A/N : YAY! Update lagi! Seminggu sekali itu udah kebiasaan update, ah tapi lewat ya. Soalnya lagi ngurus SBMPTN sama lowongan kerja. Yah, kalau dapat aku mau kerja aja sih. Welp, enough about me. Sebelumnya, di Chapter XX, An Shu memanggil Ling Tong dengan nama 'Gongji'. Tapi kurasa sebaiknya Shu tetap panggil Ling Tong aja ya. Soalnya Gongji itu kan nama kehormatan gitu... jadi Shu kenapa harus sopan amat sama temannya sendiri. Lagian Ling Tong masih berumur 18-19 tahun kan? Nante na...

Oke! Mari langsung saja jawab review!

-erikfinnvladimir

Blossom : Waaai! Erik-san datang mereview lagi! Makasih banyak udah setia mereview fic gaje kami! *peluk cium-ditendang*

Ling Tong : Berkat landak busuk itu aku jadi ingin membunuhnya...

An Shu : Nah lho? Masih belum kapok juga ya?

Ling Tong : Dia itu penganggu! Sial, kenapa dia masih hidup dan bergabung dengan Wu!? Lebih baik dia mati di tanganku saat di Xiakou!

An Shu : *kacangin Ling Tong* Btw, siapa itu S****? Aku jadi penasaran!

Scarlet : Yup! Anda benar! Ada hubungan dengan chapter XX. Juga, benar chapter sebelumnya dan sekarang itu Battle of Chi Bi! Yosh! Sekali lagi, terima kasih telah mereview!

Blossom : Thanks a million!

Disclaimer : Dynasty Warriors milik KOEI. Plot cerita dan OCs milik saya sendiri.

Warning : Ling Tong x OC (An Shu). OOC yang mungkin tidak disengaja atau sengaja demi alur cerita, sering typo, penulisan gaya bahasa yang tidak baku, suram dan abal. Seperempat disamakan dengan sejarah, seperempat game, dan setengahnya versi saya sendiri. Mohon maaf atas kesalahannya. DON'T LIKE DON'T READ NO FLAMES. REVIEW PLEASE!

-XXX-

To The Place Where I Belong

Chapter 10

Never-Ending Battle

-XXX-

Normal POV

"Haaat!" An Shu melayangkan serangan pada jendral Wei bernama Zhang He tersebut. Namun jendral Wei itu menghindar dengan mudah.

"Heehee." Pria itu tertawa pelan. "Kau memang hebat, ya, nona manis."

"Terlalu cepat untuk tertawa, dasar orang aneh!" Bentak Gan Ning sembari mengayunkan senjatanya sehingga lehernya dirantai. Kemudian Ling Tong memberikan serangan dengan sanjiegun-nya yang tepat mengenai kepala Zhang He sehingga ia terjatuh. Dengan cepat, An Shu memberikan tusukan pada perut jendral tersebut.

"Bagus, An Shu!" Puji Gan Ning.

"Ahh, tiga lawan satu... Aku benar-benar kalah telak." Lirih Zhang He kesakitan. "Tapi..." Tiba-tiba ia mendorong An Shu dari tubuhnya sehingga membalikkan posisinya. Zhang He menahan leher Shu dan cakarnya hampir menusuk kulitnya. Gadis bersurai biru gelap itu hanya bisa merintih kesakitan. Kakinya tak mencapai tanah. Ia tak pernah mengira bahwa dirinya akan berakhir seperti ini. "Aku tak akan membiarkanmu mencuri pertunjukanku."

"SHU!" Ling Tong langsung menerobos para prajurit yang menghalanginya.

"Nah, biar aku memotongmu dengan indah. Padahal kulitmu begitu lembut, tapi kau menyia-nyiakannya dengan menghadapi perang." ucap Zhang He melukai pinggang Shu dengan dua jari cakarnya. An Shu kembali berteriak kesakitan, darah segar mengalir dari pinggangnya.

An Shu tak mau menyerah, ia menggigit tangan Zhang He serta terus menendangnya sekuat mungkin. Namun tak mempan, Zhang He menguatkan cekikan pada leher Shu. An Shu kembali menjerit. Ia ingin menusuk tangan jendral tersebut tapi kedua tangannya tak berhenti bergemetar.

Mendengar teriakan yang sampai menusuk ke telinga Ling Tong, ia langsung menerjang Zhang He dengan penuh amarah. "Brengsek!" Bentak Ling Tong. Zhang He langsung melepas An Shu dari genggamannya dan menghindar serangan Ling Tong. Namun ia belum puas, Ling Tong kembali menyerangnya secara beruntun, Zhang He menangkis setiap serangannya.

"Heh! Kau lengah!" Teriak Gan Ning kembali merantai tubuh jendral Wei tersebut dengan kuat sehingga ia kesulitan bergerak. Ling Tong mengambil kesempatan tersebut dengan menyerang jendral tersebut sekuat tenaga. Zhang He jauh terpental dan cukup membuatnya terluka parah.

"Aku tak bisa membiarkan kecantikanku jatuh disini. Semuanya, mari kita mundur untuk sementara!" Zhang He serta pasukannya terpaksa mundur. Ling Tong bergegas menghampiri An Shu.

"Oi! Kau tidak apa!?"

"..." An Shu hanya duduk diam, ia menggenggam erat senjata kecilnya tersebut. Melihat kondisinya saat ini, Ling Tong merasa bahwa Shu ketakutan. Ia tak dapat melihat mata emas Shu karena poninya menghalangi. Ling Tong kemudian berlutut disampingnya.

"...Landak, aku akan mengantarkan Shu ke markas. Aku akan menyusul."

"Baiklah-"

"Gaaaah!" Teriak An Shu tiba-tiba dan membuat Ling Tong dan Gan Ning terkejut. "Seharusnya aku membunuh orang aneh itu! Cantik apanya!? Akan kucongkel matanya supaya dia terlihat cantik! Aku pasti akan membalasnya!" Gerutunya sambil menancap senjatanya ke tanah berulangkali.

Dua jendral Wu tersebut hanya bisa terdiam heran, keringat turun dari pelipis mereka. Gan Ning kemudian tertawa. "Hahaha! Kupikir kau ketakutan! Kau benar-benar perempuan yang aneh!"

Ling Tong mengurut dahinya. "Dasar, sepertinya aku terlalu khawatir padamu." Lalu ia membantu An Shu berdiri. "Bagaimana dengan lukamu? Mau kuantar ke markas terdekat?"

"Eeh? Mana mungkin aku mundur secepat itu. Lagian kita harus menunggu Tuan Kumis Lele-ah, maksudku Tuan Zhuge Liang." An Shu mencebik. "Ah, benar juga! Untung saja aku membawa pil penahan sakit!"

"Hah?" Ling Tong menaikkan sebelah alisnya.

"Yup! Nona Bu yang memberikannya padaku. Hm... kalau tidak salah kusimpan dimana, ya?" An Shu membuka armor dada kemudian melepas kancing bajunya.

"O-Oi!?" Ling Tong langsung menutup wajahnya agar tidak melihat 'bagian-yang-tak-pantas-ia-lihat' milik Shu.

"Ng? Apa yang kau lakukan-ugh!" Ling Tong langsung menekan mata Gan Ning dengan dua jarinya sehingga ia tak sempat melihat Shu. "S-Sakit! Mataku! Apa yang kau lakukan, buntut kuda sialan!?"

"Ah! Ini dia!" An Shu langsung mengambil kantong kecil berisi pil yang ia simpan dibalik dadanya. Ia mengambil satu butir pil dan langsung menelannya. "Mau?"

"...tidak." jawab Ling Tong menggoyangkan tangannya.

"Hm~ Ya sudah kalau tidak mau." An Shu kembali menyimpan kantong tersebut kedalam pakaiannya, kemudian memasang kancing baju dan memasang kembali armor dadanya.

"Idiot... Kenapa kau malah menyimpannya disana!?" Gerutu Ling Tong setelah mengalihkan pandangannya.

"Eh? Soalnya aku tidak punya kantong jadi aku simpan di-uwaaa!" Pekik An Shu tiba-tiba. "K-Kau melihatnya...?"

"I-Itu salahmu sendiri! Kenapa kau-"

"Aku tanya padamu, kau melihatnya 'kan!?" Bentak An Shu memotongnya dan mendekat.

Lalu Ling Tong mundur dua langkah dan tetap tak mau menatapnya. "Makanya aku bilang, ini salahmu-"

"Kau melihatnya 'kan!?" An Shu menarik syalnya.

"..."

"..." Mereka hanya terdiam akibat suasananya menjadi amat canggung. An Shu menatapnya tajam sedangkan Ling Tong mengalihkan pandangannya.

"Mataku! Mataku, sialan!" Gan Ning masih berteriak kesakitan akibat Ling Tong menekan bola matanya.

"...jadi Tong melihatnya, ya?" Tanya An Shu pelan dengan ekspresi wajah lurus.

"..." Ling Tong tetap tidak mau menatapnya. Ia menutup sebagian wajahnya dengan telapak tangan.

"Katakan! Kau melihatnya 'kan!?" Bentak An Shu lagi.

"Argh! Baiklah, aku akan melupakannya, mana mungkin hal seperti itu terus membekas di dalam kepalaku!?" Gerutu Ling Tong.

Dirinya juga merasa malu mengapa ia melakukan hal itu tanpa berpikir sebelumnya. Ia menghela napas. "Hm? Arah anginnya sudah berubah!" Ia menjilat sedikit ujung telunjuknya kemudian merasakan arah angin tersebut. "Tuan Kumis Lele berhasil melakukannya!"

"..." Karena masih memikirkan hal tadi, sepasang mata Ling Tong tak sengaja terkunci melihat bibir merah jambunya yang tipis. "S-Sial... Aku harus tetap tenang dan fokus dengan perang ini." gumamnya kembali mengurut dahinya dan menggeleng kepala.

"Oi, buntut kuda! Kenapa kau tiba-tiba menusuk mataku, hah!?" Bentak Gan Ning.

"Jangan tanya, dasar landak busuk!" Jawab Ling Tong.

"Tuan tuan." Zhuge Liang menghampiri mereka berdua. "Ini sudah waktunya untuk kalian melakukan serangan untuk mengalihkan perhatian musuh, bukan? Tuan Zhou Yu pasti sudah menyuruh Tuan Huang Gai untuk bergerak."

"B-Benar juga." An Shu mengangguk.

"Tugasku sampai disini. Kuserahkan semuanya pada kalian." Ucap Zhuge Liang.

"Ya! Terima kasih atas kerja kerasnya!" Jawab An Shu.

Zhuge Liang tersenyum tipis kemudian menundukkan kepala. Entah mengapa Ling Tong merasakan hawa aneh terhadap pria tersebut. "Ayo." Ucap Ling Tong.

-XXX-

Sesampai di markas utama.

"Ling Tong, Gan Ning. Sekarang kalian akan mengambil peran untuk mengalihkan perhatian musuh. Usahakan untuk tidak ditemukan oleh musuh saat kalian menyusup kesana." Perintah Zhou Yu.

"Yah, asalkan belnya tidak berisik. Aku bisa menyerang orang-orang idiot dari Wei itu." Sahut Ling Tong.

"Heh! Ketika belku berbunyi itu adalah pertanda bahwa aku, Gan Ning, akan datang untuk menghancurkan mereka!"

"Ya, tetaplah bermimpi, landak busuk." Jawab Ling Tong menaikkan bahunya kemudian pergi.

"Berisik! Aku bukan landak!" Bantah Gan Ning kesal.

Sementara itu di dalam tenda, An Shu sedang mengobati lukanya akibat serangan jendral Wei saat pertarungan tadi. Saat ia memberi perban pada lukanya tersebut, tangannya tak berhenti bergetar. "...berhenti... kumohon." gumam Shu. Ia menggigit bagian bawah bibirnya, setelah memberi perban. Ia menahan kedua tangannya sekuat tenaga. "...kubilang berhenti!" Gumamnya lagi.

"Shu?" Ling Tong masuk ke dalam ruang perawatan. An Shu bergegas memakai pakaiannya kembali dan memasang armor dada. Wajahnya yang tadi sangat ketakutan seketika berubah menjadi senyuman.

"Ah, Ling Tong! Aku sudah selesai mengobati lukaku. Sekarang kita harus menyusup ke kapal musuh, benar 'kan?" Shu menyembunyikan lengannya dibelakang punggung dan melebarkan senyumannya.

"Sebelum itu..."

"Hm?" An Shu memiringkan kepala.

Ling Tong mendengus, ia berjalan menghampirinya dan memegang tangannya yang tak berhenti bergemetar. "Ternyata kau memang takut." Ini tak seperti biasanya, tangannya selalu hangat namun kini terasa sangat dingin. Ia tak merasakan diri Shu yang seperti biasanya, seperti mengatakan 'aku tidak takut' dan mencebik seperti anak kecil.

"..." An Shu menurunkan kepalanya. Ling Tong berpikir kalau dia akan berbohong, tapi ternyata tidak. Kali ini dugaannya tidak meleset.

"Tetaplah disini dan jangan membantahku. Kau harus-"

"Tidak mau!" Jawab An Shu.

Ling Tong menaikkan alisnya. "Jangan keras kepala, pikirkan keadaanmu atau kau akan berakhir di perang ini."

"Tidak akan!" Jawabnya lagi.

Ling Tong sudah menduga itu, ia menghela napas. Dia memang tak mau mendengarkan perkataan orang lain. "Baik, tapi beri aku alasan yang bagus agar aku bersedia membawamu."

An Shu terdiam sejenak, nafasnya tak beraturan. "...aku masih takut." Ia memejamkan mata, berusaha untuk tetap tenang. "Tapi aku tidak mau seperti ini. Setidaknya aku bisa membantu dan juga... menguasai rasa takutku. Aku juga ingin lebih berguna untuk orang lain. Aku ingin seperti kau, Gan Ning dan yang lain...berani dan tidak takut apapun." Ia mengangkat kepalanya dan menatap teman semasa kecilnya tersebut. "Jadi kumohon... biarkan aku ikut denganmu." Ling Tong langsung menepuk kedua punggung tangan Shu dengan keras sehingga mengeluarkan suara tepukan yang keras. "Aduh!" Punggung tangannya memerah tapi tak lagi bergemetar. "Ah... sudah berhenti."

"Kau tidak harus seperti aku atau orang lain. Bertarung dengan caramu sendiri, itu yang terbaik. Kau mengerti?" Seulas senyuman tipis pada wajah Ling Tong sudah cukup membuat An Shu kembali yakin pada dirinya sendiri. Ia membalas senyumnya.

"Ya!"

Ia melepas tangan Shu dan mengistirahatkan tangan kanan diatas kepala Shu. "Lagipula, kalau aku tetap memaksamu untuk tetap berada disini. Aku yakin kau akan protes." Dengusnya. An Shu hanya tertawa kecil mendengarnya.

-XXX-

"Sambil menunggu persiapan Huang Gai, sekarang kalian lakukan perintah yang sudah kuberi pada kalian." Perintah Zhou Yu.

"Baik!"

Sementara itu, An Shu menunggu mereka berdua diluar markas. Ia menyentuh bekas lukanya dengan pelan. "Terluka dalam medan perang itu sudah wajar. Aku tak akan membiarkan hal kecil seperti ini menghambatku." Suara tawa kecil keluar dari mulutnya, mengingat Ling Tong tersenyum dan memberinya semangat. "Hm! Aku tidak akan mengecewakannya!"

"An Shu?" Seorang gadis berambut hitam berkuncir dua menepuk pelan punggungnya.

"Uwaaa!" An Shu langsung membalikkan badan. Da Qiao tidak sendirian, ia bersama adiknya Xiao. "Kalian rupanya. Ada apa?"

"An Shu, tadi kamu mengantar orang yang bernama Zhuge Liang 'kan?" Tanya Da. Entah mengapa raut wajahnya terlihat begitu khawatir.

"Oh ya, bukan hanya aku sih... Ling Tong dan Gan Ning juga bersamaku. Memangnya kenapa dengan orang itu?"

Dua bersaudari itu saling menatap satu sama lain, kemudian mengangguk dan kembali menatap Shu. "Sebelum perang dimulai, ia mengatakan pada Tuan Zhou Yu kalau Cao Cao menginginkan kami..." Jawab Xiao Qiao.

"Hah? Maksudmu Zhuge Liang memberitahu Tuan Zhou Yu kalau Cao Cao menginginkan kalian berdua... tunggu, apa?" Tanya An Shu tak yakin.

"Iya, akibatnya Tuan Zhou Yu jadi semakin gelisah. Entah itu benar atau tidak..." jawab Qiao yang lebih muda.

An Shu meratapi Qiao bersaudara tersebut, mereka benar-benar cemas apa yang akan terjadi nanti. Mereka tak ingin ditangkap oleh Cao Cao, memang. Bahkan Zhou Yu merasa tersudut oleh Zhuge Liang, apa itu hanyalah bagian dari taktik dari strategis Liu Bei tersebut, ia tak tahu. Begitulah yang gadis bersurai biru gelap itu pikirkan.

Kemudian An Shu melihat Ling Tong dan Gan Ning berjalan keluar markas. "Shu, kita pergi sekarang."

"Ah iya!" An Shu pun menyusul dan meninggalkan kakak-adik tersebut. Namun ia langsung berhenti kemudian menoleh. "Da, Xiao! Kita pasti akan memenangkan perang ini, jadi kalian tak perlu khawatir!" Serunya sambil tersenyum agar mereka tetap percaya.

Mereka berdua mengangguk dan membalas senyumnya. "Hati-hati ya!"

-XXX-

"Nah, sekarang bagaimana caranya agar kita bisa melakukan serangan dadakan?" Tanya Gan Ning.

"Yang benar saja. Bajak laut sepertimu bahkan tidak tahu caranya? Kupikir kau berpengalaman dengan hal seperti ini tapi kenyataannya tidak. Sebaiknya kau gunakan otak udangmu itu." Ucap Ling Tong.

"Apa kau bi-" An Shu langsung menutup mulut mantan bajak laut tersebut.

"Ssh! Jangan bersuara, nanti ketahuan! Tuan Landak, pinjam punggungmu sebentar." An Shu langsung memanjati tubuh Gan Ning, ia menginjak paha kemudian bahunya dan akhirnya ia naik keatas atap kapal.

"O-Oi! Jangan seenaknya menginjakku!" Bentak Gan Ning.

"Kau tidak mengerti bagaimana cara untuk diam, hah?" Ling Tong ikut mengambil pijakan pada punggung Gan Ning dan naik keatas atap kapal. Bel-bel yang dipasang pada pinggang Gan Ning berbunyi.

"Hm, suara apa itu?" Tanya salah satu prajurit Wei.

"Gawat! Dasar bajak laut bodoh, kita ganti rencana! Gan Ning, kau jadi umpan!" Sahut An Shu langsung pergi meninggalkan Gan Ning.

"Oi! Sejak kapan kau jadi pemimpin, hah!? Bentak Gan Ning histeris.

"Semoga berhasil~" seru An Shu.

Niat Gan Ning langsung batal untuk mengejar mereka. Ia mendecis, "Heh, ini lebih baik! Aku akan bertarung dengan caraku sendiri!" Gan Ning langsung menerobos sekumpulan prajurit Wei dan menyerang mereka.

Gadis bermanik emas itu berhenti tiba-tiba, kemudian ia melihat kearah Gan Ning yang sendirian bertarung. "Ah? Tapi karena kita sudah memasuki wilayah musuh. Kita bantu dia, yuk!" An Shu langsung turun dari atap kapal dan ikut bertarung.

"Jangan memerintahku." Ling Tong menghela napas lalu mengikutinya. Beberapa prajurit panik oleh serangan dadakan mereka. Prajurit Wu yang lain ikut menyerang mereka.

"Penyusup!"

"S-Serangan dadakan! Jangan ada yang satupun yang panik, itu hanyalah keinginan musuh! Tetap tenang dan serang mereka!"

An Shu tertawa kecil. "Wah, lihat raut wajah itu. Melihatnya saja sudah membuatku tidak tega menyerang mereka."

Ling Tong menaikkan alisnya. "Akhirnya kau mengakuinya, heh." Ia memasang kuda-kuda untuk bersiap melawan sekumpulan prajurit Wei.

An Shu menjulurkan lidah kearah para prajurit tersebut sambil menahan kelopak bawah matanya dengan telunjuk. "Kalau kalian tidak berani melawan perempuan seperti aku, kalian memang pantas disebut seorang pengecut!" Ia memancing para prajurit tersebut dengan ejekannya, itu sudah cukup membuat mereka lengah. Raut wajah mereka penuh dengan amarah. "Dengan begini, pasti akan berhasil!"

Ling Tong paham akan tindakan gadis tersebut, ia tertawa pelan. Dia memang pintar memancing emosi orang, dirinya juga selalu menjadi korban cemoohan An Shu. Namun ia tidak membencinya. "Kau yakin? Mereka tidak akan segan-segan melawanmu lho. Kau sudah siap?"Dengusnya.

An Shu tersenyum. "Orang bodoh sepertiku sudah siap sejak awal!" An Shu mengedipkan sebelah matanya kearah Ling Tong. Kemudian ia langsung menerobos para prajurit, meninggalkan Ling Tong yang kebingungan.

'Apa maksudnya? Dia benar-benar menganggap dirinya bodoh.' Batin Ling Tong. Ia menyimpan pertanyaan itu dan mulai menyerang. An Shu hanya memberi tendangan pada musuh satu persatu, ia tidak menggunakan emeici-nya sama sekali.

"Mereka bukan apa-apa! Maju!" Seru salah satu komandan Wei. An Shu menyerang dagu musuh tersebut sehingga komandan tersebut hampir kehilangan keseimbangan. "S-Sial!" Dicabutnya pedang dan membalas serangan An Shu.

"Whoa!" An Shu langsung menahan serangannya dengan senjata miliknya. "Uwakh... Kuat sekali. Aku tidak bisa menahannya!" Jerit An Shu.

"Heh! Anak kecil sepertimu memang lemah-" Komandan tersebut terkejut ketika melihat sorot mata emas Shu. Gadis itu melepas serangannya sehingga prajurit tersebut kembali kehilangan keseimbangan. An Shu langsung menendang punggung kepalanya kemudian disusul dengan sebuah tebasan pada tengkuk leher musuh. Komandan tersebut berteriak kesakitan.

"Bercanda!" Ucap An Shu menjulurkan lidahnya. "Tunggu, barusan kau memanggilku 'anak kecil'!? Kuberitahu kau, aku ini sudah berumur 17 tahun!" Bentak An Shu kesal sambil menginjak komandan tersebut berulangkali.

Ling Tong memutar sanjiegun pada kedua sisinya dengan kencang sambil terus menerobos, membuat para prajurit berjatuhan akibat serangannya. Salah satu prajurit Wei menyerang Ling Tong dari belakang namun dapat ia hindar dengan mudah. "Terlalu jelas!" Ia langsung mengambil pijakan pada bahu prajurit tersebut dan melemparnya ke tanah. "Sayang sekali, aku akan bermain santai dengan kalian." Ejek Ling Tong tersenyum sinis.

Sementara itu, Gan Ning berada di kapal sebelah, ia memutar flail diatas kepala dan terus menerobos musuh. "Ayolah! Hanya sekecil ini kekuatan Wei!? Aku belum puas!" Seru Gan Ning tertawa remeh.

Sebuah anak panah yang dibakar menancap ke tiang kapal. "Oh, sudah waktunya!" Ucap An Shu. "Ayo kembali~" Itu adalah sinyal menandakan Huang Gai akan membakar semua kapal yang ada disini. Ia langsung berlari keluar kapal dan menerobos musuh yang mengahalanginya. Sebagian prajurit panik ketika sebuah kapal besar akan menabrak kapal milik Wei yang sudah dirantai.

"M-Mereka akan membakar semua kapal!"

"Cepat laporkan pada Tuan Cao Cao."

An Shu tertawa pelan melihat semangat juang mereka menurun drastis. "...?" Namun, pandangannya langsung berpindah kearah seorang wanita muda bersurai merah kecoklatan yang dikucir dengan pita biru dan tusuk konde mawar yang berwarna sama, ekspresinya begitu lembut dengan manik merah darahnya yang sendu. Ia membawa senjata ge. Pandangannya lurus ke depan melihat kapal terbakar yang akan menabrak semua kapal yang ada disana. Seperti pandangan trauma.

-XXX-

"Oi landak! Dimana Shu!?" Bentak Ling Tong sembari berlari meninggalkan kapal yang sudah mulai terbakar satu demi satu.

"Bukannya dia bersamamu!?" Jawabnya.

"Cih! Lalu dimana dia sekarang!?"

"Jangan tanya padaku, buntut kuda!"

"Berisik!" Bentak Ling Tong lagi.

"Haha! Aku tahu kau khawatir, mungkin saja dia sudah tiba di markas!"

"...Aku tak mau mendengar itu darimu, landak busuk." Ling Tong lari mendahului Gan Ning.

"Apa!?" Bentak Gan Ning naik pitam.

Lalu mereka berdua tiba di markas utama. Zhou Yu dan Lu Su memandang hasil taktik mereka, Zhuge Liang dan Liu Bei juga berada disana. Kobaran apinya sangat besar, bahkan bau asap tercium dari jarak sejauh itu. "Kerja bagus, Ling Tong, Gan Ning." Ucap Zhou Yu.

"Heh! Aku masih mau bersenang-senang mengalahkan mereka!" Dengus Gan Ning.

"..." Sepasang mata Ling Tong menulusuri setiap sudut markas, memastikan apa benar An Shu sudah datang terlebih dahulu. "Sial, dimana dia..." gumamnya.

"...aku yakin Cao Cao akan melarikan diri dengan mengambil rute sebelah utara. Tugas kalian belum selesai." Perintah Zhou Yu.

"Ou!" Lalu Gan Ning menoleh kearah Ling Tong. "Apalagi yang kau cari, hah? Ayo, sudah waktunya kita berangkat-"

"Seharusnya kau sudah tahu, landak busuk! Shu tidak ada disini! Aku akan pergi mencarinya." Bentak Ling Tong kemudian langsung pergi keluar markas.

"Oi! Ling Tong!"

Ling Tong terus mengutuk dirinya sendiri di dalam kepalanya, An Shu memang sudah berkembang tapi Ling Tong melupakan bahwa Shu mudah tersesat. Bahkan "Si bodoh itu...! Aku masih belum mengatakan apapun padanya!" Gerutunya. "Kalau kau pergi mendahuluiku, aku akan menarikmu kembali... bagaimanapun caranya!" Ia melepas syalnya lalu mengikatnya pada dahan pohon agar tidak hilang. Ling Tong mendengus, "Dia akan marah padaku kalau syalnya terbakar." Tanpa ragu, ia langsung nekat mencari Shu dalam puluhan kapal yang sudah terbakar. Ia juga sudah membasahi dirinya sebelum masuk ke kapal.

-XXX-

"...u-uhh..." Suara desahan kecil keluar dari mulut gadis bersurai biru tersebut. Ia mengumpulkan nyawa setelah itu membuka matanya dengan perlahan. "...panas sekali." Sepasang matanya terbuka lebar dan tak berkedip ketika melihat api membara disekitarnya. "Aku... Ini bohong... aku pasti bermimpi...!" Ia menepuk kedua pipinya dengan keras, rasa sakit pada pipinya sungguhan. Tubuhnya kembali melunglai, matanya terkunci melihat bulan penuh dengan sinar keperakannya. Ia menaruh lengannya diatas lantai kayu kapal dan menyandarkan dahinya pada lengannya. "Tong... sudah pergi. Ah, aku memang bodoh." Lirihnya sebelum tertawa kecil. "Padahal aku masih ingin melakukan banyak hal dengannya. Dan juga aku... ingin mengatakannya..."

Sepasang telinga An Shu menangkap sebuah suara-seperti nyanyian. Suaranya begitu lembut, ada orang lain yang terperangkap disini. Suara nyanyian dari seorang wanita, pikir Shu. "Kenapa orang itu menyanyi?" Gumam An Shu bertanya pada dirinya sendiri.

-XXX-

To Be Continued...

-XXX-

A/N : Sebenarnya saya mau bilang ini di chapter depan tapi aku kasih sop iler deh. Chapter ini akan mengarah berbeda dari Chapter XX. Bisa dibilang terdapat 3 rute yang berbeda. Pertama, dari fic The Blue Butterfly : Last Song, disana An Shu tak disebutkan. Kedua, Chapter XX, OC saya yang lain (ada yang bisa tebak? XD) tidak disebutkan namanya- mati tenggelam setelah bertemu dengan An Shu dan dia melawan Gan Ning sebelum terjebak di Chi Bi. Ketiga, Chapter 11-chapter berikutnya! Apa yang akan terjadi? Mwahahaha! Keep reading!

So... please review? Thanks and see you next chapter!