Disclaimer: Copyrigth of Harry Potter belongs to JK Rowling. No one mine.
Alasan kenapa dikasih buntut part itu karena tadinya ini ama 10 itu nyatu, dan nyatu itu sangat panjang. Jika saya saja sampai bosan mengupdate cerita kepanjangan itu, bagaimana dengan yang membacanya? Maka dipisah dan niat tadinya untuk mengupdate bersamaan sebagai dua capter terurung.
Saya ingin menjaga kenyamanan pembaca, mendapat masukan dari reaksi mereka. Dan mungkin ngga sengaja mampu nyaingin novelis di negara Indonesia kita. Oke, memang khayalan 'planB' saya terlalu tinggi, besar, raksasa.
Lupakan saja, hanya duduk manis, roling-roling mouse atau teken-teken navi di ponsel, dan membacalah dengan senang hati…! :D
- Chapter 11: Kisah Ketua Murid part 2 –
XXX
Harry lupa jika tiba saat dia tersenyum akan bayang wajah Hermione setiap sebelum tidur, ia akan terbangun dengan perasaan kosong hampa seperti biasanya. Sudah lama ia tidak bangun karena tidak tidur. Ia mengeluh setiap hari akan keresahan tersebut dengan alasan tidak bisa memenuhinya.
Tapi seiring berjalannya waktu dimana setiap hari akan bertemu Hermione dan melihat segala hal padanya, pasti keresahan tadi dapat terlupakan meski akan kembali lagi.
Sekarang Hermione bisa saja selalu wajah pertama yang dilihatnya di semua awal hari. Harry semakin terbiasa, -meski padahal yang sebelumnya tidak mau lagi dibangunkan karena malu- ia menjadi sengaja berlama-lama tidur di ranjang besarnya. Ia tahu meski kesadaran bangun tidurnya belum utuh, ia pasti ingat kalau Hermione akan selalu membangunkannya. Tanpa sungkan.
Karena jika terbaca ekspresi sungkan pada Hermione, tidak mungkin Harry tetap melakukan kebiasaan buruk pura-pura masih tidur. Dan Harry pandai membaca ekspresi, paling tidak.
"Sudah waktunya bangun, Harry," itu yang didengarnya selalu di semua awal hari sebelum melihat bidadari dan mengucapkan maaf yang akan dilakukannya seumur hidupnya sekalipun. Suara lembut Hermione.
Begitu lembut. Sangat halus. Selalu menenangkan awal hari yang pernah tercipta untuk dirinya.
Membuatnya ingin setiap jam itulah yang terdengar. Menjadikannya semangat lebih overdosis dari biasanya yang biasa. Harry bahkan merasa dirinya aneh tanpa mendengar komentar yang sama sambil lalu dari orang lain. Dan dia tahu kalau sekarang dia menerima perasaan yang pernah terkekang serta membebani hatinya, selain karena tidak bisa dibendung. Harry mempelajari kalau dirinya memaruh tiap rasa sayang pada semuanya dan diberikan untuk Hermione, serta tahu bukanlah menipis yang terjadi, tidak jadi sedikit.
Harry menjadi orang biasa yang disenangi.
Oleh semua orang selain karena dia mengalahkan Voldemort dan menentramkan dunia sihir yang hampir bergejolak runtuh setelah tamatnya Harry Potter, juga karena ia sangat pandai memerankan perannya sebagai Ketua Murid yang bisa disenangi. Harry bahkan hampir tidak sengaja mensyukuri dirinya merelakan lencana kapten Quidditch Gryffindor dan menyerahkannya pada Ginny, meski ia lupa soal penyerahannya. Selain karena alasan sang ketua murid perempuan itu sendiri.
Mereka semua menganggapnya baik, tegas, dan bertanggung jawab. Memang tipikal pemimpin dan seorang pahlawan. Harry tidak menyiakannya sama sekali.
Namun meski dirinya mendapati kalau masih sanggup menjadi seeker untuk tahun terakhirnya di Hogwarts, juga mengajari beberapa tugas kapten Quidditch yang diketahuinya baik pada Ginny, dia merasakan dirinya sesekali tidak terlalu baik sebab terasa kerenggangan yang semestinya tidak terjadi tanpa keegoisan, atau yang menurutnya egois dengan mereka.
Di suatu sore saat ia menemani Ginny mengatasi uji coba anggota Quidditch asrama pertama mereka di akhir September, meski kalau Ketua Murid bukanlah anggota asrama manapun lagi sebab butuh keadilan, ia melihat yang terjadi...
Hermione menunggui Harry di sana, terang saja dilihat dari segi terpencil sekalipun, dia lebih seperti menemani Harry. Menemani Harry. Padahal di sana ada Ron, juga lainnya yang Hermione kenal akrab untuk cuma datang menontonnya menguji coba Quidditch, dia tetap datang dengan Harry.
Bisakah dibayangkan jika seorang perempuan datang selalu bersama seorang laki-laki?
Mereka menyangkanya hanya dua orang itu sepasang kekasih normal. Tapi normal tidak berlaku jika di antara keduanya sudah bukan asing lagi soal pasangannya masing-masing.
Kelihatannya terlalu sederhana. Tapi mereka sesungguhnya seperti dianggap mutiara yang lupa kerangnya dan menderita rasa ego akut. Semua tahu Harry Potter adalah kekasih Ginny Weasley. Setahu mereka tentang pasangan itu, setahu itu pula semua paham Hermione Granger merupakan kepunyaan kakak dari sang gadis Harry Potter, Ronald Weasley.
Maksudnya, bukankah terlalu rumit perasaan yang harus dipahami. Yang semua orang tahu hanya mustahil selalu netral bahkan jika tidak tidur satu tempat. Dan mereka sudah punya pasangan rambut merah masing-masing. Tidakkah terbayang bagaimana rasanya sementara mereka hanya orang baik yang tidak ingin menyakiti siapapun namun sekaligus membendung perasaan untuk menganggap setiapnya cuma sahabat, walau sahabat yang melebihi cinta, meski menganggap sesamanya saudara kandung yang saling mengasihi, di antara mereka yang cuma dua pasang remaja biasa?
Yang seharusnya tidak dilarang untuk merasakan penuh sampai raga tanpa hanya berupa sesuatu yang kasat mata?
Setidaknya yang laki-laki sudah mempertanyakan itu terlalu jauh, jauh sekali, sampai tidak bisa dituliskan, digambarkan dengan kata-kata. Harry rasa dia egois saja.
Saat itu Ginny bukan seperti kekasihnya, meski Harry ingin memaksanya dipertunjukkan, walau Ginny juga sama, tapi cuma menganggapnya orang yang tidak pernah saling kenal, atau paling tidak baru kenal sehari lalu dengan nama keluarganya saja, dan dia butuh tuntunan sebagai Kapten Quidditch baru.
"Kamu sebaiknya mencari beberapa pengganti yang bagus. Aku sangat berharap Beater tim Gryffindor bisa lebih baik dari Ritchie dan Jimmy meskipun mereka lumayan. Dan juga kamu pasti tahu pemain yang terbaik dalam posisi pencetak gol, kamu ahlinya dalam Chaser sekarang. Aku menyarankan jangan hanya melihat mereka yang mendaftar sebagai Chaser. Karena bisa saja Chaser yang baik tidak tahu kalau kemampuannya bukanlah untuk memukul Bludger atau mencetak gol."
"Atau menangkap Snitch... Ada yang masuk untuk posisi Seeker, meski aku hanya tahu tidak ada yang sebagus dirimu dalam hal itu..." Ginny menambahkan dengan senyum. Dan berbalik badan. "Ayo, tetap bimbing aku, Kapten..."
Ginny berjalan santai kepada para peserta yang mendaftar dalam tim Gryffindor, cukup banyak dan dari ekspresinya, Ginny tidak merasakan masalah sama sekali kelihatannya. Harry segera menyusulnya, berteriak, "Hei, siapa yang kapten...?"
"Aku masih menganggapmu kapten." kata Ginny pendek lewat bahunya dengan tersenyum.
Ron adalah salah satu yang berdiri di sana. Membawa sapu bersih versi baru dari Harry yang dari hadiah ulang tahunnya. Sebenarnya Ron diberikannya dua sapu merk yang sama, jaga-jaga sewaktu mungkin saja Dedalu Perkasa mengamuk. Ia sedang mendengar sesuatu yang mirip ocehan dari Seamus, yang Harry tidak tahu akan ikut uji coba Quidditch.
"Ada Seamus, juga ingin ikut uji coba?" kata Harry pada Ginny.
"Entahlah, aku bukan pembaca pikiran, tapi dia yang jelas tidak datang kesini untuk menjadi komentator kan?" balas Ginny.
Ron sedang berdiri di sana, bersandar pada sapu bersihnya yang berdiri tegak seolah pohon lurus yang bisa dibawa terbang. Entah merasa dirinya mendengar Seamus atau tidak. Ia sedang berusaha melirik suatu arah.
"...aku bertanya-tanya, apa yang bisa diperbuat Beater yang mendapat posisi di tim inti Irlandia, karena kudengar mulai tahun ini stik emas akan menjadi tropi untuk yang terbaik... Pasti bangga sekali jadi salah satunya kan?"
Hermione duduk di tribun terdepan yang lebih dari cukup untuk melihat semua yang terjadi di lapangan jika pandangannya tidak tertunduk pada sebuah buku di pangkuannya, duduk sendirian di sana, selalu saja menyempatkan bacaan ringan kapanpun sedapatnya, karena malam untuk peer dan patroli. Sebenarnya tugas Ketua Murid bukan hanya patroli yang cuma satu dari banyak yang lain.
Hermione mungkin setengah hati untuk belajar di sana, tapi ia jarang sekali bertemu dengan temannya, tentu karena jabatan Ketua Murid dan ruangannya yang berbeda walau bisa berkunjung namun terlalu lelah, membuatnya tidak melihat apa yang terjadi di bawah.
Termasuk Ron, pemuda yang mengira dirinya adalah kekasih gadis di tempat duduk penonton itu, tapi tanpa keinginannya mereka semakin jauh untuk bersama. Tidak terduga bahwa ternyata waktu terbanyak mereka untuk saling bertemu adalah malam di ruang duduk Gryffindor yang harus dipaksa agar bisa terjadi lagi.
Ketua Murid, sadar tidak sadar menjadi alasan mereka tidak seperti sepasang kekasih yang sewajarnya.
Harry juga semakin paham akan hal itu. Ia sadar kalau itu sudah terjadi dengannya dan Ginny. Begitu pula mungkin menurutnya Ron dan Hermione. Semula dia memang tidak peduli dan tidak perlu disangkal ada perasaan senang yang menggeliat jahat dalam tubuhnya. Tapi jika semula tentu pasti ada akhirnya, dan punya Harry adalah ia menjadi tidak enak dengan dua Weasley itu, ada perasaan aneh yang menjadi mengatakan bahwa kalau salahnya lah perusak suatu hubungan.
Ron pun seperti membiarkan itu terjadi. Walaupun memang tidak benar-benar berakhir, tapi Harry merasa tidak melakukan apa-apanya Ron membuat rasa besalah tersendiri. Yang besar, dia adalah sahabat terbaiknya, penyandang nama Weasley.
Terkadang Harry lebih memilih Ron menghardiknya karena suatu alasan tentang Ginny, atau malah Hermione.
Harry pun merasa semakin jauh dengannya, hanya berupa Aula Besar, Quidditch, dan semua pelajaran yang mempertemukan mereka dan dia rasa itupun seadanya. Juga dengan Hermione yang lebih sering dengannya.
Dia senang, tapi merasa bersalah. Nampaknya itu adalah intinya.
"Kamu mempunyai kemampuan menjadi seorang Kapten, aku jelas tidak perlu banyak mengajarimu tentang ini, soalnya ini caraku, dan cara seorang kapten berpikir adalah dari yang dilihatnya..." kata Harry pada Ginny yang sudah membentuk timnya. Tidak ada beater yang lebih bagus dan Ron mendapati posisi Keepernya, akhirnya karena penglihatan adiknya sendiri melalui potensi Keepernya. "Menjadikanku tenang posisi kapten ternyata kuserahkan padamu..."
Ginny mencoba tersenyum.
Ucapan sampai jumpa biasa bahkan untuk ucapan sampai nanti sepasang kekasih. Mereka, kelihatannya, tidak akan terkumpul lagi, atau tidak berusaha. Hermione cuma mengucapkan sampai nanti yang kenyataannya seperti selamat tinggal pada Ron dan Ginny kemudian menarik Harry segera karena sudah tugas mereka mengatur penjagaan keamanan seperti biasanya. Untuk keadaan makan malam yang terkadang malah akan mereka tinggalkan dengan datang terlambat atau cepat-cepat. Jika melihat pekerjaan Ketua Murid yang nyata mereka alami, berbagai fasilitas khusus nan memanjakan buat mereka sama sekali sangat tidak berlebihan.
Yang sebenarnya mereka tidak tahu kalau dua Weasley itu sedikit besar terbesit di kepala sendiri-sendiri dengan menganggap mereka berdua adalah, walau tentu saja awalnya tidak, dan Ginny yang masih berusaha menyangkalnya sekarang ini, sepasang... Apa istilahnya yang lebih rendah dan lebih halus dari sebutan pengkhianat?
Mereka mungkin hanya sibuk meski masih, paling tidak, satu kastil. Penjadwalan untuk kunjungan Hogsmeade bahkan menyertakan mereka. Pada kunjungan yang pertama di pertengahan Oktober yang merontoki semua dedaunan, Harry dan Hermione butuh beberapa tugas lumayan berat agar setidaknya Ron mendapat teman kunjungan Hogsmeade-nya yang seperti biasa.
Harry sebenarnya masih ditugasi untuk mengawasi semua murid saat sesuatu yang seharusnya bersantai, di Hogsmeade, tidak lagi menyuruh par prefek karena alasan berbagi tugas. Sebab sebagai Ketua Murid, kunjungan Hogsmeade bisa dilakukan kapanpun semau sang ketua murid itu sendiri, mereka mendapat hak.
Banyak lagi hak khusus lainnya selain fasilitas memanjakan. Tapi tetap saja berat.
Walaupun begitu, anehnya, Harry tidak pernah secuilpun merasa menyesal dia sudah menjabat posisi sebagai Ketua Murid, terkadang Harry justru menikmatinya meski sebelumnya ia harus mengatur prefek dalam bagi tugas menjaga adanya siswa-siswa yang iseng atau jail, dan itu berat.
Semuanya itu ada yang menyatakan bahwa sesuatu lumayan menyenangkan tersebut bukan hanya disebabkan oleh Hermione, yang mana merupakan partner dirinya. Tapi mungkin dari karena perasaan dihormati, disegani, dan disenangi yang sekaligus dirasakan Harry, susah sekali menggambarkan itu. Atau jadi tidak perlunya Harry mendengar beberapa keluhan Ron -yang akhir-akhir ini sangat sering keluar- dan menjadikannya nyaman saat belajar, masih dalam rangka cita-cita.
Ada perasaan bangga dan itu menggelonjak nyaman dalam perut Harry setiap pagi saat dia tahu kalau sudah semestinya dia menyematkan lencana Ketua Murid yang selalu berkilau.
Ketua Murid memberikan kesan tersendiri arti dari sebuah jabatan pemimpin murid-murid.
"Apa aku terlihat melebih-lebihkannya?" kata Harry. Dia baru saja berbicara, ia tidak yakin kalau harus menyebutnya mengoceh, tapi juga tidak yakin sedang berbicara. Baru yakin berkata karena Hermione memandangnya geli. "karena nampaknya aku melebih-lebihkan beberapa bagian yang sebagian diriku kira biasa-biasa saja... Apa jabatan Ketua Murid itu disihir, Hermione, kau tahu, seperti protean semacamnya? Jika kau melakukan sesuatu yang dijanjikan pembuat setelah kita menandai sesuatu?"
"Jangan bodoh. Profesor McGonagall tidak akan melakukannya," kata Hermione. "apa menurutmu sendiri profesor McGonagall mungkin melakukannya, coba pikir ulang? Karena kalau iya baru cobalah untuk menyalahkan beliau di depanku lagi!"
Tentu saja maksud Harry bercanda, kalau dipikir McGonagall memang tidak mungkin menghipnotis Ketua Murid agar senang melakukan kegiatan beratnya. "Wow, Hermione, nampaknya aku butuh maaf untukmu..."
Hermione mendengus pelan. Kembali memandang arah depan berjalan di sepanjang koridor yang memang seharusnya sepi lantai dua, dimana penuh oleh ruang kelas. Jam malam berlaku untuk murid Hogwarts seluruhnya, kecuali dua murid khusus yang menyebutnya bukan jam malam tapi jam patroli. Kebetulan atau bukan, karena kebanyakan penyihir bisa mengendalikan si kebetulan, malam ini adalah malam sebelum pertandingan Ravenclaw melawan Slytherin, seperti biasa pertandingan pembuka awal tahun.
"Tapi jujur saja, Hermione, soal bagian dimana aku senang menerima jabatan ini, sangat senang malah. Tidakkah menurutmu aneh, semacamnya?"
Hermione memutar matanya. "Kalau menurutmu aneh, ya sudah. Aku hanya akan selalu menyebutnya kesenangan bertugas," dia tersenyum kemudian. "Suatu hal dari hasil kerja kerasku... Bukan hal besar sebenarnya."
"Menakjubkan sebenarnya." ucap Harry begitu saja. "Mungkin kau memang sungguh-sungguh menular, Hermione..."
"Oh tolonglah, berhenti meledekku! Aku kira aku sudah senang terhindar dari yang satu, tapi kelihatannya kau yang tertular Ron. Kalian semakin mirip saja, setidaknya dalam hal meledekku. Maaf, Harry, itu membuatku suka kau kembali menjadi Harry yang menanggung beban-" nadanya berubah nyanyian yang senang. "-'yang seorang tidak boleh hidup sementara yang lain selamat'~"
"Ha ha, kau sekarang merubah bunyi ramalannya, yang benar Seorang harus mati di tangan yang lain karena tak satupun bisa hidup sementara yang lain selamat!"
"Aku merubahnya sedikit. Tidakkah mengerikan diungkapkan dengan cara seperti itu...?"
"Yeah, aku selalu lebih suka caramu." gumam Harry hampa, yang tanpa keinginannya emosi sedikit berubah cepat saat dia mendengar nama -bukan keinginannya- Ron, kemudian mendengar nada bernyanyi Hermione, sesuatu yang tidak akan didapat setiap hari tanpa menyodorkan siksaan padanya. Tapi kembali normal saja.
Terang saja, efek frase dimana dia berdua saja dengan Hermione lalu menyebutkan nama Ron, sengaja ataupun tidak sengaja, mau tidak mau, jujur saja selalu terjadi. Dan jujur saja, mereka menghindari itu dengan cuek menyebutkan nama Ron. Walau tidak ada bukti keberhasilan.
"Semua obor di lantai satu harus dipadamkan seperti pesan profesor Colm, hanya hal biasa tentang jam malam, seperti di lantai lima..." kata Hermione saat mereka sampai di ujung lain koridor lantai dua dan menuruni tangga pualam yang bersisi balik dengan pintu masuk Aula Besar di ujung lain.
"Lantai lima sudah diurusi Filch. Tapi bukankah kita harus berpatroli sampai lantai dasar? pulangnya saja kita memadamkan semua obor ini..." usul Harry, yang merasa gelap tidak membantu mengekang pemikiran mengucapkan kau-tahu-apa lalu menciumi Hermione. Ia sudah menggelengi, dan itu hampir diyakininya sekian detik sudah mematahkan lehernya, pikiran kotor yang ia tidak tahu bisa terpikirkan olehnya sama sekali.
Tapi Hermione menjawab. Yang tidak butuh pemerjelas bahwa tidak ada kesamaan pendapat dengannya. "Hei, kita penyihir, kita bisa memadamkan dan menyalakan semua obor sekali ayun, kenapa kita harus menunggu suatu pekerjaan yang sangat mudah seperti ini... Kita padamkan sekarang, itu yang disuruh bukan?"
"Yeah, kurasa - aku - juga - sependapat dan pulangnya kita - bisa membuat - cahaya baru?"
"Pulangnya kita membuat cahaya baru. Kenapa membuat kalimat diputus-putus seperti tadi?" pandangannya menyelidik. Tapi Harry punya dugaan kuat kalau Hermione tidak akan memaksa Harry berkata jujur.
Apalagi Harry hanya melengkungkan bibir.
Dan Hermione, seperti dugaan Harry, hanya mengangguk, akan sesuatu yang tidak mungkin diketahui Harry, lalu mencabut tongkatnya dan memadamkan semua obor sekali ayun. Hampir tanpa konsentrasi, Harry lihat.
Kalaupun ia bisa melihat terus, karena kegelapan memakan mereka lagi secara mendadak yang seharusnya diketahui Hermione akan terjadi. Bagaimanapun Harry sedang menunggu berdiri diam mencerna situasi, bahkan dia belum mencerna kalau situasi sudah gelap total, saat sebuah badan menabraknya kencang menyodok dadanya dan kakinya terinjak. Reaksinya mencabut tongkat Holly dan membatin lumos juga malah mengagetkan dirinya sendiri karena terlalu cepat.
Cahaya dari ujung tongkatnya segera mengenai wajah Hermione yang kalau bisa dibilang sejenis takut atau kaget atau terkejut dan menjauhkan badannya sendiri dari bawah dagu Harry dengan malu.
"Ada apa denganmu?" pekik Harry, ada sedikit perasaan campur aduk aneh antara kaget dan senang semacamnya. Terkejut yang marah, namun merasa lucu di saat yang sama.
Wajah Hermione, yang tidak pernah dia tahu hanya sebatas rahangnya, merona di bawah cahaya tongkat Harry yang diangkatnya tinggi-tinggi. "Aku kaget." jawab Hermione singkat, juga lancar.
Alis Harry melompat tinggi begitu cepatnya. Ia menyengiri Hermione. "Yeah? Kaget dengan gelap yang kau buat sendiri?"
"Apa yang harus kukatakan? Mengarang? Itu yang aku rasakan, aku benar-benar kaget." sahut Hermione dengan setengah marah. Lalu memandang ke sesuatu di bawah dagu Harry.
Harry hanya menatapnya, cuma saja dengan bingung, mulutnya terbuka. Meski Hermione sudah menyalakan tongkatnya seperti biasa, netral seolah tidak pernah membentak Harry, Harry mendapat suatu gerakan olah pikiran. Yang membuatnya menanyakan, "Mau bercerita mengenai ini?"
Hermione berbalik dan mulai berjalan lagi untuk sampai di lantai dasar yang setelahnya baru mengakhiri patrolinya, memeriksa satu ruang kelas terdekat dengan cepat sekali menggunakan mantra pendeteksi dan beberapa pengaman, setelah memutuskan aman dia menutup pintu. Saat yang sama Harry berlari kecil mengikuti cahaya Hermione yang menjauh darinya, ke kegelapan, menghiraukannya, sekali lihat.
Melirik sekilas ke arah kanan dimana lukisan perempuan penggembala berkumis tidur saling berpelukan dengan tengkorak utuh yang memakai gaun merah jambu dan mereka mendengkur keras saat dia lewat, lalu memanggil Hermione, baru selesai memeriksa ruang kelas lain. "Maksudku kita teman, teman baik, sudah sewajarnya saling bercerita, bukan begitu?" rayunya memang agak ingin tahu apa, yang bisa membuat seseorang, gadis, kaget dengan gelap saat gelap itu adalah usul dan perbuatannya sendiri. Namun sekarang biasa lagi, kecuali gelapnya.
"Kau sendiri yang selalu mengatakannya, tidak baik menyimpan suatu cerita sendiri, kalau ada teman yang dipercaya-"
"Ada beberapa rahasia yang pantas untuk tetap dirahasiakan sendiri, Harry. Kamu benar-benar tidak begitu pandai menyimak ya?" sela Hermione.
Ada tanda dalam kalimat itu yang kurang lebih diharapkan Harry. Dia menghela napas, karena apapun tanda reaksi Hermione soal paksaan Harry, balasan berupa cibiran diharapkan Harry lebih dari yang lain. Bersikap datar malah adalah tanda Hermiome memang tidak boleh diganggu. Itu Hermione, dan Harry kenal Hermione.
"Well, aku pandai meniru, dan... terbang." kata Harry asal, sudah menjejerinya. Sedikit merasa aman tidak akan mendapat bentakan.
Hermione menggeleng-geleng. Mengatakan muram, "Dan merayuku. Kau mengambil resiko menerima omelan dariku, tapi lebih seperti kau sudah tahu kalau aku tidak bisa marah terus denganmu. Maaf, soal tadi, Harry..."
"Apa begitu?" tanya Harry, sedikit banyak tercengang, pandai merayu Hermione?
"Tentu saja begitu. Oh, jangan lupa tambahkan dalam daftar hal-hal yang tidak kau tahu..."
Harry merasakan gerakan dirinya sendiri mencegah untuk meringis. Kalimat yang sama yang digunakan Ron untuk dia mengusir Ron dari tenda di musim gugur itu, digunakan oleh Hermione baru saja. Harry mendapati dirinya menenangkan napas.
"Well, apa yang kudapat dari merayumu?" tanya Harry, merasa berani begitu saja meski sebenarnya tidak mau mendapat amarah Hermione, ia merasa seperti Luna. Tidak peduli pada apapun, dan penasaran yang, fiuh, tinggi sekali.
Cahaya tongkat Harry putih dan sangat terang, walaupun koridor di sana gelap kecuali semakin maju mendapati beberapa jendela yang menerima cahaya sesuatu di luar selain bulan dan bintang, sekelilingnya terang benderang seperti kapal selam di kedalaman air. Dan Hermione termasuk lingkup lahapan lumosnya yang lebih terang, ia melihat wajah Hermione seperti malu untuk menjelaskan dan sementara Harry hanya menunggu melihatnya membisu.
"Hermione?" bisik Harry tidak yakin, mulai cemas dan merasa lebih baik tidak penasaran.
Hermione melakukan gerakan bersamaan; dia menghela napas panjang, menutup kedua kelopak matanya, menggeleng-geleng sekaligus menunduk menghadap langkah kakinya.
Baiklah, sudah cukup, apapun maksudnya, itu sudah cukup, pikir Harry. Dan tidak akan penasaran lagi, berniat mencari topik pembicaraan lain.
"Perhatikan langkahmu, sebentar lagi tangga-"
"Bukan, Harry, tidak apa-apa, sepertinya aku memang harus bercerita pada seseorang, aku belum bercerita, itu... aku... hanya... tidak punya teman lain yang cukup sebanding mendengar ini." jawab Hermione cepat mendadak menyelanya.
"Oke, tidak akan masalah." kata Harry mengangguk-angguk. Tidak menangkap apapun dan tidak memikirkan soal Ginny atau Ron yang bisa saja sangat pantas sepantas dirinya, dalam kadar Hermione. "Tapi aku serius soal perhatikan langkahmu, sebentar lagi ujung koridor dan ada tangga yang biasanya condong ke bawah." mereka memang menyimpangi koridor dan melihat di ujung jauh depan mereka, dan tangga pualam lain disana menuju Aula Besar yang terang untuk setidaknya melihat jalan. Harry tidak tahu. "Yang kukira, akan... gelap."
"Tapi berjanjilah jangan menertawaiku!" kata Hermione bernada ancaman sambil memukul pelan lengan Harry.
"Baik, oke, apapun permintaanmu, Tuan Putri!" canda Harry, lebih seperti cibiran dari nadanya.
"Urgh, aku mulai berpikir lagi untuk tidak menceritakan saja soal ini pada siapapun, apalagi kau, Harry, kau masih sangat... mudah bocor."
Harry mengangkat alis, namun tidak menyahut apa-apa, lebih karena tidak tahu dan tidak mau tahu apa artinya mudah bocor.
"Tapi baiklah..." kata Hermione memulai, Harry bereaksi mendekati Hermione, dan mereka memandang suatu titik yang sama dalam selangkah di depan mereka, ketika Hermione melanjutkan saja, "Aku rasa aku pernah terperangkap dalam sesuatu yang tidak kutahu ternyata semacam kegelapan, terperangkap di sana dalam waktu yang sangat lama, benar-benar lama sekali, aku merasa gila berada di sana, aku merasa aku terbangun dari mimpi dari mimpiku, aku merasa hidup itu adalah mimpiku dan di sana adalah kenyataan... Aku bingung, aku tidak bisa berpikir, aku tidak bisa menggunakan seluruh indraku, aku tidak merasakan apapun, bahkan aku tidak bisa takut untuk itu... Baru setelah aku buta waktu, maksudnya aku tidak tahu sudah lama sekali atau tidak berjalan sama sekali; kupikir itu menakutkan, saat entah bagaimana aku bisa mendengar panggilan-panggilan namaku, aku merasakan di sekujur tubuhku ada yang mengharapkanku untuk keluar dari kegelapan itu, dari suasana gelap yang ternyata kulihat selama itu...
"Dan tiba-tiba aku terbangun."
Harry memberengut masam, tidak tega sebenarnya menanyakan Apa yang semestinya dia pahami? Termasuk menanyakan bagian mana yang bisa membuatnya tertawa. Dia mencoba mencerna sendiri.
Sepertinya Hermione membaca ekspresi Harry itu, namun ia juga masih mengatur dirinya yang nampak baru saja selesai mengungkapkan hal paling memalukan untuk disebar sama sekali.
Memaksakan bertanya, "Belum menangkap maksudnya?"
Harry menggeleng, berusaha serius sebisa mungkin tidak meledek Hermione dengan kalimat yang berbaris di otaknya.
Hermione menggulirkan matanya, namun merasa entah kenapa berani dan bisa tidak bermasalah walaupun akan ditertawakan Harry. Mendapat dorongan untuk melanjutkan bagian terpenting.
"Baru-baru ini, karena sebelumnya aku tidak punya ide kapan hal mengerikan, er, hal yang sebelumnya mengerikan namun aku mendapat semangat melimpah begitu saja dan itu membuatnya sepele dan ringan, bahwa ini terjadi, kalau aku tidak berkhayal-khayal, adalah saat aku tiga hari tak sadarkan diri di St. Mungo."
Ada hentakan kosong yang menggerakkan suatu ingatannya, Harry mengerjap, tahu kalau ini menarik untuk dibahas.
"Tentu saja kamu tidak berkhayal." gumamnya lurus merasa yakin.
"Apa maksudmu? Kenapa menurutmu?" repet Hermione, seolah memang harapannya adalah Harry menyampaikan beberapa opini yang berintonasi serius dan cerdas. Bahkan menghiraukan jika nanti bertipe jawaban Luna.
Harry meliriknya sembunyi-sembunyi. Tidak bisa menatapnya terus ketika mengatakan yang berikut. "Well, jujur saja, aku- aku tidak akan tahu soal khayalan atau tidak, karena menurutku, yah, kamu sedang dalam fase penormalan aktifitas setelah sebelumnya, yah, bisa dikatakan hampir dikecup dementor. Mengerikan sekali, ya, aku setuju, aku bisa membayangkannya." Harry senang mendapat Hermione mengangguk-angguk di tengah langkah mereka berdua. "Tapi aku bertanya-tanya, saat kau bilang kamu mendapat dorongan semangat, kau tahu, semacamnya, dan juga saat mendengar teriakan itu... Apa kau mengenal, maksudku, apa kau..."
Ia tidak melanjutkannya. Harry tidak mendapatkan kalimat yang tidak terkesan menanyakan dirinya atau bukan yang Hermione maksud, dan apa Hermione mengenal pendorongnya itu.
"Apa?" tegur Hermione. "Apa maksudmu kau ingin menanyakan apa aku tahu siapa yang melakukan semua itu?" dia bahkan sudah senang ada yang menyambut percaya kisahnya, jadi tidak akan dia memberondong Harry.
"Well, bukan, tapi mungkin... yeah, itu bisa dipertanyakan kan?"
Hermione mengebor mata Harry sejenak sebelum menarik menarik napas dan berkata. "Yeah, tapi tidak punya gambaran." menahan sekuat tenaga dari menanyai kenapa Harry begitu tertarik. "Hanya perasaan asing yang membantuku, sudah tahap menyelamatkanku, tapi tampak begitu... dikenali."
Keheningan menerpa mereka. Merasa sudah menonjok perut Harry karena ada yang melilit di sana, sesuatu yang bukan dari masalah pencernaan. Asing... Namun Dikenali. Harry bersungguh-sungguh berpikir, apapun itu maksud Hermione, itu merupakan dirinya, ia berharap bukan hanya berpikir.
"Yah, well, mungkin itu Ron, Hermione, dia menemanimu sepanjang waktu, emm, dia melakukan semuanya di sebelahmu tertidur kecuali makan dan mandi, mungkin dia menamparmu berkali-kali dan memohon dirimu bangun..."
"Jangan bercanda!" dengus Hermione tertawa. Harry bangga lagi akan hal tadi.
Mendadak setelah Harry ikut menyengiri Hermione, ia tidak bisa menahan untuk mengatakan, "Tapi aku juga masih bingung apa yang membuatmu memperingati kalau saat mendengar alasanmu tadi aku tidak boleh tertawa..."
"Oh, itu..." gumam Hermione, bukannya apa-apa, dia malah tersenyum menerawang ke depan. Membuat Harry penasaran begitu saja datang menyergap berbarengan dengan menahan diri untuk segera berteriak... Kau-tahu-apa.
"Apa?" kata Harry memaksa dengan geli.
Senyum Hermione mempertontonkan gigi kelincinya. Lalu dia berhenti berjalan dimana mereka sudah berdiri pada ambang tangga pualam ke lantai Aula Depan yang terang benderang di bawah, menoleh pada Harry dengan senang dan memberi isyarat untuk Harry mendekatkan telinganya. Ia akan membisikkan sesuatu.
Harry tidak langsung menurut meski ikut berhenti berjalan di puncak tangga. Cuma berkata, "Kenapa harus berbisik?"
Hermione menoleh ke belakang dan menunjuk deretan lukisan yang tertidur. "Mereka tidak pernah benar-benar tertidur, dan lukisan Hogwarts -seperti yang kita semua tahu, apalagi murid tingkat delapan seperti kita- adalah mesin informasi sekaligus penyebar kabar terampuh seantero kastil. Dan aku tidak ingin apa yang akan kau dengar menjadi perbincangan di meja Slytherin besok pagi..."
"Kasarnya cemoohan di meja Slytherin." sahut Harry mendekatkan telinganya pada mulut Hermione.
Harry merinding, tetap memaksa mendengar kata yang hanya tiga buah singkat. Hampir mengelonjakkan Harry dalam usaha menahan ejekan dan bingung bersamaan.
"Aku takut gelap."
Harry melihat Hermione dengan senyum yang tidak bisa dibendungnya, apalagi Hermione juga hanya tersenyum malu tidak seperti dia yang biasanya. Mungkin karena baru keluar dari gelap.
Harry sudah mulai terkikik. "Kau - Hermione -nona-tahu-segala- Granger takut... Ouch! (Hermione menggigit bibirnya sendiri, dan menginjak kaki Harry menghiraukan tenaga walau bermaksud bercanda) maaf! Tapi itu mengherankan, Hermione, jujur saja..."
Hermione mulai turun tangga pualam diikuti Harry. Mereka masih merasa buncah kesenangan hanya karena ledekan itu. Yang padahal setiap hari tanpa sadar mereka lakukan rutin saat patroli malam. Memenuhinya dengan kata-kata ejekan canda yang entah bagaimana bisa terlontar antara Hermione Granger dan Harry Potter. Seperti bukan mereka.
"Aku tahu. Aku juga merasakannya begitu saja tadi, pertama kali. Jadi aku kaget dan baru ingat kalau sebenarnya - Bisakah kita tidak membicarakan ini, terdengar memalukan untuk telingaku sendiri, dan demi Tuhan! Berhenti menertawaiku! Kita harus melanjutkan patroli, Ketua Murid laki-laki!"
"Baik, oke, maaf!" kata Harry. "Bisa simpan kata maafku dengan mantra perekam saja, Hermione, kumohon?"
Hermione tidak lagi menahan matanya yang akan selalu berputar akan tingkah Harry saat ini. Berjalan menjauh terus turun dan menuju gerbang Aula Depan. Mendului Harry lumayan jauh dan berbisik bukan untuk siapa-siapa, "Sejak kapan dia banyak omong?"
Harry memastikan Aula Besar tertutup dengan menggoyang-goyangkan pintunya, sementara selesai melihat Hermione belum bergerak menutup gerbang Aula Depan yang membawa angin dingin tidak keruan. Menggoyangkan api di semua obor besar di ketinggian Aula Depan dalam wadah piringan raksasa. Membuat kilap menakjubkan dari empat batu warna pada tiap jam pasir poin semua asrama di pangkal ketinggian atas gerbang utama kayu ek.
Memimpin di sana yang memiliki jumlah batu lebih banyak di bagian atas, selalu setiap awal tahun karena belum ada Quidditch, adalah Ravenclaw dengan batuan lautnya lalu disusul Gryffindor, mungkin, tapi juga kemungkinan besar, karena faktor Hermione.
Melihat itu sekilas dan tidak bisa menahan kekehan tipisnya dari mengingat betapa pintarnya Hermione, sekaligus membayangkan apa jadinya asrama Gryffindor tahun ajarannya tanpa Hermione.
Harry berjalan mendekatinya tanpa disengaja atau apapun suara langkah kakinya bersuara gaung memantul di batu-batu besar yang menyelimuti Aula Depan, dan Harry rasa wajar saat Hermione menoleh ke belakang sekilas, dari suatu aktivitasnya memandang sesuatu di luar kastil.
Harry sudah menjejerinya. Langsung memandang keluar tanpa pamit dan melipat tangannya karena angin dingin. Bertanya-tanya apa yang ingin Hermione dapat.
"Hujan yang baru saja berhenti, membuat dinginnya menyamai awal musim dingin saja." kata Harry. Melirik dari sudut mata, dia melanjutkan, "Disini sangat dingin, aku bingung Filch tidak menutup gerbang ini dari awal saja... Ngomong-ngomong, Hermione, apa yang sedang kau lamuni?"
"Aku sedang berpikir." ralat Hermione mendesah.
Harry mengerdiki bahu. "Di mataku lebih seperti melamun. Apa ada yang terlewat dari patroli malam ini, atau ada esai yang kurang panjang dari puluhan meter... Oh, apa kekurangan suplai kaos kaki dan topi untuk peri rumah?"
Harry bangga lagi melihat Hermione tersenyum. Ia tidak akan kekurangan suplai untuk pakaian karena itu dirajut sendiri dengan sihir yang tidak membutuhkan konsentrasinya. Ia hanya menjawab, "Bukan apa-apa, Harry."
Harry hanya mengerjap. "Oh, baiklah, aku tidak perlu memaksa kukira jika kamu mau bercerita bukan?"
Hermione belum memandang Harry sejak tadi. Masih memandang jauh ke depan ke halaman Hogwarts yang berbukit dan membentang danau, namun dia mendengar Harry karena mengangguk.
Hening sebentar, sementara Harry ikut memperhatikan arah pandang Hermione, yang sedikit banyak ingin dia ketahui apa yang bisa diperhatikan dengan menarik, dari penglihatan dan suara atau lainnya; Harry hanya bisa melihat hal biasa yang bisa dilihat dari gerbang Aula Depan waktu malam, tapi malam ini, langit di sana gelap mirip kelabu tebal sekali, terang, namun tidak ada benda langit. Mendapati suasana terang lembut alami entah darimana, mengingat saat itu sudah mencapai tengah malam.
Dan itu membuat danau dan hutan terlarang disana nampak tidak lagi terlihat angker, melainkan menjadi sebuah pelataran yang pantas diabadikan. Selain tergoyang dedahannya dan berdesir pelan permukaan airnya, mereka tenang sekali dalam rintik-rintik air hujan kecil yang jatuh dari langit aneh.
Tidak ada yang bisa didengar karena menurut Harry, suasana sehabis hujan tidak akan membuat serangga malam dan uhuan burung hantu membuat parade mereka yang biasa. Hanya ada bunyi rendah dari angin yang melewati berbagai rongga.
Kesimpulan yang Harry dapat, atau ia memaksa berkesimpulan seperti ini, adalah suasana ini, yah, pikirnya romantis.
Dan berpikir apabila kau adalah seseorang yang berdiri di atas undakan batu ini, itu akan terasa seperti berada pada panggung di puncak perbukitan. Juga ditambah jika kau berdiri dengan seorang lawan jenis yang kau sayangi di sisimu, akan terasa seolah-olah pelaminannya nanti datang mendadak sekarang ini.
Dan menyertakan suasana romantis, serta keminiman suara dari sang malam, lalu dengan angin yang menabrak-nabrak tubuh mereka seperti beratus tatap mata yang mengamati mereka terhanyut, kemudian akan berciuman.
Itu yang dirasakan, setidaknya bagi Harry kecuali pada bagian mereka saling bergenggaman tangan dan saling berhadapan. Baru beberapa detik menjelang, ia mendapati itu cuma imajinasi berlebihan walau untuk sekedar dikhayalkan.
Harry juga tidak tahu apa lupanya Mr Filch, dan membuat gerbang aula depan terbuka menjadi latar impian yang diharapkannya menjadi kenyataan, apakah mungkin mendukungnya mengatakan Kau-tahu-apa sama sekali.
Apalagi untuk tahu mungkin saja Hermione mengamati hal yang sama dengannya.
Harry menghela uap napas dalam sekali, seperti baru saja menghirup air yang banyak sekali lalu sadar. Ia berpaling pada Hermione di sampingnya hanya... mengamatinya lama sekali, tidak tahu apa yang menuntunnya menatap Hermione terus, meski Hermione mematung terhadap depannya, tidak menganggap kalau Hermione pasti sadar sedang diamati.
Atau tidak, Harry sebenarnya tidak memikirkan apapun, perasaannya aneh.
Beberapa waktu, tangan Hermione yang terlipat sejak awal, mengusapkan telapaknya pada kedua bahu dengan gerakan berpola, dan sedikit menggigil, melakukan gestur seseorang yang kedinginan.
Harry melihat itu, spontan tangannya menarik tongkat dan mengayunkannya di belakang punggung Hermione, menciptakan mantra sirkulasi panas.
Hermione menoleh padanya, mungkin dia merasa kaget, tapi tidak ada yang Harry tangkap keculi gerakan mengangkat kecil alisnya.
"Beku." Harry mengabari. Berpaling pada halaman dan mengayunkan tongkatnya sendiri pada dirinya, langsung teringat saat usapan bahu Hermione.
"Well, aku tidak terpikir hal itu," kata Hermione pelan lalu meregangkan tangannya gemas sambil tersenyum.
"Membingungkan." gumam Harry.
"Apanya?"
Harry belum memandangnya. "Ini. Kita. Berdiri disini hanya berdua, seperti kita adalah orang terakhir yang disisakan untuk hidup, bahkan aku tidak mendengar binatang. Memandang kosong ke kejauhan seolah kita sedang mengagumi karya kita sendiri, mendapati semua pemandangan ini hasil yang sempurna, tidak ada yang perlu diperbaiki. Hanya membuatku merasa bingung, dan aneh saja. Berpikir apa aku pantas menikmati ini padahal aku sendiri yakin-" ia tidak melanjutkan itu, ada kesombongan yang tidak akan pernah dia mau ucapkan disana. "Aku merasa terkenang-"
Harry tidak bisa melanjutkannya. Melirik Hermione yang mencermatinya tertarik, sekilas, lalu terkekeh samar. "Sudah malam larut, kurasa aku melantur."
Lalu Hermione menggeleng. "Tidak, kukira aku juga merasa mengenang suatu masa di bagian hidupku, suasana yang sama, pemandangan yang setidaknya memiliki kesamaan tema, mengingatkanku pada saat kita berdiri memandangi pemakaman di Godric's Hollow dulu..."
"Kecuali salju dan... ular dalam tubuh manusia. Yah, aku kira memang terasa seperti berada di sana kembali..." sahut Harry terkekeh pelan sendiri, yang tidak mau sama sekali mengakhiri pembicaraan mengenang sesuatu dengan Hermione. Sesuatu dari sedikit yang membuatnya senang sejak dia menyadari ada yang lebih dalam dari sekedar sahabat.
"Benar." gumam Hermione menyahut.
"Hermione," ia mengatakan ini begitu saja. Keluar dari pikirannya yang terdalam bahkan tanpa persiapan. "Pernahkan terbayangkan olehmu apa yang akan terjadi, jika seandainya saat kita melakukan perjalanan berdua saja dalam mencari Horcrux, dari ketika kau dan aku pergi ke Godric's Hollow, lalu Ron tidak pernah datang membantu? Dan mungkin saja kita tidak bertemu Ron lagi, bahkan dengan yang lainnya?"
Entah keberanian jenis apa yang membuatnya sanggup mengatakan hal seperti itu. Tapi Harry tidak merasa khawatir, sebab dia memang mencintai Hermione.
"Seandainya kita berhasil menghancurkan semua horcrux tanpa bantuan dari Ron lagi? Mungkin sampai akhir, sampai jika sudah mengalahkan Voldemort?" kata Hermione menegaskan semua kata pada udara di depannya.
"Misalkan seperti itu."
Harry seketika mengutamakan hidupnya selama setengah menit itu menunggui jawaban Hermione. Sudah melupakan semua hal yang pernah terpikirkan olehnya, jangankan untuk mengingat kalau ia sama sekali tidak ingat kalau pernah berpikir, -malahan berkata- akan merindukan tidur dalam kamarnya di menara Gryffindor, keinginannya untuk tidur beristirahat pada kasur maha besarnya lima menit yang telah berjalan berkali-kali lipat lalu pun sudah melebur. Seutuhnya memusatkan pendengaran untuk Hermione.
Hermione memalingkan pandangannya pada Harry. Mereka saling pandang dan membeku di jarak setengah meter, Harry membeku. Pandangan yang sesungguhnya mengandung daya magnet berlawanan kutub itu tersekat oleh keadaan yang menunggui jawaban.
"Sesuatu yang besar akan terjadi. Sesuatu yang tidak diinginkan oleh beberapa orang, mungkin saja banyak orang, kecuali kita sendiri, akan menggelora seperti air yang terus dibiarkan mendidih."
Harry tak mampu menelan ludah karena tenggorokannya kering sekali.
"Dan kejadian itu mungkin saja akan kita sesali telah terjadi dan seperti biasa..." Hermione mengambil napas panjang. "Kita akan berusaha memutar waktu, mempermainkannya meski dengan niat kebaikan tapi selalu menjerumus memperburuk keadaan."
"Begitu ya?" kata Harry. Tidak melakukan penyangkalan dan tidak mencandai Hermione, menganggapnya serius dari sebuah peringatan bencana besar. Meskipun itu menurut Hermione, seperti pertanyaannya, tanpa menanyakan penjelasan lebih.
"Tapi kau tahu, Harry, terkadang dari sesuatu yang berlawanan dengan apa yang kita impikan, kita malah akan bahagia..."
Darah berdesir di punggung, Harry mengangguk serius. Sekeliling meluruh jadi ketiadaan yang tidak bisa dianggap, mereka masih saling tatap, Harry dan Hermione.
"Apa, hanya... terkadang?" kata Harry serak.
Hermione tidak mengangguk, tetap meneruskan dengan berat namun bernada tenang, berat dari mimik ekspresinya.
"Aku kenal siapa dirimu. Kenal dalam arti yang sesungguhnya, aku dan dirimu sama-sama pertama kali saling mengenal satu sama lain sebagai orang luar yang tidak tahu sihir, seperti mempunyai teman seperjalanan ke dunia baru. Kita mempunyai ikatan, Harry, paham? dan tentu saja dengan Ron tapi... Aku mengerti kamu. Mengerti kalau kamu bukan orang yang egois dan juga mementingkan diri sendiri. Merelakan memang tentu tindakan yang sulit namun pasti menghasilkan selalu sesuatu yang positif, yang indah, Harry."
Harry langsung mengangguk samar. Tersenyum seperti untuk pertama kali semasa hidupnya. Ia hanya paham tanpa pencernaan apa yang coba disampaikan Hermione, istilahnya sudah di luar kepala.
"Apa kamu merasakan kalau kita agak jauh dari Ron, dan untukku... Ginny?" tanya Harry selanjutnya. Kini merasa Hermione sebagai komputer Dudley yang punya semua jawaban.
Harry menangkap kedipan dua mata Hermione yang terasa berbeda dari lainnya, hanya beda bahwa sekarang bisa ditangkap oleh mata Harry. Kemudian Hermione berpikir, atau sesuatu yang nampak seperti berpikir; Dia memejamkan matanya dan menghela napas panjang, masih menghadap Harry.
Hidup Harry beberapa detik ini kembali terdedikasi buat Hermione.
Mereka sekarang seperti dua orang kembar yang sedang menukar pengalaman, merasa menjaga setengah rahasia yang dimiliki bukanlah sebuah hal lumrah, dan wajar jika saling bertanya dan menceritakan isi hati bagi mereka. Sekarang ini, di malam patroli mereka yang ke-47, mereka seperti tidak punya alihan.
Dan Hermione nampak telah berhasil menghitung sebuah soal Arithmancy tingkat atas dengan pencampuran kisi-kisi Numerologi kuno yang hampir punah, dengan membuka matanya waspada.
Dia mengatakan, pertama dengan masam, "Sebenarnya itulah yang aku pikirkan tadi, tapi- Mereka juga bukan anak kecil lagi. Ron bisa berpikir dewasa, banyak yang dipelajarinya dari pengalamannya sendiri, terutama dan paling khusus saat dia terpengaruh Horcrux... Yah, tapi jangan mencermini keseluruhan dirinya dengan sifat yang sering dia lakukan sekarang ini, itu hanya caranya menyegarkan suasana, bersifat sarkastis yang menyebalkan... Kau pasti kenal dia sama banyaknya denganku kan? Dan karena itu dia pasti bisa merealistiskan keadaan sekarang, kita Ketua Murid, jadi mungkin ini hanya perasaan kita saja..."
Nada Hermione sesuai dengan kalimatnya jika bertujuan untuk meluruskan persepsi, paling tidak melenyapkan rasa khawatir Harry, akan banyak hal: menjadi pengkhianat, menjauh dari Hermione, akan rasa cintanya-
Bagaimana Harry bisa terus saja mengalah pada Ron dan ditambah mulai sekarang mengkhawatirkan beberapa jawaban Hermione malam ini, sepertinya tidak sesederhana dia sanggup merelakan Hermione dinikahi oleh Ron, bukankah begitu? Harry bingung, semua terjadi dan terasa rumit dan kusut dalam kepalanya.
"Dan bagaimana dengan Ginny? Aku tidak tahu."
Hermione melepaskan napas tertawa, berefek semburan uap banyak. Harry cuma tersenyum masam melihatnya.
"Menurutmu bagaimana? Dia bahkan sudah bersikap dewasa bahkan sebelum Ron bisa menggosok giginya sendiri," kata Hermione melucu. Harry tertawa. "Kalau Ginny, yah, bisa dikatakan tidak perlu kamu khawatirkan. Karena jika diambil ungkapannya, melakukan itu sama saja dengan berusaha menumpahkan air danau Hogwarts ke atas."
Harry mencari alihan memandang berkeliling. Sedikit banyak langsung meresap. "Yeah, aku setuju denganmu. Tapi kelihatannya kejam sekali soal Ron dan gosok gigi tadi."
Hermione memandangnya memelas. "Maaf soal itu, jujur aku hanya tidak bisa menahannya." dan Harry mengangguk-angguk tersenyum tidak bermasalah. "Tapi Ginny juga hanya sedikit bermasalah dengan kepolosannya, kau tahu, Harry..." namun alis Harry terangkat. "Yah, well, masalah kepolosan yang kurang lebih sama denganmu..."
Hermione berkata dengan takut atau malu, tapi seperti itu semua hanya palsu bagi Harry. Ia baru kali ini akhirnya mencerna maksud satu perkataan terakhir barusan, aneh padahal satu yang sama sekali tidak bermaksud tertentu kecuali sama dengan kata-katanya, malah yang membuat Harry berpikir; bahwa Hermione sedang melucu serta mengasihani, tindakan yang menurut pikiran terluar Harry, belum pernah jumpa. Untuk Ron, Harry agaknya tahu bahwa hanya bagian mengasihaninya saja.
Ia tidak memikirkan itu, ia bersiap membalas, jadi sekaligus bersiap keluar dari situasi serius utama malam patroli mereka.
Harry memandangnya tidak percaya, menahan cengiran, membuka mulut, "Aku? Polos? Bagaimana kau bisa berkata seperti itu? Malah- malah melebihi diriku sendiri?"
Hermione murni malu dan sejenak nampak ragu dan tidak bisa mengatakan sesuatu. "Well, erm, maaf, Harry, tapi bisakah kita tidak membicarakan hal ini? Topik ini kurasa akan mendekati ke arah saling meledek..."
"Saling meledek? Blimey, Hermione, kau benar-benar berniat bisa membaca ya?"
Hermione menekan tubuhnya sendiri dengan gemas lagi sambil tersenyum. "Suatu saat, kau, Harry, pasti akan menemukan alasan yang sangat tepat dan kau merasa betapa berartinya suatu kegiatan yang kita semua namai membaca..."
"Aku yakin itu. Tapi yang tidak kuyakini, Hermione, kutakut Ron pernah bilang nama kegiatan itu membuang waktu, dan George... Jangan berpikir ke George."
"Oh, beraninya mereka! Bagaimana dengan kita beri beberapa malam detensi membaca..." Harry tergelak tawa. "Tapi kurasa malam memang membuat bicara kita melantur, bukan begitu?"
Harry mengangguk-angguk tidak jelas. Setuju soal itu, namun tidak setuju kemana arahnya nanti; menyudahi suasana ini, dimana tidak diperhatikan dunia, hanya berdua, dengan... Bisakah kau bayangkan sendiri?
"Yea, ekhm, yeah... er well..." dia tersenyum.
Hermione berpaling pada Aula Besar dengan satu senyum kecil penuh arti. Mendapat muka penuh Hermione mulai agak pucat kedinginan, sayangnya sirkulasi panas hanya dalam jubah. Tidak ada pilihan lain bagi Harry untuk memaksanya tetap berdiri disini selamanya dan mungkin malam itu tidak akan berakhir dan berganti fajar seperti rutinitas selaras yang tidak pernah membosankan.
Hermione melirik Harry sekilas, kembali ke halaman, masih tersenyum penuh arti. Harry tidak berusaha menebaknya, tapi ia sendiri bersusah payah tidak membalas dan tidak menatap balik mata Hermione dengan arah ke alis atau sekelilingnya kecuali dua pasang hazel.
"Malam yang indah." gumam Hermione, melirik cuma dari sudut mata.
"Malam yang indah." ulang Harry bernada sama, mulai menatap Hermione. 'Indah' bahkan jika tidak dinilai dari muncul seusai hujan.
Mereka masuk ke keheningan. Sebelum Hermione berkata lagi, "Ngomong-ngomong, Harry, aku bertanya apa kau juga berpikir, atau mungkin cuma perasaanku..." jantung Harry rasanya mungkin ikut diam menyimak. "Kau semakin tinggi ya?"
Harapan yang konyol, Harry mencibir dirinya sendiri dalam hati.
"...kukira mungkin petualangan kemarin yang menghasilkan tambah sekitar tiga inchi pada badanmu, lihat! aku hanya sebatas dagumu sekarang, pendek sekali ya?"
"Yeah, dan kau semakin galak." gumam Harry tersenyum menyeringai. Mendapat cengiran canda dan pukulan tanpa kepedulian soal keras di bahunya, ia mengaduh. "Aww, untuk apa itu? kau tidak harus langsung membuktikannya, Mione, aku paham itu,"
"Hei, sejak kapan kau memanggilku hanya Mione... tapi itu tadi tegas namanya."
"Atau semakin tegas." gumam Harry, masih mengelus bahunya bekas pukulan Hermione, yang sebenarnya tidak sakit lebih dari lima detik sama sekali.
"Sudah larut, kita butuh tidur meski dengan stok ramuan anti-tidurmu, aku masih tidak percaya kau membawanya ke si-" ia mencoba menahan kuapan. "Aku mengantuk, dan tolong tutup gerbangnya, Harry!"
Hermione berjalan santai begitu saja dari tempatnya tanpa pesan lagi, tidak menoleh dan lurus ke depan.
Harry hanya bengong, masih dalam keadaan mengelus bahu dan memandang punggung Hermione. Menyadari banyak hal, terutama jangan hanya meneruskan mengelus bahunya. Ia ingin bersama.
Mencabut tongkatnya lagi dan tidak sambil menghadap belakang, ia mengayunkannya hanya dengan sebuah lirikan dan bunyi fung keras. Sudah berjalan, berlari mengikuti Hermione yang telah naik pada tangga pualam, dibarengi suara derak lebih keras dan bantingan-bantingan kuncian tujuh tingkat manual tanpa sihir pada gerbang utama kastil yang menutup sendiri. Sementara Harry berseru, "Hermione, tunggu! Aku tidak tahu jalan, aku anak baru di kastil ini..."
Hermione nyengir, berhenti dan menghadap Harry menungguinya sedang meloncati tiga anak tangga sekali tapak.
"Lagipula di sana gelap."
Maka saat mereka kembali ke ruang Ketua Murid, bumi kembali berputar untuk milyaran manusia lainnya.
.
Bersambung
Lupakan kalimat terakhir barusan yang terlalu hiperbole dari semua hiperbole. Masih kurang terasa nuansa di sana ya? Mungkin si penulis masih butuh masukan, untuk itu Terima Kasih. Ngomong-ngomong reviewnya lucu... :D
