Title : Truth or Dare (ChanBaek Ver.)
Author : 8ternity
Rate : M
Genre : Romance, Hurt/Comfort
Main Cast : - Park Chanyeol
- Byun Baekhyun
Support Cast : find in story~
Summary : Truth or Dare? Baekhyun pilih truth? Baekhyun pilih dare? Pada dasarnya semua untuk Chanyeol. Karena Baekhyun cinta Chanyeol.
- BaekYeol / ChanBaek couple –
Semua yang 8ter tulis murni fiktif. Dan mohon maaf kalau ada kesamaan dengan ff lain atau bagaimana, karena ini memang murni hasil imajinasi pasaran 8ter. Mohon maaf ooc yah~ soalnya ini remake-nya ff VerKwan, jadi kalau gak suka boleh exit :D Juga bagi pembaca yang merupakan homophobic, atau anak di bawah umur boleh undur diri/eh. Karena 8ter gak mau menerima review yang gak membangun seperti menyatakan rasa jijik atau bagaimana dan ini merupakan ff rate m yang mungkin berefek buat readers yang di bawah umur (tapi gak ngelarang keras ya, kalau mau baca silakan ^^).
Happy reading ^^
Previous Chapter :
"Kau melakukannya dengan orang itu…" Chanyeol ikut berbicara lirih dengan jari yang menunjuk Johnny yang kesakitan dan mencoba untuk mendapatkan pandangan Baekhyun.
"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan..." Baekhyun menunduk dan memejamkan matanya yang sekarang sudah terasa lembab sekali.
"BAGAIMANA KALAU AKU BILANG BEGINI? AKU TIDAK MENYUKAIMU! KAU BILANG SUKA DENGAN KEBERSAMAAN KITA TAPI MALAH MELAKUKANNYA BERSAMA ORANG LAIN!" Chanyeol meneriakinya lalu pergi tanpa menoleh.
Hati Baekhyun seperti tertusuk ribuan jarum.
Bukankah Chanyeol itu…
egois?
Chanyeol x Baekhyun
Truth or Dare
Chapter 10 :
Baekhyun terpaku tidak percaya saat tersadar dari rasa keterkejutan tidak terkontrol melihat tempat kosong dimana Chanyeol tadi berdiri dan meneriakinya. Kekecewaan dan kekosongan merayap masuk ke ceruk hatinya.
.
Seperti perkiraan, kantor itu kosong. Tidak tahu kenapa dia datang kesini. Chanyeol berjalan begitu cepat dari pintu, melewati ruangan karyawan. Lampu-lampu di ruang karyawan mengedip saat dinyalakan dan tampak ruangan itu yang kacau balau karena dokumen. Dia melewati itu semua dan langsung masuk ke ruangannya.
"Semoga tidak benar…" Gumamnya
"Pokoknya semoga tidak benar…" Ini soal perasaannya.
Pelan-pelan Chanyeol duduk di kursi kantornya, memijiti kepalanya. Pening dan heran dengan tingkah di luar kendali yang dia lakukan. Juga sekaligus rasa bersalah dengan Baekhyun saat tadi dia dengan jelas melihat Baekhyun menahan takutnya.
Suara Baekhyun terngiang kembali di telinganya, kecil dan sedikit bergetar.
"Kau memperlakukanku seakan aku milikmu…"
Rasanya sungguh… membingungkan. Apa yang membuatnya begitu marah? Kenapa dia menjadi begitu kasar? Chanyeol khawatir tentang kenapa dia punya rasa kesal tanpa kontrol dihatinya yang terasa… apa ya? Konyol dan ambigu…
Chanyeol menggeleng dan meringis, membiarkan kepalanya terkulai di kedua tangan. Dia tetap di situ sampai smartphone nya berdering, sepertinya telepon untuk pulang.
.
Baekhyun mengerang, memejamkan mata rapat-rapat, dan membenamkan kepala di bawah selimut. Bertahan beberapa lama hingga dia merasakan berat di kasur sampingnya. Kemudian dia duduk tak bergerak, termangu-mangu menatap kosong ke ujung ranjang.
Sepertinya dia salah besar.
Tapi apa dia sungguhan salah?
Wajah marah Chanyeol terus terbayang, kalimatnya yang begitu membekas. Benar-benar nyaring dan bertahan begitu lama di pendengarannya.
Selama hampir satu jam Baekhyun berbaring dengan smartphone di tangannya, bertanya-tanya apa dia harus mengalah duluan dan mengirimi pesan untuk Chanyeol seperti…
Apa salahku?
Ma'af untuk yang telah kulakukan.
Apa kau masih marah? Apa bisa bertemu untuk bicara?
Tapi dari semua yang dia ketik, tidak ada satu pun yang dikirimnya. Lagi dan lagi dia menelusuri tahap-tahap percakapan mereka, setiap kalimat dan setiap kata. Sampai-sampai ada yang terbersit dipikirannya, sampai-sampai dadanya nyeri. Di titik inikah Chanyeol berubah pikiran? Apa karena yang barusan dia lakukan? Suatu kekeliruan seksual yang rasanya tidak begitu salah untuk dia lakukan. Jelas tidak begitu salah, mengingat hubungannya dan Chanyeol bukan sesuatu yang lebih dari memberi keuntungan. Atau apakah dia sepenuhnya salah 'membaca' Chanyeol? Setiap kali memikirkan tentang Chanyeol yang segini marahnya, perutnya mulas saking cemasnya.
'Aku mungkin menyukainya. Atau aku sudah menyukainya?' Baekhyun mengedar pandangan bimbang dan menangkap Johnny yang tersenyum duduk di sebelahnya, Baekhyun hanya balas tersenyum kecil.
Lalu, karena merasa ranjangnya tidak membuatnya membaik, dia turun dan pergi ke dapur. Matanya berat oleh rasa lelah, selebihnya dia merasa hampa. Dia menemukan Ten dengan gehal-gehol bitch-nya sedang menyeduh kopi dan sepertinya sadar untuk kehadiran Baekhyun.
"Duduk di kursi meja makan, Baek. Aku menyeduh kopi untuk kita bertiga…" Setelah Ten bilang begitu, Johnny datang dan menyusul lalu duduk di seberang Baekhyun. Setelah kemudian Ten datang dan menyerahkan kopi mereka lalu duduk di sebelah pacarnya.
Ten memandang Baekhyun yang sedang meniup kopinya bersiap-siap untuk diminum, dan terkesan untuk seduhan enak kopi ala Ten. Lalu Ten memegang tangan kiri Baekhyun.
"Kau harus bisa melewati ini, tahu. Aku juga mau minta ma'af…"
"Aku tidak mau dia pergi." Baekhyun menelan ludah yang masih ada rasa kopinya.
"Dia sepertinya benar-benar marah." Baekhyun tidak peduli dia kedengaran tragis. Toh perasaanya tidak mungkin lebih buruk daripada ini.
Ten menggeleng-geleng sedih.
"Shit, Baek. Sial sekali. Kau ketemu tipe Pria Toksik juga overprotektif."
"Apa?"
"Dia sempurna. Dia jujur, penuh perhatian, peduli. Dia berusaha mendekatimu mati-matian sampai dia sadar kau juga mau. Lalu dia ambil langkah seribu. Berbahaya untuk jenis uke yang rapuh dan butuh seperti kau. Lalu berikutnya setelah dapat, dia jadi overprotektif." Ten tersenyum pahit.
Baekhyun menunduk resah memandangi gelasnya. Lalu dia berkata dengan agak miris.
"Yah, tadinya kupikir aku bisa terus terang tentang semuanya. Kupikir dia tidak apa-apa."
Ten terbelalak.
"Sepertinya dia tidak bisa menerimanya…"
"Yah, sekarang tidak penting lagi, kan? Aku mengacaukannya."
Ten menumpangkan satu tangannya. "Seme memang kadang-kadang aneh…"
Dan Johnny tersedak. Ten hanya mengerling dan melanjutkan.
"Tapi kau benar-benar kacau. Dan…oh! Aku punya sedikit tanah liat di apartement kami, biasanya kupakai untuk membuat boneka voodoo untuk pelanggan yang memuakkan. Kau bisa menyiapkan beberapa lidi, atau bisa juga lidi korek api. Kau tahu kan kalau angka 13 adalah angka sial? Kita bisa tusuk 13 lidi korek api di kepala Chanyeol voodoo, lalu kita bakar. Siapa tahu kepala Chanyeol asli benar-benar gosong."
Lalu Johnny bergidik untuk kegilaan imajinasi Ten.
.
Chanyeol sudah sampai di rumah. Tadi Kris meneleponnya dengan intonasi marah setengah khawatir. Tidak ada pilihan lain selain pulang, daripada berdiam diri dan membiarkan Kris bersama sifat protektif seorang kakak mencarinya lalu menciduknya yang tengah galau gara-gara partner sex.
Walau sebenarnya tadi sebelum semua kekacauan ini terjadi, Chanyeol sudah ijin untuk alasan pekerjaan. Meski awal niatnya untuk mendatangi Baekhyun, sekedar untuk minta ma'af karena meninggalkannya begitu tiba-tiba. Lalu tertabrak kondisi yang membuatnya marah. Heol! Ini buruk. Entah bagaimana kondisi Baekhyun yang tadi dia bentak.
"Aku menunggumu." Kris turun dari tangga kamarnya dengan nada otoriter yang tegang, matanya terlihat begitu tegas sesuai dengan kondisi rumah yang terlihat menawan dengan dekorasi baru.
Chanyeol hampir terbatuk dengan kemunculan Kris bersama aura pemimpinnya. Lalu yang bisa dia lakukan adalah menahan gestur salah tingkah, mengigit pipi dalamnya.
"Ma'af, aku hanya… punya sedikit sekali masalah."
Kris melirik dari ujung matanya dan bergerak menuju bar ruang tamu, mengambil cognag di gelas tinggi.
"Apa yang salah?"
Chanyeol terbelalak dan Kris melihat itu. Dia tersenyum, senyum yang memiliki rasa sayang yang dalam sebagai kakak. Kadang-kadang dia berusaha keras untuk tidak menunjukkan perasaannnya,agar Chanyeol tidak malu.
Kris menghabiskan cognag nya dalam satu tegukan besar.
"Bereskan masalahmu. Aku tahu, kau cukup dewasa dan aku tidak begitu perlu untuk ikut campur." Kris melewati Chanyeol, mengacak cepat rambut Chanyeol dan menuju kamarnya.
Chanyeol terdiam untuk beberapa saat, pikirannya melayang. Dia bisa merasakan tubuh Baekhyun yang lemah dan pasrah bersandar padanya, tubuh itu yang memeluknya dengan erat, membuatnya semakin bingung dengan perasaannya sendiri yang mandalam.
"Chan! Kenapa tidak ke kamar?"
Kris membuat Chanyeol tersadar, laki-laki yang notabene kakaknya itu memperhatikannya dari ujung tangga atas. Lalu setelah melihat mata Kris, Chanyeol sadar kalau dia sudah membuat Kris khawatir.
"Aku menuju kamarku segera, setelah minum."
Lalu dengan senyum yang coba dibuat ringan, Chanyeol menunjuk dan berjalan menuju bar ruang tamu yang gelas dan sajiannya belum pernah Chanyeol coba.
Kris balas tersenyum lalu berbicara dengan nada otoriter.
"Okay, aku akan periksa kamarmu sekitar 2 jam lagi setelah memastikan Joonmyeon tidur. Dan mau tidak mau, kau harus sudah ada di sana."
Dahi Chanyeol mengkerut. Heran dengan sesuatu yang terjadi pada Kris dan dia tidak tahu bagaimana mengatasi kekhawatiran Kris nanti ke depannya.
.
Ten pergi selama… mungkin sudah sekitar 3 jam. Dia bilang akan ambil libur dan mengantar Johnny ke kamar apartement mereka. Yah, mengobati pacarnya dulu yang kena tonjok dan lebam keunguan begitu. Baekhyun ditinggalkan sendiri dengan kesibukan tidak berarah seperti menyelesaikan desain dan bermalas-malasan di depan televisi dengan hati yang nyeri lalu dengan rakus makan keripik kentang.
Televisi menyala tanpa mendapat perhatian besar dari Baekhyun dan sebut itu boros untuk seseorang yang merasa kesepian. Lalu Baekhyun tiduran dengan terlihat miris.
Tok Tok Tok!
Pintu kamar apartementnya diketuk brutal membuat Baekhyun dengan reflek terduduk dan termenung sebentar. Setelah ketukkannya menjadi makin kencang, mau tidak mau Baekhyun bangun dan membuka pintu. Baekhyun mengernyit saat lihat itu Ten dengan wajah khawatir, matanya memicing tajam dan memperhatikan Baekhyun dari ujung kepala hingga kaki.
"Itu terlalu lama, kau membuatku khawatir!" Ten bergegas masuk.
"Aku tidak membiarkanmu menunggu untuk 10 menit."
Ten memutar matanya dan menghempas tubuh ke sofa.
"Betul sekali. Tapi aku tidak bohong untuk khawatir denganmu. Kalau saja kau bunuh diri."
"Kau… berlebihan…" Baekhyun berbicara kencang, agar orang ini tahu bahwa dia tidak sebodoh itu.
Lalu Ten dengan sigap menarik Baekhyun untuk duduk di sebelahnya, berlagak uke-uke rempong ingin bergosip. Baekhyun duduk dengan wajah tololnya, dan ekspresinya itu sudah menunjukkan pertanyaan 'ada apa?'.
Ten dengan riang gembira mengeluarkan sesuatu yang asing berwarna coklat dan kecil dengan sesuatu yang sepertinya memiliki tangan, kaki, kepala, dan rambut yang mungkin dari rambut sapu atau apalah di keluarkan dari tas kecil yang Ten bawa. Baekhyun baru lihat kalau Ten membawa tas itu.
Dan Baekhyun tahu, kalau Ten membuat boneka tanah liat kecil mirip Chanyeol untuk Baekhyun, jadi dia sadar kalau kata-kata Ten yang tadi tidak bohong. Mau tidak mau Baekhyun mengakui kalau rambut boneka Chanyeol terlihat mirip dengan Chanyeol asli.
Baekhyun mengambilnya dengan perlahan dan tidak berkedip saat Ten memaksanya untuk memegang boneka itu. Lalu dengan perlahan Baekhyun menusuk perutnya dengan ujung kuku.
"Menurutmu ini akan membuatnya sakit perut?"
"Tidak bisa kujamin. Tapi yang jelas, bisa membuatmu merasa lebih baik."
Baekhyun bergerak menuju dapur lalu membawa beberapa tusuk gigi sambil kembali duduk di sofa. Kemudian dengan hati-hati menusukkannya ke perut boneka Chanyeol. Tapi kemudian dia merasa bersalah dan langsung mengusap-usap perut boneka itu dengan jempolnya, membetulkan perutnya yang sedikit berlubang. Dia tidak begitu bisa menerima versi Chanyeol yang ini dengan Chanyeol yang sudah dia kenal, tetapi dia cukup sadar untuk menyadari bahwa ada hal-hal tidak guna yang tidak perlu dipikirkan terus menerus dan merasa sebal pada dirinya sendiri karena masih terus kepikiran.
"Itu terlalu ringan, leher dan kakinya sama sekali belum kau patahkan. Mau aku mewakilinya?" Tanya Ten dan dia berusaha mengambilnya dari Baekhyun.
"Tidak! Tidak usah. Sungguh." Lalu Ten kaget mendengar suara nyaring Baekhyun.
Kemudian Baekhyun bangkit, niatnya ingin membuat minum untuk Ten yang sudah repot-repot datang dengan kehebohan dan sesuatu yang sebenarnya tidak begitu berguna. Setelah sampai di counter dapur, Baekhyun bisa dengan jelas mendengar Ten berteriak cukup kencang.
"Kau terlalu lembek. Begini saja, kalau besok aku kembali, kita buat dia jadi asbak."
Ketika Baekhyun kembali dari dapur, niatnya untuk mengantarkan, Ten sudah menghilang dan sepertinya dia juga sudah menancapkan tiga belas korek api di kepala si boneka. Lalu ada note kuning cerah dengan tinta hitam tebal ditusuk dengan jarum di perut si boneka bertuliskan.
'Spesial! Tiga belas lidi korek api dan siap dibakar ^_^ Semoga perasaanmu membaik! – Ten"
.
Ini pagi yang benar-benar pagi, dan Baekhyun menggunakan waktunya untuk beres-beres apartement. Serta merta setelah itu mengirim e-mail desain pada Minseok, lengkap dengan pernyataan dan alasan tidak mampu hadir untuk rapat susulan siang ini bersama paragraph pendek rincian ide gagasan desain. Lalu setelah itu dia log out, takutnya Minseok memberi e-mail balasan persis tagihan bank yang galak dan menusuk.
Teleponnya berdering, dan itu membuat Baekhyun menggerutu untuk orang ini yang khawatir melebihi ibunya. Itu Ten, dan membuatnya mendengus sebelum menjawab.
"Selamat pagi, cantik." Ten berbicara centil dan dibalas dengan deheman tidak bersemangat dari Baekhyun lalu disusul suaranya yang agak datar.
"Mestinya, kau tidak perlu meneleponku. Aku baik dan bernafas disini. Ibuku bahkan tidak begini."
"Yah, ini karena urusanmu benar-benar menggelikan." Ten berhenti dengan suara centilnya, lalu melanjutkan.
"Maksudku, mau diperpanjang bagaimana lagi? Hubungan kalian menyakitimu, tegaslah sedikit."
Baekhyun duduk bersandar di sofa. Mendengus beberapa kali dan dengan jeda panjang Ten tidak memaksa Baekhyun untuk menjawab, dia tahu ini tidak mudah.
"Barangkali ini juga baru terjadi padanya, jadi dia tidak mengerti kalau itu bisa menyakitimu. Dia sepertinya belum punya pengalaman pribadi yang bagus untuk ini. Tapi mana boleh dia menyakitimu dengan semudah ini, caranya menginjak perasaanmu." Ten menceletuk saat dengar Baekhyun masih diam.
Baekhyun terdengar menggumam beberapa kali, ingin menjawab.
"Aku memang bermaksud berbicara padamu setelah nanti kau datang kesini. Apa aku harus mengalah?" Baekhyun terdengar meringis.
Jeda sebentar setelah kemudian Ten merespon.
"Itu kabar buruk, aku bersyukur untuk meneleponmu. Ketimbang membayangkanmu menunggu-nunggu dia meneleponmu atau malah ujung-ujungnya kau mengalah duluan. Bukannya kita sama-sama merasa dia begitu egois kemarin? Caranya kasar, dan itu tidak enak. Mau bagaimanapun, aku tidak mudah mema'afkannya, setelah seenaknya dia menampar pacarku lalu membentakmu. Setidaknya jangan terus-menerus menjadi yang mengalah dan kalah. Sekali-kali ajarkan dia cara mengejarmu, biar dia tidak hanya mengejar pantatmu."
Baekhyun mendengar itu dan tidak bisa menyalahkan apa yang Ten katakan, tapi tetap rasanya ada sedikit rasa khawatir.
"Yah… sampai titik tertentu, itu memang benar."
"Titik tertentu apanya? Itu sungguhan benar! Aku mulai memahami, kenapa Chanyeol berani menyakitimu. Karena kau akan duluan mendatanginya."
Ten berbicara dengan suara sarkastik, dan Baekhyun menggeleng dengan dahi dikerutkan.
"Aku tidak begitu tepat seperti yang kau katakan. Aku tidak bisa membuat penilaian tanpa melihat bahwa dia memang benar-benar berniat menyakitiku tanpa menyesal."
"Bukan seperti itu, kita tidak sedang menilai keahlian peran siapa dan siapa! Kurasa tidak mengherankan kalau ada orang-orang yang muncul entah dari mana untuk mencoba mendapatkan pantatmu lalu hatimu, kemudian menyakitimu dan kau menilai meraka seperti guru sanggar peran. Orang yang mengklaimmu, mereka menggali-gali kelemahanmu, mengatakan kau sangat berharga bagi mereka, lalu meninggalkanmu, kemudian betapa menyedihkannya kau ditinggalkan… Lalu kau mencoba mengejarnya, dan apa selanjutnya?" Kata Ten.
"Apa selanjutnya?" Ten bertanya lagi.
"Orang-orang seperti itu bisa memperbudakmu! Kau Klinefelter, Baek! Kau punya harga diri!" Ten berbicara kencang ditelepon sampai-sampai suara Johnny terdengar menenangkan Ten.
Baekhyun terdiam lalu terkekeh.
"Ini seperti aku dalam bahaya… tapi sepertinya yang kau bilang tidak sepenuhnya salah."
"Ya, seperti itu lah…" Ten terdiam sebentar, dan terdengar suara seperti dia sedang minum. "Sayang sekali kau tidak begitu memahami dengan cepat. Kurasa, dia mungkin tidak akan segera meneleponmu."
Lalu Baekhyun diam lagi dan terdengar hembusan nafasnya yang berat dan panjang. Dengan lugas bernada berat dia menjawab.
"Ya, mungkin."
Kini malah Ten yang mendengus.
"Nah, pokoknya sekarang kau harus menghibur diri. Caranya mungkin dengan berolahraga. Lari pagi sana ke sungai Han, lari pagi saja sampai dadamu nyeri oleh kehilangan kalori. Itu jauh lebih baik daripada nyeri memikirkan Chanyeol." Ten terdengar melenguh dan menguap dengan suara mengantuk. "Lakukan saja. Secepatnya." Kemudian Ten langsung menutup telepon.
Baekhyun mengeluh untuk kesekian kalinya. Lalu bangun dan segera ganti baju dengan baju ringan, pergi ke sungai Han dengan hanya membawa earphone, iPod , dompet tipis, dan smartphone-nya. Karena soal yang Ten katakan tadi, memang sepertinya tidak bagus terlalu cepat untuk percaya pada Chanyeol dan sepetinya juga tidak bagus terlalu mudah untuk mema'afkan begitu saja. Dia mana boleh menjadi bagitu naïf dan lemah untuk itu.
Drrtt… Drrrt..
Lalu smartphone-nya bergetar. Chanyeol mengirim pesan dua kali untuknya.
Apa bisa kita bicara?
Aku tahu ini tidak mudah, tapi bisakah kita membahasnya dulu?
Baekhyun tebak Chanyeol sudah di kantor dan dikabari soal dia yang tidak bisa hadir, Chanyeol pasti sadar kalau dia tidak punya kesempatan untuk menemui Baekhyun. Cara bicara Chanyeol lewat pesan ini terasa hampir mudah dipercaya. Tapi kali ini Baekhyun menghapusnya, mumpung niat daripada nanti malah berubah pikiran dan langsung luluh.
Baekhyun ke sungai Han dengan berlari melalui rute dekat. Lalu setelah merasa detak jantungnya mulai kacau dan keringat sudah mulai membasahinya, Baekhyun menusukkan earphone di iPod kemudian mendengar ke telinga lalu memutar instrument yang membuatnya nyaman, dibiarkannya benaknya dibanjiri nada musik yang berdentam-dentam memenuhi pendengarnya. Baekhyun berlari menyelip-nyelip diantara pejalan kaki lainnya. Dia berlari sampai tulang keringnya nyeri, sampai paru-parunya terasa sedikit penat, sampai keringatnya membasahi punggungnya dan membuat bajunya mulai basah, sampai wajahnya mengkilat-kilat. Dia berlari sampai merasa sakit dan dia tidak memikirkan apapun lagi selain rasa sakit yang semata-mata sakit fisik.
Drrtt… Drrrtt…
Pesan lagi dari Chanyeol.
Baekhyun. Telepon aku.
Baekhyun setengah berjalan setengah berlari ketepi sungai, lalu dengan hampir tidak berpikir mengayunkan lengannya hampir melempar smartphone-nya dan berhenti setelah sadar dia berlebihan. Jadi dengan gerakan tergesa mencabut baterai smartphone-nya dan memasukkan pada kantong celananya.
Kemudian dengan kening berkerut kembali mengambil fokus pada musik di telinganya dan berlari dengan langkah besar dan nafas yang terengah karena sebagian besar rasa kesal.
"Baek…"
Lelaki itu melangkah ke jalur lari Baekhyun dan membuat Baekhyun tersandung. Terkejut ketika menyadari orang itu.
"Chanyeol? Bagaimana bisa?"
"Baekhyun, aku mencarimu. Kita mesti bicara."
Chanyeol dengan coat cokelat, matanya menatap tajam kedua manik bergetar Baekhyun. Kemudian lima detik setelah mata mereka bertemu dan Baekhyun langsung berbalik badan dengan cepat sebelum sempat merasa semakin terpojok, lalu meneruskan lari dengan jantung yang berdebar kencang.
Chanyeol mengejarnya. Baekhyun tidak menoleh ke belakang, tapi dia bisa mendengar suara Chanyeol mengatasi dentuman musik di telinganya. Baekhyun mengeraskan volume dan sekarang malah nyaris bisa mendengar dan merasakan gema langkah Chanyeol di belakangnya.
"Baekhyun!" Tangan Chanyeol terulur meraih pergelangan tangan kiri Baekhyun, dan nyaris secara naluriah tangan kanan Baekhyun melayang dan menampar wajah pria itu dengan cukup kuat. Syok yang dihasilkan cukup besar, sampai mereka berdua mundur terhuyung, telapak tangan Chanyeol menekan hidungnya.
Baekhyun mencabut earphone-nya.
"Jangan ganggu aku!" teriaknya setelah mendapat keseimbangan. "Pergi sana!"
"Aku ingin bicara denganmu." Darah menetes-netes di jemari pria itu. "Oh my god!" Dengan cepat tangannya masuk ke saku, mengeluarkan sehelai saputangan katun sedang, lalu menekannya ke hidung. Tangan yang satunya mengisyaratkan damai.
"Baekhyun, aku tahu kau tidak okay… tapi.."
"Tidak okay? Tidak okay? Itu sama sekali tidak cukup untuk mnggambarkan perasaanku saat ini denganmu." Baekhyun terkejut dengan emosinya sendiri yang lepas kendali, tadi dia yang seperti ingin Chanyeol. Tapi sekarang rasanya dia sangat kesal saat melihat Chanyeol.
"Kau memakai cara licik untuk masuk ke rumahku, membohongiku tentang omong kosong soal menjadi halus dan lembut, bermulut manis hingga berhasil mengajakku tidur, dan kemudian.. wooww… kau memperlakukan aku seenaknya dan menyakiti temanku."
"Apa?" Suaranya tidak jelas karena mulutnya tertutup saputangan. "Apa? Kau pikir aku selama ini niat menyakitimu? Kau pikir aku memperbudakmu atau bagaimana? Kau yang memulainya malahan… mungkin kau yang mengatur semua ini. Kau sudah sinting?" Chanyeol hampir berteriak, tapi kemudian ditahannya sekuat tenaga. Agar tidak terlalu banyak mengambil perhatian pejalan kaki.
"Jangan ganggu aku…" Suara Baekhyun bergetar. Dia berjalan mundur dan menjauhi Chanyeol. Orang-orang berhenti untuk menonton mereka.
Chanyeol menyusulnya.
"Tidak. Dengar dulu. Sebentar saja. Aku melihatmu waktu rapat itu dan mulai menyukai mu. Kau terlihat begitu menggoda untukku. Aku minta ma'af soal yang kemarin. Kau harus dengar dulu."
Chanyeol menarik sapu tangan itu dari wajahnya. Bibirnya terkena darahnya.
Baekhyun menatapnya tajam namun belum mau berhenti berjalan tergesa.
"Lantas, menurutmu itu bisa dibenarkan? Hanya suka dengan tubuhku." Baekhyun menyeringai. "Lucu juga…" sahut Baekhyun ketus.
"Baek, aku tahu kau orang yang baik. Aku tahu perilakuku kemarin kurang bisa diterima, tapi kalau kau mau memikirkannya… aku tidak bermaksud begitu." Suaranya lembut, terdengar meyakinkan. "Kalau kau ingin memikirkannya baik-baik. Aku tidak mau kita seperti ini. Aku terus memikirkanmu."
Baekhyun meringis mencoba menepis perkataan Chanyeol.
"Oh, tidak usah mengguruiku dengan omong kosong sialanmu."
"Apa?" Chanyeol terkejut dengan celetuk Baekhyun.
"Kau pikir aku tidak tahu laki-laki seperti mu? Laki-laki toksik." Baekhyun tiba-tiba teringat perkataan Ten dan dengan tidak tahu perasaan mengatakannya.
Chanyeol tertegun menatapnya.
"Kau pikir aku tidak punya informasi tentang laki-laki sepertimu? Aku tahu yang kau cari pada diriku, dan itu tidak ada hubungannya dengan benar atau salah kriteria darimu. Tapi menurut kriteria dariku, kau hampir memperbudakku. Yah, aku tidak bisa dibeli. Nah, sekarang jangan ganggu aku lagi."
Baekhyun membalik badan dengan cepat dan lari sebelum Chanyeol bisa mengatakan apa-apa, debar jantungnya yang sampai ke telinga menenggelamkan yang lainnya. Dia baru memelankan larinya saat sudah melewati banyak kerumunan. Chanyeol sudah pergi, tertelan ribuan orang.
Ketika Baekhyun sampai di depan rumahnya, dia mati-matian menahan air mata.
"Sialan kau…" Baekhyun berkata pelan-pelan, sambil berusaha mengenyahkan kata-kata Chanyeol.
"Chanyeol sialan…"
.
.
.
TBC
AKHIRNYAAAA TT TT TT TT TT WB yang sangat menyiksa… heran deh ya, pasti ada aja WB melanda TT TT… oh iya, 8ter kemaren lagi bahagia soal lope lope, eh langsung wb. Tapi pas galau kok lancar ya? Ini juga cepet jadi gara-gara galau yaahhhh… tapi 8ter gak kuat galau terus TT TT TT
Moga kalian suka yah yang ini… gak ada NCnya nih… biar gak PWP uWu
Ngeheheheheheheh buat yang pada mau nampar Chanyeol, ini si Baek udah nampar dia :'D
And as before, sorry kalau ada typo TT atau salah nama, soalnya ini remake ff VerKwan :D
First I wanna say THHHAAAANKKSSSSS A LOOOTTT BUAT YANG REVIEW, FOLLOW, DAN FAVORITE :****
Special Thanks To
yodabacon614GiantLoeymutianafsulminchan88phcyxalfn39assaxagrrahuvinmilkybaek61cun04(guest)dewiiportunaOh ChaeriselepyselepyBelva Nadindra FitriLapcy614park chan2LittleOohjungkkhopeharinahntobenunaByunbaekbyyy(makasih sarannya yah sayang :*** moga ini gak boring, aku coba pendekkin.. ehehe)lookingforcbbopung61sweetlight614sweetlight614lookingforcbdooremipecandu ceritaleejenaleejenaESmstandkimei135vichan04baconnunnakimi2266qurrotulaini529baekkiewifubbhyun06bbhyun06bbhyun06anggilonika
Sorry kalau gak disebut ya~~ Review lagi~~ ^^
