Make A Wish
"Karena kau nyata...berarti sihir itu nyata?"
"Hn...kurang lebih begitu..."
"Jadi..." Gakushuu bersandar di bantal, menatap jin yang berputar-putar dengan kursi komputernya. "Jadi Hogwarts itu ada? Nyata?"
"Hnn..." Kirara terus berputar-putar. "Permintaan ke dua puluh lima, biarkan aku tidak menjawabnya. Kau baca sendiri bukan, undang-undang kerahasiaan sihir itu ada."
Jawaban ambigu itu membuat Gakushuu mendengus geli dan meletakkan buku ke-tujuh yang sudah ia selesaikan. Ia melirik jam bekernya dan memijit kepalanya. Ia benar-benar tidak tidur dan ia berhasil menyelesaikan ketujuh buku Harry Potter dalam satu malam. Orang lain tidak akan bisa membaca secepat itu dan menyerap semua hikmahnya. Tapi Gakushuu bukannya 'orang lain'.
Lalu dia menyadari hal lain.
"Kau benar-benar tidak tidur, padahal baru dua puluh lima permintaan."
"Aku tidur tujuh jam saat di sekolahmu kemarin." Kirara berhenti berputar-putar dengan kursi itu dan menatap Gakushuu. "Kau tidak sanggup sekolah tanpa tidur satu jam pun?"
Remaja bermata ungu itu memutar mata, mendengus remeh. "Aku tidak suka tidur. Ayahku malah sepertinya hanya tidur satu-dua jam."
"Bagaimana kalau aku membuat teori," Kirara mulai berputar-putar lagi, "...Kau pernah dengar kan, kalau orang yang jarang tidur lebih cepat mati?"
Gakushuu memasang tampang sengit, tidak mengatakan apapun, tapi Kirara menghiraukannya dan meneruskan.
"...Tapi itu tidak sesuai asas equivalent exchange. Sebenarnya, manusia normal menghabiskan beberapa tahun dari hidupnya dengan tidur. Dan dalam beberapa pemahaman, tidur adalah suatu aktivitas yang dekat dengan kematian."
"Dan kau ingin bilang, saat kita tidur, maksudnya kita mati untuk beberapa jam, seakan menyisipkan kematian kita, begitu?"
"Menyisipkan. Kata yang tepat." Kirara menjentikkan jari. "Misalkan kau lahir tahun dua ribu. Dan kau diberi umur tiga puluh untuk hidup. Tapi kau sama sekali tidak tidur, jadi kau mati tepat usia tiga puluh, tahun dua ribu tiga puluh. Entah karena kecelakaan atau penyakit. Atau, kau tidur. Dan waktu tidurmu sekitar total enam tahun. Jadi kau mati pada tahun dua ribu tiga puluh enam pada umur tiga puluh enam. Karena kau sudah mencicil kematianmu dengan tidur dengan akumulasi enam tahun."
Gakushuu terdiam, matanya agak melebar mendengarkan teori si jin. Ia tertawa gugup.
"Itu...hanya teori, kan?"
"Anggap saja begitu," Kirara meregangkan lengannya. "Tapi itu yang mungkin terjadi padaku."
Benar juga. Kirara telah tertidur beberapa ribu tahun di dalam lampu ajaib tersebut. Jadi si keriting itu sudah mencicil kematiannya ribuan tahun?
"Hei, setan kriwil,"
"Hn,"
"Kau...tahu segalanya, kan?"
"Tentu saja."
"Jadi...kau tahu kapan kau akan mati?"
Kirara yang sedang mengambang di udara mengerjap beberapa kali.
"Aku seperti Ryuk. Aku juga tahu kapan kau mati lho. Kau mau tahu?"
Gakushuu tidak menggubris tawaran si jin, dan turun dari kasur untuk memulai persiapannya ke sekolah. Ia sedang memakai sepatu sekolahnya saat jin keriting itu berdiri di belakangnya.
"Permintaan ke dua puluh enam...aku ingin ikut kau ke sekolah lagi."
Gakushuu mengernyit padanya bingung.
"Kau tahu, kan, kalau kau tidak usah minta?"
Si jin tersenyum, membuat remaja pirang aprikot itu merasa jumpalitan.
"Kan sebisa mungkin membuat permintaan agar aku cepat hengkang dari rumahmu?"
