A/N : Balasan Review ada di akhir story, dengan beberapa penjelasan.
One Ok Rock_-_Sonzai Shomei
.
.
φ©++Atarashi_Seikatsu++©φ
DISCLAIMER : I Don't own Naruto and High School DxD.
Author : Hyosuke Ryukisi
Rating : T+
GENDRE : Adventure, Romance, Family, Drama, Fantasy, Humor.
Pair : Naruto x Seiren(OC) x Naomi(OC) x (Ra-ha-si-a)
ShikaxSona
Warning(s) : AU, Semi-Cannon,Mainstream, Typo(s), OOC, Bahasa tidak baku, dan berantakan.
Summary : Karena sebuah kecelakaan di dunia asli mereka, kedua sahabat ini harus rela terjebak dalam masalah yang sangat merepotkan di dunia yang mereka singgahi sekarang. Namun mereka bertekad, akan menyelesaikan permasalahan di dunia yang mereka tempati saat ini. Cinta dan kebahagiaan pun juga ikut mewarnai hari – hari mereka di sana.
"Normal"
"Thinking"
"God/Bijuu/Monster"
"Jutsu"
'Flashback/Efek'
.
.
Chap 11
.
.
.
.
.
Pagi kini kembali menjelang. Di kota Kuoh, lebih tepatnya di kediaman Hyoudou. Kini di depan rumah kediaman Hyoudou, tiga orang baru saja keluar dari dalam rumah, satu orang laki – laki yang kita ketahui sebagai Hyoudou Issei, dan dua orang perempuan yang dapat di identifikasi sebagai Rias Gremory, sang ketua dari Occult Research Club dan sekaligus king dari Issei, dan perempuan terakhir adalah keluarga baru dari Peerage Rias, yaitu Asia Argento, yang sudah beberapa hari ini resmi menjadi bagian dari Iblis kebangsawanan Gremory.
"Kami Berangkat…" Ucap ketiganya secara bersamaan. Setelah mendapat jawaban dari dalam rumah, mereka kemudian mulai melangkahkan kaki mereka untuk segera berangkat ke sekolah. Perjalanan mereka kini hanya diisi dengan keheningan saja. Namun, kita dapat melihat sesuatu yang sangat mengganggu dari wajah yang ditunjukkan Issei.
"Khukhukhu …. Aku benar – benar beruntung, karena terluka parah saat berhadapan dengan iblis liar semalam…. Sehingga itu membuatku bisa melihat tubuh indah dari Buchou ..."
Itu adalah pikiran mesum yang ada di dalam otak Issei, tak lupa tampang mesum yang kini kian tampak di wajahnya. Dan entah beruntung atau apa, Rias dan juga Asia sama sekali tidak memperhatikannya.
"…. Ohhhh … aku benar – benar iblis yang sangat beruntung….. aku sungguh berterimakasih Tuh-…. I-Ittaaaiii"
Dan begitulah akhirnya, Issei langsung meringis kesakitan karena lupa akan statusnya sekarang yang merupakan Iblis. Dan itu membuat Rias dan Asia langsung mengalihkan pandangan mereka pada Issei yang kini terlihat meringis sambil memegangi kepalanya.
"Kau kenapa Issei?" tanya Rias dengan bingung, Asia sendiri hanya menatap khawatir pada Issei.
"A-Ah… aku tidak apa – apa Buchou."
"Kau yakin?" Tanya Rias kembali memastikan. Dan Issei membalasnya dengan anggukan mantap. Issei kemudian mengalihkan tatapannya pada Asia yang masih menatapnya penuh khawatir.
"hehehe …. Tenanglah Asia-chan. Aku baik – baik saja." Ujar Issei meyakinkan Asia, dan dibalas dengan anggukan mengerti.
"Aku memang benar – benar beruntung …. Dikhawatirkan oleh dua orang gadis seperti ini… hehehe" Namun, wajah yang bersahabat dari Issei, tidak sebanding dengan pemikiran mesum di dalam otaknya.
"Baiklah kalau begitu …. Mari kita lanjutkan lagi perjalanannya. Kita bisa terlambat nanti." Ujar Rias lagi.
"Ha'I Buchou."
Setelah Issei dan Asia menjawab secara bersamaan, mereka bertiga kembali melanjutkan perjalanan mereka yang sempat tertunda barusan. Dan kembali keheningan melanda mereka bertiga. Namun, keheningan itu terpecah setelah Asia angkat bersuara.
"Issei-san …. Bukankah itu Naruto-san?" Ujar Asia saat mata biru jernihnya, melihat Naruto dari kejauhan. Issei yang mendengar perkataan Asia barusan langsung memfokuskan pandangannya ke depan. Dan mata cokelatnya kini melihat sosok Naruto, yang sepertinya sedang melakukan aktivitas rutinnya.
"Kau benar Asia-chan …." Ujar Issei sambil tersenyum senang saat bisa melihat sosok yang selalu dia panggil Shisou itu. Sementara Rias, hanya menatap Issei dan Asia dengan bingung, dan dia kemudian melihat ke depan, pada seseorang pemuda berambut pirang berantakan, yang terlihat sedang melakukan lari pagi.
"SHISOU…"
Issei langsung berteriak memanggil Naruto. Sementara Naruto yang mendengar suara yang tidak asing di telinganya itu, langsung memfokuskan pandangannya ke arah depan, dan di sana dia bisa melihat Issei, yang kini tengah melambaikan tangan ke arahnya. dia tersenyum simpul dan mulai melakukan lari dengan perlahan mendekati Issei.
"Shisou?" beo Rias sambil menatap Issei dan juga Asia dengan pandangan penuh tanda tanya.
"Hmmmm …. Dia adalah orang yang sempat mengajariku seni beladiri, Buchou…. Itulah sebabnya kenapa aku memanggilnya Shisou"
Rias hanya mengangguk mengerti, dia kemudian kembali mengalihkan pandangannya, pada sosok yang Issei panggil sebagai guru yang kini sudah berada di hadapan mereka.
"Ahhh … Ohayou." Sapa Naruto pada ketiganya.
"Ohayou Shisou/Naruto-san…" Issei dan Asia menjawab secara bersamaan. Naruto hanya tersenyum simpul mendengarnya, kemudian tatapannya dia alihkan pada Rias, yang kini hanya diam menatap mereka.
"Hmmm …. Rias Gremory. Apakah aku benar?" Tanya Naruto kemudian pada Rias. Rias sempat sedikit tersentak karena di tanya tiba – tiba oleh orang asing di hadapannya itu. Dia juga memasang wajah heran.
"Ha'I … aku adalah Rias Gremory." Ujar Rias sambil sedikit membungkukkan badannya, Naruto hanya tersenyum simpul.
"Jadi benar yah …. Aku Naruto Uzumaki, senang berkenalan denganmu Gremory-san." Ujar Naruto memperkenalkan diri dan sambil berojigi pada Rias.
"Senang juga bisa berkenalan denganmu Uzumaki-san."
"Panggil saja aku Naruto…."
Balas Naruto kemudian, dan dibalas dengan anggukan mengerti oleh Rias.
"Ne Shisou …. Shisou kemana saja. Aku sama sekali tidak melihatmu selama empat hari terakhir ini?" tanya Issei pada Naruto. Yah tak heran Issei bertanya begitu, sejak insiden penyelamatan Asia, Issei sama sekali tidak bertemu dengan Naruto.
"Hmmm …. Aku ada keperluan mendadak dalam beberapa hari terakhir ini. Jadi, yahh …. Aku sama sekali tidak bisa melakukan aktivitas seperti biasanya." Jelas Naruto kemudian.
"Begitukah …. Pantas saja." Naruto hanya mengangguk atas perkataan Issei barusan. Pandangannya kemudian dia alihkan Pada Asia.
"Sepertinya …. Asia-chan kini sudah menjadi seorang siswi sekolah?" Ujar Naruto, saat dia melihat penampilan Asia yang kini sudah memakai seragam khusus murid dari Kuoh Academy.
"H-Ha'I …. Ini adalah hari pertamaku memasuki sekolah."
"Begitukah …. Semoga beruntung di hari pertamamu Asia-chan." Ujar Naruto sambil memberikan semangat pada Asia.
"Ha'I …. Arigatou Naruto-san.." Ujar Asia sambil tersenyum pada Naruto. Namun, Naruto langsung sweatdrop saat dia mengalihkan tatapannya pada Issei dan melihat Issei yang kini tengah memasang tampang mesumnya kembali.
"Ne~ Shisou …. "
Issei kemudian sedikit mendekat pada Naruto. Dan membisikkan perkataannya secara perlahan. Dan jangan lupakan wajah mesumnya yang kian terlihat sangat jelas. Dan itu membuat perempatan siku siku tercetak pada kepala Naruto.
"Apakah Shisou pernah melihat Oppai secara langsung …. Kau tahu Shisou, melihat Oppai secra langsung benar – benar sang-….."
PLAKK
Belum juga menyelesaikan perkataan vulgar-nya, Issei kini malah langsung sedikit terpental kesamping, dan langsung terjatuh dengan posisi menungging, setelah dia mendapat sebuah tamparan keras pada pipinya. Dan sang pelaku yang tidak lain adalah Naruto, hanya mendengus setelah melakukan penamparan. Sementara Rias dan juga Asia kini hanya menatap cengok kepada keduanya.
"Kenapa Shisou malah menamparku?" Ujar Issei setelah dia bangun dari posisi jatuhnya. Naruto kembali mendengus setelah mendengar perkataan Issei.
"Huhh …. Di dalam peraturan negara sama sekali tidak tertulis, bahwa orang mesum sepertimu tidak boleh mendapatkan siksaan…."
"Heyy …. Sejak kapan itu adanya." Ujar Issei dengan agak sewot.
"Hehh …. Dari dulu Negara ini dibentuk memang sudah seperti itu. Lagipula, bukankah aku pernah bicara padamu …. Jangan pernah menunjukkan tampang anehmu itu di hadapanku."
"Tapi Shisou …. Kita sebagai seorang lelaki sejati harus menikmati masa muda kita …."
"Masa muda dengkulmu …." Naruto kini semakin dibuat jengkel saat Issei kini mulai mengucapkan Ikrar-nya.
"Ikutlah bersamaku Shisou …. Kita akan menikmati masa muda dengan dikelilingi oleh Opp-…."
Issei kembali tak bisa melanjutkan perkataannya, setelah sebuah sepatu kini mendarat dengan mulus pada wajahnya. Dan itu membuat Issei kembali tumbang dengan mata yang kini membentuk seperti obat nyamuk. Sang pelaku pelemparan sendiri, yang ternyata adalah Naruto, kini langsung tersenyum puas.
"Hehhh ... jika kau kembali melanjutkan Ikrar mesummu itu, bukan hanya sepatu yang akan melayang padamu nanti Issei …. Akan aku pastikan hal yang akan lebih menyakitkan akan langsung menimpamu." Ujar Naruto dengan penuh penekanan pada setiap perkataannya. Issei yang sudah bangun dari posisi terjungkalnya, hanya mengangguk patuh dengan lesunya.
"Sepertinya, kalian berdua sangat akrab sekali…" Ujar Rias, setelah dia tersadar dari rasa cengonya. Naruto yang medengar itu hanya tertawa.
"Yahh …. Begitulah. Aku memang dekat dengan bocah mesum ini. meskipun terkadang aku sangat jengkel dan terkadang serasa ingin membunuh orang mesum ini saat itu juga karena hal hal mesum yang selalu dia ucapkan." Ujar Naruto sambil tersenyum.
"Hey …. Itu terlalu berlebihan Shisou …" Ujar Issei dengan takut – takut.
"Hmmm …. Menurutku itu adalah hal yang wajar jika menyangkut kau Issei." Ujar Naruto sambil memasang sebuah seringai menyeramkan menurut Issei dan membuatnya langsung merinding. Asia yang melihatnya hanya tertawa kecil, dan Rias hanya tersenyum simpul melihat interaksi keduanya.
"Nah …. Sebaiknya kalian segera berangkat, kalau tidak kalian akan terlambat. Lagi pula aku ingin melanjutkan lari pagiku." Ujar Naruto mengingatkan. Sementara tiga orang yang diingatkan langsung tersentak.
"Ahh …. Benar juga, sebaiknya kita berangkat." Ujar Rias setelah dia mengingat tujuan mereka untuk pergi ke sekolah.
"Ha'i/Ha'i…" Jawab Issei dan Asia secara bersamaan.
"Baiklah …. Kalau begitu, kami pergi dulu Shisou." Ujar Issei, yang di balas anggukan oleh Naruto. Dan Issei beserta Rias, dan Asia kembali melanjutkan perjalanan mereka. Meninggalkan Naruto yang kini juga mulai melanjutkan lari paginya, setelah memungut sepatunya yang tadi dia gunakan untuk menikam wajah dari Issei.
'Gremory Manor in Underworld'
Sementara itu, di kediaman Gremory, kini semua keluarga sedang melakukan sarapan. Semua anggota keluarga berada di meja makan. Dan melakukan kegiatan makan dengan tenang. Setelah beberapa menit akhirnya mereka semua sudah menyelesaikan acara makan mereka. Sang kepala Clan, Lucius selaku Lord Gremory langsung berdeham sehingga membuat perhatian semuanya langsung tertuju pada sang Lord Gremory.
"Seiren …."
"Ha'I Otou-sama …" Jawab Seiren saat sang ayah menyebutkan namanya.
"dari cerita yang kudengar dari kakakmu …. Apakah benar, kalau kau kini menguasai ilmu berpedang?" Tanya Lucius pada Seiren. Sementara Seiren yang mendengar pertanyaan ayahnya hanya menghela napas, kemudian mengangguk.
"Kenapa kau merahasiakan hal ini dari kami semua?" Tanya Lucius kembali. Sepertinya dia benar – benar ingin menginterogasi putri bungsunya itu.
"Sebenarnya, tidak ada alasan khusus kenapa aku merahasiakan hal ini dari kalian semua …. Namun, Naruto-kun bilang padaku, bahwa sebaiknya aku merahasiakan hal ini. dan jika waktunya tepat, aku akan menunjukkan hasil latihanku ini pada semuanya." Jelas Seiren.
"Satu hal lagi …. Kenapa kau melakukan hal sejauh itu, Seiren?" Tanya Lucius dengan serius. Seiren yang mendengar pertanyaan itu, tak langsung menjawab, dia kini terlihat memejamkan matanya, sepertinya dia kini sedang mencoba merangkaikan kata agar semuanya bisa mengerti.
"Aku ingin merasakan kebebasan …."
Semua orang di sana kini langsung dibuat bingung atas perkataan Seiren barusan.
"Aku ingin bebas seperti Rias yang bisa melakukan hal apapun, meskipun kadar ketegasan kalian semua sama, baik padaku maupun Rias …. Namun, kalian semua sama sekali tidak membiarkanku merasakan kebebasan ruang yang sama seperti Rias. Aku tahu, kalian melakukan itu hanya demi menjamin keselamatanku karena diriku yang hanya mempunyai tekanan Youki yang tidak sekuat Rias."
Semua orang hanya diam, mereka lebih memilih mendengarkan apa yang dikatakan Seiren tanpa mempunyai Niatan untuk menyela sedikitpun.
"…. Karena itulah, aku meminta Naruto-kun untuk melatihku ilmu berpedang agar aku bisa menjadi seorang iblis yang kuat, dan bisa menjaga diriku sendiri tanpa membebani seluruh anggota Keluarga Gremory. Dan juga agar aku bisa menjadi seorang bagian clan Gremory yang selalu berada di depan, dan tidak selalu bersembunyi di balik punggung kalian. Aku sudah lelah jika harus terus sembunyi dan tak ikut berjuang"
Setelah selesai menjelaskan semuanya, kini Seiren hanya menundukkan kepalanya saja. Sementara semua anggota keluarga hanya bisa diam. Mereka kini seperti tengah tenggelam dalam pikirannya masing – masing.
"Seiren …. Kemarilah." Ujar Lucius setelah beberapa saat, memecahkan lamunan semua orang. Seiren, kemudian tanpa pikir panjang, langsung menurut. Dia kemudian bangkit dari posisi duduknya dan mulai melangkah ke arah samping dari Ayahnya.
Setelah berada di samping ayahnya, Seiren hanya menundukkan kepalanya tanpa melihat ke arah pada wajah sang Ayah.
"Kami bangga padamu …. Seiren"
Seiren dengan cepat langsung mengangkat kepalanya dan menatap pada terkejut pada sang Lord Gremory yang kini tengah tersenyum lembut khas seorang ayah padanya. Dia kemudian langsung mengalihkan direksi pandangannya, pada Ibu dan kakaknya. Dan dia bisa melihat kini sang ibu yang tengah tersenyum bangga padanya, dan sang kakak Shirzechs yang kini tengah tersenyum sambil mengacungkan jempol padanya. Dan tak lupa Grayfia yang tersenyum lembut padanya.
"S-semuanya …. Arigatou." Seiren berucap dengan penuh rasa bahagia pada semuanya. Dan dibalas dengan tawa halus dari semuanya.
"Aku benar – benar bangga …. Mempunyai tiga anak yang sangat mempunyai tekad kuat seperti mereka …. Terimakasih Naruto, berkatmu kini Seiren bisa menjadi seorang Gremory sejati." Pikir sang kepala keluarga dengan penuh Syukur sambil menatap seluruh anggota keluarga yang ada.
.
φ©++Atarashi_Seikatsu++©φ
.
'Kuoh Academy'
Sementara itu di Kuoh Academy, semua murid kini tengah menikmati dan menghabiskan waktu istirahat mereka. Begitupula dengan salah satu tokoh utama kita, Shikamaru Nara yang kini tangah menikmati waktu istirahatnya di atap sekolah seperti biasanya.
Namun, sepertinya waktu istirahatnya akan segera berakhir saat pintu masuk atap langsung dibuka oleh seseorang. Dan sang pembuka pintu yang tidak lain adalah sang Kaichou, Sona Sitri. Sona yang melihat Shikamaru yang kini tengah tertidur di salah satu bangku khusus yang berada di atas atap. Sona yang melihat itu, hanya menghela napas berat. Dia kemudian mulai melangkahkan kakinya mendekati Shikamaru.
"Kenapa aku harus selalu berurusan dengan si pemalas ini setiap hari …. Cih. Jika bukan karena tugas sebagai seorang ketua dewan sekolah, aku benar – benar tak akan melakukan hal seperti ini." itulah keluhan yang berada di dalam pikiran Sona kali ini. sepertinya Sona kini benar – benar menjadi seorang perempuan yang sangat emosional jika sudah menyangkut Shikamaru.
"Bang-…."
"Stop …."
Sebelum dia menyelesaikan perkataannya, Shikamaru langsung menyela semua perkataan yang akan Sona keluarkan.
"Hoaaammmm …. Aku tahu apa yang akan kau katakan, jadi kau tak perlu melanjutkan ceramahanmu itu karena aku sudah bosan mendengarnya." Shikamaru berucap tanpa merubah posisinya bahkan dia sama sekali tidak membuka matanya sedikitpun. Sementara dengan Sona, kini wajahnya sudah memerah sempurna. Dia sepertinya sangat kesal dengan Shikamaru sekarang.
"Kalau kau sudah tau …. Kenapa sekarang kau masih berdiam diri di sini. Segera kembali ke kelasmu sekarang juga." Sona berujar dengan penuh penekanan pada setiap perkataannya. Sementara, Shikamaru kini membuka sedikit matanya, dan langsung menatap pada Sona.
"Merepotkan saja …. Nee Kaicou …. Bagaimana jika kita melakukan sebuah taruhan saja."
"Taruhan?"
"Aku mendengar bahwa kau adalah seorang pemain catur terbaik di sekolah ini dengan rekor tanpa kekalahan …. Bagaimana jika aku menantangmu bermain catur dengan taruhan, jika aku menang aku akan mendapatkan sebuah kebebasan membolos untuk hari ini dengan catatan bahwa aku mendapat sebuah dispensasi darimu. dan jika kau yang menang itu terserah kau …. Bagaimana menurutmu?" Shikamaru memberikan sebuah penawaran. Sona yang mendengar perkataan Shikamaru barusan sepertinya sedikit tertarik. Sona kini terlihat sedang mempertimbangkan dulu apa keputusannya.
"Baiklah kalau begitu, Aku terima …. Namun, jika kau sampai kalah kau harus menuruti semua perkataanku." Ujar Sona menerima tantangan dari Shikamaru.
"Ya ya ya …. Terserah kau saja Kaichou…"
Shikamaru kemudian langsung mengubah posisinya menjadi duduk. Dan kemudian Dia mengambil sebuah papan catur yang ternyata sudah di persiapkan Shikamaru sebelumnya, dan dia simpan di bawah kursi yang dia duduki sekarang. Sona yang melihat itu sempat mengangkat sebelah alisnya.
"Jadi dia sudah mempersiapkan ini sejak awal." Pikir Sona saat melihat papan catur yang ada pada genggaman Shikamaru. Sona kemudian langsung ikut duduk di kursi yang sama dengan Shikamaru. Untunglah kursi ini panjang sehingga membuat mereka bisa melakukan permainan catur dalam satu bangku. Shikamaru dan Sona langsung memasangkan bidak – bidak mereka, Shikamaru mengambil bidak berwarna hitam dan Sona berwarna putih.
"Baiklah …. Karena waktu yang kita punya tinggal sedikit …. jadi pada pertandingan ini, hanya akan dilakukan satu ronde saja." Ujar Shikamaru setelah dia selesai memasangkan semua bidaknya. Sona hanya mengangguk setuju.
"kalau begitu …. Ladies First." Lanjut Shikamaru lagi.
Merasa sudah di beri lampu hijau, Sona mulai menjalankan bidaknya. Dan itu menjadi pertanda bahwa permainan kini mulai berjalan.
"Sebaiknya aku melakukan langkah cepat untuk mengakhiri ini…" Pikir Sona di sela – sela dia menjalankan bidaknya. Namun, setelah beberapa saat Sona kini dibuat kerepotan oleh Shikamaru yang ternyata bisa mengimbanginya dan bahkan membuatnya terpojok.
Permainan kini sudah berjalan 8 menit, dan waktu istirahat tinggal menyisakan 2 menit lagi. Dan tak ayal itu membuat Sona sedikit agak panik, sehingga membuatnya sedikit hilang konsentrasi. Sementara Shikamaru, dia kini hanya bersikap biasa saja dan kemudian tersenyum simpul. Lalu saat waktu tepat menunjukkan sembilan menit permainan berjalan Shikamaru langsung melakukan serangan penutupan.
"Checkmate"
Sona langsung dibuat terbengong saat dia melihat kini bidak Raja miliknya sudah terkunci dan tak bisa melangkah kemanapun.
"Maaf kaichou …. Sepertinya aku yang memenangkan pertandingan ini. Dan sesuai perjanjian di awal …. Aku bisa membolos untuk hari ini." Ujar Shikamaru dengan puas atas kemenangannya.
"B-Bagaimana …. Bisa?" Sona sepertinya masih tenggelam dalam keterkejutan-nya. sepertinya dia masih belum mempercayai bahwa dia mengalami kekalahan dengan telak. SHikamaru hanya mengangkat bahu, dia kemudian menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.
"Aku minta tanding ulang …." Sona langsung meminta pengulangan, dengan pandangannya sama sekali tak lepas dari papan catur.
"Hmmm …. Maaf Kaichou tapi perjanjian sudah di sepakati. Jadi, tidak ada pertandingan ulang." Ujar Shikamaru dengan santai. Sementara Sona yang tidak terima baru akan menyampaikan sebuah protes namun, langsung terhenti saat bel pertanda masuk sudah berbunyi. Dan itu membuatnya langsung mendecih kesal.
Sona kemudian dengan kesal langsung berdiri dan mulai melangkahkan kakinya untuk segera pergi. Namun, suara dari Shikamaru langsung menghentikannya.
"Jangan terlalu kesal karena menerima sebuah kekalahan Kaichou …. Sebenarnya kau bisa saja memenangkan permainan ini. namun, karena rasa panik, itu membuatmu kehilangan konsentrasi sehingga membuatmu mengalami kekalahan. Jadi, janganlah terlalu di ambil hati." Shikamaru memberi nasihat pada Sona. Sementara Sona yang mendengar itu langsung menghela napas perlahan untuk menenangkan emosinya. Sepertinya dia setuju akan apa yang diutarakan oleh Shikamaru barusan.
"Nee Kaichou…. Jika kau memang berminat, aku siap menerima tantanganmu lain kali." Lanjut Shikamaru kembali. Sona langsung membalikkan badannya pada Shikamaru.
"Baiklah …. dan pada pertandingan berikutnya, aku akan pastikan kaulah yang akan menerima kekalahan." Ujar Sona dengan optimis.
"Hehh …. Coba saja kalau kau bisa." Ujar Shikamaru dengan senyum simpul di wajahnya. Dan langsung kembali membaringkan tubuhnya, setelah dia menyimpan kembali papan catur ke tempat semula. Sementara Sona, dia kini sudah kembali melanjutkan langkah kakinya untuk kembal kekelas sehingga meninggalkan Shikamaru sendiri di atap yang kini tengah memejamkan matanya.
Sona kini terus melangkahkan kakinya menuruni tangga secara perlahan.
"Lain kali akulah yang akan memenangkan permainan." Pikir Sona dengan senyum simpul yang menempel dan kini terpampang pada wajah cantiknya. Sepertinya sang pewaris clan Sitri ini, sudah mendapatkan seorang rival sekarang.
.
φ©++Atarashi_Seikatsu++©φ
.
Naruto Uzumaki, sang tokoh utama kita ini kini tengah menikmati waktu bersantainya. Dia kini tengah berjalan di trotoar di pertengahan kota Kuoh.
"Ahhh …. Setidaknya akuakan menikmati waktu istirahat kali ini." Gumam Naruto dengan riangnya. Sepertinya dia sangat senang karena mendapatkan waktu Naruto kini terhenti di depan sebuah café.
"Mungkin secangkir kopi akan sangat terasa nikmat."
Naruto tanpa buang waktu langsung melangkahkan kakinya masuk kedalam café tersebut, namun dia sempat menghentikan langkahnya saat dia melihat sebuah papan di pengumuman di samping pintu masuk café. Di sana tertulis, 'Café Maid : Special Even, Neko' . Naruto hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum geli dan kemudian langsung membuka pintu masuk café secara perlahan.
'Krincing'
"Selamat datang Goshujin-sama…"
Suara perempuan yang sedikit familiar di telinganya, langsung menyambut Naruto saat sesudah Naruto membuka pintu café secara sempurna, dan saat melihat sang penyambut itu, Naruto langsung diam mematung.
"Err …. H-hikari-san..?" Naruto mengucapkan sebuah marga itu dengan sedikit ragu – ragu.
Sementara sang maid, langsung menegakkan tubuhnya, saat sang pelanggan di hadapannya ini menyebutkan namanya. Dan saat itulah, mata violetnya bisa melihat sosok pemuda yang tidak asing dimatanya, kini tengah tersenyum dengan canggung ke arahnya.
"Kauu…" Sang Maid yang tidak lain adalah Naomi langsung terkejut saat pengunjung café kali ini, dikenal olehnya.
"Ahahaha …. Konichiwa Hikari-san." Ujar Naruto dengan canggung, tak lupa tangannya kini sudah menggaruk bagian belakang kepalanya, ciri khas dirinya jika sedang gugup. Sementara Naomi kini hanya bisa diam mematung dengan mata melotot ke arah Naruto.
Sebenarnya Naruto gugup bukan tanpa alasan, dia gugup karena melihat penampilan dari Naomi. Naomi memang menjadi sosok yang sangat imut menurutnya, tubuh yang dibalut dengan pakaian dress khusus maid yang mencapai lutut. Rambut yang biasanya di gerai kini di buat ekor kuda dan tambahan sebuah bando berbentuk telinga kucing yang menempel di atas kepalanya.
"Kenapa kau berada disini?" Naomi bertanya dengan nada agak kurang bersahabat.
"Ano …. Aku kemari hanya ingin menikmati waktu santaiku."
"Kau kemari bukan karena mengikutiku bukan?" Naomi kembali memberikan sebuah pertanyaan yang terkesan menuding. Sementara Naruto yang mendengarnya sempat sweatdrop.
"Apakah tampangku ini memang terlihat seperti seorang penguntit ya?" Pikir Naruto dengan agak drop.
"Ano …. Hikari-san, bisakah kita membicarakan hal ini lain kali saja …." Ujar Naruto dengan agak sedikit canggung kembali. Naomi hanya menatap penuh selidik pada Naruto.
"Apa maksudmu lain kali?" Desis Naomi. Naruto hanya tertawa garing saat mendengar Naomi yang sepertinya sama sekali tidak menyadari situasi.
"Mi-chan …. Bisakah kalian pacaran di tempat lain. Kalian membuat pelanggan yang lain terganggu."
Seorang Maid yang sepertinya rekan Naomi langsung menghentikan kegiatan keduanya. Naruto hanya bisa tertawa dengan canggung pada sang Maid yang berada di belakang Naomi itu, sementara Naomi sendiri kini wajahnya sudah memerah dengan sempurna. Sepertinya dia baru menyadari bahwa mereka berdua kini tengah menjadi bahan tatapan semua orang yang berada di dalam café. Naomi dengan cepat langsung membalikkan tubuhnya, dan langsung membungkuk untuk meminta maaf.
"Sumimasen …."
"Hmmm …. Sebaiknya kau antarkan pacarmu itu ke bangku yang kosong Mi-chan." Titah sang Maid perempuan itu pada Naomi. Sementara, Naomi yang mendengar kata pacar itu, langsung menegakkan tubuhnya dan akan membantah. Namun, tatapan yang ditunjukkan rekan-nya itu membuatnya langsung bungkam.
"Dan jangan lupakan peraturannya …"
"Ha'I …. Manager."
Naomi kemudian langsung membalikkan tubuhnya dan menghadap Naruto. Dia sempat menatap tajam pada Naruto, namun dia langsung menghela napasnya.
"Silahkan ikuti saya …. 'Goshujin-sama'" Naomi kini kembali ke mode profesionalnya sebagai seorang Maid dengan senyum menawan dia bertutur kata. Namun, Naruto langsung sweatdrop karena meski wajahnya terlihat bersahabat, sorot mata yang ditunjukkan Naomi padanya, sungguh sangat menakutkan.
"Dia membenciku" Pikir Naruto dengan mirisnya. Naruto kemudian mengangguk dan mengikuti Naomi yang menunjukkan, meja yang kosong, yaitu di sudut ruangan yang berada di dekat jendela.
"Silahkan Goshujin-sama" Naomi mempersilahkan Naruto untuk duduk, tentunya dengan memberi penekanan pada perkataannya. Naruto dengan kikuk menjawabnya dengan mengangguk singkat, dan langsung duduk di bangkunya.
"Pesan?"
"Ahaha … aku pesan cappucino dan waffle saja."
"Tunggu beberapa menit."
Setelah mengatakan itu dengan nada datar, Naomi kemudian berbalik pergi dari hadapan Naruto."
Melihat Naomi sudah menghilang dari pandangannya, Naruto langsung menghela napas lega.
"Dia sepertinya masih kesal dengan kejadian tempo hari …. Dia benar – benar menyeramkan." Pikir Naruto dengan sedikit merinding. Dan begitulah hari yang dijalani oleh Naruto dalam masa santainya kali ini.
'Skip Time'
Malam harinya, kini Naruto beserta Shikamaru tengah menikmati acara santai mereka di kediaman mereka. Shikamaru kini tengah berbaring di sofa, sementara Naruto kini tengah memakan cup Ramen sambil menonton acara anime di televisi. Matanya sama sekali tidak beralih dari layar yang kini tengah menampilkan sebuah adegan pertarungan itu.
"Aku benar – benar salut dengan perfilman zaman sekarang …. Film yang dipertunjukkan benar – benar menarik." Gumam Naruto di sela – sela makannya, hanya untuk mengagumi film karya orang – orang dari zaman ini.
"Mau bagaimana lagi …. Teknologi sekarang sudah sangat jauh berbeda dengan teknologi di dimensi kita." Shikamaru berujar dengan malasnya, menanggapi perkataan dari sahabatnya itu.
"Kau benar…. Mengingat tentang hal itu, bagaimana keadaan mereka sekarang yah?" Naruto berujar, sambil mengenang teman – temannya di dimensi Shinobi. Shikamaru kini langsung terdiam saat mendengar perkataan dari Naruto.
"Aku yakin mereka pasti baik – baik saja." Ujar Shikamaru setelah dia berdiam cukup lama. Naruto langsung tersenyum saat mendengarnya.
"Kau benar …. Lagipula di sana ada Sasuke, dan juga teman – teman kita. Mereka pasti sekarang sudah merasakan kedamaian."
Shikamaru hanya bergumam membalas perkataan Naruto barusan, dan kembali memejamkan matanya, dan Naruto kembali melanjutkan acara menontonnya. Namun, aktivitas mereka terhenti saat kertas sihir yang dulu di berikan Grayfia kini mulai bercahaya di atas meja. Naruto langsung mengalihkan tatapannya pada kertas sihir itu, dan begitupula dengan Shikamaru. Lingkaran sihir kecil mulai terbentuk dari sana, dan dari lingkaran Sihir itu kini menampilkan sebuah proyrksi hologram yang menampakkan rupa Shirzechs.
"Shirzechs-san …. Tumben sekali kau menghubungi kami?" Tanya Naruto setelah kini wujud Shirzechs sudah terbentuk secara sempurna dalam hologram itu.
"Hahaha …. Tidak, tidak. Aku hanya ingin mengatakan sesuatu pada kalian." Shirzechs menjawab dengan santainya.
"Begitukah …. Jadi apa yang ingin kau katakan Shirzechs-san."
"Hmmm …. Mungkin aku tidak akan menjelaskannya sekarang. Namun, besok kalian pergilah ke tempat Rias dan temui Grayfia di sana. Nanti Grayfia yang akan menjelaskan semuanya."
"Hee …. Kenapa tidak sekarang saja penjelasannya Shirzechs-san?" Tanya Naruto dengan satu alis terangkat. Di pikirannya kenapa juga harus menunggu besok, kalo sekarang bisa dibicarakan secara langsung.
"Aku terlalu malas untuk menjelaskannya." Pernyataan Shirzechs ini membuat Naruto langsung sweatdrop.
"Sepertinya Shikamaru sudah memberikan Virus dengan takaran besar pada Maou satu ini." itulah isi pikiran Naruto kali ini, setelah mendengar alasan yang di lontarkan oleh Maou yang menyandang gelar Lucifer ini.
"Ahaa …. baiklah." Naruto menjawab dengan nada drop. Sementara Shikamaru hanya menguap saja, dia kemudian mulai angkat suara.
"Hmmm …. Apa hanya itu saja yang ingin anda sampaikan Shirzechs-san?" Tanya Shikamaru.
"Sebenarnya masih ada lagi yang ingin aku katakan,"
"Dan apa itu?" Tanya Naruto dengan penasaran. Di hologram Shirzechs kini terlihat tengah memasang ekspresi yang sulit di artikan.
"Naruto …. KENAPA KAU MEMBUAT ADIK MANISKU MENJADI ORANG YANG SANGAT GARANG, HAH?" Naruto langsung terlonjak kaget setelah mendengar teriakan dari Shirzechs barusan.
"A-Apa maksudmu Shirzechs-san?"
"Gara – gara kau melatihnya. kini Seiren, adikku yang selalu tampil anggun dan baik bisa bertransformasi menjadi seorang yang sadis."
"Err…. Jadi, kalian semua sudah mengetahuinya yah."
"Tentu saja …."
Naruto yang mendengar itu tertawa garing, sambil menggaruk bagian belakang kepalanya.
"Haahhhh …. Sebenarnya aku sedikit marah padamu. Namun, setelah mendengar alasan, dan juga melihat tekad dari Seiren, pada akhirnya aku merasa bangga juga." Ujar Shirzechs kemudian.
"Begitukah …"
"Yeahh …. Seiren kini bisa dikatakan seorang yang kuat sekarang dan juga dia kini sudah kembali menjadi Seiren yang kami kenal." Shirzechs berucap dengan senyum bangga yang menghiasi wajahnya. Namun, senyum itu hanya sementara saja, karena kini wajahnya sudah kembali ke wajah kesalnya.
"…. Namun, itu tidak mengubah fakta kalau sekarang Seiren menjadi seorang yang sangat mengerikan menurutku." Lanjut Shirzechs dengan dropnya.
"Ahahaha …. Aku bingung harus berekspresi seperti apa." Ujar Naruto dengan polosnya. Dan kembali Shirzechs langsung mengeluarkan urat kekesalannya, sementara Shikamaru hanya menguap bosan dan kembali berbaring di sofa.
'Hyoudo Mansion'
Jam kini sudah menunjukkan pukul 10 malam, Issei Hyoudou kini tengah berbaring di atas kasurnya dan terlihat sedang termenung. Namun, lamunannya langsung buyar saat sebuah lingkaran sihir berwarna merah muncul di dalam kamarnya. Issei langsung mendudukkan diri di pinggiran kasur.
"B-Buchou …?"
Issei langsung sedikit terlonjak saat dari lingkaran sihir itu, Rias kini sudah berdiri di sana. Keterkagetan Issei tidak bertahan lama, karena kini ekspresi wajahnya sudah terganti menjadi heran, saat dia melihat Rias, kini tengah menundukkan kepalanya, sehingga membuat Issei tidak bisa melihat ekspresi dari Rajanya itu.
"Buchou …. Kau baik – baik saja?" Issei bertanya dengan ragu – ragu. Namun, Rias sama sekali tidak menjawab pertanyaan itu. Dia kini malah melangkahkan kakinya mendekati Issei. Issei sendiri hanya menatap khawatir pada king-nya itu. Rias kini sudah berdiri tepat di depan Issei, dia kini mulai melepaskan ikatan tali di baju sekolahnya. setelah itu, dia mulai melepaskan satu persatu kancing bajunya. Issei yang melihat itu langsung terlonjak kaget.
"B-Buchou …. A-Apa yang kau lakukan?" Issei berucap dengan sedikit nada panik. Namun, Rias sama sekali tidak menggubrisnya, dia kini malah melangkah mendekati Issei setelah dia melepas seluruh pakaiannya dan menyisakan sebuah bra dan celana dalam. Kemudian tanpa pikir panjang, Rias langsung duduk di pangkuan Issei.
"B-Buch-…."
Rias langsung membuat Issei terdiam setelah dia menyuruh Issei untuk diam. Rias kemudian langsung menatap pada Issei.
"Issei …. Bercintalah denganku."
Issei langsung terlonjak kaget setelah mendengar perkataan dari Rias barusan, pikiran mesum langsung hinggap pada otak Issei. Namun, dia langsung membuang pikiran itu jauh – jauh.
"Apa yang aku pikirkan …. Ini bukan saat-nya kemesuman mengendalikanku."
"A-Apa mak-sudmu Buchou ….?"
"Cepat ambil keperawananku …. Sebelum semuanya terlambat." Rias kini terlihat memelas, dan dalam sorot matanya Issei bisa melihat sebuah kesedihan di dalamnya. Issei baru akan kembali bersuara, namun sebuah lingkaran sihir kembali tercipta di dalam kamar Issei itu. Issei yang melihatnya kembali kebingungan. Namun, Rias malah terlihat langsung menundukkan kepalanya.
"Sudah terlambat ternyata …." Rias berujar dengan lirih setelah dari lingkaran sihir barusan, mengeluarkan seorang wanita yang berambut perak dan memakai pakaian seperti seorang Maid. Rias langsung menatap tajam pada perempuan itu, yang dibalas dengan wajah datar tanpa ekspresi oleh orang itu. Issei sendiri kini hanya bisa terdiam membisu dengan kepala yang dipenuhi dengan tanda tanya.
"Apakah anda berniat membatalkan perjanjian dengan melakukan tindakan memalukan seperti ini Ojou-sama." Perempuan yang tidak lain adalah Grayfia berucap dengan nada datar.
"Jika aku tidak melakukan ini …. Kalian pasti tidak akan pernah membatalkan perjanjian itu." Rias berucap dengan tajam.
"Tuan beserta Shirzechs-sama pasti akan sangat sedih jika mengetahui tentang hal ini."
"Aku tidak peduli tentang hal itu …. Mereka juga tidak memperdulikan perasaanku jadi untuk apa aku peduli." Rias kini sudah berdiri dari pangkuan Issei, dan menghadap pada Grayfia yang kini tengah berjalan ke arahnya sambil memungut semua pakaian Rias.
"…. Jadi, siapa yang mengirimmu kemari?" Tanya Rias pada Grayfia setelah dia berada di hadapan Rias.
"Aku datang kemari karena keinginanku sendiri, namun juga atas perintah dari Tuan …. Sebaiknya anda segera memakai pakaian anda, kita harus pergi ketempat anda karena seseorang kini tengah menunggu."
Rias langsung mengangkat alisnya, dan menatap Grayfia dengan tatapan heran.
"Siapa?"
Grayfia tidak menjawab, dia hanya tersenyum lembut pada Rias. Dan Rias yang merasa tahu maksud dari Grayfia langsung memasang ekspresi kaget, dia kemudian dengan cepat mengambil pakaiannya dan langsung memakainya. Grayfia kini mengalihkan tatapannya pada Issei, yang kini tengah memasang ekspresi layaknya orang bodoh.
"Namaku Grayfia Lucifuge, aku adalah pelayan dari keluarga Gremory, senang berkenalan denganmu. Dan maaf atas ketidak nyamanan ini." Grayfia berucap sambil memperkenalkan dirinya. Issei yang menyadari itu, kini hanya tertawa canggung dan mengangguk memaklumi.
"Onee-sama …. Kita kembali sekarang. Issei maaf, atas kejadian barusan. Aku akan pergi dulu."
"A-Ahh …. T-Tidak apa – apa Buchou.." Issei menjawab dengan canggung. Sementara Grayfia kini mulai menciptakan lingkaran sihir teleportasi di bawahnya beserta dengan Rias. Dan mereka mulai menghilang ditelan lingkaran sihir itu, meninggalkan Issei yang kini tengah menghela napas berat.
"Entah kenapa aku merasa menyesal karena sudah melepaskan kesempatan emas tadi ….. Tidak, tidak, tidak …. Lupakan Issei lupakannn…" Issei bergumam pada dirinya sendiri. Dia kemudian membaringkan tubuhnya dan memutuskan untuk segera tidur.
.
φ©++Atarashi_Seikatsu++©φ
.
Semua murid kini tengah berkemas dengan membereskan seluruh peralatan tulis mereka setelah tadi bel pulang sekolah telah berbunyi dan mulai meninggalkan sekolah. Issei beserta Asia kini tengah berjalan beriringan untuk pergi keruangan club. Setelah beberapa saat berjalan mereka akhirnya telah sampai di depan bangunan kelas lama, yang kini menjadi markas bagi mereka. Issei kemudian membuka pintunya secara perlahan, dan langsung masuk beriringan bersama Asia.
"Maaf kami terlambat." Issei berujar setelah dia membuka pintu. Dan di dalam kini sudah berkumpul seluruh anggota klub. Rias yang kini tengah duduk di kursi singgasana-nya dan di temani Akeno yang berdiri disampingnya. Kiba yang kini tengah duduk dengan tenang di sofa.
Namun, perhatian Issei dan Asia langsung terusik, saat melihat seseorang yang kini tengah duduk disamping Koneko, yaitu seorang perempuan yang mempunyai surai merah crimson seperti rias yang di ikat gaya Ponitail, mempunyai wajah yang cantik dengan iris mata berwarna merah delima, perempuan itu kini memakai pakaian berupa sebuah baju kemeja tanpa lengan berwarna putih dengan garis hitam di bagian kerah dan tengah bajunya. Dan memakai sebuah rok rample setengah paha berwarna hitam. Setelah beberapa saat memperhatikan sosok itu, Issei dan juga Asia langsung melotot kaget.
"B-B-Buchou … B-Buchou ada …. Dua…" Issei berucap dengan bodohnya, sementara semua orang yang ada di ruangan hanya bisa tersenyum geli atas tingkah Issei barusan.
"Hmmm …. Sepertinya kau mempunyai dua anggota baru ne aneki…" Sosok perempuan itu berucap pada Rias, dengan senyum geli yang masih menempel di wajahnya. Rias yang mendengar itu hanya terkikik geli.
"Ya …. Mereka berdua adalah anggota keluarga baru Sei-chan …. Issei, Asia, perkenalkan diri kalian." Rias kemudian menyuruh Issei dan Asia untuk memperkenalkan diri.
"H-Ha'I Buchou …. Namaku Hyoudo Issei, aku adalah pion dari Rias Gremory." Issei memperkenalkan dirinya dengan grogi.
"N-Namaku Asia. Asia Argento, senang bertemu dengan anda." Asia juga ikut memperkenalkan diri dengan canggung seperti Issei. Sementara sosok perempuan tadi kini berdiri dari posisi duduknya, dan tersenyum pada Asia dan juga Issei.
"Aku Seiren Gremory …. Aku adalah saudari kembar dari Rias Gremory. Senang berkenalan dengan kalian. Hyoudou-san, Argento-san." Perempuan yang ternyata Seiren itu memperkenalkan dirinya dengan anggun. Asia dan Issei langsung dilanda Shock setelah Seiren memperkenalkan dirinya.
"Saudara …. Kembar ….?" Sepertinya Issei benar – benar sangat terkejut dengan fakta yang baru dia terima itu.
"Hmmmm …. Apakah kau belum memberi tahukan bahwa kau mempunyai saudara kembar, aneki?" Seiren bertanya dengan heran pada Rias, setelah dia melihat ekspresi kaget dari Issei dan Asia.
"Maaf Sei-chan …. Aku belum sempat memberi tahu mereka tentang hal ini."
"Jadi begitu …. Tidak mengherankan sih, melihat ekspresi yang di tunjukan oleh mereka berdua." Ujar Seiren sambil kembali mengalihkan tatapannya pada Issei dan Asia.
"Yah …. Begitulah." Ujar Rias dengan santainya. Seiren hanya mengangguk mengerti kemudian langsung kembali duduk di samping Koneko. Issei dan Asia yang baru tersadar dari rasa keterkejutannya, langsung melangkahkan kaki mereka dan duduk di sofa yang sama dengan kiba.
"Ini benar – benar mengejutkan …. Buchou ternyata mempunyai seorang saudara kembar. Dan lagi jika di lihat sesaat mungkin tidak ada yang bisa membedakannya. Kakak beradik yang mempunyai kemiripan 90%. Yang membedakan hanyalah warna mata." Issei menyampaikan ketakjubannya, sambil melihat Rias dan Seiren secara bergantian.
"Dan mempunyai bentuk tubuh yang sama tentunya …. Hehehe." Sepertinya pikiran mesum tak akan pernah jauh dari Issei. Dan tanpa sadar ekspresinya juga ikut berubah. Namun, sebuah roti langsung menghantam wajahnya saat itu juga.
"Mesum dilarang disini…" Sang pelaku yang ternyata Koneko berkata dengan datarnya. Seiren yang melihat itu hanya bisa tertawa kecil, sambil mengusap kepala Koneko dengan gemas. Sementara Issei, dia kini tengah mengusap – usap wajahnya dengan tampang sebal. Dan itu membuat seisi ruangan langsung ramai dengan tawa. Namun, aktivitas mereka terhenti saat sebuah lingkaran sihir tercipta di ruangan itu, dan mengeluarkan sosok Grayfia dari sana.
"Ojou-sama …. Ini sudah waktunya."
Rias mengangguk mengerti dibarengi dengan tatapan yang terlihat kesal. Issei dan Asia hanya mengangkat alis heran dengan situasi ini.
"Kau sebaiknya tenang aneki …. Semua pasti dapat diatasi." Seiren mencoba menenangkan Rias, dan tersenyum lembut untuk membuat Rias kembali tenang.
"Hahhh …. Aku mengerti, Arigatou Sei-chan, kehadiranmu benar – benar sangat membantu disini." Ujar Rias sambil membalas senyum dari saudari kembarnya itu. Seiren hanya tertawa halus mendengarnya.
Tiba – tiba dari sudut yang luas, tercipta sebuah lingkaran sihir yang mengeluarkan kobaran api yang lumayan besar, dan dari lingkaran sihir itu kini keluar seorang laki – laki berambut pirang berwajah cukup tampan, namun terlihat seperti seorang playboy kelas berat. Kemudian di ikuti dengan keluarnya 15 perempuan berbagai jenis di belakangnya.
"Ahhh …. Sudah lama aku tidak mengunjungi dunia manusia." Pria itu berujar dengan santainya.
"Raiser Phenex…" Rias mengucapkan nama dari orang di depannya dengan sebuah desisan tajam.
"Ahhh …. Rias sayangku. Aku datang untuk membawamu …. Semua persiapan pernikahan kita sudah di persiapkan. Jadi, aku tinggal membawamu." Orang yang bernama Raiser Phenex itu berucap dengan seringai penuh nafsu tertempel di wajahnya. Raiser kemudian langsung mendekat kearah Rias, dan langsung menarik tangan dari Rias.
"…. Lepaskan Raiser. Sudah ku katakan sebelumnya, bahwa aku tak akan pernah menikah denganmu" Rias berucap dengan nada kesal dan marah pada perkataannya.
"Hmmm …. Begitukah, namun kau sepertinya tidak bisa menolak pernikahan ini, kau tahu sendiri bahwa pernikahan kita ini sudah di sepakati oleh orang tua kita." Rias langsung menatap Raiser dengan tajam, sementara Raiser hanya menatapnya dengan seringai yang kian melebar di wajahnya.
"Kalau begitu …. Aku menantang-mu untuk 'Rating Game'" Ujar Rias kemudian.
"Hehhh …. Kau tahu sendiri bukan kau sama sekali tidak akan pernah bisa menang melawanku. Aku adalah iblis yang sudah berpengalaman dalam 'Rating Game'"
"Aku tidak peduli …. Karena aku pasti akan mengalahkanmu." Rias berucap dengan optimis. Namun Raiser sama sekali tidak gentar, dia malah semakin memperlebar seringainya, dan mulai mendekatkan diri pada Rias.
"Benarkah?"
Rias langsung menatap tajam pada Raiser, sementara Issei yang melihat itu langsung terpancing emosinya, dia kemudian langsung berdiri dan langsung mengeluarkan Sacred Gearnya. Raiser kemudian mengalihkan tatapannya pada Issei yang tengah menatapnya dengan tajam.
[BOOST]
"Menjauh kau dari Buchou berengsek."
Issei langsung merangsek maju, dan siap memukul Raiser. Namun, belum sempat dia berhasil memukulnya, Issei sudah terlebih dahulu diserang oleh seorang gadis bertubuh kecil yang membawa tongkat di tangannya, sehingga membuat Issei kini terpental dan menghantam dinding.
"Hehh …. Iblis lemah sepertimu takan pernah bisa menyentuhku. Bahkan melawan mira yang merupakan pionku kau sudah kesakitan seperti itu." Raiser berucap dengan arrogantnya. Sementara, Issei kini tengah berbaring di lantai dan di temani oleh Asia yang kini sudah berjongkok di sampingnya. Raiser hanya menyeringai dengan senang, setelah itu dia kemudian mengalihkan tatapannya pada seluruh penghuni di dalam ruangan. Dan kini pandangannya berhenti pada Seiren, yang kini tengah duduk dengan tenang sambil meminum teh buatan Akeno.
"Ohh …. Seiren, ternyata kau juga berada di sini…. Sepertinya ini hari keberuntunganku."
Raiser kemudian mendekat ke arah Seiren, dengan seringai yang kini semakin jelas terlihat di wajahnya. Seiren hanya mengacuhkan perkataan dari Raiser barusan, dia masih duduk dengan tenang di kursinya. Raiser kini sudah berdiri di hadapan Seiren dan langsung membungkukan badannya, mencoba mendakatkan wajahnya pada Seiren. Rias yang melihat itu semakin kesal.
"Jangan pernah berani untuk mendekati adikku, Raiser."
"Memangnya kenapa …. Bukankah itu sama sekali tidak masalah." Raiser berucap dengan nada yang sangat santai dan kembali mendekatkan diri pada Seiren.
"Raiser …. Jika kau berani menyentuhnya kau…"
"…. Kau akan apa hmmm?"
"Aku akan pastikan bahwa kau tak akan pernah bisa melihat hari esok…"
Tiba – tiba sebuah suara asing langsung menginterupsi Raiser, sebelum sempat dia bereaksi, sebuah tendangan kuat langsung bersarang pada punggungnya, dan membuatnya langsung terpental ke depan dan menghantam pintu. Semua orang langsung dibuat diam mematung, dan para budak Raiser langsung berteriak.
"Raiser-sama.."
"Yare …. Sepertinya aku sedikit terlambat datang nee."
Semua orang langsung mengalihkan perhatian mereka pada seorang pemuda berambut pirang acak – acakan, yang kini tengah berdiri di tempat dimana Raiser tadi berada. Beberapa orang kini masih terlihat terkejut dengan kedatangan pemuda itu, kecuali Seiren yang kini tengah tersenyum senang, dan juga Grayfia yang kini tengah tersenyum kecil.
Para bidak Raiser yang melihat sang pelaku langsung di buat geram, mereka langsung mencoba menyerang sang pemuda pirang tersebut. Namun, belum juga mereka bisa menyerang, tubuh mereka kini langsung terdiam kaku di tempatnya masing – masing. dan itu membuat semua orang disana langsung kebingungan.
"Hoaammmm …. Merepotkan saja, waktu istirahatku benar – benar terpotong banyak karena ini."
Semua orang kini langsung mengalihkan pandangannya ke arah asal suara malas itu berasal. Dan mereka kini bisa melihat seorang pemuda berambut yang memakai seragam sama seperti mereka, kini tengah berjongkok dengan posisi Horizontal pada dinding di belakang para bidak Raiser. Dan semua orang kini hanya bisa memasang wajah shock melihatnya. Namun, berbeda dengan Seiren dan juga Issei, yang kini tengah tersenyum sumbringah.
"Shisou …. Shikamaru-senpai…" Issei berujar dengan senangnya saat dia melihat sosok dari Naruto dan juga Shikamaru. Naruto hanya menjawabnya dengan tersenyum. Naruto kemudian mengalihkan tatapannya pada Seiren.
"Maaf …. Atas keterlambatannya …." Ujar Naruto dengan lembut pada Seiren yang kini juga ikut tersenyum ke arahnya. Seiren hanya menggelengkan kepalanya.
"kau sama sekali belum terlambat naruto-kun…"
"Begitukah …." Naruto berucap sambil mengusap kepala Seiren dengan lembut, setelah itu dia kemudian melangkahkan kakinya ke arah Raiser yang kini tengah menegakkan posisinya. Raiser dengan kesal kemudian langsung membalikkan tubuhnya, dan menatap sang pelaku yang membuatnya kehilangan harga diri itu dengan tajam, namun orang yang ditatap yaitu Naruto, hanya menanggapinya dengan senyum simpul di wajahnya.
"Akan aku tekankan sekali lagi, Phenex …. Jika kau berani untuk menyentuhnya, akan ku pastikan kau tidak akan bisa merasakan lagi yang namanya oksigen." Naruto berucap dengan penekanan di setiap perkataannya dan senyum simpul di wajahnya.
"Hehh …. Memangnya apa urusanmu manusia rendahan."
Naruto hanya tersenyum kecil sambil memejamkan matanya, dengan tangan kiri yang dia masukkan ke dalam saku celana cargonya.
"Tentu saja untuk …."
Naruto menggantungkan perkataannya dan kemudian langsung mengangkat telapak tangan kanannya sebatas dada. Beberapa saat kemudian dia langsung menatap tajam Raiser dengan di telapak tangannya kini sudah terbentuk sebuah Rasengan yang sudah dilapisi dengan sebuah Power Of Destruction.
"…. Membasmi iblis arrogant sepertimu."
.
.
.
.
.
.
.
.
φ©++Atarashi_Seikatsu++©φ
.
.
.
TBC
Knotlamp_-_The Limited World
Maa … Maa … sekian untuk chap 11 ini. maaf atas maaf karena chap ini ane buat gak ada yang special dan cuman hanya cerita membosankan saja.
Terus atas keterlambatan sebenarnya Ane mempunyai kesibukan selama seminggu terakhir ini, dan baru bisa update hari ini.
Hmmm … mungkin ane gak akan banyak cingcong. Cuman ane mau ngasih keterangan penting dalam chapter 10 kemarin mengenai kemampuan dari Vali.
Di fic saya ini ane buat kemampuan Vali bukan hanya terfokus pada pembagian kekuatan pada tubuh dari lawannya saja. Namun, disini kemampuan Vali itu bisa membagi sebuah jurus atau apapun selama jurus itu masih dilapisi oleh sebuah energy supranatural.
Oke itu saja … sekarang kita beralih ke balasan Review.
Anon : Maaf nih sebelumnya…. Saya juga tahu mengenai tentang jutsu, namun seperti keterangan di atas…. Saya membuat Vali bisa membagi kekuatan sebuah jutsu. Dan dalam chap kemarin, pas sebuah jutsu itu hilang, dikarenakan Vali yang membagi chakra pelapis dari jutsu tersebut. Bagaimanapun setiap jutsu yang dikeluarkan seorang Shinobi itu adalah dari perubahan chakra. Lalu mengenai kenapa Vali masih bsia jalan itu karena bagaimanapun setelah terkena rasen Shuriken tubuh asli vali masih terlindungi oleh armor naganya, jadi tidak mungkin menciptakan luka yang lumayan serius, dan lagian Vali adalah seorang Iblis loh..
Guest : Maaf saja kalo fic ane jadi jongkok…. Namun, untuk pertanyaan itu kuharap bisa terjawab dengan keterangan sebelumnya. Terimakasih
I-Exneko-I : kalo ikyiw ane gak jamin … ane bisa mati kalo nyiptain sebuah chap dengan lemon. Lihat abang ane sekarang aje lagi nodong nih.
Izanagi No Ookami : Biarkan saja Vrooh … kita mh konsisten saja dalam pilihan sendiri. Namanya juga fanfic lah. Kan kita juga yang berimajinasi.
Adityasriwijaya : Jadi keliatan lemah yah, menurutku sih nggak, karena disini Naruto menghadapi Vali dengan tanpa bantuan chakra ashura yang melapisi tubuhnya. Lagian Vali juga emang kuat, dia adalah setengah iblis keturunan Lucifer sekaligus pemegang sacred gear yang termasuk longinus.
ShadoRyu-kun : Ohh … sorry ane suka gak merhatiin tentang hal itu. Hehe … oke makasih udah ngingetin. Nanti buat yang selanjut2nya pasti dilakuin.
AnimeAnimonstaR : Beuhhh …. Ketinggalan 2 bus vrooh … oke coy.
Oke mungkinmungkin hanya itu untuk balasan review kali ini. hahh ,,, ane bener2 gak nyangka fi cane udah banyak yang review, ngeFav, dan Follow.. ane bener – bener sangat berterimakasih pada kalian semua yang selalu setia membaca fic amburadul saya ini. terharu sumpah…
Oke mungkin hanya itus aja…
Sampai jumpa di chap 12
Jaa Ne~
R
I
V
I
E
W
