Boboiboy menggembungkan pipinya kesal.
"Jadi Planet Gamos itu apa?"
"Banyak cewek cantiknya, Boboiboy. Tapi kamu masih jadi nomor satu kok buat orang tercantik di dunia."
"Bohong! Kamu sering ke sana ya?!"
Fang tertawa keras. "Enak saja! Bisa lihat kamu tiap hari aja udah syukur."
"Huh."
"Ngambeknya gak guna." Fang mencubit pipi gembil Boboiboy dan menggoyangkannya. "Jangan marah lagi, yaaa."
"Buat apa marah sama kamu? Gak guna!"
Pipi chubby ditepuk layaknya anak kecil. Fang mencium Boboiboy bertubi-tubi. "Kamu mau apa bilang aja. Nanti aku beliin."
"Gak usah! Udah-udah! Jangan cium lagi. Kamu kira aku anak kecil?!"
"Emang anak kecil 'kan?"
Boboiboy menggeram kesal. Ia berusaha menahan amarah yang bergejolak dihatinya. Sudah cukup dia menahan rindu 3 hari tidak bertemu karena Fang selingkuh dengan buku tidak berguna, sekarang ia dikatai anak kecil.
"Mau berantem?"
Fang tertawa keras mendengarnya lalu melepas jubah ungu—rempongnya—. Seraya mengambil kuda-kuda, tangannya mulai mengeluarkan aura hitam keunguan.
Manik coklat Boboiboy berubah menjadi merah. Boboiboy Halilintar ikut mengambil kuda-kuda dengan sebuah pedang ditangan kanannya.
Bayangan hitam membentuk pedang bayangan. Halilintar membelalak, menatap Fang yang kini nampak gagah dengan pedangnya.
"Copy-cat!" seru Halilintar.
"Enak saja. Aku hanya tidak mau dikatai pecundang kalau mainnya jauh-jauh. Terlalu…um, terlihat seperti aku selalu menghindar. Sesekali pertandingan jarak dekat tidak masalah 'kan?"
Halilintar mendengus. "Mau bagaimana pun kau juga pasti kalah."
Serangan langsung dilancarkan Halilintar. Ia berusaha menyerang leher Fang namun pedang bayang dengan tangkas menahan serangannya.
Gerakan kilat yang nyaris tak terlihat hampir membuat Fang terkecoh. Ia hanya berdiri ditengah-tengah ruangan sambil terus memperhatikan keadaan sekitar.
"Tombak Halilintar!"
Manik Fang terbelalak. Ia dengan cepat mengubah pedang bayangnya menjadi perisai dan menangkas tombak beraliran listrik. Satu tombak dilancarkan lagi. Perisai Fang retak dan tombak itu mengenai perut Fang telak.
Fang membelalak namun menyeringai kemudian. Tubuhnya menghilang dan menyisakan aura hitam keunguan.
Halilintar terkejut. Ia membalikkan badan dan menemukan Fang berdiri dibelakangnya hendak menusuknya dengan cara yang sama. Pemuda bertopi hitam merah itu mendecih dan berlari secepat mungkin.
Manik merah kembali membelalak. Fang bergerak mengikuti bayangannya—oke sekarang Halilintar mulai panik akan kemampuan gila Fang yang ia tidak tahu.
Melihat kekasih yang tengah marah menunjukkan ekspresi lucu, Fang menyempatkan diri merogoh kantung celananya dan mengambil smartphone.
'ckrek'
Halilintar menggeram. Berusaha menggapai smartphone yang diangkat tinggi-tinggi. Terkadang Hali sedih. Sol sepatu sudah tebal tapi tetap saja tidak bisa mengejar ketertinggalan tingginya dengan Fang.
Cemberut, Halilintar mengeluarkan pedangnya dan menusuk-nusuk perut Fang dengan ujungnya. Awalnya terasa sedikit geli, tapi lama-lama Fang mulai mengaduh tidak jelas hingga RIP tak bernyawa.
"Huh lagian iseng!"
Halilintar mengambil alih smartphone ungu. Amarah makin jadi ketika password terpasang digaleri yang isinya entah apa.
"Faaaaang! Passwordnya apa?!"
Alien berkacamata memalingkan wajahnya. Tergeletak pasrah dan enggan menatap Halilintar yang tega menyetrumnya.
"Gak guna!" Halilintar melempar smartphone Fang keujung ruangan. Kaki berbalut sepatu hitam menendang-nendang tubuh Fang. Berusaha membangunkan alien tidak jelas itu.
"Hei, bangun!"
"Apaan, sih?"
"Bangun!"
"Mauan."
"Ya mau lah. Cepetan bangun. Kamarnya jadi berantakan."
"Bawel."
"Biasanya kan bukan aku juga yang suka bersih-bersih."
"Panggil Abang Kassim aja."
"Nanti kalo Kapten Kaizo marah, marahnya ke kamu ya."
Fang menghela nafas kasar dan perlahan membalikkan tubuhnya. Ia menatap langit-langit dan bermandikan cahaya. Senyum kecil diulas.
"Ngeliat lampu keinget Solar."
"Apa?!"
"Idih kok sewot?"
"Keceplosan maaf."
"Cemburu ya sama Solar?"
"Sembarangan."
"Idih keliatan banget cemburunya. Udah ngaku aja."
Halilintar menarik topi hitam merahnya turun menutupi setengah wajahnya. Semburat merah jelas terlihat. Fang tersenyum geli dan menoel kaki Hali.
"Apa?"
"Aku sayang kamu."
Halilintar membalikkan badannya. "Gombal."
Fang menarik tangan Halilintar hingga pemuda bernuansa hitam merah itu jatuh keatas tubuhnya. Halilintar mengerjap, menatap pacar dari pemilik asli tubuh Boboiboy lekat.
"Bagaimana bisa aku tidak jatuh cinta padamu. Kau begitu cantik."
Halilintar mendecih. "Apa kau mengatakan itu juga pada Solar, huh?"
Fang menyeringai. "Kubilang apa, kau memang cemburu dengan pecahan bungsumu."
"Aku tidak sudi iri padanya."
"Memangnya kenapa kau bilang aku pernah bicara pada Solar?"
"Kau bahkan meminta Boboiboy untuk berubah menjadi Solar!"
"Masa' sih?"
Halilintar mengeluarkan percikan listrik dari jari-jarinya, menyetrum leher Fang dan membuat empunya mengeryit dalam untuk menahan sakit yang diderita.
"Aku baru tahu ada proses kissmark pake setrum-setruman."
Tangan berbalut sarung tangan hitam memukul dada bidang Fang. Halilintar menduduki perut Fang, menatapnya rendah.
"Heh. Pikiran dan mulutmu sama menjijikkannya."
"Wajahmu membohongimu. Pipimu merah tuh."
Halilintar memalingkan wajahnya. "Berisik."
Tangan Fang memegang pinggang pemuda diatasnya. Mengelusnya dengan penuh cinta.
"Kau berusaha menggodaku? Aku tidak—"
"Aku tidak semurah itu. Itu yang ingin kau katakan 'kan?"
"Berisik."
"Membungkuklah."
Pemuda bertopi menolak. Ia tetap duduk angkuh diatas perut rata Fang seraya melipat tangannya didepan dada.
Fang tidak menyerah. Ia mendorong Halilintar hingga ia meluncur dari perut keatas paha—oh jangan lupa sensasi sentuhan bokong empuk yang melewati kebanggaannya.
Dua bibir saling melumat. Halilintar sempat menolak tapi sentuhan lidah Fang pada rongga mulutnya membuatnya bergetar. Bulu kuduk Halilintar berdiri. Ini sentuhan pertama Fang pada tubuhnya—dalam wujud Halilintar maksudnya.
Tiap kali lidah Fang bersentuhan dengan milik Halilintar, ia tersetrum. Fang menggila, sensasi baru itu membuatnya semakin bersemangat.
Tautan dilepas, Fang menatap Hali dalam. "Apa kau akan menyetrumku juga kalau aku memasukimu?"
Halilintar menarik nafas dalam. "Jangan mimpi."
Fang memeluk pinggang Halilintar erat. Giginya menggigit leher jenjang. Erangan lolos dari bibir Halilintar. Pemuda berkacamata menyeringai dalam hati, yakin bahwa ia telah menang dalam meluluhkan kekerasan hati Halilintar.
"LEPASKAN!"
"Kau yakin bukan ini yang kau inginkan dariku?"
"Engh. Bukan!"
"Lalu untuk apa kau mencariku?"
"Taufan yang mau!"
"Kau yakin kau tidak mau?"
"Kenapa aku harus mau?! Lepaskan aku!"
"Kau cemburu pada Solar karena aku pernah bercinta dengannya 'kan?"
Halilintar tertegun. Ia memalingkan wajahnya, memamerkan leher putih yang mulai memunculkan bercak merah.
"Minta kumakan beneran?"
"Sangat tidak adil ketika kau hanya bercinta dengan adik bungsu."
"Kau berkata seolah-olah aku pernah bercinta dengan yang lain saja."
"Karena itulah kami menginginkanmu—MAKSUDKU GEMPA DAN TAUFAN!"
"Bohong."
Resleting merah ditarik turun dan jaket dilepas. Halilintar hanya menggigit bibir merahnya sambil merasakan kausnya ditarik keatas. Tubuh polosnya terpampang dan ia tidak suka itu.
Dua puting merah muda dipilin. Bibir Fang mengerayangi pundak bersih. Gerakannya terhenti tepat ketika manik merahnya menangkap sesuatu yang berbeda dari tubuh pecahan kekasihnya.
"Ini apa?" tanya Fang seraya mengelus bekas luka di punggung Halilintar.
Hali berjengit mendapati tangan berbalut sarung tangan menyentuh area yang bahkan tidak berani ia perlihatkan pada orang lain.
"Resiko pengguna kuasa petir."
Luka itu merambat mengikuti tulang belakangnya. Seperti cabang pohon yang penuh ranting dengan tengah punggungnya menjadi batang pohon. Fang merinding, membayangkan betapa sakitnya Petir ketika medapatkan luka seperti itu.
"Bagaimana rasanya?"
"Entahlah. Aku memang sudah bersahabat dengan petir sejak pertama kali muncul 'kan. Bukan masalah besar bagiku."
"Berbaliklah."
Halilintar membalikkan tubuhnya santai. Membiarkan Fang mengeksplorasi punggung cacatnya.
"Seksi."
Manik merah menyala membelalak. Tubuh Halilintar mendadak tegak mendengar pujian kotor dari mulut Fang.
"Punggungku cacat dan kau bilang itu seksi?"
Bibir Fang membasahi bekas lukanya yang memerah.
"Ini seperti tato."
Halilintar diam-diam melirik Fang yang tengah menikmati punggungnya. Senyumnya terulas tipis, mendapati Fang begitu senang menemukan sesuatu yang berbeda dari Boboiboy.
Jari tangan kanan Fang memlintir putting Halilintar sementara tangan kanannya merambat kedalam celana Hali dan meremas kejantanan yang terasa lebih besar dari milik Boboiboy.
"Beda Hali beda Boboiboy. Boboiboy tetap nomor satu."
"Maksudmu apa, hah?"
"Punya Boboiboy enak. Manis. Punyamu keknya pedas. Mulutmu saja pedas."
Halilintar mencubit tangan Fang yang berada didalam celananya. Dengan wajah cemberut, Halilintar bangkit berdiri dan menangkupkan tangannya didepan dada telanjang yang dua putingnya mengacung tegak.
"Putingnya masih sama sih. Sama-sama gemas. Sini kasih dedek susu dulu."
Halilintar dengan wajah memerahnya menendang perut Fang. Ia membungkuk dan mencari kaus serta jaketnya yang tadi dilepas Fang.
Fang menyerang dari bawah. Puting Halilintar diemutnya. Hali mendesah gila. Fang membawanya untuk berdiri tegak sementara Fang sibuk menikmati dada sang kekasih berelemen petir.
"Ah…eumh…Fang…"
"Begini saja suda mendesah."
Celana diturunkan bersama dengan celana dalam. Dibiarkannya menggantung dilutut lalu jari Fang tanpa apa-apa mulai masuk ke lubang manis diantara bokong bulat.
Halilintar membelalakkan matanya lebar. Sensasi terbakar langsung terasa dibokongnya. Ia menggeram dan menahan sakit yang ia rasakan. Tangannya bertumpu pada dinding di depannya.
Fang berdiri dibelakang Halilintar, mengeluarkan miliknya yang sudah keras dan besar. Cairan yang sudah terlanjur keluar dilumurkan pada kebanggaannya. Ia menyeringai sambil menatap punggung seksi Halilintar.
"Kau penasaran bagaimana rasanya dimasuki 'kan?"
"Ah…cepath…"
Fang tertawa meremehkan. Ujung kejantanannya ia masukkan kedalam lubang mungil yang terus berdenyut sejak Fang mengeluarkan jarinya.
Halilintar menggeram. Ia mencakar dinding besi sambil terus mendesah.
Belum sempat merasakan kepala kejantanannya, lubangnya harus kembali menutup karena Fang mengeluarkannya.
"Kenapa?"
"Kau bilang kau tidak mau bercinta denganku 'kan?"
Halilintar mendelik. "Selesaikan saja apa yang sudah kau mulai. Kau tidak lihat punyaku minta dimanjakan juga?"
"Kenapa tidak langsung minta dioral saja? Kau tidak perlu menyakiti bokong cantikmu itu."
"Berisik."
"Yasudah aku keluar saja, ya?"
Halilintar makin menungging. Punggungnya melengkung dan pinggulnya ia naikkan. Semburat merah ia sembunyikan sementara suara yang bergetar menjawab godaan Fang.
"Memangnya kau bisa keluar dengan kejantanan mengacung begitu? Aku ada untuk menyambutnya. Jangan sia-siakan kesempatan, Fang."
Wajah Fang memerah seketika. Ia meneguk ludahnya susah payah. Jika Solar langsung memaksa, Halilintar memilih untuk membujuk.
"Kau sudah membuang harga dirimu?"
"Cepatlah."
Fang memasukkan miliknya perlahan. Menahan pinggang Halilintar yang bergetar karena air mata yang mengucur. Fang menatap punggung Halilintar yang naik turun dalam iba. Tapi apa boleh buat, sudah masuk toh.
"Tahan sedikit ya. Sakitnya tidak akan lama."
"Eungh."
Cemburu: TSUNDERE
Sorry for not updating this fic for a month
Tsundere(n): sikap seseorang yang awalnya dingin atau kasar namun lama-lama menunjukkan sisi hangat dan manisnya. Intinya sih jual mahal, ya.
Fang berteriak keras sekali. Marah-marah dan menendang segala macam benda didekatnya.
Ia tidak sengaja lewat ketika Yaya tengah membuka instagram. Manik merahnya menyala tajam. Peringkat kepopuleran yang sudah ia harapkan ternyata tidak ia dapatkan.
"HALILINTAR SINI KAMU!"
Jangan lupakan acara berfoto yang dilakukan oleh Ochobot dan teman-temannya. Sungguh amat sangat menyebalkan. Halilintar muncul dengan wajah memerah—padahal pas photoshoot sombongnya setengah mati. B*ngs*t memang.
Wajah kesal Fang jadi trending topic. Jangan tanya Fang tahu darimana. Semua story instagram membahas ekspresi menjijikkan Fang yang seperti meme kupu-kupu.
Usai berfoto, Fang pergi. Wajahnya masih masam dan senyumnya masih menekuk ke bawah. Semua ledekan ia abaikan begitu saja. Tweet Boboiboy yang bertujuan untuk membuatnya senang ia anggap angin lalu.
Ayolah, terpaut beberapa ranking dengan kakak sendiri tidak bisa ia banggakan. Bayangkan betapa jauhnya peringkat dia dengan sang kekasih.
Boboiboy yang berada dalam wujud Halilintar mendekat. Dengan senyum miringnya ia menyenggol pundak Fang.
Manik merah hanya melirik tidak peduli. Ia mempercepat langkah kakinya begitu merasakan kehadiran Halilintar disekelilingnya.
Halilintar tertegun cukup lama. Alisnya mengeryit tajam. Bola matanya bergulir mengikuti gerakan Fang kembali ke kamarnya sendiri. Nafasnya tertahan, senyumnya mengendur dan hatinya terasa sesak.
"Apa ini namanya sakit hati?" Halilintar mendecih. "Kenapa harus aku?"
.
Fang mendengus kala makan siang. Boboiboy belum ia lihat lagi sejak saat itu. Ia hanya kesal pada hasil voting dan bukan pada kekasih manisnya.
Hasil membaca buku tentang bagaimana menjadi populernya sia-sia. Ia menatap makanannya tidak minat. Semuanya terasa sama saja.
Bangkit dari duduknya, Fang keluar dari ruang makan. Melewati lorong demi lorong sambil mengira-ngira kemana Boboiboy bersembunyi.
Sosok bertopi hitam merah yang duduk diluar markas terlihat. Fang mengangkat sebelah alisnya dan membelokkan destinasinya.
"Kenapa duduk disini?"
"Kenapa harus aku yang juara pertama?"
"Kenapa kau banyak penggemar?"
"Kenapa harus aku yang punya banyak penggemar?" Halilintar memasang wajah masam.
"Syukur dong famous. Aku malah pengen banget dikenal banyak orang. Banyak yang muja…Aduh bahagia itu sederhana."
Halilintar menoleh. "Kenapa gak bikin instagram aja Fang?"
"Emangnya Monsta mau kelola?"
Tawa kecil lolos. "Sedih banget sih, Fang."
"Hali kalau ketawa manis."
Pemuda bertopi itu memalingkan wajahnya yang memerah. "Berisik."
Tangan Fang perlahan menyentuh bokong Halilintar. "Masih sakit?"
"Tidak. Aku tidak selemah itu." Hali menoleh. "Bagaimana denganmu? Masih marah?"
"Tidak juga. Lagi pula kau tidak lihat fotonya dengan becus ya?"
"Kenapa?"
"Itu tanganku coba ingat-ingat."
"Ya kau meniru meme 'kan?"
"Kau tahu apa text yang akan kumasukkan di foto itu kalau aku memer?"
"Pasti "Apakah ini kecurangan?" 'kan?"
"Bukan. Tapi," Fang mencium hidung Halilintar. "Apakah ini pintu menuju surga?" Lalu bokong kenyal diremas manja.
"ENYAH KAU, FANG!"
.
Maapkeun sudah sebulan ditelantarkan. Lomba saya numpuk jadi ga kepegang akun ff. Uda gitu file w keapus masa.
Yah intinya akhirnya w berhasil bikin fic pair elemental favorit saya.
Untuk baekgasme yang ngoceh bilang uda lupa sama ini satu fic, nih udah UP!
omake
Boboiboy mengeryitkan dahi sambil menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal.
"Sebenarnya ada apa sih?"
Fang yang sudah siap dengan batang kebahagiaannya tertegun. "Boboiboy?"
"Iya. Emangnya siapa lagi?"
"Bukannya tadi Halilintar..."
"Lah kenapa? Ada apa sih?"
"Kamu lupa...?"
"Lupa apa?"
Fang menampar pipinya sendiri. "Oke ini beneran."
"Halilintar ngegodain kamu?"
"Kamu gak liat aku udah siap masukin kamu?"
"Oiya. Hehe."
"Yaudah sana make bajunya."
"Gapapa...lanjutin aja..."
