"Eagle Kill." Gumam Mingyu dan Soonyoung pelan, dugaan mereka benar. Isi surat itu mengarah pada Eagle Kill. Mereka semua fokus pada surat dan pikiran masing-masing. Tapi ada satu namja bule yang mengerutkan dahinya bukan karena isi surat ataupun Eagle Kill tapi hal lainnya. Matanya tidak mungkin salah lihat, tidak besar memang namun dia masih bisa melihatnya. Tidak. Bukan hanya dia saja yang melihat itu, namja china disebelahnya juga melihat hal itu.
'da-darah?'
The Sign
Main cast : Kim Mingyu dan Jeon Wonwoo
Cast : Seventeen, BTS, EXO and others
Genre : Romance Mystery
Warning : Cerita ini mengandung unsur gay, kekerasan, sadisme, serta kata-kata yang masih banyak typo, dan cerita yang masih acak-acakan. Jika kalian tidak suka jangan maksa buat cerita oke? Cerita ini murni buatan Ken sendiri, Ken hanya meminjam nama dan tempatnya saja.
Summary : Angka. Pola. Surat. Tanda teror kematian. Kepolisian berusaha memecahkan misteri ketiganya. Tidak ada bukti yang bisa mempermudah kerja mereka. "mereka" akan hilang pada tanggal yang sama dan ditemukan pada tanggal yang sama. Namun itu belum cukup untuk membuka simpul benang misteri ketiganya.
...
...
...
"..." : Percakapan langsung
'Italic' : Inner/ suara pikiran
Italic : Flashback
"italic" : Percakapan dalam telefon/ dalam video.
Chapter 10
"Woaah.. Aku masih tidak menyangka jika akan jadi seperti ini." Guman Soonyoung dengan nada tidak percayanya. "Aku tahu dia kejam, tapi- astaga aku tak tahu harus berkomentar apa lagi." Lanjutnya sambil mengacak surai blondenya.
"Tenanglah. Kita pasti bisa memecahkan masalah ini." Ucap Mingyu tenang. "Sepertinya aku butuh mandi sekarang, sekalian mendinginkan kepalaku." Ujar Mingyu lalu melangkah keluar.
"Aku juga akan mandi, badanku lengket." Gumam Wonwoo lalu mengikuti Mingyu.
"Kalian akan mandi berdua?" Pertanyaan pelan dari Soonyoung masih bisa terdengar, Wonwoo menatap datar Soonyoung.
"Hyung, aku dan Junhui hyung akan keluar membeli kopi, kalian mau pesan sesuatu?" Tanya Vernon.
"Belikan saja kami semua 1 cup kopi Vernon-ah." Jawab Seokmin.
"Okee." Gumam Vernon lalu berjalan keluar diikuti Junhui.
"Kopi? Aku jadi trauma mendengar kata kopi." Gumam Soonyoung pelan, Junhui dan Seongcheol menggelengkan kepalanya mendengar gumaman bodoh dari Soonyoung.
"Kalian berdua istirahatlah. Kita akan bahas ini lagi nanti." Titah Seongcheol dijawab anggukan oleh Soonyoung dan Vernon.
Vernon dan Junhui berjalan dalam sunyi, tidak ada yang membuka mulut untuk memulai obrolan. Mereka masih tenggelam dalam pikiran masing-masing.
"Hyung." Panggil Vernon, Junhui bergumam untuk menanggapinya. "Hyung lihat juga apa yang ada aku lihat?" Tanya Vernon lalu menoleh kearah Junhui. Pemuda china itu terlihat ragu untuk menjawab.
"Ya." Jawab Junhui. "Aku tak tahu itu darah sungguhan atau hanya khayalanku." Lanjut Junhui sambil menghela napas lelah begitu juga dengan Vernon.
"Aku juga hyung. Disaat kita tertekan seperti ini, kita hanya akan memikirkan prasangka buruk." Kata Vernon lemas.
"Banyak prasangka buruk maupun baik dipikiranku. Apakah itu darah salah satu korban? Apa yang dia lakukan hingga ada darah dilengan bajunya? Dia terlukakah? Masih banyak prsangka-prasangka lainnya yang ada diotakku. Sungguh itu semua berkeliaran diotakku." Jelas Junhui.
"Haruskah kita mencari tahunya hyung?" Tanya Vernon. "Kita bisa minta Jihoon hyung untuk melakukan tes DNA. Dan aku harap kita hanya salah lihat dan itu bukan darah." Usul Vernon.
"Lalu bagaimana kita bisa mengambil darah itu Vernon-ah. Tidak mungkin kita mencuri sepaket bajunya kan?" Tanya Junhui.
"Itu ide yang bagus. Kita bisa meminjam, hanya meminjam sebentar bajunya lalu minta Jihoon hyung untuk melakukan tes DNA, saat sampel sudah diambil kita bisa kembali kekantor dan mengembalikkan bajunya. Eottae hyung?" Usul Vernon lagi. Terlihat Junhui menimbang-nimbang ide sedikit gila dari Vernon.
"Tapi bagaimana jika dia tahu Vernon-ah?" Tanya Junhui terlihat dia masih sedikit bimbang pada usulan Vernon.
"Hyung, malam ini kita akan kembali menginap dikantor. Saat tengah malam kita bisa minta izin pada Seongcheol untuk membeli beberapa cemilan, pada saat itu kita akan meminjam bajunya." Ucap Vernon. "Sekarang hyung hubungi Jihoon hyung lalu katakan padanya kalau tengah malam nanti kita akan datang meminta bantuan padanya." Lanjut Vernon dengan wajah yakin.
"Huftt.. Baiklah." Gumam Junhui menyetujui ide tersebut. Senyum Vernon mengembang saat mendengarnya ditambah saat melihat Junhui mulai menelpon Jihoon. Perjalanan mereka diisi oleh obrolan dan bujukan dari Junhui pada Jihoon, Vernon juga terlihat sesekali menambahkan ucapan Junhui untuk meyakinkan Jihoon. Well, mari kita tinggalkan sejenak pasangan Junhui-Vernon.
Kantor divisi Detektif
"Hyung, aku akan kekamar mandi dulu, sekalian memantau Mingyu dan Wonwoo hyung, siapa tahu mereka melakukan 'sesuatu' dikamar mandi. Hhhheee." Ucap Soonyoung sambil melakukan tanda kutip dengan dua jarinya saat mengucapkan kata sesuatu, setelah terkekeh sebentar dia keluar dengan langkah cepat menuju toilet. Soonyoung membuka pintu toilet tanpa mengetuk terlebih dahulu, lalu mata sipitnya melebar saat melihat pemandangan didepannya, begitu juga dengan dua orang tersebut mereka terkejut lalu dengan cepat memisahkan diri saat melihat Soonyoung.
"Ehhh.. well, aku akan gunakan toiletnya nanti saja." Ucap Soonyoung gugup lalu keluar dan menutup pintu toilet dengan pelan, saat pintu akan tertutup rapat kepala blonde itu kembali menyembul. "Kalian bisa lanjutkan yang tadi." Lanjutnya benar- benar menjauh dari toilet tersebut dengan wajah memerah parah.
"Demi tuhan. Astaga. Shit mataku." Sepanjang jalan menuju ruangannya Soonyoung bergumam dan mengupat tidak memperdulikan tatapan bingung anggota kepolisian yang dia lewati. Soonyoung membuka pintu ruangannya lalu menutup pintu dengan keras dan merosot jatuh. Seokmin dan Seongcheol menatapnya heran.
"Hey, ada apa denganmu Soonyoung-ah?" Tanya Seokmin tapi belum mendapat respon dari Soonyoung. Seokmin bertanya sampai beberapa kali namun hanya dijawab dengan pandangan kosong dan gumaman serta umpatan pelan yan tentunya tidak bisa didengar oleh keduanya.
"Hyung. Hyung tampar aku." Kalimat pertama yang dikeluarkan Soonyoung menambah kerutan didahi Seokmin dan Seongcheol. "Hyung, tampar aku. Atau cubit aku juga tak apa hyung, ayo hyung lakukan." Soonyoung berbicara dengan cepat bahkan kini dia sudah berdiri didepan Seokmin meminta ditampar.
PLAK
Suara telapak tangan Seokmin beradu dengan pipi Soonyoung, tidak kencang memang tapi bisa menghentikan tingkah gila Soonyoung.
"Aww.." Ringis Soonyoung sambil mengelus pipinya yang ditepuk oleh Seokmin tidak kencang tapi tetap saja sakit. "Jadi... aku tidak ber-bermimpi." Gumam Soonyoung.
"Ada apa denganmu Soonyoung-ah? Kau melihat setan?" Tanya Seongcheol.
"Lebih dari itu hyung." Jawabnya.
"Jadi apa?" Desak Seokmin.
"Aku melihat Mingyu dan Wonwoo hyung berciuman dikamar mandi." Jawab Soonyoung kali ini Seongcheol dan Seokmin melebarkan matanya tidak percaya.
"Benarkah?" Tanya Seongcheol lagi.
"Iya hyung. Hyung kira aku seperti ini karena apa? Bahkan mereka tidak hanya sekedar berciuman tapi saling memakan satu sama lain, meskipun aku hanya melihatnya sebentar, tapi aku sangat yakin." Jelas Soonyoung. "Astaga mataku tidak suci lagi." Keluh Soonyoung.
"Wahh, Mingyu sudah satu langkah didepan kita ya?" Tanya Seokmin. "Lagian sejak kapan matamu masih suci, huh? Kerjaanmu saja hanya menonton porno." Ucap Seokmin mencibir pada Soonyoung dibalas delikan tajam yang malah terlihat lucu dimata mereka berdua.
"Kita? Kalian saja mungkin. Aku dan Jeonghan sudah taken 2 minggu yang lalu, ahahaha." Ucap Seongcheol bangga.
"Hyung, aku tau kau tertekan, tapi jangan jadi gila seperti ini." Ucap Soonyoung sambil menepuk bahu Seongcheol prihatin.
"Sialan, aku serius. Aku dan Jeonghan sudah pacaran sejak 2 minggu yang lalu." Kesal Seongcheol. Tapi Seongcheol dan Seokmin malah tertawa mendengarnya. Junhui dan Vernon masuk saat mereka sedang tertawa lebar menimbulkan kernyitan heran didahi keduanya.
"Hey, ada apa dengan kalian?" Tanya Junhui sambil membagikan cup coffe.
"Seongcheol hyung bermimpi kalau dia sudah taken dengan Jeonghan hyung." Jawab Seokmin dengan senyum meremehkan sambil meminum kopinya begitu juga dengan Soonyoung.
"Ahh.. Kalau itu aku sudah tau."
Bruussshh
Seokmin, Soonyoung dan Vernon menyemburkan kopi dari dalam mulutnya saat mendengar pernyataan dari Junhui, Seongcheol tersenyum lebar mendengarnya.
"Yaakk!" Pekik Junhui saat kopi yang mereka semburkan menyentuh pakaiannya. "Aishh.. Jangan terkejut seperti itu. Merepotkan." Gerutu Junhui lalu membersihkan pakaiannya dari bekas kopi.
"Apa Mingyu dan Wonwoo hyung sudah taken juga kalian tahu? Bahkan tadi mereka berciuman ditoilet."
Bruusshhh
Kali ini Junhui dan Vernon-lagi- yang menyemburkan kopinya mendengar penuturan Soonyoung.
"Aisshhh... hyung, jangan kearah aku juga kalau mau menyemburkannya. Astaga." Keluh Soonyoung saat wajah dan pakaiannya. "Kau juga Vernon-ah, kopimu itu akan habis kau sembur-sembur saja. Pabbo." Lanjut Soonyoung sambil mengelap wajahnya dengan tisu dari Junhui.
Wonwoo-Mingyu side
20 menit sebelum Soonyoung datang.
Wonwoo memakai kamar mandi untuk mandi alih-alih tempat shower yang didalam kantor, sedangkan Mingyu menggunakan ruangan shower tak jauh dari kamar mandi yang digunakan Wonwoo. Tak butuh lama bagi keduanya untuk membersihkan diri, Mingyu selesai lebih dulu, dia memutuskan untuk menunggu Wonwoo didepan kamar mandinya.
Cklek
Mingyu terkejut saat pintu yang sedang disenderinya terbuka membuat badan bongsornya terdorong kebelakang, begitu juga dengan Wonwoo yang terkejut melihat Mingyu berada didepannya. Wajah mereka hanya berjarak 5 cm, bahkan Mingyu dapat mencium aroma Citrus menguar menggoda indra penciumannya. Dengan gerakan cepat Mingyu mendorong Wonwoo masuk kedalam dan menciumnya tepat dibibir, kaki panjangnya digunakan untuk menutup pintu. Sejenak Wonwoo ingin mendorong Mingyu, namun kekuatan Mingyu jauh diatasnya.
"Kau sangat menggoda hyung." Ucap Mingyu sambil memberikan kecupan-kecupan ringan dibibir Wonwoo.
"Mingyu, le-lepas. Ini masih di kan-." Ucapan Wonwoo terputus saat Mingyu kembali menerjang bibir tipisnya. Mingyu menyesaap bibir bagian atas dan bawah secara bergantian. Mingyu membuka matanya dan melihat mata Wonwoo mulai terpejam menikmati ciumannya, tangan Wonwoo menggenggam erat baju bagian dada pemuda bongsor tersebut. Wonwoo membuka sedikit mulutnya, membiarkan lidah Mingyu masuk untuk menginvasi mulutnya. Mereka berdua terlalu larut dalam ciuman yang memabukkan hingga tak sadar bahwa handle pintu bergerak menandakan ada yang akan masuk. Pintu terbuka dengan cepat, terlihat makhluk blonde bermata sipit tegak mematung melihat pemandangan didepannya. Mingyu dan Wonwoo bergerak memisahkan diri, memasang ekspresi yang sama dengan pemuda blonde- Soonyoung-.
"Ehhh.. well, aku akan gunakan toiletnya nanti saja." Ucap Soonyoung gugup lalu keluar dan menutup pintu toilet dengan pelan, saat pintu akan tertutup rapat kepala blonde itu kembali menyembul. "Kalian bisa lanjutkan yang tadi." Lanjutnya benar- benar menjauh dari toilet tersebut dengan wajah memerah parah.
"Mampus." Cicit Mingyu lalu menengok kearah Wonwoo yang sudah memerah menahan kesal dan malu. Wonwoo menatap Mingyu dengan sengit, kemudian menghembuskan napas pasrah. "Hyung, maaf." Gumam Mingyu.
"Hahh... Sudahlah, aku tak bisa menyalahkan hormon sialanmu itu. Aku juga menikmatinya." Ucap Wonwoo dengan suara yang mengecil diujungnya. "Sebaiknya kita kembali sebelum Soonyoung mengucapkan hal yang aneh-aneh." Lanjut Wonwoo lalu keluar dari kamar mandi diikuti Mingyu dibelakangnya.
Seongcheol dkk side.
Mereka masih berdebat perihal pasangan taken saat pasangan Mingyu-Wonwoo datang. Terlihat Wonwoo masuk dengan wajah datar meskipun wajahnya terlihat memerah sampai ketelinga, sedangkan Mingyu hanya cengengesan tidak jelas. Mereka sema menatap Mingyu dan Wonwoo dengan tatapan menuntut.
"A-ada a-apa?" Tanya Mingyu gugup melihat tatapan yang dilayangkan padanya dan Wonwoo.
"Jadi sejak kapan?" Tanya Junhui masih dengan tatapan yang sama.
"Kapan apa?" Tanya Mingyu –pura-pura- tak mengerti.
Seongcheol dan yang lainnya mulai jengah dengan sikap pura-pura tak mengerti dari Mingyu dan tatapan datar dengan wajah memerah dari Wonwoo.
"Jadi sejak kapan kalian pacaran?" Tanya Seokmin.
"Pacaran? Siapa yang pacaran?" Tanya Wonwoo –pura-pura- terkejut.
"Kalian berdua. Jelaskan pada kami." Tuntun Junhui. "Soonyoung bilang kalian saling memakan dikamar mandi. Jangan mengelak." Sentak Junhui saat melihat Wonwoo membuka mulut ingin mengelak. Wonwoo berdecih mendengar ucapan Junhui lalu mendelik pada Mingyu.
"Eee.. Kami memang pacaran hyung." Ucap Mingyu, mata mereka melebar mendengar ucapan Mingyu-kecuali Wonwoo-. "Sudah 2 bulan mungkin." Lanjutnya.
"Yaaakk.. Sudah selama itu dan kalian tidak memberitahu kami."
"Woah.. Daebakk.."
"Kalian anggap kami ini apa huh?"
"Kalian ini benar-benar."
Serentetatan kalimat protes keluar dari mulut kelima namja disana. Ruangan divisi detektif sangat ribut sesaat setelah Mingyu mengatakan perihal hubungannya.
"Yoerobun, Mianhae. Wonwoo hyung tidak ingin mengatakannya dulu sebelum menangkap Eagle Kill. Tapi ternyata.. heheheh." Ucap Mingyu
"Kami tidak terima alasan seperti itu Kim Mingyu." Sungut Seongcheol.
"Astaga, apa salahnya kalian memberitahukan hubungan kalian pada kami." Tanya Junhui.
"Tidak ada salahnya sih hyung. Hanya saja kami ingin memberikan kejutan pada kalian." Jawab Mingyu. Wonwoo haya mendengus mendengar ucapan Mingyu.
"Wonwoo hyung, kau tak suka jika kami mengetahui hal ini?" Tanya Soonyoung , Wonwoo menghembuskan napasnya kasar mendengar pertanyaa itu. "Kalau kau tak suka kenapa berciuman ditoilet kantor dan harus kepergok olehku hyung?" Tanya Soonyoung lagi.
Plakk
"Aww.. Hyung kenapa kau memukulku." Kalimat protes keluar dari mulut Mingyu saat kepalanya dipukul keras oleh Wonwoo.
"Ini semua gara-gara kau, Kim Mingyu." Ucap Wonwoo dan kembali mencoba memukul Mingyu dengan keras.
"Wae? Kenapa Mingyu? Kau tak suka kami mengetahui hal ini Jeon Wonwoo?" Pertanyaan beruntun dari Seongcheol menghentikan sikap anarkis dari Wonwoo.
"Bukan begitu hyung. Aku hanya tak suka saat orang tahu tentang hubungan ini dan mereka akan mengolok-olok kami. Aku juga tak ingin membuyarkan fokus kalian. Aku tahu sifat kalian semua, saat ada kabar gembira kalian akan melupakan sejenak semua tugas itu dan kita akan kembali kehilangan 1 nyawa. Aku tak mau itu terjadi lagi." Jelas Wonwoo membuat mereka tersentak. Ucapan Wonwoo ada benarnya. Mereka tidak mengelak semua ucapan Wonwoo, semuanya mengakui itu. Fokus mereka mudah teralihkan, dan mereka membencinya.
"Huh.. kau benar Wonwoo-ya." Ucap Seokmin menghela napas pelan.
"Baiklah. Aku rasa ini bukan saatnya untuk kita semua merayakan hubungan aku, Jeonghan, Wonwoo dan Mingyu. Kita akan merayakannya saat Eagle Kill ditangkap. Dan semoga saja 4 orang yang tersisa disini akan mendapatkan pujaannya masing-masing. Hahahaha." Ucap Seongcheol santai yang diakhiri kalimat mengejek. "Sekarang waktunya kalian membersihkan diri, setelah itu kita kembali bekerja." Perintah Seongcheol. Seongcheol, Seokmin, Soonyoung, Junhui, dan Vernon bergegas ketempat shower untuk membersihkan diri.
"Kalian berdua jangan berbuat yang macam-macam selama kami mandi. Arachi?" Titah Seongcheol lalu keluar ruangan meninggalkan Mingyu dan Wonwoo yang berdiri ditengah ruangan.
"Memangnya apa yang bisa kami lakukan diruangan ini?" Tanya Wonwoo sambil berdecih. Kemudian berjalan menuju mejanya. Wonwoo terkejut saat merasakan sepasang lengan melingkari perut ratanya. "Lepas." Wonwoo berontak berusaha melepaskan tangan Mingyu yang memeluknya erat.
"Hyung, Bogoshipo." Suara berat Mingyu menyapu indra pendengarnya membuat Wonwoo merinding, ditambah kecupan-kecupan ringan dibelakang telinga.
"Mingyu-ya lepaskan. Nanti mereka kembali." Ucap Wonwoo sambil berusaha menjauhkan lehernya yang sekarang menjadi sasaran kecupan Mingyu. Wonwoo memasang mode waspada saat ini, jika seperti ini terus dia akan berakhir diatas meja dengan Mingyu diatasnya.
"Kau memikirkan apa hyung?" Tanya Mingyu saat menyadari Wonwoo terdiam dengan wajah horror. Senyum jahil muncul dibibir kissable-nya. "Kau memikirkan aku sedang ada diatasmu ya?" Tanya Mingyu lagi dengan wajah mesumnya. Wajah datar Wonwoo kembali memerah mendengar ucapan mesum Mingyu, Wonwoo menyentak tangan Mingyu kasar tidak lupa menginjak kaki Mingyu dengan keras lalu berdecih dan berjalan kearah mejanya dengan terburu-buru. Wonwoo tak habis pikir, semenjak mereka berpacaran Mingyu akan berubah menjadi sangat mesum saat berdua dengannya. Dia akan mencari kesempatan seperti menciumnya dengan tiba-tiba, memeluknya dari belakang, mengecup leher sampai menciumnya dengan ganas seperti yang terjadi dikamar mandi tadi. Jika dipikir-pikir Wonwoo tidak menyangka mereka berdua akan berpacaran. Padahal saat itu dia kira Mingyu hanya bercanda.
Flashback On
6 Apr
Team kepolisian khusus mengadakan acara ulang tahun yang sederhana untuk Mingyu, berlokasi di apartemen milik pemuda bongsor tersebut. Tidak hanya team detektif yang datang, 12 pemuda yang merupakan sahabat dekat dari Mingyu ikut datang diacara tersebut. Hanya acara sederhana, Mingyu, Jeonghan, Jisoo dan Wonwoo memasak sendiri bahan makanan yang mereka beli tadi disupermarket. Sedangkan Jihoon, Seungkwan, Minghao, Seongcheol dan Jun menata ruang tamu menjadi ruang makan untuk mereka makan nanti. Lalu ada Dino, Soonyoung, Vernon, dan Seokmin sedang bermain game PS dikamar Mingyu.
"Wooahh.." Seruan dari arah belakang mengagetkan 4 pemuda yang dari tadi berkutat didapur Mingyu.
"Yakk.. Kau mengagetkanku." Teriak Jeonghan. Seongcheol terkekeh mendengarnya. "Kalian sudah menata ruangannya?" Tanya Jeonghan.
"Semua sudah siap. Tinggal tunggu makanan." Jawab Seongcheol.
"Arasseo. Sebentar lagi makanan siap. Panggil anak-anak, tunggu dimeja makan." Ucap Jeonghan. Sejak mereka masih diakademi Jeonghan dikenal sebagai ibu dan Seongcheol sebagai ayah. Bahkan Dino sang maknae memanggil Jeonghan dengan sebutan Eomma hingga sekarang.
"Eomma ." Rengekan maknae mengalihkan fokus Jeonghan. Dino datang dengan wajah kusut, dibelakangnya ada Soonyoung yang tertawa sambil menunjuk kearah Dino.
"Wae? Kalah dari Soonyoung lagi?" Tanya Jeonghan lembut. Dino mengangguk menjawab pertanyaan Jeonghan. Jeonghan mendelik kearah Soonyoung.
"Wae? Wae? Dia terus menantangku. Padahal sudah tahu akan kalah." Ucap Soonyoung saat mengerti arti tatapan Jeonghan.
"Yak, kau tidak bisa mengalah sedikit pada Dino? Dia tidak pernah menang saat melawanmu. Kau tidak kasian padanya?" Tuntut Wonwoo yang saat ini sudah bergabung dengan Jeonghan.
"Tidak bisa. Aku tidak suka mengalah dengan sengaja. Jika dia memang berkembang pasti dia akan mengalahkanku. Lagian aku yakin Uri-Dino tak suka jika lawannya mengalah dengan sengaja, apalagi karena kasian." Jelas Soonyoung.
"Aku pasti akan mengalahkanmu hyung. Lihat saja nanti." Ujar Dino semangat. Jeonghan dan Wonwoo menggelengkan kepalanya. Selalu saja seperti itu, besok-besok saat kalah dia akan kembali dengan wajah lesu dan mengadu pada Jeonghan. "Eomma, kapan selesainya?Aku sudah lapar." Ucap Dino sambil mengelus perutnya yang sedari tadi keroncongan.
"Sudah selesai." Jawab Mingyu lalu mulai meletakan piring-piring makanan di atas Pantry. Dengan sigap Dino dan Soonyoung membawa piring yang berisi makanan ke ruang tamu yang sudah disulap menjadi ruang makan.
Ketiga belas namja tampan itu makan dengan ribut. Suara lengkingan kesal dari Seungkwan dan Seokmin karena makanannya diambil, rengekan dari Dino dan Minghao, erangan kesal dan suara tawa mengisi acara makan malam itu. Ruang tamu Mingyu terlihat sangat kacau bekas makanan berserakkan dimana-mana. Sekitar pukul 10 malam mereka mengadakan acara tiup lilin dan potong kue, kue yang dipesan Wonwoo malam itu. Kecerian menyelimuti mereka semua, melupakan sejenak tentang kasus-kasus dan tugas –tugas yang tidak ada habisnya. Pukul 11 malam mereka pulang setelah membantu sedikit kekacauan diapartemen Mingyu. Kini tinggal Wonwoo dan Mingyu disana. Wonwoo berencana mencuci piring sebelum pulang keapartemennya.
"Hyung, kau tak perlu repot-repoot. Aku akan mencucinya besok." Ucap Mingyu saat melihat Wonwoo berkutat dengan sabun dan piring-piring kotor. Mingyu tahu Wonwoo sudah sangat lelah.
"Tidak. Aku akan membersihkan ini dulu baru aku pulang." Ujar Wonwoo sambil menyapukan spons ditangannya pada piring kotor tersebut.
"Baiklah, kita lakukan bersama, dan aku tak mengijinkanmu pulang malam ini. Tidurlah disini malam ini hyung, hari sudah sangat larut." Kata Mingyu sambil menggunakan sarung tangan karet dan mulai membantu Wonwoo. Suasana canggung tercipta diantara suara air dan gesekan spon. Mereka terdiam menikmati waktu berdua yang jarang terjadi. Setelah 15 menit mereka selesai mencuci piring.
"Aku akan pulang sekarang." Ujar Wonwoo seraya melepas sarung tangan karetnya.
"Aku antar hyung." Ucap Mingyu.
"Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri." Kata Wonwoo keras kepala. Mingyu mendesah pelan.
"Tidak. Ini sudah hampir pukul 12 hyung. Aku antar atau kau menginap disini." Ucap Mingyu tak kalah keras kepala. Wonwoo memutar bola matanya jengah dengan sikap Mingyu.
"Nan Namja-ya. Aku bisa pulang sendiri." Ucapnya lalu berjalan menuju pintu apartemen Mingyu. Tangan pucat Wonwoo hendak menggenggam handle saat dari luar apartemen terdengar suara petir dan hujan mulai turun. Mingyu menyeringai tampan dibelakang Wonwoo.
"Well, sepertinya kau tidak bisa pulang malam ini hyung." Ucap Mingyu pelan. Wonwoo merutuki alam yang tiba-tiba berubah, sungguh dia tidak ingin tinggal dengan Mingyu dan menciptakan suasana canggung seperti tadi. Wonwoo menghela napas pelan lalu berbalik menghadap Mingyu.
"Sepertinya aku tidak punya pilihan lain. Baiklah aku akan menginap malam ini." Ucap Wonwoo final. Mingyu tersenyum mendengarnya. "Tapi kau tidur dilantai dan aku dikasur." Lanjut Wonwoo membuat senyuman Mingyu luntur.
"Tidak bisa begitu hyung. Aku akan tidur dikasur, malam ini cuacanya akan sangat dingin hyung, sedangkan aku hanya punya satu selimut. Kau tidak bisa tidur jika suhunya rendah. Jadi, aku akan tidur denganmu diatas kasur." Ucap Mingyu kesal.
"Baiklah. Kalau begitu aku saja yang tidur dilantai. Kau bisa tidur dikasur, aku akan menggunakan jaket saja." Ujar Wonwoo ngotot.
"Aishh hyung. Ayolah, kita hanya tidur berdua diatas kasur. Aku tidak akan macam-macam padamu." Bujuk Mingyu. 'Lagian mana berani aku macam-macam, baru maju satu langkah saja sudah dipelototi dengan laser.' Lanjut Mingyu dalam hati sambil bergidik ngeri.
"Baiklah baiklah. Kita tidur berdua diatas kasur. Kalau kau berani macam-macam akan aku pastikan kepalamu copot besok pagi." Ancam Wonwoo lalu berjalan menuju kamar Mingyu.
"Astaga. Kenapa kesannya jadi aku yang menumpang ditempat Wonu-hyung." Gumam Mingyu sambil berjalan lesu kearah kamarnya. Saat memasuki kamar terlihat Wonwoo sudah bersiap diatas kasur, Mingyu jadi gugup sendiri melihatnya.
'Astaga. Aku akan tidur diatas kasur yang sama dengan Wonu-hyung. Wonu-hyung terlihat seperti menungguku untuk melakukan honey moon.' Pikir Mingyu sambil terdiam didepan pintu sembari melamun kearah Wonwoo. Wonwoo memandangnya aneh, apalagi saat ini Mingyu menatapnya sambil tersenyum-senyum sendiri.
Buukk
Mingyu tersentak saat merasakan sesuatu terlempar dengan keras diwajahnya, saat melihat kebawah dia melihat bantal sudah tergeletak didekat kakinya.
"Berhenti memikirkan hal mesum atau kau tidur dibawah." Sentak Wonwoo keras.
"Aku tidak-"
"Kau iya." Potong Wonwoo cepat sambil mendelik kearah Mingyu. "Aku akan tidur duluan." Lanjutnya lalu mulai menggulung tubuh kurusnya dengan selimut tebal milik Mingyu. Mingyu berjalan mendekat dan mulai menaiki kasur kosong disebelah Wonwoo yang sedang berguling miring kearah dinding.
Suasana dikamar tersebut kembali hening. Hanya terdengar suara hembusan napas yang berasal dari kedua namja tersebut. Masing-masing dari mereka tidak bisa tidur. Mingyu sedang menatap langit-langit dan Wonwoo sedang menatap dinding. Mereka juga berusaha tenang seraya mencoba menetralisirkan detak jantung yang semakin menggila. Mingyu berdeham pelan, Wonwoo sedikit tersentak mendengarnya namun Mingyu tidak melihat reaksi Wonwoo.
"Eung.. Hyung. Kau sudah tidur?" Tanya Mingyu mencoba mengusir suasana canggung disana. Wonwoo terdiam selama beberapa saat. Menimbang-nimbang haruskan dia menjawab pertanyaan Mingyu.
"Eum,.. belum." Jawab Wonwoo pelan.
"Kau tidak bisa tidur ya hyung?" Tanya Mingyu lagi, kali ini Wonwoo hanya bergumam menjawab pertanyaan Wonwoo. Tiba-tiba Wonwoo merubah posisinya menjadi terlentang seperti Mingyu, menatap langit-langit. "Aku juga tidak bisa tidur hyung." Lanjut Mingyu. Suasana kamar kembali hening, hanya terdengar suara hujan dan petir dari luar apartemen. Mingyu memutar kepalanya kesamping, menatap Wonwoo dalam diam.
"Hyung, aku mencintaimu."
...
...
...
===TBC===
Hallooooo.. Apa Kabar semua...?
Semoga baik-baik aja ya..
Hari ini saya sengaja update 2 chapter untuk menebus kesalahan saya yang menelantarkan cerita ini selama berbulan-bulan. Semoga kalian suka dan tetap tunggu kelanjutannya ya. Maaf untuk setiap typo yang masih bertebaran disetiap chapternya.
Selamat membaca..
BYE-BYE
