6 September 2012

Happy birthday to my little brother. He's 16 now, ; )

Terima kasih atas review kalian dan juga birthday wishes-nya, semoga kalian tetap setia membaca dan tidak kapok untuk mereview.

Penulis mohon maaf jika bagi registered review terlambat/tidak mendapat balasan review maupun PM. Penulis benar-benar sibuk dan sebisa mungkin akan membalas review walaupun terlambat. Tetapi, di luar itu semua, penulis tetap membaca review dan PM kalian, kok.

Bagi kalian yang mungkin sedikit bosan dengan kemunculan Natsumi Ema, ini adalah kali terakhir kemunculan si Gadis Cantik tersebut. Chapter ini sedikit lebih pendek karena chapter ini merupakan potongan terakhir yang memuat kerja sama antara KID dan Shinichi. Tentu mereka akan kembali bekerja sama di chapter selanjutnya. ; )

Hayo, bagi kalian yang merasa 'kapok' menebak, jangan putus asa! Siapa tahu suatu saat nanti tebakan kalian benar. ; )

Selamat menikmati chapter ini~

Disclaimer: D.C/Case Closed bukan milik penulis dan merupakan sebuah mahakarya dari Gosho Aoyama. Tom and Jerry pun bukan milik penulis. Di sini penulis hanya memiliki hak penuh atas fanfic ini dan akun di mana fanfic ini berada.


.

.

Case 11: Big Brother Figure

What we talked about will have to remain a secret between him and me. I spoke to him as a brother whom I have pardoned and who has my complete trust.
~Pope John Paul II

.

.

"Sampai kapan kau mau mengikutiku," sebuah pertanyaan yang lebih terdengar seperti sebuah protes meluncur dari mulut detektif dari timur. Detektif itu, dengan satu tangannya, memegangi pagar rumahnya dan berniat untuk masuk ketika disadarinya bahwa seorang pencuri yang menyamar menjadi wanita mengikutinya di belakangnya selama perjalanan pulang dari taman kota Beika.

Pencuri itu mendongakan kepalanya dan menatap punggung detektif dihadapannya dengan satu alis terangkat, "Aku tidak mengikutimu. Aku ingin mengantar Holmes dan Lupin pulang. Kuharap kau belum lupa bahwa mereka akan menetap di rumahmu sampai pertandingan kita selesai, Tantei-kun."

Detektif itu menghelakan napasnya pelan. Ia tidak lupa tentunya, dengan pertarungan yang mereka berdua rencanakan untuk menentukan siapa yang akan merawat dua ekor kucing bernama Holmes dan Lupin yang akan berlangsung di aksi pencurian Kaito KID selanjutnya. Pemuda bermata biru itu menoleh, menatap dua ekor kucing yang kini berada di pelukan sosok pencuri berwujud gadis remaja di belakangnya sesaat sebelum mendorong pintu gerbang rumahnya.

"Yang harus kulakukan hanya merawat mereka sampai aksimu selanjutnya, menangkapmu, dan akan kau bawa pulang kucing itu, benar?" tanya detektif itu dengan suara tampak tak berminat. Seperti tempat penitipan hewan ...

"Kau yang akan memeliharanya jika aku berhasil lolos," timpal pencuri itu dengan nada bangga pada suaranya, seolah ingin memberitahu sang detektif bahwa menangkapnya bukanlah hal mudah. "Aku tidak sabar menantikan aksiku selanjutnya~"

"Kalau begitu cepatlah temukan targetmu," ujar Shinichi datar.

Pencuri itu tertawa seraya melangkahkan kakinya mengikuti detektif di depannya memasuki pekarangan kediaman Kudo. Berjongkok, pencuri itu lalu meletakan kedua ekor kucing tersebut di depan pintu masuk kediaman Kudo dan mengelus mereka. "Berteman baiklah dengan mereka, karena mungkin mereka akan menjadi penghuni tetap rumah ini."

Kudo Shinichi memutar matanya. Dia merasa pasti menang ...

Pencuri di hadapannya itu tentu punya setumpuk rasa percaya diri dalam dirinya untuk bisa mengucapkan hal itu.

"Sampai jumpa lain waktu, Holmes, Lupin," ujar pencuri itu sebelum menjatuhkan sebuah bola kecil yang kemudian mengeluarkan asap merah muda tebal dan menutupi tubuhnya.

Terbatuk, detektif dari timur itu mengibaskan tangannya untuk menghalangi masuknya asap merah muda itu ke dalam saluran pernapasannya dan menyadari bahwa pencuri yang tadi berdiri di hadapannya telah menghilang. Pemuda detektif itu dengan cepat mendongakkan kepalanya ke arah atap rumah Professor Agasa saat sekelabat bayangan putih terlihat dari sana. Bayangan itu tersenyum ke arahnya sebelum mengibaskan jubah putih yang berkibar di punggungnya dan menghilang dari pandangannya.

Pemuda itu menghelakan napasnya saat dirasanya sosok pencuri itu telah benar-benar menghilang.

"Harus kuakui, pencuri itu punya sisi baik walaupun terkadang terlihat arogan dan banyak tingkah."

Detektif itu menarik sudut bibirnya. Dengan kedua tangannya ia menggendong dua ekor kucing yang duduk di samping sepatunya dan membawa kedua ekor kucing itu masuk ke dalam kediaman Kudo.

Hari yang melelahkan masih belum usai. Ia masih harus mengerjakan tugas yang diberikan oleh gurunya – dan harus dikumpulkan esok hari — sebelum ia bisa menikmati kenyamanan tempat tidurnya dan melupakan semua yang sudah terjadi hari ini agar bisa kembali beraktifitas besok.

Menghelakan napasnya perlahan, Shinichi menggerakan bahunya. Satu sudut bibir detektif itu terangkat sempurna, menandakan bahwa sesuatu yang menyenangkan berhasil masuk ke dalam pikirannya dan mampu membuatnya tersenyum.

Ia mungkin adalah detektif tersohor dari timur yang dielukan sebagai penyelamat kepolisian Jepang dan hingga saat ini ia dipercaya sebagai satu-satunya — setelah sosok Edogawa Conan, walau hanya dalam kurun waktu kurang dari satu tahun — detektif yang bisa mendekati pencuri buronan dunia, Kaito KID, tetapi setelah dua kali menerima sebuah pertolongan dari pencuri itu, ia tidak bisa mengatakan tidak pada kenyataan bahwa ia berhutang budi pada pencuri itu.

Menjadi seorang detektif dan menerima pertolongan dari seorang pencuri yang diburunya tidak bisa menjadi alasan untuk mengelak dari fakta tersebut. Bagaimanapun caranya, ia mempunyai hutang untuk dibayar.

.

.

.

.

Kaito menarik napas panjang lalu menghembuskannya beberapa kali. Napasnya masih belum bisa teratur setelah berlarian menuju sebuah kafe yang kini berada di depannya.

Setelah mengantar pulang seorang detektif yang terlihat seperti akan menabrakan diri ke arah kereta berjalan dengan berkedok ingin mengantar 2 ekor kucing (namun mengantar 2 ekor kucing memang tujuannya), ia harus mengarahkan handglidernya kembali ke taman Beika untuk membuang semua properti penyamarannya dan berlari menuju sebuah kafe di mana ia berjanji untuk bertemu seseorang. ia sudah terlambat hampir 2 jam karena harus menemani detektif itu di taman sepulang membeli kalung hewan dan mengantarnya pulang.

Menarik napasnya sekali lagi, pemuda itu mendorong pintu masuk kafe lalu melangkahkan kakinya masuk setelah bunyi lonceng di atas pintu terdengar. Seorang pelayan wanita berjalan mendekatinya untuk menyambutnya.

"Kuroba Kaito-san?" tanya pelayan wanita itu setelah membungkuk. Seulas senyuman manis terukir di bibir pelayan itu. Mungkin wanita itu sudah memerintahkan pelayan ini untuk menyambutku … Pikir Kaito setelah menyadari bahwa ia tidak pernah memberitahukan namanya pada pelayan wanita itu.

Kaito menganggukan kepalanya pelan. Kedua bola matanya terlihat sedang mencari seseorang di sana ketika pelayan wanita itu mengulurkan tangannya untuk mempersilahkan pemuda itu berjalan.

"Seseorang menunggu anda di lantai 2," ujar pelayan itu masih dengan senyuman di wajahnya. "Perlu kuantar, Tuan?"

Kaito tersenyum, memunculkan setangkai mawar dari telapak tangannya dan memberikan mawar itu pada sang pelayan, "Terima kasih atas tawarannya, Ojousan. Aku bisa sendiri."

Setelah menerima mawar yang diberikan oleh Kaito, pelayan wanita itu kembali membungkukan tubuhnya dan membiarkan Kaito berjalan sendiri menuju tangga yang berada di pojok ruangan.

Kaito perlahan melangkahkan kakinya menaiki tangga. Kedua matanya terlihat melihat suasana kafe di lantai 1 yang cukup ramai oleh beberapa orang pelajar, pekerja kantoran, dan sepasang suami istri beserta 2 anak mereka. Pemuda itu menarik satu alisnya, bertanya-tanya apakah aman jika menggunakan tempat umum seramai itu untuk berbicara?

Dengan cepat pertanyaan yang sempat muncul di kepala pesulap itu ia singkirkan dari pikirannya. Apalagi setelah melihat kekosongan yang mengisi kafe itu di lantai 2. Dari sudut pandangnya, ia tak melihat siapapun di lantai 2 kecuali seorang wanita yang duduk di sebuah kursi yang berada tepat di samping jendela.

Wanita itu mengenakan pakaian serba hitam, rambut pirangnya ia biarkan tergerai sempurna di belakang punggungnya dan sebuah kacamata hitam ia gunakan untuk menutupi matanya. Wanita itu menoleh ke arah Kaito dan menyambut pemuda itu dengan seulas senyuman, "Ini pertama kalinya kau terlambat?"

Pemuda itu berjalan mendekati wanita yang kini membuka kacamata hitamnya lalu duduk tepat di seberang wanita itu setelah dipersilahkan oleh sang wanita. Ia benci mengakuinya namun kalimat wanita itu benar. Ini pertama kalinya ia terlambat menemui seseorang yang sebelumnya sudah berjanji untuk bertemu, tentu saja ia tidak bisa menyalahkan Kudo Shinichi, walaupun sebenarnya itu salahnya.

"Siapa namamu hari ini?" tanya pemuda itu terus terang dan tanpa basa-basi.

Wanita itu tertawa pelan, "Kuputuskan untuk memakai nama asliku hari ini. Mengingat mungkin kita akan sering bertemu dan bekerja sama, menyembunyikan identitasku terdengar tidak sopan, benar? Perkenalkan, Chris Vineyard."

Kaito mengangkat kedua alisnya bersamaan, terlihat sedikit terkejut mendengar nama yang disebutkan oleh wanita di hadapannya. Ia mungkin bukan penikmat dunia hiburan mancanegara — kecuali jika itu ada hubungannya dengan dunia pesulap — namun ia tahu benar bahwa nama yang baru saja didengarnya adalah nama yang cukup tersohor di dunia hiburan internasional.

"Kau terlihat tidak percaya dengan apa yang kukatakan," ujar wanita itu seolah bisa membaca raut wajah Kaito. "Itu pilihanmu untuk mempercayaiku atau tidak, bagiku urusan nama tidaklah penting. Karena ada hal lain untuk kita bicarakan, itulah sebab kau dan aku berada di sini."

Kaito terdiam sesaat sebelum menganggukan kepalanya. Ya, ada hal lain untuk mereka bicarakan saat ini.

Membetulkan posisi duduknya, wanita itu menyilangkan kakinya dan menyandarkan tubuhnya pada permukaan kursi kayu yang didudukinya. Satu tangannya masih menempel pada permukaan meja sementara tangan lainnya menopang kepalanya di atas lengan kursi, "Sepertinya pihak kepolisian menganggap percobaan pembunuhan Kudo Shinichi sebagai jalan buntu."

Kaito mengangkat kepalanya, menatap lurus wanita di depannya, "Kau sudah melakukan penyelidikan terhadap arsip kepolisan." Sebuah pernyataan.

"Begitulah," jawab wanita itu tenang, "Aku tidak mungkin berdiam diri melihat Silver Bullet favoritku berada dalam masalah. Kau pun pasti akan merasa kehilangan jika kritikus favoritmu menghilang, benar?"

Silver Bullet?

"Tidak juga. Seorang kritikus favoritku sudah menghilang beberapa bulan lalu. Aku berada di sini karena sepertinya kau memiliki informasi yang kubutuhkan, mengenai keberadaan dan hubungannya dengan Kudo Shinichi."

Wanita itu tertawa pelan.

"Cukup terus terang, eh?"

"Berbasa-basi di saat seperti ini bukan hobiku, Chris-san."

Wanita itu menganggukan kepalanya. Seulas senyum masih menghiasi wajahnya ketika ia mengeluarkan dua lembar foto dari dalam clutchbag hitam miliknya dan mempertunjukan dua lembar foto itu pada Kaito dengan meletakannya di atas meja.

"Kudo Shinichi dan Edogawa Conan," ujar wanita itu seolah ingin memberitahu siapa subjek foto yang sedang ditunjukannya. "Salah satunya adalah seorang detektif SMA yang bersekolah di SMA Teitan, kelas 3-B, sementara yang lainnya adalah bocah berusia 8 tahun yang bersekolah di SD Teitan dan menghilang beberapa bulan lalu."

Kaito menganggukan kepalanya, melirik ke arah foto yang berada di atas meja lalu kembali menatap wanita di hadapannya.

Wanita itu kembali bersandar pada punggung kursi. "Salah satu dari mereka baru saja kembali setelah yang lain menghilang. Apa yang ada dalam pemikiranmu saat ini?"

"Entahlah. Terlalu banyak kemungkinan dan perkiraan yang ada dalam pemikiranku, namun sejauh ini aku mengira bahwa salah satu dari mereka tengah berhadapan dengan sebuah kasus serius dan harus menyembunyikan identitasnya," papar Kaito tanpa mengalihkan pandangannya dari wanita itu. "Sebelum membahas hal ini, boleh aku bertanya?"

Wanita itu mengangguk pelan, mengulurkan tangan sebagai tanda bahwa pemuda itu boleh bertanya, "Go ahead, Magician."

"Aku masih belum mengerti apa keinginanmu. Mengapa kau sangat ingin mengajakku bekerja sama untuk menyelamatkan Kudo Shinichi, mengapa kau harus bersusah payah melacak keberadaanku, dan kau sepertinya tahu pergerakan pembunuh ini."

Wanita itu tidak merespon. Kedua bola matanya menatap lurus manik mata pesulap di hadapannya sebelum akhirnya menoleh pada kaca jendela dan melihat pemandangan di luar sana yang mulai terlihat gelap. Raut wajah wanita itu, menurut Kaito, terlihat datar dan sama sekali tidak menunjukan ekspresi apapun. Pesulap itu bahkan tidak bisa membaca gerakan wanita itu. Apakah ia akan menjawab sejujurnya ataukah hanya akan mengarang cerita atau memutar topik pembicaraan? Ia tidak bisa menilai.

"Aku bekerja pada sebuah organisasi yang kini sedang dihadapi oleh kritikus favoritmu," ujar wanita itu pelan di tengah keheningan. "Aku tidak bisa memberikan informasi secara detail, namun satu hal yang perlu kau tahu, organisasi ini tengah memburu Kudo Shinichi untuk melenyapkan detektif itu dari muka bumi."

Wanita itu melirik sekilas ke arah Kaito, menemukan kening pemuda itu berkerut mendengar ucapannya. "Kau pasti bertanya-tanya mengapa aku mau kau menyelamatkan detektif itu, padahal aku bekerja pada organisasi yang bertujuan melenyapkannya, benar?"

Pesulap muda itu mengangguk pelan. Sama sekali tidak menyangkal dugaan yang dikatakan wanita itu.

"Kudo Shinichi itu seperti api. Berbeda caramu memperlakukannya, maka akan berbeda caranya menampakan diri," wanita itu menarik sudut bibirnya. "Namun api adalah api. Berapa pun sempurnanya nilai keindahan yang ia tunjukan, ia pasti bisa membunuh ratusan jiwa hanya dalam hitungan detik."

Wanita itu mendongakkan kepalanya, menatap dua pasang mata di hadapannya dan tersenyum ramah pada sang pesulap muda. Namun tampaknya senyuman itu sama sekali tidak terlihat ramah di mata Kaito, sebaliknya senyuman wanita itu membuat sang pesulap meringis. Bulu kuduknya berdiri saat sebuah firasat mengatakan bahwa wanita di depannya adalah… sebuah ancaman. Berbahaya dan sangat mematikan. Semuanya terlihat dari kilatan mata wanita bernama Chris Vineyard itu.

"One says curiosity kills the cat," lanjut wanita itu lalu menundukan kepalanya. Kaito pun bisa bernapas lega karena perasaan yang mencekam tadi hilang begitu saja. "Sebagai seorang detektif memperhatikan detail kecil yang tidak diperhatikan oleh orang lain adalah sebuah keseharian, kebiasaan. Itu yang kritikus favoritmu lakukan. Tetapi sayang, tampaknya rasa penasaran mereka membawa mereka pada sebuah bahaya."

"Mereka?" Kaito memotong. "Chibi — maksudku — Edogawa Conan dan Kudo Shinichi terlibat dalam kasus yang sama? Apa ini ada hubungannya dengan kepergian Edogawa Conan dari Jepang?"

Wanita itu mengangkat satu alisnya. "Mereka berkata Edogawa Conan pergi dari Jepang?"

Kaito menganggukan kepalanya. Pemuda itu melirik ke arah kaca jendela sesaat lalu kembali menatap wanita di hadapannya. "Teman-teman serta penghuni Agensi Detektif itu hanya berkata bahwa Edogawa Conan telah pulang. Setelah kulakukan sedikit pencarian di daftar penerbangan lokal nama bocah itu tidak tertera di penerbangan mana pun. Karena itu kupikir dia pergi dari Jepang."

Chris Vineyard terdiam sesaat setelah mendengar usaha pencarian yang dilakukan oleh pemuda di hadapannya. "Kau terdengar seperti sedang mencari kekasih yang pergi meninggalkanmu," canda wanita itu setengah terkikik.

Mengangkat bahunya, Kaito menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi yang ia duduki. "Kurasa saat Tom kehilangan sosok Jerry, hal yang serupa akan dilakukan oleh kucing itu, benar?"

Wanita itu menganggukan kepalanya. "Tom and Jerry, huh? Jadi seperti itu hubungan kalian," gumam wanita itu pelan.

Dengan satu tangannya, wanita itu menopang kepalanya sementara tangan lainnya ia letakan di atas pangkuannya. Kedua bola mata wanita itu menatap lurus pemuda di hadapannya. Tatapannya terlihat ramah namun ada saat di mana Kaito merasa wanita itu seperti menyelidikinya.

Tatapan itu sama seperti yang ia lihat dari bola mata detektif yang saat ini menjadi topik pembicaraan. Penuh percaya diri, menyelidik, dan mengikat. Setiap detail diperhatikan tanpa luput dari pandangan dan segala hal janggal yang ditangkap mata akan dijadikannya sebagai sebuah petunjuk. Siapapun yang sudah merasakan menjadi objek pandangan bola mata biru itu pasti bisa merasakannya. Rasa seperti dibelenggu oleh sebuah pagar kasat mata yang tidak akan membiarkan segala kejanggalan untuk lepas dan terasa mengikat.

Namun satu hal dari cara memandang wanita ini sedikit berbeda.

Pandangan itu tidak seperti belenggu, namun lebih seperti sebuah ancaman. Siapapun yang menjadi sasaran pandangan itu bisa merasakan bulu kuduk mereka berdiri sementara udara di sekitar mereka seolah perlahan menghilang dan menciptakan rasa sesak. Debaran jantung pun berpacu keras seperti sedang diburu dan hal itu sama sekali tidak memberi kenyamanan.

Alarm kewaspadaan dalam kepala Kaito pun berdentang, memberikan pertanda bahwa wanita yang mengaku bernama Chris Vineyard bukanlah wanita sembarangan. Ia berbahaya namun di satu sisi lainnya ada sebuah rasa di mana Kaito sendiri pun tidak bisa memahami apa itu. Jika boleh diibaratkan, Chris Vineyard adalah sebuah labirin di tengah kobaran api. Semakin kau merasa penasaran dan ingin mencari tahu, semakin kau merasakan bahaya yang akan mengancammu.

"Kau pasti sudah mendengar detail mengenai peluru yang ditemukan di atap dari pihak kepolisian, benar?" tanya wanita itu tiba-tiba dan berhasil membuat Kaito sedikit terkesiap karenanya. Wanita itu memejamkan matanya lalu tersenyum penuh arti ke arah Kaito yang baru saja menganggukan kepala sebagai jawaban. "Apa yang kau ketahui dari detail yang kepolisian berikan? Oh, kuganti pertanyaanku. Apa pendapatmu?"

Kaito mengerutkan keningnya.

"Kau menyembunyikan sesuatu," tukas Kaito tanpa mengalihkan pandangannya. "Kau tahu pergerakan pembunuh itu namun kau menolak untuk berkomentar banyak. Secara jujur kukatakan, aku merasa kau ada hubungannya dengan pemilik peluru itu."

Chris Vineyard hanya diam. Satu tangannya bergerak mengibaskan helaian rambut yang mulai menutupi bahunya sementara fokus matanya kini menatap lurus lalu lalang kendaraan di luar sana. Wanita itu masih diam saat Kaito mulai mengangkat satu alisnya dan memberikan tatapan yang membutuhkan jawaban, tidakkah ia ingin menjawab?

"Penembak itu hanyalah salah satu dari sekian pembunuh bayaran bernilai tinggi di negara ini. Apa itu menjawab pertanyaanmu?"

Kaito menggelengkan pelan kepalanya. "Kami sudah menyimpulkan hal itu. Melalui barang bukti yang ada dan cara penembak itu mengesankan bahwa kasus yang terjadi adalah sebuah kasus bunuh diri," ujarnya dengan nada datar yang sarat akan kewaspadaan. "Kau, Chris-san, mempunyai lebih banyak informasi dari apa yang baru saja kau katakan. Tetapi hubunganmu dengan organisasi tempatmu bekerja membuatmu tidak bisa membicarakannya, walaupun itu untuk keselamatan 'Silver Bullet'-mu."

Wanita itu terdiam mendengar penuturan yang dilantunkan oleh Kaito. Ini adalah kali pertama Kaito melihat ekspresi keterkejutan yang menutupi raut wajah Chris Vineyard.

"Setelah beberapa bulan mengawasimu," ujar wanita itu pelan. Raut penuh keterkejutannya telah hilang dari wajahnya. "Aku kini dapat menyimpulkan satu hal; kau dan Kudo Shinichi berada pada posisi yang sama. Layaknya Sherlock Holmes dan Arsene Lupin."

"Apa maksudmu?" tanya Kaito dingin. Ia mulai sedikit lelah dengan pembicaraan tanpa arah ini.

"Saat ini kalian berdua adalah dua kutub yang berbeda. Namun siapa sangka jika dua kutub yang berbeda memiliki gaya tarik yang sangat kuat? Tetapi," wanita itu melirik ke arah Kaito. "Sebagus apapun daya magnet yang kalian miliki, para ilmuwan selalu tahu cara menghilangkan daya magnet kalian."

Mereka, entah siapa, mengincarku dan Shinichi ... Sebuah kesimpulan dari apa yang dibicarakan oleh wanita di hadapan pemuda itu kini memenuhi pikiran Kaito. Dua kutub berbeda menciptakan gaya tarik? Itu artinya aku dan Shinichi harus bekerja sama? Sebuah pertanyaan lain kini masuk ke dalam pikiran Kaito.

"Kau pernah mendengar istilah 'To cut a diamond, you'll need another diamond'?" tanya Chris Vineyard saat dilihatnya pesulap muda di hadapannya terdiam. Kedua bola mata wanita itu dapat menangkap gerakan mencengkram pada telapak tangan sang pesulap. Sangat kencang hingga permukaan tangan pemuda itu memutih. "You and that cool guy are my diamonds. Dengan adanya kalian berdua, menghancurkan permata lain bukanlah hal sulit, benar?"

Kaito melonggarkan cengkramannya. Dengan satu tarikan napas, pemuda itu mencoba mengatur kembali pembawaannya. Never lose your pokerface, Kaito...

Mengangkat kepalanya, pemuda itu kembali menatap Chris Vineyard. "Seperti pion catur, eh?"

"Dengar, Chris-san, aku tidak tahu apa tujuanmu sebenarnya." Pemuda itu berdiri dari tempatnya, "Namun harus kuakui semua kata-katamu membuatku harus berpikir beberapa kali sebelum mengambil keputusan."

Dan aku sudah tahu keputusan apa yang harus kubuat.

"Untuk saat ini, aku menolak tawaranmu. Maaf, Chris-san, aku tidak bekerja sebagai pion catur pribadimu. Aku yakin, Shinichi pun akan melakukan hal yang sama." Pemuda itu menatap lurus manik mata Chris Vineyard. "Untuk tawaran membantuku mencari jawaban atas seluruh pertanyaan dalam kepalaku pun terpaksa kutolak. Aku akan mencoba mencari tahu sendiri jawaban atas pertanyaanku. Terima kasih atas waktunya, aku harus pulang."

Wanita itu tersenyum. "Well, said, Magician," ujar wanita itu setengah tertawa. Kedua tangan wanita itu kini bergerak untuk memberikan tepuk tangan pada Kaito."Namun hatiku berkata suatu saat kau akan kembali padaku, entah kapan namun firasatku tidak pernah membohongiku. Let's call it a woman's instinct," lanjut wanita itu tanpa memindahkan pandangan matanya dari sepasang bola mata di hadapannya.

Kaito memiringkan kepalanya. Seulas senyum yang sejak tadi ia tahan kini mulai tampak di wajahnya, "Suatu saat nanti, eh?"

Membungkuk, pemuda itu memberikan senyuman terakhirnya pada wanita bernama Chris Vineyard sebelum akhirnya melangkahkan kakinya menuju tangga café.

"Boleh kutanya satu hal, Kuroba Kaito?" tanya wanita itu dan berhasil membuat Kaito berhenti melangkah. Pemuda itu menoleh ke arahnya dengan satu alis terangkat. "Sebagai Kuroba Kaito," ucap wanita itu dengan nada dingin, sebuah tatapan tajam pun ia tujukan kepada pesulap muda itu. "Siapa Kudo Shinichi."

Kedua bola mata Kaito membelalak mendengar pertanyaan yang diajukan oleh wanita bernama Chris Vineyard. Namun selang beberapa detik, Kaito menarik sudut bibirnya untuk menunjukan seulas senyum. Senyum itu, di mata Chris Vineyard, adalah sebuah senyuman milik pribadi Kaito yang memiliki nilai kejujuran dan tidak sembarang orang bisa melihatnya. Nalurinya sebagai seorang wanita mengatakan bahwa apapun yang akan dikatakan pemuda itu setelahnya, adalah sesuatu yang jujur adanya. Bukan sebuah bualan atau omong kosong, namun sebuah pendapat yang datang dari hati seorang Kuroba Kaito.

"Kudo Shinichi adalah nyala api dari sebuah pematik usang, yang menunggu seseorang untuk membiarkannya menyala di kegelapan malam. Seperti yang kau katakan, Chris-san. Api adalah api, secantik apapun nyalanya, tetaplah berbahaya," jawab pemuda itu masih dengan seulas senyum di bibirnya. "Tetapi satu hal yang perlu kau ketahui," lanjut pemuda itu yang kemudian menatap lurus manik mata Chris Vineyard. "He's a big brother-figure to me."

Menenangkan dan lembut. Itulah kata-kata yang menggambarkan cara pemuda itu berujar sehingga membuat Chris Vineyard terhenyak. Wanita itu mengerucutkan bibirnya ketika fokus matanya menangkap sebuah pesan yang diberikan oleh Kuroba Kaito melalui tatapan matanya sebelum pemuda itu melambaikan tangannya dan pergi dari lantai 2 café itu.

Chris Vineyard tertawa pelan.

Entah apa yang dunia telah rencanakan sehingga mempertemukan dua insan muda itu. Apapun itu, semuanya bukanlah kebetulan belaka. Ada sebuah arti dan makna mendalam yang menjadi alasan mengapa dunia mempertemukan mereka. Bukan sebagai seorang detektif dan seorang pencuri, namun sebagai Kudo Shinichi dan Kuroba Kaito.

Menghembuskan napasnya, wanita itu kembali duduk di kursinya. Satu tangannya menjambak keras rambutnya sementara tangan lainnya meremas dua lembar foto yang tergeletak di atas meja hingga tidak berbentuk. Dengan sebuah seringai licik di wajahnya, wanita itu menatap kepergian Kuroba Kaito dari kaca jendela yang ada di sampingnya.

"You've made a deal, Kuroba Kaito. You'll protect him whatever it takes and I'll make sure the Organization won't lay every single hand on him."

.

.

.

.

"Aku menyerah!" seru Shinichi keras di ruang kerja ayahnya. Kedua tangannya terangkat ke atas sebelum akhirnya ia gunakan kedua tangannya untuk menjadi bantalan kepala.

Pemuda itu menggeser buku tebal yang sedang dipegangnya dan disingkirkan semua alat tulis serta kertas soal yang sedari tadi menemaninya. Semua tugas itu kini ia acuhkan seutuhnya.

Ia butuh istirahat.

Otot-otot tubuhnya sudah meneriakan aksi protes mereka sejak ia memasuki rumahnya dan bersiap untuk mengerjakan seluruh tugas yang ia terima dari wali kelasnya. Namun karena banyaknya jumlah tugas yang diterimanya dan sedikitnya waktu yang ia miliki, ia mencoba mencicilnya sedikit demi sedikit. Walaupun sepertinya semua itu sia-sia.

Tubuh yang lelah tidak bisa dipaksakan untuk bekerja, yang dibutuhkan adalah istirahat yang cukup!

"Aku benar-benar lelah, Holmes. Beri aku waktu beberapa menit untuk istirahat, oke?" ujarnya pada seekor kucing hitam yang baru saja melompat naik ke atas meja dan mendudukan diri di atas kamus besar. Kucing itu mengeong sebagai jawaban.

"Tidak. Akan kuselesaikan semua sebelum berangkat. Bangunkan aku sebelum subuh."

Kucing itu kembali mengeong. Dengan kepalanya, ia mencoba menggerakan tubuh Shinichi yang kini menempel pada permukaan meja. Sepertinya kucing itu mencoba menyadarkan sang detektif dari rasa kantuknya.

Shinichi mengangkat kepalanya yang semula tertanam pada kedua lengannya lalu menatap kucing hitam yang duduk di atas meja, di hadapannya. Kucing itu kembali mengeong pelan saat Shinichi menatapnya datar. Kenapa aku berbicara dengan seekor kucing? Dan kenapa kucing ini seolah bisa mengerti apa yang kubicarakan?

Pemuda itu mengangkat tangannya lalu menggunakannya untuk membelai kepala kucing hitam itu. "Mainlah dengan Lupin selagi aku tidur. Aku benar-benar mengantuk..."

Kucing itu terdiam. Ia terlihat menikmati belaian yang Shinichi berikan dan memanfaatkan hal ini untuk menyelinap ke dalam pelukan Shinichi. Kucing itu mengeong pelan sebelum menutup matanya.

Pemuda itu terkekeh pelan. Dengan hati-hati ia memeluk kucing hitam itu kemudian menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi, satu tangannya bergerak membelai bulu kucing itu. "Kalau kau manja seperti ini, Lupin bisa semakin membenciku," gumam detektif itu seraya mengarahkan pandangannya pada seekor kucing putih yang tertidur di atas tumpukan buku.

Sejak kepulangannya, kucing putih itu terlihat mengacuhkannya. Seperti saat ia memanggil kucing itu untuk memberi makanan (di luar dugaannya, Kaito KID sudah membelikan sekotak biskuit untuk kucing dan sekaleng susu bubuk bayi, yang kemudian ia yakini dibeli dengan uangnya) atau saat ia menggendong kucing itu untuk menjauhkannya dari barang pecah belah. Berbeda dengan Holmes si kucing betina hitam, Lupin terlihat sedikit kenekatan dan kerab mengabaikan kata-kata Shinichi. Kucing itu bahkan mencoba mencakarnya saat Shinichi mencoba menggendongnya.

Kedua bola mata detektif itu kini tertuju pada kucing putih tersebut dan tampak memikirkan sesuatu. Sesuatu yang sudah ia pikirkan sejak pertama kali ia melihat wujud dan penampilan kucing putih itu.

"Angkuh, suka ketinggian, egois, dan putih..." gumam Shinichi dengan mata menyipit tajam yang ditujukan untuk kucing putih itu. "Dan diberi nama Lupin..."

Tidakkah semua hal itu terdengar familiar? Itulah yang dipikirkan Shinichi.

Menyebutkan semua poin itu membuatnya teringat akan seseorang dengan pakaian serba putih yang selalu menyunggingkan seringai angkuhnya — yang dalam pandangan detektif itu, dapat diartikan sebagai 'Catch me if you can' — dan tergolong egois jika menyangkut urusan 'spotlight'. Seseorang itu akan melakukan apapun agar seluruh penggemarnya bisa menyaksikan aksinya, walaupun itu artinya ia harus melompat dari gedung pencakar langit dan berdiri tergantung di kaki helicopter — OH! Mungkin kata 'nekat' jauh lebih tepat untuk mendeskripsikan tingkah seseorang ini?

Ha-ha-ha... Tawa sarkastik datar dilantunkan oleh pikiran pemuda itu. Kenapa aku baru menyadarinya sekarang... Batin detektif itu ketika telah menemukan apa yang menjadi topik dalam pikirannya.

Menunduk, pemuda itu lalu menatap kucing hitam yang kini tidur di pangkuannya. Sesuatu dalam kepalanya memikirkan sebuah fakta, namun ia masih memiliki pro dan kontra yang mengikuti pemikirannya itu.

Kedua tangan pemuda itu lalu mengangkat kucing hitam itu dan mensejajarkan wajahnya dengan kucing itu, menatap bagaimana lelapnya tidur sang kucing walaupun beberapa kali tangannya bergerak menggelitik perut kucing itu. Pemuda itu memiringkan kepalanya. Holmes... Tidur... Hit — Tunggu! Tapi kucing ini betina!

Pemuda itu kembali menidurkan kucing hitam itu di pangkuannya. Kepalanya beberapa kali menggeleng untuk menyingkirkan apapun kesimpulan pemikiran yang muncul di kepalanya — yang, tentu saja berakhir membuat wajah detektif itu memerah.

"Sepertinya aku harus bicara pada si pencuri bodoh itu sekali lagi," ucap detektif itu pada keheningan ruang kerja ayahnya masih dengan wajah memerah. "Tidak seharusnya Holmes dan Lupin ada dalam satu buku."

Perlahan diletakannya kucing hitam di pangkuannya di atas meja yang sudah diberi bantalan, sehelai kain berwarna biru muda — yang dipercaya detektif itu sebagai properti milik si pencuri — ia jadikan selimut untuk melindungi kucing itu dari cuaca dingin. Detektif itu tersenyum tipis sebelum meninggalkan ruangan itu untuk mengistirahatkan tubuhnya di atas tempat tidur di kamarnya. Semua tugas-tugasnya yang belum selesai telah mendapatkan janjinya untuk dikerjakan secepatnya esok hari sebelum bel pelajaran pertama dimulai.

.

.

.

.


Sejujurnya chapter ini sudah mengalami revisi hingga belasan kali dan tampaknya ada beberapa bagian yang mungkin akan membuat bingung. Semoga kalian bisa tahan dengan keanehan di chapter ini.

Sebagai reminder, terhitung tanggal 3 September 2012 (yang merupakan update untuk chapter 10) penulis tidak bisa menentukan kapan akan meng-update cerita. Penulis hanya ingin memberi kepastian bahwa cerita ini akan tetap di update jika penulis sempat meluangkan waktunya. Mohon maaf atas ketidaknyamanan teman-teman sekalian, ya. ^^;

Dan untuk kembali mengingatkan, cerita ini adalah sebuah fanfic yang mana dibuat oleh seorang penggemar. Jika kalian menemukan perbedaan satu dua kata, kalimat, kejadian, dan sebagainya, itu disebabkan tidak lain karena keinginan penulis. Penulis hanya menyarankan untuk tidak berharap bahwa cerita ini akan MIRIP dengan cerita aslinya. Jika kalian merasa tidak puas dengan cara penulis bercerita, penulis tidak akan memaksa kalian untuk bertahan dan menjanjikan sebuah akhir bahagia. Itu hak kalian untuk memutuskan; either to stay or leave. ; )

Terima kasih atas perhatiannya dan sampai jumpa di chapter selanjutnya~