~Misunderstand Love~ / PART 11

Disclaimer : Naruto © Masashi Kisimoto ( Naruto hanya milik Masashi Kishimoto)

Judul : Misunderstand Love

Author : Ciel Bocchan a.k.a Febi N Maulida

Genre : Comedy, Romance, School Life, Brothership, Friendship, and Family

Pairing : NaruHina ( Uzumaki Naruto dan Hyuuga Hinata) and Other.

Rating : T


Shion membaca manga dengan wajah malas sambil berbaring di atas tempat tidur Menma. Sementara Menma, sibuk berjalan mondar-mandir dengan wajah cemas. Pemuda itu ingin menemani Naruto pergi menemui Hyuuga Hinata tapi Shion melarangnya karena mereka pasti hanya akan mengganggu dan membuat ruang bicara Naruto dan Hinata berkurang. Tapi tetap saja, Menma cemas dan membuat Shion pusing dan kesal melihat sikapnya. Kenapa dia cemas berlebihan? Naruto bukan anak kecil yang tidak tahu mana yang baik dan benar yang harus dia lakukan. Setelah Naruto berbicara panjang lebar dengannya malam tadi, Shion yakin kalau Naruto akan melakukan apa yang seharusnya ia lakukan demi hubungannya dengan Hyuuga Hinata. Walaupun setelah ia menceritakan pembicaraan mereka tersebut pada Menma tetap saja membuat pemuda itu cemas.

"Naruto lebih dewasa darimu" kata Shion sambi terus membaca manga yang menutup wajahnya. Menma langsung berhenti mondar-mandir.

"Apa?" sahutnya sambil melihat pada Shion yang wajahnya tetutup manga. Gadis itu berbicara tidak melihatnya.

" Yang bahkan tidak berani menghadapi perasaanku" kata Shion dingin

"Ap..." Menma akhirnya hanya diam dan tidak tahu harus berbicara apa. Kenapa sekarang malah dirinya yang merasa seperti anak kecil? Mendengar kalimat seperti itu diucapkan oleh gadis yang paling dekat dengannya sangat aneh. Menma menghela nafas dan akhirnya berhenti mondar-mandir lalu duduk diam di pinggir tempat tidur sambil sesekali melirik pada Shion yang masih sibuk berbaring sambil membaca manga yang menutupi wajahnya.

"Apa kau mau menungguku?"

Shion yang membaca manganya langsung kehilangan fokus . Gadis itu kaget dan terdiam mendengar kalimat tersebut diucapkan oleh Uzumaki Menma. Shion belum menyahut karena ia ingin mendengar Menma berbicara lagi. Seolah tak menghiraukan kata-kata pemuda itu Shion tetap berpura-pura membaca manga.

"Kita sudah saling mengenal sejak kecil. Kemudian menjadi sahabat bahkan sudah seperti saudara"

"Ya, dan bukan hanya kita tahu, semua orang yang kita kenal juga tahu" sahut Shion dengan nada malas, masih tanpa menyingkirkan manga yang menutupi wajahnya. Menma tertawa kecil.

"Karena kita sangat dekat aku jadi tidak tahu di mana perbedaannya kalau seandainya nanti kita berpacaran. Bukankah kita akan tetap seperti ini juga? Dulu saat kau mengatakan menyukaiku, kupikir itu karena kau salah mengartikan hubungan kita yang sudah terlalu dekat. Jika kita berjauhan, mungkin perasaanmu akan berubah. Kau membuktikannya dengan pindah ke Kyoto. Pada akhirnya memang tidak ada kesalahpahaman tentang perasaanmu padaku. Kau merasa lebih dari sekedar menyukaiku sebagai sahabat, sebagai saudara. Tapi aku berbeda. Aku juga menyukaimu namun tidak dalam artian seperti rasa sukamu padaku. Rasa suka dan sayangku sama seperti aku menyukai dan menyayangi Naruto"

"Aku tahu"

"Tapi ketika memikirkan kalau suatu saat nanti kau akan dimiliki oleh pria lain dan lebih dekat dengannya daripada aku. Itu membuatku sedih. Melihatmu tertawa padaku setiap hari sudah menjadi kebutuhan dalam hidupku. Jika kau tidak melakukannya lagi aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku, juga pada Naruto, karena anak itu juga menyayangimu"

"Jadi?"

"Aku akan mencobanya. Menyukaimu sebagai seorang pria bukan sebagai seorang sahabat atau saudara..." Menma menghentikan kalimatnya karena Shion tiba-tiba memeluknya dari sisi kiri tubuhnya.

"Aku akan menunggu, tentu saja. Aku adalah gadis yang sangat pintar menunggu. Kau pikir aku siapa? Aku adalah gadis paling hebat, cantik, dan baik hati yang pernah kau kenal" ujar Shion dengan senyum lebarnya. Menma juga tersenyum lalu akhirnya tertawa kecil. Bahkan dalam situasi seperti ini gadis itu masih bisa memuji dirinya sendiri, pikir Menma.

"Untung saja kau mengatakannya hari ini" kata Shion, masih sambil memeluk Menma.

"Huh? Apa?"

"Malam ini aku ada kencan dengan seniorku di sekolah" ujar Shion sambil melepas pelukannya dan duduk bersilang kaki.

"Apa?" Menma berseru kaget lalu ikut duduk bersilang kaki di atas tempat tidurnya berhadapan dengan Shion. Gadis itu tersenyum lebar.

"...Ngngng...dia mengajakku kencan. Sebenarnya aku tidak mau, tapi karena melihat wajahnya memelas aku jadi merasa kasihan. Jadi, aku memberikannya satu kesempatan. Dan..."

"Dan?"

"Aku berniat mencoba dengannya kalau hari ini kau tidak juga memberikan kepastian" kata Shion tanpa menatap wajah Menma dan malah berbicara sambil melihat isi kamar pemuda itu.

"Oh, jadi kau tidak akan pergi?" tanya Menma berharap Shion menjawab 'Ya'.

"Ummm...aku sudah terlanjut berjanji. Aku merasa jahat kalau tidak menepati janjiku. Aku hanya akan menemaninya tanpa mewujudkan niatku tadi"

"Biasanya kau memintaku atau Naruto untuk menolak laki-laki manapun yang ingin berkencan denganmu"

"Iya. Tapi, dia sangat baik padaku jadi aku sendiri yang akan menolaknya secara baik-baik. Ummm...dua jam lagi" kata Shion sambil melihat pada jam tangannya. Gadis itu kemudian turun dari tempat tidur dan memakai kembali jas sekolahnya.

"Kau tidak perlu mengkhawatirkan Naruto. Jika dia perlu bantuan dia pasti akan menghubungi kita" ujar Shion dan sudah bersiap untuk pulang.

"Apa aku perlu ada di sana?" tanya Menma ketika mereka berjalan turuan dari lantai dua rumah pemuda itu.

"Ngngng..tidak. Aku sebenarnya bisa mengatasi mereka sendirian" sahut Shion.

"Shion-chan, sudah mau pulang? Kenapa tidak makan malam di sini saja?" tanya Kushina yang baru saja kembali dari supermarket untuk membeli bahan makan malam.

"Aku ada kencan, Bi. Jadi tidak bisa" jawab Shion dengan senyum khasnya. Kushina terlihat sedikit kaget lalu melirik pada Menma. Putra sulungnya itu hanya balas menatap, bingung kenapa Ibunya menatapnya seperti itu.

"Aku akan mengantar Shion-chan sebentar" ujar Menma tiba-tiba, untuk menghentikan tatapan Ibunya. Shion tersenyum kemudian pamit pada Kushina.

Untuk pertama kalinya Menma dan Shion berjalan tanpa mengatakan apapun. Menma memikirkan Naruto dan Hinata tapi tiba-tiba ia memikirkan masalahnya sendiri dengan Shion. Keputusan yang baru saja diambilnya beberapa menit lalu adalah keputusan yang paling tepat. Ia menyayangi Shion, tentu saja. Hanya saja ia harus mengubah rasa sayangnya selama ini menjadi rasa sayang yang berbeda. Rasa sayang dari seorang laki-laki untuk gadis yang disukainya. Ia tidak pernah sekalipun memikirkan kalau keadaan seperti ini akan terjadi. Keadaan di mana Shion akhirnya jatuh cinta padanya dan ia harus membuat gadis itu tidak membencinya ketika ia menolak perasaan itu.

"Sampai jumpa besok. Oh, dan jangan terlalu mengkhawatirkan Naruto, dia akan selalu baik-baik saja" ujar Shion lalu gadis itu naik ke bus yang sudah menunggu di halte. Gadis itu melambaikan tangan dan Menma tersenyum sambil mengangguk.


Ketika ruang les akhirnya benar-benar sepi, barulah Naruto masuk. Les selesai sepuluh menit lebih cepat dari biasanya. Ia melihat Hinata duduk di depan piano ketika membuka pintu. Pemuda itu kemudian menutup kembali pintunya. Rasanya tiba-tiba berbeda dengan pertemuan mereka sebelumnya. Sore ini begitu menegangkan. Ia harus berbicara dengan baik tanpa kesalahan. Apapun yang terjadi ia harus menjadi pantas untuk gadis Hyuuga itu. Jika masalah yang paling besar sekarang adalah masalah usia, maka Naruto bersedia untuk menunggu sampai usianya menjadi pantas untuk Hyuuga Hinata. Asalkan Hinata akan terus bersamanya, ia akan menunggu.

"N-Neechan?" panggil Naruto pelan ketika sudah masuk ke dalam ruang les. Pemuda itu tidak melihat Hinata sampai akhirnya gadis Hyuuga itu tiba-tiba muncul dari balik piano besar yang ada di tengah ruangan. Gadis itu muncul dengan senyum lebar. Lalu melambaikan tangannya ke arah Naruto. Sementara Naruto malah tertegun karena ternyata gadis itu terlihat lebih baik dari yang ia pikirkan.

"Kau baik-baik saja, Naruto? Kemarilah" kata Hinata dengan senyum lebarnya sambil duduk pada bangku yang ada di depan piano. Naruto tersenyum lebar.

"Aku baik-baik saja" jawab Naruto saat Hinata memeluknya.

"Maaf aku tidak memberitahumu" ujar gadis itu, masih tetap memeluk Naruto.

"Itu bukan salah Neechan. Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Naruto. Hinata terdiam. Naruto menunggu gadis itu berbicara. Tetapi Hinata tidak mau melepaskan pelukannya seolah ia tidak akan bisa melakukannya lagi jika ia melepas tubuh Naruto.

"Apa kau yakin?" tanya Hinata tiba-tiba. Gadis itu akhirnya melepaskan pelukannya dari Naruto.

"Tentang apa?" sahut Naruto heran.

"Bahwa kau akan tetap mencintaiku bahkan setelah tahun-tahun terlewatkan"

"Awalnya, kupikir aku terlalu kecil untuk bisa mencintai seseorang dengan serius. Tetapi, ketika memikirkan jika suatu saat nanti Hyuuga Hinata mungkin akan dimiliki oleh orang lain, membuatku marah. Aku bukan anak kecil. Aku tidak boleh terus menjadi anak kecil yang takut untuk menjadi serius dalam setiap hal. Hanya satu pria yang boleh bersama Hyuuga Hinata selamanya, dan itu adalah aku, Uzumaki Naruto. Memangnya kenapa jika kau lebih lebih tua dariku? Memangnya kenapa jika pria mencintai wanita yang lebih tua darinya? Tidak ada larangan untuk itu. Bahkan ada yang usianya lebih jauh dari kita. Bukankah aku benar, Neechan?". Naruto tersenyum lebar pada gadis Hyuuga itu. Hinata tertegun pada awalnya, gadis itu tidak menyangka Naruto bisa mengatakan sesuatu seperti itu dengan sikap yang dewasa dan serius. Lalu, buat apa ia harus ragu lagi dengan Naruto? Seharusnya ialah yang lebih percaya diri dari Naruto yang lebih muda darinya. Ia harus meyakinkan Naruto untuk tidak menyerah dan terus mempertahankannya. Ia harus meyakinkan Naruto kalau dia pasti bisa meluluhkan hati Ayahnya. Jika salah satu di antara mereka menyerah bahkan sebelum memulai apapun, rasanya terlalu menyedihkan jika mengingat bagaimana mereka bisa saling jatuh cinta. Mencintai seseorang di mana wanita yang lebih tua dari pria adalah hal yang cukup sulit dan menentang keharusan yang seharusnya pria lah yang lebih tua dari wanita atau usia mereka setidaknya harus sama. Tetapi, bukankah orang bilang kalau cinta itu tidak melihat usia? Karena memang banyak yang usianya berbeda lebih jauh dari mereka. Hinata harus mempertahankan Naruto. Gadis itu merasa tidak akan bisa jatuh cinta lagi pada pemuda selain Naruto.

"Aku akan berbicara dengan Ayah sekali lagi"

"Lalu?"

"Mungkin kau harus menungguku. Ayah tidak akan menerimamu di usia yang sekarang. Kau harus bisa meyakinkan Ayah bahwa kau bisa berubah dan menjagaku" ujar Hinata serius.

"Pasti...tapi, bagaimana caraku meyakinkannya?" tanya Naruto. Hinata terlihat berpikir sebentar. Gadis Hyuuga itu terdiam. Ia baru memikirkannya sekarang. Bagaimana cara Naruto meluluhkan hati Ayahnya yang keras itu? Hinata yakin tidak akan mudah tapi ia yakin jika Naruto serius pemuda itu pasti bisa melakukannya. Sebelum semuanya terlambat seperti apa yang pernah terjadi pada kakaknya, Hyuuga Neji. Ayahnya bisa saja mencarikan pemuda lain untukknya dan jika itu terjadi semuanya akan berakhir begitu saja.

Naruto juga ikut berpikir ketika melihat Hinata juga diam sambil memikirkan cara tersebut. Pemuda itu juga baru memikirkannya sekarang. Bagaimana cara meluluhkan hati Ayah Hinata? Naruto tahu kalau dirinya bodoh, jadi dia tidak yakin bisa menemukan cara yang tepat.

"Datanglah ke rumahku" kata Hinata tiba-tiba.

"Hah? Ke rumah...ke rumah?" seru Naruto kaget. Hinata mengangguk seolah apa yang baru saja dia katakan pada Naruto adalah menyuruh pemuda itu membalikkan telapak tangan.

"Kau takut pada Ayahku, bukan?" goda Hinata

"Ta...tidak! Aku Uzumaki Naruto tidak pernah takut pada siapa pun" sahut Naruto berusaha menjawab dengan tegas. Mana mungkin ia bisa terlihat lemah di depan Hyuuga Hinata. Apalagi di saat-saat seperti ini. Hinata tersenyum lebar. Sejak ia tidak bertemu Naruto perasaannya selalu takut dan gelisah. Ia tidak bisa memikirkan hal lain selain Naruto. Tetapi, pertemuan mereka sore ini membuat semua kegelisahan Hinata langsung hilang. Melihat Uzumaki Naruto dalam keadaan seperti biasanya membuat semua ketakutannya hilang. Apakah seperti ini benar-benar namanya cinta? Ketika melihat pria yang kita cintai baik-baik saja dan tersenyum seperti biasanya dan kau akan merasa sangat tenang dan lega. Hinata bahkan tidak pernah menyangka kalau dirinya akan benar-benar mencintai Naruto seperti ini. Pertemuan pertama mereka malah jauh dari kata romantis. Tapi ia senang ia bisa mengenal Naruto. Ia senang ia bisa jatuh cinta pada pemuda itu. Walaupun awalnya terasa sangat aneh karena usia Naruto yang lebih muda darinya. Sekarang, Hinata malah merasa kawatir dengan bagaimana cara agar Naruto bisa meyakinkan Ayahnya.

"J-jadi, aku harus datang ke rumah Neechan?" tanya Naruto memastikan apakah Hinaya serius tentang menyuruhnya datang ke rumah.

"Tidak. Jangan sekarang atau kau akan terlihat jelas sengaja datang ke rumah. Lebih baik mendekati Ayahku pelan-pelan" ujar Hinata serius

"Caranya?"

"Ayah sering berkunjung ke perpustakaan kota setiap sore. Kau juga harus ke sana dan berpura-puralah kau juga suka membaca atau meminjam buku di sana"

"Perpustakaan kota?"

"Kau punya kartu perpustakaannya tidak?" tanya Hinata. Naruto menggeleng polos.

"Tapi Niisan punya" lanjut Naruto langsung

"Untuk sementara pakai milik Menma-kun sampai milikmu selesai. Kau harus punya kartu sendiri agar Ayahku percaya, mengerti?". Naruto mengangguk serius.

"Besok sore pergilah ke perpustakaan dan lakukan seperti yang kukatakan tadi. Berbicaralah seolah kau belum tahu kalau aku menyukaimu. Jika Ayah memancingmu dengan pertanyaan yang sulit, pastikan kau menjawabnya dengan jawaban yang baik dan tepat. Rasanya aku tidak perlu menjelaskan semuanya tentang apa yang harus kau lakukan. Kau pasti bisa melakukannya dengan baik, iya kan, Naruto?"

"Tentu saja. Jika aku tidak bisa melakukannya dengan baik maka aku akan kehilangan Neechan" jawab Naruto dengan senyum lebar. Hinata tersenyum lalu mengusap pipi Naruto. Gadis Hyuuga itu kemudian melihat pada jam tangannya.

"Sebentar lagi jemputanku akan datang" kata Hinata

"Jadi, bagaimana kita bisa terus berkomunikasi?" tanya Naruto. Hinata menggeleng dengan wajah sedih. Satu-satunya cara agar mereka tetap bisa bertemu adalah saat Hinata les atau jika Hinata berbohong pada Ayahnya tentang pergi ke rumah teman atau semacamnya. Ia tidak bisa melakukan hal-hal yang sangat nekat yang nantinya bisa menyulitkan Naruto. Ketika memikirkan bahwa mereka hanya bisa bertemu tiga kali dalam seminggu selama waktu les Hinata yang tersisa, itu membuat gadis Hyuuga itu sedih. Tidak ada satupun cara untuk ia dan Naruto bisa bertemu dengan aman tanpa ada resiko.

"H-Hinata?" ujar Naruto pelan ketika Hinata tiba-tiba memeluknya. Pemuda Uzumaki itu kemudian balas memeluk dengan perasaan bingung. Pikirnya, kenapa Hinata tiba-tiba seperti ini?

"Bahkan dalam mimpi aku tidak pernah membayangkan kita akan menjadi seperti ini, Naruto" uar Hinata pelan dan pelukannya erat.

"Ya...tapi mungkin aku yang harusnya lebih kaget di sini. Bagaimana kita bisa menjadi seperti ini. Maksudku, bagaimana kau juga bisa menyukaiku" sahut Naruto dengan senyum kecil. Hinata tersenyum dengan wajah sedihnya. Ia ingin sekali menangis. Tetapi tidak di depan Naruto. Apalagi di saat seperti ini.

"Aku harap keadaan kita tidak akan semakin memburuk nantinya. Jadi, pastikan kau bisa meyakinkan Ayahku walaupun dengan sangat pelan" ujar Hinata. Gadis itu mengusap kepala Naruto sambil tersenyum lalu melepas pelukannya.

"Sopirku selalu tepat waktu. Dia akan sampai dalam hitungan detik" kata Hinata sambil berdiri. Naruto juga ikut berdiri. Mereka kemudian berjalan bersama keluar dari ruang les yang ada di lantai dua. Beberapa orang masih terlihat berlalu-lalang di sepanjang koridor dan tangga gedung les. Dan benar saja apa yang Hinata katakan, tepat ketika mereka sampai di pintu utama gedung, mobil yang menjemput Hinata baru saja sampai. Hinata menoleh pada Naruto dengan senyum kecil. Naruto hanya menghela nafas tidak habis pikir. Ayah Hinata benar-benar sangat disiplin sampai mobil jemputan untuk putrinya pun tidak boleh terlambat.

"Ayahku sebenarnya sangat baik. Tapi dia dingin dan keras kepala. Jika kau melawan orang seperti itu, apa yang akan kau lakukan?" kata Hinata lalu tersenyum. Gadis Hyuuga itu lalu mencium pipi Naruto kemudian berjalan menuju mobilnya jemputannya.

Naruto tertegun mendengar kalimat terakhir Hyuuga Hinata. Melawan orang yang dingin dan keras kepala namun sebenarnya dia baik? Naruto tersenyum kecil. Pemuda itu sudah bisa memikirkan beberapa cara di dalam kepalanya. Mungkin akan butuh usaha dan waktu yang sangat lama. Tapi demi bisa bersama Hinata, usaha apapun itu dan selama apapun waktu yang diperlukan, Naruto akan tetap melakukannya. Jadi, pertama-tama ia harus membuat kartu perpustakaan untuk perpustakaan pusat kota. Lalu, berkunjung ke sana setiap sore untuk bertemu Ayah Hinata. Lalu berpura-pura tidak tahu dan tidak sengaja. Jika Ayah Hinata memojokkannya dengan banyak pertanyaan-pertanyaan, maka Naruto harus menjawab sebaik mungkin tanpa cacat. Ia juga harus berpura-pura tidak tahu kalau Hinata menyukainya. Mungkin Ayah Hinata tidak akan terlalu dingin padanya karena Naruto sudah memberikan kesan pertama yang baik saat menolong Hyuuga Hanabi.


Pada akhirnya, Menma, bahkan Shion, juga ingin ikut membantu tentang Naruto yang berpura-pura akan bertemu Ayah Hinata di perpustakaan kota. Bukan cuma mereka, teman-teman Naruto bahkan ingin ikut membantu dan Naruto malah tidak mengerti kenapa mereka ingin ikut untuk menyelesaikan masalahnya sementara yang mereka bisa hanya membuat masalah. Tentu saja mereka itu tidak termasuk kakaknya dan Shion. Saat teman-temannya berbicara tentang ingin membantu dan semacamnya, Naruto hanya tertawa lucu. Tapi pemuda itu senang karena setidaknya teman-temannya peduli. Di antara mereka, Kiba yang paling bersemangat ingin membantu. Kenapa harus Kiba yang paling sering membuat masalah yang paling bersemangat? Tapi Naruto tahu kalau teman-temannya pasti akan bisa membantunya walaupun tidak sekarang. Untuk sekarang Naruto hanya butuh bantuan kakaknya.

"Jadi, kapan kami bisa ikut dalam aksi perjuangan cinta ini?" goda Kiba

"Ini benar-benar luar biasa. Rasanya kita seperti ada dalam sebuah film sebagai teman dari pemeran utama yang akan memperjuangkan cintanya" kata Shino. Sai mengangguk cepat untuk membenarkan. Sasuke hanya menyimak tanpa berkomentar. Pemuda Uchiha itu benar-benar tidak menyangka kalau hubungan Naruto dan Hinata akan menjadi sejauh ini. Mengingat bagaimana dua orang itu bertemu membuat Sasuke tersenyum. Malam saat festival sekolah mereka saat ia dan Naruto dikejar-kejar karena membuat masalah lagi. Entah bagaimana Oneesan itu sampai di halaman samping sekolah itu. Ia dan Naruto tidak tahu apa yang terjadi saat itu ketika Oneesan itu, Hyuuga Hinata, tiba-tiba muncul dan menyatakan cintanya pada Naruto yang kebetulan berdiri di halaman samping sekolah dan akan bersembunyi bersamanya dibalik kursi dan semak-semak bersama Sasuke. Tidak, sebenarnya pernyataan cinta Hinata pada Naruto itu adalah sebuah kesalahpahaman yang sangat besar. Gadis Hyuuga itu mengira kalau Naruto adalah Menma, kakak kembar Naruto. Ya, mereka memang sangat mirip dan hampir tidak ada perbedaan bahkan tinggi badan mereka pun hampir sama. Satu-satunya yang berbeda hanya warna rambut. Naruto memiliki warna rambut kuning seperti ayahnya sementara Menma berwarna merah seperti ibunya. Semuanya memang sangat kebetulan karena saat itu Naruto memang sedang memakai wig rambut seperti rambut kakaknya untuk mengalihkan perhatian orang-orang yang mencari mereka. Naruto selalu melakukan hal yang sama di saat terdesak yaitu memakai wig seperti rambut kakaknya. Karena itulah Oneesan yang sebenarnya jatuh cinta pada Uzumaki Menma itu salah menyatakan cinta. Dia mengira kalau Naruto adalah Menma.

Kejadian itu adalah sesuatu yang sangat tidak mungkin bisa Sasuke lupakan. Momen paling bersejarah bagi Naruto tentu saja. Dan Sasuke tidak menyangka kalau Naruto ternyata lebih gila dari yang ia tahu dengan berani jatuh cinta pada Hyuuga Hinata. Itu bukan sebuah kesalahan. Tidak ada yang salah dengan jatuh cinta pada seseorang, yang salah adalah pada siapa dia berani jatuh cinta. Dan kesalahan itu harus ia perbaiki sekarang dengan memperjuangkan Hinata agar bisa menjadi miliknya. Sasuke merasa kagum pada temannya itu. Naruto yang dulunya hanya bisa membuat masalah dan berkelahi sekarang berubah drastis karena jatuh cinta. Hyuuga Hinata benar-benar membawa dampak yang sangat bagus bagi temannya itu. Naruto masih sangat muda tapi temannya itu sudah yakin tentang apa yang diinginkan dirinya.

"Bagaimana dengan mendekati kakaknya juga?" usul Sasuke tiba-tiba. Naruto tersentak dan seakan baru mengingatnya. Sasuke benar, bukankah kakak Hinata masih bersekolah di sekolah yang sama? Mungkin kakak gadis Hyuuga itu tidak sedingin ayah mereka.

"Benar. Bukankah kakak Hinata masih ada di sekolah yang sama?" sahut Naruto.

"Kau bisa mendekati kakaknya juga. Siapa tahu dia mau membantumu" kata Sai

"Ide bagus"

"Bagaimana kalau setelah pulang nanti kita ke sekolahnya?"

"Lalu, apa yang harus kubicarakan padanya kalau sudah bertemu?" tanya Naruto

"Katakan saja kau butuh bantuannya" kata mereka bersamaan kecuali Sasuke yang hanya mengangguk setuju. Naruto terlihat berpikir sebentar. Teman-temannya benar. Tetapi, bagaimana jika Hyuuga Neji tidak ingin membantu?

"Kita tidak akan tahu kalau belum mencoba, dasar bodoh!" kata Sasuke. Jadi, setelah pulang sekolah, ia akan menemui Hyuuga Neji, lalu pergi ke perpustakaan kota bersama Menma untuk "tidak sengaja" bertemu Ayah Hinata.


Uzumaki Menma lagi-lagi menahan Hyuuga Neji yang sudah akan masuk ke dalam mobilnya. Neji tahu apa yang ingin kakak dari Uzumaki Naruto itu bicarakan. Menma ingin berbicara sekali lagi untuk meyakinkan dirinya kalau keluarga Hyuuga Hinata benar-benar tidak akan membuat Naruto dalam masalah. Tidak, ia akan terus berbicara sampai Naruto bisa mendapat kepastian. Ia tidak ingin apa yang nantinya akan Naruto lakukan percuma jika pada akhirnya Hinata tetap tidak akan menjadi milik adiknya. Ia akan membuatnya selesai dengan cepat sebelum Naruto benar-benar tergila-gila pada Hyuuga Hinata. Menma tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika Naruto sudah melakukan segalanya untuk Hinata namun gadis itu tetap tidak bisa menjadi milik adiknya itu. Naruto akan berantakan dan Menma bisa memastikan itu. Jadi, sebelum semuanya terlambat, ia akan memastikan apakah keluarga Hyuuga Hinata akan menerima Naruto atau tidak. Walaupun Menma yakin kalau Hyuuga Hinata juga menyukai adiknya, tetapi itu tidak cukup untuk membuat dia sendiri dan Naruto bisa bersama karena Ayah Hinata tidak menerima Naruto atau mungkin belum. Jika sudah jelas keluarga Hinata tidak bisa menerima Naruto maka adiknya itu harus berhenti. Jika Naruto tidak mau berhenti maka Menma yang akan membuatnya berhenti. Karena Menma tahu kalau dalam masalah hubungan ini Naruto lah yang akhirnya akan terluka lebih parah.

"Apa lagi yang harus kita bicarakan?" tanya Neji. Mereka berbicara sambil berdiri tak jauh dari mobil jemputan.

"Aku hanya ingin bertanya dan kau harus menjawab iya atau tidak. Aku juga tidak ingin berlama-lama membahas hal yang sama" kata Menma serius. Hyuuga Neji terlihat heran sebentar lalu mengangguk.

"Apa keluargamu bisa menerima Naruto atau tidak?". Neji agak kaget mendengar pertanyaan Menma. Pertanyaan yang hanya punya dua jawaban "iya" atau "tidak". Sekarang keadaan di rumah sedang tidak nyaman karena masalah ini. Neji tidak bisa memastikan apakah Ayah akan bisa menerima Naruto atau tidak. Tetapi melihat hubungan Ayahnya dan Hinata sekarang kemungkinan paling besar yang akan terjadi adalah Ayahnya tidak akan menerima Naruto. Namun kondisi sekarang bisa berubah kapan saja. Ayah bisa saja menjadi luluh atau semacamnya walaupun kemungkinannya sangat kecil. Melihat cara Menma bertanya sekarang membuat Neji yakin kalau pemuda itu pasti ingin memastikan semuanya sebelum apa yang akan terjadi nanti menjadi sia-sia untuk adiknya. Apa yang harus ia jawab? Jika ia menjawab tidak namun pada suatu hari ini kenyataan mengatakan iya dan ternyata Uzumaki Naruto ternyata sudah menyerah, apa yang akan terjadi pada Hinata? Tapi jika ia menjawab iya namun pada akhirnya kenyataan berkata tidak, maka Naruto yang akan hancur. Semua kuputusan ada pada Ayah mereka.

"...Aku tidak tahu" jawab Neji akhirnya

"Bukankah tadi aku sudah bilang kalau kau hanya punya dua jawaban? Iya atau tidak" kata Menma

"Semua keputusan ada pada Ayahku. Aku tidak bisa memastikan apakah ayah akan bisa menerima Uzumaki Naruto atau tidak. Jika kau ingin memastikan tanyakan pada ayahku"

"Kau adalah putranya, seharusnya kau tahu seperti apa Ayahmu. Karena aku sangat mengenal kedua orangtuaku. Mereka pasti akan menerima Hinata dengan senang hati bahkan jika usianya lebih tua dari Naruto. Aku tidak perlu menemui Ayahmu jika aku bisa berbicara baik-baik dengan anaknya. Kau pasti sangat kenal sifat Ayahmu dengan sangat baik, Hyuuga-san" tegas Menma di akhir kalimatnya.

Neji terdiam sesaat, mencoba untuk tenang, dan akhirnya menjawab, "Tidak untuk sekarang ini jika adikmu belum bisa membuktikan apapun pada Ayahku"

"Jadi Ayahmu perlu bukti?" tanya Menma

"Iya"

"Lalu bagaimana dengan kau?"

"...Tergantung apa Uzumaki Naruto sungguh-sungguh mencintai Hinata dan bisa membuktikannya juga padaku"

"Kalau begitu kau harus membantu Naruto" ujar Menma cepat

"A-Apa? Kenapa aku harus membantu adikmu?"

"Kau perlu bukti, bukan? Kau bisa melihatnya langsung dengan ikut membantu. Kau harus meyakinkan Ayahmu atau hal apapun yang bisa kau lakukan"

"Jika aku menolak?"

"Aku tahu Hinata-san sangat mencintai adikku. Kau pikirkan saja bagaimana jika seandainya Naruto tidak bisa bersamanya. Bukan hanya adikku yang akan terluka" ujar Menma serius.

Naruto sedang memikirkan apa yang kira-kira sedang dibicarakan kakaknya dengan Hyuuga Neji. Mereka terlihat sangat serius. Apa mungkin mereka membicarakan tentang dirinya dan Hinata? Oh, bisa jadi. Mereka terlihat seperti dua orang kakak yang sedang memperjuangkan kebahagiaan adiknya masing-masing. Ini benar-benar seperti dalam film seperti kata Shino. Ia akan menunggu sampai mereka selesai berbicara.

"Kau yakin dengan kesungguhkan adikmu sendiri?" tanya Neji

"Aku tidak pernah meragukannya. Naruto adalah tipe orang yang jika sudah menyukai sesuatu maka dia akan berusaha untuk mendapatkannya. Tetapi jika sesuatu itu memang tidak seharusnya menjadi miliknya maka ia akan berhenti. Jadi, apa menurutmu Naruto harus berhenti?"

"...Tidak"

"Aku juga berpikir seperti itu. Jadi, bukankah kita sudah tahu peran kita masing-masing?"

"Tapi aku ingin kau pastikan kalau Uzumaki Naruto bisa mencintai dan menjaga adikku, Uzumaki-san" kata Neji. Menma tersenyum dan mengangguk yakin.

Hyuuga Neji kemudian berjalan kembali ke mobilnya. Ini rasanya seperti sebuah drama keluarga. Ini seperti kalau ia akan menentang Ayahnya. Tapi Neji yakin kalau keputusannya benar. Ia sudah pernah gagal. Jadi ia tidak akan membiarkan Hinata mengalami hal yang sama. Mungkin Uzumaki Naruto memang orang yang tepat walaupun usia pemuda itu lebih muda dari adiknya. Dengan ikut membantu ia juga bisa melihat langsung seperti apa kesungguhan Uzumaki Naruto terhadap Hinata. Entah kenapa ini terasa lucu.

"Neji-sama?" tegur sopirnya yang heran melihat Neji yang tiba-tiba tersenyum seperti menahan tawa.


Naruto dan Menma sedang berada dalam bus menuju perpustakaan kota untuk menjalankan rencana Naruto dan Hinata sejak kemarin sore. Sebenarnya Shion memaksa ikut tapi Menma melarangnya. Gadis itu pasti akan terlalu bersemangat membantu sampai suasana akan berantakan. Karena itulah Menma tidak ingin dia ikut walaupun Naruto berharap kalau Shion bisa ikut untuk membantunya. Dan pertemuan antara Menma dan Neji setelah pulang sekolah tadi sama sekali tidak dipertanyakan oleh Naruto. Biarkan itu menjadi urusan kakaknya dan Hyuuga Neji. Naruto percaya semua yang dilakukan kakaknya adalah untuk melindunginya.

"Melihatnya sekarang berbeda saat aku bertemu dengannya waktu itu, Niisan" bisik Naruto sambil melihat pada Hyuuga Hiashi ketika mereka sudah berada di dalam perpustakaan dan berdiri dibalik rak-rak tinggi dalam perpustakaan sambil memperhatikan Hyuuga Hiashi yang sedang sibuk membaca dengan wajah serius dan beberapa buku di depannya masih menumpuk menunggu untuk dibaca.

"Maksudmu dia sekarang terlihat lebih menakutkan?" tanya Menma dengan senyum kecil. Naruto mengangguk.

"Lakukan sekarang, aku akan muncul sekitar dua menit setelah kau bisa berbicara dengan Ayah Hinata" bisik Menma. Naruto mengangguk lagi. Menma menepuk pundak adiknya itu dengan senyum kecil. Naruto membalasnya dengan senyum lima jari.

Naruto membawa enam buku yang biasanya orang-orang pelajari ketika ingin ikut ujian masuk SMU. Pemuda itu lalu duduk di depan Ayah Hinata, di sisi meja yang lain. Dengan berpura-pura serius Naruto membaca salah satu buku tersebut dan mencatat beberapa hal penting pada buku kecil yang sudah disediakannya. Ia sama sekali tidak melirik sedikitpun pada Ayah Hinata yang sedang sangat serius membaca bukunya. Rasanya seperti berada di antara hidup dan mati. Kau hanya diberi punya dua pilihan, bunuh diri atau dibunuh.

"Oh, kau...Uzumaki-san?" tiba-tiba suara Hyuuga Hiashi terdengar jelas dan Naruto benar-benar ingin pergi dari sana saat itu juga. Menma terus memperhatikan dari balik rak terdekat sambil sesekali membaca buku di tangannya. Setelah menghela nafas sangat panjang dan memaksa dirinya untuk berhenti ketakutan, Naruto lalu mengangkat wajahnya dari buku yang dia baca. Dengan aneh, pemuda itu mencoba tersenyum ramah. Naruto mendadak tidak bisa tersenyum, benar-benar tidak bisa. Dan tiba-tiba saja ia mengingat Hyuuga Hinata. Entah kenapa wajah gadis itu tiba-tiba muncul di saat seperti ini. Perlahan Naruto mulai tenang dan akhirnya bisa berbicara.

"O-oh, P-Paman Ayahnya H-Hinata-neechan" sahut Naruto. Hyuuga Hiashi sekarang terlihat benar-benar sedang memperhatikan Naruto.

"Aku tidak menyangka bertemu denganmu di sini" kata Hyuuga Hiashi. Nada bicaranya terdengar santai tapi tatapannya pada Naruto tidak. Hyuuga Hiashi sedang mencari tahu apa yang disukai putrinya dari anak SMP seperti Uzumaki Naruto.

"...Sebenarnya saya suka ke sini jika sedang senggang. Tapi biasanya saya duduk di sebelah sana dan kebetulan meja itu sudah lebih dulu diisi" kata Naruto sambil melihat pada sebuah meja di seberang rak yang memang sudah diisi oleh orang lain. Hyuuga Hiashi mengangguk.

"Kau membaca buku apa?" tanyanya. Naruto tahu kalau Ayah Hinata sudah mulai menginterogasinya.

"Aah, ini buku rekomendasi dari kakakku untuk dipelajari ketika ingin mengikuti ujian masuk SMU"

"Uzumaki-san, sebenarnya aku ingin bertanya sesuatu, apa kau tidak keberatan?" tanya Hyuuga Hiashi.

"...T-Tidak. Tentu saja tidak". Naruto mendapati dirinya mulai merasa cukup tenang berbicara dengan Ayah Hinata walaupun tetap saja rasanya tegang dan menakutkan.

"Kau mengenal Hinata cukup dekat, bukan?"

"I-Iya, semacam itu. Hinata-neechan teman kakakku jadi aku sering bertemu juga dengannya"

"Lalu, bagaimana pendapatmu tentang Hinata?"

"P-Pendapatku? Kenapa..."

"Aku hanya ingin tahu bagaimana sikapnya pada teman-temannya"

"Ooo, Hinata-neechan? Cantik. Itu tentu saja, dia memang cantik" tiba-tiba Naruto berbicara seperti biasanya dengan senyum lebar saat menjawab kalau Hinata itu cantik.

"Selain..cantik?" tanya Hyuuga Hiashi yang heran melihat perubahan sikap Naruto saat berpendapat tentang putrinya.

"Neechan juga baik. Dia pernah menjengukku saat aku sakit. Walaupun bicaranya sedikit tapi aku suka ketika berbicara dengannya". Menma yang melihat dari balik rak juga heran dengan sikap Naruto. Kenapa sikap Naruto berubah? Itu tidak sesuai dengan rencana. Dia seharusnya menjawab apapun pertanyaan Ayah Hinata dengan tenang tapi dia malah menjawab dengan senyum lebar dan tawa kecil seperti itu. Dan sepertinya anak itu tidak sadar dengan perubahan sikapnya. Dia terlalu banyak memikirkan Hyuuga Hinata.

"Oh. Apa menurutmu ada yang sedang dia sukai?"

"Huh?"

"Maksudku, apa menurutmu dia sedang jatuh cinta pada seseorang?"

"Ngng...terakhir kali meihatnya, Hinata-neechan memang bersikap seolah dia sedang jatuh cinta. Dia terlihat senang bahkan ketika aku mengomelinya. Dia juga sering tersenyum sambil melamun dan tanpa sebab. Aku melihatnya ketika dia datang mengerjakan tugas kelompok dengan kakakku. Dan tidak hanya satu kali itu saja" jawab Naruto. Sekarang Naruto menjawabnya dengan sadar tidak seperti jawaban sebelumnya yang membuatnya terlalu senang ketika memuji Hinata.

"Benarkah?" Hyuuga Hiashi berpura-pura kaget dan tidak tahu kalau putrinya sedang jatuh cinta. Tetapi, membayangkan putrinya melamun sambil tersenyum sendiri membuatnya kaget. Benarkah Hinata sampai bersikap seperti hanya karena anak kecil di depannya sekarang? Dan sepertinya Uzumaki Naruto belum tahu kalau yang putrinya cintai adalah dia. Hiashi berpura-pura tidak tahu sementara Naruto senang karena sepertinya Ayah Hinata mengira kalau dirinya belum tahu tentang siapa yang Hinata sukai.

"Apa kau tahu siapa yang Hinata sukai?"

"Tidak. Neechan tidak memberitahuku walaupun aku bertanya. Kenapa tidak paman tanyakan sendiri pada Hinata-nee?"

Menma tidak jadi muncul karena merasa keberadaanya sudah tidak diperlukan lagi karena ternyata Naruto bisa mengatasinya untuk pertemuan pertama ini. Hyuuga Hiashi tidak bertanya apapun lagi karena harus segera pulang. Dia hanya mengatakan "Sampai jumpa lagi" pada Naruto.

Naruto tidak tahu apa pendapat Ayah Hinata tentang dirinya setelah pembicaraan mereka tadi. Ia hanya berharap kalau pandangan Ayah Hinata terhadapnya tidak buruk. Untuk hari pertama rencana ini sepertinya cukup berhasil. Naruto berharap hari-hari berikutnya semakin baik sampai Ayah Hinaya bisa luluh olehnya.


[TBC]