HunHan
~~Last Chapter~~
Jongin menolak untuk menunjukkan emosi apapun di wajahnya saat ia melihat Luhan dan Sehun berjalan menuju altar. Dia terharu sekaligus sangat bahagia untuk sahabatnya, tapi dia adalah pria badass, menunjukkan emosi semacam itu sangat tidak keren—tidak mungkin dia melakukannya. Maka, dengan rengutan paling menakutkan di wajahnya, ia melipat tangan dan menyaksikan mereka berdua bertukar cincin. Jujur, ia tidak pernah berpikir dalam hidupnya akan bisa melihat hari ini. Sehun dan Jongin, keduanya berasal dari panti asuhan; mereka tikus jalanan tanpa pendidikan dan memiliki masa depan suram.
Mereka berjuang bertahan hidup di dunia yang keras ini, melawan segala rintangan dan berhasil membuat nama mereka sendiri. Setelah itu, Sehun mampu memerintah dunia gengster dengan tangan besinya. Dia tidak menunjukkan belas kasihan, ia tidak punya kelemahan, hatinya seperti es sementara ia mengunci emosinya dan menyembunyikan kuncinya di suatu tempat. Mereka hidup di dunia dimana hanya satu langkah saja yang salah akan membuat tubuh mereka terkubur enam kaki di bawah tanah. Oleh karena itu, Sehun menolak untuk percaya siapapun. Orang-orang yang berhubungan dengan dia sebelumnya hanya dia gunakan sebagai penghangat tempat tidurnya, dan sekali ia bosan dengan mereka, ia akan membuangnya begitu saja.
Jongin tidak pernah berpikir bahwa memungkin bagi Sehun untuk mencintai siapapun. Karena bagaimana mungkin dia melakukan itu setelah apa yang mereka lalui dalam hidup mereka?
Namun, entah darimana, Luhan datang. Untuk satu alasan atau yang lainnya, Sehun tertarik pada lelaki itu. Jongin khawatir awalnya karena mereka berdua berasal dari dunia yang berbeda. Luhan adalah cahaya dan Sehun adalah kegelapan, mereka tidak bisa bersama.
Awalnya Jongin pikir Luhan hanya menjadi mainan untuk Sehun menghabiskan waktu. Tapi kemudian dia melihat mata Sehun melunak, ia melihat bagaimana Sehun peduli pada Luhan. Dia mulai takut karena Luhan tidak mungkin ditakdirkan untuk Sehun. Luhan menjadi bagian penting bagi Sehun, tapi tidak mengubah fakta bahwa Luhan tidak mungkin masuk dalam dunia mereka. Bagaimana bisa orang yang lembut seperti itu bertahan di dunia mereka yang kejam? Namun seiring berjalannya waktu, ia melihat senyum Sehun menjadi cerah.
Jongin semakin khawatir. Dia ingin Sehun bahagia tapi dia takut sahabatnya tidak akan mendapatkan itu jika cahaya Luhan tercemar. Kemungkinan, kegelapan akan mencemari segala sesuatu dalam dirinya. Maka, Jongin memperingatkan Luhan untuk menjauh.
Apa yang dia tidak harapkan adalah Luhan melotot padanya, menyuruh ia untuk mengurusi urusannya sendiri. Siapa yang tahu? Kucing kecil juga punya cakar. Cakar yang sangat tajam, saat itu, dan semenjak itu, Jongin menyadari apa yang membuat Sehun jatuh cinta pada Luhan.
Lelaki itu segalanya yang Sehun cari. Dia terang, dia baik hati—bukan berarti bahwa semuanya baik tentang Luhan. Princess sangat pemarah dan dia pemalu juga, tapi mungkin, kekurangan kecil itulah yang membuat Luhan bahkan lebih sempurna di mata Sehun.
Mungkin itu sebabnya dia tidak terkejut ketika Sehun berkata bahwa dia ingin keluar dari dunia kelam ini karena lelaki itu telah menemukan sesuatu yang lebih penting. Jongin melihat Sehun yang rela meninggalkan semuanya demi Luhan, ia benar-benar menolak untuk kegelapan mencemari Luhan-nya.
Itu adalah perjuangan yang panjang dan sulit, karena itu tidak mudah untuk keluar dari dunia ini. Tapi mereka berhasil melakukannya karena mereka memiliki sesuatu yang mereka ingin lindungi. Setelah itu, Sehun bermigrasi ke luar negeri dan Jongin mengikutinya. Mereka mendirikan perusahaan, memulai segala sesuatunya dari awal. Itu melelahkan tapi mereka bisa mengatasinya dan perusahaan mereka akhirnya berhasil terdaftar.
Menyaksikan mereka berdua, mengikrarkan janji sehidup semati, bibir Jongin sedikit melebar. Dua orang itu yang benar-benar memiliki dunia berbeda berhasil menemukan satu sama lain. Mereka menerima kekurangan satu sama lain dan cinta mereka begitu menyilaukan dan memesona, itu harusnya menjijikkan untuk Jongin yang membenci emosi semacam itu namun ia tidak bisa mengalihkan pandangan menjauh dari mereka, bahkan ketika pandanganya mulai agak kabur. Dia berkedip menghapus air matanya dengan cepat.
Untuk semua orang, akan ada seseorang yang akan berhasil melengkapimu. Seseorang yang seperti salah satu kepingan puzzle yang hilang dalam hidupmu, seseorang yang tidak bisa berhenti kau pikirkan karena dia begitu berharga. Seseorang yang sama pentingnya dengan udara yang kau hirup.
Jongin tidak memiliki keberuntungan itu, tapi ia senang Sehun memilikinya. Merasakan tangan kecil menyentuhnya, ia menunduk dan melihat Jihye tersenyum padanya.
"Paman Jongin! Aku akan menikah dengan Paman di masa depan." kata gadis kecil itu dan Jongin menggedongnya, kemudian menciumnya di pipi.
"Jongin, berhenti berusaha mengambil hati putriku." Luhan bergegas mendekat dan mengambil Jihye dari tangan Jongin.
"Princess—"
"Dengar, Jihye." Luhan menoleh pada putrinya, ia melebarkan matanya. Tidak terhitung berapa jumlah lukisan, vas dan yang lain-lainnya mengalami kerusakan dalam keluarga mereka karena ulah Jihye. "Menjauh dari serigala jahat."
Setelah memberi peringatan, Luhan pergi dengan Jihye dalam pelukannya bersamaan dengan Sehun menepuk pundak Jongin. "Aku kira cinta memang tidak mengenal umur tapi sungguh, membayangkan dirimu menjadi anak—menantu—ku cukup untuk membuatku bermimpi buruk."
Jongin memelotot pada Sehun, "Ayolah, berpikir untuk memanggilmu Papa juga cukup membuatku merinding. Jangan khawatir, aku tidak punya ketertarikan semacam itu pada anak perempuan berhargamu. Dia terlalu kecil!"
Mereka berdiri dalam diam menyaksikan Luhan bermain dengan Jihye ketika Sehun bicara begitu pelan sampai Jongin nyaris tidak mendengarnya. "Aku bahagia."
"Ikut bahagia untukmu," jawab Jongin dan Sehun pergi untuk bergabung dengan Luhan. Kebahagiaan, mereka tidak tahu apa artinya itu di masa lalu tapi ia kira melihat Sehun bermain dengan Jihye dan Luhan tertawa di depannya maka itu berarti tentu saja.
Sehun menemukan rumahnya.
.
.
.
.
~~OWARI~~
.
.
.
.
~~OMAKE [1] Kaisoo~~
Semenjak Luhan menikah, lelaki pendek itu terus mengurusi masalah Jongin tentang bagaimana ia harus menemukan perempuan atau laki-laki baik untuknya. Pertamanya, Jongin mengabaikan itu dan tidak menganggapnya serius, berpikir bahwa Luhan akan bosan pada akhirnya.
Itu sampai Luhan menipu dia untuk datang ke salah satu kencan buta, membuat Jongin menyadari bahwa orang itu sunguhan serius. Dia melangkah ke restoran dan Luhan ada disana dengan seorang wanita, tidak perlu seorang jenius untuk menyadari maksudnya. Jongin melesat pergi segera setelah ia mengirim pesan pada Luhan bahwa ia tidak bisa datang untuk makan malam. Jujur, dia baik-baik saja tanpa pasangan dan cukup senang dengan kesendiriannya.
Ya, hatinya memang sedikit iri kadang-kadang ketika melihat keintiman antara Sehun dan Luhan tapi ia juga tahu bahwa itu tidak mudah untuk memiliki semacam hubungan seperti yang mereka berdua miliki. Dia hanya tidak ingin kecewa. Maka, dia melakukan apapun yang dia bisa untuk melarikan diri dari upaya Luhan yang ingin menjodohkannya. Dia ingin memberitahu Sehun tapi mengetahui kelakuan sahabatnya, bajingan itu kemungkinan akan menertawakan dia bukannya membantu.
Keberuntunganya masih bertahan sampai ketika Luhan menyerbu ke ruangannya dan mengunci pintu, memotong jalan ia melarikan diri. Laki-laki itu melotot pada Jongin sebelum tersenyum manis yang berarti bukan pertanda baik baginya.
"Aku sibuk," Jongin berbohong dan melihat mata Luhan menyipit. "Sangat sibuk—"
"Kau akan berkencan malam ini." Luhan berkata, memotong ucapannya.
"Tidak," Jongin menggeleng. "Aku benar-benar sibuk."
Namun, Luhan bukan orang yang mudah menyerah, ia duduk di depan Jongin dengan tampang bijaksana di wajahnya. "Aku akan melepaskanmu jika kau datang ke kencan yang satu ini. Deal?"
"Deal." Jongin langsung setuju. Jika datang ke kencan yang satu ini membuat Luhan enyah dari punggungnya, ini akan menjadi kesepakatan yang adil. Dia hanya harus memastikan ia berada di perilaku terburuknya malam itu sehingga tidak akan ada lagi kencan kedua.
.
Dengan langkah yang sangat berat, Jongin berjalan ke restoran. Itu adalah sebuah restoran mahal dan dia pasti tidak akan cocok disini. Tapi memikirkan Luhan tidak lagi mengomelinya sudah cukup baginya untuk sudi melangkah ke dalam.
Pelayan membawanya ke salah satu meja setelah ia menyebutkan namanya. Jongin melihat menu, berpikir apa yang akan dia pesan. Dia memastikan untuk memesan makanan paling mahal disini karena makanan ini akan dibayar oleh Luhan.
Moodnya mencerah ketika ia terus membalak-balik menu. Saat ia memutuskan makanan utama yang akan dia makan, seorang laki-laki telah duduk di kursi di depannya. Jujur, Jongin lebih menyukai perempuan daripada laki-laki.
Tapi laki-laki di depannya ini cukup imut, seperti anak anjing berbulu lucu. "Hai—"
"Maaf," lelaki di depan Jongin berseru sebelum dia bahkan bisa memperkenalkan diri. "Aku tidak tertarik menjalin hubungan sekarang. Kami mabuk kemarin, dan teman-temanku memutuskan untuk membuat profilku di situs kencan."
Woah, dia ditolak sebelum bisa mengeluarkan kalimat keduanya. Cukup untuk mengatakan, harga diri Jongin sedikit terluka. Bukan percaya diri atau apa tapi dengan penampilannya, ia bisa mendapatkan hampir semua orang yang dia inginkan, dan tidak ada seorangpun yang pernah menolak dia sebelumnya.
Ini berarti bahwa ia memiliki pengalaman nol dalam berurusan dengan penolakan dan pria itu tampaknya mengatakan sesuatu tentang situs kencan—
"Aku tidak bisa berkencan dengan seseorang semenarik dirimu." Lelaki itu mengaku. "Maksudku kau terlihat seperti Dewa sementara aku terlihat seperti seorang petani jadi—sebenarnya, apa ada sesuatu yang salah denganmu?"
"Apa? Aku—"
"Maksudku seseorang dengan tampang menarik sepertimu tidak harus bersembunyi di situs kencan. Apa kau diam-diam mesum? Atau semacam pembunuh psikopat?" Laki-laki itu hanya melanjutkan tanpa memberikan Jongin kesempatan untuk bicara apapun. Dia tidak tahu apakah ia harus merasa terhormat karena dipuji atau ia harus tersinggung karena disebut mesum. "Kau tidak akan membunuhku, benarkan?"
Tampang khawatir di wajah lelaki itu membuat Jongin meledak dalam tawa. Ini sangat mengejutkannya, dan Jongin melihat mata laki-laki itu melesat ke pisau di atas meja seolah ia takut Jongin akan menikamnya. "Kau lucu sekali, bagaimana Luhan menemukanmu?"
"Siapa Luhan?" Alis laki-laki itu berkerut bingung. "Tunggu sebentar, apa kau Kim Joonmyeon?"
"Aku Kim Jongin," Jongin mengoreksi, membuat rona samar merayap di wajah lelaki itu. Jika ia tidak salah, ia menduga bahwa lelaki ini salah orang.
"Bunuh aku sekarang," ia menutup wajah dengan tangannya. "Pura-pura aku tidak disini dan kau tidak melihatku. Nah, kau bisa menutup matamu dan setelah kau membukanya, aku tidak lagi disini."
"Siapa namamu?" tanya Jongin bukannya menutup mata; laki-laki ini cukup menarik.
"Kyungsoo," jawabnya pelan, ujung telinganya masih merah karena malu.
"Senang bertemu denganmu, Kyungsoo." Jongin bicara sopan sebelum berkedip tulus dan tersenyum menyilaukan. Mungkin ini tidak terlalu buruk untuk melihat kemana ini akan berakhir.
.
(Y/N: awwwwww Kaisooo. Fluffy puppy cutie ≧﹏≦, but wait...Kyungsoo are you going to talking my Baba (Joonmyun) is not attractive? Is not good looking? And he is be lurking on dating site? Urgh damn you, shorty! ╰_╯)
~~OMAKE [2]~~
Luhan bertanya-tanya apa yang salah dengan pendidikan anak-anaknya. Apakah dia mengacaukan sesuatu dalam mendidik mereka, atau mungkin ini adalah kesalahan suaminya, Sehun? Satu-satunya hal yang baik adalah tampang mereka. Kedua anaknya mewarisi wajah Luhan dan Sehun yang mana Luhan akan sangat senang ketika orang tua lainnya memuji anak-anaknya karena tampak begitu imut dan cantik. Tapi kepribadian mereka, oh Tuhan—kepribadian mereka.
Jihye mirip Sehun, gadis itu pendendam dan licik, bisa dibilang sangat cerdas juga. Dia tidak anggun sama sekali, memilih untuk bergaul dengan anak laki-laki daripada perempuan. Luhan datang ke sekolahnya begitu sering hingga ia tidak bisa menghitungnya, dan itu semua karena Jihye membuat masalah.
Biasanya, itu berkelahi. Sebenarnya, jika dipikir lagi, itu selalu karena perkelahian, baik itu lisan maupun fisik. Meski bukan Jihye yang memulainya tapi entah bagaimana, gadis kecilnya akan selalu menjadi bagian dari itu. Di satu sisi, Luhan merasa lega Jihye seorang yang mampu melindungi dirinya sendiri. Namun di sisi lain, ia takut jika saatnya nanti Jihye menikah. Seorang pria tentu tidak ingin wanitanya lebih kuat dari dia.
Anak kedua mereka, Ziyu mirip seperti dirinya. Itu—jujur, sampai saat ini, Luhan masih tidak tahu apakah itu hal yang baik atau buruk. Ziyu bukan biang onar seperti Jihye tapi ia sering menjadi target pengganggu. Ada saat dimana Luhan berharap Ziyu memiliki kepribadian Jihye, karena Ziyu biasanya akan menangis dan itu malah membuat dia semakin diganggu.
Tidak terima saudaranya di ganggu, Jihye memastikan akan membalasnya untuk Ziyu, dan membuat mereka membayar sepuluh kali lipat. Yang mana akan membuat Luhan datang ke sekolah dan berusaha meyakinkan guru jika anak-anaknya malaikat bukan setan. Dia merasa bahwa kekuasaan persuasinya akan lebih baik pada anak-anaknya. Melihat ke belakang, ia bertanya-tanya apa benar Ziyu memang polos seperti yang terlihat, bayi laki-lakinya berhasil membuat hampir semua orang yang dia temui terpesona, dan semua guru Ziyu selalu memberi pujian padanya. Yah, dia tidak akan terkejut jika Ziyu ternyata lebih licik dari Jihye. Mengingat, mereka adalah anak-anak dari Oh Sehun.
Tapi melihat mereka sekarang, tidur dengan damai, ia menyadari bahwa ia tidak akan mengubah salah satu dari mereka demi dunia, meskipun fakta bahwa mereka tampak seperti malaikat dan iblis menyamar. Dia hidup dalam kebahagiaan selama beberapa tahun terakhir; ia memiliki semua yang dia inginkan. Sehun memanjakannya, dan meskipun anak-anaknya tidak nurut kadang-kadang, sungguh, mereka masih sangat menyayangi Luhan dan mereka tidak pernah gagal untuk menunjukkannya melalui tindakan mereka.
Menempatkan ciuman di dahi mereka masing-masing, ia menyelimuti keduanya. Ziyu berkedip dengan mata mengantuk, tersenyum pada Luhan. "Selamat malam, Baba."
"Selamat malam, Sayang." Luhan menjawab dan Ziyu menutup matanya segera setelah itu, kembali ke alam mimpinya.
Menutup pintu perlahan untuk memastikan ia tidak akan mengganggu tidur mereka, Luhan merasa sepasang tangan melingkari pinggangnya. "Apa kau sudah makan malam?"
"Ya. Bagaimana harimu?" Sehun bertanya, menempatkan ciuman di bibir Luhan, kemudian memegang tangannya dan membawa dia ke kamar tidur mereka.
"Seperti biasa, mencoba untuk membuat Jihye lebih berperilaku seperti anak perempuan, dan membuat Ziyu tertarik pada olahraga dan juga mencoba mencari tahu apakah dia memang benar-benar polos seperti tampangnya." Luhan mengaku pada Sehun, sementara membantu dia melepas jas-nya. "Aku—Apa kita melakukan pekerjaan yang baik disini?"
Mendengar ketidakyakinan dalam suaranya, Sehun duduk di tempat tidur sebelum menarik Luhan ke pangkuannya. "Aku pikir selama anak-anak senang itu berarti kita melakukan pekerjaan yang baik. Jangan terlalu khawatir tentang itu, oke?"
Luhan mengangguk. Benar; asalkan anak-anak bahagia, Luhan memastikan ia melakukan yang terbaik untuk mereka berdua—pikirannya terputus ketika ia merasakan bibir Sehun di lehernya.
"Hei—" Luhan akan protes ketika ia merasakan tangan Sehun menuju ke bawah. "Kau—kau harus mandi dulu pertama—tama."
"Tidak penting, aku punya sesuatu yang jauh lebih penting yang harus dilakukan lebih dulu. Apa pendapatmu tentang punya anak ketiga?" tanya Sehun, kilatan nakal di matanya.
"Tidak—ya—ah," Luhan menyerah di pikirannya, mempercayakan diri sepenuhnya di tangan Sehun.
.
.
.
.
Holy Shi—they're so kyuuuuuttt!
Itu dia, bab terakhir untuk 'Terpikat'. Selesai dalam waktu kurang dari—3 minggu ya? Oke, minwail rosavine menyelesaikan ini selama setaun :v
Seperti biasa terima kasih untuk seluruh pembaca yang sudah menyempatkan diri untuk membaca sampai sini, terutama yang memberi feedback untuk terjemahan anehku ini.
PS: Check my stories if you want to read my another weird translation, All I Care About. Update!chapter 15b. Bambi! Yeahh!
PSS: Selamat menjalankan ibadah puasa bagi kamu yang menjalankannya yorobun!
PSSS: Libur panjang. Uh yeah!
.
.
.
.
.
520!
