"Hyung?." Jungkook memanggilnya sekali lagi. Ia menghela napas. Kekasihnya berkali-kali tertidur di sambungan teleponnya.
"Eh? Iya, Kook." Hoseok memaksakan matanya untuk terbuka lebar. Sial, kenapa aku sangat mengantuk.
"Sudahlah, hyung. Tidur saja sana."
"Aku sudah tidak mengantuk." sambil melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah satu malam. Ia sedang berada di Jepang untuk mengikuti kontes dance disana. Hoseok memijit keningnya yang sedikit pusing akibat kurang tidur selama beberapa hari. Bayangkan saja, ia latihan di studio 10 jam perhari. Belum lagi latihan di asrama setelah pulang dari studio. Setelah latihan ia menghubungi Jungkook sampai larut malam. Esoknya bangun pagi lagi. Hoseok sampai sering melupakan sarapannya.
"Sayangnya sekarang aku yang mengantuk." ketus Jungkook. Memang akhir-akhir ini hubungan mereka sedang tidak baik. Ia paham Jungkook rindu, tapi seharusnya Jungkook juga paham kalau Hoseok sedang berjuang demi kontes dance nya di Jepang.
Rasanya Hoseok ingin menonjok tembok kamar saking kesalnya. Kekasihnya ini sangat kekanakan.
"Yasudah."
"Kenapa kau tidak bisa memahamiku, hyung?." yup. Ini dia yang Hoseok benci.
"Aku? Sebaiknya kau berpikir, siapa yang sebenarnya tidak bisa memahami siapa." Hoseok sampai di titik muak.
"Jadi kau menyalahi aku?."
"Ck. Aku latihan hampir seharian, malamnya aku usahakan untuk menghubungimu. Aku bahkan sampai merelakan jam tidurku untukmu. Lalu apa? Kau bahkan tidak mendukungku, aku sangat tertekan disini. Aku juga yakin kalau kau tidak tahu bahwa kaki kiriku cedera parah."
"Kau tahu? Semenjak kau sibuk, Taehyung datang menemaniku." Hoseok tercekat dalam napasnya. Jantungnya terasa diremas paksa. Karena mengetahui bahwa Jungkook bersama Taehyung beberapa waktu, dan menerima kenyataan bahwa Jungkook mengesampingkan fakta bahwa Hoseok sedang cedera parah dan ia sangat tertekan.
"A-apa?.."
"Taehyungie-hyung rajin menghubungi ku. Ia tak pernah lupa denganku."
"Kalau begitu pergilah bersamanya." Jungkook bisa mendengar suara Hoseok bergetar dalam kalimatnya. Kata-kata itu keluar begitu saja. Hoseok sendiri sampai kaget mendengar ucapannya.
"Kau keterlaluan."
"Kau yang keterlaluan!." Jungkook tersenyum miris. Sebenarnya bukan ini yang Jungkook harapkan. Ia berharap Hoseok akan cemburu dan lebih sering menghubunginya agar ia jauh dari Taehyung. Ternyata nasib buruk sedang di pihaknya.
"Kurasa hubungan kita sampai disini."
"Aku tak percaya, kita bahkan belum merayakan 7 bulaㅡ" Hoseok buru-buru memutuskan sambungan teleponnya.
tuut tuut tuut
Jungkook menyelimuti tubuhnya sampai ujung kepala. Punggung tangannya bergerak menghapus airmatanya yang meleleh terus menerus. Hubungannya sudah kandas. Dan ia yakin itu salah Hoseok. Kalau Hoseok tidak seperti ini, ia yakin dirinya tidak akan menerima Taehyung untuk kembali. Ya, itu salah Hoseok.
Hoseok berdiam di balkon kamarnya. Malam itu sangat dingin tak seperti malam biasanya. Dinginnya terasa sangat menusuk sampai ke ulu hatinya. Hoseok meremas besi pembatas didepannya. Berharap rasa sakitnya akan berkurang dengan itu. Hoseok ambruk. Ia duduk berlutut. Airmatanya lolos dari pertahanannya. Entah mana yang lebih sakit, ulu hatinya atau hatinya.
Hoseok mendongak menatap langit yang semakin kelam. Kemudian hujan deras.Mungkin langit sedang berada di pihaknya. Mungkin langit sedang bersedih untuknya. Mungkin hanya langit yang bisa memahami perasaannya. Hoseok membiarkan dirinya basah kehujanan. Sama seperti dulu, saat Hoseok pertama kalinya patah hati karena Jungkook. Dan ini kedua kalinya.
-abglabil-
"Sudah siap?." ia mengangguk. Jungkook sempat tertegun saat melihat Taehyung dengan surai pirangnya. Ah, semakin tampan saja. Taehyung mengulurkan tangannya untuk Jungkook peluk, tapi Jungkook hanya tersenyum malu dan meremat ujung jaket Taehyung. Yang lebih tua terkekeh lalu mengusak rambut Jungkook.
Taehyung sudah dari lama berencana membawa Jungkook jalan-jalan ke Daegu. Kampung halamannya Taehyung dan keluarga Kim. Taehyung pikir, membawa Jungkook ke kampung halamannya bisa menambah kebahagiaan dirinya saat pulang ke rumah orang tuanya.
Jungkook mendengus kesal saat Taehyung lupa memakai seatbeltnya. Akjirnya ia mencondongkan tubuhnya kearah Taehyung. Jarinya dengan cekatan memasangkan seatbelt pada Taehyung.
"Jangan dibiasakan, hyung."
"Iya kelinci."
Jungkook tidur di tengah perjalanan. Tubuhnya terasa lelah akhir-akhir ini. Padahal yang ia lakukan hanya sekolah seperti biasa dan belajar dirumah. Untung saja sekarang sedang liburan kenaikan kelas. Dahi Jungkook berkerut dalam tidurnya. Taehyung sesekali melirik kearah Jungkook. Ibu jarinya mengelus pipi gembil Jungkook.
"Menggemaskan." kekehnya.
Mereka sampai di Daegu setelah beberapa jam perjalanan. Taehyung keluar mobil untuk merenggangkan tubuhnya. Lalu ia berputar untuk membangunkan Jungkook.
"Kook, sudah sampai."
"Huh?." Jungkook mengerjapkan matanya. Sejujurnya ia masih mengantuk. Taehyung hanya tersenyum sambil membawa masuk koper milik Jungkook.
"Paman Taetae!." seorang bocah laki-laki lari menghambur ke pelukan Taehyung. Itu anak kakaknya yang kedua, Kim Namjoon.
"My bro!." Namjoon datang menyalami Taehyung dan tersenyum kepada Jungkook.
"Siapa?." ia mengendikan dagunya kearah Jungkook.
"Oh, ini pacarku." Taehyung tersenyum lebar.
"Jeon Jungkook."
-0-
"Jim tolong beri aku minyak wijen." Hoseok mengusak hidungnya yang sedang meler. Jimin menuangkan minyak wijen ke mangkuk kecil milik Hoseok sambil mengunyah daging di mulutnya.
"Jadi tak ada Jungkook lagi?." Jimin menatap Hoseok dengan iba. Padahal dulu ia yang menjodohkan Hoseok dengan Jungkook. Tapi akhirnya mereka saling menyakiti dan pergi.
"Ya...seperti yang kau lihat."
"Aku merasa bersalah."
"Bukan salahmu." Hoseok tersenyum kecil.
"Semoga kalian tidak akan merasakan apa yang aku rasakan." tambahnya. Jimin melirik kearah Yoongi yang masih setia mengunyah daging.
"Tapi...aku boleh tanyakan sesuatu?." Hoseok menatap Jimin penuh harap.
"Anything."
"Apa...Jungkook benar-benar tidak cerita padamu?." Jimin mengangguk mengiyakan.
"Sejak kau lomba disana, Jungkook jarang menghubungiku."
"Kau tak tahu kabarnya?."
"Kenapa tak cari tahu sendiri?."
Tukk!
Yoongi dengan tatapan dinginnya memukul kepala Jimin dengan sendoknya.
"Tak akan aku biarkan Hoseok sakit untuk kedua kalinya."
"Ya ya ya, by the way Hoseok hyung, kau terlihat semakin kurus." perkataan Jimin membuat Yoongi berhenti mengunyah dan menatap kearah Hoseok.
"Terlalu banyak latihan." elak Hoseok.
"Kau harus habiskan yang ada dipanggangan ini." Yoongi menumpahkan semua daging yang ia pesan keatas panggangan. Memanggangnya seperti seorang ahli..
"Dumbass, mana aku sanggup." Hoseok melotot kearah Yoongi.
"Peduli setan."
"Gila! Kau mau aku jadi babon seperti pacarmu?." mengendikan dagunya kearah Jimin.
"Aku pacarnya Yoongi hyung ya?." singkat cerita, Jimin berani mengungkapkan perasaannya dua bulan lalu. Ya karena Yoongi terlanjur menyukai senyum bulan sabitnya Jimin, jadi Yoongi mengiyakan ajakan kencan.
"Bodoh."
"Biar dia saja yang wajahnya bengkak, jangan aku. Please, Yoon. Aku tak bisa gerak kalau aku sebesaㅡ"
"Hyung!." Jimin berbisik pelan. Matanya sibuk melihat pelanggan baru yang masuk ke restoran milik ibunya Yoongi. Keduanya menoleh kearah pandangan Jimin. Hatinya mencelos melihat siapa yang datang. Itu Jungkook dengan pria berambut pirang yang Hoseok tidak tahu siapa. Hoseok menggigit bibirnya menahan amarahnya yang bisa meluap kapan saja. Ia memasukkan beberapa potong daging ke mulutnya. Mengunyahnya susah payah sampai hampir tersedak.
"Kau mau aku lakukan apa?." Jimin menatap khawatir sedangkan Hoseok menggeleng.
"Bedebah kecil sudah mematahkan hati sahabatku." Hoseok mengaduk makanannya tak minat.
"Sudahlah biarkan mereka-"
"Jungkook!." Hoseok membulatkan kedua bola matanya saat melihat Jimin menggebrak meja Jungkook.
"Jimin?." Mata Jungkook langsung berpendar ke seluruh penjuru restoran. Lalu nafasnya tercekat saat netranya bertemu tatap dengan orang yang pernah dicintainya.
"Hyung..."
