Dear readers, chapter 11 telah tiba! Makasih ya, buat yang udah mau baca fanfic saya selama ini dan udah ngasih review. Ya udah deh, ga usah banyak basa-basi. Selamat membaca! Enjoy!
Disclaimer: Detektif Conan milik Aoyama Gosho.
CHAPTER 11
"Woaahh... jadi ini Scotland Yard-nya Tokyo!"
Gina memandang sekelilingnya dengan bersemangat. Di mana-mana ia melihat polisi Jepang berlalu-lalang dengan lencana identitas mereka. Beberapa berseragam, beberapa lagi hanya mengenakan setelan jas dan celana atau rok. Saat dirinya adalah Lana, Gina pernah beberapa kali masuk Scotland Yard karena penindasan yang terjadi padanya di jalanan. Sejak saat itu, para penindasnya tak berani lagi menindasnya di jalan. Mereka tak mau ambil risiko masuk ke Scotland Yard lagi sehingga akhirnya mereka menindasnya di sekolah yang rupanya selalu tutup mata dan telinga atas perbuatan mereka. Sekolah Lana adalah sekolah yang rusak karena penindas berjaya. Mereka punya uang dan reputasi. Guru-guru di sekolah juga entah mengapa menganggap nama baik sekolah bergantung pada uang mereka sehingga hukum di sekolah Lana selalu memihak mereka. Di sekolah itulah Lana menjadi pengecut, tapi di sekolah itu juga Lana berubah menjadi pemberani di saat-saat terakhirnya.
Hari ini Gina dan grup detektif cilik berkunjung ke gedung Departemen Kepolisian Metropolitan Tokyo. Mereka menemani Kobayashi-sensei yang merupakan saksi kasus pembunuhan sehari yang lalu. Saat itu ada festival kembang api. Kobayashi-sensei dan anak-anak grup detektif cilik berniat menontonnya bersama-sama, namun di tengah jalan mereka terpisah. Ketika terpisah itulah, Kobayashi-sensei tak sengaja berada dekat dengan TKP dan melihat siluet pelakunya. Gina tidak bersama mereka saat itu karena ia pergi ke festival di tempat lain bersama pamannya. Saat itu pamannya bertugas meliput acara festival di sana, jadi Gina sekalian diajak. Karena mereka pergi dalam rangka pekerjaan Ken, Gina tak bisa mengajak teman-temannya.
"Kau pernah berkunjung ke Scotland Yard?" tanya Conan. London selalu menjadi kota yang ingin dikunjunginya karena Sherlock Holmes tinggal di sana, makanya ketika Gina menyebut Scotland Yard, ia jadi tertarik.
"Mm-hm!" Gina mengangguk. Walaupun ia tak punya memori yang menyenangkan tentang Scotland Yard (selain bahwa polisi-polisi memang menghukum penindasnya), ia cukup bangga bisa mengakui kalau ia setidaknya pernah berada di sana bukan sebagai penjahat.
"Memangnya apa yang kau lakukan di sana?"
"Well, you see, suatu hari aku sedang berjalan-jalan di London, lalu ada orang-orang yang menindasku dan orang lain yang kebetulan lewat memanggil polisi. Jadi kami semua dibawa ke Scotland Yard."
"Kau pernah ditindas, Gina-chan?" Ayumi memandangnya tidak percaya.
"Orang itu jelas sudah mengajak ribut grup detektif cilik!" kata Genta geram.
"Tapi kau baik-baik saja, kan? Tidak terluka?" tanya Kobayashi-sensei yang sulit membayangkan gadis semanis Gina ditindas di tengah kota.
"Ya, aku baik-baik saja," jawab Gina. Ketika Kobayashi-sensei bertanya padanya, ia baru sadar kalau seharusnya ia tidak mencampuradukkan pengalaman Lana dengan Gina. Ia bahkan tak tahu apakah Gina pernah ke Scotland Yard.
"Tapi siapa orang-orang yang menindasmu?" tanya Mitsuhiko.
"Ya, dan kenapa mereka menindasmu? Kau hanya anak kecil," kata Conan.
"Aku juga tidak tahu. Aku tidak ingat," dusta Gina. Sekarang adalah saat yang tepat untuk mengeluarkan kartu amnesianya. "Tapi aku ingat ada yang menindasku, lalu aku dibawa ke Scotland Yard."
"Oh, iya, kau masih amnesia," kata Ai yang mengangguk dengan penuh pengertian.
"Tapi baguslah kalau kau sudah ingat sesuatu walaupun hanya sedikit," kata Kobayashi-sensei. Percakapannya dengan Gina membuatnya melupakan rasa gugupnya karena baru pertama kali datang ke kantor polisi sebagai saksi. Gina hanya tersenyum dan mengangguk.
Tiba-tiba seseorang menepuk Kobayashi-sensei, membuat ia dan anak-anak kaget.
"Hei, Miwako! Kau bawa anak-anak ini untuk investigasi kasus lagi?"
Gina melongo. Ia tahu siapa orang berseragam polisi yang menegur gurunya. Orang itu polwan Yumi Miyamoto.
"Ada apa dengan penampilanmu? Kenapa kau memakai kacamata? Ganti image, ya?"
"Ah, bukan..."
"Berhentilah tergagap seperti itu! Kau belum bangun, ya?" kata Yumi lagi sambil memukul bokong Kobayashi-sensei, membuatnya menjerit malu.
"Apa kau bilang? 'Kyaa'?" Yumi memandang Kobayashi-sensei dengan bingung.
"A-apa yang kau lakukan?" tanya Kobayashi-sensei dengan wajah merona.
"Kau salah, Yumi-san. Orang ini—" Conan baru saja mau menjelaskan, tapi seseorang tiba-tiba memotong perkataannya.
"Ah! Sato-san! Kau membawa anak-anak!" Seorang pria bertubuh gemuk menghampiri mereka. Gina juga tahu siapa orang itu. Orang itu adalah Chiba.
"Lho? Seharusnya guru mereka juga ada di sini..." Chiba menolehkan wajahnya ke sana-kemari. Sama seperti Yumi, ia juga salah mengira Kobayashi-sensei sebagai Miwako Sato.
"Makanya, dia adalah—" Lagi-lagi perkataan Conan terpotong. Kali ini bukan oleh Chiba, tapi oleh Shiratori yang langsung mendekat dan menjelaskan siapa sebenarnya Kobayashi-sensei. Baik Yumi maupun Chiba terkejut mendengar penjelasannya dan mereka masih memandang tak percaya ketika Shiratori membawa Kobayashi-sensei dan anak-anak menjauh.
"Umm... apakah di sini ada orang yang mirip denganku?" tanya Kobayashi-sensei pada Shiratori.
"Ya, walaupun menurutku kalian tidak begitu mirip," jawab Shiratori, lalu ketika melihat tatapan tidak menyenangkan anak-anak, ia buru-buru menambahkan, "ta-tapi, kurasa memang ada kemiripan..."
"Siapa orang-orang tadi?" tanya Gina mengalihkan pembicaraan.
"Tadi itu polwan Yumi Miyamoto dan Detektif Kazunobu Chiba," jawab Conan.
"Yumi Myamoto dan Kazunobu Chiba..." Gina pura-pura mengingat nama mereka, lalu mengangguk. Kemudian ia pura-pura mengurutkan nama-nama polisi yang sudah ia kenal sambil menghitung dengan jarinya agar terkesan lebih mirip anak-anak. "Lalu Inspektur Megure, Inspektur Shiratori, Inspektur Momose, dan Detektif Takagi... Oh, ya, memangnya siapa orang yang mirip Kobayashi-sensei? Siapa Miwako Sato?"
"Dari mana kau tahu nama itu?" tanya Ai, terkejut ketika Gina langsung menyebutkan nama Miwako Sato seolah-olah yakin kalau Miwako dan Sato yang disebutkan tadi adalah satu orang yang sama.
"Tadi polwan Yumi menyebut Miwako dan Detektif Chiba menyebut Sato," jawab Gina.
"Kenapa kau yakin mereka adalah orang yang sama?"
"Mereka berbeda?" Gina balik bertanya. "Aneh, padahal dari ekspresi Detektif Chiba dan polwan Yumi, aku yakin mereka orang yang sama."
"Mereka sama, kok," kata Mitsuhiko. "Miwako Sato juga detektif, sama seperti Detektif Takagi dan Detektif Chiba."
"Oh..." Gina mengangguk lagi. "Berarti aku sudah kenal tujuh orang polisi. Kalian masih punya kenalan polisi lagi?"
"Tentu saja!" jawab Genta dengan bangga.
"Kalau kau menjadi anggota grup detektif cilik, bertemu polisi adalah hal yang sering terjadi," tambah Mitsuhiko tak kalah bangga. Gina hanya mengangguk paham sambil tersenyum, sementara Conan memandang mereka dengan wajah "oi, oi"-nya.
Tak lama kemudian, mereka semua sampai di sebuah ruangan kosong. Di sana terdapat sebuah meja yang cukup lebar dengan beberapa kursi mengelilinginya. Shiratori mewawancarai Kobayashi-sensei dan anak-anak di sana. Anak-anak selain Conan lebih banyak diam. Gina tidak berada di tempat kejadian saat pembunuhan kemarin terjadi, jadi ia tak tahu apa-apa. Ayumi, Genta, Mitsuhiko, dan Ai sampai di tempat kejadian beberapa saat setelah Conan tiba di sana dan saat itu sudah banyak orang berkumpul, jadi bisa dikatakan mereka juga tak tahu apa-apa.
Setelah beberapa saat, Kobayashi-sensei minta izin ke toilet sebelum melanjutkan testimoninya. Anak-anak perempuan mengikutinya, sementara anak-anak laki-laki tinggal bersama Shiratori. Kobayashi-sensei keluar dari toilet lebih dulu. Gina, Ai, dan Ayumi masih saling menunggu di dalam dan ketika urusan mereka telah selesai, mereka segera menyusul Kobayashi-sensei di luar.
"Kobayashi-sensei, maaf lama," kata Ayumi sambil berlari bersama teman-temannya ke arahnya. Tiba-tiba saja mereka melihat Kobayashi-sensei merosot, sesuatu yang tidak mereka duga. Tak hanya itu, Kobayashi-sensei juga tampak seperti orang yang shock, membuat anak-anak perempuan yang melihatnya menjad cemas, kecuali Gina. Ia ingat bagian ini. Bagian ini ada dalam manga. Ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Setelah Kobayashi-sensei menenangkan anak-anak dengan beberapa kali mengatakan bahwa ia tidak apa-apa, mereka semua kembali ke ruang wawancara. Kali ini, Shiratori memperdengarkan rekaman suara para tersangka, berharap Kobayashi-sensei dapat mengenali suara si pelaku dari rekaman tersebut. Wawancara itu berjalan dengan lancar tapi tak begitu menyenangkan. Mood Kobayashi-sensei jelas sedang buruk, padahal sebelumnya ia baik-baik saja. Pada akhirnya, Kobayashi-sensei juga menolak diantar pulang oleh Shiratori dan pergi keluar dari ruangan seorang diri.
Conan berpendapat bahwa bagaimana pun juga, sebaiknya Kobayashi-sensei diantar polisi karena pelaku bisa menyerangnya kapan saja. Shiratori juga setuju, tapi karena Kobayashi-sensei sudah menolaknya, akhirnya Shiratori minta tolong pada Chiba. Setelah itu mereka membicarakan alasan keanehan Kobayashi-sensei dan kesimpulan yang didapat adalah mungkin saja Kobayashi-sensei melihat Miwako dan mendengar tentang Shiratori yang dulu tergila-gila pada Miwako. Setelah itu Takagi dan Miwako datang karena ingin melihat Kobayashi-sensei, tapi mereka sedikit kecewa karena ternyata Kobayashi-sensei sudah pergi. Pada saat inilah Gina pertama kali bertemu dengan Miwako, lalu berkenalan dengannya sebelum pulang.
Keesokan harinya di sekolah, Kobayashi-sensei masih terlihat tidak bersemangat. Anak-anak yang melihatnya jadi cemas.
"Sensei kelihatan tidak bersemangat," kata Ayumi yang memandang Kobayashi-sensei dari jauh bersama grup detektif cilik.
"Sepertinya sensei belum tahu kalau dia adalah pasangan takdir Inspektur Shiratori," kata Mitsuhiko.
"Kalau begitu kenapa tidak kita beritahu saja?" kata Genta.
"Tidak boleh!"
"Tidak akan romantis kalau bukan Inspektur Shiratori yang memberitahu," tambah Ayumi.
"Tapi kalau seperti ini terus, Sensei tidak akan pernah tahu," argu Genta.
"Tidak apa-apa kan?" sela Ai. "Ini hanya tentang seseorang yang selalu membohongi orang yang disukainya sambil menyembunyikan rahasianya..."
"Hei..." tegur Conan, tampak tersinggung dengan kata-kata Ai.
"Tapi kenapa tidak ada suara pelaku yang cocok?" tanya Ayumi mengalihkan topik pembicaraan.
"Iya, padahal orang yang membenci korban dan tidak punya alibi saat kejadian hanya tiga orang itu," kata Mitsuhiko.
"Tiga orang? Aku hanya dengar dua di rekaman," kata Genta bingung.
"Kau lupa, ya? Orang ketiga adalah pria, tapi karena Sensei mendengar suara wanita, maka suara pria itu tidak diputar," kata Mitsuhiko lagi.
Setelah itu, Conan menjelaskan latar belakang ketiga tersangka yang berakhir dengan pertanyaannya mengapa Kobayashi-sensei bisa yakin siluet yang datang belakangan itu adalah si pelaku, padahal ia hanya mendengar suaranya saja ketika pembunuhan terjadi. Anak-anak grup detektif cilik terus berargumen, sementara Gina lebih banyak diam mendengarkan. Ketika Conan akhirnya sampai pada pertanyaan lain, yaitu mengapa truk bernomor yang dilihat Kobayashi-sensei tidak ditemukan, Mitsuhiko berceletuk bahwa truk yang disewa Profesor Agasa saat membantu temannya pindah rumah juga tidak punya nomor.
"Hm? Kau lihat truk itu?" tanya Conan pada Mitsuhiko.
"Tidak. Aku hanya mendengarnya. Dari yang kudengar, truk itu tidak punya nomor," jawab Mitsuhiko, "tapi itu truk dari Perusahaan Transportasi Osaka Nico-nico, tidak ada nomor di setiap sisinya, hanya ada nama perusahaan."
Mendengar itu, Conan tampak tertegun dan lagi-lagi berpikir. Setelah itu Mitsuhiko kembali bercerita, lalu Genta mengatakan bahwa giginya sakit dan Ai menyuruhnya segera cabut gigi. Conan memperhatikan kata-kata anak-anak itu, lalu ia menyadari sesuatu. Gina melihatnya berlari ke arah Kobayashi-sensei, namun tiba-tiba langkahnya terhenti. Gina juga menyadari apa yang membuatnya berhenti.
Inspektur Shiratori.
Pria itu datang untuk memberitahunya cerita masa kecil mereka, bagaimana mereka bertemu pertama kali, dan bahwa karena bertemu dengan Kobayashi-sensei, makanya ia memutuskan untuk jadi polisi. Tapi ternyata Kobayashi-sensei tampak tak mengingat semua itu karena ia mengatakan bahwa gadis itu bukan dirinya dan mungkin saja adalah Miwako. Setelah itu Kobayashi-sensei berjalan ke arah sekolah meninggalkan Shiratori yang tertegun shock.
Gina memandang Kobayashi-sensei yang dengan murung kembali ke gedung. Saat itulah ia tiba-tiba teringat sesuatu. Iya, ya, kalau tidak salah di adegan ini kan...
Gina berlari melesat keluar gerbang, tidak berpikir kalau tindakannya membuat teman-temannya sekaligus Shiratori terkejut. Gina menolehkan kepala ke kanan dan ke kiri, mencari-cari, tapi ia tak menemukan apa yang ia cari.
Tidak ada, huh? batin Gina, merasa sedikit kecewa. Mungkin pelakunya sudah pergi. Aku ingat sekali kalau dia ada di sini.
"Gina-chan, ada apa?" tanya Shiratori. Conan juga menghampirinya dengan bertanya-tanya.
"Ah..." Gina baru ingin menyampaikan tentang si pelaku yang memata-matai, tapi kemudian tidak jadi ketika ia teringat bahwa aksinya bisa saja mengubah cerita. Ia tidak yakin mengubah cerita adalah keputusan yang tepat.
"Tidak," kata Gina setelah terdiam sesaat, "tidak apa-apa."
Gina tidak sadar kalau apa yang dilakukannya sudah mengubah jalan cerita. Seharusnya Conan yang melihat pelaku, bukan dirinya, tapi Gina tidak ingat hal itu.
Shiratori cepat melupakan perilaku Gina, tapi tidak dengan Conan. Gina tahu bocah berkacamata itu memandangnya tajam dan penuh pertanyaan, tapi ia pura-pura tak tahu. Di saat inilah Gina mulai menyesali tindakannya. Sekarang mungkin saja Conan sedang mencurigainya.
Tiba-tiba saja Gina punya ide. Apa yang akan dilakukan Conan jika ia ketahuan memerhatikannya? Gina pun menoleh pada Conan dan menatapnya. Ia menatapnya dengan eskpresi polos. Ia pikir Conan akan segera memalingkan wajah, tapi ternyata tidak. Conan malah terus memandangnya tajam.
"Ada apa?" tanya Gina akhirnya.
"Kau..." Conan berjalan mendekat, merendahkan suaranya. "Sebenarnya apa yang tadi kau cari?"
Gina mengerjap. Rupanya Conan benar-benar serius menanggapi tindakannya.
"Bukan apa-apa," jawab Gina.
"Jangan bohong. Aku yakin kau mencari sesuatu."
"Itu tidak penting."
"Kau memang mencari sesuatu."
"Ya, tapi sudahlah, kubilang itu tidak penting."
"Kenapa kau pikir begitu?"
"Karena mungkin cuma perasaanku saja," jawab Gina. "Sekarang bisakah kau berhenti bertanya? Sejak kapan kau bisa semenyebalkan ini?" tambahnya jengkel. Sebenarnya ia tidak hanya jengkel. Ia juga takut. Ia merasakan aura yang mengintimidasi ketika Conan terus menanyainya. Shinichi Kudo memang bukan orang biasa.
Conan mengerjapkan kedua matanya, tertegun sesaat ketika mendengar kata "menyebalkan" keluar dari mulut Gina. Ia pun mendesah.
"Fine. Sorry."
"Apology accepted," balas Gina. Ia merasa lebih lega sekarang.
"Tetap saja, kau memang mencari sesuatu. Sepertinya aku tahu apa yang kau cari," kata Conan lagi.
"Huh?"
"Mungkin kau mencari si pelaku?"
"A-apa?" Gina terbelalak.
"Tidak aneh jika si pelaku memata-matai Kobayashi-sensei sampai ke sini. Paling tidak, kupikir dia tahu kalau orang yang menjadi saksi adalah guru di sini," Conan melanjutkan. "Mungkin kau tak sengaja melihatnya sebelum kami semua, tapi saat kau ingin memastikannya, dia tiba-tiba menghilang. Sesuatu seperti itu."
Gina terdiam memandang Conan, lalu tanpa sadar ia mengangguk. Conan hanya tersenyum ketika melihat anggukan itu.
"Yah, tenang saja. Kita akan melindungi Kobayashi-sensei sekaligus menangkap pelaku itu," katanya dengan percaya diri.
"Apa maksudmu?" tanya Gina. Conan lagi-lagi tersenyum memandangnya.
"Aku punya rencana."
Rupanya rencana Conan pertama kali adalah mengumumkan pada grup detektif cilik dan Shiratori bahwa Gina melihat seseorang mengintip. Ketika ditanya apakah orang itu si pelaku, Conan mengatakan bahwa itu tidak mungkin karena si pelaku tak tahu seperti apa wajah Kobayashi-sensei maupun di mana Kobayashi-sensei berada. Conan lalu berkata bahwa si pengintip itu mungkin hanya orang yang diam-diam suka mengambil foto anak-anak. Kemudian ia berkata cukup keras bahwa sebaiknya mereka pulang dan tak usah menunggu Kobayashi-sensei karena ia akan tinggal sampai malam untuk menyiapkan bahan ajar. Anak-anak pun pulang bersama Shiratori, namun di mobil Shiratori, Conan menjelaskan yang sebenarnya. Ia mengatakan bahwa jika orang yang dilihat Gina memang si pelaku, kata-kata Conan barusan mungkin didengarnya dan jika memang begitu, si pelaku mungkin akan berencana menyerang Kobayashi-sensei malam ini di sekolah. Sebaiknya polisi juga menyiapkan rencana penyergapan pelaku di saat penyerangan itu.
Malam itu, rencana Conan dan para polisi dijalankan.
Gina dan teman-temannya melihat bagaimana Miwako menyamar jadi Kobayashi-sensei sementara Kobayashi-sensei berada dalam penjagaan Shiratori. Gina dan teman-temannya juga melihat bagaimana Miwako berhasil menghajar si pelaku dan bagaimana akhirnya pelaku berhasil ditangkap. Gina mendengar bagaimana Shiratori menyebutkan paragraf 36 hukum pidana di depan si pelaku yang ternyata membuat Kobayashi-sensei akhirnya bisa mengingat masa lalunya saat bertemu Shiratori pertama kali. Gina menyaksikan ketika Shiratori menyatakan cinta pada Kobayashi-sensei. Kasus malam itu pun berakhir dengan bahagia, tapi masih ada yang mengganjal Gina.
Mengapa Conan percaya bahwa Gina melihat pelaku? Padahal Gina sama sekali tak melihat pelaku.
"Conan." Gina memutuskan untuk bertanya pada Conan. Ia tidak bisa diam saja. "Kenapa kau percaya padaku? Maksudku, aku sendiri tidak yakin apakah yang kulihat memang si pelaku, tapi kenapa kau bisa percaya begitu saja?"
Conan memandangnya sesaat, lalu tersenyum. "Somehow I know I can trust you, eventhough you're quite unusual."
Gina tertegun. Bukankah Conan yang unusual—tidak biasa—dengan terlalu percaya padanya dan tiba-tiba menjawabnya dengan bahasa Inggris? Tapi Gina tidak memperpanjang pembicaraan mereka karena Conan sudah keburu pergi menjauh. Entah mengapa Gina punya perasaan bahwa ia takkan bisa sepenuhnya memahami Conan sekalipun ia membaca manga Detektif Conan berkali-kali.
TBC
Review please :)
