FAST UPDATE! WAKAKAKAKAKAKAKA!!! (ketawa padahal nggak ada hal yang perlu dibanggakan...)

Ehm, chapter ini sebenarnya cukup 'nyempal' dan diluar rencana (makanya kagak berhubungan sama baozi-baozian di chap sebelumnya), sodara-sodara. Oh, dan satu lagi. Chap ini idenya dari IXA Cross tentang Lu Yi AKA Lu Xun yang membagi pengetahuannya ke orang2 istana. Thnx buat idenya! Hmmm... aku kurang bisa nangkep maksud 'membagikan'. Tapi aku harap cukup memuaskan.

Wew... CHEAP TALK dulu, deh... *dibunuh*. Bener-bener untuk mengarang chap satu ini sampe berjuang dengan darah dan keringat! *LEBAY MODE ON* Ehm, nggak separah itu, sih... Tapi karena Lu Yi yang jenius harus membagi pengetahuannya ke orang2 istana, maka authornya yang super goblok dan nggak ngerti apa-apa tentang China terpaksa harus belajar lagi... Wkwkwkwkwkwk... Untung dengan bantuan Internet, mama, dan engkong tersayang, akhirnya chap ini jadi juga! YAY!

Oh, dan di bagian ini juga diceritakan tentang apa yang terjadi pas zaman FengHuang hidup (yang legenda itu lho...). Rada ngarang berdasarkan keinginan authornya, sodara-sodara. Jadi mulai bagian ini, chapternya mulai berat dan nggak nyantai kayak chapter2 sebelumnya.

Yah... silahkan membaca, deh sodara-sodara... BTW, plis plis plis jangan sampe bingung baca chap ini, ya? Karena selain banyak kuotasi-kuotasinya, juga ada banyak filsafatnya (yang saya yakini)...


Ada-ada saja kegiatan yang dilakukan Lu Yi dan Yangmei semasa mereka tinggal di istana. Sampai beberapa bulan ini kerja mereka hanya bermain dan bermain saja, seolah-olah mereka akan selamanya tetap menjadi anak kecil, tidak peduli sama sekali dengan masa depan. Kadang-kadang mereka menyempatkan waktu untuk berlatih bersama dengan Ling Tong, Lü Meng, dan jendral-jendral yang lain. Yah, kegembiraan masa kecil seperti itulah yang dirasakan Yangmei. Namun Lu Yi berbeda. Meskipun usianya hanya terpaut satu setengah tahun dengan Yangmei, ia sudah mulai memikirkan masa depannya. Bayangkan saja, jika saat ia kecil ia tidak peduli dengan pendidikannya, apa jadinya kalau dia dewasa nanti?

Jadi, mulai beberapa hari yang lalu, Lu Yi banyak menyisihkan waktu untuk berbincang-bincang dengan Kaisar Sun Ce sekaligus untuk belajar. Sekarang ia tahu bahwa di masa dimana perang masih terus berlangsung, dan serangan dari negara lain masih mungkin terjadi, pemerintahan Kekaisaran Wu dibagi menjadi dua, yaitu Pemerintahan Sipil dan Pemerintahan Militer. Meskipun selama ini ia mempelajari keduanya, ia lebih tertarik dengan pemerintahan militer. Namun, ia juga tidak keberatan jika harus mempelajari pemerintahan sipil.

Jadi pada hari ini, anak kecil yang bersemangat untuk belajar itu mengikuti sang Kaisar pergi ke pertemuan penasihat sipil dan para gubernur. Tentu saja ia sangat gembira, lain dengan Yangmei yang mengikutinya dengan langkah malas.

"Lu Yi, buat apa kita ke sana?" Tanyanya. "Mereka cuma ngomong hal-hal tidak penting! Kita main saja!"

Lu Yi menoleh ke arah Yangmei. "Tidak penting bagaimana?" Balasnya. "Mereka itu membicarakan Wu! Kalau tidak ada mereka, siapa lagi yang akan berpikir keras untuk terus memajukan negara ini?"

"Siapa saja boleh! Bahkan aku juga tidak keberatan!" Tantang Yangmei balik. Tentu saja ini membuat Lu Yi kesal.

Melihat ini, Sun Ce hanya bisa tertawa saja. "Meimei, justru kalau Lu Yi sampai berpikir untuk belajar, itu hal yang sangat baik. Bukannya mendukung, kamu malah melarangnya dan mengajaknya bermain." Katanya pada putrinya itu. "Setiap hari Lu Yi harus menemanimu main setiap hari sampai tidak bisa belajar. Kalau dia tidak harus bermain setiap hari, mungkin sekarang dia sudah bisa menyamai Paman Zhou!"

Mendengar pujian itu, Lu Yi senang sekali, tapi mau tidak mau dia jadi merasa tidak enak. "Yang Mulia, anda terlalu melebih-lebihkan. Saya tidak sepandai itu." Katanya merendah.

Sampailah mereka di aula besar tempat pertemuan itu. Di dalam aula besar itu terdapat meja-meja yang disusun membentuk lingkaran besar, dan di balik setiap meja duduk seorang gubernur atau penasihat sipil. Semua meja yang berbetuk melingkar itu menghadap kursi besar yang menyerupai tahta, tentu saja adalah tempat Sun Ce. Di meja yang terdekat dengan tahta itulah Zhou Yu berada.

Sun Ce duduk di kursinya, sementara Lu Yi dan Yangmei duduk manis di sebuah kursi di pojok ruangan. Tidak berapa lama, rapat itupun dimulai. Lu Yi mendengar dengan seksama, berusaha memahami dan memikirkan setiap permasalahan yang terjadi di setiap daerah berdasarkan laporan gubernur-gubernur tersebut, berikut dengan solusinya sekaligus. Sementara Yangmei sudah seperti cacing kepanasan di tempat itu. Kalau tidak ada Lu Yi, mungkin dia sudah ingin keluar dari tempat itu sejak tadi.

"Lu Yi, aku bosan..." Bisiknya.

"Ssst... Jangan ribut." Hanya itulah balasan darinya. Tentu saja ini membuat Yangmei tambah jengkel.

Sepanjang matanya mengamati, hanya ruangan besar itu dengan segala dekorasinya yang indah. Untuk menit-menit pertama ia masih tahan, namun saat menit sudah berubah menjadi jam, Yangmei semakin ingin segera angkat kaki dari tempat itu.

"Gerombolan barbarian dibawah pimpinan Fei Shan masih terus memberontak..." Salah seorang gubernur melapor.

Gerombolan Fei Shan? Pikir Lu Yi dalam hati. Bukankah kalau tidak salah dia sudah diberikan lencana pemerintahan dari Kaisar Wei? Kalau begitu, tidak heran pemberontakan mereka akan terus-menerus terjadi. Semakin lama pikirannya semakin dalam, sampai-sampai ia tidak sadar dari tadi Yangmei terus menerus menatapnya lekat-lekat. Celakanya, daerah kekuasaan Fei Shan sangat dekat dengan gerombolan bandit Shan Yue. Kemungkinan besar mereka akan bekerja sama untuk mengacaukan keadaan!

Dengan pemikiran sepanjang itu, Lu Yi merasa harus memberitahukannya pada Sun Ce. Tapi, siapa yang akan mendengar omongan anak yang masih belum sepuluh tahun? Dengan menyadari hal ini, ia diam saja. Untung pada akhirnya, entah bagaimana Zhou Yu pun memiliki pemikiran yang hampir sama dengan Lu Yi dan langsung mengutarakannya.

Lain halnya dengan Yangmei.

Astaga, aku baru sadar kalau Lu Yi yang sedang berpikir itu terlihat semakin tampan saja! Pikirnya dalam hati. Tapi dia jadi kelihatan dua kali lebih tua. Biarlah, dengan gayanya yang dewasa itu, dia kelihatan semakin keren! Wah! Aku memang beruntung punya calon suami sepertinya! Tapi kemudian dia berpikir lagi dengan dahi berkerut. Tapi kalau terus berpikir seperti itu, apa tidak cepat tua, ya? Nanti bagaimana kalau dia terus-terusan berpikir sampai usianya lebih cepat tua dariku? Bisa-bisa dia kelihatan seperti kakek-kakek sementara aku masih remaja. Tapi dia cepat-cepat mengenyahkan pikiran itu dari kepalanya. Ah, tidak mungkin! Buktinya Paman Zhou tidak begitu kelihatan tua meskipun dia banyak berpikir. Aku rasa nantinya kami akan seperti Paman Zhou dan Bibi Xiao.

Begitulah kontrasnya pikiran mereka. Ironis sekali sementara yang satu berpikir keras tentang politik dan pemerintahan, yang satunya hanya berpikir tentang tampang calon suaminya saja. Entah apakah Lu Yi yang terlalu cepat dewasa dan terlalu serius untuk anak berusia sepuluh tahun atau Yangmei yang terlalu kekanak-kanakan dan pikirannya masih polos.

Akhirnya setelah waktu yang sangat lama, terutama bagi Yangmei, pertemuan itu selesai juga. Tanpa disuruh lagi, Yangmei langsung menarik tangan Lu Yi dari tempat itu. Sayangnya, Zhou Yu menyadari kehadiran kedua anak kecil itu.

"Lu Yi, kau ada di sini?" Tanyanya saat melihat bocah itu. "Dan... apakah benar ini Putri Yangmei atau aku yang mulai rabun?"

Lu Yi tertawa mendengar sindiran Zhou Yu pada Yangmei. "Dia memang Meimei, Penasihat Zhou. Hari ini dia datang untuk menemaniku kemari."

"Salah! Salah! Yang benar Paman Zhou memang rabun. Huh, Paman lebih baik buta saja sekalian!" Sahutnya kelewat kurang ajar. Lu Yi sampai mendelikkan matanya karena kaget becampur jengkel. Baru setelah itu Yangmei memutar bola matanya. "Iya... iya... ini memang betul Meimei, Paman Zhou. Aku sebenarnya sama sekali tidak tertarik dengan pertemuan ini. Tapi berhubung Lu Yi suka hal-hal membosankan seperti ini, sebagai calon istri yang baik aku harus menemaninya." Jawabnya blak-blakkan

"Meimei..." Lu Yi mendesah. "Apa kamu tidak bisa lebih sopan sedikit?"

Yangmei sebenarnya masih ingin membantah, namun energinya sudah habis untuk duduk berjam-jam di tempat yang membosankan itu. Akhirnya ia hanya bisa mengangguk melas.

"Ngomong-ngomong," Zhou Yu menyahut. "aku sangat ingin mengajakmu berdiskusi dengan penasihat-penasihat yang lain, Lu Yi. Melihat sifatmu, aku yakin tengah rapat itu kamu mendengarkan semuanya. Aku yakin kamu pasti tertarik membagikan pemikiranmu sekarang."

Lu Yi lebih dari sekedar senang saat Zhou Yu menawarkan hal tersebut padanya. Inilah saatnya ia belajar dengan orang yang lebih tua. Tentu saja dengan bertukar pikiran, ilmunya pun akan bertambah. "Tentu saja! Tentu saja aku bersedia! Aku malah merasa terhormat kalau diberi kesempatan seperti itu!"

Zhou Yu tersenyum, tetapi Yangmei malah sebaliknya. "Tidak boleh! Tidak boleh! Mana bisa begitu?!" Keluhnya sambil menghentakkan kakinya. "Tadi kan Lu Yi sudah janji akan bermain setelah pertemuan ini selesai! Sekarang Paman Zhou datang dan mengajaknya memutar otak lagi!"

"Meimei, Lu Yi bisa bermain denganmu setiap hari." Muncul suara baru lagi dari belakang. Rupanya suara Sun Ce. "Tapi kesempatan seperti ini mungkin hanya bisa hari ini saja. Jadi, biarkan saja dia menikmati hari ini tanpa bermain denganmu. Kita kembali ke Istana Utama saja, ya?" Ajaknya.

Sambil berharap-harap cemas, Lu Yi juga ikut menambahkan. "Benar kata Kaisar. Hanya hari ini saja aku tidak bermain, kok. Besok aku akan menemanimu bermain sepanjang hari, bahkan besoknya dan besoknya lagi!" Bujuknya. Yangmei akhirnya kelihatan bisa dibohongi juga. "Bahkan sampai kamu bosan bermain sekalipun!"

Yangmei yang mendapat paksaan dari berbagai pihak akhirnya menyerah. "Baiklah... baiklah..." Katanya pada akhirnya. "Tapi hari ini saja, ya?" Setelah Lu Yi membalasnya dengan anggukan keras, barulah Yangmei keluar dari ruangan itu digandeng oleh ayahnya. Ia melihat Lu Yi mengikuti Paman Zhou dari belakang menuju bagian tengah aula dimana penasihat yang tersisa di tempat itu, kurang lebih dua puluh orang, berkumpul dan melanjutkan diskusi mereka. Kini jumlah mereka ketambahan dua orang lagi. Yangmei mendesah, kemudian ia keluar dari tempat itu.

Sepanjang siang itu ia habiskan dengan tidur-tiduran saja di kamarnya setelah makan siang. Sekarang ia tengah dalam pikirannya sendiri. Akhirnya ia mengambil kertas dan kuas serta baki tinta dan mulai menulis apa yang ada dalam otaknya.

Kepada Zhou Ying,

Hai, Zhou Ying! Apa kabarmu? Baik-baik saja? Apa nenek jahat padamu? Kurasa tidak. Ya kan? Jadi, kapan kamu akan pulang? Kamu kehilangan banyak cerita menarik di sini, lho! Maaf, aku jadi jarang menulis untukmu karena sekarang aku sering menghabiskan waktu untuk bermain bersama calon suamiku.

Ngomong-ngomong, calon suamiku itu luar biasa, Zhou Ying. Namanya Lu Yi. Kalau harus kuceritakan bagaimana kami bertemu dan bagaimana dia bisa menjadi calon suamiku, bisa-bisa tanganku menulis sampai keriting. Tentang itu kapan-kapan saja kuceritakan, ya? Pokoknya dia hebat sekali, Zhou Ying!

Bayangkan saja. Pertama kali kami bertemu, aku langsung terkagum-kagum saat melihat matanya berwarna emas! Beberapa orang bilang itu berhubungan dengan Phoenix yang bernama Feng dan Huang itu, jujur saja aku tidak mengerti maksudnya apa. Pokoknya, aku yakin kamu pasti akan kagum kalau melihatnya! Dia benar-benar keren, tampan, punya mata dan rambut yang bagus!

Kedua, dia juga sangat pintar! Pertama kali melihatnya, ayahmu langsung memujinya. Bahkan dia sempat berdebat soal Zhi Sang Ma Huai - Menunjuk pohon murbei dan mengutuk pohon pagoda. Eh, maaf kalau tulisannya salah, aku harap kamu mengerti, Zhou Ying. Yah... pokoknya begitulah. Dia memang pintar! Kamu tahu sekarang apa yang sedang dia lakukan? Dia sekarang sedang berdiskusi tentang pemerintahan atau apalah itu bersama ayahmu dan beberapa penasihat lain!

Lalu, dia juga sangat baik hati! Sebenarnya selama ini dia suka sekali belajar. Tetapi setiap kali kuajak bermain, dia tidak pernah menolak. Kecuali hari ini, sih. Dia bilang dia ingin sekali berdiskusi dengan ayahmu dan penasihat-penasihat itu. Jadi kupikir, biarkan saja. Ah, kalau misalnya semua orang di dunia ini sebaik Lu Yi, aku pasti tidak akan merasa bosan.

Aneh sekali, ya, Zhou Ying? Memangnya ada manusia sebegitu sempurnanya? Selama bersama dia sih, aku tidak pernah merasa kekurangan apapun. Hmmm... apa mungkin sebenarnya Lu Yi punya kelemahan tersembunyi, ya? Bagaimana cara mencari tahu kelemahannya, ya? Aku jadi penasaran, nih!

Maaf, tapi aku tidak bisa menulis banyak-banyak. Sebenarnya banyak hal yang ingin kusampaikan, tapi rasanya tidak mungkin aku bisa menulis lebih lama lagi. Selain tintanya habis dan aku terlalu malas mengambil tinta lagi, tanganku juga mulai pegal. Kamu tidak mau kan kalau sampai tanganku sakit gara-gara menulis surat untukmu?

Jadi, sampai di sini dulu, Zhou Ying! Jangan lupa balas suratku, ya?

Dari,

Yangmei

Entah bagaimana, sesaat sesudah menulis surat itu, sebuah ide terbersit di kepala Yangmei. Ya! Dia tahu bagaimana cara mencari kelemahan Lu Yi!

Lu Yi kan orang yang serius? Pikir Yangmei. Pasti dia tidak bisa apapun yang berhubungan dengan romantis-romantis, kan? Hmmm... Akhirnya aku ketemu juga kelemahannya...

Jadi, sesudah menyegel sura itu, Yangmei mengambil dua batang kuas, dua baki tinta, dan dua lembar kertas seukuran sapu tangan. Ia juga menyiapkan sebuah cangkir kecil dan sebotol besar tinta serta kertas tebal yang sudah ia gulung dahulu. Baru setelah itu ia menitipkan surat itu pada seorang pegawai istana dan kembali menuju ruangan aula tempat pertemuan tadi berlangsung. Hari sudah menjelang sore, pasti Lu Yi sudah selesai, begitu pikir Yangmei.

Ternyata, pikiran putri itu jauh dari tepat. Dari balik pintu, ia masih mendengar suara beberapa penasihat yang sedang berbincang-bincang dengan Lu Yi. Penasaran, ia pun mengintip melalui jendela.

"...lalu, bagaimana dengan hormat dan taat pada orangtua?" Tanya seorang penasihat.

Yangmei baru sadar bahwa orang-orang bijak itu sedang duduk di lantai membentuk lingkaran. Tetapi mereka semua menatap Lu Yi. Ternyata penasihat-penasihat itu sedang bertanya pada Lu Yi, kemungkinan besar menguji kemampuannya.

"Itu adalah salah satu ajaran Kong Fuzi yang paling terutama, taat pada orangtua." Suara Lu Yi terdengar di balik jendela. "Apa ada yang salah dengan itu?"

"Begini, seperti yang dikatakan Kong Fuzi, seorang pemimpin yang baik terlihat dari ketaatannya dengan orangtuanya. Namun kenyataannya, bukankah banyak pemimpin-pemimpin yang, demi orangtuanya, mengorbankan kepentingan rakyatnya? Bukankah itu bertentangan?"

Lu Yi yang duduk berpeluk lutut menjawab dengan tenang. "Tentu saja tidak. Kong Fuzi juga pernah berkata 'Sheng, yang zhi yi li; Si, zang zhi yi li; Ju zhi yi li – ketika hidup orangtua harus dilayani dengan kepantasan; Ketika mati, orang tua harus dikuburkan dengan kepantasan; Sesudah mati, orangtua harus dikenang(1, lihat tambahan di bawah) dengan kepantasan'. Menurutku, kata-kata Kong Fuzi itu kalau ditafsirakan artinya lebih cenderung menunjukkan pada cara menghormati orangtua yang benar dan pantas. Bukankah seorang pemimpin pun harus memiliki hikmat untuk mengetahui apakah keinginan orangtuanya itu baik atau buruk?"

"Saya rasa tidak. Bukankah kita harus selalu mengutamakan orangtua dahulu? Bukankah itu juga adalah salah satu ajarn Kong Fuzi?(2)" Tanya seorang penasihat lain.

Suasana semakin lama semakin berubah. Rupanya mereka bukan sedang menguji Lu Yi, tetapi mereka memang sungguh-sungguh bertanya, begitulah pikir Yangmei. Meskipun sebenarnya dia tidak mengerti apa-apa, dia merasa tertarik mendengar jawaban yang akan dilontarkan Lu Yi.

Yangmei kaget saat melihat Lu Yi tertawa kecil. "Bukankah binatang pun tahu untuk selalu membantu orangtuanya? Bukankah penjahat dan pembunuh sekalipun tahu untuk menghormati orangtuanya? Yang membedakan antara orang bijak dan orang bodoh adalah orang bijak akan menaati orangtuanya dalam hal-hal yang benar." Jawabnya. "Jika tahu orangtuanya berbuat salah, maka sebagai anak ia harus berani menegur orangtuanya."

"Kalau begitu," Yang lain angkat suara. "Apa bisa kita simpulkan bahwa menaati orangtua sebenarnya sama sekali tidak berhubungan dengan menjadi pemimpin negara yang baik?"

Lu Yi menggeleng kuat. "Saya tidak bilang begitu. Jika seandainya seseorang tidak bisa menyayangi orangtua yang adalah darah dagingnya sendiri, bagaimana ia bisa menyayangi rakyatnya?"

Sampai di sini Yangmei benar-benar semakin kagum melihat Lu Yi. Mungkin ayahnya tidak bohong saat berkata kalau Lu Yi menghabiskan waktunya untuk belajar daripada bermain bersamanya, ia sekarang sudah menjadi sepandai Paman Zhou. Tanpa Yangmei sadari, rupanya topik pembicaraan sudah berpindah lagi. Sekarang mereka bukan mendiskusikan tentang keluarga. Namun, Yangmei begitu tertarik ketika mendengar suatu kata yang tidak asing baginya. 'Phoenix'

"Lu Yi, saya dengar, kamu banyak tahu tentang Phoenix, ya? Kamu tahu, kan, Legenda Feng dan Huang?" Pertanyaan itu hanya dijawab Lu Yi dengan anggukan.

Bodoh... tentu saja dia banyak tahu. Dia bukan hanya tahu tapi dia juga adalah Phoenix itu sendiri... pikir Yangmei dalam hati.

"Sebelum Feng terkurung dan Huang lenyap, China selalu dalam keadaan damai. Begitu, kan?" Tanya penasihat itu lagi. "Tapi sejak mereka tidak ada, kedamaian itu hanya jadi harapan kosong. Sejak zaman Dinasti Xia sampai sekarang, kedamaian yang ada hanya sebentar saja, sebelum dilanjutkan oleh perang yang berkepanjangan."

"Itu juga yang aku dengar dari legenda." Balas Lu Yi.

"Begini, Lu Yi, bagaimana hal itu bisa terjadi? Bukankah kita berperang demi mendapatkan kedamaian? Kenapa saat kedamaian itu datang, kedamaian itu tidak bisa dipertahankan?" Tanyanya. "Bukankah manusia bisa memperjuangkan kedamaian itu sendiri tanpa bantuan Feng dan Huang itu?"

Sial! Itu pertanyaan yang tidak masuk akal! Pikir Yangmei dalam hati. Bagaimana bisa pertanyaan seperti itu ditanyakan pada Lu Yi? Tanya saja pada orang-orang yang suka berperang itu! Gerutu Yangmei dalam hati.

Sebelum menjawab pertanyaan ini, Lu Yi berpikir sejenak. Bahkan mungkin bisa dikatakan ia merenung, dan baru menjawab kembali setelah penasihat yang bertanya itu memanggilnya. Lu Yi mengangkat kepalanya yang tertunduk, kemudian balik bertanya. "Benarkan itu?" Yang ditanya hanya bisa mengangkat alis karena bingung. "Benarkan kita berperang demi mendapatkan kedamaian?"

Selama ini Yangmei mengira Lu Yi menikmati diskusinya dengan orang-orang pintar itu, tetapi demi langit ia bersumpah melihat Lu Yi terlihat... murung? Mata emasnya sendu, entah kenapa. Dan meski suaranya hanya terdengar samar-samar, tetapi Yangmei tahu kalau suara Lu Yi itu menyiratkan kesedihan.

Melihat penasihat itu tidak menjawab pertanyaannya, Lu Yi melanjutkan. "Xunzi, seorang Filsuf yang hidup di masa Negara-negara Berperang yang adalah murid Confucius, berkata 'Ren zhi xing e; qi shan wei ye – natur manusia itu jahat, dan kebaikan hanyalah hasil dari perbuatan yang dipaksakan'(3). Bagaimanapun, tanpa adanya aturan, manusia pasti cenderung melakukan yang salah daripada yang benar. Begitu juga dengan perang dan kedamaian. Manusia, daripada mencari kedamaian, lebih cenderung memulai perang."

Saat mendengar penjelasan ini, jangankan Yangmei, penasihat-penasihat itu pun terkejut. Ada yang berbicara sendiri dengan orang disebelahnya, ada juga yang langsung menyuarakan protesnya. Yang jelas semuanya mempertanyakan hal yang sama. "Bagaimana itu bisa terjadi?"

"Aku teringat dengan kisah dimana setan yang menculik Huang membujuk manusia untuk membantunya melawan Feng." Jawab Lu Yi masih dengan nada yang sama. "Semenjak saat itu, China dimasuki hal baru yang disebut perang. Perang yang pertama adalah manusia melawan Feng sendiri. Kemudian sejak Feng terkurung dalam Gerbang Maut, sementara Huang lenyap begitu saja, sejak itulah manusia tidak bisa lagi berpikir tentang 'kedamaian'."

"Kau bilang begitu, Lu Yi, tapi apakah pada awalnya manusia mengerti kedamaian sebelum mengenal perang?"

"Tentu saja. Bukankah manusia dulunya hidup dekat sekali dengan Feng dan Huang yang membawa kedamaian itu sendiri? Sejak mengikuti perkataan setan itu, mereka berubah dari yang hidup bersahabat dengan Feng dan Huang menjadi melawan mereka. Bukankah sama saja dengan dulunya mencintai perdamaian dan sekarang mencintai perang? Natur yang terus mencari perang inilah yang terus diturunkan sampai pada kita."

"Masuk akal juga, tetapi bukankah manusia bisa mengerti apa yang disebut 'kedamaian' setelah merasakan perang?"

"Tidak. Meskipun sekarang sifat-sifat mereka sudah berubah, tapi bukankah pada awalnya kedamaian itu ada terlebih dahulu sebelum perang? Kedamaian bukan muncul dari perang, tetapi perang muncul ketika kedamaian itu tidak ada(4). Batasan antara mana yang ada lebih dahulu dan mana yang tidak ada itu sangat tipis."

Pada saat itu kepala Yangmei sudah mau pecah sangking pusingnya. "Celaka! Celaka! Mereka sudah gila!" Serunya berulang-ulang. "Ada? Tidak ada? Apanya yang ada dan apanya yang tidak ada?" Yangmei bertanya-tanya sendiri sambil memegang kepalanya.

Akhirnya, tanpa permisi terlebih dahulu, Yangmei membanting pintu itu lebar-lebar sampai semua orang yang ada di tempat itu menoleh kaget, tidak terkecuali Lu Yi dan Zhou Yu.

"Lu Yi!!! Sudah selesai belum??!!" Yangmei menghampiri Lu Yi dengan langkah lebar, kemudian menarik tangannya. "Masih lamakah? Sekarang sudah malam." Katanya.

Barulah Lu Yi serta semua orang dalam tempat itu sadar. Mereka rupanya keasyikan berdiskusi sampai lupa waktu. Akhirnya mereka pun pamit dari tempat itu hingga tinggal Yangmei, Lu Yi, dan Zhou Yu di tempat itu.

"Sudah malam..." Zhou Yu bergumam, menarik perhatian kedua anak kecil itu ke arahnya. "Meimei, kau seharusnya tadi tetap di sini. Lu Yi hebat sekali tadi. Meski masih kecil, dia sudah bisa berdiskusi bersama panasihat-penasihat itu. Memang benar seperti yang dikatakan Kong Fuzi 'wen gu er zhi xin ,ke yi wei shi yi – memperbaiki ajaran yang telah ia peroleh dan mempelajari hal-hal baru, itulah yang membuat seseorang menjadi guru'."

Lu Yi hanya tersenyum merendah mendengar pujian Zhou Yu. Tetapi Yangmei sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan penasihat itu. "Sudahlah, Paman. Giliran Paman untuk bermain-main dengan Lu Yi sekarang sudah selesai. Sekarang giliranku, kan?"

"Iya, Meimei... Lu Yi sekarang punyamu." Balas Zhou Yu sambil menahan tawa melihat wajah cemberut Yangmei. Kemudian ia pun segera keluar dari tempat itu meninggalkan dua anak kecil itu sendirian.

Lu Yi berbalik menghadap Yangmei. Sejujurnya, harus ia akui bahwa berdiskusi bersama penasihat-penasihat itu jauh lebih menyenangkan daripada bermain bersama Yangmei. Tapi, ada satu hal yang sangat ia sukai saat bermain bersama Yangmei, yaitu bahwa Yangmei ada bersamanya. Seberapapun kekanak-kanakan permainan itu, tetap saja putri itu bersamanya. Andai kata Yangmei juga tertarik untuk belajar, pasti ia akan lebih senang.

Tapi, biarlah Yangmei apa adanya. Toh dia juga menyukai Yangmei seperti ini.

"Kamu mau main apa, Meimei?" Tanyanya pada Yangmei. "Sudah terlalu malam. Apa tidak apa-apa kalau kita bermain sekarang?"

Yangmei menggeleng, membuat Lu Yi keheranan. "Kita bukan bermain, Lu Yi!" Jawabnya sambil mengangkat barang-barang yang ia bawa, kertas, kuas, dan bak tinta. "Aku ingin menantangmu melakukan sesuatu!"

Hal ini membuat Lu Yi terkejut bukan buatan. "Menantang apa? Tumben kamu seserius itu?"

"Aku benar-benar serius!" Yangmei menekankan sekali lagi. Ia kemudian meletakkan sebatang kuas beserta bak tinta serta selembar kertas di satu meja, kemudian yang lain di meja lainnya. Cangkir yang ia bawa diletakkan langsung di atas lantai sebelum ia menuang tinta itu sampai penuh. "Aku menantangmu sesuatu! Gambarkan sesuatu yang bisa mengungkapkan perasaanmu padaku!"

"Apa?!" Lu Yi menyahut tidak percaya.

"Ya! Menyatakan perasaan. Aku juga akan melakukan yang sama." Balas Yangmei. Kertas tebal yang digulung itu sekarang dicelupkan dalam cangkir berisi tinta itu. "Waktunya sampai tinta ini terserap ke ujung kertas. Mulai dari sekarang!"

Yangmei cepat-cepat duduk dan mulai menggerak-gerakkan kuasnya di atas kertas. Sementara Lu Yi masih bingung harus berbuat apa. Ia akhirnya melangkah menuju mejanya dan duduk, tapi tidak memulai apapun. Sejujurnya, ia masih bingung harus melakukan apa.

Beberapa menit berlalu. Rupanya kertas itu memang tebal sehingga tinta cukup sulit untuk terserap. Lu Yi mulai mengambil kuasnya saat tiba-tiba Yangmei membuka mulut. "Lu Yi, kamu tahu kenapa aku menantangmu ini?"

Lu Yi tersentak kaget. "Hah? Memang kenapa?"

"Karena kamu itu manusia tapi sempurna sekali, sih! Makanya aku ingin tahu kelemahanmu apa! Kali ini, kamu pasti tidak bisa mengalahkanku!" Jawabnya bangga.

Sebuah desahan. "Yah, memang ini kelemahanku."

Yangmei tersenyum menang sementara gambarnya hampir selesai. Ia puas melihat hasil kerjanya itu sementara sekarang waktu hampir habis. Melihat Lu Yi yang masih menggerak-gerakkan kuasnya dengan gerakan yang pelan, Yangmei tahu pasti sekarang Lu Yi sudah menyerah.

"Waktu habis!" Seru Yangmei. Lu Yi terkejut mendengarnya, dan dengan cepat menyelesaikan pekerjaannya.

"Jadi, bagaimana sekarang?" Tanyanya.

"Kita saling tukar!" Katanya. "Berikan kertasmu padaku."

Lu Yi melakukan persis seperti yang dikatakan Yangmei, meski ia sedikit kelihatan ragu-ragu menyerahkannya. Ia juga menerima selembar kertas dari Yangmei sebagai pertukaran dan kemudian melihatnya. "Gambar apa ini?"

Di atas kertas itu, ia melihat gambar yang dibuat Yangmei. Untuk anak sekecil dia, gambar itu sebenarnya bagus. Di sana ia melihat gambar dua orang, yang satu laki-laki dan yang satu perempuan, sedang mengenakan pakaian perkawinan dan berciuman. Tentu saja saat menyadari siapa yang digambar oleh Yangmei, wajah Lu Yi langsung berubah merah, merah seperti bajunya.

"Itu kita berdua, Lu Yi!" Sahut Yangmei dengan riang sebelum Lu Yi sempat bertanya. "Bagaimana? Bagus tidak? Aku harap pada saat kita menikah nanti, Lu Yi akan menciumku! Nah, itulah gambaran perasaanku!" Ia lalu melihat kertas yang telah diberikan oleh Lu Yi, dan alangkah kagetnya ia melihat bukan gambar yang terpampang di atas kertas itu, melainkan sederet huruf-huruf yang ditulis indah seperti layaknya kaligrafi.

"Maaf..." Saat itu muka Lu Yi semakin memerah, kalau memang bisa lebih merah lagi dari sebelumnya. "Tapi aku tidak bisa menggambar. Jadi aku pikir sebaiknya aku menulis saja. Dan aku pertama berpikir untuk menulis puisi yang indah, tapi karena aku takut kamu masih belum mengerti kata-kata yang sulit, jadi aku putuskan untuk memakai kata-kata yang mudah." Jelasnya pada Yangmei. "Maaf kalau menurutmu jelek."

Yangmei membaca tulisan-tulisan di atas kertas itu. Memang benar, yang tertulis di situ adalah puisi dan bukan gambar. Tulisannya pun menggunakan kata-kata yang sederhana dan mudah dimengerti sehingga meski tidak banyak huruf yang Yangmei tahu, ia mengerti puisi itu secara keseluruhan.

Diberi selembar kertas dan sebatang kuas
Disuruh menggambar dalamnya perasaanku.
Mau menggambar
burung Phoenix, malah jadi burung walet
Mau menggambar buah yangmei, malah jadi buah dao

Kuas di tangan malang melintang di atas kertas
Mau menulis juga sia-sia, apalagi menggambar
Yang ada di kepalaku hanya namamu saja
dan beberapa baris untuk menuangkan perasaan

Apa kertas dan tinta ini saja tidak cukup?
Kalau daratan China ini adalah kertasnya
Dan air sungai Chang Jiang tinta catnya
barulah bisa menjelaskan dalamnya cintaku

Aku menulis cinta kita yang tidak berakhir
sampai di akhir dari puisi ini
aneh, cinta yang hidup selamanya
Mana mungkin selesai ditulis di kertas sekecil ini?
(5)

"Astaga, Lu Yi..." Yangmei menghela nafas panjang. "Bagus sekali..." Kemudian ia tertawa garing sendiri sambil menggaruk kepalanya. "Ternyata memang benar Lu Yi tidak punya kelemahan, ya? Bahkan untuk menyatakan perasaan saja bisa sehebat ini. Aku kira kamu bukan orang yang romantis, tapi ternyata kamu adalah orang paling romantis yang tahu!"

Mendengar jawaban ini, Lu Yi hanya bisa tertawa tanpa berkata apapun.

Yangmei memiringkan kepalanya. "Memangnya ada yang salah?"

"Iya!" Jawab Lu Yi tanpa bisa menahan tawanya. "Kelemahanku kelihatan jelas sekali, tapi kamu tidak bisa melihatnya. Apa memang aku sesempurna itu?" Melihat Yangmei yang kebingungan tanpa tahu jawabannya, akhirnya Lu Yi memberitahukannya. "Aku kan tidak bisa menggambar, makanya aku menulis."

Mata perak Yangmei terbuka lebar. "Oh iya!" Kemudian ia menyengir lebar. "Benar! Ternyata Lu Yi tidak bisa menggambar! Ternyata ada satu hal yang aku lebih hebat daripada Lu Yi! Hore!!!"

Respon Yangmei sepertinya terlalu berlebihan, tapi Lu Yi senang melihatnya gembira seperti itu. "Hei, memangnya menemukan kelemahanku bisa membuatmu segembira itu?" Tapi sangking senangnya, Yangmei sekarang masih melompat-lompat saja tanpa mendengarkan kata-kata Lu Yi.

Tak lama kemudian, Yangmei mengeluarkan sesuatu di balik sakunya. Dua buah kantung kain kecil yang biasanya digunakan untuk meletakkan jimat. Pada kedua kantung itu terdapat tali yang membuat kantung itu dapat dipakai sebagai kalung. Di kantung itulah ia meletakkan dua lembar kertas yang sebelumnya sudah ia lipat sampai bisa dimasukkan ke dalamnya. Kantung yang berisi gambarnya ia berikan pada Lu Yi, sementara yang berisi puisi Lu Yi ia kalungkan ke lehernya sendiri.

"Ini bisa dijadikan jimat!" Kata Yangmei tersenyum lebar. "Jadi, aku bisa selalu merasakan kamu ada di dekatku, dan kamu pasti akan selalu menyayangiku. Ya kan, Lu Yi?"

Lu Yi mengangguk. Ia pun mengalungkan jimat itu ke lehernya. "Mulai sekarang, kita janji akan selalu bersama, ya?"


YEAH!!! Jadi sekian dulu untuk chapter ini, sodara-sodara! (Kalo nggak bisa2 author otaknya meledak)...

BTW, ada beberapa note yang harus aku tambahkan:
(1) Dalam teks aslinya, itu bukan 'dikenang' tapi 'disembah' atau 'disembayangi'. Cuma, ini rada bertentangan dengan apa yang aku percayai. Menurutku, orang mati itu nggak perlu disembayangi atau disembah. Makanya aku ubah kata-katanya. Maaf saya menyinggung perasaan sodara-sodara...
(2) Kayaknya itu emang pertanyaan bodoh. Tapi orang zaman dulu sangat tunduk sama ajaran Kung Fuzi (alias Confucius), dan mereka diajari untuk SELALU (udah si capital, dibold, diitalic, diunderline, kurang apa coba?) menaati ortu apapun yang terjadi. (Dan itu juga yang dikasih tahu Inet, mama dan engkong) Jadi yah... aku rasa itu topik yang cukup menarik huat diperbincangkan disini. Oh, dan mereka bukan lagi diskusi strategi (karena waktu itu lagi damai), tapi tentang ajaran-ajaran Confucius dan lain-lainnya... (pasalnya zaman dulu aturan ortu buat anak itu JAUH lebih strict dari zaman kita ini, sodara-sodara)
(3) Sejujurnya saya juga cukup kaget menemukan bagian ini. Karena ada quotasi yang menyatakan sebaliknya. Saya rasa sih ini yang bener. Maksudnya emang kita sebagai manusia punya kecenderungan untuk berbuat jahat... getu... Maaf kalo pendapat saya bertentangan dengan pendapat sodara-sodara... dianggap enteng aja...
(4) Ini kuotasi itu kalo dicari dimana-mana nggak bakal sodara-sodara temukan. Soalnya itu pandangan saya sendiri, sih... Menurut saya begini, kan sama aja ibaratnya kalo gelap itu ada karena nggak ada terang, makanya perangpun ada kalo nggak ada damai di hati... ^^ Getu...
(5) Yayayayaya... saya tahu kalo saya bikin puisi yang cacad, sodara-sodara. Masalahnya gini, saya pengen nulis puisi yang nggak nyontek (dengan kata lain, saya pengen semua yang ada di FF kali ini original buatan saya). Jadi saya nggak ngambil dari lagu atau puisi yang sudah ada. Dengan kemampuan saya yang pas-pasan, saya nyoba bikin puisi itu. Mestinya saya minta engkong saya buat bikinkan puisi yang bagus (karena beliau tuh asalanya dari China dan suka mendalami literatur plus sejarah China). Tapi saya sungkan sodara-sodara, jadi saya ngarang sendiri... wkwkwkwk...

Yah... itulah gabungan hasil pembelajaran saya bersama Inet, mama dan engkong saya. Juga berdasarkan pengetahuan dan pendapat saya, sih...

Nah, sekian, deh, sodara-sodara. BTW, berhubung chapter ini membingungkan, kalo sodara-sodara merasa ada bagian yang salah dan perlu diperbaiki, silahkan langsung ngomong sama saya dan saya akan langsung memperbaiki... Maklumlah... saya kan juga belajar... Dan kalo juga ada yang mau ditanyakan, silahkan langsung nanya aja...

Saya harap minggu depan (5 Januari, hari pertama sekolah semester 2 dimulai... T-T) chap selanjutnya bakal bisa diupdate! Thnx for reading!