.

.

Lover Eternal

Disclaimer : Naruto itu selalu milik Masashi Kishimoto

Genre : romance, fantasy, tragedy/hurt/comfort, vampire

Rated : T – M

.

.

"Watu kecil, aku ingat ibuku pernah menceritakan sesuatu yang sangat menyedihkan. Kisah tentang percintaan antara dua kehidupan. Pria tampan tidak menjamin karakternya bagus. Cinta tidak dilihat dari bagaimana penampilannya, tapi bagaimana isi hatinya. Dulu, ada seorang wanita yang menolong makhluk aneh yang terluka parah. wanita itu menolongnya dengan sangat tulus, merawat makhluk yang bisa dibilang monster. Wanita itu tidak takut, karena dia merasa monster ini adalah makhluk yang baik. Seiring berjalannya waktu, sang monster jatuh cinta pada wanita yang merawatnya, tapi sayang wanita itu sudah dimiliki pria lain. Walaupun sang wanita juga mencintai makhluk tersebut, namun dunia mereka sangat berbeda. Sampai sang monster itu berjanji akan mencintai wanita itu sampai akhir hidupnya dan selalu melindunginya."

"Sakura, kalau kau menjadi wanita tersebut, apa yang akan kamu lakukan?"

"Sakura ingin berubah menjadi seperti monster itu, Sakura yakin walaupun wujud monster itu mengerikan, tapi monster itu pasti sangat baik. Buktinya wanita itu bisa jatuh cinta pada sang monster. Makanya Sakura lebih memilih untuk jadi monster dan hidup bersamanya dari pada hidup sebagai manusia biasa dengan orang yang Sakura tidak cintai."

KREES!

"Akh~ aaahhh! Ngghhh!" Sakura menggerang ketika merasakan dua tusukan taring yang menancap di lehernya. Tubuhnya meronta berusaha melepaskan gigitan Sasuke dari lehernya. Tangannya menjambak rambut Sasuke dan kakainya menendang-nendang ke sembarang arah.

"Ino, tahan kaki Sakura," ucap Karin yang berinisiatif memegang kedua tangan Sakura.

Ino menahan kaki Sakura dengan tatapan pilu. Andai saja dia tidak pernah bertemu Sakura, saat ini Sakura pasti sudah bisa menikmati kehidupan normalnya. Beberapa saat kemudian tubuh Sakura mulai tenang, Sasuke melepaskan gigitannya yang kemudian menggigit lengannya sendiri. Sasuke mengisap darahnya sendiri dan kemudian meminumkannya pada Sakura melalui mulutnya.

Di dongakan kepala Sakura agar darah bisa mengalir dengan lancar di tenggorokannya. Begitu selesai, Sasuke hanya bisa memandang wajah Sakura yang kini tertidur sebelum dirinya berubah menjadi salah satu di antara mereka.

"Kalian cepat susul monster itu!" perintah Sasuke pada Karin dan Neji juga pada Shikamaru saat ia menatapnya, "Kali ini, aku sangat memohon bantuan kalian."

"Tapi… Sakura?" tanya Ino.

"Aku akan menyusul kalian, sebentar lagi Sakura akan sadar dengan kondisinya yang sudah berubah, kalau kubawa sekarang mengejar monster tersebut, itu kan menghalangi jalan kalian untuk membunuhnya," jawab Sasuke.

Karin mengangguk, "Baiklah, pastikan kau menyusul."

Karin mengambil langkah lebih dulu kemudian di susul oleh Shikamaru dan Ino. Sementara Neji masih memandangi sosok Sasuke yang kini membelai wajah Sakura, "Syukurlah kau kembali," ujar Neji.

"Hn."

Neji tersenyum kemudian meninggalkan mereka berdua.

Dalam diam, Sasuke terus menatapi wajah Sakura. Dia membayangkan apa reaksi Sakura nanti apabila ia mengetahui bahwa dirinya bukan lagi manusia, "Aku harus melakukan ini," bisik Sasuke pelan, "Karena aku tidak mau kehilanganmu…"

Tiba-tiba tubuh Sakura menyentak, tangannya mencengkram lengan Sasuke dengan keras, matanya terbuka lebar. Sasuke hanya bisa menahan rasa cengraman yang luar biasa pada lengannya sambil memegangi kepala Sakura. Dengan tenang, Sasuke membuka kembali lubang gigitan di lengan memakai taringnya, kemudian saat darah segar mengalir… ia tempelkan pada bibir Sakura.

Dengan lahap Sakura menghisap darah itu, sesekali Sasuke mengernyitkan dahinya karena merasa sakit oleh taring Sakura yang menusuk asal-asalan pada lengannya itu. Setelah puas menghisap darah Sasuke, luka di tubuhnya perlahan menutup. Darah Sasuke adalah special, vampire atau lesser yang meminumnya akan mendapatkan kesembuhan yang cepat.

Sakura melepaskan bibirnya pada lengan Sasuke. Wajahnya kini acak-acakan dan tanpa ekspresi menoleh ke Sasuke. Air mata mengalir dengan sendirinya dari emerald yang kini tidak lagi bercahaya. Sasuke menghapus air mata tersebut dan merengkuh wajah Sakura, "Aku tidak punya pilihan lain," ucap Sasuke pilu.

.

.

DASH! DASH! DASH!

Suara langkah dari sang monster terdengar keras menuju markas. Karena kemampuan khusus Hyuuga, kini Neji, Karin, Shikamaru dan Ino sudah sampai lebih dulu di depan gerbang untuk menyambut sang monster.

"Apa kalian bisa mengatasi ini?" tanya Shikamaru.

"Mau kemana kau?" tanya Neji balik padanya.

"Ada yang harus kuselesaikan atas ulahku sendiri."

"Baiklah, Ino kau sebisa mungkin cari beberapa vampire yang selamat dari serangan para lesser dan obati mereka," perintah Neji.

"Baik."

Begitu Ino dan Shikamaru masuk bersamaan, Karin dan Neji menghadang monster itu berdua, "Ini… antara hidup dan mati," ujar Karin.

"GROAAAAAAARRLL!"

"Datang," ujar Neji yang mempersiapkan dirinya untuk melakukan perlawanan.

.

.

DRAP! DRAP! DRAP! DRAP! DRAP!

"Hah… hah… hah… aku tidak tahu apa yang kau rencanakan dengan Shikamaru…" ucap Hinata setelah mengalahkan beberapa lesser liar yang menyerangnya, sambil menebaskan pedangnya untuk membersihkan darah yang menempel Hinata memasang kuda-kuda, "Di sini… aku pasti menghabisimu!"

DRAP! DRAP! DRAP! DRAP! DRAP!

"Nyalimu bagus Nona, tapi sayang... kau-sudah-kalah."

BRAAAK!

"HINATAA!"

"Na-Naruto?"

"Aahh~ bagus sekali datang satu mangsa yang patut untuk di santap," ujar Orochimaru sambil menyeringai.

"Tuan Orochimaru, bagaimana kalau mereka biar saya yang menghadapinya?" usul sosok laki-laki berambut putih yang berdiri di sebelahnya.

"Tidak usah repot-repot, Kabuto. Kau cukup meli-"

JRAAASSSS!

Seluruh mata terbelalak ketika ada sebuah tangan dengan ukuran kuku yang panjang menembus dada Kabuto yang tadi sedang berdiri. Orochimaru bergerak cepat menghindari jarak dari sang monster yang entah bagaimana caranya masuk menerobos tembok di ruangan yang berada di lantai atas ini.

"Ukh!" Belum sempat Kabuto menggerakkan tangannya untuk meminta tolong, monster itu mencabut kepalanya dan mencabik-cabik sisa tubuhnya. Menyebabkan sisa-sisa tubuh Kabuto berubah menjadi pasir.

"Gggrgrrrr Grrrrrrr," Suara nafas sang monster terdengar saat mata makhluk itu melihat sekeliling ruangan.

"Mo-Monster apa itu?" tanya Hinata dengan wajah panik.

"Sasuke … dia-" Belum sempat menyelesaikan ucapannya, perhatian Naruto teralihkan pada suara yang datang dari luar.

"NARUTOOO! HINATAAA! GAARAA!" Dan suara itu adalah suara Karin.

"Karin, kenapa kau bisa ada di sini? Mana Sasu- Uaaahh!"

"GRAAAWRRR!"

"Menyingkir dari sini!" ujar Hinata yang berlari sambil menarik Naruto dan di ikuti oleh Karin.

Orochimaru diam-diam mengikuti mereka dari belakang dan berpisah arah ketika ia menemukan pertigaan lorong.

"Mana Sasuke, Sakura, dan yang lain?" tanya Naruto ditengah-tengah lari mereka.

"Ceritanya panjang," jawab Karin, "Mana Gaara?"

"Gaara berpencar dengan kami, dia mengawasi lantai bawah, tapi entah di lantai berapa," jawab Naruto.

"Shikamaru … apa kalian tidak melihatnya?" tanya Karin kembali.

"Tidak, bukannya Shikamaru-"

BRAAAAK!

Jawaban Hinata terpotong oleh suara hancurnya tembok yang disebabkan oleh sang monster yang berusaha mengejar mereka. Perlahan monster itu melangkahkan kaki menuju mereka, dan tentu saja Naruto, Karin dan Hinata mengambil langkah mundur. Saat sang monster mulai berlari, Hinata menggenggam tangan Naruto dan Karin kemudian berteleport.

.

.

Di suatu ruangan yang gelap, berdiri empat sosok yang kini saling berhadapan. Dua pasang memandang sinis, dua pasang yang lain memandang dengan tatapan datar. Senyum menyeringai terlukis di wajah salah satu sosok yang kini melipatkan kedua tangannya.

"Menyeretku kesini sudah merupakan suatu hal yang sangat berani, Gaara."

"Sedang apa kalian berada di sini? Shikamaru … Ino," tanya Gaara sambil menggenggam pistol silver.

Mata Ino tertuju pada sosok yang berdiri di samping Gaara, "Sai…" gumam Ino pelan.

"Maaf aku belum sempat memutuskan tali kita, keadaan tiba-tiba jadi kacau," ujar Sai tersenyum pada Ino.

Senyuman Sai membuat Ino merasakan ngilu di dada, bagaimana bisa Sai masih bersikap lembut padanya setelah apa yang ia lakukan?

"Aku tidak akan membiarkanmu menghan-"

"Kau bisa apa hanya sebagai lesser yang sama sekali tidak mempunyai kemampuan bertarung, hah?" potong Shikamaru … mungkin lebih tepatnya mencemooh.

"Setidaknya aku tidak berkhianat," ucap Gaara.

"Kau jangan sok tahu."

"Aku tahu semuanya."

"Kau orang luar diam saja."

"Kau yang menyimpan dendam tanpa mempedulikan bagaimana sifat adikmu yang-"

BRAAK!

Ucapan Gaara terputus oleh cengkraman Shikamaru pada lehernya. gerakan Shikamaru sangat cepat sehingga tidak bisa dihindari.

"Akh!"

"Shikamaru!" jerit Ino.

Saat suasana mulai tegang, Hinata yang ternyata berteleport ke ruangan yang sama tiba-tiba muncul membuat mereka terkejut.

"Gaara!" panggil Karin yang menarik tubuh Shikamaru, "Kau tidak apa-apa?"

"Uhuk! Ya~ aku tidak apa-apa."

"Kenapa kau menyerangnya? Brengsek!" maki Karin.

GROOOAAAAARRR!

"Tidak ada waktu untuk berdebat, ayo kita urus monster itu," ucap Naruto.

"Mana Neji?" tanya Hinata.

"Saat aku memanjat gedung untuk menyusul monster itu, Neji menjaga pintu masuk dari serangan para lesser liar," jawab Karin.

"Sendiri?!" tanya Sai.

"Sebaiknya kita pergi dari sini dulu kalau tidak mau hancur oleh serangan monster gila itu," usul Karin.

Setuju dengan usul Karin, mereka mulai keluar dari ruangan tersebut satu persatu. Berlari menuju tempat yang setidaknya jauh dari tempat dimana monster itu berada. Sepanjang mereka berlari, pikiran Ino masih tetap pada Sakura yang entah bagaimana nasibnya sekarang bersama Sasuke. Apakah Sasuke berhasil mengubah Sakura menjadi lesser sempurna? Atau jangan-jangan … Sasuke membunuhnya?

Pikiran negative itu di tebas habis-habisan oleh Ino. Melihat Ino menggelengkan kepalanya dengan cepat, Shikamaru meliriknya dan berkata, "Dia pasti selamat."

Ajaib. Hanya dengan ucpaan itu saja yang keluar dari mulut Shikamaru bisa membuat Ino yakin dan merasa tenang. Ino tersenyum dan kembali fokus pada pelarian mereka dari sang monster.

.

.

"Ck! Sialan! Lesser yang datang tidak ada habis-habisnya!" geram Neji dengan tubuh yang penuh dengan darah lesser.

Neji terus membantai para lesser liar yang terus menerus menyerbu markas. Walau Neji termasuk salah satu anggota terkuat, bukan berarti Neji bisa mengalahkan seluruh lesser seorang diri. Bagaimanapun juga dia membutuhkan pertolongan, tapi siapa yang bisa menolongnya? Semua pasti sudah sibuk di dalam untuk mencegah lesser yang masuh dari berbagai celah.

Entah sudah berapa banyak vampire yang tewas menjadi korban amukan para lesser, Neji tidak bisa memperkirakannya. Yang ia bisa lakukan hanya menebas dan menebas para lesser yang datang. Namun kini tenaganya sudah hampir pada batasnya, kakinya mulai lemas dan bahunya mulai berat.

"Ukh! Masih belum habis juga!" gerutu Neji.

Saat sekitar tiga lesser melompat dan akan menyerang Neji…

JRAAAASSS!

… Satu tebasan sukses membelah semua lesser yang tadi akan menyerangnya. Begitu Neji memusatkan pandangannya pada sosok yang kini berdiri di sampingnya, wajah Neji tersenyum lega.

"Datang juga kau akhirnya, Sasuke."

"Lihat siapa yang ikut denganku," ujar Sasuke yang menatap ke arah gerbang.

Muncul sosok Sakura yang berdiri dengan wajah yang tersenyum lembut … namun trekesan dingin.

"Sakura … dia sekarang…" ucap Neji ragu.

Tanpa membersihkan pedang dari darah lesser Sasuke menebas-nebaskan pedang itu ke udara agar beberapa darah yang menempel dapat terbuang.

"Lesser … jauh dari lesser yang sempurna," ujar Sasuke menyeringai.

'Bagaimana bisa? Jauh dari lesser yang sempurna? Apa maksudnya?' Pikir Neji.

"Aku juga bingung, yang jelas … sekarang aku bisa membaca semua pikiran makhluk di sini … bahkan binatang sekalipun," jawab Sakura tiba-tiba yang membuat Neji terkejut.

"Kau … membaca pikiranku?" tebak Neji dan Sakura mengangguk.

.

.

"Aahhh! Buntuuu!" teriak Naruto masih sambil berlari

Mereka sudah berlari dari lorong ke lorong, namun sang monster tetap saja bisa menemukan mereka. Sampai saat sekarang yang mereka temui adalah buntu dimana hanya ada kaca yang terlihat.

"Tidak ada pilihan lain!" ujar Gaara yang mengeluarkan pistolnya lalu menembakkan ke arah kaca sehingga kaca itu hancur lebur.

BANG!

PRAAAANG!

Masih dengan mereka yang berlari, Sai bertanya, "Kalian serius?!"

"Tidak ada pilihan lain!" jawab Shikamaru yang langsung tiba-tiba menggendong Ino dan melompat dari ketinggian yang bisa dibilang curam itu.

"Kyaaaaaaaaaaaaa!"

Naruto mengikuti arah Shikamaru sambil merangkul Hinata, sedangkan Gaara dengan inisiatif memeluk pinggang Karin dan ikut melompat ke bawah. Di ikuti oleh Sai yang meraih tangan Hinata ketika wanita itu mengulurkan tangannya. Karena mereka lompat hampir bersamaan, tidak menutup kemungkinan Naruto dapat mendekatkan tubuhnya pada mereka sehingga satu sama lain dapat bersentuhan.

Merasa sudah saling genggam, Hinata melakukan teleport … lagi. Dan kini Hinata berteleport tidak jauh-jauh, yaitu mendarat agar tubuh mereka tidak membentur tanah. Saat sadar, ternyata mereka mendarat di tempat Neji, Sasuke, dan Sakura berada.

Melihat sosok Sakura yang terlihat sehat bugar, Ino langsung memeluk mantan sahabatnya … julukan itulah yang Ino rasa pantas untuk dirinya bagi Sakura.

"Syukurlah kau selamat~ syukurlah~" ucap Ino. 'maafkan aku, Sakura … maafkan aku.'

"Iya Ino, aku memaafkanmu," ucap Sakura tiba-tiba.

GROAAAAWWRRRRR!

Perhatian mereka teralih pada monster yang kini melompat dari atas dan mendarat tepat di hadapan mereka. Langkah mundur memang pilihan yang tepat untuk waspada menghadapi serangan yang akan dilakukan oleh sang monster.

"Ggrrrrrr … Grrrrrr!"

Sakura memiringkan kepalanya seolah sedang mendengarkan sang monster berbicara. Sampai ia melontarkan kalimat yang membuat Sasuke dan lainnya bingung.

"Tolong … apa?" tanya Sakura.

"Grrrrr … Grrraaaa!"

"Bukan kemauanmu?" ucap Sakura lagi dengan ekspresi bingung.

"Sakura … apa yang kau lakukan?" tanya Gaara yang akan menghampirinya namun gerakannya dihentikan oleh Karin. Saat Gaara menoleh, Karin menggelengkan kepalanya … menandakan agar tidak mengganggu interaksi Sakura dengan monster tersebut.

"Ini pasti kekuatan yang ia peroleh dari Sasuke," tebak Karin.

"Jadi … Sakura sekarang mempunyai kekuatan?" tanya Naruto, "Tapi Gaara tidak memiliki kekuatan apa-apa setelah kauubah menjadi lesser?"

"Siapa bilang?" jawab Karin tersenyum bangga, "Gaara … dia tidak berpengaruh oleh percikan api silver, kan?"

Gaara mengangguk dan Naruto menganga. Baru kali ini ada lesser sempurna yang tahan terhadap api silver. Bahkan vampire pun tidak bisa terkena oleh hal itu.

"Grrrrr … Grrrrr! Graaaa!"

"Bunuh …? Siapa?" tanya Sakura yang membuat seluruh perhatian tertuju padanya.

Belum selesai berinteraksi, beberapa lesser menyerang dari segala arah. Namun dengan sekali tebasan dari sang monster … para lesser langsung tewas seketika. Dan ketika sang monster menatap Sakura seolah dengan tatapan pilu, tiba-tiba rantai panjang dan tebal melilit tubuh monster itu.

Syuuuuu!

GREB!

"AAARGGHH! GRAAAAAA!" sang monster teriak seolah mengalami kesakitan yang luar biasa. terlihat percikan listrik terjadi saat rantai-rantai itu menggesek tubuh sang monster.

"Menjinakkan monster kutukan saja tidak bisa? Sampai kami … para petinggi Akatsuki datang untuk menyelesaikan kekacauan ini?" ucap suara wanita dari kejauhan.

Rantai mengencang pada sosok makhluk tersebut dan itu membuat sang monster makin berteriak.

"GRRRRAAAAAAAAAA!"

"Dan dua kejadian tabu terjadi di sini, sangat mengejutkan," sambung suara laki-laki yang memakai masker, "Bahkan kalian tidak sadar ada tikus yang mencoba untuk kabur," ujar sang pria bermasker sambil membawa tubuh Orochimaru yang tidak berdaya.

"Oh tidak…" gumam Karin.

"Ada apa?" tanya Gaara.

"Petinggi Akatsuki," jawab Hinata dengan tatapan takut.


A/N : and now... aku bener2 minta maaf kalo typo bertebaran, kalau ada waktu aku pasti benerin kok. mengingat aku lelet banget updatenya kemarin, aku berusaha keras untuk update cepet. chapter ini ngga jadi tamat, sengaja aku belah jadi dua chapter lagi supaya tamatnya nge pas dan kesannya ngga maksain XD

okay, sampai jumpa di chapter depan ya.

terima kasih yang sudha mau review dan para silent reader XD

dan maaf juga ngga ada sesi menjawab review, nanti review kalian di chapter ini aku bales via pm aja yah XD. terima kasiiihhh :*

with love,

V3Yagami.