I'm Fine

11.

"Draco…" Hermione mendesah, menyembunyikan wajahnya di tengkuk Draco meredam suaranya. "Harder…Harder…"

Draco melalukan sesuai apa yang diinginkan Hermione, maka ia mendorong lebih kencang lagi dan lebih dalam lagi. Kaki Hermione yang melingkar dipinggangnya makin mencengkramnya erat begitu juga tangannya yang melingkar di leher Draco. Mereka bercinta di bawah shower.

Draco tidak bisa menemukan waktu untuk mereka bercinta selain di shower dan itu harus benar-benar dilakukan dengan cepat. Maura sedang terkena cacar Muggle dan saat malam ia dan Hermione harus menjaganya agar Maura tidak menggaruk bekas cacarnya kemudian saat siang mereka tidak bisa melakukannya karena Maura –entah bagaimana- bisa muncul tiba-tiba seperti hantu. Ia dan Hermione tidak mau ambil risiko.

Draco baru menyadari apa yang dikatakan Blaise selama ini benar, punya anak membuat kehidupan sex pasangan berubah, dan pilihannya hanya dua, menjadi lebih menantang dan bergairah atau menjadi membosankan.

Untungnya sepertinya kehidupan sex-nya dengan Hermione tidak menjadi membosankan. Sure, tentu saja ia dan Hermione harus berhati-hati, mereka harus berhati-hati dan berjaga-jaga agar Maura tidak menemukan kedua orangtuanya dalam posisi yang tidak pantas dilihat anak berumur empat tahun.

Seperti saat ini. Hermione sudah selesai memandikan Maura, kemudian ia dan Draco bersama-sama mengoleskan gel keseluruh bintik cacar Maura yang sudah bertambah banyak. Setelah membuat Maura berjanji untuk tidak menggaruk bintik cacarnya mereka membiarkan Maura duduk di depan televisi sementara mereka berkata akan mandi sebentar, ya, sebentar.

"Draco… Draco…I'm close…" Hermione mendesah.

Draco tidak mengatakan apa-apa, ia mencari bibir Hermione dan menciumnya kemudian mengerang dan bergerak lebih cepat dan lebih kencang lagi, membuat Hermione dan dirinya mencapai puncak bersama dan keduanya terengah-engah.

Hermione kemudian dengan cepat melepaskan dirinya dari Draco, menciumnya sekali lagi lalu benar-benar mandi dan membersihkan seluruh tubuhnya sementara Draco masih butuh waktu untuk mengatur nafasnya.

Hermione tertawa melihat Draco yang meletakkan tangannya di pegangan dekat shower. "Kau sepertinya lelah sekali." Hermione sengaja meledek Draco. "Apa kau sudah kehilangan stamina seorang Slytherin Sex God-mu yang dulu kau bangga-banggakan itu?" Hermione bertanya, sengaja memancing Draco.

Draco membuka mulutnya tidak percaya apa yang baru saja dikatakan Hermione.

"Granger!" Draco berseru kesal.

Hermione yang sedang mengeringkan tubuhnya dengan handuk hanya menyeringai kemudian keluar dari kamar mandi mereka. Ia sengaja meledek Draco, pria itu sama sekali tidak kehilangan staminanya, sama sekali tidak. Tapi memang perempuan akan lebih mudah untuk pulih sementara laki-laki butuh sedikit waktu.

Hermione yakin dalam waktu kurang dari lima menit Draco pasti bisa melakukannya lagi, ia hanya ingin meledek Draco saja.

Draco kemudian dengan cepat membersihkan tubuhnya dan berencana membalas perkataan Hermione barusan. Saat ia keluar dari kamar mandi Hermione sudah tidak lagi berada di kamar jadi ia dengan cepat memakai pakaiannya dan keluar kamar.

"Pagi Son." Suara Lucius Malfoy yang menyapanya membuat sekujur tubuhnya merinding.

.

Maura sedang duduk di depan televisi. Sejauh ini ia suka tinggal disini, Daddy punya televisi yang sangat besar dengan banyak saluran yang menayangkan kartun di pagi, siang, sore, dan malam hari, tapi tentu saja Mommy hanya mengizinkannya menonton beberapa kartun saja.

Kemudian apartement Daddy juga berada di lantai paling tinggi di gedung ini dan mereka punya kaca besar yang benar-benar sangat besar yang membuatnya bisa melihat kota London.

Mommy bilang jika cacarnya sudah sembuh Mommy dan Daddy akan mengajaknya ke istana Ratu Inggris dan berjalan-jalan mengelilingi London.

Maura memegang erat boneka naganya dengan kedua tangannya, bukan karena ia takut, tapi karena ia ingin mencegah dirinya agar tidak menggaruk bintik-bintik cacarnya.

Dalam dua hari sekujur tubuhnya dipenuhi oleh bintik-bintik cacar yang benar-benar gatal, saat malam apalagi, ia sampai menangis meraung-raung karena gatal dan benar-benar ingin menggaruknya tapi tidak bisa karena Mommy dan Daddy terus-menerus memegangi tangannya.

Mommy bilang kalau ia menggaruk bintik cacarnya maka bintik itu akan menjadi luka, dan berbekas dan membuat kulitnya jelek. Maura sebenarnya tidak peduli kulitnya akan jelek atau tidak, tapi Grandpa dan Grandma bilang jika kulitnya jelek ia akan terlihat seperti ikan.

Maura tidak mau terlihat seperti ikan.

Jadi ia duduk di sofa yang besar sekali ini memegang boneka naganya sekuat tenaga dan berusaha tidak menggaruk atau menyentuh bintik cacarnya.

Mommy dan Daddy bilang mereka hanya akan mandi sebentar, tapi ini sudah terlalu lama. Maura menghela nafasnya.

Tiba-tiba suara bel apartement mereka berbunyi. Maura berpikir sebentar tidak ada banyak orang yang datang ke tempat mereka, paling-paling hanya perempuan yang suka membersihkan, tapi ia menyebalkan. Benar-benar menyebalkan.

Jika Daddy sedang tidak melihat ia akan melotot pada Maura dan sengaja menyenggolnya dengan alat penghisap debu atau kemocengnya, ia juga melakukan hal yang sama pada Mommy, tapi kemudian jika Daddy ada di ruangan yang sama dengannya maka ia akan bersikap manis dan tersenyum.

Maura tidak tahu bagaimana seseorang bisa melakukan hal seperti itu. Ia tahu kalau Mommy sudah meminta Daddy menyuruh cleaning lady itu tidak datang lagi, tapi Daddy merasa kalau itu pekerjaannya dan hal itu diperlukan untuk menjaga agar apartement mereka tetap bersih.

Maura tidak menyukai perempuan itu, sama sekali tidak. Jadi kemarin sore saat Daddy sedang memangkunya sambil membacakan cerita ia meminta Daddy menyuruh cleaning lady itu untuk tidak datang lagi.

"Daddy." Maura memanggil ayahnya begitu mereka menyelesaikan satu buku dongeng.

"Iya?" Draco bertanya.

"Apa kau bisa menyuruh agar Cleaning Lady itu tidak datang lagi?" Maura bertanya pelan.

"Kenapa memangnya?" Draco bertanya.

Maura bingung bagaimana menjelaskannya, ia melirik ke arah Hermione yang sedang sibuk dengan berkas-berkasnya di meja makan berharap Mommy-nya akan membantunya menjelaskan tapi sepertinya Mommy terlalu sibuk.

Draco menunggu. Jika Maura juga meminta hal yang sama dengan Hermione darinya maka kemungkinan besar cleaning lady itu memang bermasalah.

"Aku tidak menyukainya." Maura mencoba memberitahu, berharap alasannya cukup, karena ia bingung bagaimana menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya.

Draco tertawa pelan. Maura benar-benar sepertinya saat masih kecil, bahkan dengan ibu seperti Hermione saja ia masih bisa bertindak seperti spoiled brat.

"Kenapa memangnya?" Draco bertanya. "Apa yang dia lakukan padamu?" Draco bertanya. Jika ia adalah Lucius tentu saja ia akan langsung mengambil telepon dan menyuruh agar cleaning lady itu dipecat, tapi ia sudah berjanji pada Hermione akan menjadi ayah yang baik, dan ayah yang baik akan mengajari anaknya hal yang baik, memberi contoh yang baik.

Maura seketika manyun, bibir bawahnya maju dan ia benar-benar terlihat lucu.

"Aku tidak menyukainya," Maura mengulangi kalimatnya. "Tidak bisakah kau menyuruhnya tidak datang lagi?" Maura berkata lagi.

"Maura, kau harus memberitahu Daddy kenapa kau tidak menyukainya." Draco memberitahu pelan. "Kau tidak bisa begitu saja tidak menyukai seseorang." Draco memberitahu.

Draco berteriak dalam dirinya, ia tahu kalau apa yang dikatakannya barusan pada Maura adalah bullshit. Ia berkali-kali, beratus-ratus kali bahkan tidak menyukai seseorang bahkan membenci seseorang tanpa alasan yang jelas.

Maura makin merajuk. "Cleaning Lady itu selalu melotot ke arahku, ia selalu melihatku dan Mommy dengan tatapan yang membuatku takut. Ia bahkan terus menerus menyenggolku dengan alat penyedot debunya atau kemocengnya." Maura menjelaskan.

"Bisakah ia tidak perlu datang lagi?" Maura bertanya, berharap Daddy-nya akan mendengarkan permintaannya.

Tiba-tiba wajahnya Draco berubah.

"Daddy, kau tidak marah padaku kan?" Maura bertanya, kuatir ayahnya marah padanya.

Draco menggeleng. Ia kemudian menurunkan Maura dari pangkuannya dan berjalan ke arah Hermione.

"Hermione." Draco memanggil Hermione.

"Iya?" Hermione bertanya, ia kemudian menyadari wajah Draco yang sepertinya kesal.

"Kenapa kau tidak bilang kalau cleaning lady sialan itu mengganggu Maura?" Draco bertanya sepertinya berusaha menahan amarahnya.

"Menggangu bagaimana?" Hermione bertanya. Ia tahu kalau cleaning lady itu memang menyebalkan ia sudah memberitahu Draco untuk memberitahu Draco agar cleaning lady itu tidak datang lagi tapi Draco tidak mau mendengarkannya.

"Ia selalu melotot pada Maura, membuat anakku itu takut, ia bahkan sengaja menyenggol Maura dengan alat penghisap debunya dan kemocengnya!" Draco memberitahu.

Hermione kaget. "Astaga, aku tidak tahu hal itu." Hermione berseru, menutup mulutnya dengan tangannya. "Aku tahu cleaning lady itu memang tidak menyukaiku dan Maura, ia selalu melihat kami sinis, tapi kukira hanya itu, aku tidak tahu kalau ia berani menggangu Maura." Hermione berseru. Ia kemudian meningalkan berkasnya dan berjalan menghampiri Maura dan bertanya apa lagi yang sudah dilakukan cleaning lady itu padanya.

Draco berusaha menahan amarahnya, benar-benar berusaha tapi sepertinya tidak bisa.

Ia menuju pesawat teleponnya yang berada di meja dekat ruang tamu. Ia akan menelepon pengurus apartement ini dan menyuruhnya langsung memecat cleaning lady sialan tidak tahu diuntung itu.

Hermione melihat Draco dan sadar apa yang akan dilakukan Draco.

"Draco!" Hermione berseru.

"Apa?" Draco bertanya.

"Apa yang akan kau lakukan?" Hermione bertanya.

"Apa lagi? Tentu saja aku akan memecat cleaning lady itu." Draco memberitahu seakan-akan apa yang akan dilakukannya seharusnya sudah bisa ditebak Hermione.

"Draco, kau tidak bisa begitu saja membuat orang lain kehilangan pekerjaannya." Hermione memberitahu.

"Kau berharap aku membiarkannya begitu saja? Kau berharap aku akan membiarkan orang yang menggangu Maura begitu saja?" Draco bertanya tidak mengerti kenapa Hermione masih mencegahnya.

"Lagipula kenapa kau tidak bilang padaku kalau cleaning lady itu menggangu kalian?" Draco bertanya.

Hermione hanya menggeleng, tidak bisa mengatakan apa-apa lagi saat Draco sudah menelepon petugas apartement ini dan menyuruhnya memecat cleaning lady yang biasa membersihkan apartementnya.

Maura tahu menurut Mommy itu tidak benar, tapi entah mengapa ia senang sekali saat Daddy memecat cleaning lady itu.

Maura tiba-tiba menggerutu, ia tidak tahu kenapa Mommy dan Daddy-nya menghabiskan waktu begitu lama di kamar mandi, dan bel apartement mereka terus-menerus berbunyi.

Maura takut, bagaimana jika cleaning lady itu datang dan ingin membalasnya karena mengadukannya pada Daddy.

"Mommy, Daddy, ada seseorang di pintu." Maura berseru tapi kemudian ia tidak ada respon dari kedua orangtuanya. Haruskah ia melihat siapa yang datang?

Maura melompat dari sofa kemudian berjalan ke arah pintu memegang erat boneka naganya. Mommy sudah mengajarinya bagaimana caranya menekan intercom dan melihat siapa yang datang, tapi Mommy sudah memberitahunya berkali-kali kalau ia tidak boleh bicara pada orang asing apalagi membiarkan orang asing masuk, tapi mungkin saja yang datang Grandpa atau Grandma kan? Maura meyakinkan dirinya sendiri.

"Siapa?" Maura bertanya saat tidak melihat siapa-siapa di layar intercom.

"Aku mencari Draco Malfoy." Maura mendengar suara menjawabnya.

"Anda siapa?" Maura bertanya lagi.

Orang itu diam, tapi kemudian tidak lama ia menjawab. "Aku ayahnya."

Maura diam, ayahnya Daddy. Daddy-nya Daddy. Maura menekan tombol open kemudian berjalan ke arah pintu dan membukakan pintu.

Maura tersenyum lebar. "Selamat pagi."

Maura memperhatikan pria yang berdiri di depannya, ia menggunakan jubah pajang berwarna hitam, rambutnya pirang platinum, sama seperti rambutnya dan rambut Daddy.

"Kau siapa?" Lucius Malfoy bertanya begitu melihat seorang anak kecil yang dipenuhi bintik-bintik mencurigakan berdiri di depannya dengan memegang boneka naga.

"Aku Maura." Maura menjawab.

"Apa kau Daddy-nya Daddy?" Maura bertanya. Lucius belum menjawab saat Maura sudah berkata lagi. "Silahkan masuk, Daddy sedang mandi." Maura menjawab kemudian menggeser tubuhnya dari depan pintu dan membiarkan Lucius masuk.

.

Kaget, terkejut, terkesima, terperanjat, terguncang, heran, semua kata-kata itu bahkan tidak bisa menjelaskan perasaan Lucius Malfoy saat ini.

Awalnya ia hanya datang ke sini untuk menyeret Draco Malfoy pulang, dan memarahinya dan memberinya sedikit tekanan agar tidak menerus membuat masalah.

Tapi bayangkan bagaimana perasaannya saat ia menemukan anak perempuan yang paling cantik yang pernah ditemuinya berdiri membuka pintu, bahkan dengan begitu banyak bintik-bintik mencurigakan itu ia tetap tidak bisa tidak terkesima melihatnya.

Kemudian yang membuatnya makin kaget adalah bahwa anak perempuan bernama Maura itu bertanya apa ia adalah ayahnya ayahnya. Daddy-nya Daddy, begitu katanya tadi. Apa itu berarti anak perempuan ini adalah anaknya Draco?

Tentu saja ia yakin kalau anak kecil bernama Maura ini adalah anaknya Draco, yang berarti cucunya, tapi kemudian siapa ibunya? Kenapa Draco menyembunyikan hal ini darinya? Terlalu banyak pertanyaan, kepalanya mau pecah.

Maura duduk di sofa di depannya, ia terlihat sedikit ketakutan, tentu saja, Lucius sadar bahwa ia kemungkinan besar membuat cucunya itu takut karena ekspresi wajahnya dan terlebih lagi ia tidak mengatakan apa-apa dari tadi.

Maura memasukkan tangan kanannya ke mulutnya sementara tangan kirinya memegang erat boneka naganya. Mommy dan Daddy memberitahunya bahwa ia tidak boleh menggaruk bintik cacarnya tapi mereka tidak bilang ia tidak boleh memasukkan tangannya ke mulut.

"Um, Hallo." Lucius menyapa Maura pelan. Ia bisa mendengar suara air mengalir dan sepertinya Draco dengan siapapun ibu dari anak ini sedang terlibat dalam kegiatan tertentu.

Maura mengeluarkan tangannya dari mulutnya kemudian menyapa balik Lucius. "Hallo."

"Apa kau sedang sakit?" Lucius bertanya.

Maura mengangguk pelan, masih takut.

Lucius memperhatikan bintik-bintik disekitar tubuh cucunya itu. Ia menyadari apa yang terjadi kemudian matanya membelalak. "Astaga apa kau terkena Dragon Pox?" Lucius bertanya kuatir.

Maura menggeleng. "Tidak, ini bukan cacar naga, Daddy juga mengira begitu, tapi ini cacar air." Maura memberitahu. "Menurut Mommy ini tidak berbahaya."

Lucius ingin bertanya siapa nama ibunya, tapi kemudian ia merasa tidak enak. Sebaiknya ia menunggu sampai Draco dan ibu dari cucunya ini muncul. Tapi ia baru pertama kali mendengar cacar air, cacar jenis apa itu? Apa ibunya seorang Halfblood? Atau lebih buruk Mudblood?

"Um, Mr. Malfoy apa kau ingin minum sesuatu?" Maura bertanya pelan.

"Kenapa kau memanggilku Mr. Malfoy?" Lucius bertanya lembut.

"Um, apa aku harus memanggilmu Tuan?" Maura bertanya lagi, ia benar-benar takut sekarang.

Lucius menggeleng dan tersenyum, bisa kalian percaya itu? Lucius Malfoy tersenyum. "Kau bisa memanggilku Grandfather."

Maura tersenyum. "Grandfather apa kau mau minum sesuatu? Aku bisa mengambilkanmu air, tapi aku tidak bisa membuat kopi atau teh." Maura menawarkan.

Lucius menggeleng. "Aku tidak mau minum apa-apa, terimakasih banyak." Lucius menjawab.

Mereka kemudian duduk diam, menunggu dua orang itu selesai dengan urusan kamar mandi mereka.

.

Hermione ingin pingsan, faktanya jika ia perempuan lemah pasti ia sudah pingsan tapi ia bukan wanita lemah.

Hermione Granger baru keluar dari kamar saat ia menemukan Lucius Malfoy duduk di sofa di depan Maura.

Hermione hanya berdiri di tempatnya, kakinya seperti terpaku ditempatnya dan tidak tahu harus melakukan apa ia bahkan tidak tahu harus mengatakan apa.

Sepertinya Lucius sama kagetnya dengan dirinya. Lucius juga hanya duduk diam tidak mengatakan apa-apa.

"Mommy, kenapa lama sekali?" Maura bertanya kemudian turun dari kursinya dan menghampiri Hermione.

Hermione sedang berpikir apa yang harus dikatakannya, apa yang harus dilakukannya, apa ia harus langsung membawa Maura lari dari sini sekarang?

Pintu kamar dibuka lagi dan Draco keluar dari sana.

"Pagi Son." Lucius menyapa Draco.

.

"Apa yang kau lakukan disini?" Draco bertanya begitu mendapatkan kesadarannya lagi.

"Apa begitu reaksimu begitu melihat ayahmu Draco?" Lucius bertanya.

Draco tidak menyangka hari ini akan menjadi hari yang buruk.

"Um, Hermione bisa kau bawa Maura ke kamar?" Draco bertanya pelan, tidak ingin pertengkarannya dengan Lucius atau apapun yang akan terjadi antara dirinya dengan Lucius disaksikan oleh Hermione dan Maura.

Hermione tidak mengatakan apa-apa ia kemudian menggandeng anaknya ke arah kamar Maura.

"Aku tidak tahu kau punya anak Draco." Lucius berkata berusaha tetap tenang sementara otaknya mencerna apa yang baru saja terjadi.

Draco duduk di sofa tepat di depan Lucius.

"Apa maumu?" Draco bertanya tegang, apapun yang akan dikatakan Lucius apapun yang akan dilakukannya Draco tidak peduli, ia akan melawan ia akan berjuang untuk keluarganya sekarang.

"Kenapa kau tidak memberitahuku dan Ibumu kalau kau punya anak? Terlebih lagi dengan Mud…."

"Silahkan pergi!" Draco berkata dingin. "Jika kau tidak bisa memanggil ibu dari anakku dengan sebutan yang layak silahkan pergi!" Draco memotong Lucius sebelum kata-kata terkutuk itu keluar dari mulutnya.

Lucius mengangkat tangannya, menandakan ia mengerti. "Aku tidak akan mengatakan kata-kata itu." Lucius berkata. "Tapi kenapa kau tidak memberitahu kami kalau kau punya anak, terlebih lagi dengan Ms. Granger." Lucius berseru.

Draco menghela nafasnya. Ia belum ingin menjelaskan apa-apa tentang Maura dan Hermione pada Lucius, terlebih lagi ia sedang berusaha membangun keluarganya dari awal.

Lucius menunggu.

"Aku akan menjelaskan apa yang terjadi, tapi tidak sekarang." Draco berkata. "Aku akan datang ke manor dan menjelaskan apa yang terjadi padamu dan juga Mother, tapi tidak sekarang." Draco berkata.

"Maura sedang tidak sehat dan aku tidak akan meninggalkannya untuk sementara ini, dan aku juga tidak akan membiarkan kau berada disini lebih lama karena sepertinya kau berhasil membuatnya takut." Draco berkata, ia sempat melihat wajah Maura tadi dan ia bisa menduga kalau Lucius pasti sudah mengirim terror pada anaknya itu.

Lucius menarik nafasnya, ia baru akan mengatakan sesuatu saat Draco memotongnya lagi.

"Aku tidak ingin mendengarkan apapun darimu Father." Draco berkata. "Aku tidak akan membiarkanmu ikut campur lagi dalam hidupku."

Lucius baru akan mengatakan sesuatu saat Draco lagi-lagi memotong perkataannya.

"Pergilah, pergi sekarang dan aku akan datang beberapa hari kedepan atau tidak sama sekali." Draco memberitahu, berdiri dari duduknya.

Lucius ingin marah, sudah berapa kali Draco memotong perkataannya? Hal itu membuatnya marah. Lucius berdiri dan dengan cepat berjalan pergi.

"Ah, dan satu lagi Father." Draco berkata sebelum Lucius terlalu jauh.

"Jika kau berani melukai Maura atau Hermione, atau melakukan sesuatu pada mereka, aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri." Draco berkata dingin.

.

"Mommy, kenapa Grandfather terlihat menakutkan?" Maura bertanya. Ia duduk di pangkuan Hermione yang duduk dikursi goyang menghadap ke jendela besar.

Hermione bingung bagaimana menjawab Maura. Kenapa anaknya ini bahkan dengan mudahnya memanggil Lucius Malfoy dengan sebutan Grandfahter?

"Mommy." Maura bertanya.

"Maura kau tidak boleh memasukkan tanganmu kemulut." Hermione mengalihkan pertanyaan Maura.

Maura langsung manyun. "Mommy kapan aku akan sembuh?" Maura bertanya.

"Um, seharusnya tidak lebih dari dua minggu." Hermione memberitahu.

"Mommy, apa Mommy dulu juga terkena cacar sepertiku?" Maura bertanya.

Hermione tertawa. "Tentu saja, Mommy waktu itu sudah berumur enam tahun." Hermione bercerita.

"Grandma memaksa Mommy minum obat, air putih yang banyak, istirahat dan sama sekali tidak boleh melakukan apa-apa, tapi kalau Grandma sedang tidak ada dirumah Grandpa akan diam-diam memberikan Mommy es krim." Hermione mengingat masa kecilnya.

"Bolehkah aku minta es krim?" Maura bertanya tiba-tiba dan Hermione langsung menyesal bercerita.

"Um, Mommy akan dengan senang hati memberikanmu es krim, tapi di kulkas tidak ada es krim." Hermione mengelak.

"Tidak bisakah Daddy membelikanku satu?" Maura bertanya.

"Nanti kita tanya Daddy ya." Hermione memberitahu. "Apa kau menggaruk cacarmu hari ini?" Hermione bertanya.

"Tidak, sama sekali tidak." Maura memberitahu.

"Benarkah?" Hermione bertanya.

Maura mengangguk.

"Baguslah kalau begitu." Hermione memberitahu.

Tiba-tiba pintu kamar Maura dibuka dan Draco masuk dengan wajah cemas. Ia berjalan dengan cepat ke arah Hermione dan Maura kemudian berlutut di depan mereka.

Draco meraih tangan Maura dan memegangnya erat. "Maura, orang tadi tidak melakukan apa-apa padamu kan?" Draco bertanya memastikan.

"Orang tadi?" Maura bertanya. "Maksud Daddy Grandfather?" Maura bertanya.

"Grandfather?" Draco bertanya bingung.

"Maura, kenapa kau terus menyebutnya Grandfather?" Hermione akhirnya bertanya.

"Karena Grandfather memberitahuku bahwa aku boleh memanggilnya Grandfather." Maura menjawab dengan polosnya.

"Dia mengatakannya padamu?" Draco bertanya.

Maura mengangguk. "Aku bertanya pada Grandfather apa ia ingin minum sesuatu dan memanggilnya Mr. Malfoy tapi kemudian ia memberitahuku bahwa aku bisa memanggilnya Grandfather." Maura memberitahu.

"Benarkah?" Draco bertanya.

Maura mengangguk lagi.

"Maura." Draco memulai. "Daddy ingin kau berjanji padaku dan Mommy bahwa kau tidak akan membuka pintu untuk orang asing lagi." Draco memberitahu. "Apa itu sudah jelas?" Draco bertanya lagi.

Maura mengangguk kemudian mengaitkan kedua jarinya kelingkingnya satu dengan jari kelingking Draco dan satu dengan jari kelingking Hermione.

"Daddy, boleh aku minta es krim?" Maura bertanya tiba-tiba.

-To Be Continued-

Keep Reviewing Guys! Semakin banyak Review semakin cepat update!