standard disclaimer applied
Crybaby
.
Part XI
.
Meski memiliki ekspresi wajah tenang dengan bumbu cantikㅡyang juga tampan menawan layaknya pangeran yang keluar dari buku komik bergenre shoujoㅡdan sifat pendiam, Lu Han tetaplah laki-laki sejati yang sangat tegas saat dihadapkan suatu masalah. Oleh karena itu, sebagai satu-satunya laki-laki yang memiliki sifat lebih dominan dibandingkan Baekhyun dan Sehunㅡkarena Kyungsoo dan Minseok bersifat submisif, ia mengambil alih keadaan untuk menenangkan ketiga dongsaengnya yang membuat keributan hingga menyebabkan teriakan emas Minseok menggelegar di dalam cafe itu. Lu Han berdiri didepan meja, dikedua sisi meja di isi oleh Minseok yang kembali terisak-isak dengan Kyungsoo yang sibuk menghapus semua air mata itu disisi kanan dan disisi kiri terdapat Sehun dengan Baekhyun yang saling membuang muka karena masih kesal satu sama lain.
Lu Han menghela napas dengan lemah, dia telah memutuskan bahwa dirinyalah yang bertanggung jawab atas keributan ini dan dia juga sudah meminta maaf pada manager cafe tadi. Untungnya mereka tidak sampai di usir keluar dari sana dan keadaan cafe yang tidak terlalu ramai juga menjadi alasan bahwa keributan yang mereka perbuat masih masuk dalam tipe keributan kecil yang biasanya dilakukan oleh pasangan yang putus cintaㅡkeributan level childish yang menarik untuk dijadikan tontonan. Lu Han menatap lembut serta sayang pada Minseok yang kembali menunduk dengan suara isakan yang terdengar, hatinya terasa sakit saat melihat belahan jiwanya itu menangis seperti ini. Dengan lembut Lu Han menjauhkan tangan Kyungsoo yang memegang tisu untuk menyeka air mata yang mengalir di kedua pipi chubby Minseok.
"Hey...," panggil Lu Han sambil berjongkok disamping Minseok lalu mengulurkan kedua tangannya, mengelus lembut pipi kekasihnya sambil mengeser posisi tubuh Minseok agar tepat berhadapan dengannya.
Minseok mengangkat kepalanya sedikit, kedua matanya yang berkaca-kaca menatap Lu Han ragu-raguㅡtakut jika air matanya semakin deras mengalir.
"Kenapa menangis, hm?" tanya Lu Han lembut, ibu jarinya menyeka air mata yang membentuk anak sungai di wajah manis Minseok dengan lembut.
Ketiga dongsaeng mereka yang ada disana hanya bisa menatap adegan itu sambil menahan napas dan perasaan was-was yang menghampiri di hati.
"Jahat..., hiks." Satu kata keluar dari bibir Minseok di ikuti isakan kecil. Kedua matanya terlihat begitu sayu, mungkin terlalu lelah karena menangis.
"Siapa yang jahat?" tanya Lu Han hati-hati, tidak sedikit pun tatapan matanya lepas dari sosok manis dihadapannya ini. Bahkan sekarang tangan kirinya mengenggam tangan kanan Minseok dengan sangat hati-hati, memberikan usapan lembut pada punggung tangan sang terkasih.
"Uhh...," Minseok mengumankan kata tidak jelas, kedua matanya sudah sangat merah dan terlihat sangat lelah.
Melihat hal itu, Lu Han bangkit dari posisi jongkoknya dengan perlahan tapi tetap sukses membuat ketiga dongsaengnya yang menjadi penonton setia disana tersentak kaget, jari telunjuk segera berada didepan bibir tipis milik Lu Hanㅡmeminta Baekhyun, Kyungsoo, dan Sehun untuk tidak menimbulkan suara sekecil apapun. Lalu tiba-tiba, Minseok langsung jatuh pada pelukan Lu Hanㅡkepalanya berbantalkan perut keras milik rusa jadi-jadian itu. Baekhyun, Kyungsoo, dan Sehun menahan pekikan karena berpikir bahwa Minseok jatuh pingsan. Tapi begitu melihat senyuman penuh misteri yang terukir diwajah rupawan milik Lu Han, mereka bertiga langsung keheranan.
"Hanya tertidur," kata Lu Han yang menjelaskan dengan begitu singkat sambil mengelus penuh cinta surai rambut Minseok. "mungkin karena terlalu lelah, kebiasaan yang sulit hilang."
"Oh, jadi...," Baekhyun berkata dengan ragu.
"Aku akan menyelesaikan masalah ini, nanti saat dia bangun," kata Lu Han santai lalu dengan mudah membawa Minseok dalam gendongan a la bridal style.
"Minseok-hyung mau dibawa kemana?" tanya Kyungsoo dengan cepat.
"Apartementku."
Jawaban singkat yang membuat semua orang disanaㅡtermasuk pegawai cafe dan pelanggan lainnyaㅡmalah berpikiran yang tidak-tidak.
"E-eh?!"
"Kami perlu waktu berdua," kata Lu Han sebelum akhirnya keluar dari cafe itu, seorang pelayan dengan senang hati membukakan pintu untuknya mengingat kedua tangannya telah penuh dengan beban satu manusia ditambah tas berisikan buku.
.
.
.
.
.
"Minseok-hyung ada di apartement Lu Han?"
Kesibukan masing-masing anggota organisasi-tidak-jelas tidak bisa dijadikan alasan mereka untuk tidak memberikan berita terkini pada teman-teman yang lain. Karena itulah sebuah group video call terjadi, Baekhyun yang pertama kali memulai lalu memaksa para hyung dan dongsaengnya untuk segera bergabung dalam video call itu dengan cara melakukan spam tak terhitungㅡbahkan mungkin hampir bisa merusak notifikasi pada smartphone milik para hyung dan dongsaengnya itu. Kecepatan internet di negara mereka tentu beda dengan negara yang memiliki 17.504 pulau di Asia Tenggara, jadi tidak perlu takut hasil video call tidak jelas sampai harus menggunakan catatan untuk berkomunikasi karena hasil video call mereka mulus dan lancar.
"Iya, kata Lu Han-hyung sih mereka harus menyelesaikan masalah ini secara langsung." Kyungsoo menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Yifan.
"Wow...," Junmyeon, Chanyeol, Jongdae, Yixing, Zitao, dan Jongin merespon dengan satu kata yang sama.
Meski terpisahkan jarak yang cukup jauh, kekompakkan mereka untuk mengatakan hal yang sama secara bersamaan memang patut diacungi jempol.
"Apakah akan berhasil?" Jongin yang di ketahui sedang ada di kedai ayam goreng bertanya dengan mulut yang penuh.
"Aku takut Minseok-hyung akan panik dan meledakkan air mata nanti," kata Jongdae yang tengah asik sendiri entah melakukan apa karena ia mengarahkan kamera smartphonenya pada langit-langit kamarnya.
"Ya, aku setuju." Junmyeon menyampaikan pendapat.
"Aku juga tidak tahu akan berhasil atau tidak," kata Baekhyun sembari asik menonton acara musik yang menampilkan girlgroup kesukaannya, SNSD. "tapi kupikir cara Lu Han-hyung ini akan sangat ampuh."
"Benar, hal ini terjadi karena kesalah pahaman. Jadi mereka berdua perlu bicara dari hati ke hati," jelas Chanyeol dengan lancar meski ia tengah fokus dengan layar komputer dihadapannya, sedang main overwatch.
"Kita tunggu saja hasilnya besok," sahut Yifan.
"Aku harap hubungan mereka baik-baik saja," kata Zitao yang tengah jalan-jalan entah kemanaㅡkarena video call nya lebih terlihat seperti travel vlog.
"Ngomong-ngomong, Minseok-hyung dan Lu Han-hyung kenapa sih?" tanya Yixing yang baru saja selesai meminum ocha dihadapannya.
Delapan orang yang masih terhubung dalam video callㅡtermasuk Jongdae yang langsung memperlihatkan wajahnyaㅡmemberikan tatapan datar pada Yixing yang terlihat jelas dari layar ponselnya. Yixing tersenyum canggung, sebelum akhirnya semua orang dengan bersamaan menunjukkan rasa gemas sekaligus kesalnya pada laki-laki yang lahir di Changsha itu. Padahal baru saja mereka semua merasa bersyukur karena Zitao sudah mulai memahami masalah yang selama ini mereka bahas, tapi nyatanya orang yang paling memerlukan penjelasan lebih jelas dan lebih panjang adalah Zhang Yixing. Jika seperti ini terus menerus, mereka semua mulai curiga bagaimana Yixing selama ini bisa menghadapi semua kelasnya di kampus?
Biarlah itu menjadi rahasia dimana hanya Yixing, Tuhan, dan sang dosen yang tahu.
.
.
.
.
.
TBC!
thanks for reading
xoxo,
hunshine delight
