Disclaimer: BLEACH punya Tite Kubo *teriak penuh putus asa*
Sebelum Rangiku bertemu Toushiro dan mengajaknya masuk ke akademi, sebenarnya mereka pernah bertemu sebelumnya saat Toushiro masih sangat kecil.
Tetapi sayangnya mereka berdua tidak ada yang mengingat kejadian itu.
The Warm Snow
Salju putih perlahan berjatuhan dengan anggun dari langit kelabu khas musim dingin.
Entah kenapa... Setiap melihat gumpalan putih itu berjatuhan, aku merasakan perasaan sedih yang teramat. Aku merasa seperti ada sebuah lubang hitam di dalam dadaku. Suatu yang hilang... sesuatu yang sangat penting dan berharga bagiku.
Aku melilitkan sebuah syal berwarna pink disekitar leherku –hadiah yang kudapat dari Gin di hari ulang tahunku, dan melangkahkan kakiku keatas hampar salju putih bagaikan permadani putih bersih.
Dingin... Aku membenci dinginnya tiap butiran salju putih yang menyentuh kulitku.
Entah sejak kapan aku mulai membenci perasaan itu. Pada hal, dulu aku selalu menantikan turunnya salju bersama Gin setiap tahunnya.
Aku menantikan berdiri diatas padang salju dan mengadahkan wajahku menatap langit kelabu yang tenang –menanti salju yang lembut menyentuh wajahku. Aku sangat menyukai sensasi dingin yang di timbulkan saat gumpalan putih yang dingin dan lembut itu mencair diatas kulitku yang hangat.
Tetapi sekarang... setiap gumpalan salju yang menyentuh tubuhku terasa begitu menyedihkan. Bahkan Gin tak lagi disisiku saat salju pertama turun.
Ah... Aku ingat... Aku mulai membenci salju setelah hari aku kehilangan bayiku yang lahir di hari bersalju.
Dinginnya salju tiap salju yang menyentuh kulitku mengingatkanku pada perasaanku di hari itu. Hari dimana Gin memberitahuku bahwa bayi yang sudah lama kami nantikan kehadirannya meninggal, bahkan sebelum aku menyentuh dan melihatnya. Dingin yang kurasakaan saat salju menyentuhku membuatku seakan-akan kembali ke saat itu. Membuatku merasakan perasaan yang sama yang aku rasakan waktu itu dan merasa hari itu terulang kembali.
Aku mencoba tak menghiraukan perasaan dingin tiap gumpalan salju putih menyentuh kulitku dan melangkahkan kakiku menuju sebuah bar sake yang terletak di Junrinan, distrik satu Rokungai. Sake bisa membuat perasaanku membaik. Untuk sementara waktu aku akan bisa melupakan perasaan sedih karena kehilangan bagian dari diriku.
Di jalan, aku mendapati beberapa bocah mungil sedang bermain perang salju. Mereka terlihat bagaikan malaikat kecil di tengah salju putih. Suara tawa mereka terdengar bagaikan melodi lagu yang sangat indah –membuatku bertanya-tanya seperti apakah suara bayiku jika ia masih hidup sekarang ini? Apa mungin Gin mendengar suaranya sebelum ia meninggal? Kurasa aku harus bertanya kepadanya nanti.
Aku tersenyum ironis...
Dulu... setiap tanggal dimana bayiku lahir, aku selalu membayangkan bayiku masih hidup dan mengadakan sebuah pesta ulang tahun kecil untuknya. Setiap kali aku membayangkannya, perasaanku menjadi bertambah sakit. Walau begitu, aku tidak pernah berhenti menghitung usianya setiap tahunnya. Andai ia masih hidup, pasti ia seumuran dengan bocah-bocah mungil itu.
Ketika aku hendak melanjutkan perjalananku, mataku terbelalak mendapati seorang peri salju duduk dikursi kayu dibawah pohon yang membeku tak jauh dariku. Ia memiliki rambut putih seputih salju dan mata besar berwarna emerald –berkilauan sangat indah bagaikan permata jamrud. Pipinya yang merona karena dingin nampak bagaikan appel fuji yang di petik di pagi berembun. Mulutnya mungil bagaikan boneka dan bibir berwarna pink bagaikan kelopak bunga sakura.
Setelah kuamati dengan seksama, aku menyadari bahwa ia bukanlah peri salju. Ia hanyalah seorang bocah kecil berambut putih dan bermata emerald yang sangat indah. Tetapi entah kenapa wajah bocah mungil itu nampak sedih menatap bocah-bocah lain yang sedang bermain.
Perlahan aku mendekatinya dan duduk di sampingnya. Kemudian bocah mungil itu mengangkat wajahnya dan menatapku dengan wajah terkejut, "Hai... namaku Rangiku. siapa namamu?" tanyaku sambil memberikan senyuman padanya.
"Toushiro..." jawabnya pelan. Suaranya terdengar sangat lucu dan manis bagai madu.
"Toushiro? nama yang bagus..." kataku. Lalu aku tersenyum melihat wajah bocah mungil itu merona merah. Ternyata ia anak yang pemalu.
Toushiro berarti musim dingin... nama yang mencerminkan dirinya. Ia bagaikan musim dingin yang indah dan menangkan hati, bukan musim dingin yang kubenci.
"Kenapa kau tidak bermain dengan yang lainnya?" tanyaku.
Bocah mungil itu menggelengkan kepalanya membuat salju yang menumpuk diatas kepalanya berterbangan. Aku tidak menyadari tumpukan salju diatas kepalanya sebelumnya karena warna rambutnya serupa dengan salju.
"Mereka tidak mau bermain denganku!" jawabnya sedih.
"Kenapa?" tanyaku.
"Karena aku memiliki warna rambut dan mata yang aneh." Jawabnya sambil menutupi rambut putihnya yang indah dengan kedua telapak tangan kecilnya –membuatku mengerutkan dahiku, "Mereka bahkan tidak mau mendekatiku karena itu. "
"Aku benci penampilanku." tambahnya.
Aku menghela nafasku, lalu memeluk pundak kecilnya dan membawanya kepangkuanku. Memeluk tubuh kecil bocah mungil ini, bagaikan sedang memeluk salju –lembut, kecil, dan dingin.
Ditengah udara yang membekukan tulang ini, tubuh mungil Toushiro terasa dingin, tetapi juga hangat disaat yang sama. Jantungnya berdegup menandakan ia hidup, dan setiap nafas yang dihembuskannya terasa begitu hangat di kulitku.
"Kau tidak aneh, Toushiro! Menurutku kau sangat indah bagaikan peri salju." kataku sesuai dengan apa yang aku lihat dan rasakan, "Mereka mengatakan hal itu pasti karena mereka iri karena dirimu begitu indah."
"Tapi... peri salju itu perempuan, dan aku ini anak laki-laki." Katanya sambil melembungkan pipinya dengan imut.
"Benarkah? " tanyaku. Aku terpana dengan jawaban pintar bocah mungil ini, "Aku rasa tidak semua peri salju itu perempuan!"
"Buh... tetap saja aku tidak suka!" katanya sambil melipat kedua tangan kecilnya di depan dadanya. Ia mengerutkan dahinya dan pipinya menggembung tambah besar.
'Anak ini pintar.' pikirku. Tiba-tiba sebuah ide jahil terbesit dalam benakku.
Aku menggelitiki pinggang bocah mungil di pangkuanku hingga membuatnya tertawa keras. Suara tawanya terdengar seperti melodi lagu terindah yang pernah aku dengar. Setelah puas, barulah aku berhenti. Aku tersenyum, bocah mungil ini terlalu imut sampai aku tidak bisa tidak menggodanya. Andai saja bocah mungil ini adalah anakku...
Aku membenamkan wajahku di rambut putihnya yang lembut bagaikan salju. Ia berbau seperti musim dingin di pagi hari, "Kau tidak aneh Toushiro! kau sangat indah!" bisikku.
"Aku tidak mau disebut indah. Itu seperti anak perempuan." Katanya. Ia masih tertawa lembut dan memegang pinggangnya.
"Lalu kau mau disebut seperti apa, Toushiro?" tanyaku sambil memainkan rambut putihnya di antara jariku.
"Aku mau disebut keren!" katanya lugas sambil kembali melipat kedua tanggan kecilnya di depan dada kecilnya dan mengangkat dadanya dengan bangga. Aku mengedip-ngedipkan mataku sesaat sebelum akhirnya aku tertawa keras dengan sikap imut bocah mungil di pangkuanku ini.
Toushiro kembali melembungkan pipinya. Wajahnya merona karena malu.
"Ha... ha...ha... iya kau sangat keren, Toushiro! Kau pria terkeren yang pernah aku temui." Kataku di antara tawaku. Berada di dekatnya membuatku sangat bahagia. Andai benar dia anakku...
Aku melihat Toushiro meniup-niup telapak tangan kecilnya –mencari kehangatan. Aku kemudian mengerutkan dahiku menyadari kimono lusuh berwarna hijau muda yang dikenakannya begitu tipis. Kemudian aku melepaskan syal pinkku dan melilitkannya di lehernya yang membuat mata emeraldnya membesar karena terkejut.
"Itu untukmu..." kataku sambil tersenyum. Kurasa Gin tidak akan keberatan jika aku memberikannya kepada bocah mungil ini.
"T-terima kasih." Katanya malu-malu. Tangan kecilnya menggapai syal pink di lehernya, "Bau ibu." gumamnya.
Entah aku harus marah karena ia secara tidak langsung menyebutku seperti ibu-ibu atau tidak. Tetapi yang ia katakan memang benar. Aku memang seorang ibu... seorang ibu yang kehilangan anakknya yang bahkan belum pernah aku lihat dan sentuh.
"Shiro-chan..." tiba-tiba seorang gadis kecil berambut coklat memanggilnya. Kemudian mata Toushiro berbinar senang, "Momo-neechan!" kata Toushiro senang. Sepertinya gadis kecil itu adalah kakak perempuannya.
"Ayo pulang!" ajak gadis kecil itu.
"Iya..." jawab Toushiro sambil kepalanya dengan bersemangat. Rambut putihnya yang bagaikan salju bergerak naik turun.
"Sampai jumpa Toushiro." kataku sambil mencium keningnya.
Setelah itu Toushiro turun dari kursi kayu, berlari menuju kakak perempuannya dan memeluknya. Ia kembali menatapku dan melambaikan tangan kecilnya kepadaku, "Sampai jumpa kakak!" katanya dengan sebuah senyuman lebar menghiasi wajah imutnya.
Ah... melihat senyumnya membuat perasaanku menjadi hangat. Aku merasa jadi tidak ingin pergi minum lagi.
Kemudian aku mengadahkan wajahku dan menatap langit kelabu –menikmati tiap gumpalan putih lemut dan dingin yang mendarat di wajahku dan tersenyum. Aku tidak membenci salju lagi.
Tidak semua salju itu terasa dingin. Aku telah menemukannya... salju yang membuat perasaanku menjadi hangat bernama Toushiro.
~H~
Mind to review?
-kusanagi-
