Believe In Love
Cast : Kai, Sehun, etc
Sekali lagi untuk yang ga suka dengan gaya penulisan ataupun cerita yang aku buat, mohon untuk klik tanda close.
No edit, typo bertebaran.
KaiHun Lovea
.
.
.
.
.
.
"Sehunie, mulai sekarang kau akan tinggal bersamaku."
"Baekkie..."
"Tenanglah Sehun, mulai sekarang aku akan selalu ada di sampingku. Aku janji." Tubuh yang lebih pendek dari orang yang bernama Sehun itu mendongakkan wajah yang terus tertunduk di depannya dan ketika wajah itu terlihat dengan jelas...
Sehun tersentak bangun dari tidurnya, mimpi itu datang lagi. Sudah sebulan ini Sehun memimpikan hal yang sama, dia berada di sebuah rumah yang terasa begitu familiar untuknya dengan seorang pria yang menangis di lantai dan juga seorang pria yang ia kenal sebagai Baekhyun terus membujuknya untuk berhenti menangis. Selama sebulan ini, Sehun tidak pernah melihat dengan jelas wajah pria yang menangis di dalam mimpinya itu, tapi malam ini berbeda, Sehun melihat dengan jelas wajah pria itu. Wajah yang mirip dengannya, wajah yang sekarang perlahan di ingatnya. Itu dirinya.
Dengan tubuh gemetar, Sehun berusaha melepaskan pelukan hangat Jongin dan beringsut turun dari atas ranjang, ia mengambil segelas air yang selalu tersedia di atas meja nakas dan meminumnya dengan cepat.
Kenapa dirinya bisa bersama dengan Baekhyun? Rasanya ada yang salah di sini, wajahnya mungkin sekarang terlihat berbeda karena operasi yang dikatakan Jongin dan keluarganya dulu. Tapi Jongin mengatakan, Baekhyun adalah orang yang membenci dirinya dan ia sendiri mengetahui hal itu karena beberapa kali ia bertemu dengan Baekhyun dan pria itu memang terlihat memandangnya dengan penuh kebencian, tapi kenapa? Kenapa di mimpi itu ia terlihat begitu akrab dengan Baekhyun?
Sehun meletakkan lagi gelas yang sudah kosong itu di atas meja dan ingin beranjak kembali ke tempat tidur, namun langkahnya terhenti saat sekelebat ingatan masa lalunya muncul di dalam pikirannya.
"Woah, Sehun lihat dia cantik sekali."
"Siapa sih yang kau maksud? Kim Shixun? Bukankah dia aktor terkenal yang pensiun itu?"
"Tepatnya berhenti dari kariernya semenjak menikah dengan pengusaha muda Kim Jongin."
Tubuh Sehun gemetar dengan hebat, ia mengingatnya sekarang, mengingat sahabatnya dan juga pembicaraannya dengan Baekhyun sebelum kecelakaan itu. Dirinya bukanlah Shixun, dia tidak punya hubungan apapun dengan keluarga Kim, dia bukanlah bagian dari keluarga mereka. Dan wajahnya, mengingat wajahnya telah berganti rupa, membuat Sehun hampir tak kuasa menahan air matanya.
"Sunshine..." panggilan bernada serak itu terdengar, dan Sehun tak berani sedikitpun untuk menatap ke arah pemilik suara itu.
"Sunshine, kau terbangun sayang..." Jongin menyibak selimutnya dan beranjak turun dari ranjang dan menghampiri Sehun yang masih berdiri gemetar di tempatnya. "Ya Tuhan sunshine, kau kenapa? Wajahnya pucat sekali." Jongin terlihat panik, ia segera membimbing Sehun untuk duduk di pinggir ranjang. "Apa perutmu sakit?" tangan kekar Jongin mengelus perut Sehun dengan lembut.
Perut? Ya Tuhan kenapa Sehun baru menyadarinya, kalau di dalam tubuhnya terdapat kehidupan baru, bayinya bersama Jongin. Tak terasa air matanya mengalir di pipinya yang pucat.
"Sunshine, apa yang terasa sakit, katakan padaku sayang, ku mohon jangan buat aku cemas." Jongin mengangkat tubuh Sehun dan mendudukkan pantat berisi itu di atas pahanya. "Katakan sunshine, atau kau ingin ke rumah sakit sekarang?"
Sehun menggeleng.
"Kalau begitu kita panggil dokter saja ya?"
Air mata makin memburamkan pandangan Sehun, namun ia kembali menggelengkan kepalanya. "Hiks, aku tak apa Jongin."
"Lalu kenapa kau menangis sayang?"
Sehun menggelengkan kepalanya sebelum tangannya yang gemetar melingkari leher Jongin dan ia membenamkan wajahnya di pundak pria itu. Mengingat sekarang keadaannya jauh berbeda dengan yang dulu, tangis Sehun semakin tak terkendali. Wajahnya telah berubah, dan dirinya akan segera mempunyai seorang anak dari pria yang bukanlah suaminya.
Dan mengingat tentang siapa dirinya dan hubungannya dengan Jongin, tubuh Sehun semakin gemetar hebat. Apa yang akan terjadi kalau Jongin tahu kalau istrinya yang sekarang ia peluk ternyata bukanlah istrinya yang sebenarnya? Apa dia akan marah dan mengusir Sehun? membayangkan dirinya dan bayinya di usir dari kehidupan Jongin membuat tangisan Sehun semakin keras.
"Sunshine..." Jongin yang panik berusaha menjauhkan tubuh Sehun yang menempel dengan erat pada tubuhnya. Namun, Sehun berkeras untuk tidak mau menjauh dan memperlihatkan wajahnya yang penuh air mata pada Jongin. "Sunshine, bicaralah sesuatu, jangan buat aku panik sayang..."
"Hiks..."
Tak ada jawaban, hanya isak tangis Sehun yang terus terdengar, dan Jongin hanya bisa pasrah membiarkan Sehun terus menangis dengan dirinya yang hanya bisa mengelus lembut punggung Sehun, berusaha menenangkannya.
"Aku tak tahu apa yang kamu rasakan sekarang sunshine," bisik Jongin. "Namun apapun itu, ku harap kau tetap menyadari kalau ada aku di sini, aku suamimu, aku akan selalu siap membantumu kalau kau punya masalah."
Sehun memejamkan matanya dan makin mengeratkan pelukannya. Bisakah? Bisakah ia jujur pada pria yang begitu tulus menyayanginya ini?
"Jongin..."
"Ya, sunshine..."
"Maaf." Bisik Sehun.
"Kau tak punya salah apapun kenapa harus minta maaf?" Jongin mengecup pundak Sehun sementara tangannya terus membelai punggung Sehun. "Aku tak terlalu mengerti akan hal ini, tapi mama bilang wajar bagi seseorang yang hamil untuk merasa lebih emosional. Aku memang belum terbiasa akan hal ini, tapi percayalah aku bisa menerima seperti apapun kondisimu."
Apakah kau akan tetap menerimaku saat tahu siapa aku yang sebenarnya? Ingin sekali Sehun menanyakan hal itu pada Jongin, tapi ia tahu kalau ia tak bisa melakukannya. Tidak, ketika hatinya menjerit tak rela kalau ia harus terpisah dari pria berparas tampan tersebut.
"Tidurlah sunshine, aku akan menjagamu, kau pasti lelah setelah menangis."
"Jangan pergi..."
"Aku tak akan kemana-mana, aku akan memelukmu sepanjang malam." Dapat Jongin rasakan kalau Sehun telah melonggarkan pelukannya, karena itu ia segera membimbing Sehun untuk berbaring di atas ranjang dengan dirinya yang merengkuh tubuh ramping itu dengan hangat.
.
.
.
.
.
.
Baekhyun menoleh ke pintu kafe dan menghela napas panjang, pria itu datang lagi. Pria dengan tubuh tinggi dan tampan yang akhir-akhir ini sering sekali menemuinya. Ia berkacak pinggang dan menatap sengit pada pria itu. "Mau apa kau datang kesini?"
Pria itu mengangkat satu alisnya dan menatap Baekhyun dengan raut wajah yang menurut Baekhyun teramat menyebalkan. "Apa kau akan mengusir pelanggan yang datang untuk makan siang di sini?"
Baekhyun mendengus, tapi tak urung ia mempersilahkan pria jangkung itu untuk masuk ke dalam kafenya. "Mau pesan apa?" tanyanya dengan nada jutek.
"Sama seperti yang kemarin."
"Baiklah, mohon tunggu sebentar tuan Wu, pesanan anda akan segera di antar."
"Tunggu," pria itu menahan tangan Baekhyun yang sudah ingin melangkah menjauh.
"Apa?"
"Bisakah kau menemaniku duduk di sini?"
Baekhyun menyipitkan matanya, "Aku tak punya waktu untuk mendengarkan rayuan gombalmu."
Pria itu tertawa geli, "Aku datang kesini bukan untuk merayumu, tapi ada hal penting yang harus aku bicarakan denganmu."
"Seberapa penting hal itu?"
"Ini mengenai teman yang sudah kau anggap seperti saudara kandungmu itu, Oh Sehun."
Mendengar nama Sehun di sebut, Baekhyun segera duduk di depan pria itu. "Apa maksudmu Kris?"
Pria itu, Kris menatap ke arah Baekhyun dengan tatapan yang sulit di artikan. "Seberapa jauh kau mengenal Sehun?"
"Apa yang kau tanyakan, tentu saja aku mengenalnya sejak ia baru dilahirkan."
Kris menggelengkan kepalanya, "Apa kau yakin yang meninggal itu adalah dirinya?"
"Apa kau sedang mabuk?" tanya Baekhyun curiga. "Tentu saja, aku sudah membuktikannya, lagi pula barang-barang itu juga membuktikan kalau itu miliknya."
"Jadi begitu?"
"Memangnya ada apa Kris?"
"Tidak, hanya saja aku mendapatkan sedikit informasi..." Kris menggantungkan kalimatnya.
"Apa itu?" tanya Baekhyun penasaran.
"Kau tahu bukan tentang Kim Shixun, istri dari sahabatku, Jongin."
Baekhyun mengangguk, "Dulu aku adalah fansnya, tapi sekarang tidak lagi."
Kris tersenyum tipis, "Kenapa? Padahal dia orang yang baik."
Baekhyun mendengus, "Karena dia lah, Sehunku mengalami kecelakaan."
"Aku mengerti," Kris mengangguk. "Tapi aku rasa sahabatmu hanyalah korban yang berada di tempat yang salah secara tak sengaja."
"Apa?"
"Kau tahu Jongin adalah seorang pengusaha yang sangat sukses, ia mempunyai musuh yang jumlahnya tak sedikit, di tambah lagi istrinya adalah seorang artis yang pastinya juga memiliki haters. Selalu ada kemungkinan kalau mereka akan di serang saat ada kesempatan."
"Jadi maksudmu, Shixun tidak bersalah?" tanya Baekhyun.
Kris mengangguk.
"Dari mana kau seyakin itu, apa kau ada di sana saat penyerangan itu terjadi?" tanya Baekhyun.
Kris tertawa, "Kau mencurigaiku berada di sana?"
"Bisa saja kan..."
"Tidak, aku tidak ada di sana saat itu."
"Kris..."
"Ya?"
"Kenapa kau mengatakan hal itu padaku? Maksudku soal serangan pada Shixun dan mengakibatkan Sehun terlibat kecelakaan dengannya, bukankah itu rahasia keluarga Kim? Aku ingat mereka memberikan keterangan di media dengan mengatakan kalau itu adalah kecelakaan yang tak di sengaja."
Kris berdehem pelan, "Karena aku merasa..." untuk sesaat Kris menggantungkan kalimatnya sebelum ia menatap pada Baekhyun lagi. "Orang yang merencanakan kecelakaan itu pasti masih akan bertindak lagi, mengingat targetnya belum meninggal dan Baekhyuna..."
"Apa?"
"Mengingat fakta lain kalau sahabatmu juga terlibat di dalam kecelakaan itu, aku mengkhawatirkanmu."
"Bukankah itu tak ada hubungannya denganku?"
"Kau sahabat Sehun, dan ada kemungkinan kalau penjahat itu curiga kalau Sehun terlibat sesuatu dengan Sehun, apalagi melihat wajah mereka yang mirip, aku yakin penjahat itu juga akan mengawasimu, sahabat satu-satunya dari Oh Sehun bukankah hanya dirimu?"
"Tunggu," sela Baekhyun. "Apa yang kau sebut dengan terlibat sesuatu, apakah Shixun merencankan suatu kejahatan?"
Kris mengangkat bahunya, "Entahlah, tak ada yang mengetahui hal itu. Jongin adalah sahabat terbaik yang aku punya, karena itu aku sering menghabiskan waktu bersamanya dan setiap kami menghabiskan waktu bersama, Shixun selalu ada bersamanya. Tapi, beberapa bulan sebelum kecelakaan itu terjadi, ia terlihat begitu gelisah, aku pikir ia tak senang karena aku selalu berada di dekat Jongin, jadi aku menanyakan hal itu pada Jongin. Jongin bilang kalau ia hanya gelisah karena keluarganya terus mendesak Shixun untuk segera memiliki anak."
"Bukankah itu kegelisahan yang wajar?"
"Harusnya iya, tapi aku menyadari kalau tatapan Shixun menyiratkan ketakutan akan sesuatu, aku tak berani mengatakan hal ini pada Jongin, karena aku tahu ia tak akan mempercayai apa yang aku pikirkan saat itu. Tapi kemudian kecelakaan itu terjadi, dan aku rasa Shixun menyembunyikan sesuatu yang tidak kami ketahui hingga ia harus mengalami hal itu."
"Kenapa kau tidak mengatakannya pada Jongin?"
"Sudah aku bilang, Jongin lebih percaya pada istrinya saat itu."
"Kalau memang benar Shixun kelihatan sering ketakutan, ada kemungkinan orang yang ia takutkan berada di sekitarnya bukan?"
"Ya." Kris mengangguk.
"Apakah..." Baekhyun menggelengkan kepalanya. "Apakah ada kemungkinan pelakunya adalah orang dalam? Maksudku keluarga Jongin atau orang yang bekerja untuknya?"
"Ada kemungkinan jawabannya adalah ya, dan saat ini aku sedang menyelidikinya."
Baekhyun berdehem pelan, "Kris," panggilnya pelan.
"Ya?"
"Kenapa kau menceritakan rahasia besar itu padaku, aku kan hanya orang luar. Tidakkah kau curiga kalau aku juga mungkin saja terlibat dalam kecelakaan itu?"
Kris tersenyum. "Kau tak mungkin melakukannya. Dan... aku percaya padamu."
"Kenapa?"
"Karena aku menyukaimu, apa kau puas dengan jawabannya tuan Byun?"
.
.
.
.
.
.
TBC
Pendek dan belum ada kaihun moment ( yang ngetik lagi edisi galau ). Hehe... maafkan aku ya. Kaihun momennya di simpan dulu, aku mau sedikit fokus dengan konfliknya sebelum momen kaihun muncul.
Meski sedikit telat, aku ingin ucapkan happy anniversary yang ke empat untuk Ian dan Rex. Aku selalu senang tiap lihat senyum lebar kalian.
Untuk orang yang selalu support aku, kita memang terpisah jarak yang jauh, terkendala bahasa, tapi bolehkah aku bilang kalau aku ingin menangis karenamu saat kamu bilang, it's ok. Tak apa kalau komunikasi kita kurang lancar, tak apa kalau aku hanya bisa sedikit bahasa negaramu, tak apa kalau aku jauh lebih pendek darimu, tak apa dengan banyaknya perbedaan di antara kita. semakin kamu bilang tidak apa-apa, semakin aku ingin mewek tahu. Mi manchi (T_T)
Please review ya, agar aku kembali semangat untuk ngetik ff.
Salam Kaihun Hardshipper
KaiHun Lovea
