Previous
"K-Kau! Apa yang kau lakukan disini? Kenapa kau bisa ada disini? Lagipula darimana kau tahu aku tinggal di kamar 520? Apa kau menguntitku, Hah?"
Luhan mendesak Sehun ke koridor disamping kamarnya, menunjuk-nujuk wajah Sehun menggunakan kunci kamar hingga dibalas sederhana oleh Sehun, lelaki tampan itu hanya tersenyum, tidak menjawab satu pun pertanyaan Luhan dan hanya mengeluarkan kunci kamar yang sama dengan yang dimiliki Luhan.
Dia pun menunjukkannya pada Luhan, membuat Luhan bertanya "apa itu?" lalu Sehun membalasnya terlalu santai dan simple "Kebetulan aku penghuni kamar 519 Tuan Wu."
"Mwo?"
"Jadi jangan terlalu percaya diri aku tidak menguntitmu."
Sehun membuktikan ucapannya, dia berjalan melewati Luhan untuk membuka kode akses kamarnya, menekan beberapa tombol angka sebelum kembali mengerling Luhan "Tapi tenang saja aku akan menjagamu disini, omong-omong, jika kau butuh sesuatu atau merindukan aku, mungkin, kode kamarku adalah 1220, angka kombinasi ulang tahunmu dan ulang tahunku, tekan saja, aku akan selalu menerima kedatanganmu, bye, sampai nanti tetangga cantik."
Klik!
Tanda verifikasinya diterima dan kamar yang tadinya sangat dia nantikan kini menjadi horor untuk ditinggali "oh ayolah! Lelucon apa ini?"
Luhan bahkan enggan memasuki kamar yang bersebrangan dengan kamar Sehun, dia ingin mencari tempat lain tapi pasti akan berakhir dimarahi kakaknya, jadilah dia tidak memiliki pilihan selain menarik kasar kopernya lalu membanting pintu kamar untuk tiba-tiba berteriak
"GEGEEEEEEEEEE!"
.
.
.
.
.
.
A Fanfiction to celebrate Our beloved Hun-Han Month
Its called
.
Been Through
.
Hun-Han
.
.
.
.
.
.
.
.
.
GEGEEEEEEEE!
.
Hatchih~
"Ada apa? Kenapa kau tiba-tiba bersin?"
Jelas Kwangsoo, asisten sekaligus teman bertengkar adiknya, bertanya, karena tanpa alasan, di teriknya cuaca panas Beijing saat ini, putra sulung sekaligus Presdir software and games Wu Coorp milik mendiang ayahnya tiba-tiba bersin sangat kencang.
Hal ini membuat Kwangsoo yang sedang fokus memilah document sedikit tersentak sementara Yifan, kakak kandung si manja Luhan, mengusap kasar hidungnya hingga berwarna merah "Entahlah aku rasa seseorang sedang membicarakan hal buruk tentangku."
"Siapa?"
Mendelik tajam, Yifan bahkan tak habis pikir kenapa ayahnya begitu cocok dengan lelaki yang banyak menghabiskan waktunya dengan bertanya dan membuat lelucon hingga terkadang dia ingin menendang bokongnya sekali saja "Kalau aku tahu aku akan langsung menyebut nama untukmu, Presdir Lee!"
Yifan menyindir, tapi nyatanya Kwangsoo menangkap sebagai pujian dan justru bertingkah menjijikan dengan menaikkan dasi serta berdeham konyol "ekhem!…Jangan memuji seperti itu, aku tidak cocok jadi presdir."
"Memang!"
"ish!" dia menggerutu, tapi ketika mata Yifan mendeliknya lagi, Kwangsoo membuat gerakan konyol menepuk nyamuk di udara walau nyatanya ruang kerja Yifan sangat steril dan sangat bersih.
"omong-omong apa kau sudah menghubungi Luhan?"
"Baru saja aku menghubunginya, apa kau lupa? Lebih baik segera periksa daya ingatmu paman, menyedihkan."
Berusaha sabar Kwangsoo sudah membuat gerakan memukul di udara namun segera menggaruk tengkuk saat Yifan melihatnya "hehehe..." dia tertawa mengalihkan hingga membuat Yifan menggeleng seraya menandatangani document berkas bisnis terbarunya.
"Lalu bagaimana reaksi adikmu? Apa dia marah?"
"Sepertinya mereka belum bertemu."
"hahaha….Lalu apa yang akan kau lakukan jika Luhan sudah bertemu dengannya? Kau pasti habis Presdir Wu—haha…"
BRAK!
Kwangsoo terkejut saat Yifan menggebrak mejanya, entah mengapa tempramen presdirnya hari ini begitu buruk, mungkin karena adiknya kembali menetap di Seoul, atau hingga usianya yang kini menginjak hampir tiga puluh lima tahun tapi tak kunjung menikah? Entahlah, yang jelas dia tidak terima dibentak oleh Yifan untuk membela diri "Wae? Wae? Kenapa menggebrak mejamu, hah?!"
"Cepat bekerja dan berhenti bertanya hal-hal menyebalkan padaku Sekertaris Lee."
Jika sudah memanggil menggunakan posisi jabatannya, Yifan biasanya serius dan tidak ingin diganggu, jadi keberanian Kwangsoo yang belum lama menentang sang presdir menjadi ciut entah kemana, dia memilih melanjutkan pekerjaan seraya menggerutu "Aku kan hanya bertanya, tsk!"
Yifan mengabaikan gerutuan terakhir, paman benar, jika Luhan tahu apa yang sudah dilakukannya, habislah dia, tapi sampai detik ini belum ada protes yang dilayangkan, jadi Yifan hanya berusaha tenang mengingat kepalanya benar-benar dipenuhi dengan pekerjaan sementara hatinya cemas mengkhawtirkan Luhan, lalu disampingnya si mulut besar paman Kwangsoo terus bertanya hal-hal yang membuat kepalanya benar-benar sakit.
"aku benar-benar bisa gila karena kalian."
.
.
Sementara itu-…..
.
Di Negara yang berbeda, tepatnya di apartement elit yang terletak di Seoul, terlihat satu lelaki cantik yang kini sangat uring-uringan karena pertemuan tak terduganya dengan lelaki yang membuatnya banyak menangis empat tahun lalu.
Dan yang membuatnya semakin uring-uringan adalah kenyataan bahwa niatnya untuk hidup tenang di Seoul sepertinya terancam mengingat pria menyebalkan itu, yang ingin dilupakannya, yang terkadang masih membuat hatinya berdebar gila kini tinggal di gedung yang sama dengan apartementnya, biar diperjelas, lelaki itu tinggal persis di depan kamarnya.
"apa yang terjadi? Kenapa bisa kebetulan seperti ini—aaarghhhhhh!"
Luhan, lelaki cantik yang sedang terlihat kesal itu, mengambil jaket merahnya, membekap jaket itu ke mulutnya lalu berteriak sekencangnya agar tidak ada satupun yang bisa mendengar teriakannya.
Dia berfikir, terus berfikir lalu melompat-lompat di atas tempat tidurnya yang terlihat menggoda namun diabaikan karena pikirannya masih dipenuhi fakta bahwa Sehun, lelaki tampan yang terkadang masih memenuhi pikirannya itu, kini berada dekat dengannya, terlalu dekat hingga Luhan lelah melompat dan duduk di tepi tempat tidur untuk mengambil satu kesimpulan.
"tidak, Ini bukan kebetulan, aku yakin itu!"
Setelahnya Luhan berlari menuju pintu kamar dengan tergesa, tujuannya kali ini kamar yang ada persis tepat didepan kamarnya, jadi saat pintu apartemennya tertutup, dia mengumpulkan kekuatan untuk berbicara dengan Sehun setelah sebelumnya menghentak kakinya kencang lalu menekan tak sabar bel di apartement Sehun saat ini.
Ting tong…
Ting tong..
Ting tong…
Luhan menekan tombol kecil itu tanpa perasaan, dan mungkin jika di koridor sebelah kanan ada kamar selain 519 dan 520, salah satu pemilik dari kamar 501-518 akan keluar dan memarahi Luhan karena menekan bel terlalu kencang seraya menggedor pintu kamar Sehun tanpa jeda.
"CEPAT BUKA PINTU-…."
Klik….
"eoh, tetangga cantik rupanya."
Terlihat Sehun menyapa dan sudah menebak bahwa yang membuat keributan adalah tetangga barunya, jangan salahkan dirinya jika kini dia hanya menggunakan handuk yang dililitkan ke pinggangkarena memang dirinya baru selesai membersihkan tubuh, hal itu membuat Luhan terkejut dan secara refleks memalingkan wajah ke samping untuk menunjuk kebagian dada bidang Sehun yang terlihat sangat vulgar saat ini.
"apa-Apaan itu? Kenapa kau tidak pakai baju?"
"Salahkan siapa yang menggedor pintu kamarku dengan tak sopan."
"ish! Cepat pakai bajumu, aku ingin bicara!"
Tidak terlalu mengambil pusing, Sehun melebarkan pintu kamarnya untuk mempersilahkan Luhan masuk "Masuklah kalau begitu."
"Aku ingin bicara disini, sekarang!"
"Baiklah."
Mengalah lagi, kini Sehun berjalan keluar dari pintu sebelum Luhan merentangkan tangan dengan mata membelalak lebar, melarangnya "a-Apa kau gila? Kau belum pakai baju!"
"Ya terserah saja, masuk atau bicara denganku dalam kondisi topless."
"baiklah, baiklah! Ayo masuk ke kamarmu!"
Diam-diam lelaki yang memang sudah menebak reaksi pujaan hatinya akan kesal dan uring-uringan seperti ini hanya tersenyum kecil membukakan pintu seraya menggoda "Silakan masuk tetangga cantik."
"berhenti menyebutku cantik sialan!"
"Jika tidak mau dibilang cantik, berhenti berpenampilan sangat cantik."
"DIAM!"
Jangankan Sehun, siapapun yang melihat penampilan serba merahnya saat ini pasti akan mengatakan hal serupa, lagipula Luhan hanya memakai shirtless merah dipadu dengan jaket merah yang sengaja dibuka, menampilkan lekuk tubuh hingga leher putihnya yang menggoda ditambah bibirnya seperti baru dioleskan pelembab atau diberi pewarna peach karena setiap kali dia berbicara akan membuat si lawan bicara salah fokus, Sehun contohnya.
"ha ha ha…Kenapa dia suka sekali berteriak."
Setelah membiarkan si tukang berteriak itu masuk kedalam kamarnya, Sehun kini menutup kembali pintu kamar untuk bergabung dengan Luhan yang sepertinya terlihat gusar tanpa mau tenang saat menunggunya.
"Aku pakai baju lebih dulu."
"Cepatlah." Ketusnya,membuat Sehun mengangkat malas kedua bahunya dan bergegas masuk ke dalam kamar tanpa menutup pintu hingga Luhan bisa melihat refleksi Sehun saat membuka handuk untuk memakai pakaiannya dari lemari kaca yang tersedia di dapur kamar Sehun.
"sssh…Dia sangat vulgar dan tak tahu malu."
Bahkan saat mengumpat cara Sehun mengganti baju Luhan tetap melihatnya, memperhatikan bagaimana kaos hitam itu kini menjiplak seluruh punggung dan dada lebar Sehun hingga lagi-lagi Luhan dibuat berdebar diiringi rasa iri karena tidak diciptakan dengan bahu, punggung serta dada yang seksi seperti Sehun.
"Perasaanku saja atau kamarmu sedikit lebih besar dari kamarku?"
Sementara Sehun sedang mengambil sekaleng soda di lemari es, Luhan mulai melihat sekeliling ruang kamar Sehun yang didominasi warna hitam dan putih, tak ada sesuatu yang menarik, hanya sebuah tumpukan kanvas dan CD animasi serta layar proyektor yang sepertinya digunakan Sehun untuk pekerjaannya.
"Benarkah? Mungkin karena aku tidak memiliki banyak barang disini." Katanya menyerahkan sekaleng soda tapi ditolak Luhan yang kini memilih melipat kedua tangannya "Tidak perlu, aku ingin bicara denganmu, bukan minum."
"Yasudah."
Sehun sebenarnya sedang bermain game "terserahmu saja" jadi ketika Luhan menolak apa yang ditawarkan dia tidak akan memaksa dan hanya membiarkan si cantik didepannya melakukan apa yang dia inginkan.
"Baiklah apa yang ingin kau bicarakan?"
Tanpa basa-basi dan tanpa berkurang rasa gusarnya, Luhan kini berteriak dengan telunjuk mengacung tepat di wajah Sehun "KAU—!"
Sehun nyaris tersedak sodanya saat Luhan berteriak, bukan karena Luhan terlihat mengerika, tapi demi Tuhan saat bibirnya mengerucut marah, matanya membulat sempurna dengan rahang yang sepertinya sangat tegang hanya membuat dirinya terlihat sangat menggemaskan
"Aku kenapa?"
"Darimana kau tahu aku kembali ke Seoul? Baiklah, itu bisa terjadi, tapi darimana kau tahu aku tinggal disini? Tepatnya di apartement ini!"
"Kakakmu."
"huh?"
Sehun menenggak sodanya hingga habis, bunyi tegukannya sangat menggoda hingga membuat Luhan mau tak mau ikut menelan air liur disela rasa kesalnya mengetahui bahwa penyebab kegagalan rencananya adalah sang kakak, The Great Wu Yifan.
"ah~ Maaf aku haus."
Setelahnya Sehun meletakkan kaleng kosong miliknya di meja, mengusap bibirnya cepat untuk kembali melanjutkan "Satu bulan yang lalu kakakmu bertanya apartement yang aman dan yang paling bagus di Seoul, aku bertanya untuk siapa dan dia bilang untukmu, sudah jelas?"
Sehun menjelaskannya sangat tenang, membuat Luhan mengipas wajahnya yang kepanasan seraya menggerutu dan bersandar di sofa nyaman milik Sehun "oh astaga! Dari banyak orang kenapa dia harus bertanya padamu?"
"Karena dia menitipkanmu padaku selama disini."
"Mwo? Pikirmu kau siapa?!"
"Tenang saja, aku hanya akan mengawasi seperti angin, jadi kau tidak akan menyadari bahwa aku sedang mengawasimu!"
"oh diamlah! Aku bahkan memiliki Myungsoo disini!"
Sebenarnya Sehun merasa sesuatu mencubit hatinya setiap kali nama Myungsoo keluar dari bibir Luhan, dia sudah berusaha untuk tenang, berhasil memang, tapi tetap saja terkadang serangan mendadak seperti saat ini tidak bisa dihindari setiap kali Luhan menyebut nama Myungsoo di percakapan mereka.
"Apa kekasihmu tahu kau ada disini?"
"Tentu saja dan dia akan segera datang!"
"oh…"
"Berhentilah menjawab singkat setiap kali kita bicara tentang Myungsoo!"
"Lalu berhentilah menyebut nama Myungsoo saat kau sedang bicara denganku!"
"WAE?"
"Hatiku sakit!"
Luhan diam, Sehun juga mengutuk ucapannya, kini hanya suara detak jam dinding yang terdengar membatasi mereka, tak ada yang bersuara sampai Luhan melihat Sehun mengusap kasar wajahnya untuk memohon "Kalau begitu berhentilah."
"Apa?"
"Jangan menatapku sebagai Luhan empat tahun yang lalu, tataplah aku sebagai Luhan kekasih sahabatmu, aku tahu akan sulit, tapi sungguh, kita tidak bisa memiliki hubungan seperti ini terus menerus."
Sehun tertawa jengah untuk menatap Luhan tegas di kedua pasang bola matanya yang cantik "Kalau begitu jawab pertanyaanku, apa benar kau sudah tidak memiliki perasaan tersisa untukku?"
"Sehun!"
"Kenapa? Kau tidak bisa menjawab? Apa kau takut? Atau kau-…."
"AKU TIDAK MENYIMPAN PERASAAN APAPUN PADAMU! TIDAK DULU, TIDAK SEKARANG DAN TIDAK NANTI!"
Lucunya mata Luhan terpejam saat meneriakkan hal yang sedang menggores hatinya juga, dia juga menggigit kencang bibir dan Sehun menangkapnya sebagai sebuah cara untuk berpura-pura menyelesaikan masalah hanya untuk tidak terlibat di masalah selanjutnya.
Dia tahu Luhan berbohong dan semua terlihat seperti lelucon untuk Sehun, membuatnya sedikit kesal hanya untuk menantang "Kalau begitu tantangan dariku masih berlaku untukmu."
"Apa!?"
"Kau harus mencium Myungsoo didepan kedua mataku."
"Sehun!"
"Agar aku percaya kau tulus mencintainya dan tidak lagi memiliki perasaan apapun padaku!"
"KAU—!"
"Jika sudah selesai bicara kau bisa pergi, aku tahu kau lelah, lagipula besok kau ada kelas di universitas barumu bukan?"
Hanya menggelengkan kepala yang bisa dilakukan Luhan, entah darimana Sehun mengetahui segala hal tentangnya, bahkan jadwalnya di universitas yang baru, Luhan gusar mengenai hal ini tapi dia nekat bertanya untuk memastikan "Kau tidak tahu dimana aku kuliah bukan? Katakan tidak, jebal."
Sehun mempertimbangkan permintaan Luhan, matanya menyapu kecemasan di mata cantik yang tengah berharap padanya, mungkin dia akan mengatakan tidak, mungkin juga dia akan mengatakan Ya, sebenarnya itu tergantung mood yang diberikan Luhan padanya.
Well, karena Luhan sepertinya ingin lebih dari sekedar jawaban tidak, Sehun dengan sengaja menarik sedikit bibirnya tanda tersenyum, lagi-lagi dia juga mengangkat kedua bahunya untuk jujur mengatakan "Aku tahu."
"huh?"
Sekali lagi, lelaki tampan yang belum mengeringkan rambutnya kembali menegaskan dan mengatakan "Sejujurnya aku tahu segala sesuatunya tentangmu, termasuk kenyataan bahwa sebenarnya kau senang bertemu denganku disini, aku juga tahu kau mencariku satu bulan lalu sejak terakhir kita makan bersama di kedai ramen dekat rumahmu, aku tahu kau mencemaskan aku dan aku tahu kau-….."
"DIAM OH SEHUN!"
Kali ini posisi menjadi imbang 1-1. Setelah Luhan sukses memberi serangan mendadak dengan menyebut nama Myungsoo, maka Sehun membalasnya dengan mengatakan banyak hal yang sialnya! Adalah benar tentang bagaimana Luhan mencemaskannya setelah insiden di kedai ramen satu bulan yang lalu, sesekali dia juga bertanya pada Yifan tentang Sehun dan dia tahu, bertanya pada kakaknya itu artinya bunuh diri karena sepertinya Yifan benar-benar menyukai Sehun entah karena apa.
Dan karena alasan itu pula Luhan tidak sanggup berada lebih lama bersama Sehun, setelah membentak si pemilik apartement di kamarnya sendiri, buru-buru dia berlari keluar dari kamar Sehun, membanting kasar pintunya dan meninggalkan Sehun yang hanya bisa tertunduk dengan hati tergores menahan rasa sakit yang sama, dengan alasan sama, dan karena orang yang sama pula.
Dia terluka, lagi, tapi tak ada penyesalan di wajahnya, sebaliknya, Sehun tersenyum seraya melihat ke pintu dimana Luhan membantingnya, hatinya memang sakit, tapi di hati yang sakit itu pula dia tersenyum meyakini satu hal,
"aku benar, kau masih peduli padaku."
.
.
.
.
BLAM!
.
.
Sementara Sehun sedang mencoba untuk tidak mengganggu Luhan, maka lelaki cantik yang merasa sangat terganggu dengan sikap dan cara Sehun berbicara padanya tengah dilanda rasa gusar yang begitu memenuhi isi kepalanya.
Terlihat dari caranya bernafas seolah baru dihadapkan dengan sesuatu yang mengerikan, tersengal hingga membuat wajahnya begitu pucat ketakutan, rasanya dia ingin berteriak lagi, tapi dirinya tahu berteriak didepan kamar Sehun hanya akan membuat dirinya terlihat semakin menyedihkan.
Jadilah dia memejamkan erat matanya, mencoba untuk menenangkan diri sebanyak mungkin hingga sebuah suara terdengar begitu lembut saat memanggil namanya.
"Luhan?"
Terlalu lembut dan berhasil menyelinap masuk ke bagian terdalam hatinya yang sedang goyah, Luhan hafal dengan wajah si pemilik suara, membuatnya cepat menoleh dan benar saja, disana, sedang berdiri lelaki tampan si pemilik tatapan paling menenangkan yang pernah dikenal Luhan selain milik mendiang ayahnya, tersenyum padanya hingga membuat refleks Luhan berjalan mendekat padanya.
"Myungsoo…"
Ya, lelaki itu kekasihnya, lelaki pertama yang seharusnya dia temui saat tiba di Seoul, bukan Sehun, harusnya dia lelaki yang berbicara dengannya saat dia masuk ke apartement ini, bukan Sehun, yang menyambutnya, yang membuatnya merasa keputusannya adalah benar kembali ke Negara yang membuatnya memiliki kenangan mengerikan empat tahun yang lalu, harusnya dia, Kim Myungsoo dan bukan Oh Sehun.
"Apa yang kau lakukan di kamar Sehun?"
Tap!
Bahkan lelaki sekelas Myungsoo pun bisa membuatnya terkejut dan kesal dan kecewa.
Entah bagaimana dirinya tahu bahwa kamar itu adalah kamar Sehun, dia tidak peduli, yang membuatnya kesal adalah fakta bahwa lagi-lagi Myungsoo bertanya terlalu tenang sementara Luhan sedang merasa gelisah untuk menjelaskan bahwa dirinya dan Sehun hidup berdekatan.
Luhan pun mengambil banyak nafasnya, berusaha tenang tanpa bisa menutupi bahwa dia gusar karena sepertinya hanya dia satu-satunya orang yang tidak mengetahui skenario hidupnya selama berada di Seoul.
"Bagaimana kau tahu itu adalah kamar Sehun?"
.
.
.
.
.
.
"Tentu saja aku tahu sayang, Sehun sudah tinggal di tempat itu selama dua tahun."
"Mwo?"
Kedaan kini berpindah ke sebuah café yang berada di lantai dasar apartement, dan bukan tanpa alasan Myungsoo membawa kekasihnya yang gusar ke tempat yang biasa digunakannya untuk berdiskusi dengan Sehun semasa mereka kuliah dulu.
Well, tempat ini memiliki berbagai jenis milkshake dan ice cream, dan benar saja kekasih hatinya yang sedari tadi merasa gusar dibohongi menjadi lebih tenang dengan tiga gelas milkshake, serta tia cup besar ice cream menemani percakapan mereka.
"Singkatnya Sehun lebih dulu tinggal di tempat ini, bukan karena dia menguntitmu, rusa." Katanya mengusap gemas surai Luhan hingga kekasihnya bertanya "Kenapa dia tidak tinggal di rumahnya?"
"huh?"
Luhan bisa melihat ekspresi sendu dari wajah Myungsoo, membuatnya semakin penasaran hingga tanpa sadar mendesak "Ayo ceritakan padaku."
"wae? Kau masih sangat peduli pada Sehun ya?"
"aniya, bukan itu, aku hanya-….tunggu! Apa kau sedang menggodaku?"
"ding dong ding….hahaha, menggodamu adalah hal menyenangkan sayang."
Terkadang rasanya Luhan benar-benar tersihir melihat bagaimana cara Myungsoo tertawa dan menampilkan kedua lesung pipinya yang begitu dalam, beberapa saat mungkin dirinya akan merasa berdebar tapi dia tahu debaran di hatinya lebih karena tawa seorang Kim Myungsoo bisa menjadi penghapus rasa gusar disaat dirinya benar-benar dalam keadaan kesal seperti ini.
"Baiklah, kau ingin tahu alasan Sehun keluar dari rumahnya?"
"Dia keluar dari rumah?"
"Lebih tepatnya dia tidak akan kembali kerumah sampai seseorang yang pergi kembali datang dan tinggal dirumahnya lagi."
"Siapa yang sedang kau bicarakan?"
"Dirimu."
"aku?"
"Empat tahun yang lalu saat kau pergi, bibi Oh mulai bersikap dingin pada Sehun dan terus menyalahkan Sehun karena tidak bersikap baik padamu di sekolah hingga kau pergi dengan tangisan dan luka di wajahmu."
"Tapi kenapa?"
"Mungkin ini terdengar berlebihan mengingat bibi Oh sudah memiliki tiga putra tapi aku rasa bibi Oh sangat menyayangimu sayang, beberapa kali dia juga membelikan aku tiket ke Beijing saat tahu aku akan datang menemuimu."
"Jadi bibi tahu kita sepasang kekasih?"
Ada raut penyesalan itu diwajah Myungsoo, dia tersenyum kecil untuk membenarkan "Selain Sehun, semua keluarga Oh tahu hubungan kita."
"ah…."
Bahkan Luhan merasa bersalah saat ini, wajar Sehun bersikap gila dan arogan saat tahu Myungsoo menjalin hubungan dengannya, jika dirinya berada di posisi Sehun sepertinya cerita akan semakin mengerikan mengingat temperamennya sangat buruk jika menyangkut hubungan dan orang-orang yang dia cintai.
"Jadi aku harap kau bisa memaklumi sikapnya, Sehun menjadikanmu sebagai semangatnya hingga dia bisa berada di posisinya saat ini, dia juga rela ibunya kesal dan marah padanya karena dia memiliki tekad untuk membawamu pulang kerumahnya."
"Dan kau diam saja?"
"huh?"
Baiklah, jika berbicara tentang serangan mendadak yang sudah dialami oleh Sehun dan Luhan beberapa menit lalu, maka kini giliran Myungsoo yang harus merasakan kekesalan Luhan adalah nyata, lelaki cantik didepannya ini jelas terlihat gusar, terdengar dari suara gertakan giginya yang begitu tenang namun terkesan sangat marah dan kecewa.
"Kenapa kau hanya diam saat Sehun menjadikan aku tujuan hidupnya? Kenapa kau hanya diam saat kau mengetahui bahwa aku dan dia akan tinggal bertetangga seperti ini? Tidak bisakah kau melakukan sesuatu L? Aku kekasihmu!"
Dan seperti biasa pula, Myungsoo adalah tipe lelaki yang tak pernah menggunakan emosinya setiap menghadapi masalah, jadi saat Luhan mendesaknya dan terdengar ingin marah, yang bisa dilakukannya hanya menenangkan seraya menggengam jemari kekasihnya yang sudah terasa dingin di genggamannya.
"Bukannya aku tidak ingin melakukan apapun, tapi aku tidak bisa sayang."
"Wae? Kenapa kau selalu bilang tidak bisa? Kau bisa!"
"Baiklah, katakan aku bisa, tapi setelah itu apa? Sehun akan semakin menderita dan membenci kita berdua, itu yang kau mau?"
Kesal, Luhan menghempas tangan Myungsoo untuk berbicara ketus sedikit kejam "Aku tidak peduli sekalipun dia membenciku, membenci kita!"
"Apa kau yakin?"
Sepertinya Myungsoo sedang menyerang balik dirinya, dan harusnya Luhan mengatakan Yakin! Tanpa ragu, tapi entah mengapa kalimat itu tersangkut di kerongkongan hingga tak bisa dia keluarkan sebagai konsonan kata.
Hal itu membuat Myungsoo tersenyum kecil, dia kembali menggengam tangan Luhan lalu berkata penuh kemenangan "Nah, apa kataku, kau juga tidak bisa bukan?"
"Aku-…." Bahkan saat bibirnya sendiri menghianati, Luhan merasa begitu marah dan kesal, dia tidak bisa melakukan apapun tapi terlihat ingin menjelaskan, meyakinkan bahwa dia bisa tidak peduli pada Sehun namun tak sebaris lima kata "yakin" keluar dari bibirnya.
"Lagipula Sehun sudah terlalu banyak menderita, jangan salahkan dia lagi Lu."
"Kau-…."
Nyaris Luhan menggebrak meja tempat mereka berada disini, dia benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran Myungsoo, entah perasaannya atau bukan, tapi daripada mempertahankan hubungan mereka, kekasihnya seperti mendorong dirinya dan Sehun untuk kembali bersama, ini gila, dan ini sangat membuatnya marah hingga tanpa sadar mengatakan
"Kenapa aku merasa kau tidak mencintaiku? Kenapa kau—…" Luhan menyadari wajah Myungsoo berubah menjadi sangat pucat, tangan kekasihnya juga berkeringat hingga memalingkan wajah adalah hal yang dia lakukan sebelum menyudahi percakapan mereka "Sudahlah…..Aku lelah, kita bertemu besok."
Setelahnya Luhan dengan segala gusar di hatinya meninggalkan Myungsoo yang entah mengapa sedang berkeringat begitu banyak di wajahnya, dia juga seperti meringis menahan sakit sampai memastikan Luhan pergi barulah dia menyadarkan kepalanya di atas meja, memikirkan semua ucapan dan tuduhan Luhan untuk kalimat "kenapa aku merasa kau tidak mencintaiku?" hingga senyum kesakitan itu terlihat bersamaan dengan rasa sakit di sekujur tubuhnya, Myungsoo bahkan harus memejamkan mata untuk bergumam sangat lirih,
"Bukan, bukan aku yang tidak mencintaimu, tapi kau sayang, kau yang tidak menaruh perasaan itu padaku."
.
.
.
.
.
Keesokan pagi
.
.
Sebenarnya Luhan malas menghadapi hari dimana dirinya harus kembali menjadi mahasiswa baru di tempat yang dipilihkan Yifan untuknya, singkat kata, bukan ini rencananya setiba di Seoul, dia hanya ingin berpura-pura masuk ke salah satu universitas Seoul hanya untuk mengelabui kakaknya, bukan benar-benar menyusun skripsi di negara yang pernah benar-benar membuatnya jatuh di titik terendahnya.
Lagipula bukan tanpa alasan dirinya ingin kembali ke Seoul, ada tujuan utama yang ingin dia pastikan dan hanya sementara bukan untuk menetap dalam waktu yang lama di tempat mengerikan ini.
"haah~"
"Anda baik-baik saja tuan muda?"
"…"
Sejujurnya mood Luhan sedang sangat buruk, lalu lelaki cantik bernama Kim Minseok yang sedang mengemudikan mobil terus bertanya dan membuatnya tak nyaman, jadilah dia hanya diam kursi belakang, lebih memililh untuk melihat keluar jendela sementara Minseok mulai menyadari kesalahannya, dia terlalu formal.
"Maksudku apa kau baik-baik saja Luhan?"
Barulah Luhan merespon, sejujurnya swing mood miliknya bisa terjadi hanya karena hal-hal kecil, salah satunya jika dia sudah mengatakan tidak ingin dipanggil tuan muda tapi Minseok tetap melakukannya, jadi saat dirasa Minseok sudah tidak memanggilnya tidak formal lagi, Luhan merespon dengan menatap kaca spion mobil seraya mengangguk "Hanya gugup, entahlah."
"Kau tenang saja Lu, tidak ada yang menakutkan di tempat barumu nanti."
Terkekeh kesal, Luhan kembali melihat ke arah jendela mobil untuk tersenyum gugup dan takut "Kau tahu hyung?"
"Ya?"
"Itu adalah kata-kata yang gege ucapkan padaku saat kali pertama mengirimku ke Seoul, tidak ada yang menakutkan, tapi nyatanya hidup disini sangat keras dan mengerikan."
Minseok melihat bagaimana Luhan merubah ekspresi dari acuh menjadi pucat karena rasa traumanya, hal itu membuatnya merasa tak enak hati hingga Minseok memilih diam dan tak lama mereka sampai di tempat dengan tulisan besar Hanyang University sebagai logo dari gedung yang memiliki aksen khas Inggris sebagai design bangunan.
"Kita sampai Lu."
"haah~ Baiklah, ada dimana kelasku?"
"Lantai tiga ruang 1212, kau akan bertemu dengan Professor Oh-…."
"Aku pergi hyung."
BLAM!
Belum sempat Minseok menjelaskan, Luhan sudah lebih dulu keluar dari dalam mobil, membuat asisten berparas cantik itu hanya bisa terkekeh seraya mengambil ponsel, melaporkan kegiatan Luhan di hari pertamanya kuliah di Seoul.
"Ya? Bagaimana Xiumin?"
Nama chinese-nya adalah Xiumin, jadi saat percakapan berubah menggunakan bahasa mandarin maka sudah dipastikan yang dihubungi Xiumin adalah atasan sekaligu kakak kandung Luhan, Wu Yifan.
"Tuan muda sudah masuk kedalam kelas, Presdir Wu."
"Bagus, pastikan dia segera pulang setelah selesai belajar."
"Baik."
Tak lama panggilan dari Yifan terputus, didengar dari suaranya jelas Yifan sedang berada di tengah-tengah meeting, tapi yang membuat asistennya itu kagum adalah bagaimana Yifan selalu menomorsatukan adiknya entah dalam keadaan sesibuk apapun, hal itu membuat Minseok bersumpah akan membantu atasan sekaligus pria yang memberinya pekerjaan layak untuk mengawasi adik laki-lakinya dan menjaga Luhan seperti adiknya sendiri.
"Baiklah, aku akan segera menjemputmu adik kecil—eoh!"
Sesaat setelah menyalakan mesin mobil, Minseok dibuat terkejut melihat sosok lelaki tampan yang menggunakan turtle neck hitam sebagai style nya hari ini, lelaki seumuran Luhan itu tampak elegan seperti tengah melakukan catwalk saat keluar dari mobil dan berjalan menyusuri lorong universitas.
Minseok sempat memperhatikan cukup lama si pemilik punggung lebar dan tubuh sempurna milik lelaki yang merupakan teman dekat sepupunya hingga tanpa sadar dia bergumam "Kau benar-benar datang rupanya."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Baiklah, selanjutnya yang berkumpul di kelas ini adalah mahasiswa semester akhir yang akan mengajukan sidang skripsi untuk creative design and art performance design, selebihnya bisa meninggalkan kelas."
Sialnya dua jam pertama harus dilalui Luhan dengan mata pelajaran basic design miliki mahasiswa semester awal, dia tidak bisa menghindar mengingat nilainya tidak mencukupi untuk pengajuan bahan skripsi hingga berakhir duduk manis di kursi paling belakang "Hey kau juga mahasiswa semester akhir? Aku belum pernah melihatmu sebelumnya."
Luhan menoleh malas pada teman sebangkunya di samping, memperhatikan dari atas hingga ke bawah lalu menilai setidaknya lelaki disampingnya ini memiliki nilai delapan dari skor sepuluh untuk penampilan.
"Aku mahasiswa baru."
"ah, pantas saja kau asing, aku tidak pernah melihatmu sebelumnya, Siapa namamu?"
Luhan terpaksa menghentikan kegiatan memasukkan beberapa buku dan alat tulis ke dalam tas saat lelaki disampingnya mengenalkan diri sebagai "Aku Park Jinyoung." Katanya mengulurka tangan membuat Luhan sekilas menatap dan menyambut jabatan tangan teman pertamanya di kampus "Wu Luhan."
"Kau Chinese?"
"Tidak terlihat ya?"
"Aku kira kau berasal dari Daegu."
"Kenapa seperti itu?"
"Karena Daegu terkenal dengan parasnya yang cantik dan tampan, jika kau kenal Bae Irene dan V BTS mereka darisana."
Mengambil kesimpulan, Luhan bergumam "Berarti aku tampan." Katanya namun dibantah tegas oleh Jinyoung "Tidak, kau cantik."
"Kau-….."
Luhan nyaris memukul kepala Jinyoung saat teman pertamanya itu secara gamblang mendeskripsikan bagaimana visualnya, dia paling tidak suka dipanggil cantik dan Jinyoung mengatakannya tanpa rasa bersalah, membuatnya sudah sedikit berdiri hendak memukul kepala temannya sebelum suara terdengar suara seorang wanita memekik dan itu sangat mengganggu telinganya.
"ASTAGA APA PROFESSOR SUDAH DATANG? BAGAMANA INI? AKU BELUM MENYIAPKAN BAHAN APAPUN! ASTAGA-…."
Wanita itu terliha unik untuk Luhan, dari caranya berpakaian dengan kemeja flannel yang sengaja dibiarkan terbuka, lalu celana jeans dengan sobekan di lutut serta tas ransel hitam hanya membuatnya terlihat seperti wanita tomboy versi feminim karena masih menggunakan heels dan jepit rambut strawberry di anak poni rambutnya.
"Siapa dia?"
Luhan bertanya dan Jinyoung menjawabnya santai lagi, terlalu santai bahkan, terlebih saat mengatakan "oh, Dia dewi di kampus ini, mereka menyebutnya the goddess from Hanyang University, Kim Sejeong."
Lalu Luhan merespon berlebihan dengan kedua mata yang nyaris keluar serta tangan yang menunjuk "Dia? Yang benar saja! Dia tidak terlihat seperti dewi sama sekali!"
"Itu hanya untuk hari ini."
"huh? Kenapa memangnya."
"Professor yang akan masuk di kelas selanjutnya tidak suka jika mahasiswanya berpakaian seksi atau berlebihan, jadi itu hanya salah satu cara agar tidak di usir dari kelas."
"Memangnya dosen yang akan masuk di kelas berikutnya sangat mengerikan?"
"Sangat, dan kau tahu apa yang paling menyebalkan?"
"Apa?"
"Usianya tidak terpaut jauh dengan kita tapi sikapnya sangat menyebalkan, ah, itu dia-…."
Penasaran, Luhan pun melihat ke arah pintu masuk, bertanya-tanya menagapa Jinyoung merubah sikapnya drastis dari bermain ponsel menjadi membaca buku hingga membuatnya mencari tahu dan sukses dibuat tidak bernafas melihat siapa lelaki yang sedang berjalan masuk ke dalam ruangan
"apa yang dia lakukan disini?"
Awalnya Luhan mengira lelaki tampan yang menggunakan pakaian serba hitam dengan turtle neck itu adalah mahasiswa sepertinya, namun tebakannya kali ini meleset karena lelaki itu berjalan lurus menuju ke tempat yang berbeda, lebih tepatnya, si pemilik rahang tegas itu berjalan ke tempat dimana seharusnya professor atau dosen duduk untuk mengajar.
"Luhan, cepatlah duduk! Dia tidak suka jika mahasiswanya tidak siap."
"mahasiswanya?"
Kakinya terasa sangat lemas, belum lagi dia harus berjalan kembali ke tempat duduknya, membuat tatapannya memelas untuk bertanya memastikan "Dia professor yang kau bicarakan?"
"eoh, Professor Oh Sehun."
DEG!
Serasa disambar petir di siang bolong seperti ini, Luhan terduduk lemas di tempatnya, rasanya dia ingin menjerit dan menangis, ingin memaki lelaki yang kini mengunci matanya dengan tatapan penuh kemenangan, tidak, daripada Sehun, dia ingin sekali memaki kakaknya karena semua kebetulan ini pasti terjadi karena campur tangannya.
"Luhan apa kau sakit? Wajahmu pucat?"
Menyandarkan kepalanya di meja, Luhan hanya bergumam lirih seraya mengangguk "Kau benar aku sakit, aniya, tamat sudah riwayatku." Katanya kesal, dibawah sana kaki Luhan sedang menghentak kesal, lalu tiba-tiba Jinyoung kembali menepuk lengannya hingga refleks Luhan berteriak
"APA?"
Membuat satu teman sekelasnya menoleh sementara wajah Jinyoung memucat dan tak lama menunjuk kedepan tanda dia sedang berada dalam masalah "Wu Luhan-ssi?"
Saat namanya disebut Luhan memejamkan mata, dia enggan menatap ke arah lelaki itu, tapi sekali lagi namanya disebut "Wu Luhan." Maka Luhan kehabisan alasan untuk menghindar, dia menoleh dan sekali lagi, matanya dan mata Sehun berpapasan hingga lelaki yang kini tinggal didepan apartemennya itu tersenyum untuk mengatakan "Proposal pengajuan sidangmu aku terima, mulai hari ini kau akan berada dibawah bimbinganku."
"Mwo?"
"Satu minggu kita akan tiga kali pertemuan, siapkan dirimu karena aku sibuk."
Harusnya Luhan bahagia karena pada akhirnya ada dosen yang menerima proposal design miliknya, harusnya, tapi kebahagiaan itu sirna entah kemana saat menyadari mulai dari hari ini hingga nanti hari kelulusannya dia akan selalu berkaitan dengan Sehun, dengan lelaki yang masih membuat bimbang hatinya, bibirnya mengerucut ingin menangis, namun Jinyoung menangkapnya karena Luhan terharu, jadi dia berbisik "Selamat untukmu, setiap semester Professor Oh hanya menerima satu mahasiswa dan kini dia memilihmu."
"Ge, aku ingin menjadi mahasiswa abadi saja, boleh ya?"
Dia bergumam gila sementara suara teriakan wanita yang belum lama membuat gendang telinganya sakit kembali terdengar "PROFESSOR INI TIDAK ADIL! KENAPA HARUS DIA? AKU SUDAH MEMENUHI LEBIH DARI SYARAT!"
"Kelas selesai, aku permisi,"
Teriakannya diabaikan oleh Sehun, lalu tak lama Sehun keluar kelas dan sepertinya wanita itu tidak menyerah dengan mengejar Sehun seraya berteriak
"HYUUUNGGG~"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Matilah aku, tamat riwayatku, matilah aku, tamat riwayat-….AARGGHHH!"
"Astaga! Ada denganmu?"
Setidaknya satu jam sudah berlalu sejak Luhan dipilih oleh Sehun sebagai mahasiswa yang akan dibimbingnya, selama satu jam itu pula Luhan berusaha untuk menenangkan diri namun gagal, dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika Sehun yang membimbingnya.
Lagipula kenapa Sehun?
Kenapa harus dia?
Kenapa-….ASTAGA!
Rasanya dia ingin menangis jika tidak ingat dirinya sedang berjalan beriringan dengan Jinyoung setelah mereka meminjam buku dari perpustakaan, kepalanya begitu sakit memikirkan apa yang akan terjadi hingga tanpa sadar dia menghentak lagi kakinya lalu bertanya menuntut pada Jinyoung.
"Aku ingin bertanya!"
"huh? Kenapa kau berhenti berjalan?" Jinyoung bergumam sebelum mendekati Luhan dan bertanya "Apa yang ingin kau tanyakan?"
"Sejak kapan dia mengajar disini?"
"Dia?"
"Oh Sehun!"
Jinyoung menganguk mengerti lalu menjelaskan "Dua tahun lalu setelah dia lulus cumlaude dengan project yang luar biasa."
"Hingga membuatnya dipanggil professor?"
"Dia jenius di bidangnya, jangan remehkan wajahnya yang dingin."
"aku tidak peduli."
"Kau harus peduli karena tidak mudah memiliki dia sebagai dosen pembimbing skripsi."
"wae?"
Jinyoung menatap ragu lalu meminta Luhan mendekat untuk berbisik "Dia terkenal keji dan tegas saat memberikan materi, bersiaplah."
"yeah, aku akan bersiap, bersiap mati tepatnya."
"Jangan bicara omong kosong, ayo pergi!"
Keduanya pun menjadi akrab hanya karena membicarakan professor muda yang terkenal keji di universitas ini, terkadang Luhan juga tertawa mendengar betapa benci seluruh mahasiswa pada Sehun karena memang wajah dan sikapnya sangat mendukung untuk dibenci.
"Dia itu cenderung memilih mahasiswa yang tidak ingin dengannya, jadi saat kau berharap dia adalah dosen pembimbingmu maka bersiaplah untuk kecewa."
"Lalu bagaimana denganmu? Kau ingin Sehun—maksudku Professor Oh menjadi dosen pembimbingmu?"
"Sangat!"
Mengernyit bingun Luhan bertanya "Kenapa?"
"Karena dia adalah jembatan menuju masa depan yang cerah."
"Maksudnya?"
"Jika dia puas dengan presentasi akhir kita, dia akan merekomendasikan kita pada perusahaan-perusahaan software terbesar di Korea."
"oohh…"
Entah mengapa mendengar sisi lain dari Sehun cukup menghibur untuk Luhan, dia tahu pada dasarnya lelaki arogan itu memang memiliki jiwa pemimpin yang bisa diandalkan, jadi saat dirinya banyak membantu mahasiswa dan teman-temannya hanya membuat Luhan bersemangat karena pasti Sehun juga akan membantunya.
"Kau beruntung Luhan."
Luhan hanya tertawa mendengarnya, keduanya kini kompak menuruni tangga sampai terdengar suara seorang wanita sedang memohon dengan nada khas dibuat manja dan merengek.
"ayolah hyuuuunggg~ sekali saja biarkan aku menjadi mahasiswi yang kau pilih, ayolah, ayolah, hmh? Jebal…."
Luhan bisa melihat wanita yang sedang mengekori lelaki si pemilik bahu besar adalah wanita yang sama yang tadi berteriak histeris di kelasnya, tapi tidak sama dengan pakaian tomboy nya beberapa saat lalu, kini Sejeong, teman sekelas sekaligus wanita yang sedang mengekori Sehun, sudah merubah penampilan menjadi begitu elegan dan cantik.
Kini dia menggunakan senaker putih dengan rok pendek selutut dipadu blazer hitam panjang yang menutupi hingga lutut, rambutnya digerai dengan jepit rambut bergambar pooh bertengger manis disana, dan yang membuat Luhan mengakui julukan the goddess of Hanyang university untuk Sejeong adalah karena dibalik penampilannya yang sangat cantik dan sempurna tampaknya Sejeong adalah wanita baik hati dan ramah.
"hyuuunggg~"
"Nah, bagaimana menurutmu? Dia sudah seperti dewi, kan?"
Terkekeh kecil Luhan menoleh pada Jinyoun dan membenarkan "Kau benar, jika seperti ini dia terlihat sangat sempurna." Timpalnya jujur sebelum beralih pada pertanyaan lain "mmh…Tapi kenapa dia memanggil Professor Oh dengan hyung?"
"Itu hanya menandakan mereka sangat dekat."
"hmh?"
"Sebenarnya dulu mereka teman sekelas, mereka juga sangat dekat sampai professor Oh lebih dulu lulus karena kejeniusannya."
"oh….."
Entah mengapa Luhan iri melihat kedekatan itu, mungkin jika dirinya tidak kembali ke Beijing dirinya dan Sehun juga bisa menjadi dekat karena berada di satu kampus yang sama, sebagai teman, bukan sebagai mahasiswa dan dosen pembimbing.
"Wu Luhan-ssi."
"Ya?"
Luhan refleks menjawa tanpa tahu siapa yang memanggil, lalu tak lama Jinyoung menyenggol bahunya hingga membuat Luhan melihat ke arah Sehun yang entah mengapa memanggilnya dan memberi perintah "Datang ke ruanganku sekarang!" katanya mutlak lalu mendengar Sehun berpesan pada Sejeong "Dan sebaiknya kau memberikanku proposal yang lebih baik bulan depan, segera pergi karena aku sibuk!"
"ish! BESAR KEPALA SEKALI KAU OH SEHUN!"
Sehun berhenti melangkah, membuat Sejeong memekik "omo!" sebelum berlari layaknya anak kucing yang disiram air untuk menghindari kemarahan Sehun, melihat interaksi keduanya juga membuat Luhan dan Jinyoung tertawa hingga tanpa alasan Sehun kesal melihat Luhan tertawa bersama pria lain dan membentaknya sekaligus mengingatkan
"WU LUHAN!"
"wae?"
Luhan membuat gerakan dengan bibir kesalnya dibalas "KE RUANGANKU! SEKARANG!" Oleh Sehun yang terus berteriak dan membuat Jinyoung berbisik pada Luhan "aku rasa tamat riwayatmu Lu!"
.
.
.
.
.
.
.
.
Dan disinilah Luhan, diruang lantai tiga yang berada paling pojok sebelah kanan gedung, dia sedang mengetuk pintu bertuliskan Professor Oh yang menandakan bahwa Sehun benar-benar bagian dari universitas ini dalam jabatan berbeda, dulu mahasiswa dan kini menjadi orang yang disegani.
"Masuk."
Perintah itu terdengar dari dalam ruangan, segera Luhan membuka pintu untuk mendapati Sehun sedang memeriksa banyak kertas yang ditebak Luhan adalah semua tugas dan proposal sidang mahasiswa.
Sebenarnya dia tidak enak hati mengganggu Sehun yang terlihat sibuk, tapi lihatlah professor yang bisa membuat mahasiswinya hamil hanya dengan senyum yang sedang diberikan padanya, membuat Luhan sedikit meleleh, namun segera memalingkan wajah saat Sehun memberi perintah
"Duduklah cantik, aku tahu banyak hal yang ingin kau tanyakan."
"….."
"Cantik…"
Sedikit memerintah, Luhan kemudian mendengus kesal untuk bergumam "oh ayolah! Berhenti memanggilku cantik."
"Kau memang cantik." Timpalnya jujur sementara Luhan menarik kursi didepan meja kerja Sehun "Dan kau merubah warna rambutmu menjadi cokelat, mmh….Aku lebih suka yang hitam."
"Diamlah."
"oh ya, omong-omong aku tidak suka kau terlalu dekat dengan lelaki yang sedari awal bersamamu."
"Siapa? Jinyoung?"
"Entah siapa namanya, hanya jangan dekat dengannya aku tidak suka!"
"Dia hanya teman!"
"Tetap tidak boleh, kau dengar aku, hmh?"
"bajingan idiot!"
Sehun berdeham, lalu mengambil sebuah dokumen untuk memperingatkan Luhan "Bersikaplah sopan padaku cantik, aku ini dosenmu."
"Kapan kau akan berhenti memanggilku cantik, pro-fes-sor oh?!"
Luhan menggeram kesal lalu Sehun membalas asal "Sampai kau memanggilku sayang."
"ish!"
"Mengumpat lagi akan kukurangi skoring perilakumu."
"Baiklah, yang mulia yang terhormat, maafkan aku dan jika aku boleh tahu kenapa anda memanggilku kesini?"
Sehun tersenyum puas, menatap Luhan penuh cinta untuk tertawa "Tidak ada, aku hanya ingin melihat wajahmu."
"ha ha…." Luhan balik tertawa lalu segera berdiri dari kursinya "Kalau begitu aku permisi Professor Oh."
"Aku bercanda, duduklah sebentar."
Disaat Sehun puas bisa menggoda Luhan habis-habisan, kini dia berbicara serius, membuat Luhan berusaha tenang dan mencoba untuk menghormati lelaki yang kini adalah penentu dari kelulusannya "Baca ini, ini jadwal kau akan berkonsultasi denganku."
Luhan membaca teliti jadwal yang diberikan Sehun, semua terlihat normal, mereka hanya akan bertemu tiga kali dalam seminggu dan rasanya itu wajar sampai Luhan menyadari jam konsultasi pada hari jumat adalah pukul sembilan malam "Kenapa hari jumat pukul sembilan malam?"
"ah, aku sengaja agar kau bisa bertanya banyak hal."
"Baiklah, tapi apa kampus masih buka di malam hari."
"Aku tidak bilang di kampus."
"Lalu dimana?"
Sedikit mengambil tangan Luhan untuk digenggamnya, Sehun berkata penuh arti "Di apartemenku."
Buru-buru Luhan melepas tangan Sehun dan bergegas berdiri dari kursinya "Gila! Ini menyalahi aturan."
"aniya, itu keinginan Yifan ge."
"mwo?"
"eoh, dia yang mengatur agar kau bisa kuliah di tempat yang sama denganku mengajar, dia juga memintaku untuk membimbingmu dan terakhir, dia bilang jika kau punya banyak waktu tolong bawa Luhan ke apartemenmu, ajari dia banyak hal tentang dunia kerja hingga dia siap, dan aku-….Aku dengan senang hati melakukannya untukmu, hanya untukmu, cantik."
Luhan luar biasa kesal mendengarnya, dia langsung berlari tanpa mengucapkan apapun lalu berteriak "GEGEEEEEEEEE!" saat keluar dari ruangan Sehun.
.
.
.
.
.
.
.
Hatcih!
"Kenapa akhir-akhir ini aku terus bersin tanpa alasan?"
Kembali ke Beijing akan terlihat seorang pria tampan dewasa yang hidungnya sudah semerah kepiting rebus karena terus bersin tanpa alasan, dilihat di mejanya juga akan terlihat tisue berserakan sementara suara paman sekaligus asistennya terdengar memberi jawaban untuk misteri bersin yang selalu tiba-tiba seperti ini.
"Aku rasa anak ini adalah alasan kenapa kau terus bersin."
Hatcih~
"Siapa?"
"Luhan, siapa lagi?"
Paman Kwangsoo memberikan ponsel Yifan yang kini berdering dengan nama Little Lu memenuhi layar ponsel, dia pun segera meminta ponselnya seraya bergumam "Berikan padaku." Untuk menggeser slide bersamaan dengan ucapan Kwangsoo "Sepertinya dia marah besar."
"GEGEEEEEEE!"
Dan benar saja tebakan Kwangsoo, terlihat Yifan sedikit menjauhkan ponselnya karena tiba-tiba Luhan berteriak, membuatnya mengusap kasar telinga untuk menempelkan lagi ponsel di telinganya "Luhan! Gege mendengarmu, tidak perlu berteriak!" katanya memilih mode loud speaker untuk mengurangi bising di kedua telinganya.
"HAHAHAAAA! BAGUS KALAU GEGE DENGAR! SEKARANG JAWAB AKU! KENAPA APARTEMENKU BERTETANGGA DENGAN SEHUN DAN KENAPA PULA DIA MENJADI DOSEN PEMBIBINGKU DI KAMPUS? KENAPA GEEEEE!"
"apa kubilang."
Kini tak hanya Yifan, tapi Kwangsoo juga menutup telinganya, entah kekuatan darimana hingga teriakan Luhan terasa ada di Beijing seperti saat ini, membuat kedua pria dewasa yang sedang mendengar kekesalan Luhan terkekeh sampai Yifan membalasnya dengan tenang.
"Luhan cantik-…."
"JANGAN CANTIK! JANGAN LAGI!"
"Baiklah, Luhan adikku yang tampan." Katanya membujuk, mendengar tidak ada teriakan lagi pastilah adiknya sudah lebih baik lalu dia mengambil kesempatan untuk mengatakan alasannya.
"Gege tidak memiliki siapapun yang bisa dipercaya selain keluarga Oh untuk mengawasimu di Seoul."
"Lalu apa fungsi Minseok hyung?"
"Minseok hanya gege tugaskan untuk memenuhi kebutuhanmu, tapi Sehun bisa membantumu lulus dan menjagamu disaat bersamaan."
"tsk!"
"Jangan mengumpat Wu Luhan, gege tidak pernah mengajarimu seperti itu!"
"…"
"Baiklah gege minta maaf, apa perlu gege memilihkan apartemen baru untukmu?"
"apa kau gila? Jangan turuti!"
Tiba-tiba Kwangsoo cemas mendengar penawaran Yifan untuk Luhan, oh ayolah, jika segala keinginan Luhan dituruti mereka tidak akan bisa mengawasi si rusa kecil dari jarak sejauh ini, jika di apartemen sekarang mereka memiliki Sehun, dan bukan tanpa alasan Kwangsoo setuju untuk Luhan kembali di Seoul, karena seperti Yifan, Kwangsoo juga sepenuhnya percaya pada Sehun karena memang lelaki itu akan melakukan segala hal untuk menjaga dan menemani Luhan.
"tenang."
Yifan berbisik dan benar saja, adiknya menjawab "Tidak perlu, aku hanya akan menyelesaikan kuliahku dan kembali ke Beijing."
Kwangsoo bernafas lega begitupula Yifan, keduanya tersenyum mengagumi sifat dewasa Luhan saat berjauhan dari mereka hingga membuat Yifan mengatakan "Baiklah, jika kau bertahan hingga akhir, gege tidak akan memanggimu cantik lagi tapi tampan." Katanya menghibur ditimpali janji paman Kwangsoo
"Paman juga tidak akan memanggilmu rusa kecil lagi Lu, tapi rusa jantan!"
Keduanya terkekeh dalam diam namun disambut mantap dan membara oleh Luhan "DEAL!" dan tak lama terdengar sambungan ponsel terputus tanda Luhan sudah puas dan mengakhiri perbincangan singkat mereka.
"Adikmu bukan bayi, tapi kenapa dia sangat menggemaskan."
Yifan kembali mengambil tisue dan menghapus lendir di hidungnya untuk mengangguk serta membenarkan "Paman benar, terlalu menggemaskan hingga rasanya aku tidak akan rela melepasnya menikah dengan orang lain."
Tiba-tiba Kwangsoo ikut mengambil tisue, membuat Yifan terkejut karena bukan menyeka lendir di hidung tapi air mata, lelaki setinggi galah itu sedang menangis entah karena apa lalu tiba-tiba merengek
"HUWAAA~ RUSA KECIL PAMAN JANGAN MENIKAH TERLALU CEPAT!"
.
.
.
.
.
Hatcih~
Kini giliran Luhan yang bersin tanpa alasan, pemuda cantik itu terlihat sedang berbaring telentang di tempat tidurnya, setelah melepas penat berada di kampus yang akan menyiksanya mulai hari ini, Luhan merasa sedikit tenang dan bersemangat.
Entah karena apa, tapi wajah Sehun adalah salah satu yang membuatnya bersemangat, dia bahkan tidak sabar menerima bimbingan si jenius Hanyang yang kini menjadi dosen pribadinya, membuatnya tanpa sadar tersenyum lalu ponselnya bergetar dan kali ini nama Mr. X tertera di ponselnya.
Buru-buru Luhan merubah posisinya, dia duduk bersila lalu dengan semangat menggeser slide dan bertanya "eoh, hyung? Bagaimana?"
"Datanglah dan lihat dengan kedua matamu sendiri, dia kesakitan."
Hati Luhan bergemuruh sakit mendengarnya, dia pun menghiraukan rasa lelahnya untuk bersiap pergi dan bertanya "Dimana?"
"Seoul hospital."
.
.
.
.
.
.
.
"Luhan!"
Yang memanggilnya saat dirinya tiba di sebuah rumah sakit besar adalah pria yang diberi nama Mr. X di ponselnya, jujur ini kali pertama Luhan bertemu dengannya, itu pun karena dia tahu lelaki seusia Minseok hyung bekerja untuk kakaknya dan mewakili perwakilan perusahaan mendiang sang ayah di Seoul.
Diam-diam dia mencari tahu tentang lelaki yang memiliki feature wajah tampan walau tak setampan kakaknya, menghubunginya di malam hari lalu meminta bantuan dan diluar dugaan, lelaki bernama Kim Jongdae didepannya menerima dengan senang hati.
"eoh, hyung?"
Dan sama seperti Minseok, Jongdae juga tidak diizinkan Luhan memanggil dengan sebutan tuan muda, Luhan hanya ingin menjadi akrab dengan pegawai dan teman rekan kakaknya tanpa jabatan sebagai hal yang membatasi, walau baru pertama kali bertemu secara langsung keduanya sudah cukup akrab mengingat sifat dasar Luhan memang cenderung ramah pada semua orang.
"hmh, ini aku."
Mungkin jika tidak di rumah sakit Luhan akan terlihat ramah, tidak seperti ini dirinya rlihat cemas, terus melihat ke kanan dan ke kiri lalu bertanya "Dimana dia?"
"Tenang sedikit tuan muda, dia masih didalam, sedang menjalani kemoterapinya."
"mwo?"
Luhan lemas dan nyaris terjatuh jika Jongdae tidak menahan tubuhnya, tiba-tiba pandangannya berputar dan perutnya semakin mual menyadari hal yang dikiranya sudah baik ternyata semakin buruk, dan sangat buruk terlebih saat seseorang didalam sana bersikeras melakukan pengobatannya seorang diri tanpa seorang pun tahu tentang kondisinya.
"Kekasihmu akan baik-baik saja tuan muda."
Dan ya, alasan Luhan meminta kembali ke negara yang sudah membuatnya memiliki trauma sangat buruk adalah Myungsoo, dan karena Myungsoo pula dia harus bermain hide and seek karena kondisi kekasihnya sejak delapan bulan lalu sudah dinyatakan buruk dan kritis oleh dokter.
"Kanker darah stadium tiga, melihat potensinya kanker itu bersifat ganas dan akan mudah menyerang imun si penderita."
Itu yang dikatakan dokter delapan bulan lalu, bersamaan dengan malam mengerikan saat Myungsoo menolongnya dari bajingan yang tak lain adalah mantan kekasihnya, Jackson, saat itu lagi-lagi mereka terlibat perkelahian, yang membedakan bukan Sehun yang datang melainkan Myungsoo yang harus menjalani perawatan intensif karena serangan Jackson di kepalanya.
"ITU SALAHKU GE!"
Bayangan dia bertengkar dengan Yifan yang terus meminta tenang kembali teringat, awalnya Luhan mengira adalah salahnya hingga Myungsoo tak kunjung sadarkan diri, pukulan dikepalanya memang telak, tapi dokter memprediksi dalam dua hari Myungsoo akan sadarkan diri.
Hal itu membuat Luhan cemas karena Myungsoo tak kunjung sadarkan diri, membuatnya sangat risau hingga Yifan meminta pemeriksaan lengkap pada Myungsoo dan menemukan bahwa Myungsoo memiliki kelainan pada tubuh, dimana sumsum tulang belakangnya memproduksi sel darah putih secara berlebihan hingga membuat kerja dan sistem saraf otaknya lambat dalam merespon.
"Sudah berapa lama?"
Kala itu Luhan bertanya seorang diri, tak ada yang mengetahui hasil pemeriksaan lengkap Myungsoo selain dirinya, hanya dirinya, tidak Yifan, tidak Kwangsoo maupun Myungsoo sendiri.
"Pasien sudah menjalani perawatan di Seoul hospital selama dua tahun."
Harapan Luhan menunggu Sehun dibuat hancur karena pernyataan dokter yang menangani Myungsoo saat itu, dua tahun adalah waktu yang sama yang digunakan Myungsoo untuk menyatakan cintanya terus menerus.
"aku tidak bisa L, sungguh, bukan karena kau pria yang buruk, hanya saja aku sudah mencintai orang lain."
Dan itu adalah jawaban yang sama yang diberikan Luhan pada Myungsoo, entah karena alasan pengobatan atau Myungsoo mengejar cintanya, yang jelas lelaki baik hati itu memang datang ke Beijing secara intens, tepatnya satu tahun lalu dia memutuskan menetap di Beijing dan menjadi sarjana termuda jauh dari keluarganya.
Luhan banyak menangis saat itu, saat dimana hati dan pikirannya dipenuhi rasa bersalah atas cinta dan kesabaran Myungsoo, dia menangis banyak karena tahu keputusannya setelah ini akan mempengaruhi hubungan Myungsoo dan Sehun, termasuk dirinya.
Tapi dia berjanji, dia bahkan sudah bersumpah untuk meminta Myungsoo menjadi kekasihnya saat lelaki tampan itu membuka mata, bersama akan melewati rasa sakit Myungsoo saat kekasihnya siap menceritakan kondisi sesungguhnya.
"hyung, bagaimana kabar terakhirnya? Apa dia sudah mendapatkan pendonor?"
Jongdae membawa Luhan duduk tak jauh dari ruangan Myungsoo menjalani kemoterapi, menepuk singkat pundak Luhan lalu menggeleng tanda menyesal "Kondisi terakhir sudah masuk pada stadium empat, dan dia belum mendapatkan donor sumsum tulang belakang yang cocok Lu, satu-satunya harapan dirinya bertahan hidup hanya obat dan kemoterapi."
Lalu Luhan tertunduk, dia terisak dalam diam menyesali ucapan kasarnya pada Myunsoo kemarin siang, dia juga membuat kekasihnya bersedih karena mengatakan hal gila tentang Myungsoo tidak mencintainya walau nyatanya, daripada mendiang kedua orang tuanya, Myungsoo lebih mencintainya, dengan sabar, dengan perhatian dipenuhi cinta di hatinya.
"apa yang sudah kulakukan, hkss—sayang…."
Luhan terisak menyesal. Jongdae membiarkannya karena situasi ini adalah situasi yang sangat wajar melihat bagaimana Luhan mengetahui kondisi kekasihnya tapi sekuat tenaga dan segenap hati berpura-pura tidak mengetahui apapun.
"Setelah kemoterapi dia akan segera diizinkan pulang dan akan merasa lebih baik setelahnya, jangan khawatir Lu."
Luhan tidak merespon apapun, dia hanya terisak pilu dengan kepala tertunduk, membayangkan didalam sana Myungsoo sedang kesakitan sementara dirinya hampir dibuat gelap mata untuk menyukai Sehun lagi disaat yang sama.
Hatinya dipenuhi rasa bersalah lalu tak lama Jongdae menepuk lembut bahunya "Mereka sudah selesai Lu."
Buru-buru Luhan berdiri, bersembunyi di antara pilar rumah sakit untuk melihat beberapa perawat dan dokter mendorong tempat tidur Myungsoo ke ruang perawatan, disana Luhan bisa melihat betapa pucat wajah kekasihnya dipenuhi dengan banyak transfusi kantung darah menggantung diantara infus jarum di tangannya.
Namun yang membuatnya terenyuh adalah kenyataan bahwa disela rasa sakit yang harus dirasakannya, Myungsoo masih tersenyum sementara beberapa perawat terus menjelaskan dengan wajah serius.
"Apa kau ingin menemuinya?"
"aniya, Aku akan tetap menunggu sampai dia memberitahu sendiri kondisinya."
"Tapi sampai kapan?"
"entahlah, jika aku kesana sekarang, itu hanya akan melukai harga dirinya, aku tahu bagaimana kekasihku."
Setelahnya Luhan berjalan gontai meninggalkan rumah sakit, hatinya sakit, pikirannya kosong, entah bagaimana lagi dia harus meyakinkan Myungsoo, tapi rasanya membiarkan kekasihnya merasa lebih baik adalah hal yang harus dilakukan untuk kebaikan Myungsoo sendiri.
.
.
.
.
.
.
.
"Kenapa kau terlihat sedih hari ini? Ada yang mengganggumu?"
"Diam dan bisakah kau tidak menggangguku hari ini?"
"Tidak bisa, itu suatu kerugian untukku."
"bajingan, Minggir kau!"
Rupanya Luhan merubah lagi sikapnya pada Sehun, kali ini menjadi sangat dingin dan kasar, dia hanya tidak ingin terjatuh pada pesona lelaki yang pagi ini memakai kemeja putih yang memperlihatkan lekuk sempurna tubuhnya sementara dirinya hanya memakai kemeja flanel merah hitam hingga perbedaan sangat terlihat diantara mereka.
"Kau mengumpat lagi, apa kau lupa siapa aku?"
Sehun, lelaki tampan bak seorang dewa itu terlihat kesal namun tetap bersabar, dia memang sengaja menungggu Luhan di depan pintu kamarnya untuk turun menggunakan lift bersama, sejujurnya dia sudah terbiasa dengan sikap kasar Luhan, hanya saja pagi ini ada sesuatu yang membuat Luhan semakin terlihat kasar dan dia tidak tahu apa penyebabnya.
Ting!
Pintu lift terbuka, Luhan mengabaikan segala ocehan Sehun begitupula Sehun, dia tidak peduli jika Luhan mengumpat dan biarkan saja, dia lebih memilih Luhan mengumpat daripada menekuk kesal wajahnya seperti ini.
"Kau tidak cantik jika menekuk wajah seperti itu, tersenyumlah."
Luhan mengabaikan lagi, dia hanya melihat ke depan, hingga pantulan Sehun terlihat di pintu lift, lelaki itu sepertinya sedang mencoba membuka tasnya hingga membuat Luhan berteriak sangat kesal
"JANGAN MENYENTUH BARANG-BARANGKU!"
Tidak, Sehun tidak ingin menyentuh barang milik Luhan, dia hanya ingin menutup resleting tas si mahasiswa ceroboh didepannya, itu terbuka, tapi di luar dugaan Luhan berteriak seolah dirinya adalah hal menjijikan yang tak pantas menyentuh apapun, rasanya sakit, tapi Sehun menutupinya dengan bertanya menantang
"Kenapa kau berteriak?"
"Karena aku muak berada di sekitarmu!"
"benarkah?"
"YA! ENYAHLAH! ENYAH DAN JANGAN PERNAH DATANG MENEMUIKU LAGI!"
Mungkin, Luhan akan menyesali teriakan benci tak beralasan pada Sehun, mungkin dia akan banyak menangis jika Sehun benar-benar menghilang, mungkin.
Tapi Sehun tahu itu hanya emosi Luhan sesaat, dia tahu ada sesuatu yang terjadi tapi berusaha untuk terus memancing Luhan agar terus bercerita "Ada apa denganmu?"
Ting!
Kemudian pintu lift sampai pada tujuan mereka, Luhan lebih dulu keluar dari dalam sana sementara Sehun mengikutinya, setengah menahan lengan Luhan untuk bertanya "Jawab aku Lu!"
"Lepas!"
"Tidak sampai kau beritahu aku apa yang terjadi? Kenapa kau terlihat sangat kacau?"
Sesaat Luhan ingin menceritakan semuanya, ketakutannya, rasa gusarnya, tapi dia tahu bercerita pada Sehun tidak akan menyelesaikan apapun, hanya membuatnya semakin terjebak dalam pesona memabukkan yang dimiliki lelaki tampan didepannya.
"Aku terus bertanya apa yang harus aku lakukan agar kau berhenti menggangguku?"
"Apa kau benar-benar ingin aku menjauhimu?"
"YA!"
Sehun mengendurkan pegangan di lengan Luhan, dia nyaris menyerah lalu melihat gurat putus asa di kedua mata Luhan, dia mengambil kesempatan ini untuk menyiksa Luhan, membuatnya memilih dengan mengerling seseorang yang kini berada di antara mereka
"Kalau begitu buktikan, pergi dan cium kekasihmu, aku memperhatikan."
Kerutan di dahi Luhan semakin terlihat bersamaan dengan tantangan Sehun untuknya, dia bertanya-tanya apa yang sedang dikatakan Sehun hingga membuatnya menoleh dan cukup bahagia melihat siapa yang sedang berdiri di belakangnya, tersenyum sangat lembut walau wajah pucat itu masih sedikit terlihat dan coba disembunyikan kekasihnya.
"Maaf kemarin aku tidak datang Lu, aku sibuk, banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan."
BOHONG!
Luhan ingin menjerit seperti itu, memaksa Myungsoo mengatakan kondisinya yang sesungguhnya, tapi dia tahu Myungsoo masih membutuhkan waktu, memastikan bahwa saat penyakit itu diberitahukan semua dalam keadaan siap dan tak ada yang saling mengasihani, tidak dirinya, tidak Sehun maupun Myungsoo sendiri.
"Kau tahu apa yang harus kau lakukan."
Lalu tiba-tiba Sehun berbisik padanya, membuat emosinya kembali meluap untuk sekedar membuktikan bahwa kesehatan Myungsoo adalah prioritas untuknya, lelaki itu terus menguji kesabarannya sementara kekasihnya terus mengatakan "Maafkan aku Lu." untuk kesalahan yang tak pernah dilakukan.
"Wae? Kau takut aku sakit hati?"
Jadilah Luhan berada dalam keraguan terbesar dalam hidupnya, sekalipun, setelah Sehun dia tidak pernah mencium seseorang di bibirnya, lalu lelaki itu terus menantang hingga tanpa sadar kakinya melangkah meninggalkan Sehun, mendekati Myungsoo yang terus menyembunyikan kenyataan tentang dirinya, hingga akhirnya hal itu terjadi
"tidak…"
Katakanlah Sehun kesulitan bernafas saat ini, saat dimana Luhan menarik lengan sahabatnya, memutar tubuhnya agar mata mereka tetap bertemu ketika bibir itu disatukan, untuk beberapa saat Luhan tak berkedip mencium bibir Myungsoo, menatap Sehun penuh kemarahan namun tersirat kesedihan yang mendalam.
"haah~"
Begitupula Sehun, dia terus menguatkan dirinya sendiri, disini dia sedang terlihat sangat menyedihkan saat melihat bibir mungil Luhan bergerak di bibir sahabatnya, terlalu sakit, namun dia tak berkedip melihat bagaimana Luhan kini menatapnya keji.
"Luhan~"
Dia bisa mendengar suara lirih Myungsoo disela ciuma mereka, Luhan tidak membiarkan sedikit pun bibir itu terpisah hingga tanpa sadar air mata Sehun terjatuh bersamaan dengan Luhan yang kini menutup erat matanya.
Terdengar langkah yang mengerikan berjalan mendekati mereka, sesaat Luhan mengira Sehun akan memukul Myungsoo, membuat kekacauan namun tebakannya salah, tak sekalipun Sehun melakukannya, lelaki itu pergi dalam kehancuran, melewati bagaimana lelaki yang dia cintai kini membuktikan siapa yang sudah dipilih hatinya, yang dicintainya, sementara dia tenggelam dalam kekalahan dan rasa sakit di hatinya.
"haah~"
Lalu setelah memastikan Sehun tak ada diantara mereka, Luhan melepas ciuman di bibir Myungsoo, seluruh tubuhnya gemetar hingga Myungsoo harus menopang pinggang Luhan sementara kekasihnya menempelkan dahi di pundaknya "Luhan, ada apa? Kenapa tiba-tiba kau bersikap seperti ini."
"Tidak ada, hatiku hanya terlalu senang, aku sangat bahagia L, gomawo."
Luhan bukan pembohong yang baik, caranya berbohong sangat buruk bahkan sangat terlihat, bagaimana dia "sangat bahagia" jika yang dilakukannya saat melepas ciuman mereka adalah terus menangis, dan bagaimana bisa dia "terlalu senang" jika yang terus dia gumamkan adalah "maaf."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
A week later…
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sudah satu minggu berlalu sejak Luhan memenangkan taruhannya dengan Sehun,dan selama satu minggu itu pula dia tidak melihat Sehun di sekitar apartemennya, hanya sesekali di kampus itu pun tidak mengajar dikelasnya, Sehun sepertinya menghindar dan harusnya Luhan berbahagia bukan merasa cemas seperti ini.
"haah~"
Tapi hari ini adalah hari pengecualian untuk Luhan merasa cemas, hari ini dia bebas tanpa ingin memikirkan tugas dan kenyataan bahwa Sehun adalah dosen pembimbingnya menuju sidang skripsi, menggelikan memang, tapi terimakasih pada Myungsoo karena ajakan kencan hari ini sungguh membuat mood nya dalam keadaan baik.
"Dimana kekasihmu Lu?"
Yang bertanya adalah Minseok, dan bukan tanpa alasan Luhan membawa asisten yang bekerja untuk menjaganya, itu karena hari ini Myungsoo mengatakan akan sedikit terlambat hingga terpaksa Luhan mengajak seseorang untuk menemaninya bermain lebih dulu.
"Nanti, sebentar lagi dia datang hyung, ini minumlah." Katanya menyerahkan sekaleng soda untuk Minseok, keduanya membuat gerakan yang sama untuk membuka kaleng soda lalu menenggak rakus tanda bahwa mereka sangat kelelahan bermain di cuaca yang terik seperi ini.
"Baiklah, tapi ini sudah satu jam dia terlambat, kita bahkan sudah bermain tiga wahana."
Glup~
Luhan meringis saat sensasi soda masuk kedalam kerongkongannya, alisnya sedikit mengerut membenarkan lalu berkata "Aku akan menghubunginya hyung."
"Baiklah, cepat hubungi kekasihmu, sangat terik disini."
Saat ini mereka sudah berada di wahana bermain tempat dirinya akan bersenang-senang dengan Myungsoo, dan seperti yang dikatakan Minseok di awal mereka sudah bermain tiga wahana dan ketiga tiganya cukup menguras tenaga karena menyaingi tenaga dan kelincahan Luhan bukanlah keahliannya.
"Lelah sekali…"
Jadi wajar jika Minseok mengeluh lelah dan berharap kekasih Luhan segera datang agar setidaknya dia bisa beristirahat di dalam mobil "Bagaimana?" tanyanya, dan Luhan mengangkat bahu sebagai jawaban "Tidak diangkat, sepertinya masih dalam perjalanan atau-….ah! Itu dia hyung!"
Sontak Minseok ikut menoleh saat Luhan berteriak menunjuk ke arah kekasihnya, matanya sekilas menatap lelaki tampan yang sedang berjalan ke arah Luhan menggunakan kaos putih dipadu celana pendek selutut dan terlihat sedang melambai ke arah Luhan yang kini memekik tak sabar melihat kekasihnya "Dia kekasihmu?"
"eoh! Tampan bukan?"
"Ya, tampan memang." Minseok mengakui lalu kedua sejoli itu bertemu dengan Luhan yang lebih dulu memeluk sementara pria berlesung pipi itu mengusap gemas surai kekasihnya "Maaf aku terlambat." Katanya berbisik dibalas gelengan kepala Luhan "Tidak masalah, Minseok hyung menemaniku."
Barulah Myungsoo beralih dari pelukan Luhan, kini dia berhadapan dengan Minseok untuk mengucapkan terimakasih pada asisten sekaligus penjaga yang mengawasi Luhan selama berada di Seoul "Terimakasih sudah menemani anak manja ini, aku Kim Myungsoo."
"Kim Minseok." Ujarnya membalas jabatan tangan Myungsoo, awalnya dia tersenyum mengagumi ketampanan Myungsoo hingga lelaki berparas mungil itu sedikit memekik "omo!" saat melihat sosok lelaki tampan lain sedang berjalan bersama wanita dan terlihat menuju ke arah mereka "Sehun?"
Sontak nama Sehun membuat Luhan menoleh, begitupula Myungsoo, tapi berbeda dengan Luhan yang terkejut, Myungsoo terlihat biasa saja bahkan menyambut kedatangan sahabatnya itu bersama wanita yang diketahui Luhan adalah mahasiswi yang selalu memanggil Sehun dengan sebutan "hyung."
"Maaf kami terlambat."
"Tidak masalah, aku juga baru sampai."
Disaat Luhan menunjukkan raut tidak suka lantaran kedatangan Sehun dan wanita disampingnya, Myungsoo justru menyambut hangat lelaki yang tak hanya menjadi tetangga di depan apartement tapi juga menjadi dosen pembimbing skripsinya.
"Hay Minnie hyung."
"oh, hay Sehunna."
"apa-apaan ini!"
Tingkat kekesalan Luhan kini bertambah secara drastis, pertama karena Myungsoo sepertinya tahu akan kedatangan Sehun, kedua selain Myungsoo rupanya Minseok hyung mengenal akrab lelaki yang entah mengapa terus meliriknya dengan seringai di senyum serta wajahnya.
"Sayang ayo pergi!"
Sengaja Luhan menggenggam tangan Myungsoo, membuat Sehun menampilkan raut kecewa yang sama dengan raut kecewa saat dirinya mencium Myungsoo didepan lelaki itu, dan setelah kejadian satu minggu lalu, Luhan tidak lagi melihat dosen pembimbingnya tersebut, tidak dikampus tidak pula di lift apartement, Sehun seperti hilang entah kemana lalu tiba-tiba muncul dengan wanita yang Luhan ketahui bernama Kim Sejeong.
"Baiklah kita pergi bersama dengan Sehun dan kekasihnya."
DEG!
Tampar wajahnya saat ini karena bersikap berlebihan saat Myungsoo mengatakan wanita itu adalah kekasih Sehun, rasanya sesuatu menancap berlebihan di hatinya, sakit, tapi Luhan tidak tahu karena apa.
Yang Luhan tahu wanita itu terlihat canggung seraya berjinjit mendekati Sehun lalu berbisik "Kekasih?" dibalas senyum tegas Sehun yang kini merangkul paksa Sejeong hingga refleks terdengar suara memekik dari wanita yang kini dikenalkan Sehun sebagai kekasihnya.
"Biar aku kenalkan pada kalian, ah, untuk Luhan kau pasti sudah mengenalnya bukan? Kami memutuskan untuk bersama satu minggu yang lalu, tepat saat kau membuktikan sesuatu padaku, kenalkan dia Kim Sejeong, kekasihku!"
Luhan membuang wajahnya saat Sehun mengenalkan wanita dengan julukan the goddess from Hanyang university sebagai kekasihnya, dia tidak ingin merespon dan hanya mencengkram kuat jemari kekasihnya hingga membuat Myungsoo bertanya "Ada apa?"
"Ayo pergi, kenapa kita harus bersama mereka?"
"Maaf tidak memberitahumu sebelumnya, tapi ini double date Lu."
"mwo?"
"Sebagai perayaan hari jadi Sehun dan Sejeong, sengaja aku meminta mereka melakukan double date bersama kita, kau tidak keberatan bukan?"
Luhan tergoda ingin mengumpat, dia bahkan sudah akan menangis jika tidak menyadari raut wajah Myungsoo kembali terlihat pucat, dia hanya tidak ingin membuang waktu dengan merajuk dan hanya menerima nasib sialnya dengan mengangguk seraya bergumam pasrah "Baiklah."
"Gomawo sayang." Kemudian Myungsoo mengusak surai rambutnya lalu beralih pada Sehun dan Sejeong yang sepertinya sedang terlibat percakapan serius seperti mereka, Luhan bisa melihat wanita itu terlihat bergumam panjang lebar karena sesuatu, tapi saat menyadari Myungsoo melihat kepada mereka, buru-buru Sehun melingkarkan tangannya di pinggang Sejeong untuk bertanya "Apa kita sudah bisa bermain?"
Membawa Luhan ke pelukannya juga, Myungsoo dengan senang hati menjawab "Tentu saja."
Dan berdampingan mereka pun berjalan memasuki kawasan wahana bermain, mereka berjalan beriringan dengan Myungsoo berada paling ujung kiri disusul Luhan disampingnya, lalu disamping Luhan berdiri Sehun yang terus berdebat dengan Sejeong entah karena apa, terakhir di posisi paling kanan Minseok sepertinya terlihat resah karena menjadi satu-satunya yang tidak memiliki pasangan.
Dia pun tiba-tiba berhenti melangkah hingga membuat Sehun dan Sejeong menyadarinya "Hyung kenapa berhenti?" pertanyaan Sehun disusul langkah henti yang sama oleh Luhan dan Myungsoo, keduanya menoleh lalu terkekeh saat Minseok menjawab "Aku menjadi satu-satunya yang tidak memiliki pasangan disini."
Tak mengerti, Sehun justru bertanya "Lalu kenapa?
"oh ayolah! Aku akan menunggu di mobil saja kalau begitu, lagipula aku lelah menemani Luhan bermain."
"ooohh…"
Sehun mengangguk baru mengerti disusul suara Luhan yang mengizinkan "Baiklah hyung, aku rasa kami tidak akan lama disini."
"wae?"
"Karena kehadiran seseorang membuatku panas!"
Jelas seseorang yang dimaksud Luhan adalah Sehun, hal itu membuat Sehun beralih menatap lelaki cantik yang sedari tadi memutus kontak mata dengannya, sebenarnya daripada Luhan yang memandangnya benci hati Sehun terasa lebih sakit saat Luhan enggan menatap wajahnya, membuat raut sendu terlihat di wajahnya namun dia tutupi dengan menimpali ucapan sengit Luhan "Tenang saja hyung, di antara kami Luhan akan menjadi satu-satunya yang menikmati permainan."
"yang benar saja!"
Dia mengelak, dan Sehun mantap mengatakan "Aku bertaruh, kita lihat saja."
Anggap saja ini adalah kali terakhir Sehun menggoda dan mengganggu Luhan setelah kalah bertaruh dari lelaki cantik yang memandangnya sengit saat ini, lagipula dia memang sudah kalah saat Luhan membuktikan dan mencium Myungsoo didepan kedua matanya hari itu, hari dimana harapannya pupus namun tidak dengan tekadnya untuk berjuang sedikit lebih lama.
Dia hanya ingin membuktikan sesuatu hari ini, dan jika sesuai dengan rencananya maka menjauhi Luhan akan menjadi hal yang dicoretnya dalam list menjalani hidup, dia hanya perlu membuktikan satu hal, dan semoga Tuhan memberikan jawabannya kali ini.
"Baiklah L, kajja!"
Sementara Minseok terlihat menjauhi wahana, Sehun dengan tangan yang menggenggam Sejeong lebih dulu masuk ke dalam wahana bermain sementara Myungsoo dan Luhan berada di belakangnya, kesempatan berdua dengan kekasihnya tidak disia-siakan Luhan dengan bertanya sedikit berbisik di telinga Myungsoo "Sayang…"
"hmh?"
"Darimana Sehun dan Minseok hyung saling mengenal?"
"oh, Kau ingin tahu?"
Luhan mengangguk dan Myungsoo merangkul pinggang kekasihnya untuk menjelaksan "Kau ingat Kim Jongin?"
"Kim—siapa?"
"Jongin, mmhh….Kita memanggilnya Kai, kau ingat?"
"ah, Yang suka menggangguku dulu? Dengan June?"
"Kau ingat." Myungsoo membenarkan lalu kembali berkata "Seingatku Minseok hyung adalah sepupu Jongin."
"Benarkah? Tapi kau tidak mengenalnya?"
"Teman dekatku Kyungsoo bukan Jongin, lagipula hingga saat ini aku tidak terlalu dekat dengan kekasih Kyungsoo itu."
"omo! Kai dan Kyungsoo akhirnya menjadi kekasih?"
"Jangan terlalu terkejut sayang, tekad Jongin bulat untuk menikahi Kyungsoo."
"hahaha…Mungkin dia terinspirasi oleh kakaknya dan Yunho hyung."
Tak mengerti Myungsoo bertanya "Kau tahu Jaejoong dan Yunho hyung sudah menikah?"
"eoh, aku bahkan tahu kalau lelaki itu dan Jongin memiliki keponakan bernama Haowen." Katanya menunjuk Sehun yang sedang membeli empat tiket sementara Myungsoo tersenyum kecil mendengarnya "Jadi sudah berapa banyak kalian saling berbagi cerita?"
"Tidak banyak, itu berakhir saat kau memutuskan pulang ke Seoul."
"mmh…"
Sekalipun Luhan mengatakan tidak peduli pada Sehun, nyatanya dia bisa mengingat setiap detail bahkan nama keponakan Kai dan Sehun dengan baik, hal itu hanya menunjukkan bahwa saat Sehun bercerita random Luhan akan mendengarkan dengan baik walau terus mengatakan benci.
"Myungsoo…."
"hmh?"
"Kenapa hanya diam?"
Menutupi raut pucat di wajahnya, Myungsoo tersenyum canggung seraya bertaruh untuk memberitahu Luhan "Aku hanya penasaran apa Sehun sudah bercerita kalau Park dan Byun akan menikah sebentar lagi, bulan depan mungkin."
Merasa tidak asing dengan panggilan dua marga berbeda itu, Luhan mendongak dan bertanya lagi pada Myungsoo "Siapa?" katanya mengulang, membuat Myungsoo mengusap sayang surai kekasihnya untuk memberitahu "Chanyeol dan Baekhyun, kau ingat mereka bukan?"
Sebenarnya mendengar nama Park dan Byun memang sudah mengarah pada kedua pria yang selalu bertengkar layaknya tom and Jerry, mungkin jika Myungsoo mengatakan mereka menjadi musuh abadi akan lebih mudah diingat oleh Luhan, tapi ayolah! Ini soal pernikahan, jadi wajar jika Luhan bertanya mengulang hingga kekehan terdengar dari kekasihnya "Yasudah jika tidak ingat, aku akan mengajakmu ke pernikahan mereka nantinya."
Sendu, Luhan menggeleng untuk mengatakan "Aku ingat."
"Benarkah?"
"Satunya pernah menghabiskan waktu bersamaku dan yang satu-…." Dia tampak tertunduk untuk bergumam kecil di pelukan kekasihnya "Aku pernah membuatnya kalah memalukan di pertandingan terakhirnya sebagai kapten."
Merujuk pada kata ganti "yang satu" terakhir, Myungsoo tahu itu mengarah pada Chanyeol, saat itu dia juga melihat bagaimana Chanyeol membentak Luhan disaat yang sama dengan rumor sialan itu membuat kekasihnya hancur.
Jadi sejujurnya dia menyesal mengingatkan Luhan tentang Chanyeol, hingga membuatnya refleks mendekap erat si lelaki cantik, mengecupi surai kepala Luhan untuk berbisik "Itu sudah lama berlalu Lu, kau tidak perlu mengingat apa yang sudah terjadi jika itu menyakitkan."
"Aku merasa bersalah padanya."
"Kalau begitu apa aku tidak perlu datang ke pernikahan mereka?"
"andwae! Kau harus datang, tanpaku."
"araseo, kita lihat nanti saja, sekarang kau harus bersenang-senang."
Luhan hanya diam mengangguk, perlahan dia melingkarkan tangannya di pinggang Myungsoo dan bersembunyi di dada kekasihnya, dia sepertinya akan menangis jika Myungsoo tidak terus menggodanya, membuat air mata itu hilang digantikan dengan tawa kesal namun dipenuhi bahagia karena Myungsoo memang selalu berhasil membuatnya menjadi lebih baik dan istimewa.
"Blush on di pipimu luntur jika menangis sayang!"
"ish! Aku tidak pakai blush!"
Dan pertengkaran konyol keduanya kini ditangkap oleh mata seseorang yang sepertinya terluka nyaris hilang harapannya, melihat bagaimana Luhan mendekap erat Myungsoo begitu nyaman, dan Myungsoo tertawa sabar meladeni segala tingkah konyol Luhan hanya membuat rasa iri tak beralasan itu datang menghampiri.
Lagipula setelah empat tahun berlalu ini kali pertama dirinya melihat Luhan tertawa tanpa rasa benci, dia juga cenderung sangat memperhatikan Myungsoo hingga sepertinya pembuktian Luhan satu minggu lalu hanya menunjukkan bahwa dirinya benar-benar mencintai Myungsoo dan tak menyisakan sedikit tempat untuknya.
Dan cara Sehun menarik dalam nafasnya, memalingkan wajah tak tahan melihat kemesraan Myungsoo dan Luhan hanya membuat wanita disampingnya bertanya tak mengerti, sejujurnya wanita dengan rambut ikal sebahu itu masih kesal setiap mengingat Sehun menjadikan dirinya kekasih dadakan seperti hari ini, dia juga berniat marah tapi tiba-tiba Sehun terlihat sangat terluka membuatnya diam dan bertanya "Kau kenapa?"
Dia diabaikan, lalu tak lama Sehun melangkah menjauh, sebelumnya dia tersenyum sangat menyedihkan sebelum berjalan semakin mendekat dan memberikan tiket pada kedua pasangan yang sedang mengumbar kemesraan didepan umum seperti ini.
"Jangan-jangan dia orangnya…."
Sejeong menebak, lalu lelaki tampan itu justru berteriak "AYOLAH! KITA KESINI UNTUK BERMAIN BUKAN UNTUK BERMESRAAN! CEPAT AMBIL TIKET KALIAN!"
Sejeong melihat bagaimana Luhan mendesis kesal sementara Myungsoo tertawa, lalu yang memiliki lesung di pipinya mengambil dua tiket dari tangan Sehun dan bergegas membawa kekasihnya masuk jika tidak ingin terjadi keributan.
Keduanya pun melewati Sejeong di dekat booth ticket, Myungsoo dengan sopan tersenyum padanya sementara Luhan membuang wajah entah karena apa "Kenapa dia?—ish!" tak terima dia pun ingin menuntut pada Sehun, menunggu Sehun berjalan mendekat dan memberikan satu tiket padanya "Ayo masuk."
"Sehun!"
"hmh?"
Buru-buru Sejeong mendekat padanya, meminta Sehun untuk menunduk lalu bertanya dalam keraguan "Apa lelaki arogan itu orangnya?"
"Apa?"
"Yang sering kau ceritakan padaku, pembuat karakter Zoro dan Goro."
Sehun tak lagi menunduk, dia kemudian tertawa kecil untuk mengangguk membenarkan "Ya, dia orangnya."
"Astaga! Bagaimana bisa kau jatuh cinta padanya? Maksudku, dia memang terlihat cantik dan sempurna, tapi sikapnya NOL BESAR! Dia bahkan terus mendelik padaku entah karena apa!"
"Dia menatap kesal padamu?"
"YA! SEDARI TADI BAHKAN SAAT MEREKA MELEWATIKU MASUK KEDALAM WAHANA!"
Sehun membiarkan Sejeong berteriak, rasanya justru lega mendengar Luhan bersikap tak sopan pada seseorang yang baru ditemuinya, tidak, maksud Sehun seperti ini, dulu, awal mereka saling mengenal Luhan terkenal ramah hanya saja dirinya tidak menyambut baik hingga dia kesal lalu bersikap sama keras dengannya.
Dan Luhan memang terkenal sangat ramah terbukti dari kemampuannya untuk bergaul dengan lelaki sekelas Baekhyun yang sangat pemilih, bahkan Kyungsoo si anti social pun bisa dibujuknya untuk bermain.
Jadi saat tanpa alasan Luhan bersikap dingin pada Sejeong bukankah artinya dia kesal karena wanita tomboy yang terkadang terlihat cantik ini dikenalkan sebagai kekasihnya? Ah, Sehun bahkan bisa dibuat tersenyum lebar mengambil satu kesimpulan
"Aku rasa dia cemburu."
"Siapa?"
Merangkul paksa pundak Sejeong, Sehun tidak menjelaskan apapun dan hanya mengatakan "Untuk hari ini kau adalah kekasihku!"
"MWO? APA KAU GILA? AKU SUDAH PUNYA KEKASIH DAN DIA JAUH LEBIH MANUSIAWI DAN LEBIH TAMPAN DARIMU!"
"Aku tidak peduli, ayo pergi!"
"Sehun!"
Menggunakan ancaman terakhirnya Sehun dengan kejam berbisik "Sehari menjadi kekasihku atau selamanya tidak akan kubuat lulus di sidang skripsi hingga membuatmu menjadi perawan tua dan tidak bisa menikahi si tampan Junghyunnie oppa."
Menatap horror pada dosen pengujinya, Sejeong menghentakan kaki layaknya bocah untuk menarik shirt hitam polos yang dikenakan Sehun seraya merengek ketakutan "hyuuuunggg~"
.
.
.
.
.
.
.
.
Dan tepat seperti tebakan Sehun, dari mereka berempat yang terlihat menikmati wahana bermain hanya Luhan, bukan tanpa alasan karena memang sedari awal Sejeong tidak mau diajak bermain di cuaca terik seperti ini mengingat dirinya memakai rok pendek dan mengeluh kulitnya akan terbakar, lalu Myungsoo tanpa alasan terus berkeringat dan terlihat pucat, sementara Sehun?
Ah, lelaki tampan itu mengambil kesempatan disaat Myungsoo tidak bermain maka dirinya yang menemani Luhan mencoba semua wahana, terhitung hampir lima jam mereka bermain dan Luhan tidak menolak sekalipun ketika harus menaiki wahana hanya berdua dengan Sehun.
"whoaaaaaa~"
Contohnya saat ini, saat mereka berada di giant coaster dan duduk dibangku paling depan, Luhan takut ketinggian tapi wahana ini benar-benar membuatnya bisa berteriak dengan bebas, melupakan semua masalah pelik yang ada di kepalanya sementara Sehun hanya fokus melihat kesamping dan merekam semua ekspresi yang dibuat Luhan saat bermain.
Kriet..!
Tiba-tiba roller coaster itu melambat, dia sedang menanjak pelan dan Luhan terlihat cemas menggigit bibirnya, hal itu cukup lucu mengingat ini sudah dua putaran tapi Luhan masih begitu ketakutan, dan ya, katakan Sehun mengambil kesempatan karena saat wahana itu berada pada puncaknya dan siap terjun bebas dan meliuk di sepanjang rel, tiba-tiba dia menggenggam erat tangan Luhan hingga membuat Luhan menoleh dan menatapnya terkejut.
"Apa yang kau lakukan? Lepas!"
Bersiap kembali berputar di wahana mengerikan ini, Sehun hanya menatap kedepan sementara jemari tangannya mengunci erat jemari Luhan dengan seribu penolakan Luhan yang berakhir dengan teriakan tanda bahwa dia terkejut karena roller coaster tiba-tiba terjun bebas dan meliuk sangat kencang.
"WHOAAAAAAAA~"
Walau enggan diakuinya, tapi Luhan tahu putaran terakhir adalah yang paling nyaman mengingat jemarinya kini sedang bertautan erat dengan jemari Sehun, dia tahu ini salah, tapi dia lelah menolak karena pasti Sehun akan tetap memaksa.
"BUKA MATAMU LU!"
Sehun berteriak, membuat Luhan mengikuti instruksinya untuk dibuat takjub melihat pemandangan langit yang begitu indah saat posisi kepala mereka berada dibawah, mungkin jika roller bergerak sedikit lambat Luhan bisa melihat lebih lama keindahan langit yang bisa dilihatnya dari sini, namun sayang roller terus meliuk dengan cepat hingga akhirnya berhenti di tempat semula diiringi tawa dan teriakan puas dari seluruh pengunjung wahana.
"haaah~"
Luhan cukup berkeringat ketakutan, menetralkan sejenak nafasnya sampai dia sadar tangan Sehun terlalu hangat untuk diabaikan, dia pun terkejut, buru-buru dilepasnya tangan Sehun seraya mendelik tajam dan memarahi lelaki disampingnya "Berhentilah bersikap sesukamu!" sungutnya kesal, lalu keluar dari wahana diikuti Sehun yang masih tersenyum mengingat betapa mungil jemari Luhan di jemarinya.
"Kelak aku akan menggenggam jemari milikmu Lu, selamanya."
Janji gila itu dia ucapkan sementara Luhan sudah berada di gazebo yang disewa Myungsoo untuk merengek "Tapi aku ingin naik bianglala bersamamu!"
"Istirahat dulu Lu, wajahmu masih pucat."
"Wahana itu tutup setengah jam lagi sayang!"
Sehun bisa melihat perbedaan sikap Luhan pada Myungsoo dan dirinya benar-benar sangat berbeda, jika dengannya hanya teriakan dan sikap dingin, maka dengan Myungsoo dia terlihat menggemaskan saat merengek dan meminta segala keinginannya dipenuhi.
"haah~"
Kini gilirannya mengambil banyak nafas yang terasa menyesakkan, dipikirnya lima jam bermain bersama akan membuat Luhan sedikit melunak, rupanya dia salah dan hanya mencoba untuk memaklumi keadaan saat bergabung dengan Sejeong dan sepasang kekasih didepannya.
"Kenapa lagi dia merengek?"
"ssh…"
Luhan menatap tak suka sementara Myungsoo terkekeh "Dia ingin naik bianglala itu." Tunjuknya dan Sehun menawarkan diri "Aku bisa menemani."
"shirheo! Aku tidak mau lagi denganmu, aku ingin dengan kekasihku!"
"oh, yasudah."
Berpura tak peduli walau hatinya mencelos sakit, Sehun duduk disamping Sejeong yang sedang melihatnya setengah menyindir "Sudah puas? Kita bisa pulang sekarang?" dia berbisik dibalas pertanyaan Sehun "Kapan jadwal sidangmu?"
"Lusa dengan Professor Hyun, puas!"
Terkenal lebih mematikan daripad Sehun, professor Hyun yang sedang dibicarakan Sejeong memang mengerikan, jadi wajar jika teman yang kini menjadi mahasiswinya itu menggerutu hingga membuat Sehun terkekeh tak enak hati "Baiklah, aku akan hadir disidangmu sebagai dosen penilai, bagaimana?"
"Benarkah? Kau tidak bohong lagi padaku, kan?"
"Jika kau bertahan sampai akhir untuk hari ini, aku akan datang!"
Keduanya terus berbisik satu sama lain, membicarakan hal seputar sidang namun dibalas berbeda di penglihatan Luhan, dia merasa Sehun begitu akrab dengan Sejeong, mereka juga terlihat akrab dan menggemaskan terlebih saat Sehun mengacak sayang rambut Sejeong.
Entah apa yang mereka bicarakan, tapi apapun itu pasti hal menyenangkan mengingat Sejeong tersenyum sangat cantik lalu tiba-tiba bergumam "Baiklah! Akan kubelikan minum untuk kita semua."
"gomawo chagiya!"
Mata Sejeong membulat lebar saat Sehun mengatakan sayang secara tiba-tiba, membuatnya nyaris muntah jika tatapan dingin Sehun tidak memperingatkan dan menuntutnya untuk membalas "Bukan masalah sayang, haha!"
Tawa terakhirnya terdengar sinis tapi tidak ditangkap pendengaran Luhan sama sekali, yang dia dengarkan kedua pasang sejoli itu sedang mengumbar kemesraan hingga membuatnya kesal tanpa alasan "Kau baik-baik saja Lu?"
Menggigit cemas bibirnya Luhan berbohong dengan mengatakan "Tentu." Walau sepenuh hatinya panas melihat bagaimana Sehun begitu akrab dengan wanita yang adalah mahasiswinya sementara belum lama lelaki itu mengatakan masih mencintainya.
"omong kosong."
Luhan kini membuang wajah, membiarkan Myungsoo dan Sehun bertukar cerita sementara dirinya terus memandang pada bianglala raksasa yang menyerupai sangkar burung it uterus berputar dengan indahnya, dia juga sedang membayangkan jika berada tepat di puncaknya mungkin dia bisa melihat matahari terbenam bersama Myungsoo, ya, itu jika Myungsoo tidak menolak lagi.
"Lupakan saja, aku akan naik bersama Myungsoo saat keadaannya sudah lebih baik."
Dan saat Luhan merelakan, tiba-tiba saja Myungsoo bertanya pada Sehun, cukup kencang hingga membuatnya menoleh dan menyadari Sehun sudah beranjak dari tempat duduknya saat ini.
"Ada apa? Sehun?"
Luhan bisa melihat mata Sehun tertuju pada hal lain, sekilas dia mengikuti kemana arah Sehun melihat hingga terlihat tiga kerumunan pria yang sedang terkikik sepertinya merencanakan sesuatu yang buruk pada Sejeong yang sedang mengantri minuman.
Gelagat mereka sudah mencurigakan, jadi wajar jika Sehun bertindak mengingat tidak ada yang menemani Sejeong saat ini "Aku hanya sebentar." Setelah memberitahu Myungsoo, Sehun berjalan lurus mendekati tempat dimana Sejeong sedang memesan minuman.
Jika mengingat bagaimana kerasnya sifat Sehun, maka berkelahi adalah kemungkinan yang akan terjadi, dia juga tidak akan membiarkan sekumpulan paman mesum itu mengganggu Sejeong terlebih jika wanita itu benar kekasihnya.
"Aku akan kesana jika Sehun terlibat perkelahian, hanya pergi dan jangan mendekat, kau dengar Lu?"
Luhan mengangguk saat Myungsoo berbisik padanya, mereka berdua mengenal Sehun jadi tidak mungkin ketiga paman itu akan lolos dari tangannya, lalu entah karena alasan apa hatinya sedih menyadari Sehun sudah berpaling dan terlihat mencemaskan wanitanya saat ini.
"Tapi aku rasa tidak akan terjadi perkelahian."
Mungkin benar tidak akan terjadi perkelahian disana, karena diluar dugaan Myungsoo dan Luhan, Sehun lebih memilih menyelesaikan masalahnya dengan cara yang dewasa, dia membuka jaket hitam yang dia kenakan lalu melilitkannya di sekitar pinggang Sejeong, Luhan bisa melihat bagaimana Sejeong memekik terkejut namun diabaikan Sehun yang kini berdiri tepat dibelakangnya, menjaga Sejeong dari ketiga paman yang terlihat menciut takut dan perlahan pergi meninggalkan antrian.
"Astaga apa benar itu Oh Sehun?"
Bahkan Myungsoo tidak mengenali sahabatnya sendiri, jujur Luhan juga terkejut hingga tanpa sadar dia memalingkan wajah tak bisa melihat Sehun sedang melindungi wanitanya disana "Myungsoo…"
"hmh?"
"Aku sudah lelah, ayo kita pulang."
"Tapi kau-…."
"Kau bilang ingin naik bianglala biar kutemani."
Lagi-lagi percakapan mereka terganggu saat Sehun dan Sejeong yang sudah memakai jaket Sehun disekitar pinggangnya kembali dengan membawa dua soda di masing-masing tangan mereka "Ini minumlah."
Luhan mengabaikan Sehun sementara Myungsoo mengambil soda milik kekasihnya di tangan Sehun lalu memberikannya pada Luhan "Minum dulu Lu." Katanya memaksa Luhan hingga Luhan tergoda dan dengan rakus menyesap soda miliknya.
"Setelah ini kita pulang." Katanya menuntut dibalas lagi oleh Sehun "Terakhir kita bisa naik wahana yang kau mau."
"Tidak terimakasih."
"Lain kali naik denganku, kali ini biar Sehun yang menemani, ya?"
"whoaaaa seru sekali, pemandangan di atas bianglala sangat indah."
Kalimat "Tidak!" yang sudah disiapkannya mendadak tak bisa diucapkan Luhan saat mendengar komentar pengunjung yang baru selesai naik darisana, lagipula hari sudah semakin gelap hingga kemungkinan dirinya bisa melihat sunset diatas sana sangatlah besar.
"Kau mau Lu?"
Slurrpp~
Luhan menenggak habis soda miliknya lalu bertanya pada Sejeong "Kau akan naik bersama kami kan?" tanyanya, dibalas dua tangan Sejeong yang membuat gerakan tidak seraya tertawa canggung menjawab pertanyaan Luhan "hahaha….tidak terimakasih, aku lebih suka berbicara dengan pengusaha muda seperti Myungsoo daripada bermain-main."
"ish! Dia kan kekasihku! Kau tidak boleh suka."
"Tenang saja aku tidak akan menyukai Myungsoo karena aku akan segera-….."
Terkekeh Sejeong hampir mengatakan aku juga akan segera menikah, jika Sehun tidak menginjak kakinya dibawah sana "ha ha…maksudku, aku juga punya Sehun, kau tenang saja Myungsoo bukan tipeku."
Kecuali Luhan mereka semua tertawa, membuat Luhan semakin terdesak lalu beranjak dari kursinya seraya mendecih kesal "Tunggu disini, aku bisa naik sendiri!"
Dia pun berjalan lurus menuju wahana sangkar burung itu seorang diri, membuat Sehun refleks mengikuti bahkan sebelum Myungsoo meminta "Sehun-….sudahlah."
Sejeong menangkap senyum getir dari pengusaha muda yang sama suksesnya dengan Sehun, tanpa sadar mulut besarnya pun bertanya "Kenapa kau membiarkan Sehun?"
Dibalas jawaban "Apa?" dari Myungsoo yang kini menyeruput soda miliknya, Sejeong kini semakin mendekat pada Myungsoo, awalnya dilanda keraguan tapi bibirnya tiba-tiba berbisik mengatakan "Sekalipun Sehun sahabatmu tapi Luhan tetaplah kekasihmu, jadi apa pantas membiarkan sahabat yang masih menyukai kekasihmu untuk berdua sepanjang hari?"
Myungsoo berhenti menyeruput soda miliknya, tiba-tiba perkataan Sejeong seperti menamparnya telak dan menunjukkan bahwa dirinya sangat tidak berguna baik sebagai seorang kekasih maupun sahabat, dia ingin mendapatkan keduanya kelak tapi berakhir semakin menyedihkan karena terus membiarkan tanpa berniat menghentikan sekalipun.
"Jika aku Luhan aku akan merasa kau tidak mencintaiku."
DEG!
Kenapa aku merasa kau tidak mencintaiku!
Ucapan Luhan terulang lagi saat ini, saat dimana dia mempertanyakan dimana ketegasannya sebagai seorang kekasih, kenapa dirinya tidak bisa melakukan apapun saat Luhan berusaha untuk menjaga jarak dari lelaki yang masih dicintainya juga.
Disana, Myungsoo bisa melihat pada akhirnya Luhan menerima keberadaan Sehun menemaninya, salah siapa? Salahnya karena membiarkan, mungkin jika dia bisa sedikit lebih tegas keduanya akan berhenti berjalan berdampingan atau lebih tepatnya berhenti terlihat sempurna saat mereka bersama.
"Myungsoo-ssi?"
"hmh?"
"Apa aku sudah keterlaluan berbicara? Maafkan aku."
Myungsoo tersenyum kecil seraya menggeleng, lalu tak lama dia menempelkan dahinya di meja seraya bergumam "Pergilah, aku tahu kau bukan kekasih Sehun."
"huh?"
"Selain Luhan, aku rasa Sehun tidak akan pernah bisa mencintai orang lain, jadi pergilah."
"Tapi apa kau baik-baik saja? Kau berkeringat sangat banyak."
"Tidak apa, pergilah."
Myungsoo meninggikan suaranya membuat Sejeong buru-buru bergegas pergi sebelum sempat mengatakan apapun pada Sehun, dia hanya tidak ingin membuat keadaan semakin buruk dan membiarkan Myungsoo seorang diri tanpa menyadari bahwa saat ini lelaki yang sikap dan hatinya terlalu lembut itu sedang mengeluarkan banyak darah dari hidungnya.
Kepalanya sakit tak tertahankan tapi dia harus bertahan jika tidak ingin Luhan dan Sehun mengetahui kondisinya, yang dia lakukan hanya terus mengusap darah sialan dari hidungnya hingga bersandar di meja adalah hal paling benar dilakukan untuk mengurangi rasa sakit di kepala, juga dihatinya, mungkin.
.
.
.
Sementara itu,
.
"Silakan masuk, akan ada tiga putaran yang harus dilalui."
Mendengar instruksi dari staff yang mengelola wahana, baik Luhan maupun Sehun mengangguk mengerti, keduanya juga sepakat untuk tidak bertengkar dan hanya menikmati wahana terakhir hari ini.
"Kami tutup."
Luhan duduk di sebelah kiri sementara Sehun di sebelah kanan, keduanya kembali mengangguk tanda mengerti lalu tak lama pintu bianglala yang mereka naiki ditutup dan dikunci dengan aman, sesuai aba-aba wahana sangkar burung itu pun perlahan naik keatas, semakin atas tapi tetap tidak ada yang berbicara.
Luhan menikmati pemandangan sementara Sehun menikmati paras lelaki cantik didepannya, dia bisa melihat bagaimana Luhan memiliki kesempurnaan di wajah mungil yang selalu dirindukannya selama empat tahun.
Yang paling menggoda adalah bibirnya, bibirnya terlihat sangat mungil dan memiliki rona merah yang khas, Sehun bahkan tiba-tiba mengingat kali pertama mereka berbagi rasa hangat di bibir empat tahun lalu, saat Luhan dan Jackson mengakhiri hubungan mereka hingga dirinya rela dipukuli hanya untuk memastikan lelaki phsyco itu benar-benar menjauhi Luhan.
Haah~
Seandainya Jeonghan tidak berulah menyebarkan rumor mengerikan tentang Luhan mungkin cerita akan berbeda, mungkin bukan Myungsoo yang akan dipanggil sayang oleh Luhan melainkan dirinya, namun sayang semua sudah terjadi hingga berusaha adalah satu-satunya harapan Sehun saat ini.
"omo!"
Tangan Luhan menggenggam salah satu besi didalam wahana, Sehun bisa melihat kuku jari Luhan berwarna putih tanda lelaki cantik didepannya ketakutan, hal itu membuatnya gemas dan mengambil paksa jemari tangan kanan Luhan lalu menggenggamnya erat.
"Apa yang kau lakukan?"
"Jangan ribut, nanti wahana ini jatuh kebawah."
"Kau-….."
Luhan terus mencoba melepas paksa tangan Sehun namun Sehun kuat menahan tangannya "Tenanlah, aku menjagamu."
"Bukan itu maksudku, bagaimana jika Sejeong cemburu?"
"Wae? Kau cemburu?"
"cih, untuk apa?"
Bahkan matanya mengatakan dia cemburu, ditambah kini Luhan menggigiti bibirnya kencang dengan mata tak fokus, Sehun tentu tidak membuang kesempatan ini untuk mengatakan "Kebiasaanmu saat berbohong adalah menggigit kencang bibirmu, matamu juga tidak fokus."
"Apa yang kau katakan?"
"Kau sedang melakukannya saat ini dan caramu berbohong, aku suka."
Luhan bergerak salah tingkah, dia memaksa Sehun melepas genggamannya namun ditahan kuat oleh si lelaki tampan, kini Sehun tertawa sementara wajah Luhan tegang karena kesal bercampur takut "Aku hanya mengkhawatirkan perasaan Sejeong, bagaimana jika kekasihmu cemburu?"
Menarik adalah melihat Luhan kesal menyebut nama Sejeong, membuat Sehun benar-benar terkekeh gemas untuk kembali menggodanya "Jadi kau hanya mengkhawatirkan Sejeong? Tidak Myungsoo?"
"Sahabatmu tidak peduli padaku."
"aniya, dia juga menyayangimu, tapi aku lebih menyayangimu tenang saja."
"omong kosong!"
Lucunya Luhan tak lagi keberatan saat Sehun menggenggam tangannya, sejujurnya dia ketakutan jadi saat Sehun memaksa dia seolah memiliki alasan untuk mempertahankan gengsinya.
"sshh…."
Wahana kini bergerak kebawah, Sehun bisa merasakan Luhan menggenggam terlalu kuat tangannya, membuatnya refleks membalas genggaman tangan Luhan hingga jari mereka bertautan sempurna "Tidak apa, nanti tidak akan mengerikan lagi."
Luhan mengangguk patuh, kemudian saat bianglala semakin kebawah dia tenang, panik lagi saat sangkar burung itu naik dengan kecepatan tinggi namun coba dia hilangkan dengan memberi pujian pada Sehun
"Aku salut padamu."
"Kenapa?"
"Kau tidak membuat keributan saat lelaki itu berusaha menggoda kekasihmu."
"Oh tenang saja, selama itu bukan kau yang diganggu, aku tidak akan membuang tenaga."
Memejamkan matanya karena bianglala sudah mulai naik lagi semakin ke atas Luhan bertanya mengintip dari matanya "Apa maksudmu?"
Sehun lagi-lagi mengambil kesempatan, dia sedikit mengusap wajah Luhan lalu tegas mengatakan "Jika preman mesum tadi mengganggumu, akan akan mematahkan tangan mereka, membuat mereka menyesal karena sudah menyentuh milikku yang berharga."
"tsk! Apa yang kau bicarakan."
Sehun mencium tangan Luhan yang ada digenggamannya lalu bergumam "Kau sangat berharga untukku, jadi jangan sampai aku melihatmu terluka karena aku akan mengejar siapa pun yang berani menyentuhmu hingga ke ujung neraka sekalipun."
Rasanya wajar jika hati Luhan berdebar hebat saat ini, Sehun terlalu frontal dan ini adalah kelemahannya, lelaki itu bahkan mengucapkan ancaman itu dengan wajah tenang tapi dipenuhi dengan kesungguhan, membuat Luhan nyaris terbuai sebelum akal sehat menguasainya "Dan kekasihmu akan menangis karena kau selingkuh denganku." Timpalnya asal dibalas tatapan tegas dari Sehun "Kau tahu Lu?"
"Apa?"
"Sejeong bukan kekasihku."
"mwo?"
"Bagaimanapun aku harus mempertahankan harga diriku, kau sudah mencium Myungsoo didepan kedua mataku, aku kalah taruhan tapi aku merindukanmu, sangat merindukanmu, jadi untuk bertemu denganmu aku harus memiliki seseorang yang kusebut sebagai kekasih bukan? Aku ingin memastikan sesuatu dan sudah kupastikan hingga aku yakin akan satu hal saat ini."
Luhan merasa bersalah dan tak percaya bersamaan, dia tidak tahu Sehun memiliki obsesi yang sangat besar padanya, terlalu besar hingga Luhan hanya bisa mendengarkan semua yang dikatakan Sehun termasuk tentang bagaimana dirinya masih memberi kesempatan pada Sehun.
"Aku tahu kau masih peduli padaku, kau juga menunjukkan tanda kau cemburu pada Sejeong, jadi aku tidak akan menyerah, aku akan tetap merebutmu dari Myungsoo."
"Kau-….."
"hehehe…."
Luhan membiarkan Sehun tertawa konyol, lagipula saat ini bianglala turun dengan kecepatan tinggi hingga membuat bulu kuduk Luhan meremang karena takut, beruntung Sehun tahu dimana harus menggenggam tangannya hingga dia merasa lebih baik, sangat baik.
"Murahan sekali caramu professor Oh."
"Kau masih mengumpat padaku?"
"Aku tidak akan berhenti mengumpat padamu, percayalah."
"Bersyukurlah karena aku sangat memujamu."
"Kenapa?"
"Karena hanya kau satu-satunya mahasiswa abadi yang kuizinkan untuk mengumpat padaku."
"ish!"
Sehun tertawa sementara Luhan terus kalah berdebat dengan lelaki tampan didepannya, mereka juga memutuskan untuk menikmati pemandangan, hingga akhirnya mereka sampai pada putaran ketiga, artinya ini akan menjadi akhir dari kencan tak langsung mereka berdua, Sehun terus mengambil kesempatan menautkan jemari tangan Luhan dan miliknya, mengusapnya sesekali hingga saat wahan mereka sampai di puncak paling atas bersamaan dengan cahaya matahari yang terbenam
"Indah sekali."
Luhan bisa melihat semua yang berada dibawah berwarna kuning keemasan, dan terimakasih pada Sehun karena tangannya sudah membuatnya kuat dan berani menoleh kebawah, dia juga berterimakasih pada Sehun karena dirinya adalah orang pertama yang bersedia menaiki bianglala pertama kali dalam hidupnya.
Katakanlah Luhan menyedihkan, tidak memiliki masa kecil bahagia karena memang dia tidak memilikinya, lagipula dia tidak pantang menyerah setelah seribu penolakan diterima Luhan dari mendiang kedua orang tuanya, dari kakaknya, dari paman Kwangsoo hingga Myungsoo.
Semua kesabarannya terbayar karena kini Sehun menjadi lelaki pertama yang menemaninya naik ke wahana mengerikan yang memberi pemandangan indah jika dinaiki di soren hari "gomawo." Katanya tanpa menoleh, diam-diam dia juga bisa merasakan tangan Sehun mengusapnya lembut dan Luhan membiarkanya sementara Sehun bertanya "Untuk apa?"
"Entahlah, hanya tidak ingin bertengkar denganmu hari ini."
Matahari semakin naik ke peraduannya, semakin tinggi hingga sinarnya kini mengenai wajah Luhan, membuatnya semakin bersinar dan Sehun tidak tahan untuk tidak memanggilnya "Luhan."
"hmh?"
Tatkala setengah wajah Luhan disinari mentari sore, dia adalah dewi sesungguhnya dari semua dewi yang diciptakan Tuhan, bayangannya sempurna memantul di mata Sehun, terlalu cantik bahkan bibir mungil itu terlihat semakin menggoda dan terlalu manis untuk hanya dibayangkan.
Jadilah Sehun membuat keputusan yang akan disesalinya nanti, tiba-tiba dia menarik lengan Luhan, membuat Luhan terkejut tak menyadari bahwa saat ini bibir Sehun sedang mencium bibirnya.
Dan setelah memproses rasa hangat di bibirnya dikarenakan bibir Sehun, Luhan mulai meronta, mencoba mendorong tubuh Sehun serta mengumpat gila disela ciuman Sehun yang begitu memabukkan.
Entah apa yang coba dilakukan Sehun tapi saat tangannya berada di belakang tengkuknya serta mengusapnya lembut, Luhan merasa begitu tenang, debaran dijantungnya menghianati akal sehatnya, dia berhenti memukul dan mendorong walau pikirannya masih begitu marah pada tindakan Sehun.
Dia enggan membuka bibir tapi Sehun dengan sabar terus menggodanya, mengecupi bibir tipisnya dengan lembut hingga Luhan menyerah dalam kemarahannya sendiri, dia membuka bibirnya, membiarkan Sehun mengambil alih akal sehat dan pikirannya, membalas lumatan bibir Sehun yang secara gila dirindukannya.
Disela ciuman Sehun dibibirnya Luhan menitikkan air mata, dia bahagia, tapi di saat yang sama dia menyadari satu hal bahwa saat ini,
Di atas ketinggian 69 meter dari bawah tanah, mereka sedang menghianati kepercayaan Myungsoo
.
.
.
.
.
.
tobecontinued
.
.
.
.
.
NEXT BONGKAR SEMUANYA! BONGKAR :""
.
Ingetin gue ini Cuma 15 mentok 16 chap please :):"""
.
Ini dua chap jadi satu, masi belum pas buat nyatu, kisseu dulu deh lah ya, next baru kena momentnya wkwkwwkk
,
Daaah :****
