Pagi ini sama seperti pagi sebelumnya—dialogku pun sepertinya sama seperti hari sebelumnya. Aku Namikaze Naruto yang menyamarkan nama sendiri sebagai Uzumaki Naruto, aku berprofesi sebagai pengasuh dari dua anak kembar nakal yang memiliki Ayah yang super tampan.

"Ugh, Obito malas sekali sekolah." Memajukkan bibirnya, nada suara Obito terdengar malas sekali. Oh, aku tahu rasanya malas berangkat sekolah, bahkan ketika aku masih kuliah dulu aku sering bolos kuliah. Ah, aku menyesal sekali sekarang.

"Jangan bicara begitu, Obito-chan." Aku menepuk kepala Obito. "Di sekolah 'kan menyenangkan. Obito-chan bisa bertemu dengan teman-teman, bermain, dan makan siang bersama mereka."

"Kalau begitu, Nalu-tan ikut dengan Obito ke sekolah. Nanti kita 'kan bisa main belsama." Face palm. Aku ikut mereka ke Taman Kanak-Kanak? Dimana tempat itu banyak monster kecil yang berisik dan menyeramkan? Hell no! Cukup hanya di rumah ini aku menghadapi anak kecil.

"Tidak bisa. Aku 'kan sudah dewasa." Aku menggeleng menolak. "Kalau kalian sudah selesai pakai sepatunya, ayo kita ke mobil. Tousan kalian menunggu lama."

Aku menggandeng lengan si kembar. Shisui di sebelah kiriku, Obito di sebelah kananku. Sudah aku bilang ini sama seperti biasanya, mungkin terasa sangat monoton tapi ini memang tugasku sebagai pengasuh mereka.

Walau kadang aku menginginkan suatu hal yang bisa membuat hidupku tidak terlalu monoton.

"Sudah siap?" Seperti biasanya juga Sasuke akan menunggu mereka di mobil, atau terkadang si kembar yang menunggu Sasuke di mobil. Dengan setelan jas lengkap yang rapi dan membuatnya semakin tampan—lupakan bagian ini—Sasuke menyandarkan dirinya di sisi mobil.

"Sudah!" Obito dengan semangatnya naik ke dalam mobil, diikuti dengan Shisui yang tampaknya pendiam sekali di pagi hari yang cerah ini.

"Pakai sabuk pengaman kalian." Mendengar perintah Sasuke, mereka berdua langsung memasang safety belt.

Dengan begini, mereka siap pergi. Sebelum itu aku harus memastikan ada yang tertinggal atau tidak, "Tidak ada yang tertinggal 'kan?" Aku bertanya pertanyaan seperti biasanya, mereka menjawabnya dengan gelengan.

"Shisui-chan tidak ada yang tertinggal?" Aku memastikan kembali, Shisui itu lebih pelupa dari Obito.

"Tidak ada." Jawab Shisui singkat.

Aku menghela nafas, "Kau merasa tidak enak badan?" Tanyaku kembali. Memang benar sih kalau Shisui itu anak pendiam, tapi rasanya kali ini berbeda.

"Tidak kok." Jawabnya sambil menggeleng. Matanya menatap padaku dengan pandangan heran. Mungkin aku saja yang terlalu berlebihan.

Aku mengangguk. "Kalau begitu kalian jangan nakal, hati-hati di sekolah." Setelah mengucapkan itu, kini pandanganku beralih pada Sasuke.

Ini bagian yang paling berat.

"Sasuke-san, maaf membuat menunggu." Sungguh, aku sebetulnya tidak berani menatap langsung wajah Sasuke.

"Tidak masalah, maaf merepotkanmu." Entah mengapa, aku merasa suasana ini awkward sekali. Hanya aku saja atau apa, tapi Sasuke tampak biasa saja.

Memberanikan diri, aku menatap wajah Sasuke. Sial, dia tampan sekali. Dia membuatku sesak nafas dengan tatapannya yang tidak aku mengerti.

"Kalau begitu aku berangkat." Sasuke mengacak rambutku seperti biasanya. Aku merasakan pipiku memanas entah karena apa. "Oh, kau boleh keluar selama Shisui dan Obito ada di sekolah. Aku dengar dari Iruka kau terus berada di rumah sepanjang hari," Sasuke mengusap tengkuknya, matanya menatap kearah lain. "Agar kau tidak bosan, kau boleh keluar. Aku tidak mau kau seperti orang yang terkurung disini."

Eh? Aku membulatkan mataku. "Ah, tidak. Aku tidak merasa terkurung." Aku mengibas lenganku. Alasan sebenarnya aku tidak keluar rumah adalah aku terlalu malas untuk keluar, di tambah Gaara dan Kiba yang tampaknya sedang sibuk dengan tugas kuliah mereka, dan juga Itachi yang tidak menghubungiku. "Etto, Sasuke-san, bukankah ini sudah terlalu siang?"

Aku berhasil mengganti topik. Sasuke tampaknya sadar jika ia hampir terlambat mengantarkan anak-anaknya. "Ah, kau benar. Rasanya aku terlalu malas untuk pergi ke kantor." Aku tersenyum, dia terdengar seperti Obito yang merengek.

"Kalau begitu, ittekimasu."

"Itterashai." Setelah mengucapkan itu, mobil mereka meninggalkan rumah ini. Aku balas melambai pada Shisui dan Obito yang melambaikan tangannya padaku.

Dengan begni kegatan pagiku selesai. Aku melakukan gerakan sederhana untuk merenggangkan tubuhku. Ketika aku berniat masuk, aku melihat Iruka yang sedang menyiram tanaman. Dia juga melihatku dan tersenyum padaku.

"Kau melakukan tugasmu dengan baik, Naruto." Ujarnya dengan senyum yang masih tersungging. Ah, mood Iruka sedang bercahaya saat ini.

Aku menggeleng, "Tidak sebaik Iruka-san tentu saja." Balasku dengan tertawa kecil. Tentu saja Iruka memang lebih hebat dan lebih berpengalaman. "Mungkin karena sudah cukup lama disini aku sudah terbiasa dengan Shisui dan Obito."

Aku jadi teringat ketika awal aku di terima sebagai pengasuh si kembar. Mereka anak yang nakal, tidak bisa di atur, dan tidak mau menurut. Tapi sekarang mereka menjadi anak yang baik dan tidak keras kepala. Lupakan fakta jika mereka masih nakal sampai sekarang dan aku masih tidak suka dengan mereka—mungkin.

"Mereka tampak menyukaimu, Naruto." Aku memandang Iruka heran. Mereka siapa yang di maksud oleh Iruka? "Tuan Muda juga Sasuke-sama."

"Heh?" Pekikku heran. Mendengar nama Sasuke yang keluar dari mulut Iruka membuat pipiku memanas. "Ti—Tidak begitu juga, Iruka-san. Mereka juga menyukai Iruka-san dan yang lain."

Iruka tertawa dan menepuk bahuku. "Kau ini lebih spesial di mata mereka bertiga," Ujarnya dengan nada lembut. "Sejak kau datang, rumah ini tampak lebih hidup. Kau membuat mereka bertiga lebih baik."

Eh? Apa benar aku membuat mereka bertiga berubah? Aku yang tidak pandai melakukan apapun mana bisa seperti itu, bukan aku yang membuat mereka seperti itu.

"Percayalah padaku, mereka bertiga sangat menyayangimu." Seolah bisa membaca pikiranku, Iruka berkata seperti itu. "Kami sangat bersyukur kau datang ke rumah ini, Naruto."

Entah mengapa, aku merasa kata-kata Iruka membuatku sedih. Iruka-san benar-benar baik. Dia tampak seperti seorang Ayah dan juga Ibu. "Iruka-san." Lirihku.

"Kalau begitu sekarang kau yang gantikan aku menyiram bunga." Eh? Apa-apaan ini. "Kau suka menyiram bunga 'kan? Kalau begitu aku masuk dulu."

HEH? Dengan seenak hatinya Iruka berjalan meninggalkanku sendirian di halaman depan. Kemana kata-kata mengharukannya yang tadi? Kenapa tiba-tiba dia kembali seperti biasa?

Aku menghela nafas. Aku melanjutkan pekerjaan Iruka menyiram tanaman. Salah satu hobiku memang menyiram bunga. Entah mengapa, itu sedikit menenangkan untukku.

Ditambah, rumah ini memiliki halaman yang indah. Sama seperti pertama kali aku menginjak rumah ini, aku sangat kagum dengan halaman rumah ini hingga saat ini. Di rumah ini juga mereka memiliki pohon sakura, satu di halaman depan dan satu lagi di halaman belakang.

Hebat bukan? Menurutku pohon sakura adalah pohon yang indah. Selain karena bunganya yang cantik, bunganya juga hanya mekar setahun sekali sehingga membuat semua orang menantikannya. Aku tidak menyangka jika Sasuke juga menanam pohon sakura di rumahnya.

Telingaku mendengar ada suara mesin mobil yang memasuki rumah. Satpam disana membungkuk sopan mempersilahkan mobil itu masuk. Mobil Brio berwarna silver itu berhenti saat memasuki gerbang.

Aku mengernyit. Itu bukan mobil Sasuke tentu saja. Mungkin itu mobil kolega Sasuke? Teman atau orangtua Sasuke?

Aku berdiri ketika mataku melihat wanita yang turun dari mobil tersebut. Ia berjalan dengan anggun, mini dress berwarna merah yang ia kenakan melambai tertiup angin. Jangan lupakan big size sunglass yang ia pakai, oh, itu koleksi dari Chanel!

Aku meneguk ludahku. Barang yang ia kenakan dari kepala hingga kaki adalah koleksi merk ternama. Sial, aku jadi ingat koleksi tas dan sepatuku. Kehidupan indah milikku yang sudah pergi menjauh dariku. Aku ingin sekali menangis.

"Kau siapa?" Wanita ini berdiri di hadapanku sambil berkacak pinggang.

Harusnya 'kan aku yang bertanya dia itu siapa. "Maaf, anda yang siapa?" Tanyaku berusaha sopan.

Entah mengapa, senyum yang terukir di bibir berpoleskan lipstick merah wanita ini sangat aneh sekali, dan juga membuatku kesal karena seperti sedang mengejek. Dia melepaskan kacamatanya. "Kau pasti pelayan di rumah ini." Dia menunjukku dengan tidak sopan. Sial, aku kesal sekali.

"Iya, bisa di bilang begitu." Aku mengangguk membenarkan perkataannya. Memang tidak salah ia bilang begitu, karena kenyataannya aku memang termasuk pelayan walaupun lebih tepatnya aku ini pengasuh. "Anda siapa?"

Wanita itu melebarkan matanya menatapku, lalu kembali dengan pandangan sinisnya. "Kau pasti pelayan baru." Dia tersenyum seperti tadi, senyuman mengejek. "Aku ini istri dari Uchiha Sasuke."

Huh? Istri siapa?


.

.

.

Perfect Nanny Candidate

.

Disclaimer:

Masashi Kishimoto

Pairing:

SasuNaru

WARNING!

Boys Love a.k.a Shonen-Ai! Metrosexual-Naruto, Alternative Universe, typo(s), etc..

So if you don't like, Please Don't Read.

.

.

.

Yukirin

.

Happy Reading ^o^

.

.


.

.

Chapter 11 : She's comming. Your ex-Wife!

.

.


"Huh? Anda ini apa—maksudku siapa?" Aku mencoba memastikan apa yang ia bilang tadi. Dia bilang dia istri dari siapa?

Wanita itu berdecak kesal. "Kau tidak dengar tadi aku bilang apa?" Oh, wajahnya terlihat kesal. "Aku ini istri dari Uchiha Sasuke. Namaku adalah Uchiha Sakura."

"Uchiha Sakura?" Ulangku. Wow, nama yang bagus. Tapi dia ini betul istrinya Sasuke? "Aku kira Sasuke-san sudah bercerai dengan istrinya."

"Bicara apa kau!" Aku terlonjak ketika mendengar suaranya yang meninggi. "Berani sekali kau berkata seperti itu? Aku ini istri dari Sasuke-kun!"

"Ah." Aku menatapnya terkjut. Matanya menatapku kesal, tangannya mengepal. Dia marah. Aku mengangguk mengiyakan ucapannya.

"Kau hanya pelayan baru di rumah ini, berani sekali kau bicara begitu, huh?" Kini ia melipat tangannya di dada, dagunya terangkat. "Tidak tahu sopan santun."

Aku merasa ada urat yang muncul di pelipisku. Wanita bernama Sakura ini membuatku kesal. Sombong sekali perempuan bersurai merah muda ini. "Maaf ya, saya mendengar itu sendiri dari Sasuke-san." Aku masih berusaha sopan padanya.

Mulutnya terbuka seolah ingin mengatakan sesuatu, aku menunggu ia berbicara. "A—lupakan! Sekarang aku ingin bertemu dengan Sasuke-kun." Dia kembali dengan tampang jahatnya. "Mana Sasuke-kun?"

Aku menaikkan sebelah alisku. "Kalau kau istri dari Sasuke-san, seharusnya kau tahu kalau pada waktu ini Sasuke-san sudah berangkat dan sedang bekerja di kantornya."

"K—kau!" Aku kembali terlonjak. Wanita ini senang sekali menggunakan nada tinggi. "Tentu saja aku tahu!" Tadi dia yang menanyakan Sasuke, kini dia marah setelah aku menjawab. Dia ini maunya apa? "Lalu kemana Shisui dan Obito, ada di dalam?"

Sungguh, dia ini aneh sekali. "Tentu saja mereka sedang sekolah." Jawabku. "Mereka akan pulang pukul dua sore nanti."

"Huh? Kenapa mereka harus ke sekolah? Sasuke harusnya membiarkan mereka home schooling!" Aku mengernyit. Aku benar-benar tidak mengerti dengan wanita ini.

Eh, tunggu dulu! Wanita di hadapanku ini mengaku sebagai istri dari Sasuke. Kalau begitu dia ini pasti—

Ibu dari Shisui dan Obito.

Aku menggigit bibir bawahku. Ada sesuatu yang menyesakkan ketika aku mengetahui hal itu. Telapak tanganku berkeringat, aku mengepalkan tanganku. "Sakura-san, kau ini Ibu dari Shisui dan Obito?"

Aku sangat tidak berani menatap wajahnya. Sungguh, aku tidak pernah menyangka aku akan bertemu dengannya. "Tentu saja. Ada masalah?" Aku juga tidak tahu kenapa aku merasa tidak suka ketika mendengar jawaban darinya.

Aku menelan ludahku. "Sou ka." Aku mengangguk. Dia adalah orang yang melahirkan si kembar yang aku asuh. "Kalau begitu, Sakura-san bisa masuk ke dalam. Biar saya antar."

"Tidak perlu! Aku tahu dengan jelas rumah ini." Mengangkat dagunya, Sakura berjalan di depanku. Aku tidak pernah menyangka kalau Sasuke—dulu—mau menikah dengan wanita sombong ini.

Oh, Sasuke-san 'kan menikahi dia demi Kakaknya. Aku jadi tahu mengapa Kakak dari Sasuke menolak menikahi wanita ini.

Ketika kami memasuki rumah, beberapa pelayan tampaknya kaget dengan kehadiran wanita ini. Mungkin mereka yang kaget adalah pelayan yang sudah lama bekerja di rumah ini.

"Sakura-sama!" Iruka berlari kearah kami, lebih tepatnya kearah Sakura sih. Iruka menundukkan dirinya memberi hormat. "Maaf jika saya lancang, apa ada yang anda perlukan?"

"Oh, Iruka. Ternyata kau masih bekerja disini ternyata." Aku membelalakkan mataku. Orang ini benar-benar tidak sopan. Setidaknya dia bisa sopan pada yang lebih tua darinya. "Aku ingin bertemu dengan Sasuke-kun. Sekarang suruh dia pulang."

What the hell! Mataku berkedut kesal. Dia benar-benar tidak tahu sopan santun. Kalau saja dia itu Shisui atau Obito, pasti sudah aku cubit manusia ini.

"Cepat suruh Sasuke-kun pulang!" Tahan Naruto, tahan. Jangan sampai aku melakukan kekerasan pada wanita.

"Naruto, ayo kau ikut denganku." Aku terkejut ketika Iruka menyeretku untuk mengikutinya.

"Iruka-san, sebentar—ouch!" Aku tersandung kakiku sendiri ketika Iruka menarik tanganku dengan brutal. "Iruka-san!"

Iruka berhenti menarikku ketika kami sampai di ruang keluarga, di meja telfon. Aku menatap Iruka heran dan kesal. Aku mengusap pergelangan tanganku. "Kenapa aku di tarik?"

"Naruto, tolong aku sekarang." Aku terlonjak ketika Iruka mencengkram pundakku. "Telfon Sasuke-sama sekarang. Katakan kalau Sakura-sama ada disini."

"Kenapa aku?" Aku memekik tidak terima. "Iruka-san saja yang menjelaskan. Iruka-san 'kan lebih berpengalaman."

Iruka menggenggam kedua tanganku. Oh, ayolah, adegan apa ini semua. "Tapi aku harus bicara apa dengan Sasuke-san?"

"Tadi aku sudah bilang bukan? Katakan pada Sasuke-sama kalau Sakura-sama ada disini ingin bertemu dengannya." Aku mengangguk mendengar perkataan Iruka. "Kalau begitu cepat."

Aku menghela nafas. Tanganku meraih gagang telfon dan menaruh di telinga kiriku, jari-jariku menekan angka yang sudah aku hafal.

"Moshi-moshi. Iruka?"

Suara Sasuke terdengar jelas di telingaku. Tentu saja, aku 'kan sedang menelfon Sasuke. "Sasuke-san, sumimasen. Ini aku, Naruto."

"Naruto, ada apa?"

Aku menatap Iruka yang juga menatapku, tatapannya sangat penuh pengharapan. "Etto, ada yang datang kemari, Sasuke-san. Dia ingin bertemu denganmu." Ujarku ragu.

"Siapa? Suruh saja datang ke kantorku."

"Ti—tidak bisa. Dia tidak mau. Orang ini bilang," Jeda sesaat. "Maksudku, wanita ini bilang namanya Uchiha Sakura, istri Sasuke-san."

Tidak ada jawaban. Aku meneguk ludahku. "Sasuke-san?"

"Tunggu. Aku akan pulang."

Aku menjauhkan gagang telfon dari telingaku. Sepertinya disana Sasuke membanting telfon, membuat telingaku mendengung.

"Sasuke-sama bilang apa?"

Aku menaruh gagang telfon kembali seperti semula, lalu menatap Iruka. "Sasuke-san bilang tunggu dia akan pulang." Jawabku. Iruka tampaknya menghela nafas lega. "Memang Sakura-san sepenting itu ya? Iruka-san dan para pelayan yang lain juga kelihatan takut padanya."

"Ssst, bukan begitu!" Iruka menaruh telunjuknya di bibir, mengisyaratkan aku untuk diam atau berkata pelan-pelan. "Sudah lama sejak Sakura-sama meninggalkan rumah ini sejak bercerai dengan Sasuke-sama. Dia datang kesini pasti akan terjadi masalah."

Aku mengangguk saja, padahal aku tidak paham betul. Aku tidak tahu apa masalah Sasuke dan wanita bernama Sakura itu.

Aku menggigit bibir bawahku, "Iruka-san, ada yang—"

"IRUKA-SAN!" Sial, baru aku ingin bertanya ada seseorang yang berteriak. "Tolong kami, wanita bernama Sakura itu berisik sekali."

Oh, Karin, kau tahu sekali cara memotong ucapan orang lain. "Kenapa dengan Sakura-sama?" Iruka bertanya pada Karin yang tampangnya sudah seperti ingin menangis.

"Dia terus bertanya soal Sasuke-sama terus menerus. Imbasnya adalah kami semua terkena omelannya." Ketika mendengar penjelasan Karin, aku merasa Sakura itu sama seperti dosen killer saat aku masih kuliah dulu.

"Ayo, Naruto, kita harus kembali ke ruang tamu." Iruka kembali bersiap menarik tanganku.

"Kenapa aku harus ikut?" Protesku. Aku mencoba menarik tanganku yang Iruka siap tarik. Jujur saja, aku tidak mau bertemu dengan wanita itu. "Aku ingin disini saja, Iruka-san"

"Tidak bisa, Naruto!" Aku menoleh kearah Karin. Kenapa jadi dia yang tidak terima? "Kau harus merasakan penderitaan juga."

"Huh? Aku tidak mau!" Aku menggeleng dengan keras.

Pada akhirnya, Iruka dan Karin yang menyeretku menemui salah satu hal yang tidak aku sukai—bertemu dengan Sakura.


.


"Kenapa Sasuke-kun lama sekali?" Aku dan para pelayan yang lain terdiam mendengar Sakura—yang untuk belasan kalinya—bertanya. "Kalian ini bilang pada Sasuke-kun kalau istrinya menunggu!" Juga belasan kalinya dia membentak kami dengan kata-kata itu.

"Kami sudah menghubungi Sasuke-sama, Sakura-sama. Mohon bersabar sebentar lagi." Belasan kali juga Iruka membalasnya dengan seperti itu.

Oh, ayolah! Hidupku bukan untuk berdiri dan mendengar wanita bubble gum itu mengoceh terus seperti itu. Ini sih namanya pegal kaki juga pegal telinga. Aku tidak di bayar untuk ini semua.

Aku menghela nafas. Mataku melihat para pelayan yang juga bernasib sama denganku, berdiri tanpa bisa bicara apapun dan mendengarkan wanita itu mengoceh. Sasuke-san, cepatlah pulang.

"Harusnya tidak ada seorangpun yang membuatku menunggu!" Dia kembali mengoceh dengan suara tinggi. Wanita ini benar-benar sepeti Tuan Putri yang manja. Apa dulu aku juga begitu? Tidak, tidak mungkin!

Aku melirik kearah Ayame yang berdiri di sampingku, dia berdecih pelan namun bisa dengan jelas aku dengar. Tentu saja kami sudah tidak tahan begini.

Beberapa menit menunggu, kami semua mendengar suara derap sepatu yang mendekat kemari. Akhirnya kami semua bisa bernafas lega karena Sasuke sudah tiba—ugh, dengan tampang sangar.

"Sasuke-kun!" Wanita bernama Sakura itu berdiri dari duduknya. Oh, sekarang nada suaranya berubah dari saat tadi ia bicara—mengoceh—pada kami. "Aku menunggumu."

"Kalian kenapa berdiri disini?" Kami kaget karena Sasuke bukan merespon Sakura bicara malah bertanya kepanda kami. "Iruka, kenapa mereka semua berdiri disini?"

Kami para pelayan menatap Iruka yang kelihatannya masih bingung mau menjelaskan bagaimana. Aku juga tidak mengerti kenapa kami harus berdiri disini. "Kami semua disini untuk melayani Sakura-sama, Sasuke-sama." Melayani? Kami disini berdiri untuk mendengar ocehannya. Aku hanya bisa merutuk dalam hati. Sekalian saja tadi supir dan tukang kebun juga ikut berdiri disini.

"Tidak perlu berlaku berlebihan padanya." Aku menahan nafas ketika nada suara Sasuke sepertinya menyeramkan sekali.

"Sasuke-kun!" Sakura yang sepertinya tidak terima berseru pada Sasuke. "Aku disini untuk menemuimu! Setidaknya kau dan para pelayanmu itu bersikap baik padaku."

"Aku tidak pernah meminta dan berharap kau datang menginjakkan kakimu di rumahku." Tatapan Sasuke sinis sekali. Terakhir aku melihat pandangan Sasuke yang menyeramkan seperti itu ketika insiden Shisui yang terluka. "Kau bisa pergi sekarang."

"Kau tidak bisa mengusirku. Ini juga rumahku dan aku akan bertemu dengan anak-anakku!"

"Anak-anakmu? Jangan bercanda denganku!" Oh, tidak! Aura yang keluar dari Sasuke tampak lebih gelap. Aku dan para pelayan yang lain mundur teratur. "Mereka anak-anakku. Pergi dari sini sekarang juga."

"Kau tidak berhak mengusirku, Sasuke-kun!" Suara Sakura juga makin meninggi. "Aku ini istrimu, aku juga ingin bertemu dengan anak-anakku. Aku berhak ada disini!"

Kami yang hanya merupakan pelayan tidak bisa berbuat apa-apa selain diam dan memperhatikan. Kami tidak bisa pergi dari sini sebelum ada perintah dari Iruka, dan Iruka harus menerima perintah dari Sasuke terlebih dahulu.

Aku juga tidak di bayar untuk melihat pertengkaran dalam rumah tangga secara live begini. Ini seperti adegan dalam drama atau Reality Show.

"Kalian bubar dari sini." Akhirnya Sasuke memberikan perintah. "Jangan ada yang melayani Sakura. Jangan ada yang berani membantahku."

"Baik." Kami membungkuk hormat pada Sasuke. Dadaku berdetak keras karena takut, suasananya sangat tidak nyaman. Kami dengan tenang melangkah meninggalkan mereka berdua.

"Naruto, kau tunggu disini." Huh? Aku langsung berhenti dari langkahku. Pelayan yang lain melirikku, aku menatap mereka bingung.

Aku membalikkan tubuhku menghadap Sasuke. "Ada yang bisa aku bantu, Sasuke-san?" Aku bertanya dengan nada rendah. Berusaha tidak merusak mood Sasuke.

Sasuke menatapku dengan wajah datarnya. "Tunggu disini." Setelahnya ia kembali melihat kearah wanita bernama Sakura itu yang sedang memasang wajah kesal. "Sebaiknya kau cepat pergi dari rumah ini."

"Sudah aku bilang kalau aku tidak akan pergi dari sini, Sasuke-kun!" Wanita itu berteriak. "Aku akan tetap disini sampai kau berlaku baik padaku dan sampai aku menemui anak-anakku."

"Lakukan sesukamu. Aku tidak akan membiarkan anak-anakku bertemu denganmu." Sasuke berbalik meninggalkan wanita itu. Aku memperhatikan mereka berdua. "Kau tidak pantas berkata kalau Shisui dan Obito adalah anak-anakmu setelah lima tahun kau meninggalkan mereka."

Setelah berkata seperti itu, Sasuke menarik sebelah tanganku, "Ayo pergi, Naruto." Huh? Aku kembali di seret sama seperti tadi Iruka yang menarik tanganku. Kami meninggalkan wanita itu, Sasuke menarikku ke lantai atas.

"Ouch, Sasuke-san, tolong pelan-pelan." Aku mengaduh ketika aku kembali tersandung oleh kakiku sendiri. "Sasuke-san, tolong pelan. Ini sakit sekali, aku sedari tadi tersandung kakiku—ouch!"

"Ugh!" Aku kembali mengaduh ketika merasakan benturan di wajahku. Aku menabrak Sasuke. Dia tiba-tiba berhenti begitu saja ketika kami sudah berhasil menginjak lantai dua. "Sasuke-san, maaf, aku tidak sengaja menabrakmu." Aku meminta maaf, namun tanganku mengusap dahiku yang cukup sakit. Sasuke itu seperti tembok ternyata.

"Maaf." Sasuke melepaskan pegangannya dari pergelangan tanganku. Wajahnya berpaling tidak menatapku.

Aku memandangnya aneh. Aku bicara sesuatu yang salah sepertinya. "Ti—tidak. Sasuke-san tidak perlu meminta maaf." Aku menepuk pundaknya. "Jadi, kenapa Sasuke-san menarikku?"

"Kemasi beberapa pakaianmu, Naruto. Juga—"

"Huh? Tunggu dulu, Sasuke-san." Aku menatapnya meminta penjelasan. "Sasuke-san ingin memecatku? Tapi, salahku apa?" Selesai sudah kalau aku keluar dari rumah ini. Aku harus bekerja dimana lagi?

Sasuke malah menghela nafas. "Siapa yang ingin memecatmu?" Aku menatapnya semakin bingung. "Aku hanya menyuruhmu untuk mengemasi beberapa pakaianmu karena kita tidak akan tinggal disini untuk sementara."

"Memang ada apa?" Aku semakin bingung. "Kita—maksudku Sasuke-san akan pindah?"

"Simpan pertanyaanmu, aku akan jawab nanti." Sasuke menepuk kepalaku. Sepertinya suasana hatinya lebih membaik. "Kemasi juga beberapa pakaian Shisui dan Obito, juga seragam dan buku sekolah mereka. Kalau sudah selesai aku tunggu kau di lantai bawah. Aku akan memanggil pelayan untuk membantumu."

Aku mengangguk mendengar perintah dari Sasuke. Setelahnya, dia masuk ke dalam kamarnya sendiri. Aku tidak mengerti jalan pikiran Sasuke, dia selalu membuatku bingung.

Aku masuk ke dalam kamar Shisui dan Obito. Mengambil ransel dan mengemasi beberapa baju si kembar juga seragam mereka. Tidak lupa dengan buku pelajaran dan buku cerita, berjaga-jaga jika nanti ketika mereka tidur ingin di bacakan dongeng, itu 'kan kebiasaan mereka. Oh, aku juga tidak lupa membawa tab mereka, juga puzzle untuk mereka bermain. Tidak lupa juga aku membawa kaus kaki kesukaan Shisui, biasanya dia tidur dengan kaus kaki ini.

Wow, ransel ini penuh sekali. Mungkin terlalu banyak yang aku bawa. Tapi ini belum termasuk susu dan cemilan untuk mereka. Aku menepuk dahiku. Ini sih seperti mengungsi.

"Naruto, kau di dalam?" Aku menoleh kearah pintu. Disana ada Izumo mengintip dari balik pintu. Izumo, dia itu supir di rumah ini juga satpam bersama dengan temannya bernama Kotetsu.

"Izumo-san," Aku memanggilnya, Kotetsu masuk ke dalam kamar Shisui dan Obito. "Ada apa?"

Izumo menggaruk pelipisnya, "Sasuke-sama menyuruhku untuk membantumu membawakan barang."

Aku mengangguk. "Ini barang-barang milik Shisui dan Obito. Bisakah Izumo-san tunggu sebentar? Aku ingin mengemasi bajuku juga."

Izumo mengangguk menjawabku, dia membawa satu ransel besar barang-barang Shisui dan Obito. "Sugoii, ini berat sekali."

Aku terkekeh, "Maaf, Izumo-san. Itu milik Shisui dan Obito."

Aku memasuki kamarku sementara Izumo turun ke lantai bawah sambil membawa barang-barang milik si kembar. Aku langsung mengambil ranselku dan memasukkan beberapa pakaianku, juga handphone dan charger.

Aku turun ke lantai bawah, beberapa pelayan bertanya aku ingin di bawa kemana oleh Sasuke. Jangan tanyakan itu padaku karena aku saja tidak tahu aku akan di bawa kemana. Aku hanya menuruti apa yang Sasuke katakan.

Sebelum aku keluar, aku ke dapur terlebih dahulu untuk mengambil susu kaleng yang Shisui dan Obito biasa minum sebelum tidur.

"Kau ingin membawa susu kaleng?" Shion menatapku tidak percaya.

Aku mengangguk. "Tentu saja. Repot jika Shisui dan Obito nanti ingin minum susu sebelum tidur namun aku tidak membawanya."

"Sasuke-sama juga bisa membelinya nanti, Naruto." Aku mengangkat bahu ketika Shion mengucapkan itu. "Taruh kembali, Naruto. Kau terlihat seperti Ibu-Ibu yang repot begitu."

Aku melotot kearah Shion. "Jangan bicara sembarangan. Aku melakukan ini agar tidak perlu repot lagi nantinya, Shion." Belaku. Berani sekali Shion bicara seperti itu tentangku. Aku ini terlalu muda untuk mendapatkan julukan itu.

"Terserah kau saja. Paling nanti Sasuke-sama yang heran denganmu."Aku tidak membalas ucapannya. Aku melambai pada Shion dan meninggalkan dapur.

Ketika aku melewati lorong pintu keluar, aku melihat Sasuke dan Sakura berdiri disana, bahkan ada Izumo juga ada disana. Kenapa Izumo-san ada di sana juga? Mereka terlibat cinta segitiga atau apa?

"Oh, kau sudah selesai?" Aku mengangguk pada Sasuke yang melihat kearahku.

Aku berjalan mendekati mereka bertiga. "Maaf menunggu lama." Aku membungkukkan tubuhku.

"Kenapa kau membawa susu kaleng?" Sasuke menunjuk susu kaleng yang aku pegang.

"Oh, ini, Shisui dan Obito 'kan terkadang rewel sebelum tidur. Jadi aku membawa susu ini." Jelasku sambil tersenyum.

Aku bingung ketika Sasuke menepuk dahinya. "Tidak perlu, Naruto. Kita bisa membelinya nanti."

Aku menatapnya tidak terima. "Kenapa harus beli jika kita punya?" Protesku. "Sayang sekali jika harus beli, Sasuke-san."

Sasuke terdiam menatapku, aku balik menatap Sasuke meyakinkan. "Terserah kau saja. Dan lagi," Aku bisa mendengar helaan nafas Sasuke. "Untuk apa ransel penuh seperti ini?" Sasuke menunjuk tas yang di bawa oleh Izumo.

"Itu pakaian Shisui, seragam juga buku sekolah. Juga buku cerita, puzzle, dan tab mereka." Aku menjelaskan, dan lagi-lagi aku bisa mendengar Sasuke menghela nafas.

"Ya, tidak apa." Sasuke memijat pangkal hidungnya. "Kalau begitu ayo kita pergi. Izumo, tolong bawakan tas Naruto juga."

"Sasuke-kun kau tidak bisa meninggalkanku begitu saja!" Wanita bernama Sakura itu menarik sebelah tangan Sasuke sambil berteriak.

Oh, please, tidak perlu ada adegan seperti drama lagi.

"Jika kau tidak mau pergi dari rumahku terserah kau saja. Tapi kau harus ingat, aku tidak pernah mau melihat wajahmu lagi dan tidak akan pernah membiarkan anak-anakku bertemu denganmu. Kau bukan Ibu dari mereka dan tidak pantas memanggil dirimu sendiri sebagai Ibu."

Aku tertegun mendengar ucapan dingin yang keluar dari mulut Sasuke. Aku melihat Sakura yang diam, mulutnya bergetar juga raut wajahnya terlihat seperti shock. Tentu saja, dia pasti merasa sakit karena ucapan Sasuke barusan. Walau itu bukan di tujukan padaku, tapi aku juga merasa kaget mendengarnya, apalagi Sakura.

"Kita pergi." Sasuke menarik tanganku dengan cepat, namun pandanganku tidak bisa beralih dari Sakura yang masih terkejut, tubuhnya bergetar.

Sasuke membawaku ke mobilnya, membukakan pintu di kursi samping pengemudi, membiarkanku duduk disana. Aku menurutinya tanpa banyak bicara—bukan, karena aku tidak dapat bicara.

Aku sadar ketika mesin mobil sudah dinyalakan, aku juga sadar ketika kami sudah keluar dari rumah melewati gerbang. Aku ingin sekali bertanya pada Sasuke, namun sepertinya Sasuke dalam suasana hati buruk.

"Jadi, kita akan kemana, Sasuke-san?" Aku mulai memberanikan diriku untuk bertanya.

"Kita akan tinggal sementara di apartementku." Aku melirik kearah Sasuke yang fokus mengemudi. "Setidaknya sampai wanita itu bosan datang ke rumahku."

"Sakura-san tahu dimana apartement Sasuke-san?" Aku kembali bertanya.

"Tidak."

Ugh, suasananya sungguh awkward.

Aku berusaha membuat tubuhku lebih rileks dengan menyandarkan tubuhku. Mataku menatap kearah depan namun pikiranku terganggu. Aku teringat dengan wanita bernama Sakura tadi. Wajahnya sebelum kami meninggalkannya benar-benar membuatku kasihan padanya.

Aku melirik Sasuke, ia fokus mengemudi. Sasuke, dia tidak perlu berkata sekasar itu 'kan pada seorang wanita. Apalagi wanita itu merupakan mantan istrinya dan Ibu dari Shisui dan Obito. Mungkin saat pertama ia datang aku memang kesal padanya, namun kini aku merasa tidak enak hati untuk kesal padanya.

Aku sedikit kesal ketika sadar bahwa dia adalah Ibu dari Shisui dan Obito, dua anak kembar yang aku asuh beberapa bulan ini.

"Sasuke-san." Aku kembali memanggil namanya. "Maaf, bukan maksudku ingin ikut campur. Tapi aku rasa tadi Sasuke-san sedikit, uh, keterlaluan."

Sasuke mendengus, aku bisa mendengarnya. Bibirnya seperti tersenyum—oh, salah, dia menyeringai. "Kau kasihan padanya?"

Kasihan? Aku bukan orang yang mudah mengasihani orang lain. "Mungkin begitu." Aku menggigit bibir bawahku. "Aku benci mengakuinya, bagaimanapun dia adalah seorang Ibu yang sudah melahirkan Shisui dan Obito, dia juga pernah menjadi istri dari Sasuke-san," Aku memberi jeda. "Mendengar apa yang tadi Sasuke-san ucapkan tadi padanya pasti sangat menyakiti hatinya."

"Aku pernah bilang padamu jika aku benci pada wanita itu." Aku tahu. Aku masih ingat bagaimana cerita Sasuke pada saat itu padaku, aku tahu dia benci dengan mantan istrinya.

"Aku tahu Sasuke-san membencinya. Tapi, setidaknya Sasuke-san bisa sedikit lembut padanya—ah!" Aku memekik kaget ketika Sasuke memberhentikan mobil dengan mendadak. Untung saja aku memakai safety belt, jika tidak kealaku sudah terbentur dashboard. "Sasuke-san!"

Aku menelan ludahku ktika melihat tampang Sasuke yang dingin. Good, Naruto, sepertinya kau salah bicara lagi. Aku menatapnya penuh rasa takut. Sasuke tidak mungkin melakukan kekerasan 'kan hanya karena aku salah bicara?

"Sa—Sasuke-san, maafkan aku terlalu ikut campur." Aku menundukkan kepalaku, tidak berani menatapnya. "Aku sangat menyesal. Tolong jangan diambil hati ucapanku."

"Jika di bandingkan denganmu dia itu bukanlah siapa-siapa."

"Huh?" Aku refleks menatap Sasuke heran. "Kau bicara apa, Sasuke-san?" Sasuke sama sekali tidak menatapku. Dia itu—bicara denganku?

"Dia yang tidak tahu apa-apa tidak pantas kau kasihani, Naruto." Aku terlonjak ketika Sasuke tiba-tiba memandangku. "Kau lebih tahu segalanya tentang Shisui dan Obito, bahkan aku."

Aku terbelalak. Apa maksudnya semua ini? Ini bukan sebuah drama. "Sasuke-san, aku ini hanya orang luar yang di pekerjakan untuk mengasuh Shisui dan Obito." Ujarku diiringi helaan nafas.

"Kau lebih dari itu, Naruto." Aku terlonjak ketika Sasuke membuka safety beltnya. Aku melihat sekeliling. Aku baru sadar jika kita berada bukan di jalan raya, ini seperti taman kota—atau bukan? Sasuke, dia tidak berniat membunuhku 'kan?

Kemudian Sasuke melepaskan safety belt yang aku gunakan. Oi, oi, tidak serius 'kan jika Sasuke akan membunuhku? Ini tidak mungkin terjadi adegan gore disini 'kan? "Sa—Sasuke-san, apapun kesalahanku tolong maafkan aku. Aku memang suka sembarangan dalam bicara, tapi tidak perlu terjadi adegan gore disini." Aku menutup mataku, tanganku berusaha menjauhkan Sasuke dariku.

"Gore?" Aku membuka mataku untuk melihatnya, raut wajahnya tampak bingung. Aku mengangguk, membuatnya terkekeh. "Kau pikir ini apa? Adegan dalam anime?"

Aku menggeleng. "Aku kira Sasuke-san marah karena aku terlalu ikut campur dengan urusan Sasuke-san." Jelasku malu. "Jadi aku kira—uh, maaf." Sial, aku malu sekali. Pikiranku ini terlalu aneh. Memangnya aku ini anak yang baru menginjak Junior School apa sehingga berpikiran begitu?

"Kau ini selalu aneh." Aku terkejut ketika satu tangan Sasuke menangkup pipiku. Ini bukan menepuk kepala lagi atau apa. Ini menangkup pipi!

Tahan dirimu, Naruto! Kau tidak boleh kembali ba-dump seperti ini. Jika Sasuke-san mendengar, dia pasti berpikir aku makin aneh.

"Maaf aku terlalu memalukan—"

"Tidak. Aku suka itu." Aku terkejut bukan main ketika Sasuke menumpu kepalanya pada pundakku, dahinya tertumpu pada pundakku. Bukan hanya itu saja, tangan Sasuke merangkulku lebih mendekat padanya.

Aku harap Sasuke tidak bisa mendengar ba-dump yang ada dalam diriku. Jujur saja, setelah kejadian Sasuke yang sakit karenaku itu dia lebih sering melakukan kontak fisik seperti memelukku begini. Sayangnya, setiap Sasuke memelukku aku seperti terkena serangan jantung. Aku menarik nafasku. "Sa—Sasuke-san?"

"Kau menjaga Shisui dan Obito, meskipun belum lama tapi anak-anakku sangat menyayangimu, Naruto." Tangan Sasuke membelai punggungku. "Dia sama sekali tidak bisa di bandingkan denganmu."

Aku hanya bisa diam, tidak bisa menjawab apapun. Wajahku terlalu panas. "Belakangan ini wanita itu selalu menggangguku, dia selalu menelfon sekertarisku dan bilang ia ingin bertemu denganku, juga bilang dia ingin bertemu dengan Shisui dan Obito. Tidak aku sangka hari ini ia datang ke rumah."

"Aku tidak mengerti maksudnya apa, tapi setelah lima tahun meninggalkan Shisui dan Obito begitu saja, tidak mau mengurusnya, dia kembali menghubungiku dan berani berkata seperti itu." Nada suara Sasuke bergetar. "Dia tidak mungkin bisa mengambil Shisui dan Obito dariku."

Tanganku terangkat untuk mengusap punggung Sasuke. Ternyata itu yang di takutkan oleh Sasuke. Dia berpikir bahwa Sakura akan mengambil Shisui dan Obito darinya. "Sasuke-san, tidak mungkin Shisui dan Obito meninggalkan Ayah mereka, dan tidak mungkin Sakura-san mengambil mereka dari Sasuke-san." Aku berusaha menenangkan Sasuke, menepuk pelan punggungnya.

"Sakura-san itu seorang Ibu yang melihat kondisi anak-anaknya." Ujarku. Aku menumpu kepalaku pada kepala Sasuke. "Dia juga pasti merindukan Sasuke-san makanya ia datang ke rumah untuk melihatmu." Walau aku benci mengatakan ini, tapi ini semua demi menenangkan Sasuke. "Jadi, tidak ada yang akan mengambil Shisui dari Obito dari Sasuke-san, dan mereka juga tidak akan meninggalkan Ayah yang mereka sayangi."

Aku menghela nafas karena tidak mendengar satu katapun keluar dari mulut Sasuke. Aku terus menepuk punggungnya, mungkin Sasuke butuh di tenangkan sedikit lebih lama lagi. Seperti anak kecil saja jika begini.

"Aku selalu berpikir jika kau adalah orang yang sangat naif." Aku membelalakkan mataku ketika mendengar kekehan Sasuke. Apa dia pikir ini semua lucu? "Itulah yang membuat aku dan anak-anakku menyukaimu."

Sasuke-san, bisakah dia tidak mengucapkan suka dengan gampangnya? Itu selalu membuatku menjadi salah paham belakangan ini. "Aku—hanya melakukan tugasku sebagai pengasuh mereka."

Sasuke terkekeh, kini wajahnya menatap wajahku dengan datar. Oh, semoga aku tidak terkena serangan jantung mendadak karena ini semua. "Sa—Sasuke-san, bisa 'kah tolong jangan menatapku begitu." Aku memalingkan wajahku, menghindari mata Sasuke yang menatapku.

"Naruto," God! His deep voice. Aku merasa dadaku semakin sesak ketika Sasuke memanggilku dengan suara seperti itu. "Hei, Naruto."

"I—iya." Aku menjawabnya tapi aku masih tidak berani memandang wajahnya. Aku merasa Sasuke masih menatapku dengan tatapan seperti tadi.

"Suki da." Huh? Refleks aku langsung menoleh kearah Sasuke. Apa tadi yang dia bilang? Aku salah dengar atau apa?

"A—apa maksudnya?" Aku yankin telingaku masih berfungsi, tapi mungkin tadi aku hanya salah dengar atau apa.

"Aku menyukaimu." Aku menelan ludahku ketika melihat wajah Sasuke yang dekat dengan wajahku, aku bisa merasakan hembusan nafasnya yang hangat di wajahku. Dia pasti bercanda, aku yakin dia pasti bercanda.

"Ini pasti salah paha—mph." Nafasku terasa sesak, bola mataku seolah ingin keluar. Sasuke terlalu dekat, aku melihat matanya yang terpejam. Ini bukan bercanda 'kan? Bibir Sasuke menyentuh bibirku.

Dia menciumku?


.

.

To be Continued

.

.


Special Thanks for:

rikarika, hanazawa kay, kyuubi no kitsune 4485, Guest(1), oka, Harpaairiry, kirei- neko, wildapolaris, Chinatsu Hideaki Fujoshi, .39, , Guest(2), Jasmine DaisynoYuki, ZeeZeee, RisaSano, saphire always for onyx, SNlop, IfUchiha, FairyFaith, Hyull, Nanami Asuka, Dewi15, zadita uchiha, Akasuna no Akemi, Aiko Michishige, choikim1310, mifta cinya, AprilianyArdeta, Kucing Gendut, Guest(3), Ryuusuke583, istiartika, kazekageashainuzukaasharoyani, Arum Junnie, Vianycka Hime, HiNa devilujoshi, ClariessEden, Uzumaki Prince Dobe-Nii, AyaMazaya, Nyenyee, Fuuin SasuNaru, krisTaoPanda01, Satsuki Naruhi, , Wazuka Arihyoshi, ChubbyMinland, guardian's feel, versetta, Guest(4), cherry, saniwa satutigapuluh, Guest(5), Indah605, miss horvilshy, Khioneizys, Lili pavicirrus, B-Rabbit Ai, Orenjiii, cha. , endomikumaru, Riv, InmaGination, alysaexostans, Guest(6), Yun Ran Livianda, URuRuBaek, Guest(7), Guest(8), , clariesss, Emo, aya putri, Guest(9), see, dekdes, Mary chan, Asura, lilly

Terimakasih banyak yang sudah menyempatkan baca, review, dan juga mem-favorite atau mem-follow fic ini *bow*

Maaf jika chap ini ada kekurangan atau kurang puas dengan chap ini atau chap sebelumnya X(

Ternyata Sasuke disini benar-benar OOC ya, Naruto juga lumayan OOC, tapi Sasuke yang kelewatan. Maafkan saya OTL

Disini saya gak bermaksud bashing Sakura, jujur dari lubuk hati yang terdalam saya gak bermaksud bashing Sakura, maaf banget. Kalaupun ada chara cewek yang mau saya bashing, saya bakal bashing si cewek tanpa pupil mata itu—saya benci banget sama Hinata—oops! X)

Untuk selanjutnya Sakura bakal saya kontrak buat muncul di chapter-chapter kedepannya XD

Semoga puas dengan chapter ini, terimakasih banyak *bow*

.

.

Review please~?