Neottaemunae (baecause you)

By :

Kim Elin

.

.

Cast :

Namjin

Kim Namjoon

Woo (Kim) Seok Jin

Woo Ji Ho (zico)

.

Rate : M

.

Other Cast :

BAP member,BTS member, Kiddoh Top Dog and other find it your self.

.

.

Genre :

Romance,friendship,little hurt

.

Warning!

TYPO,OOC,bahasa berantakan,GS!(Gender Switch)

.

Summarry:

Woo Seok Jin seorang yeoja cantik sederhana yang bertemu dengan namja kecil yang manis bernama Jiho, anak yang ia temukan di depan pintu rumahnya. Jin yang iba pun merawat Jiho, namun tanpa ia ketahui Jiho membawa ia ke takdirnya. Bertemu dan menjalin kasih, dengan seorang Rapper agency terbesar bernama Kim Namjoon. Namun perjalanan mereka tidak akan berjalan dengan mulus. Banyak rintangan yang menunggu mereka.

.

.

.

Kim Elin Present.

.

.

..

.

.

..

.

.

.

PS: Backsong Reset ost. Who Are You School 2015.

.

Haeri terbangun didalam ruangan gelap, tak ada apapun yang ia dapat lihat terkecuali sebuah titik terang di depan sana. Perlahan ia berjalan mendatangi cahaya itu. Namun Haeri hanya menemukan sebuah pintu yang langsung dibukanya.

Haeri terkejut, pintu itu terisi semuanya.. semua kenangan miliknya yang telah hilang mulai ia dilahirkan di dunia. Haeri berjalan menyaksikan beragam adegan dihadapannya namun, begitu ia sampai diusia ia remaja ia terkejut. Tepat di ruangan itu terdapat kursi taman serta dia dan seorang anak laki laki yang ia yakini adalah Hoseok yang sedang memegang 2 balon berbeda warna.

Tak hanya itu, terdapat juga kejadian dimana Hoseok membelikan ia boneka besar dikencan pertama mereka, mendapatkan kejutan dihari ulang tahunnya, berpisah saat Hoseok memutuskan kuliah diluar negeri. Haeri mengingat semuanya.. ia mengingat semua dimana ia lah wanita bernama Eunhye yang memiliki kekasih yang sampai saat ini masih menunggunya yang begitu mencintainya.

"Tuhan, kumohon aku ingin kembali ke masa ini..."

"tuhan kini aku tau.. dialah yang kau gariskan untukku.."

"Tuhan, kumohon.. aku ingin kembali.."

.

.

.

.

.

.

..

Sebuah alat detektor Jantung basih berderit kencang disamping pasien yang kini difonis Kritis ini.. pasalnya Eunhye memang pingsan kala itu namun saat dibawah kerumah sakit ia memiliki shockmemories yang menyebabkan ia koma dan tadi pagi Kritis.

"kumohon Eunhye bangunlah.. aku tahu kau masih disana.."

Hoseok mengusap wajahnya kasar ia sudah tak tahu lagi harus bagaimana.. ia tak ingin seseorang yang begitu ia cintai pergi untuk kedua kalinya.

TIIIT... TIIIITT... TIIIITTT..

Alat itu masih berbunyi nyaring. Satujam sudah Hoseok menunggu semenjak ia tiba tak ada pergerakan apapun.. diciuminya punggung tangan Eunhye berkali kali bermaksud menyalurkan kekuatannya disitu, namun tetap saja tak ada pergerakan..

"Hoseok, kau pergilah ke kantor kembali.. biar nuna yang menjaganya." Ujar seorang wanita dengan pakaian dinas dokter miliknya.

"tidak perlu nuna.. walaupun aku bekerja tidak akan maksimal.. hati dan pikiranku ada disini..." ujar Hoseok

TIIIIT.. TIIIT...

Alat itu makin berbunyi nyaring dengan nada panjang, nafas Eunhye terlihat putus putus. Youngjae yang pertama kali melihatnya segera menekan bel darurat dan berlari keluar

"DAEHYUN! DAEE!" serunya dari luar berusaha memanggil Daehyun sambil berlari.

Hoseok ikut panik ia terus menekan bell darurat. Nafas Eunhye makin tersenggal.

TIIIIIIITT... TIIIIIIT...

"oh tidak, Tuhan kumohon jangan kumohon... Tuhan..." Hoseok berujar matanya berembun ia hendak ingin menangis sekarang.

BRAAKK

Pintu bercat putih itu digebrak paksa oleh sang dokter bersurai madu. Dengan cepat sang dokter segera bekerja menempelkan alat kejut jantung namun, sepertinya tuhan berkata lain..

TIIIIIIIIIIIIIIITTT...

Alat pengukur itu berbunyi keras tepat saat Eunhye berhenti bernafas. Daehyun menggeram membanting alat kejut itu ia tak sangka akan kehilangan adik iparnya yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri.

Youngjae menangis dalam diam, ia mencoba mengikhlaskan semua.. mengikhlaskan adiknya sendiri yang meninggal dihadapannya.

Hoseok terkejut bukan main ia tidak percaya, segera ia memeluk tubuh Eunhye yang masih belum kaku itu.

"Tidak kenapa lagi! Kenapa lagi Eunhye! Kumohon jangan tinggalkan aku.. kumohon jangan.. jangan.." Hoseok menangis ditengah tengah ucapannya.

"kumohon, aku tau kau masih disini Eunhye! Bangunlah! Bangun!" jangan tinggalkan aku lagi.. kumohon.. kumohon.. jebal.. kajima... jebal! AAARRGGGHHH!" Hoseok tidak berhenti menggoyang goyangkan tubuh Eunhye, ia betul betul tidak ingin kehilangan.

Daehyun menarik istrinya keluar, bagaimana pun ia tau bagaimana perasaan istrinya yang begitu terluka kala melihat sang adik yang lama hilang kini kembali membawa maut. Bahkan ia sendiri pun terluka dan merasa begitu sedih. Karena telah gagal menyelamatkan nyawa adik iparnya sendiri.

"Eunhye-ah.. aku disini, kumohon bangun.. bangun.. aku mencintaimu, kumohon jangan pergi..." Hoseok tidak berhenti menggumamkan nama sang kekasih.

.

"Hosiki..." suara Jeritan nan lemah itu dapat didengar dengan jelas oleh Hoseok segera bangkit

"Eunhye?! HYUUNG! NUNAA!" Hoseok berseru memanggil Daehyun dan Youngjae yang ada di luar.

Daehyun dan youngjae terkejut sekaligus bersyukur ketika melihat sang adik tiba tiba tersadar dengan keadaan kesakitan. Dengan cepat mereka berdua bertindak menyuntik dan membenahi beberapa hal demi sang adik yang baru kembali dari keajaiban maut.

"selamat datang Eunhye"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Hey sudah Lama?" tanya Ravi yang baru saja menghampiri Yoongi.

"tidak juga.." balas Yoongi sambil tersenyum.

"ada apa tumben sekali mengajakku bertemu? Kau tau, ajakan Min Yoongi tidak bisa ditolak oleh siapapun.. hahaha" celetuk Ravi

"jangan bergurau.. aku hanya ingin memberikan ini.. undangan pernikahan eonniku, dia akan menikah lusa." Ujar Yoongi sambil menyeerahkan undangan bersampul hijau itu.

"wow... baiklah aku akan datang karena kau yang mengundangku langsung. Kudengar kau dipindahkan di LA?" tanya Ravi

"iya, sajangnim merekomendasikanku untuk kesana, yah.. hitung hitung kesempatan.. dan siapa tau bertemu dengan James Bond? Hahahaha" jejar Yoongi.

"eisss... James Bond? Hahahaha.. kita akan menjadi partner kalau begitu.. aku juga akan pergi kesana.." ujar Ravi Yoongi terkejut.

"Jinjja? Berarti karyawan yang satunya lagi itu kau? Kenapa tidak memberi tahu? Jahat sekali.." ujar Yoongi

"hahaha lihat lihat, apa kau wanita karir berusia 24 tahun itu? Hahahaha" Ravi malah menertawai Yoongi membuat Yoongi merenggut dan memukul lengannya.

"baiklah baiklah.. jangan cemberut seperi itu.. kutraktir eskrim?di kedai eskrim Han Haelmoni eskrimnya sangat enak.. kau bisa beli sepuaasnyaa..." ujar Ravi sambil beranjak dari bangku taman itu.

"kalau begitu ayo! Dan belikan aku banyak eskrim..." dan inilah Yoongi yang sebenarnya.

Sepolos anak kecil.

Yang tanpa sadar seseorang sudah melukai hati anak kecil yang masih polos ini..

.

.

.

.

.

..

H-1 NamJin Wedding day.

.

.

Jin tengah menikmati golden timenya bersama Jiho di kamar mereka berdua. Hari ini semua urusan pernikahaannya selesai.. ia merasa sangata bahagia sekarang.

Jiho tengah mnyisir rambut panjang milik Jin asal asalan.

"umma.." panggil Jiho

"iya sayang?" jawab Jin

"apa Jjim~ ahjuthi kan datang?" tanya Jiho

"Jimin? Dia pasti akan datang.. memangnya ada apa sayang?"

"aniya... umma.. bethok appa akan tinggal bersama kita kan?" tanya Jiho

"tentu... dia sudah resmi menjadi appanya Jiho besok.." ujar Jin sambil mengelus rambut hitam putranya

"Jiho punya appaa..." Jiho tersennyum menepuk nepuk tangannya pertanda senang. Jin juga ikut tersenyum, namun airmatanya berlinang hingga akhirnya mengalir di pipinya..

.

"lihatlah Hyemi, lihat anakmu... betapa senangnya ia memiliki ayah.. betapa bahagianya ia memiliki ibu.. bahkan sebenarnya ia yang mendatangkan kebahagiaan untukku, untukmu.. Hyemi, terimakasih.. telah menitipkan malaikat kecilmu padaku aku akan menjaganya.. Jiho-ya, tumbuhlah menjadi anak yang sehat dan berbakti padaku dan tuhan"

.

Jin terus memandangi putra kecilnya yang sudah mulai melangkah ke alam mimpi sambil tersenyum dan melantunkan lagu pengantar tidur untuknya. Jin begitu merasa seperti seorang ibu sekarang.. memiliki saat saat keemasan bersama sang anak tercinta membuatnya begitu bahagia dan sempurna..

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Namjin Wedding Day.

.

.

Pagi yang cerah itu disebuah gereja tengah terjadi kesibukan semua orang berdatangan gereja yang besar itu menjadi sangat penuh, baik oleh para wartawan dan para undangan.

Beberapa artis artis terkenal pun terlihat menghadiri acara pernikahan di gereja itu. Semua tampak bahagia, bahkan beberapa artis sempat diwawancarai pendapat mereka tentang pernikahan ini. Siapapun sudah tau siapa yang menikah sekarang.. siapalagi kalau bukan Kim Namjoon dan Woo Seok Jin.

Perjalanan cinta mereka yang hampir setahun, membawa banyak rintangan dan halangan yang bisa mereka lewati bersama hingga memutuskan untuk menikah. Terlalu cepat memang, namun mereka berdua terlalu terlampau bahagia hingga memutuskan untuk menikah, membangun keluarga baru yang beralaskan kebahagiaan dan kejujuran.

Namun, suasana dalam ruang ganti tidak seperti itu.. mereka panik.

"bagaimana ini? Jaesung sedang sakit, ia tidak bisa turut membawa gaunmu.. padahal masih butuh 1 orang lagi.." ujar Jaejoong panik.

"kenapa bukan umma saja?" tanya Yoongi yang sedang membenahi tatanan rambutnya.

"tidak bisa sayang, orang tua haram membawa gaun pengantin anaknya.. bagaimana dengan anak anak pengiring?" Himchan ikut sibuk menggaitkan baju Jin, sementara Jin sudah pucat, takut pernikahannya akan gagal.

"anak anak sudah siap... Lauren, Dayoung Aleyna dan HeeJun sudah siap.. Jungkook, apa kau tidak memiliki teman yang bisa membantu?" tanya Jaejoong.

'aku punya beberapa, tapi ponselku ada pada manager .." ujar Jungkook.

"umma, bagaimana ini.." Jin sudah hendak menangis.

"jangan menangis sayang, makeupmu nanti luntur.. biar umma yang carikan.. tenang saja.." ujar Himchan sambil melangkah, namun barusaja ia ingin ke pintu Hoseok sudah membuka pintunya sambil menggandeng seorang wanita cantik berambut pirang.

"Ummaa~" panggil Eunhye.

"e-eunhye? Eunhye?!" Himchan berseru

"Eunhye Unni?!" Yoongi melompat dari kursinya dan segera memeluk Eunhye.

"bogosipposeo Yoongi-ya.. kau tambah cantik saja.." ujar Eunhye

"kau masih hidup? Umma merindukanmu nak... aigo, kau tambah cantik sekarang.." ujar Himchan sambil memeluk Eunhye.

"tunggu? Ini bukannya Haeri-ssi?" tanya Jin

"Haeri? Siapa itu?" tanya Himchan

"tidak Jinnie, ini Eunhye.. umma ceritanya panjang.. nanti saja.. pendeta sudah tiba, namjoon sudah siap sebentar lagi dia akan ke altar.. appa sudah menunggu diluar, kubawa Eunhye untuk menggantikan Jaesung." Ujar Hoseok menengahi

"ah benar juga, nak sini pakai gaun ini, dan.. emm.. Minah! Tolong tata rambutnya secepat mungkin.." ujar Jaejoong memerintah

"ah! Siapkan juga anak anak, bilang saja kita sebentar lagi siap.." ujar Himchan.

.

.

Suara ruang tengah gereja itu riuh oleh potretaan para wartawan dan Juru kamera yang mendokumentasikan pernikahan ini pendeta dan namjoon sudah berada di altar sang MC sudah mengatakan bahwa sang pengantin wanita sudah berada ditempat semua mata pun memandang kearah pintu samping gereja. Tak lama muncullah seorang wanita cantik dengan gaun pengantinnya yang berwarna putih tengah menggandeng tangan kanan ayahnya.

Jin menggunakan gaun putih bersih yang sangat cantik sekaligus elegan. Gaunnya yang berpotongan pendek hanya seperti bustier itu memamerkan pundak dan punggung mulus miliknya rabut hitamnya yang dicepol dan digaitkan oleh mahkota sekaligus kain pelengkap menambah keanggunannya.

Para tamu undangan berdecak kagum begitu juga dengan para wartawan. Namjoon begitu terpesona dengannya.

"rileks sayang.. jangan tegang.." bisik Yongguk saat merasa gandengan tangan Jin mengencang.

Jin tersenyum menghembuskan nafas dan tersenyum, memancarkan kecantikannya.

Para anak anak melemparkan bunga bunga sepanjang perjalanan Jin menuju altar, Yoongi, Jungkook dan Eunhye turut tersenyum, tak hanya Jin yang tegang, mereka pun juga tegang.

Hingga tiba di depan altar Namjoon tersenyum melihat Jin dengan wajah meronanya.

Para tamu undangan kembali duduk begitu juga dengan Yongguk, anak anak, Yoongi,Jungkook dan Eunhye.

Pendeta berdehem mulai membuka alkitab dan membaca kalimat suci janji pernikahan.

"Kim Namjoon, bersediakah kau menikahi Woo Seok Jin, menjadikannya sebagai istrimu menyayanginya setulus hati mencintainya seumur hidup selalu bersama setiap suka dan duka serta melindunginya hingga maut memisahkan?"

"ya, saya bersedia." Namjoon berujar dengan lantang tanpa ada keraguan disana.

"Woo Seokjin bersediakah kau menjadikan Kim Namjoon sebagai suamimu menghormatinya,mencintainya,dan menjalankan kewajibanmu sebagai seorang istri hingga maut memisahkan?"

"saya bersedia" Jin berujar dengan senyuman tulus dipipinya

"dengan ini, dibawah restu dan lindungan Tuhan, kedua insan ini telah bersatu, berjanji mencintai, menyayangi dan menjaga satu sama lain hingga maut memisahkan, Tuhan memberkati kalian. Selamat berbahagia." Ujar sang Pendeta.

Taehyung maju membawa sebuah kotak cincin berwarna putih berisikan cincin pernikahan mereka berdua, cincin yang dibuat khusus yang terbuat oleh emas cartier asli. Namjoon mengambil cincin itu.

Namjoon menatap Jin lembut.

"aku sudah berjanji kan waktu itu, bahwa aku akan menikahimu, bersaksi dihadapan tuhan bahwa aku sangat mencintaimu.." ujar Namjoon sambil memasangkan cincin itu di jari manis Jin.

Jin mengambil cincin yang satunya.

"aku tahu, dan kau sudah membuktikannya." Ujar Jin sambil memasangkan cincin itu kemudian menatap Namjoon kesekian kalinya.

Namjoon mendekatkan wajahnya, ia mengecup bibir kissable milik jin, hanya sekedar kecupan, kecupan penuh cinta. Para tamu undangan bertepuk tangan riuh, para wartawan mulai memotret.

Hoseok dan Eunhye datang membawa sepasang burung merpati dan memberikannya pada Jin dan Namjoon. Para undangan berjalan keluar gereja dengan tertib

Sesampainya di luar gereja Namjoon dan jin serempak melepaskan burung merpati itu dengan senyuman bahagia.. para undangan bertepuk tangan meriah.

Seorang anak kecil dengan balutan jas putihnya berjalan sambil menggenggam seikat bunga pengantin dengan lucunya, membuat para undangan teralihkan perhatiannya.

"untuk umma dan appa.." ujar anak kecil itu yang tak lain adalah Jiho. Jin segera mengambbil bunganya dan berterimakasih. Jiho pun segera kembali ke pelukan samcheonnya Hoseok.

Para undangan mulai berkumpul hendak mendapatkan bunga itu. Namjoon dan Jin berbalik. Serempak pada hitungan ketiga mereka melempar bunga itu dan jatuh sendirinya ditangan wanita cantik berambut pirang. Yoongi.

Undangan pun bertepuk tangan. Mereka kembali kedalam gereja membentuk satu barisan untuk memberi selamat sekaligus berfoto. Dan mereka kembali pulang sehabis pamit. Karena malamnya masih ada acara lagi yang lebih besar dari ini..

.

.

.

.

.

.

Yoongi dongkol setengah mati, niatnya hari ini ia ingin minta maaf atas perlakuannya beberapa hari yang lalu pada lelaki berambut merah dihadapannya ini namun begitu melihat lelaki itu menggandeng seorang wanita yang tak lain adalah cinta pertamanya itu membuat ia kembali sakit hati. Dengan kasar ia meremas bunga yang tadi ia dapatkan dan melangkah pergi membiarkan heels miliknya beradu dengan lantai gereja.

Jimin menoleh, ia melihat Yoongi yang sedang berjalan berbalik sambil cemberut dan menggenggam bunga itu kuat. Jimin segera mengejarnya meninggalkan irene yang berbincang bersama temannya.

"YOONGI!"

.

Yoongi berjalan kearah luar gereja, melangkah kearah pintu mobil milik Ravi yang akan membawanya ke restoran untuk makan bersama keluarganya. Jangan tanyakan kenapa ia mengajak Ravi, itu karena ia membutuhkan tumpangan gratis sekarang, serta mengakrabkan diri tentunya, hitung hitung sebelum kepergiannya ke LA bersama Ravi nanti..

Jimin sudah berada di luar gereja namun yang ia temukan hanyalah yoongi yang sudah memasuki mobil yang segera melaju.

"ada apa dengannya? Aku merindukannya, kenapa ia seperti ini? Apa karena irene?" tanya Jimin pada dirinya sendiri

.

.

.

.

.

.

.

Di sebuah restorang sebuah keluarga besar tengah berkumpul, mereka masih memakai pakaian mereka yang mereka gunakan, terkecuali Jin yang sudah melepas renda mahkota dan bajunnya membuat ia memakai gaun biasa.

"bagaimana bisa Eunhye? Umma bertahun tahun mencarimu.. Hoseok sempat hampir gila karena kau yang menghilang sayang.. ia begitu bersedih.." ujar Himchan sambil meminum jusnya

"ceritanya panjang umma.. aku ditemukan oleh keluarga Cha terdampar di pantai, setelah itu aku dirawat dan diberi nama karena saat aku sadar aku tak mengingat apapun.. itulah sebabnya Jin, memanggilku Haeri. Setelah itu aku melamar di kantor Hosiki yang ternyata.. BOOM! Ia mengenalku tapi tidak memberitahu apapun, hingga saat aku sendiri yang bilang kalau aku lupa ingatan.." ujar Eunhye sambil menyuapkan daging di mulutnya.

"lalu bagaimana bisa unnie ingat?" tanya Jin

"Gikwang, teman Hosiki yang menyadarkanku, ia mempertemukanku dengan Youngjae unnie dan saat itu pula aku pingsan dan mengalami koma.. dalam koma aku mengingat semua ingatanku karena jelas sekali aku memimpikan Hosiki.." ujar Eunhye

"dan dia hampir mati eomma.. bahkan ia sudah mati, kalau saja tidak ada keajaiban saat itu.." ujar Hoseok.

"nappeunNam! Kenapa tidak memberitahu appa dan umma kalau kau sudah menemukan Eunhye huh?!" jejar Yongguk.

"waktu itu aku tidak yakin appa.." ujar Hoseok membela diri

"Yoong? Kenapa diam saja?" tanya Namjoon yang menyadari Yoongi yang sedari tadi hanya diam sambil mengaduk aduk kentang steaknya dengan saus.

"imo perhatikan kau hanya menatap piringmu.." ujar Jaejoong.

Yoongi mengangkat kepalanya dan tersenyum.

"kemana Jimin? Biasanya kau selalu bersama dengan jaksa itu Nuna.." ujar Taehyung, Yoongi menelekkan kepalanya.

"apa tidak ada topik lain sampai sampai kalian membicarakannya?"tanya Yoongi.

"kau berantem dengannya?" tanya Jungkook

"JUNG!" seru Yoongi sambil mengarahkan sumpitnya.

TTAKK!

Jin menggetuk kepala Yoongi

"jangan menunjuk orang dengan sumpit! Turunkan sumpitmu!" bentak Jin.

"sudah... Yoong, siapa namja itu? Temanmu?" tanya Namjoon semuanya pun menatap Ravi yang tersenyum kaku.

"ah iya! Ini Ravi, dia rekan kerjaku nanti di LA, dia notaris yang sangat hebat oppa!" ujar Yoongi.

"Ravi imnida.." Ujar Ravi sambil membungkuk sopan. Yongguk dan Hoseok mulai mensensor Ravi mengamatinya dengan jelas membuat Ravi sedikit tak nyaman.

"berapa umurmu nak?" tanya Yongguk saat selesai dengan minumannya.

"24 tahun ahjussi" ujar Ravi.

Sementara ravi ditanyai mereka semua sibuk dengan kegiatan masing masinghingga mereka selesai makan Jin berujar.

"sebelumnya terimkasih karena sudah mau datang di pernikahanku Ravi.." ujar Jin.

"sama sama Nuna, semoga bahagia.." ujar Ravi kembali

"jaga Yoongi baik baik di sana, Yoongi itu orang yang emosional, kalau saat marah ia akan memukul atau menangis.." ujar Jin sambil melap bibir jiho dengan tissue.

"baik nuna..."

"Ya! Jinnie, kenapa seenaknya menyerahkan Yoongi pada pria asing sepertinya?" jejar Hoseok tak terima.

"Ravi bukan pria asing oppa, ia teman kerja Yoongi... lagi pula siapa lagi yang akan menjaga Yoongi di LA? Apa oppa mau menyusulnya kesana?" tanya Jin

"tidak juga sih... tapi, aku sudah terlanjur kecewa dengan Jimin. Tanpa diberitahu Yoongi pun aku sudah tau.. lihat saja anak itu." Hoseok menimbang nimbang.

"tapi bukan berarti Jimin itu sama dengan Ravi Hoseok.. setiap lelaki berbeda wataknya" ujar Yunho

"Yoongi Nuna sudah dewasa, sudah saatnya menentukan pilihannya sendiri hyung, jangan dilarang terus, nanti yoongi nuna tidak akan pernah punya suami." Ujar Taehyung

"awas kau! Beraninya mengataiku seperti itu!" seru Yoongi.

"yoong.." Namjoon kembali menenangkan.

"lusa kalian berangkat kan? Hati hati dijalan.. " ujar Jin

"iya nuna hyung, saya usahakan saya akan menjaga Yoongi dengan baik, saya memang tidak bisa berjanji karena kita tidak bisa berjanji terhadap hal yang belum bisa diperkirakan.. tapi kalau saya membuat kesalahan silahkan saya bersedia jika ahjussi dan Hoseok hyung ingin membunuh saya.." ujar Ravi.

"Ravii~ jangan seperti itu.." ujar Yoongi merengek.

"astaga! Aku pasti salah lihat! Pasti ini mimpi! Yoongi merengek?! Yang benar saja..." ujar Jungkook

"pasti mimpi Jungkook..' ujar Eunhye menambahkan

Membuat semua orang tertawa lepas.. termasuk Ravi dan Yoongi.

"sebaiknya kita pulang beristirahat dan bersiap untuk nanti malam Jin.." ujar Namjoon.

"ya.. kalian kerumah umma dulu saja, baju kalian ada disana, jadi untuk menghemat waktu.." ujar Jaejoong. Jin mengangguk.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Jin tengah menatap langit malam seoul dari balkon kamar miliknya. Ia tak henti hentinya tersenyum kini ia menjadi istri seorang pria yang begitu ia cintai. Dan kini ia diboyong di rumah ini..

Rumah yang sederhana.. rumahnya memiliki 2 tingkat dengan 3 kamar tidur dibagian atas rumah ini dominan bercet putih dan abu abu sangat elegan memang.. dibagian halaman depan terdapat sebuah taman kecil yang dipenuhi dengan tanaman semak baby's breath berwarna putih pink dan biru. Rumah ini juga memiliki taman belakang yang luas.. dengan sebuah kolam ikan kecil yang di desaind khusus serta beberapa pohon kecil yang mengelilingi pagar pembatas. Tak hanya ditaman, di kamarnya pun memiliki banyak bunga... seperti saat ini, di balkon jin mrlingkar tanaman berbunga merayap berwarna ungu yang sangat cantik, dibagian sampingya terdapat berbagai macam bentuk bunga pot yang cantik.

Jin berterimakasih pada Namjoon, sudah memberikan ia kebahagiaan semacam ini.. kebahagiaan yang cukup membuat Jin berucap syukur berulang kali.

"sedang apa?" sepasang tangan kekar melingkar dipinggangnya membuat ia terkejut, aroma maskulin yang menguar jelas dari Namja yang sudah menjabat menjadi suaminya ini cukup menjelaskan bahwa ia baru saja sehabis mandi.

"kkamcagiya.. uh, jangan mengagetkanku seperti itu.." ujar Jin

"maaf, habis kau terlalu serius memandangi langit sambil tersenyum, jadi kukagetkan saja.." ujar namjoon membuat Jin menyikutnya.

"aku hanya bahagia... terimakasih Namjoon.." ujarJin mengeratkan pelukan Namjoon padanya.

"jangan berterimakasih padaku.. berterimakasihlah pada Jiho.. dia yang membuatku jatuh cinta padamu.." ujar Namjoon.

"Jiho.. pembawah kebahagiaan... "ujar Jin.

"sebaiknya kita masuk. Sudah tau malam dingin seperti ini.. kenapa memakai gaun malam huh? Kau ingin masuk angin?" jejar namjoon. Jin berbalik

"bagaimana yah..." Jin berujar sambil mengalungkan tangannya di pundak Namjoon

"aku sengaja.. karena ingin mnggoda suami baru ku ini.. kkkk..."ujar Jin

"jangan bercanda Jin.." ujar Namjoon datar.

"aku tidak bercanda... aku serius.." ujar Jin sambil memainkan jarinya di dada bidang namjoon.

"kalau begitu kau berhasil sayang.." Namjoon merendahkan intonasi suaranya dan berdalih mengecup cuping Jin.

"karena aku, tidak pernah gagal... nnnhhh~" Jin berujar ditegah desahannya Namjoon seperti menggelitikinya.

Jin mengeratkan rangkulannya membuat Namjoon beralih mengecupi leher jenjang miliknya dan memberikan beberapa hickey manis disana. Jin tidak tinggal diam tangannya kini mulai membuka kemeja piama Namjoon.

"kita masuk. Disini dingin, kita lanjutkan di dalam.." ujar Namjoon. Jin menggerling nakal dan melangkah masuk meninggalkan Namjoon yang menutup pintu.

CHUP~

Tepat setelah Namjoon berbalik ia segera mencium wanita yang kini menjadi istrinya tersebut, Jin tidak lagi terkejut, ia malah menikmati setiap ciuman dan lumatan Namjoon.

Jin membuka mulutnya membiarkan lidah namjoon mengeksplor lebih mulutnya membuat ciuman itu semakin panas. Entah siapa yang memulai, mereka kini sudah berada di atas aranjang dengan tubuh Namjoon yang half naked.

Namjoon melepaskan ciuman mereka karena Jin suda menepuk dadanya berkali kali. Tapi tidak sampai disitu, NamJoon mulai melepas tali gaun malam yang dipakai Jin membuat bahunya semakin terekspose.

Namjoon sebenarnya sudah tau kalau bentuk baju yang Jin pakai tidakmemakai bra jadi langsng saja ia melihat bagian dada Jin yang sudah mengeras.

Namjoon mengecupi bagian perpotongan tulang belikat milik Jin. Tangannya aktif meremasi bagian dada kanan milik Jin.

"aahhh~"

Jin meremas rambut Namjoon melampiaskan kenikmatan yang ia rasakan. Namjoon tersenyum seduktif, ia semakin turn on karena desahan seksi milik Jin.

Perlahan angannya mulai merambat turun ke bagian vital Jin yang sudah sangat basah. Namjoon menarik g string jin turun dan menggesekkan ibu jarinya di bagian clitoris milik Jin.

"eungh!"

Jin terkejut merasakan reaksi di bagian bawahnya, siapa suruh memang kenikmatan wanita terletak pada clitorisnya jadi jin langung saja ber reaksi. Jin membuka kakinya lebih lebar agar Namjoon lebih leluasa namun entah sengaja atau tidak lututnya mengenai bagian selatan Namjoon yang sedang bereaksi membuat namjoon mengerang.

"arghhh.. kau menggodaku baby? Huh?" ujar namjoonsambil memper-intens gerakan jarinya di clitoris jin

"ngghh~ tidak.. aku tak sengahh jahh" Jin mendesah seksi dihadapan Namjoon membuat ia semakin terangsang.

"aku membuatku semakin turn on baby." Namjoon memasukan jari tengah miliknya membuat Jin memekik

"akh!"

Namjoon tak diam setelah itu, ia langsung saja menggerakkan jarinya, mencium bibir jin ganas dan memilin nipplenya, membuat Jin merasakan 3 kenikmatan sekaligus.

"ahh.. ahhh..."

Jin terus mendesah, Namjoon kembali memasukkan satu jarinya lagidan berusaha menemukan titik terdalam milik Jin.

"AHK! Namjoonnhh... hhhngghh"

Jin turut menggoyangkan pinggulnya membuat Namjoon mempercepat gerakan tangannya. Jin merasa sesuatu akan keluar dari dalam vaginanya puncak gairahnya.

"namjoon akuhh.. dekathh..."

Jin mencengkram seprei kuat dan..

"ahhh.."

Iapun berhasil meraih puncak kenikmatannya. Namjoon mencabut jarinya dari dalam vagina Jin. Ia memandangi tubuh seksi jin yang mengkilap sempurnah membuatnya bergairah.

"kau capek hmm?" tanya namjoon sambil mengelusi rambut hitam milik Jin

"tidak akan capek sebelum suamiku meraih kenikmatannya.." ujar Jin mengelus dada bidang Namjoon.

Namjoon bangkit. Mengulas senyum yang menampilkan diple manisnya.

"jadi kita lanjutkan?" tanya namjoon. Jin mengangguk mengangkangkan kakinya mengundang namjoon untuk segera memasukinya.

Namjoon melepas celana piama tidurnya, membiarkan miliknya yang sedang ereksi itu terlihat oleh Jin. Wajah jin sudah memerah, baru kali ini ia melihat seorang pria yang sedang ereksi dihadapannya. Namjoon mengocok kejantanan miliknya, mengeluarkan sedikit precum untuk mempermudah ia untuk memasuki Jin nanti.

Entah mengapa, melihat Namjoon dihadapannya membuat Jin kembali basah dan terangsang, mungkin karena pengaruh keseksian namjoon. Namjoon mengecupi bibirnya berkali kali dan berujar di telinganya.

"kalau sakit cakar saja bahuku.. atau kita bisa berhenti.." ujar Namjoon. Jin mengangguk.

Namjoon mengarahkan miliknya tepat dihadapan milik Jin, menggesek gesekannya sebentar agar membuat Jin rileks dan mulai memasukannya. Namun, baru saja bagian ujungnya ang masuk Jin sudah mencengkram bahunya dan meringis.

"aaahh..."

Namjoon mendorong miliknya dengan sekali hentakan membuat jin berteriak memekik kesakitan.

"AAKHH!"

Airmata itu keluar, jin merasa sakit luar biasa, dirinya seperti dibelah dua namun, ia juga bahagia, ia bahagia karena telah berhasil menyerahkan miliknya pada orang yang tepat. Jin merasa sesuatu mengalir menuruni paha miliknya membuat ia tersenyum manis.

Berbeda dengan Jin Namjoon malah merasa sangat bersalah karena sudah membuat jin menangis, ditambah lagi dengan darah keperawanan milik Jin yang mengalir diantara batang miliknya dan paha mulusnya, membuat ia yakin bahwa jin pasti menahan sakit.

"kalau ini sakit, kita hentikan sayang.." ujar namjoon menatap mata sayu milik istri tercinta miliknya.

"tidak Namjoon.. ini kewajibanku sebagai istrimu aku akan melayanimu, tuntaskan hasratmu namjoon.. bergeraklah" Jin tersenyum. Namjoon mengangguk mengikuti keinginan Jin.

Namjoon mulai menggerakkan pinggulnya berusaha menikmati jepitan dari organ dalam milik Jin tersebut yang seperti memijat mijat miliknya.

"dimana.. hhh.. sayanghh?" Namjoon bertanya sambil terus melakukan kegiatannya.

Jin tiba tiba bergelinjang hebat akibat milik Namjoon yang mengenai titik miliknya didalam membuat ia merasa nikmat.

"disiutuh.. ah! Ya! Disitu sayanghh.."

Mendengar seruan Jin Namjoon makin gencar menumbuk titik milik Jin yang membuat istri tercintanya mendesah keras. Bagi Namjoon desahan Jin adalah nyanyian surga baginya.

Jin dapat merasakan Namjoon didalam sana lama kelamaan ia menikmati permainan namjoon, tak ada lagi rasa sakit, semuanya terbayar dengan rasa bahagia dan kenikmatan yang tiada tara. Kini jin tau bagaimana nikmatnya bercinta dengan orang yang sangat ia cintai yang tak lain adalah suaminya sendiri.

"aahh.. ahhh... Namjoon.. aku.." Jin merasa tubuhnya bereaksi

"bersama sayang.."

. Namjoon mempercepat gerakannya, bibirnya kini tak tinggal diam, ia melumat bibir Jin dengan nafsunya kedua tangannya aktif meremas buah dada milik Jin dan memelintir niplenya.

"Namjoon.. ahh.. ahhh..

"ngghh..."

"AAHH!"

.

Jin melenguh panjang, ia melenguh keras saat menumpahkan cairan cinta miliknya turun menyelimuti milik Namjoon yang berada dibawah sana. Cairan itu mengalir bersamaan dengan darah keperawanannya yang membuat Jin tersenyum bahagia.

Jin bisa merasakan cairan milik Namjoon yang tertumpah didalamnya membuat dirinya terasa hangat. Lagi- lagi Jin tersenyumia sangat bahagia, kini menjadi milik Namjoon seutuhnya. Kini, ia sudah menjadi istri Kim Namjoon..

"Namjoon.. terimakasih.."

Namjoon tersenyum, ia membelai rambut jin dan mengecup bibir manisnya.

"all for you princess"

"terimakasih sudah membuatku menjadi istrimu seutuhnya.. aku mencitaimu.."

Jin tersenyum. Namjoon menciumnya, berbagi lumatan kecil yang manis penuh cinta. Hanya cinta, dan tak ada nafsu di dalamnya..

Namjoon melepas ciumannya

"sama sama sayang.. aku pun bahagia dan sangat mancintaimu.."

Jin tersenyum

"one more please honeyhhh~" jin merayu mengelus dada bidang Namjoon. Namjoon tersenyum miring.

"sure. But first ride me honey.."

"aaahhh.. ahhh..."

.

.

Selanjutnya pikir sendiri :v

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Yoongi menatap sarapannya enggan, wajahnya yang kusut khas baru bangun membuat ia terlihat buruk.

"makanlah Yoong, Jin dan Namjoon sebentar lagi akan kesini... kapan keberangkatanmu?" tanyaHimchan ketika Yoongisudah meminum susunya

"sekitar jam 12 siang.." ujar Yoongi

"woaahh, berantakan sekali, persis seperti penyihir.." ejek Hoseok yang baru saja duduk di bangkunya.

"Yaa! Oppa!" Yoongi berseru dengan garpu ditangannya.

"jangan begitu Hoseok.. Yoongi adikmu.. dan sebentar lagi dia akan pergi.. kau pasti akan merindukannya" ujar Yongguk

"jangan banyak bicara cepat habiskan sarapan kalian.. " ujar Himchan final.

.

.

.

Yoongi sudah bersiap siap pergi namun deringan ponsel yang memekakan telinganya membuat ia terpaksa mengangkat ponselnya.

"halo?" ujar Yoongi

"Yoongi ini aku Jimin.." ujar Jimin Yoongi hendak mematikan ponselnya namun suara Jimin yang memohon membuat ia terpaksa mengurungkan niatnya

"kumohon jangan matikan ponselnya, aku sudah menunggu lama untuk hal ini.. Min Yoongi kumohon, jangan pergi.. apalagi pergi dengan bajingan sialan yang entahlah siapa namanya.."

"tapi apa urusanmu? Aku pergi untuk pekerjaan,dan jangan pernah panggil Ravi dengan sebutan bajingan! Kau bahkan lebih bejad daripada dia!" seru Yoongi

"oke! Baiklah! Tapi hanya untuk sekali ini saja.. kumohon Yoongi ayo bertemu, aku memohon."

"Kamong pukul 11" ujar Yoongi kemudian memutuskan panggilan itu.

Yoongi kembali melihat jam yang tergantung di jam dinding, masih lagi memang namun ia sudah mendengar keributan dibawah, pasti Ravi sudah tiba.

Yoongi menyambar bando hitam miliknya dan segera kebawah dengan senyuman merekah.

.

.

.

.

.

.

.

.

"jaga anak ini baik baik Ravi, jangan sampai buat dia mengamuk." Ujar jin sambil membelai rambut pirang milik Yoongi.

"tentu nuna.." jawab Ravi

"jaga dirimu yoongi, appa menyayangimu" ujar Yongguk sambil memeluk Yoongi

"mian kita tidak bisa pergi Jiho masih memerlukan kunjungan psikolog.. mian.." ujar Himchan sambil merapikan anak rambut Yoongi yang menjulur

"gwaenchana eomma,, aku bisa mengerti.. uljimaa... Yoongi tak akan lama umma.." ujar yoongi saat melihat mata Himchan yang mulai berembun.

"gurae.. kha~" ujar Himchan.

"anak nakal! Jangan pernah membuat Ravi kerepotan disana.. dan kau Ravi, aku tahu kalian kan tinggal satu apartemen karena perusahaan kalian sudah kehabisan ruang apartement. Tapi bukan berarti aku menyetujui itu. Jangan pernah menyentuh adikku atau kupastikan kau berlinang darah." Ujar Hoseok.

"oppa jangan seperti itu.. aku akan baik baik saja.." ujar Yoongi

"hubungi kami jika kau membutuhkan sesuatu yoongi. Sekarang pergilah.." ujar Namjoon memisah pertengkaran Hoseok.

Dan Yoongi pun pergi, menaiki mobil mewah milik Ravi. Namun dalam mobil pikirannya mendilema, antara ia harus pergi ke tempat yang ia maksud atau ia harus melanjutkan perjalanannya ke bandara.

"Ravi kita ke Kamong terlebih dahulu ya.." ujar Yoongi sambil tersenyum manis membuat Ravi terkejut sekaligus terpesona.

"ba-baiklah"

.

.

.

.

Yoongi turun bersama Ravi dari mobilnya dengan tas di tangannya, Yoongi berjalan sedikit tergesa, ia tidak ingin kehilangan yang terakhir kalinya. Ia sadar ia harus memperjuangkan kisah cintanya bukan menerima apapun yang akan Jimin lakukan terhadapnya, itulah alasannya Yoongi berada disini, ia ingin Jimin sadar bahwa dirinya pun merasakan hal itu. Perasaan itu.

Walaupun Yoongi sepolos dan sebaik anak kecil ia tetap memiliki hati nurani. Hati yang berteriak saat merasa sakit dan terbunuh dengan perasaan sakit dan rindu, itulah sebabnya Yoongi ingin melepas perasaan itu, ia ingin Jimin menjadi miliknya bukan milik orang lain.

Yoongi mendorong pintu itu dengan senyum merekah. Ia mengedarkan pandangannya yang tiba di sebuah meja yang terdapat seorang pria dengan surai kemerahan yang sedang mengobrol dengan seseorang.

Yoongi menghampiri meja itu, Ravi masih setia mengekorinya dari belakang. Namun sepertinya kenyataan berkata lain, Yoongi malah melihat pemandangan yang tak seharusnya ia lihat.

Jimin, berciuman dengan Irene tepat di depan matanya. Catat! DI DEPAN MATANYA!.

.

BRAKK!

.

Yoongi membanting tasnya dihadapan Jimin dan Irene hingga membuat 'kegiatan' mereka terhenti. Jimin melotot ia terkejut melihat Yoongi. Para pengunjung restoran mengalihkan pandangannya kearah mereka.

"jadi? Kau ingin bertemu untuk mempertontonkan kemesraanmu dihadapanku HAH?!" seru Yoongi

Wajahnya memerah, matanya berair hendak ingin menangis.

"Yonggi maksudku bukan seper—"

"LALU APA! APA KAU TAU BERAPA LAMA AKU MENAHAN RASA SAKIT DAN MARAH SEPERTI INI!" Yoongi meneteskan airmatanya.

PLAK!

Yoongi menampar Jimin dengan keras. Ia membeku.

"hiks! Ambil Irene! Ambil! Aku tak akan merebutnya darimu. Ambil dia.."

"Yoongi kumohon dengarkan aku dulu, ini bukan seperti apa yang kau lihat.." Jimin menahan lengan Yoongi.

"LEPASKAN! KAU BAJINGAN! MATI KAU!"

Yoongi tiba tiba berlari menembus kerumunan penghuni menarik pintu dengan cepat, Ravi mengejarnya. Namun teepat Yoongi keluar kearah jalan..

"YOONGI AWAS!"

.

BRAAAKKK!

.

"YOONGI!"

.

Sebuah bus melaju dari arah kanan tepat dengan Yoongi yang berlari kearah jalan. Tabrakan pun tak terhindar. Tubuh Yoongi terpelanting kuat membentur troroar jalan. Membuat bus oleng dan menabrak lampu penerang jalan tepat disamping Yoongi yang bermandikan darah. Serpihan kaca mobil menancap dibeberapa bagian tubuh Yoongi.

"MINGGIR!" Ravi menerobos komplotan orang yang mengelilingi Yoongi yang bermandikan darah.

"SIAPA SAJA PANGGIL AMBULANS!" serunya.

Ravi memeluk Yoongi berusaha meredakan darah segar yang terus mengalir dari kepalanya membuat rambut pirang miliknya tertutup dengan cairan kental berwarna merah yang keluar dari tubuhnya.

Jimin membatu melihat Yoongi dihadapannya yang bermandikan darah. Keringat dingin mengalir dari pelipisnya wajahnya pucat melihat yoongi yang terbujur ditanah.

Suara ambulans yang menggema membuat orang orang menjauh. Beberapa perawat segera mengangkat Yoongi dan membawanya ke ambulans begitu pula dengan Ravi yang segera pergi.

Jimin tak tinggal diam ia berlari menghiraukan Irene yang berusaha mengejarnya.

"Jimin Tunggu!"seru irene. Jimin berbalik

"Khabayo! KHA!"seru Jimin mengusir Irene. Irene terdiam

"apa kau tidak sadar! Kau yang membuat hubunganku dan Yoongi rusak hah?! Saat kau muncul! Semuanya terjadi! Kau pembawa sial! KHABAYO NAPPEUN YEON!" seru Jimin sambil berbalik pergi ke arah mobilnya.

.

.

.

.

,

.

.

.

"Yoongi! Yoongi... hikss..." seorang wanita paruh baya segera berjalan dengan sedikit tertatih ke arah ruang operasi yang tepat dihadapannya

"Ravi... dimana Yoongi Ravi.. hikss.." wanita itu tak kuasa lagi menahan berat tubuhnya hingga ia limbung berlutut.

"ahjumma... ahjumma.. bangun.." Ravi meraih tubuh Himchan

Himchan terisak lemah. Ravi memeluk wanita yang hendak memasuki usia 50 tahun ini berusaha menenangkan walau hatinya pun tak tenang. Bau darah yang melekat dibajunya tetap ia hiraukan. Luka di tangannya pun ia biarkan.

"ada apa ini Ravi? Kenapa bisa seperti ini?" tanya Yongguk

"Yoongi kecelakaan.."

Tepat saat Ravi berujar, seorang pria dengan rambut merahnya berjalan tergesa kearah ruangan tempat orang berkumpul.

"hosh.. hosh.."

"untuk apa kau kesini?" tanya Ravi

"aku... aku.."

"aish! Bajingan ini masih berani ternyata setelah kau melukai adikku kau masih berani menampakkan wajahmu huh?" Hoseok menarik kerah baju milik Jimin membuatnya sedikit tercekik.

"apa kau sadar seberapa bajingannya kau SAEKYA!"

BUGHH..

Hoseok meninju Jimin dengan tangannya membuat Jimin tersungkur.

"sudahlah oppa memukulnya tidak akan menyelesaikan masalah.." Jin menarik tangan Hoseok dan menjauhkannya dari Jimin.

"jaga Jiho.. Jimin ikut aku..." ujar Jin

.

.

.

"kau sudah tau kesalahanmu kan?" tanya Jin

"nu-nuna.."

"kalau sampai terjadi apa apa terhadap Yoongi, aku akan betul betul membunuhmu." Jin berujar dingin membuat jimin memucat.

"pergilah dan jangan pernah temui Yoongi lagi." Ujar Namjoon yang tiba tiba datang.

"Hyu-hyung.. tapi aku mencintainya.. aku ingin minta maaf dan ingin memperbaiki ini—"

"kalau kau mencintainya kau tidak akan pernah melukainya Jimin! Sudah kuberitahu! Jangan main main dengan Yoongi! Hikss.." Jin memotong perkataan Jimin sambil terisak

"aku tidak melukainya Nuna.. kumohon maafkan aku.." Jimin memohon.

"kau tidak hanya melukainya Jimin.. kau juga mencelakai dan membuatnya sakit.." Namjoon berujar menatap Jimin.

"hyung, kumohon beri aku satu kesempatan.. aku inginmemperbaikinya hyung.. aku juga ingin menjelaskan kalau Irene itu—"

"PERGILAH JIMIN! Aku sudah tak akan pernah memberikan kesempatan apapun padamu! Yoongi! Yoongi disana! Meregang nyawa karenamu!" Jin mendorong bahu jimin kasar. Airmata terus bercucuran dari mata indahnya.

"seharusnya KAU! Tidak mengajaknya bertemu. Seharusnya KAU! Tidak membuat ia menangis! Seharusnya KAU! Tidak pernah KENAL dengan YOONGI! Pergi! Jangan tampakkan wajahmu lagi!"

Seusai menumpahkan isi hatinya Jin melangkah pergi diikuti dengan Namjoon.

.

.

/

.

.

.

.

.

/

.

.

.

Sudah seminggu Yoongi tergolek dirumah sakit, kondisinya makin membaik. Karena kecelakaan yang menimpa Yoongi penerbagan mereka harus di batalkan dan diundur Hingga Yoongi membaik dan mampu bekerja,.

Kini Yoongi sudah beristirahat dirumah.. sebenarnya ia sudah bisa masuk bekerja, namun ia telalu malas untuk menggerkakkan badannya saat ini,.. mungkin besok atau lusa..

"heii.. bagaimana kabarmu?" seorang pria berambut hitam muncul dengan membawa sebuah bingkisan.

"aku baik baik saja.. dan sangat bosan kau tau.." jawab wanita berambut dirty blond dihadapannya.

"Yoongi.. lihat apa yang aku bawa...! Jjang!" pria itu mengangkat sebuah tas karton dan menaruhnya dipangkuan wanita bernama Yoongi itu.

"eskrim Han haelmoni? Waahh... aku merindukan ini,," ujar yoongi.

"Haelmoni merindukanmu"

"Ravi katakan pada Haelmoni aku juga merindukannya,,," ujar Yoongi sambil memakan eskrimnya.

"jeba... lihat.. bibirmu.. dasar Yoongi" Ravi mengabil tisu membersihkan sudut bibir Yoongi

"jadi kita pergi minggu ini?" tanya Yoongi.

"tergantung apa kau sudah sembuh atau tidak.." ujar Ravi

"tentu saja sudah.." ujar Yoongi

"kalau begitu minggu ini.. jaga kondisimu baik baik Yoongi.. aku tidak mau kau terluka lagi.. itu menyakitkan.."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Setahun setelah kepergian Yoongi dan Ravi ke LA kehidupan kembali seperti biasa, Namjoon kembali ke dunia hiburan dengan membawa bomb besar bagi penggemarnya.. ia kembali bersama istri tercintanya..

Setelah perjuangan yang mereka lalui kini mereka dapat bahagia bersama keluarga kecil mereka. Jiho yang sudah mulai melangkah ke usia sekolah kini mulai menunjukan bakat miliknya yang suka bergelung dengan alat tulis. Kini Jiho sudah bersekolah di taman kanak kanak.. dan ia selalu menunjukkan kelebihannya yang begitu istimewa membuat namjoon dan Jin bangga karenanya.

.

Jungkook dan Taehyung pun sudah mulai melangkah ke rana serius. Tepat minggu kemarin mereka melangsungkan pertunangan mereka yang dihadiri oleh jutaan media massa di seluruh korea.

Memang jalan cinta mereka tidak bisa dibilang mulus berkali kali mereka menemui kesulitan hanya karena sebuah rumor yang mereka terima, bahkan mereka sampai bertengkar hebat. Namun karena kekuatan cinta mereka menyadari bahwa mereka saling membutuhkan...

.

Hoseok dan Eunhye sudah menikah sebulan yang lalu, kini mereka memutuskan untuk menetap sementara di busan. Jauh memang, namun inilah kehidupan mereka. Kehidupan mereka sudah bahagia.. walaupun kala itu sempat dipisahkan oleh jarak, waktu bahkan maut.

.

Jimin menghilang entah kemana, ia hanya meninggalkan pesan bahwa ia meninggalkan pekerjaannya di korea dan pergi ke negara lain untuk memperbaiki hidupnya. Hidupnya yang candu akan seorang wanita bersenyum manis semanis gula yang selalu menghantui mimpinya membuat hidupnya tidak tenang bahkan jika ke ujung dunia sekalipun.

.

Irena sudah meninggal setahun yang lalu, setelah tau Jimin mencampakkannya ia menjadi seperti orang gila, yang terlalu tidak niat untuk hidup. Hingga pada suatu malam ia mengakhiri hidupnya tanpa sengaja ia salah menjejakkan kakinya hingga ia terjatuh dari lantai 2 perusahaannya.

.

Yoongi dan Ravi, kini mereka menjalani hidup masing masing. Terikat? Tidak! Mereka tidak terikat suatu hubungan, tapi merekalah yang membuat mereka seperti menjalin sebuah hubungan entah apa itu..

.

Walaupun seperti itu mereka sudah bahagia dengan kehidupan masing-masing.

.

'karena kau aku ingin bertahan disini sampai mati.'—Seok Jin

.

'karena kau membuatku jatuh cinta dan merasa memiliki arti cinta yang sesungguhnya aku ingin disini, bersamamu dan keluarga kita'—Namjooon

.

'terimakasih karena kau sudah membuatku jatuh cinta'—Taehyung

.

'pertemuan yang tak terduga, dan dimulai dari rasa gengsi kini,aku bahagia karena kau..'—Jungkook

.

'aku bertahan karena kau.'—Hoseok

.

'terimakasih karena kau sudah mau menunggu wanita sepertiku kembali..'—Hyemi

.

'karena kau aku merasa begitu brengsek,karena kau aku merasa menjadi manusia paling tak berguna karena sudah mencintaimu.. tunggu aku, aku akan kembali..'—Jimin

.

'seperti ada yang kosong disini, seperti ada yang hilang dari hidupku, tapu aku tak tahu apa itu.. karena kau.. aku merasa tak sempurna.'—Yoongi

.

'karena kau aku ingin membuatmu tersenyum dan bahagia sepanjang waktuku..'—Ravi

.

.

.

.

.

.

.

.

END

.

Huwaaa anyeonghaseyo, gimana rasanya setelah ditinggal elin dua bulan huhh? Miaannn... elin lagi sibuk bnget.. oh iya ini bagian yoonminnya ngegantung kan? Tenang aja elin bakalan bikin sequelnya kok... judulnya Reset the time. Kenapa elin gantungin? Ya.. kan ini cast utamanya Namjin, ya kalo namjin bahagia yaudah end sampe situ.. heheheh soo for yoonmin shipper jangan gebukin elin... oh iya, yang mau kritik sama saran ff apa yang elin bagus bikin atau genrenya gimana sama castnya apa langsung comment aja... okeee?

Tunggu aja, nanti elin update kok.. hehehe sekian.. ppyong~~