secepat mood ku oke!)
(Shadow: Kenapa nggak ASAP, as soon as possible)
Karena ku lebih suka ngutak-ngatik Bahasa Inggris, hehehe...

Okay, mohon di baca dan review ya!!