Fanfiction

Cast : Jongin!GS, Sehun

Genre : Romance, Drama

Summary : Jongin terlahir dari keluarga kaya raya, namun hal itu yang membuat hidupnya semakin sulit, karena dia tidak seperti anggota keluarganya yang lain. Tidak seperti kedua saudaranya, Jongin bukanlah gadis yang cantik—tidak jelek juga kok, dia tidak memiliki nilai akademik yang patut dipamerkan atau keahlian yang membuat dia pantas diperhitungkan. Jongin benar-benar tidak memiliki sesuatu yang spesial. Hidup Jongin jungkir balik hanya dalam semalam, hidupnya berubah. Pangeran yang selalu dia khayalkan bukanlah sekedar khayalan lagi.

Chapter Ten

Bandara menjelang tahun baru sangat ramai. Semua orang berpergian untuk berlibur, menemui keluarga jauh dan juga ada yang pergi untuk urusan bisnis. Sehun dan Jongin duduk dibangku panjang yang tersedia di bandara, mereka menunggu panggilan untuk masuk kedalam pesawat. Jongin tersenyum riang menatap paspor dan tiketnya.

"Berhenti tersenyum seperti itu Jongin, nanti cowok lain akan naksir pada pacarku." Sehun merangkul mesra kekasihnya yang terus-terusan memandangi paspor dan tiket ditangannya.

"Kau sepertinya tidak pernah kehabisan bahan untuk merayuku ya." Jongin hanya tersipu malu mendengar ucapan Sehun. Setelah beberapa minggu resmi berpacaran, Sehun terus menghujani Jongin dengan perhatian, hadiah, dan yang jelas rayuan yang membuat gadis manis itu hanya bisa tersipu.

"Begitulah. Kau juga tak pernah kehabisan bahan untuk membuatku tergila-gila."

"Sehuuuun, berhenti membuatku malu!" Jongin melepas rangkulan Sehun dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Sehun selalu bisa membuat hatinya melonjak-lonjak tidak karuan hanya karena sebuah kalimat.

"Apa hal pertama yang ingin kau lakukan begitu sampai di London?" Sehun bertanya sambil merangkul kembali Jongin. Sehun tidak tahan untuk tidak memeluk, merangkul, menggandeng kekasihnya sebentar saja.

"Uhm, aku ingin bertemu orang tuamu dulu." Jawab Jongin. Orang tua Sehun memang sudah pulang terlebih dahulu ke London beberapa hari yang lalu.

"Untuk apa?" Sehun heran.

"Untuk sopan santun. Aku kan tidak mau jadi calon menantu yang durhaka."

"Aww, kau ingin membahas pernikahan? Kau sudah siap menjadi Mrs. Oh?"

"Bu-bukan seperti itu! Ih, kau itu! Ma-maksudku—" Jongin kesal melihat wajah jahil yang diberikan Sehun padanya, kenapa sih pacarnya ini suka sekali menggodanya?

"Iya sayang, aku paham." Sehun memberikan senyumnya yang paling mempesona. Sehun merasa sangat beruntung memilih Jongin sebagai kekasihnya, jawaban yang diberikan Jongin atas pertanyaan sederhananya barusan menunjukkan betapa cantik hati Jongin, betapa pengertian, betapa luar biasa pribadi yang Jongin miliki.

"Sehun?" Sebuah suara mengejutkan Sehun dan Jongin yang masih berdiri mengantri. Didepan mereka sesosok gadis cantik berpakaian serba modis yang tersenyum lebar melihat Sehun.

"Oh. Hai Baekhyun." Sehun terlihat sangat terkejut melihat keberadaan gadis didepannya.

"Kau mau pergi berlibur?" Gadis yang ternyata bernama Baekhyun itu bertanya ramah pada Sehun.

"Well, begitulah. Aku akan kembali ke London." Sehun menjawab sopan meskipun keterkejutan masih mewarnai raut wajahnya. "Oh iya, ini.."

"Pelayan barumu?" Baekhyun bertanya sambil masih tersenyum.

"Huh?" Sehun bukannya tidak mendengar perkataan orang yang berada didepannya, ia hanya tidak yakin dengan pendengarannya.

"Pelayanmu? Atau bukan?" Ekspresi Baekhyun berubah begitu melihat wajah tegang Sehun dan gadis yang berdiri disebelah lelaki itu. Wajah Baekhyun tidak lagi tersenyum, digantikan keterkejutan.

"Ini Jongin, kekasihku." Sehun memperkenalkan Jongin dengan penuh percaya diri dan keyakinan.

"Kekasihmu? Sungguh? Wah, aku pikir dia…pelayanmu.." Baekhyun lagi-lagi menyebut kata pelayan membuat hati Jongin yang dari tadi sudah tergores, kini mulai meneteskan darah.

"Maaf ya Jongin, aku benar-benar tidak tahu." Baekhyun memberikan senyumnya yang paling cantik juga tatapan memohonnya yang seperti anak anjing. "Aku tidak menyangka saja selera Sehun jadi turun drastis seperti ini.." Jongin yang baru saja ingin berbaik hati membiarkan hinaan pedas itu lewat begitu saja ketika Baekhyun kembali menorehkan pisau dihatinya.

Bagi Jongin, penampilannya yang berbeda jauh dengan anggota keluarganya yang lain sering membuatnya merasa minder. Namun sejak mengenal Sehun, kepercayaan diri Jongin perlahan mulai naik. Sehun selalu bisa membuat Jongin merasa cantik dan berharga. Kini hanya dalam beberapa detik, kepercayaan diri yang Jongin kumpulkan dengan susah payah langsung rubuh dalam sekejap.

"Baekhyun…" Sehun sedikit panik melihat reaksi Jongin yang tenang-tenang saja mendengar hinaan yang ditujukan padanya. Sehun ingin menyumpal mulut Baekhyun dengan apapun yang ada disekitarnya.

"Aku sampai belum memperkenalkan diri astaga. Namaku Byun Baekhyun, aku teman Sehun semasa SMU." Baekhyun mengulurkan tangannya pada Jongin.

"Aku Kim Jongin. Jaketmu bagus sekali by the way.." Mata Sehun nyaris keluar mendengar pujian Jongin untuk Baekhyun, gadis yang baru saja menghinanya. Apa Jongin tidak sadar dengan ucapan merendahkan dari Baekhyun barusan?

"Ah, terima kasih.." Baekhyun juga sedikit terperanjat namun dengan cepat menyunggingkan senyum cantiknya lagi.

"Tapi, bukan kah jaket Burberry yang asli…tidak ada yang berwarna seperti ini..?" Jongin menyentuh sedikit jaket panjang milik yang dikenakan Baekhyun.

"Huh?" Baekhyun wajahnya seperti baru saja ditampar.

"Tidak apa, jaketmu mirip sekali kok dengan buatan aslinya. Hanya sedikit orang yang mampu membandingkannya." Saat ini adalah salah satu saat dimana Jongin merasa sangat beruntung memiliki kakak seperti Luhan. Jika bukan karena Luhan pasti ia tidak akan mengetahui hal sepele seperti perbedaan barang-barang branded yang asli dan yang palsu, Jongin berjanji akan memberikan oleh-oleh yang banyak pada Luhan sepulangnya ia dari London.

"Begitu ya?" Baekhyun kembali tersenyum lebar, seolah ia tidak pernah mendengar sindiran Jongin akan jaketnya. "Ah, itu dia panggilan untuk naik ke pesawat. Aku duluan ya, Selamat Natal Sehun! Kau juga Jongin." Baekhyun melambai sambil berjalan menjauh dari tempat Sehun dan Jongin berdiri.

"Hey, kau tidak apa-apa?" Sehun menyentuh lengan Jongin lembut.

"Aku…baik-baik saja." Jongin menjawab ragu sambil memainkan cangkir teh dihadapannya, kebiasaan Jongin ketika sedang merasa tidak nyaman.

"Dia adalah…salah satu temannya…" Sehun berkata sambil mendesah panjang, ia benci harus membawa orang itu kedalam pembicaraan mereka. "Aku tidak peduli apa yang dia.."

"Aku merasa bersalah Hun. Tidak seharusnya aku mempermalukan dia seperti itu." Jongin menatap cangkirnya dengan sorot mata yang sedih. Sehun rasanya menyesal tidak mencekik Baekhyun ketika gadis itu masih ada didepannya. Sehun sangat marah mendengar Jongin yang masih sempat merasa bersalah karena telah membalas hinaan Baekhyun padanya.

"Jongin, yang kau lakukan itu tidak salah. Aku saja tadi nyaris mencekiknya—"

"Hal negatif tidak boleh dibalas dengan hal negatif juga, Hun."

"Jongin, sangat wajar bagi setiap orang untuk mengeluarkan durinya ketika merasa disakiti. Landak akan mengeluarkan durinya ketika merasa terancam, apakah itu membuat landak hewan yang jahat?" Sehun berusaha menggenggam tangan Jongin.

"Oppa…" Jongin mengangkat wajahnya saat mendengar kalimat Sehun yang selalu bisa membuatnya merasa lebih baik.

"Oppa?" Sehun meringis malu mendengar Jongin memanggilnya oppa.

"Kau benar-benar oppa terbaik didunia." Jongin merebahkan kepalanya dipundak Sehun. Jika Sehun merasa beruntung mendapatkan Jongin, gadis itu merasa berkali-kali lipat lebih beruntung. Sehun adalah lelaki pertama yang menatapnya lebih dari sekedar fisiknya saja, Sehun bisa membuatnya merasa cantik dan percaya diri, Sehun memberikan Jongin banyak alasan untuk tersenyum.

"Jangan memanggilku begitu, aku…malu." Jongin memang tidak bisa melihat wajah Sehun tapi ia yakin wajah tampan kekasihnya pasti memerah.

"Bukankah kau yang dulu ingin aku memanggilmu oppa?"

"Aku tidak jadi ingin dipanggil oppa, kau memanggil Xiumin Hyung oppa juga, Kris Hyung juga. Aku nanti tidak spesial lagi…" Sehun dengan lihai membuat alasan.

"Kau pintar sekali beralasan." Jongin mencubiti lengan Sehun dimana ia bersandar. Sehun berpura-pura mengaduh kesakitan dan mencium pipi Jongin agar berhenti. Jongin terkesiap dengan ciuman mendadak Sehun pada pipinya ditempat umum namun tawa masih mengembang diwajahnya.

Jongin tersenyum bahagia, gema suara Baekhyun mulai menghilang dari kepalanya. Jongin tidak bisa berkata jika perkataan Baekhyun tidak mempengaruhi dirinya sama sekali. Sebagai gadis normal tentu saja Jongin merasa harga dirinya diinjak-injak ketika Baekhyun menghina penampilannya dihadapan kekasihnya. Tapi, Sehun lagi-lagi bisa membuat Jongin kembali tersenyum.

Jongin sudah duduk diam selama hampir setengah jam di balkon kamar mewah Sehun di Kota London yang sangat dingin di Bulan Desember. Mata Jongin memandang kosong sambil mengenggam cangkir cokelat hangat yang kini sudah dingin. Pikirannya kembali pada kejadian tadi pagi di Bandara Internasional Incheon, perkataan Baekhyun masih menghantuinya.

"Jongin, kau tidak ingin masuk? Diluar sangat dingin." Sehun memeluk tubuh Jongin dari belakang membuat Jongin sedikit terlonjak karena terkejut.

"Astaga Hun, kau mengagetkanku." Lamunan Jongin langsung buyar. Melihat Sehun langsung membuat Jongin merasa jauh lebih baik ribuan kali.

"Kau sedang apa diluar? Hm?"

"Aku…hanya memandangi apa yang kau selalu kau lihat setiap hari." Jongin tidak berbohong, pada awalnya ia memang hanya ingin melihat pemandangan yang berada diluar kamar Sehun. Meskipun lama kelamaan pikirannya menjalar menuju kejadian yang kurang mengenakkan tadi pagi.

"Kau suka?"

"Suka sekali. Rumahmu indah sekali."

"Kau bisa menikmatinya lagi besok pagi saat udara tidak terlalu dingin. Ayo masuk, aku tidak ingin kau sakit." Sehun mengiring Jongin masuk kedalam ruangan yang hangat.

"Kedua orang tuamu masih bekerja jam segini?" Jongin bertanya begitu ia sudah duduk disofa besar kamar Sehun.

"Malam ini mereka tidak bekerja, ada acara amal." Sehun membuka lemari besar dan terlihat sibuk mencari-cari sesuatu.

"Wah kau benar-benar seperti aku.."

"Kau jauh lebih beruntung Jong, kau punya Luhan Noona dan Kris Hyung. Aku dirumah sendirian." Sehun membawa selembar selimut tebal dari dalam lemarinya. "Pakai ini agar kau cepat hangat." Sehun melebarkan selimut itu dan menyelimuti tubuh Jongin.

"Hihi, selimutmu lucu sekali." Jongin terkikik melihat selimut yang dipakaikan Sehun untuknya. "Apa ini selimut yang kau buat sendiri?" Jongin tiba-tiba teringat cerita Sehun.

"Hehehe, iya. Ini adalah selimut pertama yang aku buat ketika kelas menjahit. Aku masih menyimpannya sampai sekarang." Sehun sedikit bersemu dengan pujian kekasihnya. Kenapa sekarang Sehun jadi gampang malu-malu jika sedang bersama Jongin?

"Sebenarnya…ide untuk membuat selimut ini dari ibumu."

"Hah? Bagaimana bisa?"

"Waktu itu kedua orang tuamu sedang berkunjung kesini. Aku ingat dengan jelas, aku sedang stress karena aku mendapat tugas untuk membuat sesuatu di kelas menjahit. Ketika sampai dirumah ibumu melihatku murung dan bertanya padaku dan…begitulah. Ibumu mengusulkan untuk membuat selimut saja." Sehun menerawang sambil merangkul Jongin kedalam lengannya.

"Ibuku memang sangat berbakat dalam hal jahit-menjahit." Jongin mengakui betapa hebat ibunya dalam bidang fashion dan kreatifitas. Sayangnya hal itu tidak menurun padanya. "Kenapa kau memilih kelas menjahit waktu itu?" Jongin bertanya heran, memangnya tidak ada kegiatan klub lain selain menjahit?

"Eh…uh…karena…"

"Apa karena dia?" Jongin bertanya dengan suara pelan.

"Uh..sedikit.." Sehun tidak ingin menjawab 'iya', ia tidak ingin menyakiti hati Jongin dengan kebenaran. "Bagaimana kau bisa menebak begitu?"

"Kau selalu terlihat gugup dan takut ketika membicarakan tentang dia.." Jongin menatap Sehun penuh kasih sayang, tidak ada rasa cemburu atau amarah sama sekali ketika mereka membicarakan gadis yang pernah berstatus seperti dirinya.

"Aku bukan masih teringat atau belum bisa melupakan dia. Sesungguhnya aku selalu diliputi ketakutan sejak resmi berkencan denganmu, aku takut kau tiba-tiba meninggalkanku, aku takut dia tiba-tiba mengusikmu. Aku takut—"

Cupp!

Jika biasanya lelaki yang mencium kekasihnya agar sang wanita berhenti berbicara, kini sang wanita yang mencium prianya. Jongin mengecup bibir Sehun sekali dan mengelus pipi Sehun.

"Aku tahu." Jongin memandang wajah tampan didepannya lekat-lekat. Wajah yang tadi menyiratkan ketegangan kini sudah lebih rileks dan sedikit memerah. "Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu karena dia, Oh Sehun. Aku tahu kau bersungguh-sungguh dengan perasaanmu padaku, aku percaya padamu."

"Kau membuatku ingin menciummu Jong."

"Cium aku kalau begitu."

Bibir keduanya bertemu lagi. Ciuman mereka kali ini lebih dari sekedar kecupan seperti sebelumnya, bibir mereka bertautan berbagi kasih sayang. Sehun menarik tubuh Jongin agar ia bisa mencium kekasihnya semakin dalam, tangannya melingkar pada pinggang Jongin. Gadis yang berada didekapan Sehun hanya membiarkan lelaki itu melumat bibirnya lembut, sesekali ia meremas jaket Sehun.

"Ehem." Sebuah suara mengagetkan pasangan kekasih itu. Ayah Sehun.

"A-ayah..aku..aku…" Sehun langsung salah tingkah melihat ayahnya yang memergokinya sedang bermesraan dengan Jongin.

"Pa-paman.." Jongin segera bangkit dari duduknya dan membungkuk dalam-dalam memberi salam pada Tuan Oh dengan wajah merah padam.

"Apa Sehun berusaha melecehkanmu?"

"Ti-tidak Paman. Maaf…" Jongin gelagapan diberi pertanyaan seperti itu.

"Tidak ada yang perlu dimaafkan. Kalian masih muda." Tuan Oh tersenyum hangat pada Jongin, senyum yang jarang Sehun dapatkan dari ayahnya sendiri. "Dan kau! Ini untukmu!" Tuan Oh melempar sebuah kotak ke arah Sehun yang sedari tadi berdiri mematung.

"Apa ini…Ayah!" Sehun rasanya ingin loncat dari balkon kamarnya saja jika seperti ini. Ayahnya baru saja melempar sekotak kondom ke arahnya.

"Satu jam lagi diruang keluarga." Tuan Oh menutup pintu kamar Sehun dengan wajah datar, meninggalkan pemuda pemudi yang wajahnya semerah tomat.

"Aku tidak…tidak…" Sehun menggaruk lehernya yang terasa memanas karena terlalu malu. Bagaimana mungkin ayahnya sendiri melempar kondom kearahnya didepan kekasih hatinya?

"Uh, aku akan ke ruang keluarga sekarang saja." Jongin tidak tahan berduaan lebih lama lagi bersama Sehun. Gadis mana yang tidak malu dipergoki orang tua sang kekasih sedang bermesraan?

"Aku akan menyusul sebentar lagi."

"Bibi senang sekali kau akhirnya menjadi calon menantu kami." Telinga Jongin rasanya panas mendengar kata-kata calon menantu.

"Sa-saya dan Sehun baru berpacaran beberapa minggu, jadi saya rasa terlalu cepat untuk—"

"Tidak ada yang terlalu cepat. Jika sudah cocok kenapa tidak segera menikah saja?" Rasa panas yang sedari tadi menyelimuti wajah dan telinga Jongin kini mulai menjalar pada lehernya. Jongin heran, kenapa keluarga Oh ini sepertinya suka sekali membahas masalah pernikahan?

"Ibu, Jongin saja belum lulus SMU. Aku juga masih ingin kuliah." Sehun juga sedikit malu dengan pembicaraan ibunya.

"Ah, padahal ibu sudah ingin menimang cucu.."

"Ibu!" Sehun melotot kearah ibunya.

"Ibumu benar. Kau adalah anak kami satu-satunya dan ayah sudah cukup tua untuk menimang cucu."

"Ayah, aku masih ingin…" Sehun tidak berani menaikkan nada bicaranya pada ayahnya.

"Iya, iya. Kami tidak ingin memaksa kalian. Kami hanya sangat senang akhirnya Sehun menemukan gadis yang baik hati. Kami hanya terlalu bahagia." Nyonya Oh melihat ketidak nyamanan yang dirasakan Jongin karena membahas masalah pernikahan.

"Tidak apa Bibi." Jongin berkata sambil tersenyum.

"Jongin, jika Sehun bersikap kurang ajar padamu laporkan pada paman. Paman akan menghajarnya." Tuan Oh lagi-lagi memberikan senyum kasih sayangnya pada Jongin. Sehun tersenyum senang melihat senyuman diwajah ayahnya, tidak ada rasa iri sedikitpun melihat ayahnya lebih bersikap penuh kasih sayang pada gadisnya.

"Aku berjanji tidak akan melukai Jongin, Ayah."

"Ayah pegang janjimu. Kalau kau sampai menyakiti Jongin mau dimana ayah menaruh harga diri ayah didepan ayah Jongin?"

"Iya Ayah, aku serius dengan Jongin. Aku akan segera menikahi Jongin begitu aku lulus kuliah dan mendapat pekerjaan." Jongin menyenggol lengan Sehun karena menyinggung masalah pernikahan lagi dengan wajah merona. Memang sepertinya keluarga Oh suka sekali dengan topik pernikahan.

"Kenapa? Katamu kau mau menikah denganku?" Sehun bertanya lugu begitu melihat tatapan Jongin padanya.

"A-aku…aku hanya.." Jongin bersemu lagi.

"Ah, kalian ini sangat menggemaskan. Jongin jangan malu-malu terus seperti itu dong. Kau membuat bibi ingin segera menikahkan kalian." Nyonya Oh girang sekali melihat kemesraan Jongin dengan anaknya. Jongin hanya mendesah dalam hati, kenapa sih harus membahas pernikahan terus dari tadi?

"Bibi akan mengambilkan kue yang baru saja—aw!" Nyonya Oh merintih ketika berusaha bangkit dari duduknya.

"Tidak apa-apa. Hanya kram saja seharian mengenakan sepatu hak tinggi." Nyonya Oh langsung menenangkan orang-orang disekitarnya yang terlihat panik.

"Biar aku ambilkan Bibi. Kue yang mana?" Jongin beranjak dari duduknya.

"Kue yang ada didapur. Tolong ya Jongin." Begitu senangnya wanita itu melihat kekasih anaknya sangat perhatian.

"Tentu saja Bibi." Jongin tersenyum sebelum meninggalkan ruang tengah menuju dapur. Tanpa Jongin sadari, langkahnya menuju dapur diikuti oleh seseorang.

"Jongin." Sebuah suara berat mengejutkan Jongin yang sedang mencari-cari kue yang dimaksud oleh Nyonya Oh.

"Paman.." Jongin membungkukkan badannya sedikit begitu melihat siapa yang memanggil namanya. Darah ditubuh Jongin mengalir lebih cepat karena keberadaan lelaki yang akan menjadi mertuanya.

"Jangan terlalu tegang begitu." Tuan Oh mendudukkan dirinya pada salah satu kursi didapur dan mengisyaratkan agar Jongin juga duduk. Jongin tahu jika Tuan Oh pasti akan membicarakan sesuatu yang penting padanya, dan sesuatu yang penting itu berkaitan dengan Sehun.

"Paman ingin bicara sesuatu padamu." Jongin meneguk ludahnya kasar, kenapa dia bisa lebih tegang berbicara dengan lelaki ini dibanding pertama kali berbicara dengan Sehun?

"Ya Paman?"

"Paman ingin berterima kasih padamu karena sudah mau menerima Sehun." Tuan Oh tersenyum, membuat Jongin sedikit lebih rileks. "Paman tahu jika Sehun bukanlah lelaki yang baik, dia memiliki banyak hal yang tidak bisa ia banggakan."

"Menurut saya Sehun adalah lelaki yang hebat Paman."

"Menurut Paman juga begitu, dia hanya tidak tahu potensinya. Paman sampai sekarang tidak paham dari mana Sehun belajar menjadi pembangkang seperi itu, well, sekarang sudah tidak lagi. Dan Paman sangat berterima kasih padamu."

"Say-saya.." Jongin tersanjung dengan pujian Tuan Oh.

"Kau berjasa banyak Jongin, bahkan didikan keras Paman selama belasan tahun tidak bisa menjadikan Sehun lelaki yang baik. Sedangkan kau bisa merubah Sehun hanya dalam hitungan hari." Tuan Oh berhenti bicara sejenak untuk mengambil nafas.

"Paman ingin minta tolong padamu."

"Hu-huh?"

"Tolong jangan tinggalkan Sehun. Apapun yang terjadi, seberapa berat cobaan yang diberikan untuk kalian. Tolong jangan tinggalkan Sehun." Jongin sangat bingung sekarang. Kenapa tidak anak dan bapak semuanya ketakutan sekali ia akan pergi?

"Paman, boleh saya bertanya sesuatu?"

"Silahkan."

"Saya tidak pernah menanyakan hal ini pada Sehun karena setiap kami membahas masalah…mantan kekasih Sehun, ia terlihat tegang dan panik. Memangnya seperti apa gadis itu? Kenapa Sehun tidak suka membahasnya? Dan apa permintaan Paman ada hubungannya dengan gadis itu?" Jongin mengungkapan pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab dikepalanya.

"Well, Paman tahu Sehun tidak akan pernah serius dengan gadis itu. Sehun hanya dibutakan oleh entah apa yang dimilik gadis itu, Paman juga tidak paham. Sebenarnya sudah beberapa kali Sehun berusaha lepas dari gadis itu namun gadis itu seperti ular. Ia selalu memiliki cara agar Sehun kembali kedalam pelukannya." Jongin termangu mendengar penjelasan Tuan Oh, gadis yang sedang mereka bicarakan terdengar seperti siluman ditelinga Jongin.

"Gadis itu memiliki latar belakang keluarga yang hebat dan karakter yang mengerikan. Dia mau melakukan apapun agar keinginannya terlaksana, termasuk mengusik hidupmu. Paman hanya khawatir kau akan menyerah dan meninggalkan Sehun ditengah jalan." Raut wajah Tuan Oh terlihat cemas, membuat Jongins semakin bertanya-tanya tentang gadis itu.

"Saya…berjanji tidak akan meninggalkan Sehun." Jongin tersenyum menenangkan lelaki paruh baya didepannya. Jongin sedikit gugup melihat ayah Sehun yang ikut cemas jika mantan kekasih anaknya akan mengusik hidupnya. Jika orang sehebat Tuan Oh merasa khawatir, berarti gadis siluman itu memang berbahaya.

Tuan Oh menceritakan bagaimana masa remaja Sehun ketika anak semata wayangnya itu selalu berulah dan bergonta-ganti kekasih, meskipun terdengar seolah Sehun adalah anak yang pembangkang. Sehun tidak pernah melanggar peraturan-peraturan mutlak yang diterapkan orang tuanya. Sehun tidak pernah melanggar kriminal tingkat menengah keatas seperti berjudi, memakai narkoba dan melakukan tindak kekerasan. Sehun juga tidak pernah melakukan seks bebas dengan deretan mantan-mantan kekasihnya. Hal ini membuat Tuan Oh yakin jika jauh dalam diri Sehun, ia adalah anak baik.

Tuan Oh juga menceritakan beberapa hal mengenai mantan kekasih Sehun yang terakhir. Sehun dulu tergila-gila pada gadis itu karena menurut Sehun, kekasihnya pada waktu itu adalah gadis yang luar biasa cantik, populer dan keren. Sehun mulai menyadari sifat asli gadis itu setelah beberapa bulan bekencan, ia mulai melihat bagaimana orang-orang disekitar kekasihnya disakiti baik secara fisik atau mental.

Jongin sekarang paham mengapa Sehun enggan sekali membicarakan mantan kekasihnya yang satu itu. Pertama, Sehun pasti tidak ingin menyakiti perasaan Jongin karena membicarakan orang dari masa lalunya, Kedua, Sehun takut jika ia harus berurusan lagi dengan seseorang yang sangat ia hindari. Belum lagi Sehun harus menjaga Jongin dari penyihir itu, pasti kekasihnya itu takut jika Jongin menjadi salah satu korban dari gadis itu.

Malam sudah semakin larut, kedua orang tua Sehun harus segera istirahat untuk mempersiapkan stamina agar besok bisa berkegiatan lagi. Sedangkan Jongin dan Sehun masih duduk diruang tengah memandang salju yang mulai turun. Jongin duduk merapat kearah Sehun dan lelaki itu dengan senang hati memberikan kehangatan untuk kekasihnya.

"Hun, kenapa kau selalu terlihat takut pada ayahmu?" Jongin memainkan jari Sehun yang berada dipangkuannya.

"Ayahku adalah orang yang sangat keras. Beliau sering memukulku ketika kecil meskipun aku tahu semua yang ayahku lakukan untukku demi kebaikanku." Sehun menjawab pertanyaan Jongin sambil menerawang seolah teringat akan masa kecilnya. "Aku tahu ayahku sangat menyayangiku dan ini adalah cara ayahku untuk mendidikku agar menjadi lelaki yang kuat."

"Ayahmu memang sangat menyayangimu."

"Aku tahu." Sehun mencium puncak kepala Jongin. Kegiatan seperti ini merupakan kegiatan favorit Sehun sekarang. Jika dia dulu selalu berkencan dengan mantan-mantan kekasihnya di klub, arena balap, juga bar-bar. Kini Sehun lebih suka berpelukan dirumah menikmati cokelat hangat.

"Jongin, kau tahu aku sangat mencintaimu kan?"

"Tentu saja aku tahu. Kenapa kau bertanya begitu?" Jongin heran dengan pertanyaan Sehun.

"Aku…hanya merasa cemas lagi. Aku takut kehilanganmu." Sehun mengeratkan pelukannya pada Jongin membuat gadis itu menempelkan wajahnya pada leher Sehun.

"Aku tahu kau mencintaiku sama besarnya seperti aku mencintaimu." Jongin tidak masalah wajahnya terhimpit diantara lengan dan leher Sehun. Wangi Sehun adalah favoritnya dan hangat kulit Sehun adalah selimut kesukaannya.

"Aku mencintamu Jongin, sangat. Lebih dari hidupku sendiri."

"Aku mencintaimu, Oh Sehun." Jongin memeluk pinggang Sehun lebih erat.

"Kalau begitu, malam ini kau mau tidur denganku?"

"YA!" Jongin langsung melepas pelukannya dan mendorong Sehun jauh-jauh. Sehun langsung terlihat panik dengan tatapan tajam Jongin untuknya setelah ia menyadari makna ambigu ajakannya barusan.

"Bu-bukan tidur seperti itu…Ma-maksudku aku ingin tidur yang satunya, yang bisa bermimpi…" Sehun buru-buru menjelaskan dengan gelagapan.

"Tidak mau!" Jongin menutup wajahnya dengan bantal sofa.

"I-iya. Tidak usah saja." Sehun rasanya menyesal sekali tidak menyusun kalimatnya dengan benar sebelum berkata-kata. Bisa-bisa sekarang Jongin akan mengiranya cowok mesum.

"Sehun, kau lebih suka yang ini atau yang ini?"

"Beli saja dua-duanya."

"Hah? Untuk apa? Menghabiskan uang saja." Dahi Jongin mengerut tidak setuju. "Ayo pilih." Jongin merengek manja.

"Uhm, yang warna putih saja."

"Tapi nanti cepat kotor." Jongin tidak yakin dengan jawaban Sehun.

"Kalau begitu yang cokelat saja."

"Tapi yang putih lucu." Sehun menghela nafas panjang. Ternyata semua perempuan sama saja ketika berbelanja. Tidak ibunya atau semua gadis yang pernah ia temani belanja.

"Maka dari itu beli dua-duanya."

"Itu menghabiskan uang Hun." Jongin kembali fokus pada dua tas mahal dengan model serupa ditangannya, berusaha memutuskan tas mana yang akan ia beli. Sehun hanya menggeleng sambil tersenyum, jika ia dulu selalu mengomel ketika disuruh menemani belanja-belanja yang seperti ini kini ia tersenyum senang. Melihat Jongin yang tekesiap lucu saat melihat barang menggemaskan sangat menghiburnya dan ekspresi bingung Jongin ketika kebingungan memilih barang juga mampu membuat Sehun tersenyum.

Dua jam kemudian, sepasang kekasih itu sudah duduk didalam sebuah cafe kecil ditengah Kota London. Jongin ternganga melihat tempat yang sedang ia kunjungi. Cafe itu sangat kecil dan memiliki penerangan minim membuat Jongin tidak bisa melihat keadaan seluruh sudut cafe.

"Dulu, aku selalu kesini sendirian setiap aku habis bertengkar dengan ayah. Aku kesini setiap aku sedang ada masalah yang tidak bisa aku ceritakan pada siapapun." Sehun menjelaskan pada Jongin yang terlihat sangat terperangah dengan cafe pilihannya untuk makan siang.

"Kenapa harus cafe ini?" Jongin bertanya heran.

"Karena cafe ini gelap, jadi tidak ada yang melihatku jika aku menangis." Jongin terpana dengan jawaban Sehun. Jika seseorang lelaki sampai menangis pasti masalah yang sedang ia hadapai sangat berat, dan saat itu Sehun menangis sendirian tanpa seorang pun yang menenangkannya.

"Aku tidak pernah mengajak siapapun kesini karena menurutku tempat ini adalah tempat spesial untukku. Dan aku membawamu kesini karena kau sudah bagian dari hidupku." Jongin sangat tersanjung mendengar ucapan Sehun.

"Setelah ini aku akan mengajakmu bertemu dengan seseorang yang sangat penting dalam hidupku. Kau mau?" Jongin memandang penuh tanya kekasihnya, siapa orang yang paling penitng dalam hidup Sehun?

"Jangan cemburu ya." Sehun tersenyum jahil.

"Tidak akan!" Jongin memang tidak merasa cemburu, dia hanya penasaran. Namun wajah menyebalkan Sehun membuat ia jadi bertanya-tanya. Seperti apa sih orang yang paling penting dalam hidup Sehun?

Seusai makan siang di cafe kecil yang memiliki penerangan minim, Sehun mengajak Jongin mengunjungi sebuah pemukiman kumuh yang tak jauh dari cafe tersebut. Sehun terus menggandeng Jongin ketika gadisnya sibuk memandangi segala sesuatu yang baru disekitarnya.

"Jongin, kenalkan. Ini Bibi Eliza." Jongin tidak sadar mereka sudah sampai didepan sebuah rumah kecil dan didepannya duduklah seorang wanita tua yang berpakaian terlalu tipis untuk musim dingin.

"Bibi, ini kekasihku. Kim Jongin." Sehun mengucapkan kalimatnya dengan lambat dan jelas. Seolah wanita didepan mereka adalah seorang tuna rungu.

"Kekasih?! Kau sudah punya kekasih?" Bibi Eliza tersenyum lebar menatap Sehun kemudian beralih pada Jongin.

"Sa-saya Jongin, Bibi." Jongin membungkukkan badannya dengan sedikit bingung harus bicara dengan bahasa apa. Mendengar Sehun yang bicara dalam Bahasa Korea, Jongin hanya mengikuti saja.

"Kau cantik sekali pantas saja Sehun menolak cucuku untuk dijodohkan dengannya." Jongin tidak tahu harus berkata apa mendengar ucapan wanita didepannya sedangkan Sehun hanya terkekeh.

"Bibi, aku membawakanmu selimut lagi. Tolong dibagi-bagikan ya." Sehun meletakkan sebuah tiga kantung besar yang sedari tadi ia bawa. Jongin kira Sehun membawa itu untuk dirinya dan Sehun, ternyata itu adalah hadiah untuk wanita tua yang kekurangan ini.

"Ah, kebetulan sekali. Beberapa orang kekurangan selimut untuk musim dingin." Bibi Eliza tersenyum sangat lebar melihat kantung yang diletakkan Sehun dekat kakinya.

Jongin hanya berdiam diri mematung melihat interaksi kekasihnya dengan wanita tua itu, hati Jongin sangat tersentuh melihat Sehun berbicara penuh kasih sayang pada Bibi Eliza. Jongin mengira-ngira bagaimana Sehun bisa berkenalan dan menjadi sedekat ini dengan Bibi Eliza dan menurutnya entah bagaimana mereka bisa saling mengenal, pertemenan beda usia dan kasta ini sangat menyentuh hatinya.

Sepulang dari pemukiman kumuh tempat Bibi Eliza tinggal, Sehun tidak banyak bicara dan Jongin tidak mengusik kekasihnya sama sekali. Sehun terlihat sedikit murung, sama seperti ibunya ketika pulang dari acara amal. Jongin tidak tahu Sehun memiliki sisi yang begitu mulia, sisi yang tidak ada orang tahu bahkan kedua orang tuanya.

"Aku memberikan selimut-selimut yang aku buat dikelas menjahit untuk Bibi Eliza dan orang-orang yang tinggal disana." Sehun tiba-tiba memecah keheningan.

"Bibi Eliza terlihat sangat menyangimu."

"Begitulah. Bibi Eliza memiliki suami orang Korea Selatan namun sudah meninggal, kini hanya dia dan cucu angkatnya. Anak-anaknya meninggalkan dia ketika ia jatuh sakit." Jongin yang memang pada dasarnya cengeng, ingin menangis mendengar cerita kehidupan Bibi Eliza.

"Aku bertemu dengan Bibi Eliza ketika ia sedang berusaha mencuri belajaanku." Sehun bercerita sambil tersenyum, teringat bagaimana perkenalannya dengan Bibi Eliza. Ucapan Sehun barusan menjawab pertanyaan terbesar dikepala Jongin sedari tadi.

"Kau dan Bibi Eliza terlihat sangat dekat."

"Apa kau cemburu?"

"Huh? Jika aku cemburu padamu dan Bibi Eliza, itu sama saja dengan kau cemburu padaku dan Kris Oppa."

"Uhm, aku kadang cemburu pada Kris Hyung."

"Hah?" Jongin terkejut dengan jawaban Sehun.

"Kris Hyung bisa melihat kecantikanmu setiap hari, sedangkan aku…" Sehun memajukan bibirnya beberapa sentimeter.

"Kau benar-benar harus berhenti merayuku!" Jongin tidak tahan dengan sikap menggemaskan Sehun dan mencubit pipi kekasihnya itu.

"Jongin! Jongin! Hentikan! Nanti aku menabrak!" Sehun berusaha melepaskan cubitan Jongin pada pipinya.

Tidak terasa hari sudah menjelang gelap ketika Sehun dan Jongin kembali ke rumah besar Sehun. Dengan langkah riang Sehun menjinjing belanjaan-belanjaan Jongin sambil mengikuti kekasihnya yang berjalan hati-hati membawa kotak berisi puding untuk kedua orang tua Sehun.

"Kau akan membuat ayahku riang bukan main. Sudah berapa lama beliau tidak makan makanan seperti in….." Sehun tidak melanjutkan kalimatnya begitu ia memasuki ruang tamu rumahnya. Langkah keduanya terhenti melihat seseorang duduk dengan santai diatas sofa.

Jongin terpana, didepannya duduk seorang gadis luar biasa cantik. Kecantikan gadis itu akan membuat Barbie merasa minder, seketika Jongin merasa sangat buruk rupa berdiri berhadapan dengan gadis didepannya.

"Sayang, kenapa kau tidak mengabariku kalau sudah berada di London?" Gadis itu bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Sehun, langsung memeluk Sehun mesra. Sehun nyaris saja mendorong gadis yang tiba-tiba menyentuhnya itu, tatapan matanya begitu tajam seakan bisa membunuh.

"Untuk apa kau kesini?"

"Aku merindukanmu, tentu saja."

"Hentikan sikap konyolmu. Pergilah." Suara Sehun sangat dingin, membuat salju yang turun diluar sana terasa hangat.

"Kenapa? Apa ini cuma karena gadis ini?" Jari gadis cantik itu menunjuk kearah Jongin seolah sedang menunjuk tumpukan sampah.

"Jaga bicaramu Jessica. Pergi, sebelum aku kehabisan kesabaran."

"Pergi? Kau sekarang sudah bisa mengusirku? Kau tidak ingat kau mengejar-ngejarku dulu? Kau tidak ingat kau rela dipukul ayahmu demi aku?"

"Pergi, sekarang." Sehun terdengar sangat marah, dan Jongin hanya bisa berdiri mematung melihat mantan kekasih Sehun yang ternyata bernama Jessica. Jongin akui dirinya terlihat seperti sampah jika dibandingkan dengan Jessica, dan hal ini membuat hati Jongin seperti dicubit.

"Kau mencintaiku Sehun dan kau akan selalu mencintaiku." Suara Jessica bergetar, entah karena amarah atau kesedihan melihat Sehun sudah dengan gadis lain. "Dan kau, kau sudah mencuri kekasihku. Kau merusak hubunganku dengan Sehun, kau masuk ke antara kami ketika kami sedang renggang. Kau mendekati Sehun ketika aku sedang jauh darinya. Kau tahu? Barang curian tidak akan pernah menjadi milikmu selamanya." Jessica menambahkan dengan nada dingin. Matanya menatap nyalang kearah Jongin yang sedari tadi hanya bisa berdiri diam.

"Jessica, aku mohon pergi."

"Pergi? Setelah melihat kekasihku diambil orang lain begitu saja? Setelah seseorang merusak hubungan kita hanya dalam hitungan hari?" Suara Jessica bergetar lagi, kali ini karena menahan tangis. "Kau sudah lupa dengan semua janji yang kau ucapkan padaku? Kau lupa dengan semua yang kita lalui bersama?" Air mata mulai mengalir dari mata Jessica.

"Tolong, pergi. Aku mohon." Sehun tidak mau menatap Jessica yang menangis dihadapannya.

"Aku akan pergi, tenang saja. Tapi kau tahu bahwa aku selalu mendapatkan yang aku inginkan." Jessica menyeka air mata yang membasahi pipinya kemudian mengambil tasnya diatas meja ruang tamu. "Kau tahu hal itu kan, Oh Sehun?"

Jongin berdiri terdiam memandang pintu dimana Jessica baru saja menghilang, hatinya bergemuruh kencang. Jadi itu mantan kekasih Sehun, pantas saja Sehun sulit meninggalkan dia? Gadis itu sangat cantik, dibandingkan dengan aku….Aku tidak ada apa-apanya..

Sejak insiden di bandara, Jongin memang jadi lebih sensitif jika berkaitan dengan penampilan, dan melihat betapa cantiknya Jessica barusan membuat kepercayaan diri Jongin terjun bebas.

"Jongin, kau tidak apa-apa?" Sehun mendekati Jongin yang sedari tadi terdiam.

"Jangan mendekat." Jongin mundur satu langkah.

"A-da apa Jong?"

"Apa aku merusak hubungan kalian? Apa benar aku hadir ketika hubungan kalian sedang renggang? Apa aku pada awalnya hanyalah sebuah pelampiasan karena kau sedang kesepian?"

To Be Continue

Maafkan author karena slow update banget *deep bow*

Akhirnya, Jessica muncul deh hehe.

Semoga suka ya sama chapter ini hehehe.

Jangan lupa reviewnya!^^

Sedih nih udah mulai sepi, jangan nyerah buat terus support HunKai ya^^

Gomawo!