Nah, kesampaian juga deh melanjutkan cerita ini. Nah, cerita ini mungkin juga pendek, tapi setidaknya aku bisa melanjutkan. Sesuai janji, ada ZoNa dalam chapter ini. Jadi, nikmati saja! Jangan lupa pilih pairingnya!
Zoro : Hei! Shoojo!
Shoojo : *pura-pura innocent* Hmm? Ada apa?
Zoro : *mengacungkan kertas skenario cerita* Apa maksudmu dengan ini? Bagian "memalukan" ini?
Shoojo : Aww, Zoro...jangan bilang kau ada masalah dengan bagian ini. Mungkin, kau memang...*menatap tajam, smirking*
Zoro : Eh, i-itu...*muka memerah* Ah, sial! *pergi sambil marah-marah*
Shoojo : Nah, lanjut ke cerita.
Imagination^2 + Disclaimer^2 = Fanfiction^2 (Rumus Pythagoras untuk Fanfiction :P), yang berarti
(Impianku akan ZoNa)^2 + (Bukan pemilik One Piece)^2 = (Cerita "Navigator's Boyfriend")^2 *silahkan hitung buktikan kebenarannya sendiri XP*
Cerita sebelumnya :
Pagi yang biasa, ditambah terbongkarnya salah informasi mengenai Zoro dan Vivi. Apa yang akan Nami lakukan?
xxxxxxxxxxx Ciuman Pertama xxxxxxxxxxxx
Kapal angkatan laut itu berlayar dengan tenang di lautan Grand Line. Angin sepoi-sepoi meniup dari sisi belakang kapal, ditemani tenangnya arus laut dan burung camar yang berkicau membuat suasana menjadi tenang. Dan seluruh penghuni kapal itu sama tenangnya, sedang mengisrirahatkan diri sehabis pengejaran di pulau yang mereka tinggalkan kemarin.
Dalam suatu ruangan, wanita berambut biru menatap ke pedang di tangannya. Sarung pedang berwarna putih tergeletak di sampingnya. Tashigi terus menatap pedang itu, pedang yang tadinya dimiliki oleh mantan pemburu bajak laut terkenal dan menjadi syarat perjanjian yang dibuat mereka.
'Pedang ini...pernah kulihat, entah kenapa pedang ini mengingatkanku akan sesuatu...' Terus berpikir dengan pikirannya, Tashigi tiba-tiba teringat hari apa ini, hari yang sangat menyedihkan. Dia memeluk pedang di tangannya erat-erat, wajahnya menunjukkan raut kesedihan.
"Kuina..." bisiknya pelan.
"Zoro?" Vivi meletakkan pedangnya, heran melihat Zoro diam saja di tempat, seolah ada pikiran yang menghantuinya. Mereka baru saja selesai latihan pedang lagi. "Daijoubu?"
Mendengar dia ditanyai, Zoro buru-buru memalingkan muka dari langit-langit ke arah Vivi. "Ah, gomen, aku ada pikiran."
Vivi mendekat ke arah Zoro, dan berbisik, "Ini soal Kuina, iya kan?" Ketika Zoro memandangnya dengan heran, Vivi melanjutkan, "Aku bisa tahu, karena raut mukamu selalu berubah menjadi yang lain jika memikirkan tentang dia, sama seperti raut mukamu ketika kau bercerita tentang dia di gunung coba-coba membodohi aku."
"Ini hari kematiannya..." Vivi mendengar Zoro berbisik pelan. "Aku ingat betul, hari di mana kami membuat janji, dan kemudian dia..."
Mendadak Vivi memegang tangannya erat-erat. "Zoro, dengar, kau harus dapat melupakan masa lalu. Memang Kuina itu sangat penting, tapi kau harus maju terus. Jika kau begini, kau akan tertinggal dan perhatianmu bisa teralih. Ada banyak yang kau bisa lakukan, seperti-" Belum sempat Vivi melanjutkan, pintu ruang gym terbuka, menunjukkan navigator kapal berambut oranye.
"Zoro, apa kau..." Nami terdiam, melihat Vivi memegang tangan Zoro. Dia hanya berdiri terpaku, matanya tidak meninggalkan tangan mereka.
"Ohayou, Nami," kata Vivi ceria. Ketika dia melihat Nami terus diam saja, dia menyadari kalau tangannya terus memegang tangan Zoro. Vivi mendadak melepaskan genggamannya, pipinya memerah. "Er, Nami, ini bukan..."
"Tidak apa-apa," jawab Nami dingin. Zoro dan Vivi kini duduk di lantai, diikuti Nami yang duduk di samping Vivi.
"Jadi, ada apa?" tanya Zoro dengan nada biasa.
"Er..anu...." 'Sialan! Bagaimana aku bisa bertanya mengenai mereka jika ada Vivi di sini,' batin Nami kesal.
Seolah mengabulkan permintaan Nami, Vivi bangkit berdiri dan berkata, "Jika ini pembicaraan pribadi, aku bisa pergi." Dia akan berjalan ketika Zoro menghentikannya.
"Kenapa kau harus pergi? Kau bisa tinggal kalau kau mau..."
"Tidak apa-apa. Aku kebetulan memang ingin pergi dulu," Vivi meyakinkan Zoro. Zoro menyerah juga. Ketika Vivi menutup pintu gym, Zoro berbalik ke arah Nami. "Jadi, apa yang kau mau tanyakan?"
"Ini soal...kau dan Vivi..." akhirnya Nami berhasil menemukan suaranya lagi. Matanya terpaku ke bawah.
"Hah? Memangnya kenapa?" Zoro muai waspada dan ketakutan. Apa Nami tahu soal ini? Apa jadinya kalau yang lainnya juga tahu? Bisa gawat nih...
"I-itu..."
"Hmm?"
"Apakaudanvivipacaran?" Nami berbicara cepat-cepat, membuat Zoro kebingungan.
"Apa, sih? Bicara yang jelas dong..." kata Zoro jengkel.
"Ma-maksudku....apa kau dan Vivi pacaran?" Nami mengulangi kata-katanya, hatinya berdegup kencang setiap kali dia mengeluarkan kata demi kata. Pipinya menghangat. 'Bagus, sekarang mungkin Zoro berpikir aku ini orang aneh atau orang yang ikut campur masalah orang. Tapi, aku berhak memastikan kebenaran kan? Mungkin ada kemungkinan dia tidak pacaran.'
Zoro hanya menganga lebar di tempat, tidak percaya apa yang dikatakan Nami. Sejenak kemudian dia tertawa keras. Nami mengangkat kepalanya dengan wajah jengkel.
"Apa itu lucu?" kata Nami dengan suara tegas, kedua tangannya kini di pinggang. Semua gugup dalam dirinya berubah menjadi kejengkelan.
"Ah...tidak...hanya..." Zoro berusaha keras mengendalikan dirinya. "Siapa yang bilang soal itu?"
"Usopp..." jawab Nami singkat, hanya membuat tawa Zoro makin keras.
"U-Usopp? Ha ha ha...bagaimana mungkin kau bisa ditipu semudah itu! Kau tahu kan Usopp itu pembohong besar. Mana mungkin yang dikatakan dia itu benar!"
Muka Nami memerah hebat saking malunya. 'Jadi si hidung panjang itu menipuku! Awas saja kalau nanti ketemu, akan kuhajar dia! Tunggu, itu juga berarti...' "Jadi kau dan Vivi tidak pacaran?" tanya Nami lagi, kali ini dia berharap jawabannya "tidak".
"Tentu saja tidak," jawab Zoro. Dia kemudian berdiri, yang disusul Nami. "Nah, kalau tidak ada lagi yang kau mau tanyakan, aku mau keluar dulu untuk...."
Tiba-tiba kapal bergoyang dengan hebat, membuat Nami dan Zoro kehilangan keseimbangan. Nami mendadak memegang kaus Zoro sebagai pegangan. Tapi akhirnya mereka terjatuh, dengan Nami menindis Zoro di lantai. Mendadak kapal berhenti bergoyang.
"Tampaknya kapal sudah berhenti, bisakah kau..." Zoro terdiam ketika dia menyadari, betapa dekatnya wajahnya dengan wajah Nami saat ini. Dia bisa merasakan nafas hangatnya yang keluar dengan ritme teratur, rambut oranye halusnya menerpa wajahnya. Dia tidak pernah sedekat ini dengan Nami, dan baru sekarang dia sadar betapa....cantiknya dia....terutama matanya itu...
Nami memandang mata hitam Zoro dengan penuh pesona. 'Ini pertama kalinya aku melihatnya sedekat ini....' Rambut hijaunya seolah unik sekali, dan wajahnya seolah-olah sangat menawan. Dia dapat merasakan jantungnya berdetak cepat, tubuhnya seolah kaku, tidak dapat digerakkan, dan otaknya terus berteriak untuk melakukan sesuatu.
Dan dia melakukan itu.
Dia mendekatkan wajahnya, sedikit demi sedikit, memangkas jarak di antara mereka setiap senti, hingga wajah mereka hanya beberapa sentimeter saja. Dan dia menutup matanya perlahan, bersamaan dengan kedua bibirnya yang terbuka sedikit....
Mata Zoro terbelalak lebar ketika dia melihat Nami mendekat. 'A-apa yang dipikirkan wanita ini?' Dia mencoba untuk melepaskan diri, tapi entah kenapa kedua tangannya tidak mau terangkat, tubuhnya serasa membatu, dan entah kenapa...dia menginginkan ini.
Ketika Nami menutup matanya, dan bibirnya terbuka, otak Zoro bersikeras agar dia membalasnya. 'Bi-bisa saja...tapi...dia kan nakamaku! Apa yang kupikirkan? Masa aku mengambil keuntungan dari menjadi nakamanya, untuk...untuk hal ini? Tapi, mungkin dia tidak keberatan...' Akhirnya Zoro menutup matanya, seluruh pikiran dan indranya dipusatkan ke mulutnya, menanti sentuhan lembut dari orang yang ada di atasnya.
Bibir mereka bertemu, dan Zoro merasa dia seolah ada di surga. Dia bisa merasakan lembutnya, manisnya dan nyamannya bibir Nami, mengecup setiap lapisan bibirnya. Beberapa saat kemudian, mereka melepaskan diri, dan Zoro membuka matanya, melihat ke arah Nami yang juga membuka matanya.
"Nami..." Zoro tidak dapat berkata apa-apa. Pikirannya masih terus membayangkan momen yang tadi mereka bagi bersama.
Nami hanya melihat Zoro dengan berbagai perasaan. Senang, bahagia, tapi juga...ketakutan. Apa yang akan dikatakan Zoro?
"Kenapa...kenapa kau menciumku?" tanya Zoro, pertanyaan sederhana, tapi sulit dijawab semudah membalik telapak tangan.
Nami langsung bangkit berdiri, memalingkan mukanya. 'A-aku...kenapa aku bertindak tanpa berpikir dulu? Bagaimana kalau dia mengetahui kalau aku menyukai dia?' "Gomen, Zoro, aku pergi dulu..."
"Tunggu, jawab dulu pertanyaanku...."
"Ciuman itu tidak berarti apa-apa!" Dan dengan selesainya kata-kata itu, Nami berlari keluar, meninggalkan Zoro yang kebingungan. Setelah diam beberapa saat, Zoro tanpa sengaja menyentuh bibirnya lagi. Dia tidak tahu apa yang dapat dipikirkannya, tapi yang jelas....
Itu bukanlah ciuman yang buruk untuk ciuman pertama.
Bukan, mungkin lebih baik lagi....
xxxxxxxxxxx bersambung xxxxxxxxxxx
Uwaa! Ini pertama kalinya aku menulis adegan kissing! Aku tidak tahu, apakah adegan tadi masih dikategorikan "baik" untuk fandom Indonesia, soalnya aku memang saat ini kebanyakan ke fandom Inggris, dan setiap cerita berating T biasanya ada adegan kissing, jadi kebawa juga. Tapi aku berusaha tidak terlalu yah...hentai. Aku malah sempat mau memasukkan adegan French kiss, tapi pikiran itu kubuang jauh-jauh XD *pervert mode on*
Oh ya, jangan lupa pilih pairing yang kalian inginkan untuk cerita ini! Kumohon! Terutama sudah hampir mendekati reviewer ke-50. Oke? ;)
Dan aku mungkin akan hiatus lagi, tapi aku memutuskan akan memfokuskan satu cerita dulu untuk diselesaikan. Jika kalian ingin aku terus melanjutkan cerita ini, kunjungi bio-ku dan pilih di poll apa yang kalian ingin aku fokuskan dulu. Dan soal cerita ini, akan ada petualangan lagi, dan...more ZoNa! :)
Review! Dan laporkan juga ya jika ada mistypo, soalnya aku mengetiknya di warnet dan sedikit terburu-buru. Ya, laptopku belum kembali juga *hiks*
Review response (per 10-05-2010)
Monkey D. Cyntia : Maaf kalau pendek ya. Oke, LuVi ya...akan kupertimbangkan :)
edogawa Luffy : Sama-sama, terima kasih tetap mau melanjutkan review. Oh ya, pilih juga pairing apa ya :)
Melody-Cinta : Ini chapter yang kau tunggu! Semoga kau senang! Kalau tidak suka kissing-nya bilang saja ya!
LunaticV : Aku juga baru sadar, intim ya... tapi intiman mana dibanding yang ada di chapter ini? XD
kin chan usagi : Waduh, banting setir ke ZoVi? Aku tidak tahu, apakah harus bangga atau tidak *apa nih maksudnya?* -_-
Mugiwara piratez : Akhirnya komen juga XD Oya, beritahu juga kamu mau pairing apa ya!
Lacossu no ame2604 : Akhirnya kau kembali! *bersorak gembira* *digaplok pemilik warnet* Nah, ini udah hampir dekat nih...tinggal menunggu waktu saja XD
Cerita selanjutnya :
Petualangan baru! Dan kini Zoro dan Nami mengalami masa-masa yang kaku. Bagaimana selanjutnya?
