.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Warning : T rate/Death Chara/AU/Twisted plot (as usual)
Pair : SasukeXSakura
Genres : Psychology/Mystery/Romance/Tragedy
By Devilish Grin
.
KURUSHII KURUSHII
Chapter 11
.
Kediaman Hyuuga
.
Begitu tiba di kediaman Hinata, Sasuke segera dipersilahkan masuk dan diantar menuju kamar gadis itu oleh beberapa orang pelayan yang memang sudah diperintahkan Hanabi untuk menunggu kedatangan Sasuke.
Sesampainya di dalam kamar gadis yang identik dengan warna ungu itu, Sasuke dapat melihat suasana ketegangan yang dipancarkan oleh raut wajah Hanabi serta seorang pelayan yang sedang berdiri di depan pintu kamar mandi.
"Hanabi, apa Hinata masih di dalam?" tanya Sasuke langsung bergerak ke arah depan kamar mandi.
"Sasuke, untung kau datang!" Hanabi bernapas lega saat melihat Sasuke sudah datang, "Cepat lakukan sesuatu untuk membuat Hinata keluar, aku..., mulai mengkhawatirkannya karena sejak pagi dia berada di dalam...," ucap gadis itu dengan bibir bergetar. Selalu saja begini, Hinata selalu membuat semua orang cemas.
"Berikan aku jalan." Hanabi memberikan jalan pada pemuda itu. Sasuke berjalan mendekati pintu kamar mandi dan menempelkan telinganya pada pintu.
Sejenak keadaan hening, semua mata kini tertuju pada Sasuke sambil berpikir apa yang hendak dilakukan pemuda itu. Tak berapa lama Sasuke kembali berdiri seperti semula, dan mulai menggedor pintu kamar mandi beberapa kali.
"Hinata, buka pintunya! Aku tahu kau ada di dalam dan mendengarku, keluarlah sekarang!" hal pertama yang pemuda itu coba lakukan adalah, berusaha memanggil Hinata, sang pemilik kamar.
Tak ada jawaban, hening. Hanabi dan yang lain semakin dibuat khawatir. Hanya suara aliran air dari shower kamar mandi saja yang terdengar.
"Hanabi, apa aku boleh merusak pintu ini?" Sasuke merasa tak ada jalan lain selain mendobrak pintu kamar mandi. Ia meminta ijin pada sang pemilik rumah sebelum melakukannya.
"Aku tidak keberatan, lakukan saja." Gadis bersurai panjang itu mengangguk, memberikan ijin pada Sasuke.
Sasuke meminta Hanabi serta yang lain untuk menjaga jarak lebih jauh lagi. Setelah di sekitarnya benar-benar aman, Sasuke mulai melakukan ancang-ancang. Ia mengeluarkan segenap kekuatannya untuk menembus pintu kamar mandi yang kokoh itu. Satu kali, dua kali, sampai pada dorongan yang ketiga Sasuke berhasil membuka pintu tersebut.
BRAKH!
Bersamaan dengan terbukanya pintu itu, Hanabi beserta para pelayan secara seremapk langsung bernapas lega. Seakan-akan ada suatu beban yang terlepas begitu melihat pintu itu berhasil dibuka.
Sasuke melihat ke kiri dan ke kanan bagian dalam kamar mandi, dan ia mendapati sosok Hinata tengah berada di dalam bathub yang penuh digenangi air. Air dari shower terus mengucur ke bawah, menghujani tubuh Hinata yang sudah terlihat gemetar karena kedinginan.
"Kalian cepat bawakan semua handuk, selimut atau kain apa pun yang banyak dan tebal, sekarang!" perintah Sasuke dengan spontan saat melihat keadaan Hinata.
Mendengar suara Sasuke yang begitu panik, tanpa berpikir dua kali, para pelayan itu bergegas berhamburan untuk mencari benda-benda yang diminta oleh Sasuke, bahkan Hanabi juga ikutan sibuk mengacak-acak lemari pakaian Hinata dan mengeluarkan beberapa selimut dari dalamnya. Sementara itu Sasuke langsung menghampiri Hinata yang masih setia berdiam diri di dalam bathub.
"Hinata, bangun! Ayo keluar dari sini!" pemuda itu meminta Hinata untuk keluar dari bathub sesegera mungkin.
"Tidak! Biarkan aku begini!" Hinata menolak keras perintah Sasuke dan malah semakin merapatkan tubuhnya.
"Ck! Kau ini keras kepala sekali!" Sasuke benar-benar dibuat kesal oleh ulah Hinata. Belum lama gadis itu berjanji untuk bersikap baik, tapi lihat sekarang yang dilakukannya. "Kau mau mati karena hipotermia, hah?" omelnya dengan suara yang meninggi. Tapi apa pun yang dikatakan olehnya, Hinata seperti tak mendengarnya. Tatapan gadis itu begitu kosong, seperti tak ada tanda-tanda kehidupan.
"Hinata, ayo cepat keluar dari bathub," perintahnya sekali lagi, tapi gadis itu masih tidak bergeming dari posisinya, meski terlihat jelas tubuhnya sudah gemetaran hebat.
Meski demikian, Sasuke tidak kehilangan akal untuk mengeluarkan Hinata dari dalam kamar mandi. Pemuda itu menarik lengan gadis itu secara paksa dan tanpa permisi lagi Sasuke menggendongnya ala bridal style keluar dari bathub.
"Sasuke, turunkan aku!" Hinata memberontak meminta agar diturunkan, namun percuma. Sasuke seakan telah menulikan telinganya meskipun Hinata berteriak-teriak kencang persis di dekat indra pendengarannya itu.
Sasuke mengeratkan dekapannya pada tubuh Hinata yang basah. Tak peduli dengan pakaiannya yang ikut basah kuyup karena bersentuhan dengan Hinata.
.
.
Begitu keluar dari dalam kamar mandi, ia menurunkan gadis itu di atas tempat tidurnya. Hinata yang mendarat mulus pada kasur empuk itu mulai merasakan efek akibat berendam lama di bathub dengan air dingin. Tubuhnya mulai menggigil hebat, padahal sewaktu di kamar mandi tadi tidak terasa dingin seperti ini.
"Mana selimut yang tadi kuminta?" Sasuke menoleh ke arah pelayan dan Hanabi dengan tatapan tajam, membuat para pelayan itu sedikit bergetar ngeri.
"Pakai ini, Sasuke!" Hanabi menyerahkan beberapa selimut yang ia temukan kepada Sasuke, sementara para pelayan lain hanya bisa diam.
Dengan cepat disambarnya selimut-selimut itu dari tangan Hanabi dan meletakkan benda-benda halus serta tebal itu di atas tempat tidur, tepat di sebelah Hinata yang sedang duduk kedinginan. Sasuke dengan cekatan membungkus tubuh Hinata yang sudah gemetaran itu dengan beberapa lapis selimut, mencoba untuk menghangatkannya.
"Bisa ambilkan air hangat?" pintanya menengok ke belakang.
"Ba-baik!" salah satu pelayan dengan sigap berlari ke arah dapur untuk membuatkan air hangat.
Tatapan onyx itu kembali teralih pada sepasang manik lavender yang sedang tertunduk lesu. Kedua tangan mungil Hinata masih terlihat bergetar. Dia pasti merasa kedinginan sekali saat ini. Sasuke berjongkok di depan Hinata dan mengambil dua tangan yang bergetar itu dengan hati-hati. Hinata tidak bisa berkomentar atau pun sekedar protes, dia tak sanggup melontarkan satu patah kata pun. Ia hanya bisa mengamati apa yang dilakukan Sasuke dalam diam.
Sasuke, pemuda itu mendekap kedua telapak tangan mungil Hinata dan menggosok-gosoknya secara bersamaan. Melihat perlakuan Sasuke, membuatnya teringat akan masa lalu yang belum bisa ia lupakan sampai sekarang.
Flashback
Saat itu musim dingin. Hinata memaksa untuk berjalan-jalan bersama dengan sang kekasih, meskipun cuaca tampak tidak mendukung. Salju turun sejak pagi, tapi itu tak menyurutkan Hinata untuk pergi keluar bersama dengan pemuda yang ia cintai.
Pada akhirnya mereka berdua berhasil jalan-jalan di taman meski bola-bola salju mulai turun kembali menghujani Otogakure. Hinata mulai kedinginan karena nekad hanya memakai satu lapis jaket saja, dan tidak menggunakan sarung tangan. Melihat Hinata yang kedinginan, sang kekasih memutuskan untuk membawa Hinata pulang dari taman.
Sesampainya di rumah Hinata langsung menggigil hebat dan sama sekali tak bisa beranjak dari pintu masuk.
"Kau kedinginan, Hinata..." Pemuda itu berjalan ke belakang Hinata dan mendekapnya erat.
"A-apa yang kau la-lakukan?" Hinata terkesikap dengan perlakuan dadakan pemuda itu.
"Mencoba menghangatkanmu. Sudah, jangan banyak bicara, nikmati saja," balas sang kekasih dengan setengah menggoda, membuat kedua belah pipi Hinata merona saat mendengarnya.
Pemuda yang sudah menjadi kekasihnya sejak beberapa tahun terakhir itu mendekap kedua telapak tangan Hinata dan menggosok-gosokkannya dengan lembut secara bersamaan.
End Flashback
Kenangan itu sampai sekarang masih segar di dalam ingatan Hinata dan belum terlupa. Perasaan hangat itu muncul kembali, dan kenapa setelah sekian lama ia mendapatkan perlakuan yang serupa seperti ini? tanpa disadarinya, satu tetes air mata jatuh dari manik lavender kirinya, dan jatuh tepat di atas telapak tangan Sasuke.
Untungnya Sasuke tidak menyadari yang jatuh di telapak tangannya itu adalah air mata Hinata, dan menganggap tetesan air yang jatuh itu hanyalah salah satu tetesan air biasa yang membasahi tubuh Hinata.
"Aku bawa air hangatnya!" seorang pelayan bergegas masuk sambil membawa-bawa air hangat yang sudah dia buat.
"Berikan padaku." Sasuke mengambil baskom yang ukurannya cukup besar itu dengan hati-hati. Baskom berisi air hangat itu ia letakkan tepat di bawah tempat Hinata yang sedang duduk. "Turunkan kakimu, masukkan ke dalam air ini," perintahnya pada Hinata.
Kali ini Hinata tidak melancarkan protes pada Sasuke. Ia hanya mengangguk dan menurukan kakinya perlahan ke dalam air hangat tersebut.
"Sasuke, ada baiknya kau mengganti pakaianmu," ujar Hanabi membuat Sasuke menyadari pakaiannya yang basah.
Pemuda itu menepuk keningnya sendiri dan mulai merasakan hawa dingin yang mulai menjalar ke seluruh bagian tubuhnya. Dia tidak tahu harus berbuat bagaimana. Tak mungkin dia pulang dalam keadaan basah dan kedinginan seperti ini juga 'kan.
"Sasuke, ikut aku sebentar ke kamar Neji-nii." Seperti dapat membaca pikiran Sasuke, gadis remaja itu mengajak Sasuke untuk ikut dengannya ke kamar Neji.
"Kalian, tolong jaga Hinata," ucapnya sebelum pergi meninggalkan kamar.
...
Sasuke mengikuti langkah Hanabi menuju ke arah kamarnya Neji. Di dalam kamar itu Hanabi mempersilahkan pemuda itu untuk masuk. Gadis itu mengambilkan sebuah kaos lengan panjang warna putih dari dalam lemari milik Neji dan memberikannya pada Sasuke.
"Ganti bajumu di sini dengan bajunya Neji." Hanabi memberikan kaos itu pada Sasuke dan segera meninggalkan pemuda itu sendirian di dalam kamar, serta tak lupa menutup pintu kamar tersebut.
Selang beberapa menit pemuda itu sudah berganti pakaian dengan baju yang diberikan Hanabi sebelumnya. Ia berjalan keluar dari kamar, kembali menuju ke ruangan kamar Hinata untuk mengecek keadaan gadis itu.
Ruangan Kamar Hinata
.
Di dalam kamar yang khas dengan aroma lavender itu Hinata terlihat sudah jauh lebih baik. Gadis itu juga sudah mengganti pakaian basahnya dengan yang baru.
"Aku tidak tahu harus berapa kali mengatakan ini...," ucap Sasuke terlihat jengah dengan sikap Hinata yang tak bisa dipercaya, "tapi aku harap, ini adalah kali terakhirnya kau berbuat konyol. Kasihan Hanabi yang sudah kau buat panik!" Hinata hanya bisa diam menanggapi Sasuke yang marah terhadap dirinya.
"Sigh..." Sasuke memijat keningnya yang terasa nyut-nyutan. "Aku mau keluar sebentar. Rasanya aku butuh udara segar." Pemuda itu berjalan keluar meninggalkan ruangan kamar Hinata.
Hinata tak berkata apa-apa, selain memandangi punggung pemuda itu yang perlahan menjauh darinya. Sesaat setelah sosok Sasuke sudah benar-benar tak terlihat, Hinata berjalan keluar kamar menuju ke kamar Neji.
.
.
Di kamar itu Hinata dapat melihat pakaian Sasuke yang basah tergantung pada tiang pakaian. Entah apa yang ada di dalam pikirannya, Hinata meraih kemeja Sasuke dan mendekapnya erat, penuh dengan perasaan. Disaat dekapannya semakin erat, Hinata merasa tubuhnya merasakan suatu benda keras yang ada pada kemeja itu. Penasaran Hinata menyelidiki benda apa yang dirasanya tadi.
Akhirnya tangan mungil itu bergerak merogoh ke saku kemeja Sasuke dan mendapati sebuah benda di dalamnya. Hinata mengambil benda tersebut dan membukanya.
"Ini 'kan..." Setelah mengetahui benda apa yang dilihatnya, Hinata menyadari kalau Sasuke sudah memiliki seorang kekasih yang sebentar lagi akan dinikahinya.
"Sayang sekali, ya Sasuke..., padahal, aku merasa mulai bisa menemukan sosok kekasihku dalam dirimu...," gumamnya sambil tersenyum miris saat melihat sepasang cincin di tangannya itu.
Gadis bersurai indigo itu mengambil salah satu cincin yang bertuliskan nama Sakura di sana. Entah apa yang mau dilakukan gadis itu pada cincin tersebut. Kemudian Hinata berjalan kembali menuju ke ruangan kamarnya. Sesaat setelah gadis itu masuk ke kamarnya, Sasuke datang, dan masuk ke dalam ruangan kamar milik Neji. Tanpa curiga pemuda itu mengambil jas serta kemejanya dari gantungan baju di dalam kamar tersebut, meskipun pakaiannya masih basah.
Sasuke berjalan ke ruangan kamar Hinata dan melihat gadis itu sedang duduk termenung di atas tempat tidurnya seorang diri.
"Hinata, aku permisi dulu, dan tolong jangan berbuat nekad lagi, kasihan Hanabi, dia tertekan melihat kelakuanmu." Sasuke berpamitan pulang sambil memberikan nasihat kepada Hinata untuk yang kesekian kalinya agar tidak bertindak aneh-aneh lagi.
Hinata tidak berkata apa-apa. Gadis itu hanya mengangguk kecil menanggapi nasihat yang diberikan Sasuke kepadanya.
"Kau sudah mau pulang ya, Sasuke?" tanya Hanabi yang tiba-tiba muncul di belakangnya.
"Iya, begitulah. Hanabi, aku minta jaga Kakakmu baik-baik, ya." Sasuke menyerahkan keamanan Hinata pada Hanabi karena dia tak mungkin mengawasi pasiennya itu selama 24 jam. Selain itu, dia juga memiliki banyak hal yang harus ia kerjakan.
"Meskipun malas, tapi baiklah. Aku akan menjaga Hinata karena kau yang meminta." Hanabi hanya bisa mendengus pasrah, menyadari kalau saat ini hanya dirinyalah yang bisa diandalkan untuk menjaga sang kakak.
Sasuke akhirnya pulang dan berjalan ke depan rumah dengan diantar oleh Hanabi, menyisakan Hinata seorang diri di dalam kamar. Gadis itu masih duduk diam di atas tempat tidurnya.
"Aku tidak akan mati Sasuke, karena sekarang aku telah menemukan sosok kekasihku yang hidup lagi dalam dirimu," ujar gadis itu sambil menyeringai tipis. Tampaknya Hinata beranggapan kalau jiwa sang kekasih yang meninggal itu kini menjelma di dalam diri Sasuke.
TBC
