Disclaimer : Masashi Kishimoto
Warning : AU, OOC, Typo bertebaran, no EYD, mainstream, alur yang berantakan, cerita pemula.
By : Rozzeana
Rated : T
.
.
.
11. Pengakuan
Sudah beberapa hari ini, Naruto dan Hinata tidak terlihat bersama. Hinata sudah beberapa hari ini menolak diantar dan dijemput Naruto. Bahkan beberapa hari ini juga Hinata selalu pulang kerumah orang tuanya bukan kerumahnya dan mendiang Sasuke. Jika ingin diajak makan siang bersama pun Hinata sudah lebih dulu hilang sebelum di datangi Naruto. Jika pun Naruto tiba lebih dulu, Hinata tetap akan menolak dengan berbagai alasan.
Naruto yang sudah benar - benar tidak tahan dengan sikap Hinata, tanpa bicara lagi langsung menarik tangan Hinata menuju mobilnya, lalu dalam diam Naruto mengantar Hinata menuju rumahnya dan mendiang Sasuke. Sesampainya disana saat Hinata hendak membuka pintu mobil, Naruto menahan tangan Hinata.
"Jelaskan padaku ada apa denganmu?" Tanya Naruto dengan ekspresi serius.
"Tidak ada." Jawab Hinata yang sangat jelas menunjukkan ketidaknyamanannya.
Naruto menghela nafas, "Jika memang tidak ada apa - apa kenapa kau menghindariku selama beberapa hari ini? Apa aku melakukan sebuah kesalahan? Jika iya aku minta maaf, tapi tolong beritahu aku dimana kesalahanku!" Ekspresi Naruto mulai terlihat bingung dan sedih menatap kearah Hinata. "Kita teman kan?"
Entah kenapa mendengar pertanyaan terakhir dari Naruto untuk sesaat dada Hinata terasa sesak dan jantungnya berdebar tidak beraturan, butuh waktu untuk Hinata sedikit menormalkan debaran didadanya itu.
"Hinata?" Hinata menatap Naruto yang memanggilnya. "Mau kan kau memberitahuku apa kesalahanku?" Tanya Naruto.
Melihat Naruto yang menatapnya sendu, Hinata malah teringat adegan saat Naruto dan Shion tertawa berdua dengan Shion yang menyuapinya makanan.
"Kau tidak salah apa pun." Hinata mengalihkan tatapannya. "Aku hanya kesal melihatmu yang berduaan dengan Shion sambil tertawa. Rasanya kau belum pernah tertawa atau berekspresi seperti itu jika sedang denganku. Kalau kau lebih nyaman dengan Shion jangan ganggu aku lagi."
"Apa maksudmu?" Tanya Naruto benar - benar tidak mengerti.
"Tidak ada!"
"Hinata, ayolah katakan padaku apa maksudmu? Jika kau tidak mengatakannya dengan benar aku tidak ak-"
"Aku tidak suka melihatmu dengan Shion!" Bentak Hinata.
Naruto terkejut sesaat lalu tersenyum kecil, "Tidak suka? Apa artinya kau menyukaiku?"
"Tentu saja..." Seolah sadar dengan ucapannya Hinata terkejut dengan perlahan wajahnya memerah. "... Aku tidak begitu." Hinata menundukkan kepalanya kembali duduk menghadap depan tidak menyamping kearah Naruto.
"Jadi..." Naruto tersenyum jahil. "Yang mana yang benar? Iya atau tidak?"
"Tidak, Baaka!" Hinata langsung turun dari mobil Naruto dengan langkah setengah berlari langsung masuk kedalam rumah.
Begitu menghilangnya Hinata, Naruto yang sendirian didalam mobil wajahnya perlahan juga memerah mengingat ucapan Hinata.
"Astaga Hinata." Naruto menundukkan kepalanya kearah stir mobilnya, tapi tanpa sengaja justru keningnya malah menekan tombol klakson yang ada di stir mobilnya sehingga dirinya terkejut sendiri. "Kau membuatku terkejut, sialan!" Naruto memukul stirnya.
Naruto menoleh kearah rumah Hinata, tersenyum sesaat lalu mengendarai mobilnya pergi meninggalkan rumah Hinata.
Hinata yang sudah masuk kedalam rumahnya sebenarnya masih berdiri di depan pintu depan rumahnya, Hinata berdiri dengan tangan yang menyentuh dadanya. Mendengar suara mobil Naruto keluar dari rumahnya, Hinata bergegas berjalan menuju jendela dan memperhatikan kepergian mobil Naruto dari jendela.
"Apa yang sudah aku katakan?" Hinata terduduk lemas di depan jendela tempatnya tadi berdiri. "Memalukan sekali." Hinata menyembunyikan wajahnya di kedua tangannya yang disilangkan diatas lututnya.
oOo
Kejadian dirumah Hinata tidak memperbaiki suasana antara Hinata dan Naruto, malah suasana diantara mereka bisa dikatakan semakin parah. Hinata menghindar dari Naruto, dan Naruto pun kini tidak berusaha menghampiri Hinata. Karena perubahan sikap Hinata dan Naruto, mereka yang selama ini mengira Hinata dan Naruto berpacaran semakin berkeyakinan jika Naruto dan Hinata memang selama ini berpacaran dan sekarang hubungan itu sudah usai, makanya Naruto dan Hinata jadi membuat jarak. Shikamaru yang sudah mengetahui kabar itu pun tidak berbicara apa pun karena Shikamaru sendiri belum tahu apa yang terjadi. Jadwal Naruto minggu ini tidak memungkinkan Shikamaru membicarakan sesuatu diluar pekerjaan dengan Naruto.
Setelah menunggu untuk mengkonfirmasi, akhirnya tiba hari Sabtu terakhir di bulan ini, waktu dimana yang sengaja disediakan Naruto untuk ibunya. Seperti biasa Shikamaru selalu mengosongkan satu hari itu untuk Naruto mengevaluasi pekerjaan sebelumnya dan bersiap menuju tempat ibunya. Waktu Naruto untuk evaluasi dijadikan moment Shikamaru untuk bertanya perihal hubungan Naruto dengan Hinata.
"Naruto." Panggil Shikamaru yang baru masuk keruangan Naruto.
"Ada apa?" Tanya Naruto menoleh sesaat kearah Shikamaru.
"Aku bingung harus bagaimana mengatakannya." Shikamaru berdiri bersandar pada dinding disamping Naruto.
"Memang apa yang ingin kau katakan?" Tanya Naruto yang penasaran dan akhirnya memfokuskan perhatiannya pada Shikamaru.
"Ini tentang kau dan Hinata." Shikamaru sangat sadar dengan perubahan wajah Naruto yang mendadak sedikit bersemu. "Ada apa dengan kalian?" Tanya Shikamaru yang semakin penasaran.
"A-ada apa apanya?" Tanya Naruto gugup.
"Apa yang terjadi diantara kau dan Hinata?" Tanya Shikamaru yang rasa penasarannya sudah ada diatas batasnya.
"A-apa yang terjadi?" Naruto menggerakkan cepat bola matanya tanda kegugupannya. "Memangnya apa yang akan terjadi?"
"Arghh!" Shikamaru terlihat putus asa dengan rasa penasarannya yang tak kunjung mendapat jawaban. "Kenapa kau hanya mengembalikan setiap pertanyaan yang aku tanyakan?" Naruto hanya menunjukkan cengirannya pada Shikamaru. "Aku tidak butuh cengiranmu, aku butuh jawabanmu!" Paksa Shikamaru.
Naruto menghela nafas, "Baiklah aku akan cerita." Naruto akhirnya menceritakan apa yang terjadi di rumah Hinata beberapa waktu lalu.
"Jika memang itu yang terjadi, kenapa sekarang kau malah seperti menjauh dari Hinata?" Tanya Shikamaru.
"Entah kenapa aku malah malu dan gugup ketika melihat Hinata setelah kejadian itu." Jawab Naruto.
"Bukankah ini yang selama ini kau inginkan?" Tanya Shikamaru. "Kau masih menyukai Hinata kan?"
"Tentu saja, tapi setelah kematian Sasuke aku sudah tidak pernah memikirkan perasaanku pada Hinata, aku selalu merasa cukup dengan hubungan pertemanan kami. Jika tiba - tiba dia berkata menyukaiku, aku belum siap." Naruto menundukkan kepalanya.
"Aku seperti melihas gadis SMA yang baru saja menerima pernyataan cinta dari pria yang disukainya."
"Hey! Aku ini laki - laki!" Protes Naruto.
"Jika kau memang laki - laki, buktikan! Kalau kau masih menyukai Hinata, Katakan! Jika sudah tidak ada perasaan, beritahu dia! Jangan malah melarikan diri dengan membuat jarak! Kau akan menyesal nanti!" Omel Shikamaru yang lalu pergi menuju pintu keluar. "Sudah waktunya kau bersiap pergi menuju tempat Kushina oba-san." Ujar Shikamaru sebelum benar - benar pergi meninggalkan ruangan Naruto.
Setelah merenung sejenak, Naruto langsung bersiap untuk menuju tempat ibunya. Tanpa berbicara lagi dengan Shikamaru, Naruto langsung pergi menuju tempat ibunya. Bukan karena Shikamaru yang menjauh dari Naruto, tapi karena Naruto yang sedang tidak fokus karena terlalu memikirkan ucapan Shikamaru tadi.
Setibanya ditempat ibunya, biasanya Naruto akan langsung membantu persiapan tanpa di suruh ibunya karena sudah terbiasa seperti itu. Tapi kini Naruto memilih duduk diam diruangan ibunya yang memang kosong karena ibunya pasti sedang membantu persiapan. Didalam sana, Naruto duduk bersandar pada sofa yang ada disana dengan menatap langit - langit ruangan ucapan Shikamaru terus berulang di telinga Naruto. Sesekali Naruto menghela nafas sepertinya karena lelah memikirkan ucapan Shikamaru. Naruto merogoh kantung jaketnya dan mengeluarkan hpnya. Naruto membuka salah satu aplikasi chat yang dapat dilihat berisikan teman - temannya.
Naruto :
Hey Apa kalian sedang sibuk?
Sai :
Sangat senggang, ada apa?
Kiba :
Tidak terlalu
Shino :
Sedang istirahat, ada apa?
Naruto :
Bisa bertemu nanti malam?
Shikamaru :
Tidak bisa, aku sibuk. Jika ada perlu katakan saja disini!
Kiba :
Wow, ada apa ini? Tidak biasanya kau seperti itu Shik.
Sai :
Sepertinya Shikamaru sudah tahu apa yang terjadi.
Shino :
Aku tidak bisa nanti malam, banyak pekerjaan. Benar yang Shikamaru katakan sekarang saja.
Naruto :
Aku menyukai Hinata bagaimana menurut kalian?
Sai:
Bukankah dulu kau sudah pernah mengatakannya?
Kiba :
Itu bukankah sudah sejak dulu?
Sai :
Katakan pada Hinata, aku mendukunngmu.
Kiba :
Katakan saja.
Shino :
Tinggal kau katakan.
Shikamaru :
Lihat?
Naruto :
Ya, aku sudah membacanya Shik.
Apa tidak masalah jika aku berhubungan dengan Hinata?
Dia istri sahabatku
Sai :
Jika kau ragu lebih baik jangan
Kiba :
Jika Hinata juga menyukaimu, kenapa tidak?
Shino :
Jika Sasuke masih ada pun, dia akan lebih memilihmu daripada Kiba.
Kiba :
Kenapa kau membawa namaku, Serangga?!
Sai :
Yang dikatakan Shino benar. Haha
Kiba :
Tertawalah sepuas kalian!
Naruto hanya tertawa melihat pertengkaran sahabatnya itu. Wajah Naruto sedikit lebih tenang setelah bertanya pada sahabatnya itu. Naruto segera menyiapkan kameranya untuk mulai bekerja.
"Eh tunggu." Naruto melirik kearah hpnya yang diletakkan diatas meja tak jauh darinya. "Kenapa respon mereka hanya seperti itu? Bukankah dulu mereka sangat tidak setuju apalagi Kiba."
Naruto meraih hpnya dan membuka kembali grup chatting yang tadi dan masih ramai dengan pertengkaran sahabatnya itu.
Naruto :
Aku baru sadar, apa hanya itu respon kalian setelah
mendengar pengakuanku?
Chouji :
Memangnya kami harus merespon bagaimana?
Kau sudah menahannya beberapa tahun ini, silahkan kau coba untuk
menyatakannya pada Hinata.
Kami mendukungmu 100%
Naruto :
Sankyu Chouji.
Shikamaru :
Kau mau membuat mereka merespon serius?
Ceritakan perihal Hinata yang mengatakan perasaannya
padamu.
Kiba :
Perasaan Hinata?
Sai :
Hinata juga menyukai Naruto?
Naruto :
Kau itu pria tapi kenapa sangat mudah membongkar rahasia orang!
Sudahlah aku harus bekerja.
Shikamaru :
Naruto melarikan diri. Haha.
Naruto :
Urusai Nanas!
Kembali bekerja jangan banyak bermain hp selama
aku tidak ada di studio!
Naruto kembali meraih tas kameranya dan bersiap ketempat perlombaan. Kini Naruto sudah bisa lebih fokus, tidak gundah seperti awal datang ketempat ini.
oOo
Setelah pengakuan Naruto didalam grup chatting pada teman - temannya, pada lain hari teman - temannya mengajak Naruto untuk bertemu dan berbicara. Setelah berbicara, akhirnya lahirnya sebuah rencana pernyataan cinta Naruto pada Hinata. Walau baru menentukkan tempatnya saja. Dengan rencana,
"Ayo Hinata, kau juga harus ikut. Chouji akan memperkenalkan kekasihnya pada kita. Chouji akan meresmikan hubungan mereka setelah wanita itu lulus kuliah di London. Selagi wanitanya itu sedang libur kuliah dan ingin liburan di Jepang." Bujuk Kiba yang kini sedang ada di rumah Hinata ditemani oleh Sai.
"Shikamaru juga akan mengajak Temari. Dan jika tidak sibuk aku juga kan mengajak Ino." Tambah Sai.
"Memang ada apa antara kau dan Ino?" Tanya Kiba.
"Belum ada, tapi dia sangat menyukai hal seperti ini, berlibur bersama teman. Memang salah?" Tanya Sai.
"Tidak." Kiba kembali kepada Hinata. "Aku juga akan mengajak Tamaki."
"Jadi benar, kau ada sesuatu dengan Tamaki-chan?" Tanya Hinata.
"Masih proses. Maka dari itu bantu aku. Jika kau tidak ikut, Tamaki pasti tidak mau." Ujar Kiba.
"Siapa Tamaki?" Tanya Sai.
"Dia salah satu kasir di butik tempatku bekerja." Jawab Hinata.
"Kau jangan menggoda teman Hinata. Nanti akan berefek pada hubungan Hinata dan temannya." Ceramah Sai.
"Siapa yang menggoda teman Hinata?" Tanya Kiba yang dijawab dengan Sai yang menunjuk kearah Kiba. "Aku serius? Dia satu - satunya wanita yang menolakku!" Kiba memukul tangan Sai yang menunjuknya.
"Benarkah?" Sai menunjukkan senyuman khasnya.
"Urusai!" Kiba kembali lagi pada Hinata. "Kau maukan Hinata?" Tanya Kiba memelas.
"Baiklah." Hinata akhirnya menyerah dan mengiyakan ajakan Kiba.
...
Hari yang sudah ditentukan untuk keberangkatan liburan mereka pun datang, dengan membawa dua mobil mereka bertemu di rumah Hinata yang memang lokasinya berada di tengah - tengah rumah yang lainnya. Dua mobil itu adalah mobil Shikamaru dan Chouji.
Didalam mobil Shikamaru ada, Shikamaru dan Temari tentunya, Naruto, Sai dan Shino. Lalu di mobil Chouji ada, Chouji dan Karui kekasihnya, ditambah Kiba, Tamaki dan Hinata. Tadinya di mobil Chouji akan diisi oleh semua wanita tapi tidak jadi karena Chouji tidak enak jika hanya jadi satu - satunya pria disana. Setelahnya di putuskan agar satu mobil ada dua wanita tapi Tamaki tidak mau di pisahkan dari Hinata, akhirnya Temari mengalah dan menerima harus menjadi satu - satunya wanita di dalam mobil Shikamaru.
Tujuan mereka adalah Villa Shino yang sering digunakan Shino untuk melakukan observasi serangga, karena disana Villa Shino hanya ada satu, jika pun ingin bertemu dengan tetangga harus berjalan agak sedikit jauh. Makanya Shino lebih sering ada disana dibanding di rumahnya yang ada di tengah kota.
Villa Shino juga berada di pinggiran kota, yang masih asri. Lokasinya juga berada di atas bukit, yang menambah nilai plus untuk pemandangan malam yang akan disuguhkan disana.
"Udara disini sangat sejuk. Pantas saja Shino-san betah berlama - lama disini dibanding dirumah." Ujar Hinata.
Karena intensitas bertemu yang jarang Hinata masih memanggil Shino dengan suffix "-san" begitu pula dengan Chouji, sedangkan untuk Sai dan Kiba yang masih bertemu tapi bisa dikatakan jarang Hinata memanggil dengan suffix "-kun", dan untuk Shikamaru dan Naruto yang sangat sering bertemu Hinata sudah tidak sungkan lagi dengan hanya memanggil nama mereka saja tanpa suffix apapun.
"Tentu saja, apa lagi disini tidak ada makhluk berisik seperti mereka." Shino menunjuk kearah Kiba dan Naruto yang sedang berdebat dengan nada bicara diatas normal.
Shino menoleh kearah Hinata yang tertawa melihat perdebatan Kiba dan Naruto yang memang sangat sering memperdebatkan hal - hal yang awalnya hanyalah sebuah candaan yang mereka buat.
"Sejak berkumpul di tempatmu hingga tiba disini, aku belum melihatmu berbicara dengan Naruto. Apa ada masalah?" Tanya Shino pura - pura tidak mengerti padahal sudah di ceritakan oleh Naruto.
Hinata terdiam sesaat, "Tidak ada. Hanya belum menemukan waktu untuk bicara saja"
"Iyakah?" Hinata mengangguk. "Tapi yang kulihat, biasanya jika Naruto dan Kiba sudah mulai berdebat kau pasti melerai mereka lalu berbicara berdua dengan Naruto"
Bagaikan anak panah yang menancap tepat di titik merah pada tengah - tengah sasarannya, ucapan Shino membuat Hinata tidak bisa membantah lagi.
"Naruto itu memang bodoh, tapi dia bukan orang jahat. Jika pun dia berbuat salah pasti tidak sengaja karena kebodohannya. Apa kau masih akan mendiamkannya seperti ini?" Hinata masih terdiam. "Ya, aku memang tidak tahu apa masalah diantara kalian. Tapi melihat Naruto yang tidak berusaha menghampirimu, Naruto pasti sudah tahu apa penyebabmu menjauh." Wajah Hitana bersemu teringat kejadian didalam mobil Naruto saat dirumahnya. Shino tersenyum kecil, "Jika sudah tahu dan Naruto tidak berusaha mendekatimu ada dua kemungkinan dia tidak peduli atau.."
"Shino cepat buka pintunya! Kami ingin masuk!" Panggil Kiba memotong ucapan Shino.
"Urusai!" Shino menoleh kearah Hinata yang masih disampingnya tapi terlihat seperti sedang terkejut. "Aku harus membuka pintu. Jika barang bawaanmu banyak, minta tolonglah pada yang lain."
"apa aku tadi salah bicara?" Pikir Shino.
Shino berjalan meninggalkan Hinata menuju kevillanya, dan Sai mendekati Hinata yang masih termenung.
"Ada apa Hinata?" Hinata menoleh kearah Sai yang tersenyum khas.
"Sai-kun" Lirih Hinata.
"Ada apa?" Tanya Sai lagi.
"Tidak ada apa - apa." Jawab Hinata yang langsung mengalihkan perhatiannya pada barang - barangnya.
"Kau merindukan Naruto?"
Tanpa sadar, Hinata yang sedang berusaha mengeluarkan kopernya menjatuhkannya karena mendengar pertanyaan Sai yang tepat sasaran, ya benar setelah pernyataan tak sengaja Hinata, Hinata semakin intens memikirkan Naruto dan semakin merindukan Naruto. Tapi Naruto yang dipikirkannya dan dirindukannya malah merubah sikapnya seperti menjauhinya atau benar yang dikatakan Shino, Naruto sudah tidak peduli padanya.
Memikirkan hal itu, mata Hinata mendadak berlinang air mata.
"Hiks"
"Kakimu tertimpa kopermu Hinata?" Tanya Sai panik. "Biar aku yang membawa kopermu." Sai meraih koper Hinata yang ada di tanah. "Ayo, kita obati didalam."
Sai mengulurkan tangannya karena takut kaki Hinata sakit tertimpa koper, yang sebenarnya belum diketahui apakah benar tertimpa atau tidak. Melihat Sai yang bersikap baik padanya entah kenapa, Hinata malah semakin mempercayai ucapan Shino yang mengatakan bahwa Naruto sudah tidak peduli dengannya.
"Ada apa?" Tanya Naruto yang mendengar suara jatuh koper Hinata tadi.
Hinata menoleh kearah Naruto, tanpa sadar meneteskan air mata yang sudah memenuhi matanya tadi.
"Hey, apa yang kau lakukan Sai?!" Omel Naruto.
"Tadi kopernya jatuh, mungkin kakinya tertimpa atau bagaimana aku tidak mengerti." Jawab Sai yang panik melihat Hinata menangis.
"Kau kenapa Hinata?" Hinata malah menutup wajahnya sembari terisak. "Kakimu benar tertimpa koper?" Tanya Naruto yang ikut bingung.
"Sudahlah ajak Hinata kedalam." Ujar Temari.
"Ayo." Naruto berusaha merangkul Hinata tapi Hinata malah berlari kearah Temari dan memeluk Temari.
"Sai, tolong bawa koper Hinata kedalam. Biar aku yang bicara dengan Hinata." Sai dan Naruto mengikuti ucapan Temari dengan patuh.
Rombongan mereka memang tiba sangat sore, setelah setengah jam tiba disana langit mulai menggelap. Hinata dan Temari belum juga kembali ke Villa, dan tidak ada yang tahu kemana mereka pergi.
"Apa mereka tidak terlalu lama?" Tanya Kiba.
"Tunggu setengah jam lagi, jika belum kembali juga kita cari mereka." Ujar Shikamaru yang sebenarnya sangat khawatir.
Tidak lama, pintu depan terbuka dan masuklah Temari seorang diri.
"Mana Hinata?" Tanya Naruto.
"Disungai belakang." Jawab Temari.
"Kau meninggalkannya sendiri? Bagaimana kalau dia tersesat?" Tanya Naruto panik.
"Kalau begitu kau susul saja. Aku kembali tadinya hanya ingin mengambil air." Jawab Temari.
"Gomen" Ujar Naruto merasa bersalah.
"Tak masalah, aku juga ingin mandi. Kau ganti temani Hinata. Jika Hinata tidak bicara jangan paksa dia untuk bicara. Kalau sampai Hinata menangis lagi awas kau." Temari berjalan menuju dapur.
"Jadi tadi Hinata menangis karena Naruto?" Tanya Shikamaru.
"Ya, tapi pemicunya kalian!" Temari melemparkan death glare pada Sai dan Shino yang berdiri tak jauh dari tempat Temari. "Terutama kau maniak serangga!"
"Aku?" Semuanya menatap kearah Shino.
"Apa yang sudah kau lakukan?" Tanya Kiba."
"Mana aku tahu." Jawab Shino kebingungan.
"Sudahlah, Naruto ini. Temari memberikan sebuah botol air mineral pada Naruto. "Berikan pada Hinata, kau hanya perlu mengikuti jalan setapak yang menuju kearah belakang Villa, kau akan menemukan sungai nanti. Hati - hati jalannya agak menurun." Ujar Temari.
"Bawa senter ini. Sudah semakin gelap." Shino memberikan sebuah senter pada Naruto. "Disungai tidak terlalu gelap, karena sedang terang bulan tapi jalan menuju kesana pasti akan sangat gelap."
"Shino, bukankah dibelakang itu hutan?" Shino mengangguk. "Apa kau yakin malam seperti ini tidak ada hantu disana?"
"Tidak ada hal seperti itu. Aku sering kesana bahkan saat tengah malam." Ujar Shino berusaha meyakinkan.
"Kau yakin?" Tanya Naruto.
"Sangat yakin."
"Baiklah, aku berangkat." Ujar Naruto seraya berjalan menuju pintu keluar.
"Sampaikan salamku, jika kau bertemu hantu diperja-"
Belum selesai, Kiba bicara meledek Naruto, Shikamaru dan Temari dengan kompak memukul kepala Kiba.
"Nani!?" Omel Kiba.
"Urusai!" "Damare Inu!" Omel Shikamaru dan Temari bersamaan.
Naruto berjalan menyusuri jalan setapak menuju arah yang ditunjukkan Temari, ya selama perjalanan hanya pohon tinggi yang terlihat oleh Naruto. Naruto yang memang sangat takut dengan hal - hal seperti hantu berjalan dengan penuh kewaspadaan. Sebenarnya jaraknya tidak jauh, tapi karena Naruto berjalan dengan dihantui rasa takut perjalanan yang mungkin hanya selama lima menit itu bagaikan lima jam. Wajah penuh peluh dan sedikit memucat, sungguh sangat berbeda dengan Naruto yang terlihat keren sangat sedang memotret. Entah apa yang membuat Naruto sangat takut pada hal seperti itu, tapi itu hanya berlaku jika dirinya sedang berada di tengah alam sendirian.
Setelah melewati terowongan pepohonan, Naruto akhirnya sudah bisa menemukan sungai, tinggal mencari Hinata. Rasa takut yang tadi menyelimutinya mendadak hilang. Benar kata Shino, karena terang bulan daerah didekat sungai sangat terang bagaikan pagi hari. Tidak perlu waktu lama, Naruto sudah bisa melihat Hinata yang sedang duduk sendirian diatas batu besar menatap arus sungai yang tenang.
Naruto berjalan mendekat pelan - pelan agar tidak mengejutkan apalagi membuat Hinata takut, tapi tanpa sengaja, Naruto malah menginjak ranting kering hingga menimbulkan suara yang membuat Hinata menoleh.
"Temar- Naruto." Hinata kembali keposisi awal menatap arus sungai.
"Apa kau tidak suka ada aku disini?" Tanya Naruto yang sudah berdiri dibelakang Hinata.
"Tidak juga." Jawab Hinata singkat.
"Temari bilang, kau tadi menangis karenaku. Apa aku melakukan kesalahan lagi?" Tanya Naruto dengan raut wajah bingung sekaligus sedih.
"Tidak ada."
Sesaat setelah jawaban singkat Hinata, tidak ada lagi pernyataan atau pertanyaan dari Naruto atau Hinata. Hanya ada suara angin, serangga malam, dan arus air yang terdengar. Kesunyian yang hadir membuat Naruto beberapa kali mengehela nafas. Naruto benar - benar kehabisan akal, dia tidak tahu harus memulai darimana, Hinata sudah benar - benar mengabaikannya. Seketika pikirannya dipenuhi rasa sesal karena setelah kejadian dirumah Hinata malah mengabaikan Hinata. Naruto terus menatap Hinata dari dari belakang.
"Aku menyukaimu Hinata." Ceplos Naruto yang sepertinya setengah tidak sadar karena sudah putus asa diabaikan Hinata dan juga rasa sesalnya..
"Ap-apa yang kau katakan?" Tanya Hinata yang langsung berdiri menghadap Naruto.
"Sebenarnya sejak awal liburan ini direncanakan selain untuk memperkenalkan kekasih Chouji, juga akan aku gunakan untuk menyatakan perasaanku padamu. Harusnya tidak sekarang aku mengatakannya, karena besok sebenarnya akan ada parade kembang api didesa dibawah, dan dari sini kita bisa melihatnya dengan sangat jelas. Tapi melihatmu menangis tadi, dan sekarang kau mengabaikanku, aku berpikir kenapa harus menunggu besok, jika sekarang pun bisa." Naruto melangkah lebih mendekati Hinata, lalu menggenggam tangan Hinata. "Mungkin saja kemarin aku hanya terlalu percaya diri mengartikan kau mengatakan jika kau menyukaiku." Naruto merogoh kantung jaketnya. "Untungnya ini terbawa." Sebuah kotak kecil dikeluarkan oleh Naruto. "Aku menyukaimu Hyuga Hinata, maukah kau menikah denganku?" Naruto membuka kotak yang ternyata berisi cincin sederhana tapi karena sinar bulan terlihat kilauan cahaya di cincin itu.
Hinata menutup mulutnya, dan kembali meneteskan air matanya.
"Kau tidak mau?" Tanya Naruto melepaskan genggamannya pada tangan Hinata lalu menghapus air mata di pipi Hinata. "Tak apa jika kau tidak mau. Ini bukan pertama kalinya aku ditolak olehmu." Naruto berusaha tersenyum. "Tapi kau jangan menangis."
"Aku juga menyukaimu, Naruto." wajah Naruto seketika sumringah. "Air mata ini juga adalah air mata haru." Giliran Hinata yang menggenggam tangan Naruto yang tadi digunakan menghapus air matanya. "Tapi jika untuk menerima lamaranmu, banyak yang harus aku pertimbangkan." Hinata menutup kotak cincin itu. "Boleh aku minta waktu ntuk memikirkannya dulu?" Tanya Hinata.
"Ya, selama yang kau butuhkan." Naruto memasukkan kotak cincin yang tadi dipegangnya kedalam kantong jaketnya lagi, walau terlihat kecewa NAruto tetap berusaha tersenyum.
"Terima kasih Naruto." Hinata melepaskan genggamannya pada tangan Naruto. "Kalau begitu aku duluan."
"Tunggu." Naruto menahan tangan Hinata. "Bawa ini, jalan kesana gelap."
Hinata menerima senter yang diberikan Naruto dan bergegas pergi meninggalkan Naruto.
oOo TBC oOo
.
.
.
Pojok Rozzeana ::
.
Assalamualaikum, selamat malam. Buat chapter ini mau ngomong apa ya? Lagi ngga ada yang mau diomongin kayanya haha
Yasudah, selamat membaca, makasih buat\ yang sudah ninggalin review di chapter kemaren, makasih banyak banget buat yang masih bertahan atau yang baru ngikutin cerita ini. Jangan lupa tinggalin jejaknya di chapter ini. Aku menunggu setiap review yang kalian tinggalkan.
Sampai ketemu di chapter selanjutnya
