BLACK CODE

.

Written by. Ciellalee


"Baekhyun, bangun." Chanyeol mengguncang tubuh suaminya yang terlelap di kursi sebelah kemudi. Lelaki itu tak kunjung membuka mata meski Chanyeol telah mengguncang tubuh kurus itu berulang kali.

Ini sudah kelima kalinya Chanyeol mencoba untuk membangunkan Baekhyun namun ia tak kunjung membuka mata. Chanyeol menjulurkan jarinya kemudian di dekatkan ke hidung Baekhyun guna mengecek apakah lelaki itu masih bernafas.

Terpaan hembusan nafas Baekhyun mengenai indera peraba Chanyeol. Si jangkung sedikit mengernyit ketika menyadari suhu nafas Baekhyun tidaklah seperti yang seharusnya. Chanyeol segera memegang kening Baekhyun dan panas langsung menjalar di telapak tangannya.

Baekhyun demam tinggi. Tubuh Baekhyun benar-benar terasa panas di telapak tangannya. Chanyeol seketika dilanda rasa panik. Dengan cepat dilepaskannya jas yang ia kenakan lalu disampirkan pada Baekhyun.

Bibir lelaki mungil itu memucat seperti mayat, gemetar di kedua telapak tangannya bahkan tak kunjung berhenti karena menggigil kedinginan. Chanyeol langsung mematikan pendingin dalam mobil dan membenahi posisi tidur Baekhyun agar lebih nyaman.

Ia kemudian segera memasang kembali seat beltnya kembali, menghidupkan mesin mobil lalu menginjak gas penuh mencari rumah sakit terdekat.

"Shit." Chanyeol mengumpat sepanjang jalan. Lelaki itu bahkan mengklakson berulang kali pada orang menyebrang jalan dan mengendarai mobilnya dengan ugal-ugalan.

"Cha.. yeol.." Panggil Baekhyun lirih. Pening yang menyerang membuat semua di sekilingnya serasa berputar. Ia bahkan melihat nampak seperti ada tiga Chanyeol. Baekhyun berusaha mengerjapkan mata beberapa kali mengusir rasa pusing namun justru itu memperparah segalanya.

Setetes keringat dingin mengalir di pelipis. Tubuh Baekhyun serasa melayang. Ia merasa seperti bukan dirinya sendiri. Lelaki mungil itu berulang kali memanggil Chanyeol namun si tinggi tak menggubrisnya.

Chanyeol masih fokus mengemudi menyalip dari satu mobil ke mobil lain. Matanya sesekali melirik pada GPS yang membawa dirinya menuju rumah sakit terdekat.

"Ma..u.. kehh.. ma..na?" Baekhyun bertanya. Dia nampak kesulitan bahkan untuk mengucapkan sepatah kalimat saja. Tubuhnya serasa begitu lemas bahkan untuk sekedar bergerak memperbaiki posisi duduk.

Dengan napas terputus-putus Baekhyun bersusah payah mengucapkan kalimat pertanyaannya. Ia sebenarnya tahu bahwa tadi mereka telah sampai di restoran yang dipesan oleh ibu mertuanya. Namun entah mengapa tiba-tiba Chanyeol memutar arah dan melajukan mobilnya tidak tahu kemana.

Tangan kurus Baekhyun terjulur berusaha menggapai lengan Chanyeol dengan gerakan patah-patah. Chanyeol sedikit mengalihkan atensinya pada si pemilik tangan. Ia melirik dari ekor matanya.

"A…yo.. k-ki..ta kem..bali..ya?" Hembusan napas berat menjadi pengakhir dari kalimat tersebut. Kedua mata Baekhyun menatap memohon pada Chanyeol. Sedang yang ditujukan menatap tak percaya pada Baekhyun.

Chanyeol tahu bahwa suami mungilnya itu adalah lelaki yang keras kepala luar biasa namun ia tak menyangka bahwa dia akan melakukan hingga sejauh itu.

"The fuck Baldev!? Kau bahkan sedang demam tinggi saat ini. Persetan, aku akan berpura-pura tidak mendengarmu." Chanyeol kembali memfokuskan atensinya pada jalanan semakin meninggikan kelajuan mobil. Ia bahkan beberapa kali nyaris melanggar lampu lalu lintas.

Baekhyun menggeram kesal. Ingin rasanya ia mengirim bogeman mentah pada Chanyeol namun tubuhnya saat ini benar-benar terasa lemas. Ia akhirnya menyerah dengan pusing yang mendera kemudian kembali bersender pada kursinya membiarkan Chanyeol berkendara dengan ugal-ugalan.

Ban mobil berdecit kencang ketika mobil yang Chanyeol bawa telah sampai pada salah satu rumah sakit besar di dekat kawasan itu. Secepat kilat si surai merah keluar dari mobil, menyambar tubuh ringkih Baekhyun dan menggendongnya tergopoh-gopoh memasuki unit gawat darurat.

Si mungil sama sekali tidak memberontak kala Chanyeol menggendongnya layaknya seorang pengantin wanita. Tubuhnya serasa terbakar dan lemas begitu menguasainya saat ini.

"Siapa pun tolong! Suamiku, dia demam tinggi!" Teriakan Chanyeol menarik semua seluruh atensi di ruangan itu. Seorang dokter ditemani beberapa perawat berlarian mendatangi Chanyeol kala mereka melihat emblem kebangsawanan yang dikenakannnya.

Salah satu perawat menuntun Chanyeol untuk membawa tubuh lemah Baekhyun ke sebuah ranjang yang tersisa di sudut ruangan. Chanyeol menurunkan tubuh Baekhyun perlahan. Napas lelaki mungil itu terdengar begitu berat dan keringat dingin sama sekali tidak berhenti mengalir di dahi serta pelipisnya.

Setelahnya Chanyeol menggeser tubuh dari sisian ranjang membiarkan sang dokter mengambil alih suaminya untuk diperiksa. Tangannya sibuk meraba tubuh Baekhyun dan menuliskan beberapa hal yang tak Chanyeol mengerti di papan jalan yang ia bawa.

"Lord Baldev mengalami dehidrasi berat." Dokter itu menjelaskan. Chanyeol mendengarkan dengan seksama penjelasan dari dokter tersebut.

Ia mengecek papan jalan yang dibawanya dengan tatapan yang sulit diartikan. Chanyeol menunggu dengan tenang tak berusaha mendesak dokter itu untuk segera memberi penjelasan mengenai keadaan Baekhyun.

"Lord Baldev nampaknya kurang memperhatikan banyaknya kadar air minum yang harus diminumnya. Mungkin juga karena stress yang menumpuk membuat ia sering muntah-muntah tetapi membiarkan perut kosong. Saya akan memasang infuse dan untuk selanjutnya mohon perhatikan kadar air minumnya. Lord Baldev sudah dapat dibawa ke ruang rawat inap."

Chanyeol mengangguk mengerti. Dokter itu kemudian berlalu meninggalkan beberapa suster yang kini sibuk mendorong ranjang Baekhyun ke kamar yang telah Chanyeol pilih. Lelaki itu kemudian menelpon salah satu rekannya.

"Halo?" Suara di seberang menyambut.

"Yesung, aku mau kamar rawat terbaik di rumah sakitmu sekarang." Chanyeol segera mengatakan tujuannya tanpa basa-basi.

"What? Kau sedang di rumah sakitku, Yeol?" Yesung bertanya.

Chanyeol berdecih tak sabaran, "Iya, Baekhyun sakit dan ia harus dirawat di sini saat ini juga. Berikan aku kamar terbaik sekarang!" Si surai merah membentak sahabat karibnya sejak sekolah menengah itu dengan tak sabaran.

"Astaga okay-okay, akan kuberitahu pihak administrasi kau pakailah kamar yang biasanya."

Chanyeol segera menutup telpon begitu mendengar persetujuan dari Yesung tak memperdulikan seseorang di seberang sana sedang mengumpatinya dengan segala sumpah serapah. Ia kemudian melenggang pergi menyusul Baekhyun.

.

Mata lelaki mungil itu terpejam rapat. Chanyeol duduk tenang di sebelahnya sembari menunggu penuh kesabaran. Satu jam yang lalu ia menghubungi sang ibu dan mengatakan agar acara makan siang mereka ditunda karena Baekhyun sakit. Ibunya mengerti dan mengatakan bahwa ia akan segera berkunjung.

Sesekali Chanyeol melirik pada Baekhyun yang masih tertidur dengan damai kemudian kembali beralih pada laptop dipangkuannya. Bagaimana pun urusan pekerjaan tak bisa dilupakan.

Dokter berkata bahwa efek dari obat akan membuat Baekhyun tertidur lebih lama dari biasanya. Mungkin beberapa jam lagi ia akan terbangun. Chanyeol telah menempatkan sejumlah pengawal di luar kamar agar menjaga ruangan tersebut terus steril. Yesung tadi sempat berkunjung memastikan keadaan suami sahabatnya itu kemudian berlalu begitu saja dengan alasan sibuk.

Chanyeol dan Yesung memang mempunyai hubungan yang cukup rumit namun mereka sejatinya adalah sahabat yang setia pada satu sama lain.

Ruangan begitu hening menyisakan bunyi penghangat ruangan yang menderu halus. Tarikan napas Baekhyun terdengar begitu berat seolah-olah untuk sekedar menarik nafas saja menjadi sangat sulit untuknya.

Chanyeol hanya bisa menatap dengan tatapan iba. Jemarinya terkadang mengusap tetesan keringat yang mengalir di pelipis Baekhyun menggunakan handuk kecil. Bibir lelaki mungil itu sudah tidak sepucat tadi dan itu sedikit membuatnya merasa lega.

"C-chanyeol.." Lirih Baekhyun.

Chanyeol terbelalak. Segera ditutupnya laptop dalam pangkuan kemudian meraih tangan ringkih Baekhyun.

"Baekhyun, apa yang kau rasakan? Apakah kau baik-baik saja?" Tanya Chanyeol beruntun.

Baekhyun mengangguk dengan gerakan patah-patah. Seorang suster memasuki kamar setelah Chanyeol memencet bel yang ada di dekat ranjang Baekhyun. Suster itu sibuk mengecek keadaan Baekhyun kemudian menyerahkan beberapa obat pada Chanyeol.

"Suhu tubuh tuan muda Baldev telah turun. Namun hingga mungkin tiga hari ke depan belum diperbolehkan untuk keluar dari rumah sakit karena harus mendapat penanganan intensif. Anda telah kehilangan banyak cairan dalam tubuh. Tentu itu bukan perkara yang bisa diabaikan." Suster itu menjelaskan sembari mengganti cairan infuse Baekhyun yang hampir habis.

"Anda harus mengonsumsi banyak air putih. Saat ini anda tidak diperbolehkan minum banyak kopi karena mengandung kafein yang tinggi." Jelas suster itu sebelum dirinya menarik diri meninggalkan Baekhyun dan Chanyeol dalam keterdiaman.

Bunyi debaman pintu meninggalkan dua insan yang diselimuti oleh heningnya atmosfer. Chanyeol dan Baekhyun sama-sama tak mengucapkan apapun. Baekhyun menjilat bibirnya yang kering. Entah mengapa ia merasa gugup. Ia sangat gugup.

Tangannya meremas selimut putih yang membungkus tubuhnya. Baekhyun tahu setidaknya ia harus mampu mencairkan suasana atau setidaknya mengucapkan rasa terima kasih karena lelaki jangkung itu tidak membiarkannya mati di tengah jalan. Atau memakai kesempatan di saat Baekhyun sedang lemah untuk membunuh dirinya. Namun lidahnya serasa begitu kelu, serentet kalimat itu terasa begitu sulit terucap.

"Chanyeol, aku haus."

Chanyeol yang masih berdiri dengan kaku di dekat kusen pintu segera meraih air putih yang telah disediakan di troli. Lelaki itu menuangkannya dengan terburu-buru membuat air agak tumpah.

"Ini." Disodorkannya segelas air pada Baekhyun.

Baekhyun mendesis kala ia memaksakan tubuhnya untuk duduk menerima air yang disodorkan oleh Chanyeol.

"Apa yang kau lakukan!? Jangan bangun! Aku akan mencarikan kau sedotan, tunggu sebentar! Jangan bergerak seinchi pun dari tempat tidur." Chanyeol berujar dengan nada yang agak tinggi.

Baekhyun benar-benar seorang yang keras kepala.

Lelaki itu dengan sigap berjalan cepat keluar mencari sedotan untuk Baekhyun. Si mungil hanya terkekeh kecil melihat betapa konyolnya lelaki itu saat ini.

Chanyeol kembali dengan membawa sekantung plastik berisikan sedotan setelah meninggalkan Baekhyun seorang diri selama kurang lebih setengah jam.

Hampir saja Baekhyun menjerit karena terkejut, jika saja Chanyeol tak membuka pintunya dengan begitu terburu-buru. Si tinggi menghela napas lega kala netranya menangkap suaminya itu masih terkulai lemas di atas ranjang sambil menonton pertandingan kriket tim favoritnya.

"Aku kembali." Ujar Chanyeol sambil mengangkat kantung di genggamannya.

"Aku tahu Chanyeol Armens, aku punya mata." Jawab Baekhyun ketus.

Si tinggi lalu terkekeh menyadari tindakannya yang terlihat begitu bodoh. Tak bisa dipungkiri ia benar-benar dilanda rasa cemas takut jika si keras kepala Baldev akan melarikan diri dari rumah sakit tanpa sepengetahuannya.

Harusnya ia menyadari bahwa tindakannya sama sekali tak berdasar dan terbukti bahwa lelaki mungil itu masih diam di ranjangnya.

Chanyeol kembali menyerahkan gelas itu pada Baekhyun tak lupa dengan sedotan. Si tinggi mengarahkan moncong sedotan ke dalam bibir Baekhyun untuk mempermudah yang lebih kecil minum.

"Sudah." Baekhyun melepas sedotannya, membiarkan Chanyeol menaruh gelas itu kembali ke troli.

Mereka berdua terdiam kembali. Mata Baekhyun memang mengarah tajam pada pertandingan kriket di layar televisi namun pikirannya melayang ke sana kemari. Ia sama sekali tidak bisa fokus.

"Um..Terima kasih sudah mengurusku. Aku tahu, aku merepotkan." Ucap Baekhyun dengan ragu.

"Tentu saja kau merepotkan."

"Hey, apa-apaan k−"

"Tapi ini adalah kewajibanku sebagai suamimu bukan?" Chanyeol berujar lembut, tatapannya sama sekali tak terlepas dari Baekhyun. Ia kemudian duduk di samping ranjang, melonggarkan dasi dan menyampirkannya ke pundak.

Baekhyun terdiam. Seketika bibirnya terasa kelu sepenuhnya, merasa bahwa dirinya menjadi pihak yang paling egois saat ini. Setiap saat Baekhyun selalu memikirkan akan bagaimana cara untuk membenci Chanyeol tetapi lelaki itu dengan ringan tangan mengurusnya.

Lelaki itu juga tidak pernah mengeluh tiap kali Baekhyun membuat keributan. Ia bahkan menerima rencana pernikahan ini tanpa banyak basa-basi. Tapi apa yang Baekhyun lakukan?

Baekhyun tercekat, mengepalkan tangannya di atas lutut sambil berkata pelan, "Maaf.. aku sungguh berterima kasih, Chanyeol Armens."

Tepukan lembut di kepala menjadi jawaban dari Chanyeol. Yang lebih mungil menatapnya bingung tak mengerti akan maksud Chanyeol.

"Nah, ini saatnya kau makan. Aku akan menyuapimu." Diraihnya mangkuk bubur dari troli makanan.

"Apa-apaan bubur hambar itu? Tidak ada potongan ayam atau semacamnya? Astaga Armens aku tak tahu kau seorang bermuka dua. Kau pasti ingin aku mati karena muntah terlalu banyak akibat nasi yang dicampur dengan air itukan!?"

Chanyeol menghela napas. Si sialan Baekhyun telah kembali. Ia memang harusnya tak pernah sekali pun melunak padanya.

Digulungnya kemeja hitam Chanyeol lalu diraihnya sesendok bubur dan disuapkan ke dalam mulutnya sendiri. Ia kemudian berjalan mendekat pada Baekhyun hingga hidung keduanya saling bertabrakan.

"H-hey, Chanyeol! A-apa yang m-mau kau!−mmm"

Entah setan apa yang merasukinya, Chanyeol tiba-tiba mencium bibir Baekhyun. Kedua mata Baekhyun telah membulat penuh seolah kedua bola mata itu dapat keluar kapan saja. Lelaki mungil itu mendorong kuat tubuh Chanyeol namun tetap saja tubuhnya yang kekar dan sekeras besi tak ada bandingannya dengan Baekhyun.

Lelah memberi perlawanan, Baekhyun pun memilih untuk perlahan menutup mata. Membiarkan dirinya jatuh terlena akan ciuman Chanyeol. Lelaki itu sama sekali tidak melakukan hal lebih selain memberi sebuah kecupan ringan dalam waktu lama. Hanya bibir bertemu bibir yang saling bertempelan.

Chanyeol yang sejak awal tidak menutup matanya, menatap Baekhyun dengan penuh gairah. Sorot matanya menggelap begitu melihat Baekhyun mulai terlena dengan ciumannya. Wajah Baekhyun yang memerah dan matanya yang sayu membuat gairah dalam dirinya begitu menggebu-gebu. Ia pun menggigit bibir tipis itu kemudian menjulurkan lidahnya menyalurkan makanan yang tersimpan dalam mulut.

Baekhyun yang terkejut mau tak mau menerima dengan terpaksa. Chanyeol mendorong bubur itu hingga sepenuhnya tertelan oleh Baekhyun. Setelah memastikan bahwa Baekhyun menelan makanannya, Chanyeol kembali menubrukkan bibirnya dengan milik Baekhyun.

Manis. Ini sungguh manis.

Lebih. Aku ingin lebih.

Gairah meledak-ledak dalam tubuh Chanyeol. Ia semakin beringas dan melumat bibir Baekhyun tiada ampun. Ia bahkan tak membiarkan Baekhyun untuk menarik napas barang sedetik pun. Tak ingin kehilangan rasa manis dari bibir yang ia lumat selayaknya permen. Akal sehatnya telah melayang entah kemana hingga sebuah dorongan yang teramat kencang melepas penyatuan bibir mereka.

Tali saliva yang menjadi bukti betapa kerasnya gairah Chanyeol menetes dengan begitu eksotis dari sudut bibir kemerahan Baekhyun. Wajah lelaki mungil itu sudah merah padam dan matanya nampak berair.

"K-kau.. kau pikir apa yang kau lakukan hah!?" Baekhyun berteriak dengan napas terengah.

Seluruh tubuh Chanyeol terasa kaku. Sama sekali tidak bisa bereaksi kala melihat setetes air mata−yang Chanyeol sesali sepenuhnya−menetes dari sudut mata sipit Baekhyun.

"Apa kau tahu?.. Apa kau tahu Chanyeol Armens?" Baekhyun bertanya pelan. Suara isak tangis sesekali lolos dari bibirnya yang masih membengkak merah. Ia menggigit bibirnya kuat berharap agar tak ada lagi suara lemah itu yang terdengar.

Menjadi lemah di hadapan orang lain bukanlah bagaimana ia dilatih. Baekhyun tak ingin Chanyeol melihat kelemahannya dan merasa iba padanya. Baekhyun sama sekali tidak berhak untuk itu.

Chanyeol sama sekali tidak menjawab. Ia hanya menatap pada Baekhyun.

"Itu adalah ciuman pertamaku dan kau merebutnya. Hahahaha! Ya.." Baekhyun menghela napas berat. Sedang kepalanya tertunduk dalam

"Ya.. kau merebutnya dari orang yang kelak akan kucintai dengan seluruh raga dan jiwaku."

"Baekhyun aku−"

"Pergi." Titah Baekhyun.

"Baekhyun, aku bisa jelaskan ini." Chanyeol berusaha meraih pundak si mungil yang bergetar hebat namun segera ditepis kuat oleh Baekhyun.

"Apa? Apa lagi yang bisa kau jelaskan Chanyeol Armens!?" Jerit Baekhyun.

"Bibirmu begitu merah dan aku ingin menciumnya! Jangan salahkan aku!" Balas Chanyeol tak kalah emosi.

Dua orang suster ditemani seorang security masuk ke dalam kamar tanpa permisi. Raut muka ketiganya pucat pasi ketiga mendengar sepasang suami-istri itu saling berteriak pada satu sama lain.

Atensi kedua pelaku tentu saja langsung teralihkan pada pintu yang terbuka lebar.

"L-lord Armens, apakah ada yang salah?" Salah satu dari suster itu memberanikan diri bertanya. Matanya menatap takut pada Chanyeol.

Chanyeol menatap tajam pada tiga tamu yang tak diundang tersebut. Dirinya benar-benar ingin meledak sejadi-jadinya namun tindakan bodoh itu jelas akan merusak image yang selama ini telah susah payah ia bangun.

Lelaki tinggi itu kemudian berdehem lalu merapikan kemejanya yang berantakan.

"Ahaha, maafkan kami. Saat ini Baekhyun sedang tidak dalam keadaan yang stabil dan kami memang sering bertengkar beberapa kali, maaf jika itu mengganggu yang lain. Aku akan pastikan kejadian seperti ini tidak akan terulang kembali." Chanyeol kemudian tersenyum hangat layaknya malaikat.

Sialan Yesung itu, benar-benar harus memasang peredam suara di kamarnya!

Ketiganya benar-benar terlena dengan Chanyeol lalu tanpa banyak basa-basi mereka segera menyingkirkan diri keluar dari ruangan tersebut.

Chanyeol menghela napas panjang. Ia melirik pada Baekhyun yang masih duduk menghadapnya dengan tatapan membunuh. Lelaki itu kemudian mengusak rambutnya sendiri, frustasi. Mungkin ia harus mengalah lagi pada Baekhyun.

"Sepertinya kau tidak mau kuganggu ya." Lelaki itu melirik pada arloji yang melingkar pada pergelangan tangannya.

"Baiklah, aku akan kembali ke kantor. Beberapa urusan perusahaan terbengkalai dan aku tak dapat membiarkannya. Aku mungkin akan kembali esok hari jika kau butuh sesuatu Wendy ada di luar." Chanyeol meraih jasnya lalu bersiap-siap untuk pergi.

Ketika tangannya telah meraih gagang pintu, lelaki itu kembali berbalik pada Baekhyun yang sudah siap-siap berbenah untuk kembali tidur. Ditariknya tangan kurus Baekhyun dan kembali dikecupnya bibir itu ringan, secepat kilat.

Baekhyun menganga, membeku dengan tindakan Chanyeol barusan.

"Tapi aku takkan pernah minta maaf untuk ciuman itu karena toh kau kelak akan jatuh cinta padaku, Baekhyun Baldev." Sebuah seringai tercetak di wajah tampannya.

Bunyi derak pantofel menggema di dalam kamar, meninggalkan Baekhyun yang masih diam dalam keterkejutannya.

Rasa panas seketika menjalar hingga ke ubun-ubun ketika Baekhyun menyadari apa yang dilakukan oleh Chanyeol barusan.

"Sialan kau Chanyeol Fuck Armens!"

.

Sebuah guncangan kecil membangunkan Baekhyun dari tidurnya yang lelap. Samar-samar bayangan seorang pria tertangkap oleh netranya. Dikerjapkannya mata beberapa kali hingga sesosok samar itu berubah menjadi Jongin yang telah berdiri di samping ranjangnya.

"Baekhyun, ayo bangun. Ini saatnya." Suara Jongin menarik seluruh atensi Baekhyun.

Pening di kepalanya surut perlahan-lahan diikuti dengan kembalinya kesadaran diri.

"Hm." Gumaman menjadi jawaban Jongin.

Dengan paksa Baekhyun menarik infuse yang tertanam dalam tangannya. Darahnya langsung mengalir deras. Jongin dengan sigap membalut tangan Baekhyun dengan perban kemudian memakaikan sarung tangan panjang−kostumnya untuk menyamar.

Baekhyun menghela napas beberapa kali. Ia memang sudah tidak selemas tadi namun tetap saja tubuhnya belum pulih sepenuhnya. Jongin menyuntikkan IV drip lalu menuntun Baekhyun untuk mengganti pakaian.

Raut cemas tampak jelas pada lelaki tan itu yang kemudian disadari oleh Baekhyun.

"Tak perlu cemas. Kau tahukan aku pernah mengalami yang lebih parah dibanding ini?" Jawab Baekhyun sambil tersenyum meyakinkan adik sepupunya itu.

Jongin meremas pelan lengan Baekhyun. "Aku.. maafkan aku tak bisa menjagamu dengan baik Baekhyun." Ucap lelaki itu dengan nada penuh penyesalan.

"Hey-hey Jongin, astaga. Tak perlu meminta maaf. Aku baik, itu semua salahku. Kau selalu mengingatkanku itu menjaga diri tapi aku malah tak menurut. Jangan merasa bersalah seperti ini okay?"

Jongin menatap Baekhyun dalam, meminta sebuah keyakinan dalam kalimatnya barusan. Lelaki tan itu kemudian mendengus kecil lalu tersenyum.

"Kau memang tak terhentikan Baekhyun. Baiklah, kau yang memimpin jalan."

Baekhyun lalu melangkah pasti meninggalkan ruangan rawat inap, melewati beberapa tubuh tergeletak pengawal yang Chanyeol tempatkan.

.

Tiga buah mercedes benz berwarna gelap telah menunggu persis di dekat tangga basement rumah sakit. Dengan susah payah Baekhyun menuruni anak tangga sambil mengangkat gaunnya yang beberapa kali terseret-seret terkena lantai.

Mark−salah satu tukang pukul (atau kalian dapat menyebutnya dengan 'pengawal') keluarga Baldev tengah menunggu kedatangannya. Ia kemudian menuntun Baekhyun untuk memasuki mobil yang di dalamnya telah diisi lebih dahulu oleh Sehun−yang akan berperan sebagai pacar Baekhyun.

Sedang dua mobil lainnya diisi oleh Jongin dan pengawal-pengawal lain disertai penyamaran yang begitu sempurna.

"Ah, kau sudah datang rupanya."

Baekhyun bergumam menjawab, ia kemudian duduk dengan anggun. Supirnya membantu menaikkan gaunnya. Ia benar-benar tak habis pikir bagaimana para gadis mampu bertahan mengenakan pakaian semacam itu.

"Gaun ini benar-benar mengingatkanku pada pakaian yang kukenakan ketika pernikahan. Sesak dan ketat aku membencinya." Baekhyun berdecih kesal.

Di sebelahnya Sehun tertawa terbahak-bahak kemudian mengusak kepala Baekhyun dan menepuknya lembut. Si mungil masih mengerucutkan bibirnya kesal. Mengapa juga ia harus menjadi wanita? Toh dirinyakan bisa menyamar menjadi lelaki.

Sehun tersenyum lembut masih mengusap kepala Baekhyun. "Aku tahu kau dapat mengatasinya."

Baekhyun menghempaskan tangan itu. Ia kemudian segera memalingkan wajah memandang keluar jendela sedang rasa panas telah menjalar hingga kedua telinganya.

"Aku tahu, bodoh."

.

Kediaman Baroness Charles adalah sebuah rumah dengan halaman yang begitu luas. Letak rumah itu berada di pinggir kota London. Halaman rumahnya ditanami dengan pohon mahoni yang berjejer rapi sepanjang jalan menuju rumah utama. Gaya rumah itu seperti rumah bangsawan pada umunya, Victoria dengan pilar-pilar megah.

Tiga mobil Mercedes benz yang tadinya berangkat bersama kini saling berpencar agar tak menimbulkan kecurigaan. Mobil yang dinaiki Sehun dan Baekhyunlah yang sampai pertama, bagaimana pun mereka kunci utama dari penyelidikan kali ini.

Sebelum turun, Baekhyun beberapa kali mengecek amunisi revolvernya dan beberapa persenjataan lain yang dililitkan pada sekujur tubuhnya. Wireless telah dihidupkan tanda bahwa Xiumin, hacker terbaik keluarga Baldev siap bertempur.

Mobil itu meluncur melewati jalan pribadi menuju rumah utama, melewati beberapa taman bunga yang ditata dengan apik.

"Kita telah sampai Tuan Muda Baekhyun." Supirnya memberitahu.

Baekhyun dan Sehun beranjak turun tak lupa dengan tangannya yang telah digenggam anggun oleh lelaki albino tersebut.

Dua orang pengawal keluarga Baroness telah menunggu di depan pintu rumahnya. Mereka membukakan pintu menyambut kedatangan mereka berdua. Baekhyun tersenyum tipis lalu melenggang bersama Sehun di atas permadani berwarna merah darah.

"Aku sudah masuk." Sehun berbicara melalui wireless.

Pasukan Baekhyun juga telah memasuki rumah Baroness Charless lengkap dengan penyamaran sempurna mereka. Ia dan Sehun bahkan beberapa kali berpapasan dengan Mark dan Taeyeong. Bagaimana pun tugas mereka tetaplah melindungi si kepala keluarga, mereka tak boleh berjauhan lebih dari radius lima meter.

Seorang lelaki gempal melangkah mendekat, tertawa lebar. Gigi emasnya bersinar terkena lampu sorot. Lelaki itu cukup tinggi dengan rambut pirang disemir ke belakang khas bangsawan Inggris.

"Astaga, selamat datang tamu kehormatanku. Putera bungsu Duke Armens." Lelaki itu berseru riang sembari menjulurkan jabatan tangan yang kemudian dibalas oleh Sehun.

"Terima kasih atas sambutannya, Baroness Charless."

Lelaki itu kemudian menepuk-nepuk punggung Sehun masih dengan tawanya yang membuat perut Baekhyun terasa mual.

"Kau benar-benar telah tumbuh menjadi lelaki dewasa yang begitu mengagumkan, Sehun. Ngomong-ngomong siapakah gerangan gadis yang kau bawa ini?" Lelaki tua itu bertanya dengan nada bermain-main. Alisnya naik turun menggoda dan Baekhyun benar-benar tak tahan untuk menendang kemaluan pria itu.

Namun ia dalam mode penyamaran.

Baekhyun menunduk malu kemudian bersembunyi di balik tubuh kekar Sehun. Tangannya gemetar memegang lengan lelaki itu. Beginilah caranya berakting bajingan.

Sehun kemudian tersenyum menarik lengan kurus Baekhyun. Lelaki mungil itu masih menunduk sambil menyampirkan rambut palsunya yang terus berjatuhan ke punggung.

"Maafkan dia Baroness, Baekhee memang sedikit pemalu. Ayo, perkenalkan dirimu, hm?"

Baekhyun menatap ragu pada Sehun. Ia kemudian mengangguk patah-patah.

"N-namaku.. Baekhee tuan. A-aku tunangan Sehun." Baekhyun menggigit dalam bibirnya. Ia kemudian sedikit menunduk memberi penghormatan.

Lelaki tua itu menatap Baekhyun dengan tatapan berbinar. "Kau begitu anggun, Baekhee. Aku turut senang dengan pertunanganmu, aku akan menunggu undangan pernikahan kalian." Baroness Charless kembali tertawa terbahak-bahak yang kemudian disusul dengan senyum malu-malu dari Baekhyun serta wajah datar Sehun.

Lelaki tua itu kemudian menyeringai, menatap selidik pada tubuh Baekhyun. Ia menyadari bahwa tubuh Baekhyun begitu indah. Pinggul ramping, mata bagai anak anjing, perilaku lemah lembut. Ia menjilat bibirnya. Sungguh ia benar-benar ingin mendapatkan Baekhyun−atau mungkin Baekhee saat ini.

Tentu Baekhyun merasa bahwa lelaki brengsek itu tengah memonitori tubuhnya saat ini. Tapi ia harus menahan diri untuk tidak melempar gelas sampanyenya ke kepala lelaki mesum itu.

Segala hal yang dilakukan oleh Baekhyun sama sekali tidak terlepas dari netra Sehun. Direngkuh pinggang lelaki itu lalu ia kemudian berbisik pelan di telinga Baekhyun.

"Tahan dirimu Baekhyun Baldev, jangan sampai semua ini berantakan."

Baekhyun mendengus, ia kemudian berbisik kembali pada Sehun.

"Jangan meremehkanku Armens."

Sehun kemudian melepaskan rengkuhannya. Ia membenahi jasnya lalu mengambil gelas sampanyenya yang kedua.

"Ah, iya. Karena sebentar lagi acara utama akan mulai lebih baik kalian berdua segera ke tempat VVIP, mari saya antar." Baroness Charles memimpin jalan, menuntun Sehun dan Baekhyun.

Mereka berjalan menuju sebuah lorong yang nampaknya menuntun mereka ke hall utama yang ada di rumah ini. Sepanjang lorong Baekhyun memperhatikan bahwa Baroness Armens nampaknya begitu menyukai boneka.

Nampak boneka kain ditaruh berjejer dalam kotak kaca dengan lampu sorot. Banyak di antaranya adalah boneka yang terbuat dari kain.

"Apakah anda memiliki ketertarikan khusus pada boneka, Baroness Charles?" Tanya Baekhyun dengan nada manisnya.

Tindakannya itu tentu sama sekali tidak luput dari perhatian si tuan rumah.

"Wah, kau benar-benar orang yang sangat peka ya, nona Baekhee." Lelaki itu memujinya dengan suara mendayu yang menurut Baekhyun betul-betul menjijikkan. Tangannya benar-benar gemas, ingin menarik pelatuk pistolnya ke dalam mulut lelaki itu.

Baekhyun menggigit bibirnya dalam sambil tersipu malu, "A-aku hanya menduga-duga tuan." Jawab Baekhyun pelan.

"Kau benar seratus persen! Semua boneka itu adalah replika dari setiap koleksi kesukaanku. Mungkin kau dapat menjadi satu di antaranya." Baroness Armens tertawa terbahak-bahak diikuti Baekhyun dengan tawa malu-malunya.

Di sebelahnya, Sehun hanya menatap datar tak terlalu menyukai arah dari pembicaraan ini.

'Brengsek, psikopat.' Baekhyun mengumpat dalam hati.

Akhirnya sampailah mereka pada pintu besar berlapis emas dengan dua penjaga yang ditempatkan di depan pintu itu. Mereka kemudian menyodorkan tiga buah topeng yang kemudian disambut ragu oleh Baekhyun.

"Nah, kita sampai. Sebelumnya pakailah topeng itu, di sini privasi sangat dijaga." Baroness Charles berbisik.

Lelaki tua itu kemudian menyeringai, "Selamat menikmati. Semoga acara ini memuaskan kalian dan jangan lupa untuk turut menawar harga. Ketahuilah koleksi kami bukan main indahnya."

Tanpa ragu Baekhyun kemudian memasang topeng itu lalu melangkah masuk dengan mantap.

Peperangan yang sebenarnya, baru saja akan dimulai.

.

TBC!

A/N:

Yeayy akhirnya aku update! Maaf ya karena updatenya telat huhu. Semoga kalian suka Chapter ini hehee bakalan banyak hal2 yang ga terduga next chapt! Makasih banyak buat semua orang yang udah kasih review dan beberapa masukan untuk aku itu berharga banget dan aku ngehargain itu semua. Ke depannya aku bakal nulis dengan lebih baik lagiii!

Buat yang belum kasih review atau belum follow dan favorite cerita ini, jangan lupaa dilakuin sekarang yaa karena itu bener-bener ngedorong aku buat bikin cerita yang lebih baik lagi!

Makasih semuanyaa I love youuu yayy