Terima kasih yang udah ngebaca cerita busuk ini~
Gak pernah nyangka kalo bakal sejauh ini ceritanya xoxo
Buat update cerita lain nunggu ye, mumpung ada ide buat yang ini~
Well, ini chapter 11-nya. Maaf kalo ada typo dan semacamnya.
Happy reading! Give me some comments!
.
.
.
"Aku pulang sehabis ini, Noona."
"Dengan gadismu?"
"Eheei~ jangan begitu! Urusi saja Sehun—jangan terlalu jual mahal padanya!"
Baekhyun masih belum bergerak dari tempatnya. Dia mendengar suara berat dan seorang wanita. Sudah bisa dipastikan itu Chanyeol dan Luhan. Ah, dia sudah menunggu kurang lebih empat jam. Bosan sudah menggerogoti dirinya. Kepalanya yang ditaruh di meja membuat dirinya mengantuk. Matanya terlalu berat untuk terjaga. Bahkan ketika pintu itu terbuka, dia masih pada posisi yang sama. Menunggu baginya sangat membosankan.
"Apalagi kau, Noona—eh? Dia tidur rupanya." Chanyeol mendekat dan menepuk pundak Baekhyun perlahan, "Hei, ayo pulang."
"Hm…"
"Baekhyun-ah. Hei."
Gadis itu mendongakkan kepala dan mengerjapkan mata kecilnya, "Hmm? Sudah selesai?"
"Sudah, sleepyhead. Kita bisa pulang sekarang."
Gadis itu mengangguk. Wajahnya benar-benar seperti orang linglung. Bahkan dia tidak sadar jika Luhan sedari tadi memperhatikannya. Nyawanya yang melayang entah kemana itu belum kembali sepenuhnya.
"Ayo, hei." Chanyeol tertawa kecil, "Jangan seperti anak kecil baru bangun tidur begitu."
Baekhyun menggaruk kepalanya dan merengek. Benar-benar tidak bisa menyadarkan dirinya saat itu juga. Dia membiarkan Chanyeol mengacak-acak rambutnya—toh memang sudah tidak tertata sama sekali. Berkali-kali matanya hampir tertutup tapi dia menahannya karena sedari tadi Chanyeol menusuk-nusuk pipinya dengan telunjuk.
Dengan wajah yang super mengantuk, dia berdiri. Chanyeol membawa tas ransel Baekhyun karena tahu jika gadis itu masih belum sepenuhnya sadar. Dan dengan sigapnya, Chanyeol menggandeng Baekhyun yang masih lemas itu.
"Kami pulang dulu, Noona!" seru Chanyeol pada Luhan.
Baekhyun berjalan dengan langkah kaki yang malas dan terseret. Dia masih mengantuk. Bahkan ketika Chanyeol berhenti untuk berbicara dengan staf administrasi rumah sakit, Baekhyun menyandarkan kepalanya pada punggung Chanyeol. Tangannya masih digenggam lelaki itu. Entah sejak kapan hal itu menjadi lumrah dan wajar.
Berjalan dengan Chanyeol memang menarik banyak perhatian. Apalagi lelaki itu selalu membalas sapaan orang yang tertuju padanya. Tidak jarang orang-orang disana berbisik. Baekhyun tahu beberapa dari mereka membicarakannya. Apalagi dengan bibir yang membiru itu tentu membuat orang bertanya-tanya siapa dan apa hubungannya dengan Chanyeol.
"Masih mengantuk?"
Baekhyun mengangguk, "Kau lama sekali." Keluhnya.
Lagi-lagi lelaki itu mengusap rambut Baekhyun dengan tangan satunya, "Mengoperasi seseorang tentu memakan waktu lama, Baek. Jangan cemberut begitu."
Baekhyun meliriknya dan membuat Chanyeol tertawa. Rasa kantuknya sedikit terangkat ketika masuk ke dalam lift dan bertemu dengan beberapa orang termasuk Sehun dan Kyungri. Tapi bagi Baekhyun, rasa kantuknya menjadi sebuah hal yang menguntungkan.
"Pulang, Hyung?" tanya Sehun.
"Uhum. Si Puppy ini sedang mengantuk, Sehun-ah."
"Puppy? Tak kukira kau orang yang cheesy juga." Sindir Sehun.
Chanyeol hanya tertawa mendengar apa yang diucapkan Sehun. Dia hanya memperhatikan Baekhyun yang menyandarkan kepala di lengannya. Mata gadis itu masih mengerjap. Mungkin sekarang hampir sama dengan ekspresi Kyungsoo jika sedang berpikir. Loading; buffering.
"Makan atau pulang?" tanya Chanyeol pada gadis di sebelahnya itu.
"Pulang. Tapi aku lapar…"
"Lalu?"
"Pesan makanan saja di rumah. Bagaimana?"
Chanyeol mengangguk dan tersenyum. Baekhyun menurunkan pandangannya lagi ke arah tombol lift di hadapannya. Ketika masih berkonsentrasi dengan benda menyala itu, dia merasa ada yang bergerak di pucuk kepalanya. Setelah mencari pantulan di salah satu bagian lift, dia melihat Chanyeol mengenduskan hidungnya disana. Dan yang lebih bagus lagi, Kyungri menatap mereka dengan tatapan tidak suka. Memang sih, Chanyeol agak affectionate sejak kejadian tadi. Semacam lovey-dovey di depan umum dan mereka tidak peduli. Baekhyun menyangka jika Chanyeol melakukannya karena tentu profesionalitas sebagai aktor dalam kebohongan mereka. Tapi separuh hatinya, dia ingin bertanya mengapa sikap Chanyeol berubah sedrastis itu.
Ketika lift terbuka, mereka semua keluar—termasuk Sehun dan Kyungri yang memang akan pergi entah kemana. Tangan Baekhyun masih ada di genggaman tangan Chanyeol. Tangan Baekhyun memang terlihat sangat kecil jika dibandingkan dengan tangan raksasa lelaki itu. Bahkan tinggi badan mereka saja juga terlampau jauh.
Baekhyun melempar senyumannya pada Kyungri yang melewatinya. Dia merasa puas ketika melihat tatapan tidak suka dari gadis itu. Toh baginya, dia sendiri yang melepaskan Chanyeol, jadi salahnya sendiri jika menyesal sekarang, 'kan?
Ketika sudah masuk ke dalam mobil, "Hish." Baekhyun membuka suaranya.
"Apa?" tanya Chanyeol.
"Mantanmu itu. Kenapa dia selalu melihatku dengan tatapan yang tidak suka? Dia masih menyukaimu? Hah, yang benar saja."
"Kau sendiri juga tidak suka padanya." Goda Chanyeol.
"Salah sendiri! Seenaknya menghinaku. Memangnya dia siapa?"
"Mantanku."
"Oh? Iya sih…"
"Kenapa nadamu menjadi kecewa begitu?"
"Hmm… tidak."
Chanyeol hanya terkekeh dan mulai mengendarai mobilnya. Menggoda Baekhyun yang sedang cemberut begini memang menyenangkan. Dia tidak akan marah, hanya akan bersikap seperti anak kecil dan itu sebenarnya menggemaskan. Tapi jika menganggap Baekhyun sepenuhnya jinak, tentu itu hal yang keliru. Buktinya, dia masih bisa menghajar pencuri ponselnya.
Baekhyun sibuk dengan ponsel barunya lagi. Dia memasang wajah kecut ketika temannya memberi tahu jika dosennya memberikan tugas. Tugas lagi. Pikirnya begitu. Dari bibirnya bersenandung lagu Russian Roulette dari Red Velvet yang memang dia suka semenjak keluar. Dia bilang dia menyukai Irene. Karena dia menganggap dirinya mirip—Chanyeol selalu memasang wajah heran jika Baekhyun sudah begitu.
"Baekhyun-ah." Ucap Chanyeol memecah keheningan.
"Hm? Apa?"
"Appa dan Eomma kembali ke China hari ini."
"Ah…" Baekhyun mengalihkan perhatiannya pada Chanyeol, "Lalu?"
"Kau bisa kembali ke kehidupan normalmu. Maksudku… kau mengatakan jika merindukan rutinitasmu yang biasanya, 'kan? Kau bisa memulainya lagi." Chanyeol tertawa kikuk.
Baekhyun tersenyum kaku, "Kalau begitu aku bisa kembali ke apartment lamaku?"
"Kalau kau mau. Masalah bagaimana kehidupanmu, kau menjadi tanggunganku karena kau sudah membantuku sampai sejauh ini."
"Ah…" Baekhyun mengangguk kecil, "Baiklah, mungkin aku hanya akan membawa beberapa barangku. Aku takut jika mereka kembali sewaktu-waktu."
Percakapan itu selesai dan meninggalkan rasa canggung. Tidak ada suara yang muncul dari keduanya hingga sampai di apartment Chanyeol. Dan ketika sampai disana, Baekhyun langsung masuk ke kamarnya. Dia membereskan apa yang sekiranya bisa dibawa pulang. Barang-barang yang dibelikan oleh Chanyeol sengaja dia tinggalkan. Toh itu tidak akan terpakai olehnya.
Baekhyun kembali ke ruang tengah dengan ransel besar yang penuh. Rasa kantuk dan laparnya menguap seketika. Jujur, jika dia bisa mengatakan, dia sangat kecewa. Dia tidak marah pada Chanyeol, karena pada awalnya semua dimulai dari sebuah kebohongan. Dia mungkin kecewa dengan dirinya sendiri karena membawa perasaannya. Dan dia mungkin harus berterima kasih kepada Chanyeol karena sudah mengingatkan apa dan siapa dirinya.
"Kau mengemas semuanya sekarang?" tanya Chanyeol dengan alis yang berkerut.
"Iya. Sepertinya lebih baik jika aku cepat-cepat kembali ke rutinitasku semula."
"Kau tidak pergi sekarang, 'kan?"
Baekhyun tersenyum kaku, "Apa aku salah jika aku pergi sekarang?"
"Aku—aku sudah memesankan makanan untuk kita, Baek."
"Ah… baiklah, aku pergi setelah makanan datang."
Chanyeol mengamati semua pergerakan gadis itu. Bahkan dia melihat ketika Baekhyun mencari-cari tempat minum kesayangannya diantara semua gelas yang ada di dapur. Dia merasa marah, marah kepada dirinya sendiri. Entah, separuh hati dia lega karena orang tuanya pergi, tapi separuh hatinya merasa ganjil.
Ketika makanan datang, mereka juga makan dengan suasana yang awkward. Padahal baru tadi mereka sedekat itu, sekarang mereka hanya diam. Di dalam hatinya Baekhyun merasa ingin membatalkan keinginannya untuk pergi, tapi jika dia mengingat bagaimana ucapan Chanyeol, tentu dia merasa jika ini hanya perasaannya sendiri saja.
Chanyeol duduk di sebelah Baekhyun yang sedang menggigit makanan dengan tatapan kosong itu. Gadis itu memperhatikan sesuatu yang entah, tidak fokus sama sekali. Mereka sangat dekat, tapi tidak sedekat ketika masih di rumah sakit tadi. Sejenak dia merutuki dirinya yang pengecut begini. Dan setelah membiarkan otaknya berkecamuk, dia membuka mulutnya.
"Baek…" ucap Chanyeol lirih.
"Hm?" dia mendapati Chanyeol yang menatapnya, "Kenapa kau memandangku begitu?"
Lelaki itu menggelengkan kepalanya, "Tidak."
"Lalu? Kenapa kau memanggilku?"
"Hmm…" dia berpikir sejenak, "Kau yakin kau benar-benar pergi?" tanyanya ragu-ragu.
"Iya, memangnya ada apa?"
"Ah… tidak. Lupakan saja."
Baekhyun ingin meneriakkan kata bodoh pada dirinya sendiri. Tidak! Dia tidak ingin pergi terus terang. Hidup dengan Chanyeol selama lebih dari sebulan membuatnya terbiasa, sangat terbiasa. Tapi dia menyimpulkan jika dia hanya akan merepotkan Chanyeol saja. Dia siapa? Hanya partner untuk berbohong saja, 'kan? Semuanya hanya bisnis belaka. Jika sudah selesai, tentu dia akan kembali ke urusannya sendiri. Bukankah begitu?
"Kalau begitu, aku akan mengantarmu." Ucap Chanyeol yang dijawab anggukan dari Baekhyun.
.
.
.
Baekhyun merebahkan dirinya di ranjang miliknya sendiri. Ah, terasa sempit jika dibandingkan dengan milik Chanyeol. Tadi, setelah mengantarkan Baekhyun, Chanyeol pergi begitu saja. Dan setelah itu, dia benar-benar yakin jika lelaki tersebut hanyalah rekan bisnisnya. Perasaannya berkecamuk; tidak karuan. Jika mengingat ciuman di kening tadi membuat dirinya senang bukan main. Tapi sekarang? Dia tidak ada hubungan apa-apa dengan Chanyeol.
Dia ingat jika Chanyeol menganggapnya sebagai adik perempuannya sendiri. Ah, mungkin selama ini Baekhyun salah mengartikan bagaimana cara Chanyeol memperlakukannya. Dia merutuki kebodohannya sendiri. Hanya karena Chanyeol bersikap menyenangkan dia membawa perasaannya hingga sejauh ini. Sekarang, dia sadar jika dia menyukai lelaki itu. Menyukai karena terbiasa. Terbiasa dengan perdebatan yang mereka lakukan, terbiasa dengan suasana rumahnya, terbiasa dengan mengerjakan semua pekerjaan rumah, terbiasa dengan sapaan setiap pagi, bahkan terbiasa dengan kehadiran lelaki tersebut.
Baekhyun meraih ponsel yang dibelikan oleh Chanyeol. Pada latar belakangnya terpasang gambar Chanyeol yang sedang menggendong Taehyung. Dia mengambil gambar itu dan mengirimkannya ke akun miliknya. Dia tidak tahu sejak kapan memasang gambar itu, mungkin disaat menunggu Chanyeol melakukan operasi tadi siang.
"Huah." Dia menggulingkan badannya sembari meneliti semua kontak yang ada disana. Ah, dia merasa bosan. Jika biasanya dia akan bermain game ataupun menonton film di ruang tengah—apartment Chanyeol—maka sekarang dia tidak tahu harus melakukan apa. Kalau saja ada Chanyeol, mungkin mereka akan mendebatkan hal sekecil bakteri. Tapi sekarang, dia tidak punya teman untuk berdebat. Jongdae? Kalau dengan Jongdae mungkin tidak akan sama. Dengan Jongdae hanya akan membuatnya emosi. Dengan Chanyeol? Ah… ada perasaan lain di setiap sumpah serapah yang dia keluarkan.
Matanya mulai terpejam setelah meletakkan ponselnya di samping lampu tidur. Tanpa sadar dia juga merindukan kebiasaan Chanyeol yang selalu mematikan lampu kamar dan menggantinya dengan lampu tidur. Bahkan terkadang jika Baekhyun tertidur setelah mengerjakan tugas, Chanyeol yang akan merapikan buku-bukunya jika sudah pulang bekerja—hingga menutup kelambu kamar yang Baekhyun selama ini tidak pernah lakukan.
Ah, dia akan merindukan Chanyeol. Begitu kesimpulannya.
.
.
.
Seminggu telah berlalu dan kehidupan Baekhyun kembali seperti semula. Memang tidak sepenuhnya karena dia sudah meninggalkan beberapa pekerjaannya setelah 'bekerja' dengan Chanyeol. Uangnya sudah lebih dari cukup; dan lagipula kebohongan mereka belum selesai.
Dia tidak pernah menghubungi Chanyeol. Dia tidak ingin mengganggu lelaki tersebut. Baekhyun hanya merasa jika dia menjadi beban bagi Chanyeol—meskipun selama ini Chanyeol mengatakan bahwa Baekhyun sudah banyak membantu.
Siang itu Baekhyun berjalan menyusuri lorong kampusnya. Dia akan pergi menuju kantin kampus untuk bertemu dengan kedua sahabatnya, Jongdae dan Kyungsoo. Kuliah hari ini membuatnya emosi karena dia dosennya yang super menyebalkan. Dia merasa teorinya benar, dan ketika berdebat, amarahnya sudah sampai di ujung kepalanya. Dan itu membuatnya ingin meledakkan bom kepada siapapun yang ada di sekitarnya.
"Hei." sapa Baekhyun pada Jongdae dan Kyungsoo yang sudah disana.
"Kenapa lagi?" tanya Jongdae yang sudah membaca ekspresi kusut dari sahabatnya itu.
"Entahlah. Aku sedang tidak ingin membahas apapun sekarang."
Baekhyun merebahkan kepalanya di meja makan itu. Rambutnya yang sekarang sudah berwarna hitam—dia mengecatnya sekitar lima hari sebelumnya—itu menutupi wajahnya yang lusuh. Moodnya sedang berantakan. Ah, sebenarnya bukan hanya hari itu. Sudah beberapa hari dia menjadi seseorang yang grumpy. Bahkan kemarin Kyungsoo baru saja menangis karena diceramahi Baekhyun habis-habisan. Untung saja puppy eyes dari Kyungsoo selalu berhasil membuat amarahnya reda.
"Hentikan semuanya dan kembali ke rumah itu." Ucap Jongdae.
Baekhyun mengangkat kepalanya dan menatap Jongdae dengan alis yang berkerut, "Apa maksudmu?"
"Baek, semenjak kau pergi dari rumah Chanyeol kau menjadi orang yang pemarah begini." Kyungsoo—yang melihat Baekhyun sudah mendelik—menyembunyikan kepalanya di belakang punggung Jongdae, "Maafkan aku." Ucapnya takut.
"Benar, Baek. Ada apa denganmu? Merindukannya? Kau punya kontak Chanyeol, hubungi saja! Kalau kau memang tidak bisa berpisah dengannya, kembali ke rumah itu. Jangan menjadi seorang denier!"
"Aku tidak begitu…" Baekhyun menurunkan pandangannya, "Baiklah, aku menyukainya hingga aku merasa gila. Tapi aku merasa jika hanya aku yang seperti ini. I feel like, it's just one-sided… Ah, entahlah."
"Aku tidak menyangka semuanya akan serumit ini. Dengar, Baek. Aku tahu ini dimulai dari sebuah kebohongan. Dan mungkin ini salahmu juga karena sudah membawa perasaanmu—jangan menyangkal dulu!" seru Jongdae ketika Baekhyun sudah membuka mulutnya.
Baekhyun menghela nafas, "Apa aku harus memulai semuanya? Tapi… aku perempuan, Dae! Harusnya dia dulu yang melakukan!"
"Ah, kau menganggap dirimu perempuan jika sudah begini? Aku pikir selama ini kau selalu berani melakukan hal apapun, sedangkan hal seperti ini kau berubah menjadi pengecut. Hah, aku tidak tahu apa yang sudah dilakukan seorang Park Chanyeol hingga bisa membuatmu seperti gadis SMA yang sedang jatuh cinta begini."
"Aku tidak begitu!"
"Buktinya? Setiap hari kau menggerutu tidak jelas dan menyalahkan orang-orang di sekitarmu. Jika aku mengatakan sesuatu yang berhubungan dengan lelaki itu, wajahmu berubah muram. Masih mau menyangkal juga?"
"Tapi—"
"Dan lagi, kau selalu sensitif jika aku pergi bersama Minnie ataupun Kyungsoo yang berkencan. Kau iri juga?"
"Aku tidak seperti itu—"
"Akui saja kalau kau ingin bertemu dengannya, Baek. Jangan menyangkal lagi!"
"Kenapa kau jadi emosi, Dae?"
"Karena kau selalu saja menyangkal perasaanmu sendiri."
Baekhyun terdiam. Dia sendiri juga emosi dengan semua ucapan Jongdae. Benar, dia menyukai Chanyeol, tapi bukan sampai seperti ini. Baru seminggu lagipula, pasti bukan karena itu. Dia yakin jika Chanyeol tidak berpengaruh hingga hidupnya begini. Dan Baekhyun yakin jika Jongdae hanya berbicara omong kosong; bluffing; bullshit.
"Ah, terserah kau saja, Dae." Ucap Baekhyun yang kemudian pergi entah kemana.
Jongdae menghela nafasnya. Dia tidak mengerti mengapa adiknya itu sangat keras kepala. Dia sudah berusaha agar Baekhyun mengerti dengan perasaannya sendiri. Dia mengira jika Chanyeol sebenarnya punya perasaan yang sama, karena dia mengamati bagaimana perilaku Chanyeol jika sedang bersama. Entah, yang dia tidak mengerti mengapa keduanya sama-sama bodoh untuk menyadari perasaan masing-masing. Apa sulitnya? Hanya karena mereka memulai semuanya dari sebuah kebohongan? Atau karena mereka tidak mau mengakui jika mereka bergantung satu sama lain? Tidak tahu, Jongdae hanya berusaha membuat spekulasi saja.
"Dae." Kyungsoo akhirnya membuka suara.
"Apa, Soo?"
"Jadi kesimpulan dari perdebatan kalian? Apa?"
"Kesimpulannya—ah, makan saja dulu. Nanti aku akan menjelaskan padamu."
"Tapi… aku ingin tahu." Rengek gadis itu.
"Tadi kau mendengarkan apa yang kami katakan, 'kan?"
"Uhum. Tapi aku tidak mengerti…"
"Astaga—makan dulu, Soo. Jangan berbicara dengan mulut penuh begitu." Ucap Jongdae yang juga emosi kepada adik kecilnya yang super lamban itu.
.
.
.
Kata-kata Jongdae sedikitnya menohok benak Baekhyun. Sekarang, dia sedang mendudukkan dirinya di sebuah taman kampus dengan permen karet rasa mint yang dikulum. Dia masih memikirkan apa yang dikatakan Jongdae. Tapi selama ini dia selalu menjadi seorang penyangkal. Selama seminggu belakangan dia moodnya selalu berantakan. Bahkan teman-teman kelasnya tidak berani meminta tugas padanya.
Sekitar empat hari yang lalu dia hampir berkelahi dengan Junsu. Masalahnya sepele, Baekhyun tidak terima dengan ucapan Junsu yang mengatakan bahwa Baekhyun lebih bagus dengan rambut blonde daripada warna hitam. Beberapa hari berikutnya, dia berhasil membuat Kyungsoo menangis hanya karena Kyungsoo tidak mengangkat teleponnya. Memang sih, Baekhyun ingin menceritakan masalahnya. Tapi saat itu Kyungsoo sedang bersama Jongin. Dan mulai saat itu, Baekhyun sangat sensitif.
Jongdae berkali-kali mengatakan 'Stop moping around, you dummy' dan itu juga membuat Baekyun naik darah. Ah, akhir-akhir ini Jongdae seperti seorang ayah yang sangat sabar karena menghadapi Baekhyun yang moody dan Kyungsoo yang menjadi korban. Baekhyun mengatakan jika dia sedang banyak masalah di kelas, tapi kata Jongdae itu semuanya bohong.
Lelaki itu berkata jika Baekhyun seperti itu hanya karena Baekhyun berusaha menyangkal semua perasaannya sendiri. Dia ingin menghubungi Chanyeol, tapi dia sendiri mengatakan bahwa dia tidak merindukan lelaki bertelinga lebar itu sama sekali. Selain itu Baekhyun mengatakan jika itu hanya one-sided dan hanya perasaan sementara. Padahal, Jongdae tahu jika Baekhyun benar-benar menyukai lelaki itu.
Disaat dia sedang melamunkan apa yang ganjil di otaknya, ada seseorang yang duduk di sampingnya. Daehyun.
"Hei, Baek."
"Hmm… apa?"
"Aku dengar kau tidak serumah lagi dengan dokter itu. Apa aku benar?"
Baekhyun melirik dengan wajah culasnya, "Siapa yang memberitahumu?"
"Semua orang sudah tahu tentang gosip itu. Iyakah?"
"Kenapa kau ingin tahu?" nada Baekhyun mulai meninggi.
"Tak apa." Daehyun tertawa kecil, "Kau sudah tidak memiliki hubungan apa-apa dengannya, 'kan?"
"Apa urusanmu?"
"Aku mau mencari kesempatan saja."
Baekhyun menghela nafasnya kesal, "Diam, dan pergi, Daehyun-ah. Aku sedang tidak ingin membahas itu."
"Tapi, apa aku boleh? Maksudku—"
"Pergi."
"Baek, jawab aku dulu—"
"AISH!"
Kaki Baekhyun melayang dan membuat Daehyun jatuh tersungkur. Dia tidak mengerti mengapa Daehyun masih saja bersikeras mendekatinya. Baekhyun sudah berusaha menjadi orang paling tidak ideal untuk seorang Jung Daehyun, tapi hasilnya tetap saja. Lelaki itu, yang semula sudah Baekhyun anggap lebih baik karena lumayan nyaman diajak berbicara, ternyata masih saja annoying dan itu membuat Baekhyun muak.
Gadis itu memperhatikan kemana arah Daehyun pergi dengan wajah yang memerah. Dia tidak suka dengan kenyataan jika semua orang mengira dia dan Chanyeol sudah berakhir. Wait, bisnis mereka belum berakhir kok. Hanya saja… Baekhyun tidak bisa menerima pernyataan jika dia dan Chanyeol sudah tidak ada apa-apa. Padahal sebenarnya, Baekhyun tahu jika mereka—dia dan Chanyeol—tidak pernah ada hubungan apapun.
DRRT—DRRT—DRRT
Baekhyun mengangkat ponselnya, "Halo?"
"Baekhyun-ssi?"
"Iya. Dengan siapa?"
"Luhan. Hmm… apa kau bersama Chanyeol sekarang? Sudah dua hari dia tidak bisa dihubungi. Dia juga tidak membuka pintu ketika aku kesana. Kebetulan data pribadimu ada di rumah sakit. Maka dari itu aku meneleponmu."
"Hm?" Baekhyun mengerutkan alisnya, "Apa dia tidak masuk kerja?"
"Kalau masuk kerja aku tidak akan menghubungimu, Baekhyun-ssi."
Sial, menyebalkan sekali wanita ini. Batin Baekhyun.
"Ah… sebenarnya aku sedang tidak bersama Chanyeol. Tapi mungkin aku akan pergi ke rumahnya nanti."
"Oh? Aku pikir kalian serumah…"
"Aku kembali ke rumahku sendiri, Luhan-ssi. Baiklah, aku akan menghubungimu jika sudah disana."
Baekhyun segera menutup sambungan telepon itu karena dia tahu pasti Luhan akan menanyakan hal-hal sensitif padanya. Dia tahu orang seperti Luhan; orang yang selalu menggali informasi sampai yang paling rahasia.
Di dalam benaknya dia berpikir, apa yang terjadi dengan Chanyeol. Dia tahu Chanyeol adalah orang yang pekerja keras—meskipun dokter bukan menjadi cita-citanya. Kalau sampai seperti ini, pasti ada sesuatu yang terjadi.
Sayangnya, dia tidak bisa langsung pergi saat itu juga. Ada kelas yang harus dihadiri oleh Baekhyun. Disaat mengantuk, mood yang sangat berantakan, apalagi ditambah kabar tentang Chanyeol yang tidak tahu kemana membuat Baekhyun ingin meledak saja. Sebenarnya dia ingin cepat-cepat pergi, tapi itu tidak bisa dilakukannya.
Sepanjang kelas dia menggerak-gerakkan kakinya. Dia gugup. Ah, lebih tepatnya sedang memikirkan sesuatu. Otaknya berisi tentang dimana Chanyeol, ada apa dengan Chanyeol, atau bahkan bagaimana keadaan Chanyeol sekarang. Pokoknya, hanya ada Chanyeol, Chanyeol, dan lapar. Dia sedang super-duper lapar saat itu.
Secara sembunyi-sembunyi dia mengunyah beberapa potong roti yang dibawanya dari rumah. Ah, jika dirumah sendiri, pola makan Baekhyun tidak akan menentu. Dia tidak punya bahan-bahan makanan yang banyak meskipun dia suka memasak. Lagipula jika di rumah sendiri dia lebih suka bermalas-malasan. Jika di rumah Chanyeol? Mau tak mau dia harus membersihkan rumah ataupun membuat sarapan jika ada waktu. Dia selalu ingat jika dia harus mengurus satu orang lagi. Selain karena itu bukan rumahnya sendiri, dia juga malas harus mendengar Chanyeol mengomel kalau ada sesuatu yang tidak benar.
Berkali-kali dia mengecek jam dinding yang ada di salah satu sisi kelas. Masih ada satu jam lagi dan dia merasa waktu berjalan sangat lama. Dia melihat teman-temannya sudah sangat bosan. Bahkan ada yang bermain game untuk sekadar mengusir rasa kantuk. Ah, Baekhyun tidak mengantuk sama sekali karena dia berkonsentrasi. Berkonsentrasi dengan keadaan Chanyeol tentu saja.
Begitu dosennya membubarkan kelas, Baekhyun langsung melarikan dirinya dari hamburan mahasiswa. Entah setan apa yang merasuki Baekhyun, yang jelas dia hanya merasa ada janji dengan Luhan untuk memberikan kabar tentang keadaan Chanyeol. Wait, ini adalah salah satu penyangkalan dari Baekhyun. Jauh di dalam hatinya, dia khawatir.
Perjalanan menuju rumah Chanyeol terasa lama. Bahkan sekarang dia berusaha menghubungi lelaki itu dan hasilnya nihil. Hanya ada nada panggil tanpa ada balasan. Rasa khawatirnya mulai menggunung dan itu membuatnya tidak sabar. Berkali-kali dia mendecakkan lidahnya karena bis yang berjalan sangat lambat. Tapi mau bagaimana lagi, dia harus berpikir dua kali hanya sekadar untuk naik taksi—dia harus menghemat semua uang yang dia punya.
Baekhyun berlari ketika sampai di gedung apartment Chanyeol. Pikirannya berkecamuk dengan hal-hal buruk yang mungkin terjadi. Bahkan dia berpikir bahwa Chanyeol mati hanya karena salah memasukkan bumbu di ramyun kesayangannya. Ini agak konyol, tapi Chanyeol benar-benar bodoh untuk hal-hal yang seperti itu.
"Chan?" ucap Baekhyun ketika berhasil memasuki apartment milik Chanyeol.
Dia melihat semuanya tertata rapi. Bahkan sepatu dan jas putih Chanyeol terletak di posisi yang benar. Dia melihat sekeliling dan tidak menemukan tanda-tanda kehidupan. Hingga dia mendengar seseorang terbatuk dari salah satu ruang.
"Chan? Astaga." Baekhyun menghampiri Chanyeol yang terbalut selimut tebal, "Chan? Kau baik-baik saja?"
"Hmm…" Chanyeol, dengan wajah pucat itu mengerjapkan matanya, "Baek?"
Gadis itu duduk di tepi ranjang sembari mengulurkan tangannya ke kening Chanyeol, "Astaga, suhu badanmu sangat tinggi. Bagaimana bisa begini?"
"Sehun, Sehun membuatku begini. Dia terkena flu dan menular padaku." Jawabnya dengan suara serak.
"Tapi kau dokter kenapa bisa separah ini—"
"Dokter juga manusia, Baek."
"Paling tidak kau tahu apa yang harus kau lakukan, Chan."
Chanyeol menggeram, "Berhenti mendebatku. Aku hanya ingin tidur sekarang."
"Haish! Tidur saja!" Baekhyun menaikkan selimut Chanyeol sampai ke pundak lelaki itu dengan wajah yang berkerut, "Aku akan membuatkan bubur untukmu—dan jangan protes!"
Baekhyun keluar dari kamar dan pergi ke dapur dengan perasaan kesal. Dia menyesal sudah khawatir—tidak juga, dia sedih melihat Chanyeol begini. Gadis itu mulai mengerjakan pekerjaannya walaupun sebenarnya sedang dongkol. Tapi… semuanya tetap dia lakukan, 'kan? Berhenti menjadi seorang denier, Baekhyun-ssi.
Dia menggerutu ketika menemukan sampah-sampah ramyeon cups disana. Ada sekitar tujuh atau delapan buah. Dan itu sudah membuat Baekhyun menyimpulkan kalau Chanyeol makan dengan tidak teratur—apalagi dengan makanan yang sama sekali tidak sehat. Dia juga menemukan beberapa puntung rokok yang terbuang di sudut dapur. Ah, Chanyeol tidak pernah merokok kalau ada Baekhyun di rumahnya. Tapi disaat Baekhyun baru pergi seminggu saja, rokok-rokok itu sudah ada disana.
"AH!" seru Baekhyun yang jarinya terkena panci panas yang dia gunakan untuk membuat bubur itu. Karena—mungkin—dia tergesa-gesa, dia menjadi ceroboh. Jari itu memerah dan sepertinya akan melepuh nanti.
Setelah mungkin hampir satu jam berkutat memasak dan membersihkan dapur Chanyeol, dia kembali ke kamar lelaki itu dengan tray yang berisi semangkuk bubur panas dan air putih. Dia tidak menyertakan obat karena dia tahu Chanyeol akan menyindirnya habis-habisan jika dia membawa obat yang salah.
"Chan, bangun. Makan dulu." Ucap Baekhyun yang sekarang duduk di tepi ranjang.
Chanyeol menggerakkan badannya sedikit, "Tenggorokkanku sedang sakit dan aku malas makan, Baek."
"YA!" Baekhyun meletakkan tray makanan itu di samping lampu tidur. Dia menyingkap selimut Chanyeol dan menarik lelaki itu agar terduduk, "Jangan banyak komentar. Makan!"
Baekhyun menaruh tray makanan itu di pangkuannya dan mulai menyendokkan bubur panas itu. Alisnya berkerut karena Chanyeol menatapnya kesal. Walaupun begitu dia tetap meniup bubur itu hingga dingin dan mulai menyodorkan itu ke depan mulut Chanyeol.
"HA—buka mulutmu, dummy."
"Mana ada orang menyuruh seseorang yang sakit makan dengan kata-kata begitu."
"HAISH! Kau ini! Kau hanya perlu makan dan tidak usah mengkritik. Makan ini!"
Chanyeol melahap makanan itu, "Rasanya hambar."
"YA! Ini enak! Aku sudah mencobanya tadi! Bisa-bisanya kau menghina—"
"Orang sakit tidak bisa merasakan makanan dengan baik, Baek. Jangan marah dan suapi aku lagi. Cepat."
Ingin rasanya Baekhyun menumpahkan bubur panas itu ke wajah Chanyeol. Dia tidak mengerti mengapa Chanyeol semenyebalkan ini. Dia pikir kehadirannya akan membantu, tapi kenyataannya dia sebal. Sebal? Dia senang juga kok. Senang karena bisa bertemu dengan Chanyeol.
Lelaki itu sesekali tersenyum. Tersenyum ketika Baekhyun sibuk dengan sendok ataupun dengan gelas air minumnya. Yang pasti ketika Baekhyun tidak melihat, Chanyeol akan tersenyum seperti orang gila.
"Rambutmu hitam." Ucap Chanyeol.
"Hmm, aku mengecatnya lima hari yang lalu. Buka mulutmu lagi."
"Kau lebih bagus dengan rambut hitam. Jangan di cat lagi."
"Hmm." Ucap Baekhyun dengan harapan wajahnya tidak memerah sekarang.
Mereka tidak melakukan percakapan selain kata 'Ha—' agar Chanyeol membuka mulutnya. Selebihnya, Baekhyun sibuk menundukkan kepala karena dia tahu Chanyeol menatapnya.
"Sudah habis. Mau aku ambilkan obat? Tapi aku tidak tahu yang mana. Beri tahu aku, aku akan mencarinya." Ujar Baekhyun.
"Tidak usah. Aku hanya ingin tidur saja."
Baekhyun mengangguk, "Baiklah. Kau bisa tidur sekarang." Jawabnya dan berbalik arah.
"Tunggu! Baek!"
"Hm?"
"Kau… akan pergi?"
"Tidak. Aku hanya pergi untuk mencuci ini. Ada apa?"
"Kemarilah," Baekhyun kembali duduk di tepi ranjang. Chanyeol yang masih duduk mengambil tray makanan itu dan menaruhnya di dekat lampu tidur.
"Ada apa?"
Chanyeol menepuk-nepuk ranjang di bagian sebelah kanannya, "Bisakah kau duduk disini?"
Meskipun Baekhyun tidak mengerti dan bingung, dia tetap menempati sebelah kanan Chanyeol, "Ada apa, Chan?" tanyanya.
"Tidak." Lelaki itu merebahkan dirinya, "Ayolah, rebahkan dirimu juga."
Bodohnya, Baekhyun tetap menurut dengan perintah Chanyeol, "Ada apa sih? Aku tidak mengerti!" ucapnya dengan nada yang meninggi.
"Tidak. Temani aku tidur, Baek. Aku sedang sakit…" ucap Chanyeol seraya mengusap-usapkan rambutnya pada pundak Baekhyun.
"Astaga…" Baekhyun membelai rambut lelaki itu, "Cepat tidur kau, Park Chanyeol." Ucapnya dengan nada datar.
"Kau tidak akan pergi, 'kan?"
"Ada apa denganmu? Kenapa kau menjadi manja begini?"
"Tidak." Chanyeol mulai menguap dan menutup matanya, "Jangan pergi."
"Maksudmu?"
"Kembalilah kemari. Tinggallah disini lagi."
Baekhyun tertawa kecil, "Kau kesepian, hm?"
Chanyeol, yang matanya tetap tidak terbuka itu menganggukkan kepalanya, "Aku merindukanmu."
Sekujur tubuh gadis itu serasa kaku ketika mendengar ucapan Chanyeol. Wajahnya—dia yakin—sudah memerah karena malu. Jujur jantungnya sudah tidak karuan sekarang. Dia tidak menyangka Chanyeol akan mengucapkan kata-kata begitu.
"Baek?"
"Hm?"
"Kenapa diam?"
"Ti-tidak."
"Hmm… tidak ada yang menyuruhkan makan jika aku sendiri, Baek. Tidak ada yang melarangku untuk tidak merokok, tidak ada yang membuat rumah gaduh—Baek, suaramu yang menyebalkan itu tidak ada lagi."
"Hmm, aku menemukan banyak puntung rokok—"
"Uhum, karena tidak ada orang yang aku ajak untuk bertengkar." Chanyeol mengubah posisinya dan menghadap ke arah Baekhyun dengan mata yang sudah terbuka, "Aku tidak bau, 'kan?"
Baekhyun menoleh, "Maksudmu?"
"Aku belum mandi sejak kemarin."
"Sama sekali?"
"Hanya mencuci muka dan menyikat gigi saja. Hehe—"
"Kau ini." Baekhyun tertawa kecil, "Jangan sakit lagi. Kau membuatku khawatir."
"Kau mengkhawatirkanku? Ah, senangnya."
Baekhyun terdiam. Dia, masih pada posisi yang sama, berhadapan dengan Chanyeol. Matanya terpaut dengan mata Chanyeol. Mereka masih bertahan dengan suasana yang sama, suasana yang diam. Baekhyun tidak bergeming, Chanyeol juga. Sampai akhirnya, Chanyeol bergerak. Gerakan itu sangat cepat hingga Baekhyun sadar bahwa bibirnya baru saja bersentuhan dengan milik Chanyeol. Ah, benar, Chanyeol baru saja mengecup bibirnya. Dengan sangat singkat.
"Chan—" Baekhyun berusaha mengumpulkan nyawanya.
"Ayo tidur, Baekhyunnie." Ucap Chanyeol yang kemudian melingkarkan lengannya pada Baekhyun dan memejamkan mata.
"Apa maumu?"
Chanyeol membuka matanya lagi, "Tidur."
"Apa yang baru saja kau lakukan—"
"Menciummu, Bodoh. Sekarang tidur, dan jika kau bangun nanti, kau kembali ke apartmentmu. Kemasi semua barangmu dan kembalilah kemari. Sudah jelas? Sekarang tidur." Ujar Chanyeol yang kemudian menutup matanya lagi.
Baekhyun menghela nafas panjang dan menggerutu, "Aku tidak yakin kau benar-benar sakit atau—"
"Sssh. Diam."
Jantung Baekhyun mungkin akan keluar dari tempatnya. Dan dia yakin Chanyeol bisa mendengar dan merasakan betapa kacaunya dirinya sekarang. Dia masih kaku dan pada keadaan yang sama.
Tiba-tiba, "Baek?"
"I-iya?"
"Apa jadinya jika kita benar-benar menikah?"
Oh, crap.
.
.
.
TBC.
