Before...

Kyuhyun berdecih. "Dasar penguntit," gumamnya pelan.

Sungmin mendengus. "Semalam aku memikirkan tentang apa yang akan dilakukan Youngmin dengan simbol sebesar itu? Dia sampai susah-susah membuat gua yang jaraknya sangat besar seperti itu. Padahal, kita bisa saja menutupnya, kan?"

"Benar juga! Kenapa kita tidak tutup saja jalan gua itu, Kyu?" Ryeowook memberikan sarannya.

"Tidak, jangan dulu. Sebelum kita menutup jalannya, kita harus terlebih dahulu menemukan daerah inti yang kemungkinan besar bisa diketahui jika kita menyusuri gua itu lebih dalam lagi."

"Tapi, Kyuhyun, menyusuri gua itu sama saja kau menyuruh kita semua menjelajahi Korea Selatan ini dan itu jalan kaki!"

Kyuhyun terdiam akan ucapan Sungmin. Benar juga. Itu akan labih banyak menguras waktu mereka yang hanya tinggal beberapa hari ini sebelum gerhana matahari tiba.

"Baiklah, kita temui Tuan Lee sekarang juga."

**PERSONA**

PERSONA: The Locked Soul

Cast : All member Super Junior and other group...

Rating : T

Genre : Fantasy, romance, supernatural, adventure, action

Warning : Genderswitch! Death Chara! Typo masih ada di mana-mana..

Disclaimer : Fanfiction ini milik saya yang terinspirasi game PS1 Persona, anime Fullmetal alchemist, dan Shakugan No Shana. Agak mirip sihh, karena aku emang suka menggabung sebuah cerita satu dengan cerita lain sesuai dengan versiku sendiri. Jadi aku hanya ngambil bagian yang penting. Mian, kalau ceritanya agak aneh, aku masih baru di FFN ^_^

Don't Like, Don't Read! Don't Bash!

Happy Reading –

Besar, kotor, cahaya yang remang-remang, dan mencekam. Hal itulah yang cocok dengan ruangan yang tengah ditempati oleh beberapa makhluk ini. Salah satunya adalah makhluk yang saat ini tengah menyantap tubuh utuh manusia yang entah didapat dari mana.

"Gluttony, makanlah dengan tenang. Kau tidak perlu mengeluarkan suara berisik seperti itu," ujar seorang yeoja berpenampilan cukup modis -selalu- sembari memelintir rambutnya dengan jari telunjuknya.

"Tapi ini enak, Lust." Makhluk yang dipanggil Gluttony itu menjilati darah yang tercecer di lantai bagaikan permen. "Aku jadi tidak bisa menahan suaraku."

Lust terkekeh. "Ya sudahlah. Aku juga tidak bisa melarang anak baik sepertimu."

Gluttony menghiraukannya. Ia lebih tertarik dengan camilan malamnya. Sementara Lust kini tengah menyeringai ketika merasakan seseorang sedang berjalan mendekatinya.

"Kau datang, Pride?"

Pride menghentikan langkah. Ia mengangkat sebelah alisnya dan memandang remeh Lust.

"Sebentar lagi semuanya akan berakhir," lanjut Lust sambil beranjak dari tempatnya. Ia lalu berjalan mendekati jendela. Dapai ia lihat pemandangan ratusan demon berkeliaran di luar sana. "Mr. Kim akan mendapatkan apa yang ia inginkan."

Pride berdecih. "Lupakan orang tua itu. Pembual itu tidak akan pernah mendapatkan apa yang ia inginkan."

"Jangan bodoh, Pride sayang. Tanpa dia, kita tidak akan berada di sini. Kau juga tidak akan pernah membalaskan dendammu pada-Nya yang ada di atas sana."

"Kalian yang bodoh! Kalian membenci manusia, namum kalian memiliki pemimpin seorang manusia. Bukankah itu menggelikan?"

"Tapi jangan lupa jika dia adalah orang yang menciptakan makhluk sempurna seperti kita."

"Terserah. Tapi aku akan pergi. Aku bisa membalaskan dendamku pada Tuhan tanpa si Youngmin itu!"

"Mr. Kim mempunyai kekuasaan penuh terhadap tubuh kita ini, Pride. Turutilah apa maunya jika kau tidak ingin keabadianmu dicabut."

Lagi-lagi... Pride hanya bisa terdiam mendengar ucapan Lust. Dalam hati ia benar-benar tidak bisa berhenti mengumpat. Seorang Lucifer sepertinya dikendalikan oleh manusia? Jangan bercanda!

"Gluttony, apa kau sudah selesai?" Tanya Lust tanpa melepas pandangannya dari luar bangunan. Memperhatikan ribuan demon yang berkeliaran itu. Lust memang satu-satunya yang memiliki kepribadian paling tenang.

"Sebentar lagi Lust. Aku belum menyelesaikan kedua kakinya," jawab Gluttony yang sebenarnya masih menginginkan makanan lebih.

Merasa diacuhkan, Pride memilih pergi dan kembali pada rencana awal. Menuruti apa yang orang tua itu inginkan. Awas saja jika semua janjinya tidak ia penuhi!

Namun Pride juga tidak menyadari, ia begitu membenci manusia. Anehnya, saat Mr. Kim berjanji akan membantunya mengalahkan Tuhan, Pride mempercayainya. Bukankah itu berarti ia telah menaruh sedikit harapan -sangat sedikit- pada Mr. Kim itu? Lebih tepatnya pada seorang manusia.

"Cepatlah, Gluttony. Bukankah kau ingin mendapat makanan lebih?"

Tiba-tiba wajah Gluttony menjadi cerah. Ia pun segera menghabiskan mangsanya dengan cepat. Ahh, Lust memang yang paling ia sukai -karena rajin memberinya makan.

"Baiklah! Tunggu aku, Makanan!"

**PERSONA**

Tuan Lee mengamati sebuah peta yang berada di hadapannya dengan intens. Jari telunjuknya bergerak untuk menelusuri setiap nama kota yang telah dilingkari dengan spidol merah oleh Shindong. Ia mengerutkan keningnya sebelum mengambil buku usang yang dipegang Sungmin. Membolak-balikkan setiap lembar mencari halaman yang ia yakin ada hubungannya dengan hal ini. Ketemu! Tuan Lee membacanya sekilas dan lalu memandang Kyuhyun dengan tatapan yang sama sekali tidak bisa diartikan.

"A.. ada apa, Tuan Lee?" tanya Kyuhyun gugup karena pandangan Tuan Lee yang agak aneh.

"The power of the owner of divine decree and seven deadly sins are enough, but need millions of human life for open the gate. If on each point have anypower else, it could be better."

Beberapa orang yang berada di ruangan Tuan Lee itu membuka sedikit mulut mereka, cukup tidak mengerti dengan apa yang dikatakan namja paruh baya ini, kecuali Sungmin dan Donghae yang memang pintar berbahasa Inggris. Sayangnya, Donghae juga bingung dengan maksud Tuan Lee. Ia tidak mengerti apa itu Sang Pemilik Takdir. Berbeda dengan Sungmin yang memang telah tahu semuanya.

"The owner of divine decree? What the hell is that?" tanya Donghae pelan.

Tuan Lee terkekeh melihat ekspresi anak-anak ini. Namun wajahnya berubah ketika mengingat apa yang dikatakannya tadi. Dulu Jinki pernah mengatakan jika terdapat sedikit kalimat dalam buku itu yang menunjukkan bagaimana cara mendapatkan kekuatan Tuhan. Sekarang ia telah menemukannya.

"Baiklah, kalian tidak perlu pusiangkan kalimatku barusan. Intinya, kalian harus bisa menemukan daerah inti itu secepatnya! Jika tidak, maka yang akan jadi taruhan adalah nyawa kalian dan juga... ah! Yang pasti lebih buruk dari itu."

"Ya, tapi bagaimana caranya, Tuan Lee? Apa kita harus menjelajahi gua itu?" tanya Leeteuk yang sudah cukup lelah karena berdiri hampir satu jam di tempat itu.

"Tentu tidak. Kita harus menggunakan logika. Caranya bisa kalian pikirkan sendiri dengan mengandalkan kata 'inti' atau 'the center'. Sekarang, kalian bisa keluar."

"Huh? Bahkan alasan kami datang kemari karena ingin meminta saran pada anda." Kyuhyun menghela nafas. 'bukannya ingin bermain teka-teki,' lanjutnya dalam hati.

Tuan Lee mengangguk-anggukkan kepala. "Ya, aku sudah memberi kalian saran."

"Hanya itu?"

Dan sayangnya Tuan Lee kembali mengangguk.

.

.

.

"Aisshh!" Kangin menjatuhkan dirinya di atas sofa. Begitu juga dengan yang lain yang sebenarnya cukup kesal dengan Tuan Lee –kecuali Yesung. "Malam yang melelahkan. Lebih lelah daripada melawan demon."

Yesung mendengus. "Kenapa kalian harus kesal dengan Tuan Lee? Cukup cari daerah yang letaknya paling tengah di antara kota-kota itu."

"Eh?" Eunhyuk yang tadinya terus menunduk kesal kali ini mendongak memandang wajah tenang Yesung. "Kau jenius, Oppa!"

"Benar juga! Center itu artinya tengah, kan?" tanya Ryeowook berbinar.

"Benar!" Leeteuk mengambil –atau lebih tepatnya merampas- peta yang dipegang Kyuhyun. Mereka lalu mengerubungi peta itu dan mencari tempat yang letaknya paling tengah di antara kota-kota itu. Sementara Kyuhyun sendiri malah menatap mereka heran. Kenapa begitu excited sekali?

Sungmin mendekatkan dirinya pada Kyuhyun dan membisikkan sesuatu. "Hey, Cho, tumben kau kalah pintar dengan Yesung oppa?"

Kyuhyun mendengus. "Itu hanya masalah pengertian, Min. Yang aku tahu, inti dari sel makhluk hidup tidak selalu berada di tengah."

Sungmin berdecih. "Jangan mencampurkan pelajaran Biologi dengan masalah ini, Sayang." Sontak Sungmin menutup mulutnya. Ia merutuki mulut nakal ini karena berani mengeluarkan panggilan itu. Aisshh! Bahkan ia tidak berani menatap Kyuhyun sekarang. Namja itu pasti akan menggodanya.

"Ya, tapi sama-sama inti, kan?"

Eh? Ternyata Kyuhyun tidak terlalu memperhatikan apa yang Sungmin katakan tadi. Baguslah! Sekarang ia bisa bernafas lega. "Tetap saja berbeda! Sudahlah, aku ingin bergabung dengan mereka."

Tiba-tiba Kyuhyun menahan tangan Sungmin. Otomatis yeoja itu menghentikan pergerakan dan menoleh pada Kyuhyun. "Oh iya, kupikir kata 'Sayang' itu harus sering-sering kita gunakan." Kyuhyun tersenyum jahil. Oke, Sungmin benar-benar speechless sekarang.

'Sial!'

"Jalur kereta api?!" Kangin tiba-tiba berseru ketika ia dan yang lain menemukan tempat –yang hanya perkiraan- adalah bagian yang paling tengah.

"Ini aneh," ujar Eunhyuk. "Bagian yang kita anggap tengahnya ini sama sekali tidak terlewati oleh jalur gua." Yeoja itu menatap teman-temannya.

"Kalian yakin itu bagian yang paling tengah?" tanya Kyuhyun yang agak ragu sebenarnya. Karena penemuan teman-temannya ini berbeda dengan asumsinya sendiri.

"Tapi sepertinya iya, Kyu. Di sini," Donghae menunjuk salah satu tempat di peta itu, "... ada bagian yang tidak dilalui oleh garis yang digambar Shindong ahjussi. Tepatnya di antara jalur kereta api antara Kaeryong dan Tsyonan. Dan itu tepat berada di tengah!"

"Kaeryong dan Tsyonan?" tanya Kyuhyun memastikan. Donghae menjawabnya dengan satu kali anggukkan. "Jadi, dengan kata lain kita harus pergi ke sana untuk memastikan, begitu?"

"Bukankah itu sulit? Jika hanya melihat dari peta saja mungkin itu mudah, tetapi bagaimana kita memastikan itu bagian tengah dari jalur kereta api itu sendiri?" Yang lain terdiam. Mereka membenarkan ucapan Ryeowook barusan.

"Besok pukul 9 pagi kita pergi ke stasiun Kaeryong," putus Leeteuk final sebelum membubarkan diskusi mereka untuk pergi ke kamar masing-masing karena ini sudah pukul sepuluh malam. Waktu memang berjalan dengan cepat.

Detik-detik jam dinding berbunyi cukup keras di suasana yang sunyi nan gelap itu. Di depan sebuah kamar, tampak seseorang yang berjalan sangat lambat sembari memperhatikan keadaan sekelilingnya. Tingkahnya benar-benar mirip seperti seorang pencuri. Namun, orang itu tidak sadar jika ada orang lain yang mengawasinya dari balik dinding dengan alis yang terangkat sebelah.

Tokk.. tokk.. tokk

"Eunhyukie... buka pintunya," bisik orang mencurigakan tadi yang mendekatkan wajahnya ke lubang kunci pintu.

Tidak lama, pintu terbuka hingga menampakkan tubuh seorang yeoja dengan mata yang hampir tertutup. Sesekali ia menguap lebar karena tak kuasa menahan kantuk.

"Ada apa, Hae?"

Namja yang ternyata Donghae itu menarik tangan sang kekasih. "Aku ingin mengajakmu ke tempat yang indah. Bahkan begitu indah saat malam hari."

"Huh? Kau membangunkanku hanya itu mengatakan itu? Awas saja jika tempatnya tidak seindah yang kau katakan itu."

Donghae tersenyum canggung sambil menggaruk tengkuknya. Ia langsung menahan tangan Eunhyuk kala yeoja itu akan masuk kembali ke dalam kamarnya.

"Tidak perlu mengganti pakaianmu, Hyuk. Aku juga masih memakai piyama."

Eunhyuk berkernyit heran. Tidak biasanya Donghae seperti ini. Namja itu sangat memperhatikan pakaiannya jika akan pergi atau hanya sekedar berjalan-jalan. Tapi, bagaimana bisa mereka keluar hanya memakai piyama saja?

"Kau yakin tidak ingin ganti baju, Hae?"

"Tidak. Tidak perlu. Ayo pergi! Kejutan telah menunggu, Hyukie."

Eunhyuk mengedikkan bahunya tak peduli. Mungkin saja tempatnya tidak terlalu jauh.

Sementara itu di kejauhan, orang yang masih memperhatikan mereka sejak tadi hanya bisa menghela nafas berat. Hampir saja ia berteriak ada pencuri. Nyatanya...

"Kyuhyun, kau sudah selesai?"

Orang yang ternyata Kyuhyun itu menoleh ke belakang dan melihat Sungnin yang telah rapi. Seperti biasa mereka akan menikmati jalan sepi di malam hari yang cukup dingin ini.

Kyuhyun mengangguk. "Kita akan ke mana?"

Sungmin mendengus. Sebenarnya tidak ada tujuan yang pasti malam ini. Tidak mungkin bukan jika mereka harus berburu demon? Eh! Tapi mungkin juga. Tidak ada alasan untuk tidak mengunjungi gua itu sekali lagi.

"Aku tidak tahu. Apa tidak ada tempat hiburan di Seoul saat malam?"

"Tentu saja ada. Klub malam, misalnya."

"Eyy, kau pikir aku suka pergi ke sana?"

"Lalu? Aku tidak punya ide, Min."

"Sudahlah. Kita jalan saja. Pikirkan itu sambil mengunyah makanan."

"Bilang saja kau lapar."

Sungmin tersenyum lebar dengan mata yang berbinar dan menganggukkan kepalanya semangat. Sungguh! Itu benar-benar tampak imut di mata Kyuhyun. Tuhan sangat baik padanya karena telah memberikan sosok yang seperti ini. Tapi, si Pride yang sok itu malah ingin melawan sang penciptanya sendiri.

.

.

.

"Hmm... kenyang... gomawo, Kyuhyunie. Kapan-kapan aku akan mentraktirmu." Sungmin mencium pipi Kyuhyun sekilas lalu pergi berlari.

Grepp

Sayangnya ia kalah cepat dengan tangan Kyuhyun. Yeoja itu tertarik dalam pelukan Kyuhyun. Mereka saling bertatap. Entah detak jantung siapa yang lebih cepat saat ini. Mereka berdua bisa merasakannya satu sama lain. Beruntung mereka berada di taman yang sangat sepi.

Chuu~

Kyuhyun menempelkan bibirnya ke bibir Sungmin. Yeoja tersebut menutup matanya merasakan kehangatan bibir itu. Ia tersenyum, atau lebih tepatnya mereka tersenyum.

Perlahan Kyuhyun menggerakan bibirnya menciptakan lumatan-lumatan kecil. Tak ingin kalah, Sungmin membalas ciuman itu. Tidak ada nafsu di dalamnya. Mereka berdua hanya saling menyalurkan perasaan mereka melalui sebuah ciuman.

Cukup lama mereka saling melumat, Kyuhyun lalu menekan tengkuk Sungmin dan menarik pinggang gadis itu hingga membuat tubuh mereka menempel tanpa celah sedikit pun. Seolah tak ingin melepaskan apa yang telah menjadi miliknya.

Sampai akhirnya Sungmin menepuk-nepuk bahu Kyuhyun pelan memberi isyarat jika manusia juga butuh yang namanya bernafas. Kyuhyun mengerti. Ia segera menjauhkan dirinya, membiarkan mereka berdua menarik nafas sebanyak mungkin.

"Kau manis, Min. Bibirmu benar-benar manis. Aku menyukainya."

Blusshh

Seketika pipi yang tadinya berwarna putih itu kini berubah menjadi merah. Sungguh menggemaskan.

"Hentikan, Kyuu... kau menyebalkan."

Kyuhyun tertawa. Hahh... Sungminnya. Aku akan selalu menjagamu dan kita semua, Min. Selama kau ada di sampingku, maka semua akan baik-baik saja.

"Hei, aku boleh menciummu lagi, Sayang?"

"Hah!? Dasar mesumm!"

Jadilah pertengkaran kecil mereka disaksikan oleh rerumputan, dedaunan, pepohonan, dan angin malam itu.

"Hey, Min. Aku ada satu permintaan."

"Apa itu, Kyu?"

"Hanya teruslah berada di sisiku."

Sungmin tersenyum. Ia menganggukkan kepalanya dan mereka kembali hanyut dalam sebuah ciumn

**PERSONA137**

"HYUNG! NOONA!"

Donghae berlari menghampiri Leeteuk dan kawan-kawan yang tengah melakukan aktivitas pagi mereka -minus KyuMin yang kelegan habis berkencan tadi malam, yaitu bersantai di taman belakang mansion.

"Ada apa, Hae? Kau sepertinya panik begitu." Leeteuk berdiri dari tempatnya.

"Hyukie... Eunhyuk tidak ada... Eunhyukie hilang! Dia juga tidak membawa jam tangannya!" Seru Donghae panik.

"APA?!"

"Hei, apa kau sudah mengecek kamar mandinya dan ruangan lain di mansion ini?" Tanya Kangin yang jadi ikut panik.

"Sudah... aku berteriak memanggil namanya sekeras mungkin. Bahkan Kyuhyunie memaki dari dalam kamarnya karena aku telah mengganggu tidurnya. Begitu juga dengan Sungmin noona yang tiba-tiba keluar dengan mata merah dan tajamnya. Itu mengerikan. Tapi Eunhyuk tidak muncul juga!" Jelas Donghae panjang lebar dengan nada khawatir yang amat sangat.

"Mungkin Eunhyuk eonni sedang berolah raga atau pergi jalan-jalan," ujar Ryeowook yang masih berpikir positif.

"Tidak mungkin! My Lovable Girl tidak mungkin pergi jalan-jalan tanpa mengajakku. Kalian tahu sendiri kan kalau kami bagaikan kertas yang diberi perekat super kuat. Kemanapum tidak akan terpisahkan."

"Hoamm... Donghae Hyung membuat konser di pagi hari. Ughh.." Kyuhyun yang baru bangun dengan rambut yang masih acak-acakan berjalan di belakang Sungmin yang lebih rapi meskipun keduanya sama-sama belum mandi.

"Kau ini kenapa sih, Hae? Apakah Eunhyuk memutuskanmu? Kau memanggil namanya begitu keras tadi," Sungmin mengambil posisi di tempat Leeteuk -yeoja itu masih berdiri.

"Hei, itu tempatku," protes Leeteuk.

"Sudah terlanjur, Eonni. Maaf."

Leeteuk hanya bisa menghela nafas beratnya.

"Eunhyuk hilang, Kyuu... aku sudah mencarinya kemana-mana. Tapi Eunhyuk tidak muncul juga."

"Semalam kalian berkencan kan?" Tanya Kyuhyun dengan kedua mata yang terpejam setengah.

"Tidak. Aku hanya tidur di kamarku semalam."

Mendengar jawaban Donghae yang seperti itu, Kedua mata Kyuhyun langsung terbuka sempurna. Jelas-jelas ia melihat Donghae mengendap-ngendap di depan kamar Eunhyuk semalam.

"Tapi, semalam aku melihatmu dan Eunhyuk. Kalian mungkin akan keluar malam."

"Benarkah?! Aku berani bersumpah jika aku tidak pergi dengan Eunhyuk ataupun menemui Eunhyuk di kamarnya." Donghae memandang Kyuhyun dengan raut wajah yang lebih khawatir dari sebelumnya.

"Bagaimana ini, Eonni? Sepertinya Eunhyuk eonni benar-benar menghilang." Ryeowook menarik-narik lengan baju Sungmin dengan cemas.

"Eonni juga tidak tahu, Ryeowook." Sungmin menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Lalu, siapa yang kemarin malam aku lihat, Hyung?! Itu jelas-jelas kau! Kau juga mengatakan jika ada kejutan untuk Eunhyuk noona." Kyuhyun bersih keras dengan penglihatannya semalam.

"Percayalah, Kyu... aku tidak keluar dengan Eunhyuk. Kau mengatakan kejutan? Bahkan aku tidak menyiapkan apapun untuk Hyukie."

Leeteuk mengusap dagunya bingung. Entah siapa yang berbohong atau berkata benar. Ia yakin di antara Kyuhyun dan Donghae, mereka tidak akan berbohong.

"Envy..."

Sontak semua orang menoleh pada sumber suara yang mengucapkan nama itu. Yesung.

"Apa maksudmu, Hyung?" Tanya Kyuhyun curiga. Ia tidak bisa berpikir positif mendengar nama penjahat itu.

"Envy... di antara anggota Seven Deathly Sins, hanya Envy yang pandai menyamar. 'Donghae' yang semalam Kyuhyun lihat, bisa jadi dia adalah Envy," jelas Yesung yang kini menambah kekhawatiran semua orang, terutama Donghae yang seperti lupa cara bernafas.

"Jangan bercanda, Hyung. Kau sama saja mengatakan jika Hyukie tengah mereka culik!" Donghae mulai meninggikan suaranya.

"Lee Donghae!" Gertak Kangin. "Tahan emosimu! Jika kau terus begini masalah tidak akan terpecahkan!"

Sontak Donghae menundukkan kepalanya takut.

"Begini saja, kita bagi kelompok. Tiga orang akan mencari Eunhyuk. Sementara empat orang lainnya akan mencari daerah inti. Kangin, Yesung, dan Donghae, kalian carilah Eunhyuk."

Ketiga mengangguk.

"Eh? Apa tidak sebaiknya tukar dengan salah satu yeoja?" Usul Kyuhyun yang menyadari jika hanya dirinya yang bergender namja di kelompoknya.

Leeteuk tampak berpikir sekali lagi. "Baiklah. Ryeowookie, kau tukar dengan Kangin."

Ryeowook menghela nafas berat. Agak tidak rela sebenarnya. Ia ingin dekat dengan Sungmin. Tapi entah kenapa mereka selalu berada di kelompok yang berbeda.

"Sebentar. Aku berubah pikiran. Selain, Ryeowook, Sungmin akan ikut dengan kelompok Pencari Eunhyuk."

Ryeowook yang tadinya malas, kini memasang wajah berbinar. Berbeda dengan dua orang itu.

Sungmin dan juga Kyuhyun sontak membulatkan kedua mata mereka sempurna. Tidak bisa seperti ini. Kyuhyun tidak akan bisa mengendalikan black windy-nya tanpa Sungmin keberadaan Sungmin di dekatnya.

"Noon-..."

Hampir saja Kyuhyun mengeluarkan protesannya, Leeteuk telah lebih dulu memotongnya. "Hanya sebentar, Kyu. Sungmin akan aman bersama kami."

"Bukan itu maksudku, Noona. Aku dan Sungmin..."

"Kesampingkan dulu masalah pribadi kalian. Ada yang lebih penting dari itu." Kangin membuka suara agar mereka bisa cepat pergi. Kyuhyun hanya bisa mendesah pasrah. Untuk saat ini ia tidak bisa menggunakan kekuatan itu.

"Pertama, kita mulai dari gua," ucap Yesung yakin setelah merasa tidak ada gangguan lagi.

"Oke, kalau begitu kami akan menuju ke stasiun Kaeryong setelah bersiap-siap," kata Leeteuk.

Sementara itu Sungmin memandang Kyuhyun cemas. Semoga saja mereka tidak langsung berhadapan dengan Mr. Kim.

**KM137**

Sosok itu memejamkan matanya sembari tersenyum senang lalu menyeringai puas. Ia mengetuk-ngetuk meja dengan jari telunjuk kanannya.

Lust yang melihat itu hanya tersenyum jahat. Wanita itu tidak bisa mengganggu kebahagian orang yang telah menciptakannya. Tapi, rasa ingin tahu tak bisa lagi ia tahan.

"Anda begitu senang, Mr. Kim," ujar Lust.

"Lust... kau tidak bisa merasakannya? Kekuatan Tuhan... itu semakin dekat. Aku bisa merasakannya dengan sangat jelas. Bahkan Sang Pemilik Takdir tengah menghantarkan nyawanya ke mari, kepadaku." Tawa jahatnya terdengar begitu menyenangkan di telinga makhluk-makhluk itu.

"Bersiaplah kalian, Manusia lemah. Aku, Kim Young Min, memang masih menjadi manusia, tapi berkat ritual yang gagal waktu lalu, aku masih bisa mendapatkan seperempat kekuatan Tuhan." Mr. Kim menyeringai. Ia lalu memandang Lust. "Wrath masih belum sampai?"

"Sebentar lagi, Tuan. Seperti yang anda perintahkan, Gluttony, Envy, Greed, dan Pride akan akan terus mengawasi mereka. Sementara aku dan Wrath akan berada di sini," jelas Lust.

Mr. Kim mengangguk-anggukkan kepalanya. "Lalu yeoja itu?"

"Dia sudah aman di tempat persembahan. Kami tinggal menangkap yang lain sebelum gerhana matahari datang."

"Bagus. Dan jangan sampai mereka tahu, kecuali dalam keadaan tubuh yang terikat."

"Itu mudah, Tuan. Anda tahu sendiri, bukan? Mereka itu tidak ada apa-apanya dibanding Sang Pemilik Takdir."

"Jangan lupakan bocah yang memiliki kekuatan udara itu, Lust. Kalian lemah terhadap udara yang bergerak."

"Masih ada Envy, Tuan. Dia adalah penyamar yang sangat baik."

Mr. Kim tertawa lalu diikuti oleh Lust. Rencana yang sempurna demi hasil yang sempurna.

**Persona137**

Entah sudah berapa jam Donghae, Yesung, Ryeowook, dan Sungmin berjalan di gua yang begitu gelap ini. Mereka seolah melangkah dari kota satu ke kota lain hanya dengan kedua kaki. Itupun masih belum menemukan titik simbolnya.

Meskipun mereka tidak berada di luar, tapi mereka tahu jika hari sudah petang.

"Ini tidak benar, Oppa. Kita tidak bisa menyusuri gua ini hanya dengan berjalan kaki." Ryeowook mengeluh karena kakinya yang sudah pegal.

"Benar. Aku dan Kyuhyun sering pergi ke mari. Nyatanya jalur gua ini benar-benar panjang dan banyak simpangannya," ujar Sungmin yang kasihan dengan Ryeowook. Sejak tadi yeoja itu meringis kesakitan.

"Bagaimana, Hae? Kau masih ingin melanjutkan ini, atau kita cari cara yang terbaik untuk mencari Eunhyuk?" Yesung mencoba untuk memberi pilihan.

"Cara apalagi, Hyung? Aku yakin mereka menyembunyikan Eunhyuk di sini. Mereka mengira kita tidak mungkin berhasil mengelilingi tempat ini, jadi mungkin ini adalah tempat terbaik untuk menyekap Eunhyuk," sahut Donghae panjang dengan satu kali tarikan nafas.

Yesung menghela nafasnya. "Setidaknya biarkan kita beristirahat. Kau lupa jika di sini masih ada yeoja, huh?"

"Terserah kalian. Tapi aku tidak ingin berhenti." Donghae makin mempercepat langkahnya. Saat ini emosi benar-benar telah menguasai dirinya.

"LEE DONGHAE! HEY! KEMBALI!" Yesung mengejar Donghae yang semakin menjauh. Namja itu berhasil menahan bahunya. "Pikirkanlah ini, Hae. Jika tiba-tiba demon menyerangmu yang sedang sendirian bagaimana?"

"Aku tidak takut, Hyung. Aku memiliki persona. Aku akan lawan mereka semua."

"Tapi, bagaimana jika yang muncul malah salah satu atau lebih dari anggota Seven Deathly Sins? Kau hanya memiliki kekuatan air, Lee Donghae. Kau tahu? Air lemah terhadap petir!"

"Aku tidak peduli. Tujuanku adalah mencari Eunhyuk. Jika kalian ingin beristirahat, silahkan. Aku akan pergi mencarinya sendiri."

Donghae berlalu meninggalkan Yesung yang hanya memandangnya datar. Sungmin yang melihat itu berniat mengejarnya tapi dihalangi oleh Yesung.

"Sudahlah, Sungmin. Saat ini Donghae tidak bisa dipengaruhi lagi. Biarkan dia bertindak sesuai keinginannya sendiri," ujar Yesung.

"Tapi, bagaimana jika terjadi apa-apa padanya?" Tanya Sungmin panik.

"Itu adalah resiko yang harus kita hadapi. Kita tidak mungkin memaksa untuk terus berjalan. Kedua kaki ini juga butuh yang namanya istirahat."

Sungmin menghela nafasnya. Ini adalah hal buruk, sangat buruk. Mereka hanya bisa mengandalkan Leeteuk, Kangin, dan Kyuhyun. Semoga mereka bisa menemukan daerah inti sesegera mungkin.

'Kyuhyun, maaf aku tidak bisa lagi berada di sisimu.' Batin Sungmin yang seolah tahu apa yang selanjutnya akan terjadi pada mereka semua.

**PERSONA137**

Leeteuk berkali-kali memperhatikan jam tangannya. Ini sudah hampir sore, tapi kereta belum juga datang. Kyuhyun dan Kangin bahkan hampir ketiduran di kursi tunggu karena terlalu lama ketiduran.

"Tidak ada waktu lagi. Naik kereta juga berbahaya karena kita harus turun di tengah rel. Langkah satu-satunya adalah jalan kaki," ujar Leeteuk yang habis kesabaran.

"Bukankah itu yang aku katakan padamu, Noona? Tapi kau tidak setuju." Kyuhyun memutar kedua bola matanya diiringi dengan desahan nafasnya.

"Iya, iya, Kyu. Noona minta maaf. Ayo kita pergi sekarang. Kangin, jangan pejamkan matamu!"

Sontak Kangin yang hampir terpejam itu menjadi sadar sepenuhnya akibat suara Leeteuk.

"Oh? Apa keretanya sudah datang? Mana?" Tanya Kangin celingukan mencari kereta yang tidak tampak di kedua matanya. Jelas saja, keretanya belum datang juga hingga sekarang.

"Perubahan rencana. Kita jalan kaki."

"Eh? Itu melelahkan, Teukie," sahut Kangin yang kurang setuju dengan perubahan rencana yang telah didebutkan Leeteuk itu.

"Ayolah, Kangin. Hitung-hitung olahraga juga. Kau juga kan yang terkuat di sini. Tidak mungkin jika jalan dengan jarak dekat seperti itu saja kau tidak mampu."

Kangin mendesah pasrah. "Ya.. ya.. ya.. terserah kau saja."

Mereka akhirnya memilih untuk berjalan kaki. Di samping rel itu terdapat hutan yang cukup lebat. Mereka bisa berjalan di sana jika tidak ingin membahayakan diri dengan berjalan persis di samping rel kereta api.

"Hyung, Noona, ayo kita dirikan tenda di sekitar sini. Hari semakin gelap. Kita tidak bisa melanjutkan perjalanan jika dalam kondisi yang begitu gelap seperti ini." Kyuhyun memberi saran. Namja itu menguap lebar.

"Benar, Teukie. Kita istirahat dulu malam ini," sahut Kangin sambil meregangkan tubuhnya yang pegal-pegal.

Leeteuk memejamkan kedua matanya lalu menghela nafas lelah. "Baiklah. Kau bawa perlengkapannya kan, Kangin?"

"Tentu saja. Keperluan apapun untuk piknik, sudah siap di dalam tas ranselku ini," ujar Kangin bangga sembari menepuk-nepuk ransel besarnya.

"Bagus.. bagus.. ayo cepar siapkan semuanya. Setelah itu kita buat api unggun." Kyuhyun dan Kangin menganggukkan kepala mendengar intruksi Leeteuk.

**PERSONA137**

Yesung, Ryeowook, dan Sungmin duduk diam bersandar di dinding gua yang berlendir itu. Tidak mempedulikan rasa jijik, mereka hanya ingin mengistirahatkan punggung dan kaki mereka.

"Bagaimana kabar Donghae oppa saat ini? Aku benar-benar khawatir padanya." Ryeowook menundukkan kepalanya sedih.

"Semoga dia baik-baik saja, Ryeowookie. Yakinlah jika Donghae bisa bertahan. Lagipula kita tidak bisa memaksamu untuk berjalan, bukan? Bahkan kedua kaki itu tampak lecet." Yesung mengelus rambut Ryeowook yang cukup lebat.

"Ini semua salahku. Seandainya kaki ini tidak lemah. Kenapa juga aku harus memakai flat shoes yang ukurannya sangat pas ini? Harusnya sepatu kets seperti kalian. Dasar bodoh!" Ryeowook merutuki dirinya sendiri yang melakukan kesalahan.

"Jangan begitu, Ryeowookie. Donghae saja yang belum bisa berpikiran jernih. Tidak apa-apa. Kau sama sekali tidak bersalah. Jangan khawatir." Sungmin juga ikut menenangkan Ryeowook agar yeoja itu tidak bertambah sedih. Tapi nyatanya tidak ada yang berubah. Sungmin dan Yesung hanya bisa mengehela nafas berat.

"HYUNG! NOONA!"

Sontak tiga orang tersebut menoleh ke asal suara yang tampak familiar. Itu...

"Kyuhyun!?"

"Ohhh... akhirnya aku menemukan kalian. Alat pelacak itu tidak aktif. Mungkin rusak. Hey! Kenapa kalian meninggalkanku sendirian di mansion? Ck! Jahat sekali..." Namja itu merenggut kesal.

Yesung, Sungmin, dan Ryeowook secara bersamaan beranjak dari tempat mereka. Memundurkan langkah dan memasang sikap waspada. Kyuhyun... bukankah Kyuhyun tengah bersama Leeteuk dan Kangin? Mereka bisa melihat dengan jelas bagaimana Kyuhyun yang mereka anggap asli itu keluar dengan membawa ransel.

"A.. a.. ada apa?" Namja yang mengaku sebagai Kyuhyun itu menengok ke belakang. Tidak ada siapa atau apa pun di sana. Jangan-jangan...

"Kyuhyun... aku Kyuhyun... aku datang ke sini karena tadi aku menuju ke stasiun Kaeryong, tapi Kangin hyung dan Leeteuk noona sudah tidak ada. Jadi aku datang ke mari." Kyuhyun memperhatikan sekitar. "Oh iya, di mana Donghae hyung? Bukankah dia bersama kalian?"

Yesung memandang namja tersebut tajam. Ia tak semudah itu percaya pada orang lain. Karena si penyamar tidak mungkin memiliki kualitas akting yang buruk. Berbeda dengan Ryeowook dan Sungmin yang masih dilanda keraguan.

Persona!

Airie, sang elemen udara telah keluar. Yesung menyeringai melihat sosok yang menyebut dirinya Kyuhyun itu mulai memasang wajah panik. Tak terkecuali dengan Sungmin dan Ryeowook yang membulatkan mata mereka dengan sempurna.

"H.. hyung... kau... kau tidak percaya padaku?" Namja itu melangkah mundur.

Yesung berdecih. "Simpan dulu aktingmu. Angin... aku sudah berhasil menguasainya. Bersiaplah, Wahai makhluk penuh dosa!"

Takut? Tidak. Ia sama sekali tidak takut. Namja yang mengaku Kyuhyun itu menghela nafas berat dan memejamkan kedua matanya. Yesung mengerutkan keningnya. Tapi ia tidak peduli.

"WINDY!"

Persona milik Yesung berancang-ancang menyiapkan tiupan angin yang mampu melebihi angin topan itu. Tampaknya ia lupa, baik Kyuhyun maupun anggota Seven Deathly Sins sama-sama memiliki elemen dasar petir.

Ryeowook memandang Sungmin cemas. "Eonni, bagaimana ini? Namja itu sama sekali tidak berniat melawan."

Sungmin melirik Ryeowook sekilas lalu memandang tajam namja yang masih dengan mata terpejamnya itu.

'Bodoh...'

**PERSONA137**

Entah seberapa jauh Donghae meninggalkan teman-temannya. Entah seberapa pegal kakinya setelah melangkah dengan jarak yang lumayan jauh ini. Entah sudah berapa simpangan yang ia lewati. Ia tak peduli. Tujuannya hanya satu, mencari Eunhyuk.

"Hyukie... kau di mana?" Lirih Donghae. Jika boleh jujur, ia benar-benar kelelahan. Tapi namja itu tetap memaksa tubuhnya untuk bekerja keras.

"Donghae..." suara lembut seorang yeoja terdengar begitu merdu di telinga Donghae. Mungkinkah...

"Eunhyukie... Hyukie..." Donghae langsung berlari dan memeluk yeoja itu erat. Bahkan sangat erat seolah tak ingin melepasnya untuk yang kedua kali.

Namun Donghae tidak sadar jika seorang namja dengan seringaian yang menghiasi wajahnya berjalan santai di belakang Donghae. Tangan kanannya telah diselimuti oleh petir berwarna merah. Siap untuk menyerang musuh dengan sekali sentuhan.

"Hai, Lee Donghae."

Donghae mengangkat sebelah alisnya. Dengan terpaksa ia melepas pelukannya dan mencari keberadaan sang sumber suara yang berani mengganggunya dan Eunhyuk.

Namja itu... makhluk itu... Greed... Nafas Donghae tercekat. Greed?

Tanpa sempat berbuat apa-apa, dapat Donghae rasakan sebuah tangan yang tepat menyentuh dadanya, sebuah tangan dengan aliran petir. Tubuhnya mengejang. Ia mengerang kesakitan. Hingga akhirnya jatuh tak sadarkan diri.

Greed melihat sosok 'Eunhyuk' yang masih berdiri dengan pandangan kosongnya.

"Pergilah, tugasmu selesai."

Sosok itu mengangguk. Seketika wujudnya berubah menjadi sebuah benda hidup berbentuk slime, kalian bisa menyebutnya demon. Slime memang ahlinya ynag seperti ini. Tapi bukan berarti Envy juga termasuk slime.

Greed menyeringai melihat tubuh Donghae yang tergeletak di tanah. Tidak.. tidak... dia belum mati. Hanya pingsan. Namun ini adalah kesempatan yang bagus untuk membawanya ke tempat persembahan.

"Let's go! Beruntung sekali karena mereka sangat bodoh," gumam Greed yang lalu mengangkat Donghae dan berlari secepat yang ia bisa.

.

.

Sementara itu, Yesung yang masih menahan serangannya tidak bisa lagi menunggu. Sosok yang dianggapnya palsu itu masih memejamkan kedua matanya.

Swingg... wing... wusshh... wusshh..

BRAKK! DUARR!

"Arrgghhtt! Akh..."

'Kyuhyun' terdorong jauh ke belakang sambil memegangi dadanya yang sangat sakit, dimana serangan persona milik Yesung tepat tertuju di sana.

"Uhukk... uhukk!"

Ia tak menyangka ternyata sekuat ini serangan windy terhadap petir. Bahkan namja itu sampai terbatuk darah.

"Oppa, berhentilah! Kau tidak lihat dia mengeluarkan darah?!" Ryeowook berlari menghampiri Yesung lalu memegang lengan kirinya.

"Jangan halangi aku, Ryeowook. Musuh tidak pantas dibiarkan hidup." Yesung memandang tajam sosok yang masih terkena efek serangannya.

"Tidak.. tidak... bagaimana jika dia Kyuhyun yang asli? Kau mau membunuhnya?"

"Tidak mungkin! Kyuhyun pasti akan mengeluarkan personanya juga."

"Oppa..."

Di sisi lain, Sungmin yang tahu ini akan terjadi hanya bisa mengehela nafas berat.

"Hanya itu saja? Ayo! Serang aku lagi! Buktikan jika kau cukup kuat, Kim Jong Woon!" Tantang 'Kyuhyun' yang bahkan di sudut bibirnya masih mengalir darah segar.

Yesung menggeram marah. "Baiklah, serangan kedua! WINDY!"

Ryeowook terbelalak. Tampaknya kali ini Yesung tidak main-main dengan serangannya. Entah kenapa hatinya berkata jika namja itu adalah Kyuhyun, Cho Kyuhyun mereka yang asli.

.

.

Di mana sebenarnya Kyuhyun?

.

.

To Be Continue

Huuffttt... akhirnya update jugaaaaa... maaf kelamaaannn...

Jeongmal mianhae, yeorobunnn *bow

Terima kasih buat yang udah review sebelumnya. Gomawoyo :*

Untul yang ini jangan sungkan-sungkan buat review lagi yahh... yang siders juga jangan malu untuk ungkapin kritik dan saran kalian...

Okehh... good bye to next chapter...

Kamsahamnida *Bow