Moshi moshi~~ Sebenarnya saya mau lanjutin fic ini. Tapi berhubung hari ini sang tokoh utama, saya tunda dulu lanjutan ceritanya yah? Hehe. Jadi chapter ini fokus ke Deidara yang sedang berulangtahun :'3 yah, walaupun sebenarnya ada kok sedikit lanjutannya dari chapter kemarin. Semoga reader-san berkenan. Thanks for Uchiha aL, and Yume Yuu-chan for the reviews on previous chapter. =) and also those who hit favourite and follow button for my story. X3

.

.

Antara Itachi dan Deidara
Happy Birtday, Deidara

.

.

"Deidara." Sapa seseorang yang dapat dipastikan Deidara tak jauh darinya. Ia menoleh malas, mengetahui siapa pelakunya.

"Hn. Ada apa, un." Ia menoleh, dan hanya sedikit mengernyitkan dahi melihat wajah di hadapannya penuh lebam.

"Itachi sepertinya benar-benar menghajarnya tanpa ampun."

"Ada apa? Kau ingin bertanya siapa orang yang sudah membuatku jadi begini?"

"Memang siapa, un."

"Kekasihmu itu pelakunya. Aku tak berbuat apa-apa, tapi dia malah menghajarku sampai seperti ini."

"Ah. Kasihan sekali kau, Sasori-senpai. Lalu, ada apa kau kemari?"

Sasori terkejut sesaat melihat reaksi Deidara yang tak acuh dengan ceritanya. "Tch! Kenapa dia sama sekali tak khawatir atau semacamnya? Jangan bilang kalau Itachi sudah meracuninya lebih dulu."

"Hm? Ada apa senpai?"

"Uhh–– aku hanya ingin mengajakmu makan sia––ng, ya makan siang. Itachi tak bersamamu?"

"Dia sedang izin tak masuk. Ah, maaf. Aku sudah ada janji dengan temanku yang lainnya." Ucap Deidara tak peduli sembari melambaikan ke arah pintu, tempat ketiga temannya yang sudah menunggu. Ia beranjak, dan hanya melontarkan kata jaa, lalu menghilang meninggalkan Sasori.

"Tch! Pasti Itachi sudah melakukan sesuatu."

"Heh. Sepertinya kau gagal, Sasori."

Ia menoleh dan mendapati Kisame bersandar di ambang pintu sembari menyeringai ke arahnya. Pandangan tak suka Sasori hanya dibalas dengan tatapan meremehkan Kisame yang tak lama kemudian meninggalkan Sasori dengan rasa kesalnya.

.

.

.

"Deidara!"

Baru saja pintu terbuka, crtical hit sudah Itachi lancarkan ketiga sosok kekasihnya itu terlihat di depannya. Sungguh, Deidara sendiri juga heran ke mana hilangnya image cool seorang Uchiha yang sebelum ia menjadi kekasihnya.

"Aku bosan." Rengek Itachi yang masih bergelayut pada Deidara.

"Itachi, bagaimana kalau ada yang melihat?"

Tanpa aba-aba, ia menarik Deidara dan menutup pintu. Masih di tempat yang sama, ia kembali merengkuh tubuh yang lebih pendek darinya itu.

"Sekarang tak akan ada yang melihat." Ucap Itachi lirih lalu menenggelamkan wajahnya di pundak Deidara.

"..."

"Apa pemuda brengsek itu mengganggumu lagi? Apa dia macam-macam lagi? Katakan padaku kalau dia berbuat hal yang tak kusukai lagi."

"Bukankah kau bisa menanyakannya pada detektif sewaanmu?"

"Uhn?"

"Aku tau kau meminta Kisame terus mengawasiku seharian."

"Ah. Ketahuan ternyata."

Tuk!

"Ah, ittai, Deidara."

Astaga. Demi dewa keanehan, keajaiban, atau apapun itu jika mereka ada, apa yang sebenarnya terjadi pada Itachi? Baru kali ini ia melihat Itachi begitu manja padanya. Deidara mendaratkan sebuah pukulan di kepala Itachi berharap agar syaraf-syaraf Uchiha yang mungkin salah tersambung itu bisa kembali normal.

"Besok aku ke sekolah. Aku bosan di rumah. Seharian kaa-san terus menyuruhku ini itu."

Hari ini Itachi izin karena permintaan Deidara. Ia berharap, tak bertemu sebentar dengan Sasori mungkin akan mendinginkan kepalanya. Sepertinya bukannya membuat Itachi lebih baik, istirahat seharian di rumah malah membuat sulung Uchiha itu konslet.

Deidara melepaskan tangan Itachi yang masih melingkar di pinggangnya. Ia berbalik menghadap Itachi yang melihatnya dengan wajah penuh tanya. Tiba-tiba Deidara menempelkan punggung tangannya ke dahi Itachi dan terdiam sejenak.

"Ada apa, Dei?" Ucap Itachi heran.

"Aku kira kau sakit."

"Memangnya kenapa?"

"Tak biasanya kau manja seperti ini."

"Sialan kau, Deidara."

Itachi membopong Deidara di pundaknya. Pemuda itu berontak meminta diturunkan, dan permintaannya terpenuhi saat Itachi menghempaskannya di sofa. Deidara memandang takut-takut pada Itachi yang tak mengucapkan sepatah katapun. Mereka beradu pandang cukup lama, dan berhenti saat Itachi mengambrukkan tubuhnya di atas tubuh Deidara, namun tak sepenuhnya menimpakan beban tubuhnya itu pada kekasihnya.

"Ada apa Itachi?"

"Aku tak mau menyerahkanmu pada siapapun. Tidak pada pemuda brengsek itu, atau siapapun. Ucap Itachi yang menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Deidara."

"Aku juga tak akan kembali padanya. Jadi kau tak perlu khawatir." Deidara bersungguh-sungguh dengan perkataannya. Ia membelai rambut Itachi yang terikat seperti biasanya.

"Deidara, kau percaya, kan, kalau aku tak seperti yang kau sangka saat kejadian di ruang kesehatan itu?"

"Ehm..."

"Saat itu aku sedang ada di ruang kesehatan. Aku ingin tidur karena aku malas ikut pelajaran," Itachi mulai bercerita tanpa dipersilahkan, "Tiba-tiba gadis itu memanggilku. Suaranya kecil dan serak. Ia seperti mau meminta tolong. Aku mendekat, tapi suaranya masih tak jelas. Akhirnya aku menunduk, dan tiba-tiba saja––"

"Sudahlah Itachi. Aku tak mau membahas lagi. Aku percaya."

Ya. Deidara memang percaya dengan perkataan Itachi, mengingat saat itu Sasori yang membawanya ke sana. Sekarang ia yakin bahwa Sasori ambil bagian dari kejadian ini.

"Aku mau kau berjanji satu hal padaku."

"Hm?"

"Tak ada kekerasan lagi. Oke? Aku tak mau kau mendapat masalah."

"Aku mau berjanji asal kau menciumk––akh!"

Belum sempat Itachi menyelesaikan perkataannya–walaupun tanpa diselesaikan Deidara juga paham–Deidara memukul kepala Itachi yang masih tak beranjak dari posisinya semula. Itachi mengangkat kepalanya dan bersungut pada kekasihnya.

"Kau tidak sedang dalam posisi bisa menawar, Itachi!"

"Hai...hai."

Pemuda bermarga Uchiha itu beranjak dan duduk di sofa. Ia memandangi Deidara yang masih ada di posisinya. Senyum aneh tiba-tiba terpasang di wajah keriput mesum itu. Deidara yang tak suka, melemparkan sebuah bantal kursi, dan tepat mengenai wajah Itachi. Itachi malah tertawa melihat ekspresi gugup Deidara.

"Kenapa kau memandangiku dengan ekspresi seperti itu, heh?"

"Bukan apa-apa. Hanya saja, semakin dilihat, kau semakin manis." Ucap Itachi tanpa peduli bahwa perkataannya membuat rona merah di wajah Deidara semakin terlihat jelas.

"Diam kau! Aku ini pria, dan tak mungkin aku manis!"

"Yah. Tapi bagiku kau manis." Ucap Itachi tak peduli.

"Diam!"

"Deidara, bisakah kau mengambilkan aku minuman di kulkas?"

"Memangnya kau tak bisa mengambilnya sendiri, un!"

"Che. Kau ini. Sama sekali tak ada manisnya padaku. Hanya wajahmu saja yang manis." Itachi bernajak dan pergi ke dapur.

Sebenarnya cukup lama menurut Deidara jika Itachi hanya mengambil minuman. Ia pun memutuskan untuk menyusul Itachi, yang kemudian terhenti saat tiba-tiba lampu seluruh ruangan mati. Deidara mematung di tempat. Ia takut gelap.

"I..Itachi? Kau dimana?"

Tak ada jawaban untuk Deidara. Pemuda bersurai pirang itu mencoba kembali ke sofa namun..

"Akh! Ittai..." Ia malah tersandung dan terjerembam ke lantai setelah menabrak sofa yang ada di belakangnya. "ITACHI!"

Deidara semakin ketakutan. Dia tadi di dapur, dan dapur tak jauh dari tempat ia berada. Ia yakin bahwa Itachi bisa mendengarnya. Tak mendapat jawaban, Deidara malah mendengar suara-suara aneh yang berasal dari sekitarnya dan mendekat ke arahnya.

"Itachi? Apa itu kau?" Tanya Deidara ketakutan ketika ia melihat bayangan seseorang mendekat ke arahnya.

"..."

"Itachi! Candaanmu tak lucu sama sekali!"

Namun orang itu tak menjawab.

Ctik.

"GYYYAAAAAAAAAAAA!" Deidara menjerit ketakutan ketika melihat sebuah wajah tiba-tiba muncul di hadapannya.

"Hahaha! Sebegitu takutnya kah kau, Deidara?"

Deidara membungkam teriakannya ketika mengetahui suara siapa barusan. Ya, itu Itachi. Dapat Deidara lihat samar-samar orang yang ada di depannya bernajak, dan kemudian lampu ruangan kembali menyala. Itachi cukup terkejut saat melihat wajah Deidara yang lumayan pucat karena ketakutan. Bahkan setitik airmata terlihat di sudut matanya.

"Hei. Maaf, kalau aku aku keterlaluan, Dei." Itachi mendekat ke arah kekasihnya yang masih tak beranjak dari tempatnya itu.

"Sialan kau Itachi! Candaanmu benar-benar tak lucu!" Teriak Deidara dengan suara sedikit serak.

"Maafkan aku, Dei." Itachi berjongkok di depan Deidara yang masih ketakutan. Tubuhnya masih bergetar sedikit.

"Tanjoubi omedetou." Ucap Itachi yang lalu mengecup ringan belah merah muda Deidara.

"Eh?"

"Jangan bilang kau lupa."

"Aku lupa."

"Hn. Dasar dobe." Ucap Itachi, lalu menyodorkan sebuah kotak yang di dalamnya berjajar lima buah cupcake dengan lima lilin di masing-masing kue. Ia melihat miniatur dirinya yang terbuat dari fondant di kue yang ada di tengahnya. Tak lupa tulisan selamat ulang tahun ada di kue itu.

"Maaf barusan aku membuatmu takut."

"Hiks.. Itachi sialan." Deidara menangis. Ia menangis karena ketakutan dan senang. Itachi malah tertawa melihat ekspresi Deidara yang menurutnya lucu.

"Gomen gomen. Sudah lah. Sekarang tiup lilinnya. Jangan lupa katakan keinginanmu."

Ia menurut. Deidara diam sejenak sebelum meniup api-api kecil di lilin-lilin itu hingga mati.

"Apa yang kau minta?"

"Rahasia, un!"

"Tsk. Baiklah aku tak akan bertanya. Sekarang malan kuemu." Ucap Itachi yang kemudian mengotori pipi Deidara dengan sedikit keim dari cupcake.

"Itachi!" Deidara memukuli Itachi hingga Itachi terdorong kebelakang dan keduanya jatuh ke lantai.

"Hahahaha! Happy birthday, Dei." Lagi, Itachi mengucapkan selamat pada Deidara dan langsung memeluk pemuda yang ada di atasnya itu setelah mendaratkan kotak kue di tangannya ke lantai dengan selamat.

"Sankyu..." Balas Deidara lirih.

.

.

Owari.

.

.

Tanjoubi Omedetou, Dei-chan! \(^q^)/