BAGIAN XI: Sebuah Definisi
Sehun pulang ketika pagi akan menyapa dunia kembali. Dia mendapati mobil miliknya terparkir di halaman depan menjelaskan tentang Chanyeol yang benar datang sebelumnya. Sehun mulai menerka bagaimana dua pria dewasa itu kini; apakah mereka telah baik-baik saja atau—kebalikan dari itu?
Hembusan nafas pelannya menciptakan uap berkumpul melalui celah rongga hidung. Sehun cepat-cepat masuk ke dalam rumah dan kursi roda milik Baekhyun adalah apa yang menyambutnya pertama kali.
Kening Sehun berkerut samar. Ditatapinya lama besi yang telah menjadi kaki pengganti untuk saudaranya itu sebelum langkah kembali dia bawa masuk ke dalam rumah, menuju kamar utama memastikan keberadaan saudaranya itu.
Namun Baekhyun tidak berada disana. Hanya Jackson dan Jesper yang masih terlelap di atas tempat tidur tanpa Baekhyun dan seketika panik mendera Sehun tiba-tiba.
"Hyung?" Sehun memanggil Baekhyun berulang sembari langkah berkeliling ke setiap sudut rumah. Mungkin Baekhyun berada di kamar mandi, atau dapur, ruang tengah atau mungkin saja di halaman belakang. Sehun tak ingin memikirkan bagaimana semua itu menjadi masuk akal—pikirnya, Baekhyun menyeret dirinya sendiri untuk pergi ke ruang satu ke ruangan yang lain atau mungkin saja keajaiban baru saja di terima oleh lelaki itu sehingga dia mampu berjalan lagi.
Namun sampai setiap sudut rumah itu telah habis Sehun singgahi, Baekhyun tetap tak berada disana.
"Baekhyun hyung!" Sehun lagi memanggili nama Baekhyun, kali ini lebih keras—menggema mungkin saja suaranya itu dapat membangunkan kedua keponakannya pula.
Sehun tiba-tiba saja tak bisa berpikir jernih. Otaknya mulai kacau memikirkan hal dimana Chanyeol yang datang lantas membawa Baekhyun pergi. Keadaan yang mereka hadapi mungkin semakin kacau dan pria yang masih menjadi iparnya itu mungkin sudah gila dan membawa Baekhyun pergi begitu saja.
"Baekhyun hyung!" Suara Sehun kian meninggi pun dengan tapak kaki yang semakin keras menghentak lantai.
"Sehun?"
Langkahnya kontan berhenti ketika panggilan itu terdengar. Sehun berbalik cepat dan segera menemukan sumber suara itu berasal dari tangga. Suaranya berat dengan sisa kantuk serupa dengan wajah bantal pemilik suara itu.
"Chanyeol hyung?" Sehun terperangah. Matanya melotot dan cepat-cepat menghampiri Chanyeol yang berjalan sempoyongan menuruni tangga. Pria itu baru saja bangun—mungkin terjaga oleh teriakan Sehun. Bagian atas tubuhnya tak ditutupi oleh kain apapun sedang celananya terpasang tanpa niat dengan resleting yang tak sepenuhnya terjalin.
Sehun menyipitkan mata tak ingin salah menangkapi apa yang dilihatnya pada tubuh Chanyeol yang terbuka. Ruam merah dengan beberapa bekas cakaran tercetak jelas pada dada juga lengan pria itu.
Kepanikan yang sempat melanda Sehun mendadak hilang di gantikan dengan canggung yang memerangkapi. Hanya dengan melihat penampilan Chanyeol pun dengan dirinya yang sudah tak lagi anak-anak, Sehun tau betul apa makna dibalik itu semua.
"Kau baru saja pulang?" Chanyeol menguap sekali dan mengerjab sambil mengusap matanya yang masih terasa berat.
"A-ah ya…" Sehun menjawab kaku. "Hyung… disini?" dia bertanya.
Chanyeol memberikan anggukan dan sudah mampu mengontrol kantuknya.
"Baekhyun berada di atas." Chanyeol menjelaskan, "dia masih tidur."
Sehun hanya mengangguk dua kali sebagai respon. "Kupikir Baekhyun hyung pergi entah kemana,"
Chanyeol tersenyum maklum. Tengkuknya yang tak gatal dia garuk pelan sedang keterdiaman tiba-tiba saja mengisi kedua pria tinggi itu.
"Semua… baik?" Sehun bertanya lagi. Bohong jika Sehun tak penasaran tentang apa yang terjadi sebelumnya sedang beribu pertanyaan terus berputar tentang apa dan bagaimana dua orang yang telah terlibat dalam pernikahan itu telah berbaikan kembali. Itu jelas merupakan hal yang baik, Sehun benar bersyukur jika badai itu telah menyusut hilang, namun dibalik itu semua… Sehun masih menyimpan tanya bagaimana.
"Ya," Chanyeol menganggguk. "Berkatmu." Senyumnya terkembang membuat lesung pipi tunggal miliknya ikut tercipta pula. "Terima kasih Sehun…"
Sehun seperti dihujani oleh dingin air, rasanya menenangkan sekali hanya dengan sepenggal jawaban itu.
"Aku senang semuanya telah baik-baik saja." Sehun balas tersenyum. Suasana canggung itu berubah rikuh ketika tawa kikuk dipaksa tercipta.
"Aku memiliki jadwal siang nanti, aku ingin istirahat sekarang." Dan Sehun memilih untuk menghentikan keadaan itu lebih lama lagi. "Jangan bangunkan aku sampai jam makan siang nanti ya, hyung." Dia berpesan di akhir.
Chanyeol mengangguk cepat dan mengantar kepergian Sehun dengan pandangannya. Disana dia menyadari jika tak mengenakan pakaian apapun sebagai atasan dan seketika semburat merah segera menghiasi parasnya yang tampan.
Chanyeol berubah malu layaknya remaja yang baru saja ketauan mendapatkan mimpi basah untuk pertama kalinya walau kenyataan dia adalah pria dewasa dengan 2 anak dan seorang calon bayi yang tengah di kandung oleh suaminya.
Menekan rasa malunya, Chanyeol lantas bergerak menuju kamar dimana anak-anak tidur memastikan apakah kedua jagoannya itu telah terjaga atau masih mengarungi mimpi.
Namun nyatanya hal itu masih tak mampu menghentikan otak Chanyeol untuk memproses setiap detail ingatan, khususnya akan semalam—terlebih bagaimana surga dunia kerinduannya itu akhirnya kembali mampu dia kecapi kembali.
Bersama Baekhyun, suaminya.
:::
Rasanya seperti berdiri di atas seutas benang rapuh, dilihat dari segi apapun benang itu akan tetap terputus lantas menjatuhkan apapun yang mencoba bertahan ke dalam lubang gelap tanpa harapan.
Chanyeol berada dalam situasi yang sama.
Mungkin dia memang tidak tau diri, atau urat malunya telah terputus dan hidupnya sudah tak dapat di selamatkan kembali.
Namun dalam sisa terujung lubuk hatinya, Chanyeol bertanya; tak bisakah dia mengais sisa-sisa harapan itu? Bahkan dengan kemungkinan terkecil pun, tak bisakah Chanyeol tetap bertahan dengan harapan miliknya?
Lutut mulai terasa kaku beradu dengan lantai yang dingin sedang pandangan kian memburam seperti langkah hidupnya. Isakan terdengar menyedihkan, sebenarnya itu terdengar memalukan namun Chanyeol tak ingin peduli sama sekali.
Hanya Baekhyun dan pengampunan maaf atas seluruh tindakan bodoh yang dilakukannya selama ini.
"Sudikah kau menerima pria rendahan ini lagi Baekhyun?" Chanyeol terpatah-patah merangkai sisa kalimat yang dimiliknya.
"Tidakkah kau tau seberapa besar usahaku untuk membencimu?" pertanyaan balik itu membuat otot leher Chanyeol kian menegang. Rasanya seperti kusen berkarat, berderit ketika dia paksa mendongak dan mempertemukan hazel basahnya dengan sipit milik Baekhyun.
"Aku benar-benar ingin membencimu tapi…" Baekhyun menggigit bibirnya bergetar. "Tapi mengapa rasanya sulit sekali…"
Ledakan tangis Baekhyun pecah seketika. Suaranya pilu menghentak Chanyeol dalam kesadaran jika dirinyalah penyebab dari itu semua. Chanyeol bergetar takut sama seperti gerakan tubuhnya yang tak terkontrol ketika menghampiri Baekhyun lebih dekat.
"Baek—"
"Kau menyakitiku…" isak Baekhyun. "Rasanya sangat menyakitkan tapi mengapa itu tak cukup membuatku untuk membencimu?" Baekhyun meraung. Kepalan tangannya menghujami Chanyeol dalam pukulan bertubi.
"Maafkan aku… maafkan aku…" Chanyeol berucap sedang tubuhnya mengikis jarak membawa tubuh mungil itu dalam dekapan. Tangisan Baekhyun teredam di atas dadanya. Suaranya menyayat Chanyeol membuat pria itu lagi tak mampu menahan tangisnya lagi.
Dua anak Adam itu berbagi isakan. Tersedu sedan dalam hening tengah malam meluapakan seluruh emosi yang berkecamuk dalam hati masing-masing.
"Aku tak ingin mengakui jika nyatanya rasa cintaku lebih besar daripada rasa benciku padamu."
Chanyeol tertegun kala ujaran itu melambai pada pendengarannya.
"Aku memaafkanmu…"
Dan dia pikir, ilusi pasti baru saja merasuki sekujur tubuhnya hingga kalimat itu ikut tercipta kemudian.
Chanyeol tiba-tiba saja berubah seperti rongsokan besi ketika melepaskan pelukannya dari Baekhyun. Mata basahnya mengerjab dengan hidung merah menatap tak percaya Baekhyun.
"Aku bilang aku memaafkanmu!" Baekhyun mengulang ucapannya sekali lagi, kali ini diikuti dengan pukulan pada dada Chanyeol dengan rengekan di akhir kalimat miliknya.
Tingkah laku itu mengingatkan Chanyeol akan Baekhyun di awal-awal pertemuan mereka dulu. Si pemalu Baekhyun yang bahkan tak berani untuk sekedar memulai sapaan dengannya. Baekhyunnya yang lembut, Baekhyun yang menghancurkan karang yang membelit ego lantas membuka mata hatinya akan ketulusan cinta yang hanya akan Chanyeol temui dari sosok mungil itu.
"Baekhyun!" Chanyeol tersedu lagi. Kembali dia bawa Baekhyun dalam pelukan, lebih erat sampai oksigen tak mampu di tarik oleh suaminya itu.
"Jika kau melakukannya lagi, aku akan benar-benar membencimu." Baekhyun berkata sedang semburat panas pada wajah menghiasi sepasang pipi berisi miliknya.
"Aku bersumpah tidak akan melakukannya lagi, kau bisa membunuhku jika aku melakukannya!" Chanyeol menjawab cepat seolah kilat akan menyambar jika sedetik saja terlewati.
"Akan kupastikan aku akan membunuhmu jika kau melakukannya lagi." Sahut Baekhyun. Dia dengan pelan memukul punggung Chanyeol. Ketika kekehan Chanyeol terdengar, Baekhyun menghujani kepalan tangannya lagi pada tempat yang sama, lebih keras sampai pria yang menjadi suaminya itu mengaduh kesakitan.
"Aku sangat mencintaimu Baekhyunku…" ungkap Chanyeol. Belitan lengannya ia lepaskan lalu menarik dagu Baekhyun guna bersitatap dengannya. Pipi basah Baekhyun, Chanyeol usap lembut pun dengan ujung mata yang masih menggantung, Chanyeol seka penuh kehati-hatian.
"Boleh aku menciummu?" Chanyeol bertanya.
Rasanya seperti déjà vu, seperti 8 tahun lalu baru saja di tarik mengembalikan kedua insan itu pada awal-awal pernikahan mereka.
Dengan canggung dan malu-malu menghinggapi tak jauh berbeda dengan keadaan yang mendera kini.
Baekhyun tak memberikan jawaban dan Chanyeol tak berniat untuk menunggu hal itu. Jarak Chanyeol kikis perlahan sedang lunaknya menggapai lunak serupa milik Baekhyun.
Rasanya seperti kupu-kupu menghinggapi perut masing-masing. Begitu menggelitik, begitu menyenangkan terasa.
"Kau selalu mengalami morning sickness yang parah di setiap kehamilanmu," Chanyeol berkata sembari menatap Baekhyun. "Aku seharusnya berada di sampingmu dan mendukungmu melewati semua ini." tuturnya penuh sesal. Tawa yang sempat menghiasi, meluntur hilang dan Baekhyun merasakan hatinya tercubit melihat hal itu.
"Aku baik-baik saja," Baekhyun kembali membawa tangannya mengusap rahang Chanyeol kembali. "Bukankah mengalami morning sickness itu normal untuk setiap kehamilan?" senyumnya terkembang manis.
Chanyeol menatap getir ekspresi itu. Bahkan dengan beribu ungkapan maaf yang telah dia ucapkan, Chanyeol masih belum merasa itu semua cukup untuk melupakan seluruh kesalahan yang telah dia lakukan.
Benar, seharusnya Baekhyun bisa mendapatkan seseorang yang lebih baik. Bukan seperti dirinya…
"Hei," Baekhyun memanggil Chanyeol pelan. Telunjuknya bermain pada bibir bawah Chanyeol lalu merambat pada sudut bibirnya. Dia menarik bagian itu perlahan, membuat lekuk bibir itu seolah menarik senyum walau tak benar ingin Chanyeol lakukan. Dia merasa tak pantas untuk melakukannya.
"Chanyeol…" Baekhyun memanggil suaminya itu lagi. Sipitnya menautkan diri pada hazel Chanyeol dan mengitari lekuk cantik retina itu selama beberapa detik. "Bahkan dengan semua yang telah kau lakukan… aku bahagia masih memiliki alasan untuk tetap bertahan bersamamu."
Satu tangannya yang lain meraih tangan Chanyeol dan membawa telapak tangan besar itu untuk menapak di atas perutnya.
"Dia…" ucap Baekhyun. "Calon bayi kita, Jackson dan juga Jesper… tidakkah itu cukup menjadi alasan untuk tetap bertahan dan memulai semuanya dari awal?"
Hidung Chanyeol menjadi perih lagi diikuti pandangan yang mulai memburam. Dia menunduk, menyembunyikan genangan air matanya yang telah menumpuk pada ujung mata.
"Aku benar-benar menyesal Baekhyun…"
"Aku tau," sambut Baekhyun cepat. Sepasang lengannya melingkari leher Chanyeol, lebih erat menyembunyikan senyumnya disana. "Dan aku juga tau kau tetap mencintaiku..."
:::
Ketika Chanyeol kembali ke kamar, Baekhyun baru saja bangun dengan satu tangan mengusap-usap kelopak matanya yang berat sedang tangan yang lain berusaha mengancingi piyamanya. Perhatiannya segera teralih pada pintu dan menemukan Chanyeol berada disana.
"Sehun baru saja pulang," Chanyeol memberitau. "Dia juga berpesan untuk tidak dibangunkan sampai makan siang nanti."
"Sehun sudah sarapan?" Baekhyun bertanya.
Chanyeol menggidikkan bahunya karena memang tidak mengetahui hal itu. Dia menutup pintu dan menghampiri Baekhyun di tempat tidur. "Kau mau kemana?"
"Cuci muka dan menyiapkan sarapan." Jawab Baekhyun.
"Masih terlalu pagi, tidurlah lagi." Chanyeol mendorong pundak Baekhyun untuk berbaring kembali. Namun si mungil itu memberikan gelengan dan menyeret tubuhnya turun dari tempat tidur.
"Aku harus membantu Jackson untuk berangkat ke sekolah," kata Baekhyun lagi.
Chanyeol menghela nafas pelan menyadari sikap keras kepala Baekhyun kembali keluar. Memberikan bantahan takkan membantu banyak kecuali menurutinya.
"Tapi serius ini masih terlalu pagi Baek…" kata Chanyeol lagi. "Ini bahkan belum jam 6," sambungnya. Dia menunjuk luaran jendela yang masih gelap.
"Aku harus ke kamar mandi," ucap Baekhyun.
"Ingin muntah?" Chanyeol bertanya panik. Matanya sampai melotot dan itu menciptakan tawa dari Baekhyun.
Dia menggeleng pelan sebelum menjawab, "Mau mandi, rasanya gerah sekali." Dia menyentuh kulit lengannya pelan. Bibirnya terkulum kecil—malu-malu mengingat apa yang menyebabkan hal itu.
"Ah," Chanyeol tertawa. Tiba-tiba pria itu teringat dengan sesuatu yang lain, "Bagaimana jika kita terapi sebentar?"
Melakukan terapi di pagi hari adalah hal yang sangat di anjurkan oleh dokter. Di hari lalu, Chanyeol rutin membantu Baekhyun melakukannya, namun kian hari menjadi berkurang karena kesibukan yang dia miliki dan berakhir dengan Baekhyun yang lebih banyak melewati paginya begitu saja.
Baekhyun tak memberikan penolakan ketika Chanyeol membelit pinggangnya seraya dibantu bangkit dari tempat tidur. Kaki mati rasanya segera melunglai dan Baekhyun reflek menopang tubuh sepenuhnya pada Chanyeol dengan tangan terkepal kuat pada dada pria itu.
"Hati-hati," bisik Chanyeol. Keduanya menunggu selama beberapa detik pada posisi yang sama sebelum Baekhyun mencoba menegakkan tungkai lunglainya disana.
Sepasang lutut itu bergetar bukan main dan telapak kakinya terasa aneh ketika menapak langsung pada lantai yang dingin. Chanyeol lalu tanpa kata membawa kaki Baekhyun untuk menapak di atas punggung kakinya dan mulai memulai langkah dengan hati-hati.
"Aku masih bisa merasakan lantainya," Baekhyun bertanya dengan bahagia. "Rasanya dingin sekali," kekehnya kemudian.
"Itu bagus, berarti saraf kakimu sudah berfungsi kembali." Balas Chanyeol. Mereka berdua berjalan mengitari kamar itu, dari tempat tidur menuju jendela lalu kembali pada tempat tidur kembali.
"Tidakkah kakimu sakit?" Baekhyun menunduk—menatap pada kakinya yang menapak di atas kaki Chanyeol. "Karena hamil pasti berat badanku bertambah,"
"Aku bahkan bisa mengangkatmu dengan ujung jari," Chanyeol berseru membuat Baekhyun mencibir padanya.
"Aku masih ingin mandi," kata Baekhyun lagi. "Rasanya tidak nyaman lengket dan telanjang seperti ini." bibirnya melengkung cemberut. Chanyeol berubah gemas dan tanpa ragu mencuri kecupan dari bibir tipis itu.
"Satu ronde di kamar mandi?" tawarnya dengan alis naik-turun jenaka.
"Tidak mau, Jackson bisa terlambat ke sekolah." Tolak Baekhyun. dia mendorong dada Chanyeol pelan hendak memisahkan diri namun sepasang lengan Chanyeol masih erat mendekap pinggangnya disana.
"Tidak akan," keukeuh Chanyeol. "Karena kita sendiri yang akan mengantarnya ke sekolah,"
"Huh?"
"Kali ini tanpa penolakan," tutup Chanyeol.
"Tapi—"
"Hari ini Bank akan menyita rumah kita, jadi kau harus membantumu mengambil beberapa barang disana. Kau mau bukan?" itu aneh bagaimana Chanyeol mampu merangkai kalimatnya dengan tatapan sehangat itu, dengan nada bicara seringan itu.
Baekhyun tertegun dan tak sadar memberikan anggukan tanpa penolakan yang ingin disuarakannya kembali. Langkah Chanyeol kembali ditapaki menuju kamar mandi. Dibawanya tubuh mungil itu di dalam bath up lantas mengisinya dengan air hangat. Chanyeol kemudian bergabung dengan ciuman lembut sebagai awal meraih puncak kenikmatan semalam kembali.
:::
Jeritan Jackson menggema sampai keisi rumah ketika sosok Chanyeol dan Baekhyun memasuki kamar. Kantuknya segera menghilang dan bocahnya itu melompat turun dari tempat tidur lalu naik ke atas pangkuan Baekhyun.
"Hai hati-hati Jagoan, kau bisa membuat adikmu terjepit." Chanyeol menegur dan menggendong si sulung itu.
"Aku semalam bermimpi terbang ke bulan!" Jackson berseru semangat. "Bulannya berwarna biru."
"Bulan berwarna abu-abu, sayang." Baekhyun mengoresksi.
"Tapi warna biru lebih bagus, iya 'kan Dda?" bocah yang duduk di bangku kelas 2 sekolah dasar itu beralih pada Chanyeol.
"Biru memang bagus, tapi bulan tidak berwarna abu-abu." Jelas Chanyeol.
"Mengapa seperti itu?" mata bulat warisan Chanyeol itu mengerjab.
"Itu mengapa Njek harus sekolah untuk mendapatkan jawaban mengapa," Chanyeol menjepit pelan ujung hidung Jackson. "Jadi sekarang cepat mandi, karena…" alis Chanyeol naik turun dengan jenaka.
"Karena…?" Jackson mengejar dengan semangat.
"Papa akan mengantar Njek juga ke sekolah!"
"Benarkah?! Benarkah itu?!" Jackson berseru terlalu semangat dengan kaki menendang-nendang udara. "Pa benarkah itu?" dia beralih pada Baekhyun yang mendongak menatap kedua lelaki berbeda usia kecintaannya itu dengan lembut.
Baekhyun mengangguk dengan senyum tipis tersunging.
"Apa Njek senang?"
"Sangat senang~!" Jackson kembali berseru. Dia lekas turun dari gendongan Chanyeol dan segera berlari menuju kamar mandi. "Aku akan mandi sekarang!" tak lupa berteriak pula dan kali ini benar menganggu Jesper dari tidurnya.
Rengekan si bungsu itu terdengar kesal namun masih enggan untuk bangkit dari tidurnya. Selimut dia naikkan sampai kepala—mengubur dirinya di dalam sana dan menghasilkan gelengan dari kedua orangtuanya itu.
"Bangun Njes…" Baekhyun mendekati anaknya itu dan menarik selimutnya. Sosok kecil itu terlihat dibalik sana dengan mata terpejam dan kening berkerut.
"Njes masih ingin tidur~" anak itu merengek.
"Jangan tidur lagi, kita akan mengantar Jackie hyung ke sekolah hari ini." kata Baekhyun. Jesper mengintip kecil mendengar hal itu.
Bibir tipisnya terkulum, setengah ragu bertanya, "bersama Papa juga?"
Baekhyun mengangguk, "Ya, Papa juga pergi."
"Benarkah?" anak itu tiba-tiba saja bangkit dengan binar serupa akan milik Jackson sebelumnya. "Kita akan melihat sekolah Njek hyung?" pekiknya semangat.
"Iyups~" angguk Baekhyun. "Jadi segeralah mandi bersama Njek hyung, oke?"
"OKIEE~" Jesper melompat turun dari tempat tidur.
"Pagi Jagoan," Chanyeol menyapa ketika Jesper hendak melewatinya. Pria dewasa itu bersimpuh pada lantai dengan satu tangan berada di udara.
Jesper menyambut tangan itu dalam tepukan sekali dan menjawab, "Pagi Dadda~" lantas melanjutkan langkah menemui Jackson di kamar mandi.
:::
Baekhyun tidak pernah datang ke sekolah dimana Jackson mengenyam pendidikannya sekalipun. Ini adalah kali pertama dan reaksi yang diberikan oleh Papa calon tiga anak itu pun nyaris serupa seperti Jesper.
"Kedai Bibi Yong menjual es krim yang sangat enak, Njes harus mencobanya juga." Jackson dengan menggebu-gebu menceritakan objek apapun yang mereka lewati kepada adiknya itu. Jesper mendengarkan dengan antusias dan itu sedikit banyak mencubit perasaan kedua orangtua mereka. Baekhyun yang selalu menolak untuk keluar rumah sedang Chanyeol yang lebih memilih menghabiskan akhir pekan dengan setumpuk berkas di kantor dan berakhir mengabaikan kewajibannya sebagai orangtua.
Jok belakang mobil Sehun yang tengah Chanyeol kendarai itu terdengar riuh oleh suara kedua bocah itu. Sesekali dua orang dewasa yang duduk di depan menimpal, terlebih Baekhyun yang selalu mendapatkan pertanyaan dari anak bungsunya.
"Itu sekolah hyung!" Jackson menunjuk pada jendela pada gedung sekolah dimana mobil milik Sehun itu berhenti.
"Wah, besar sekali hyung~" Jesper berdecak kagum. "Njes juga ingin sekolah disini," Aku Jesper.
"Tunggu sampai Jesper berumur 5 tahun oke?"di depan sana Baekhyun menyeletuk.
"Apakah itu masih lama?"
"2 tahun lagi sayang," itu Chanyeol yang menjawab. Jesper diam sedang dalam hati mulai menghitung berapa jari yang dibutuhkan untuk mencapai angka 2 tahun.
"Nanti Papa dan Dadda akan menjemput bukan?"Jackson beralih dari saudaranya itu menatap kedua orangtuanya kini.
"Tentu sayang," kembali Chanyeol yang menjawab. "Jadilah anak baik dengan belajar dengan rajin, oke?"
Jackson mengangguk cepat penuh semangat. Pintu mobil dibuka dan memberikan lambaian kepada orangtua juga adiknya itu. Tubuh kecilnya segera berbaur dengan anak-anak seusianya yang lain sebelum menghilang dari pandangan.
Chanyeol mengendarai mobilnya kembali, menyisakan pandangan Baekhyun yang tertinggal pada halaman sekolah itu. Apa yang menarik perhatiannya adalah para orangtua yang berjalan hilir mudik untuk mengantar anak-anak mereka, semua itu menjadi beralasan bagaimana Jackson kerap mempermasalahkan tentang Baekhyun yang pernah datang untuk mengantar juga menjemput dirinya. Itu pasti mempengaruhi Jackson, diam-diam lagi Baekhyun menyalahi dirinya sendiri.
"… Hyun?"
"Oh!" Baekhyun mengerjab seraya menoleh pada Chanyeol. "Ada apa?" tanyanya.
"Kau melamun?" tegur Chanyeol. "Apa kau baik?"
Baekhyun mengangguk, "Aku baik."
"Lalu bagaimana?"
"Hm, apanya?" Baekhyun balik bertanya tak mengerti.
Chanyeol tersenyum tipis mendengar hal itu, "Aku bertanya bagaimana jika kita mampir ke rumah sakit untuk memeriksakan kandunganmu?"
Pertanyaan itu reflek membuat Baekhyun segera memegang perutnya sendiri. Bagian itu dia usap pelan dan mulai menimang tawaran Chanyeol.
"Kupikir semuanya baik-baik saja," kata Baekhyun akhirnya. "Bukankah kita harus segera berbenah?"
Mendengar penolakan halus itu membuat Chanyeol menghela nafasnya pelan, "Tidak untuk hari ini, tapi besok-besok kita akan tetap ke rumah sakit dan tanpa penolakan!" tegas Chanyeol dengan delikan mata main-main.
Baekhyun tertawa pelan menanggapi. Dia menoleh kepada Jesper yang tenggelam akan pemandangan di luar kaca mobil dengan bibir bergerak pelan tanpa suara apapun yang menguar dari sana.
"Apa yang sedang Njes pikirkan?" Baekhyun bertanya kepada anak bungsunya itu. Bocah itu menoleh pada Baekhyun dengan mata bulat serupa milik Chanyeol mengerjab dua kali tanpa dosa.
"Memikirkan kapan 2 tahun itu datang."
:::
Padahal baru dua hari sejak Baekhyun meninggalkan rumah namun entah mengapa sudah lama sekali rasanya. Dia mendadak rindu dan kenyataan jika kediaman itu bukanlah miliknya lagi membuat Baekhyun tiba-tiba saja merasa tak rela.
Ada banyak sekali stiker dengan logo bank tertera menempel pada berbagai macam perabotan di dalam rumah itu, semua keterangan yang tertulis adalah disita; menegaskan jika tempat itu benar bukanlah di atas kepemilikan Chanyeol lagi.
Baekhyun berada di dalam kamarnya sedang Chanyeol berada di dalam kamar anak-anak, membantu Jesper mengemasi pakaian juga mainan mereka ke dalam kotak besar.
Baekhyun membuka laci pada meja rias dan berlega hati ketika menemukan kotak dengan pita keemasan itu masihlah berada disana. Dia membukanya perlahan dan masih mendapati alat tes kehamilan itu pun masih berada di dalamnya. Itu adalah kado yang hendak Baekhyun berikan kepada Chanyeol tempo hari, kiranya bisa menjadi sebuah kejutan dari Baekhyun walau kenyataannya Chanyeol benar-benar terkejut dengan kehamilannya yang ketiga ini.
Baekhyun diam-diam menyimpan kotak itu pada sisi kantung kursi roda miliknya sebelum bergerak pada mengemasi barang penting yang lain.
"Sudah siap?" Chanyeol dari pintu datang dengan sebuah kotak di tangan. Di dalamnya sudah terisi setengah mainan anak-anak dan masih memiliki tempat jika Baekhyun ingin mengisinya lagi hingga penuh.
"Kurasa sudah semua," sahut Baekhyun. "Dimana Jesper?"
"Di depan, dia bersikeras mau membawa beberapa barang ke mobil." Chanyeol terkekeh mengingat polah anaknya itu.
"Jesper suka sekali melakukan pekerjaan rumah," kata Baekhyun. "Dia selalu membantuku mengerjakan beberapa,"
"Itu bagus, bagaimanapun Jesper akan menjadi kakak sebentar lagi." Ucap Chanyeol, senyumnya terkembang bangga menulari Baekhyun untuk melakukan hal yang sama.
"Kemarilah, ada yang ingin kukatakan padamu," Baekhyun menepuk tempat tidur dua kali meminta Chanyeol untuk menempatkan dirinya disana. Chanyeol menurut, diletakkannya terlebih dahulu kotak itu di lantai sebelum duduk berhadapan dengan Baekhyun.
"Sebenarnya aku memiliki rencana yang telah kubicarakan dengan Sehun," Baekhyun memulai.
"Rencana?" kening Chanyeol berkerut bingung.
Baekhyun mengangguk. "Kontrak Sehun dengan agensinya akan berakhir tahun ini dan Sehun berpikir untuk tak memperpanjang kontrak lagi. Sehun bilang dia ingin memulai usaha bisnis yang baru, mungkin membuka restoran atau kafe…"
"Bukankah itu impianmu?" kerutan pada kening Chanyeol mengendur hilang, teringat akan apa yang pernah Baekhyun katakan sebagai cita-citanya dulu.
Baekhyun mengangguk malu-malu, "Kupikir ini akan bagus untuk kita memulai semuanya dari awal lagi Chanyeol."
Chanyeol segera paham kemana arah pembicaraan itu. Memulai usaha bisnis yang baru bukanlah hal yang buruk, merintis usaha dari 0 lagi juga bukanlah hal yang melakukan untuk dilakukan. Jadi Chanyeol pikir apa yang hendak Baekhyun utarakan merupakan hal yang bagus dan dirinya tak memiliki alasan untuk menolak itu semua.
"Aku memiliki sedikit tabungan hasil penjualan mobil, kupikir itu akan cukup untuk membuka sebuah kafe." Ujar Chanyeol. "Pastry buatanmu juga sangat cocok dengan latte, kupikir."
Baekhyun mengangguk setuju dengan letupan bahagia hanya dengan memikirkan mimpi yang sempat dikuburnya dulu kini memiliki kesempatan untuk diraihnya.
"Saat pulang nanti ayo kita bicarakan ini dengan Sehun," kata Baekhyun. Senyumnya terkembang kian lebar menuntun pasangan itu meninggalkan rumah dimana selama lebih 3 tahun menjadi kediaman mereka.
Sinar mentari bersinar terik dengan berbagai macam celotehan sekembali Jackson dari sekolah, terlalu bersemangat menceritakan pengalaman yang baru saja di dapatnya hari ini. Jackson menempati janjinya pula untuk membeli es krim dari kedai Bibi Yong untuk Jesper dan si bungsu itu benar bahagia dengan secorong es krim di tangan.
Baekhyun pikir, tidak ada yang lebih membahagiakan selain melihat dan mendengar tawa dari anak-anaknya, pun dengan kehadiran Chanyeol yang menemaninya melihat semua polah itu… Baekhyun pikir inilah akhir yang dia butuhkan.
tamat
Thank you so much readernim ❤
