Kagura mengusap pedang yang menancap di tubuh Zoro. Dia menatap wajah pria itu sesaat dan menciumnya. Kau telah membuat keputusan dan sekarang akan kubuat kau menyesalinya!
Chapter XI
MUGIWARA'S SON
DISCLAIMER:
*Eiichiro Oda
RATE:
*Teen
Pairing:
*Luffy x Hancock
∞HAPPY READING∞
.
.
"Aku terlambat…" gumam Chito saat mendapati tubuh Robin dan Zoro terkulai penuh luka. Dia bergegas menghampiri keduanya dan memeriksa denyut nadi mereka. Meski lemah, aku masih bisa merasakan denyut nadi mereka. Sebaiknya aku segera membawa mereka ke tempat Ben.
Chito bersiap membopong tubuh Robin dan Zoro. Namun dia terkesiap, melihat enam simbol gaib mementuk segitiga terbalik di leher Zoro. Simbol itu…
"Kagura… " suara Chito seperti tertahan. Dia tertunduk, kedua tangannya mengepal geram. Apa yang sebenarnya kau pikirkan sampai kau bisa bertidak sebodoh ini…
.
.
Luffy berdiri di depan pintu pondok nenek Nikumiya. Dia berdiam, mengingat percakapan terakhirnya dengan nenek berkonde aneh itu.
Luffy berdiri dan bertanya dengan antusias, "Beri tahu aku! Apakah dia seorang laki-laki atau perempuan?"
"Kenapa tiba-tiba kau menanyakan hal itu, apa kau sudah tahu siapa orang yang di maksud oleh kartu itu?"
"Ya!" Luffy menjawab dengan mantab. Dia ambil topi jerami di kepalanya dan menatapnya lekat-lekat "Seseorang yang berharga dan sangat ingin aku temui, tak kusangka kami akan bertemu sebelum aku berhasil mengembalikan topi ini,"
"Sepertinya kau memang sudah tahu siapa orang yang dimaksud oleh kartu itu, namun sayangnya aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu itu, anak muda!"
"HEEEE~ Kenapa?!" Luffy langsung pasang muka kagetnya yang super blo'on.
"Karena itu melanggar aturan langit. Sebagai pembaca takdir langit, ada hal yang bisa dan tidak bisa aku kukatakan. Hanya satu hal yang bisa kukatakan padamu sekarang,"
"…" Luffy.
"Dia sangatlah kuat!"
"Shishishi~ aku tahu itu!"
Luffy menarik topinya hingga menutup sebagian wajahnya. Dia tersenyum lebar, mengakhiri kilas balik dalam pikirannya. "Shishishi~! Aku tidak sabar menanti sampai saat itu tiba!"
.
.
Di istana Kuja, pulau Amazon Lily. Greenline.
"Apa semua sudah siap?"
"Ya! Sekarang tinggal membawa boo kemari dan selesai sudah,"
"Boo?"
"Kenapa terkejut begitu?"
"Sonia-nee-sama, untuk apa kodok itu dibawa kemari?"
"Jika kodok itu tidak dibawa kemari, siapa yang akan menghabiskan daging-daging itu?"
Marigold melihat tumpukan daging disekitarnya, "Jangan bilang jika semua daging-daging itu sengaja dikumpulkan untuk kodok itu,"
"Tapi itulah kenyataannya, kakak menyuruh semua dayang mengumpulkan daging-daging itu memang untuk boo."
"Jangan gila! Ups…" Marigold langsung membekap mulutnya. "Maaf, aku tidak bermaksud berkata kasar, tapi sejak kapan kodok makan daging?"
"Hahaha~!" Sandersonia terkikih. "Aku mengerti kenapa kau bereaksi seperti itu, tapi jika kau sudah melihatnya kau akan mengerti."
"…?" Marigold.
.
.
"Semoga kita tidak terlambat!" sahut Sanji sambil menarik gerobak kayu yang dipenuhi bahan-bahan makanan yang dibelinya.
"Yohohoho~! Karena terlalu asik berbelanja kita jadi lupa waktu."
"Tempat ini seperti surga. Sampai-sampai dua jam berlalu begitu saja."
"Hey Brook, benda apa yang kau lilitkan di lehermu itu? Bentuknya sungguh tidak asing,"
"Ini?!" Brook menunjuk syal barunya yang eksotis. Dia tarik kedua ujung syalnya dan memposisikannya tepat di depan dada. Sambil berkacak pinggang tengkorak berafro itu berseru, "Ini adalah syal keberuntunganku! Yohohoho~!"
JREEEEET! Keluar darah dari hidung Sanji.
"Are…" Franky.
"36… 40… ahh tidak! Ukurannya pasti lebih besar dari itu!" Sanji berteriak histeris dengan mata terbakar. "Bagaimana bisa kau mendapatkan nipple scarf edisi terbatas itu?! Aku yang dengan sabar mengantri hampir satu jam tidak kebagian syal cantik itu bagaimana bisa kau…"
Sanji menangis meratap sambil memukul-mukul tanah. "KENAPA DUNIA INI BEGITU TAK ADIL PADAKU!"
"Yohohoho, saat itu aku mengeluarkan rohku dan menyelip diantara barisan pembeli. Setelah sampai di depan aku mengambil syal ini dan meletakan uangku begitu saja," jelas Brook sambil membayangkan reka ulang adegan pembelian syal berbentuk buah dada itu. "Dan sebenarnya aku membeli dua syal. Sanji-san, kalau kau mau kau boleh memiliki syal yang satunya,"
"NGGG BENARKAH?" Sanji langsung bangkit dari keterpurukan.
"Ya," Brook menyerahkan kantung yang dibawanya.
"UUU~ TERIMA KASIH BROOK!" Sanji langsung membuka kantung yang diberikan Brook. Hidungnya langsung menyemburkan darah. "Meloorinee~!" tubuh Sanji bergoyang seperti ubur-ubur.
"Oiiii Fraaanky! Saaanji! Beeroooke!" teriak Luffy dari kejauhan. Dia berlari sambil melambaikan tangan.
"Luffy-san…"
"Kenapa bocah itu sendirian?"
"Sudah bisa dipastikan, dia pasti terpisah dari rombongan,"
"Senang bisa bertemu kalian disini!" sahut Luffy setelah sampai di tempat Sanji, Brook, dan Franky.
"Kenapa kau sendirian? Dimana Nami-san dan yang lainnya?"
"Tidak tahu!"
"Bagaimana bisa kau tidak tahu? Bukankah sebelum berpisah dengan kami kau pergi bersama mereka?!" Sanji mencengkram baju Luffy dan mengguncang tubuh karetnya.
"Sanji, benda apa itu yang melilit lehermu?" Luffy memiringkan kepala dan bersedaku—masih dalam cengkraman Sanji. "Belut?"
BUAGH! Sanji menjitak Luffy, mode same.
"Apanya yang belut! Dasar bodoh! Gunakan matamu dan tatap dengan benar! Ini adalah replika dari surga dunia!"
"Adududuhhh~ sakiiit! Aku hanya bertanya kenapa kau malah memukulku?!"
"Karena kau bodoh!"
"Sudahlah, lebih baik kita cari kawan-kawan yang lainnya dan segera kembali ke kastil."
"Yohohoho~! Franky-san benar!"
Keempat pembajak laut itu akhirnya meneruskan perjalananan mereka guna mencari kawan-kawan mereka yang lain.
Selama perjalanan tak habis-habisnya Sanji dan Brook memainkan syal aneh mereka. Pekerjaan menarik gerobak pun berpindah tangan. Franky, dialah yang terpilih untuk mengambil alih gerobak. Sedangkan Luffy, hanya jadi penggembira. Dia bernyanyi dengan lirik seadanya. Lebih tepatnya hanya asal bunyi.
"Hoi~! Hoi~! LUFFY! Lagu apa yang sedang kau nyanyikan?"
"Baguskan? Kau suka?"
"TIDAK!" Sanji menyilangkan tangannya di depan dada sebagai tanda penyangkalan.
"Shihishi~ begitu ya?" Luffy nyengir.
"Sepertinya kau lebih ceria dari biasanya Luffy, apa ada hal baik yang kau dapatkan?"
"Ya!" Luffy menyaut tanpa menurunkan cengiran di wajahnya. Dia terngiang kata-kata nenek Nikumiya; Saat bulan bersinar merah, semerah darah dan cahaya bintang mulai meredup dan hilang. Saat itulah langit mempertemukan kalian.
"Aku akan bertemu dengan seseorang yang berharga, shishishi~!"
"Seseorang yang berharga? Siapa dia? Apakah dia seorang wanita?" tanya Sanji memberondong.
Luffy mengerutkan dahi, berpikir. "Nenek peramal itu tidak memberitahuku, jadi aku tidak tahu!"
"Kau tidak tahu dia pria atau wanita, bagaimana bisa kau menyebutnya sebagai seseorang yang berharga?! Biar kutebak kau pasti juga tidak tahu siapa namanya darimana dia berasal, iyakan?"
"Aku tahu!"
"Kau pasti berbohong! Jenis kelaminnya saja kau tak tahu, bagaimana bisa kau tahu nama dan tempat asalnya!"
"Yohohoho~ boleh aku tahu nama dari seseorang yang berharga itu Luffy-san?
"Aku juga ingin tahu, jika dia berharga bagimu pasti dia seseorang yang SUUUUPERRR~! Cepat katakan pada kami siapa nama orang itu?"
Luffy nyengir semakin lebar, "Namanya…"
"LUUUUUFFFFFY GAWAAAAAAT!"
"…?" Luffy.
"…" Sanji.
"…" Brook.
"Usopp?" Frangky.
Dari punggung seekor naga, Usopp melompat turun. Air matanya mengalir deras.
"Kenapa kau menangis?" tanya Luffy.
"Zoro!" Usopp menangis semakin kencang.
"Zoro?"
"Apa terjadi sesuatu pada Zoro-san?"
"Si Marimo itu, apa dia tersesat dan jatuh ke jurang?"
"HUAAAAAA~HAHA!" Bukan menjawab Usopp malah menjerit.
"…!" Luffy.
"ZORO TERKENA JURUS KUTUKAN DAN SEKARANG DIA TIDAK AKAN BISA HIDUP LEBIH DARI ENAM HARI!"
"…?" Brook.
"…?" Franky.
"…?" Sanji.
"Kau pasti bercanda!"
Flashback. Tiga puluh menit sebelumnya.
"Sudah cukup! Aku lelah! Satu jam kita berlarian mencari si bodoh itu tapi tak juga ketemu!"
"Tapi kita tidak bisa kembali tanpa Luffy, Usopp…"
Usopp berjongkok mengatur napas, "Dia selalu saja membuat masalah!"
"Ayo kita cari Luffy lagi!"
"Ayo~!" sahut Usopp tak semangat.
Usopp dan Chopper melanjutkan misi pencarian mereka, tapi sosok Luffy tak juga nampak. Ingin rasanya mereka menyerah tapi kembali tanpa Luffy sama saja dengan bunuh diri. Nami pasti akan mengamuk dan menyuruh mereka kembali mencari Luffy. Dua pilihan yang tak mengenakan.
"Usopp lihat itu!" Chopper menunjuk sebuah arah—di atas langit. "Bukankah itu Nami, tapi siapa laki-laki disampingnya itu?"
"Laki-laki itu…" Usupp menyipitkan mata, dan saat Nami semakin dekat dia berteriak, "SALAH SATU DARI GUARDIAN!"
"HAH~!" Chopper.
"Usopp! Choppper! Akhirnya kami menemukan kalian!" sahut Nami dengan muka pucat.
"…?" Usopp dan Chopper saling memandang. Bingung.
"Sesuatu yang buruk telah terjadi pada Zoro dan Robin. Kau harus cepat menolong mereka, Chopper!"
"…!" Chopper dan Usopp kaget.
"Apa yang terjadi?" tanya Usopp.
"Apa keadaan mereka sangat mengkhatirkan?"
Nami diam dan hanya memalingkan muka.
"Nami jawab aku!"
"Sudah tidak ada waktu lagi, kita harus segera kembali ke kastil!" sahut Alben.
"Tunggu! Bagaimana dengan Luffy?! Dia terpisah dari kami dan sampai saat ini kami belum juga menemukannya,"
"Si bodoh itu, kenapa harus disaat seperti ini?!" umpat Nami geram.
"Dia bukan anak kecil lagi, dia tidak akan mati hanya karena terpisah dari kalian. Sebaiknya kalian pikirkan teman kalian yang sedang sekarat!"
Tanpa berpikir lagi Usopp dan Chopper langsung naik ke punggung naga yang dinaiki Nami dan Alben.
Beberapa saat kemudian, mereka sampai di kastil.
Bergegas mereka masuk ke kamar tempat Zoro dan Robin dibaringkan. Terlihat disana sudah ada Chitto, Raw dan shaman Yaoi.
"Kalian sudah datang!" seru Raw.
"Bagaimana keadaan Zoro dan Robin?" sahut Chopper.
"Aku sudah membuat berbagai ramuan obat, tapi pendarahan di lengan kiri Robin-san tak juga berhenti. Jika saja kakakku ada disini pasti dia bisa melakukan sesuatu,"
"Karena itu kami membawamu kemari, Chopper!"
"Lalu bagaimana dengan Zoro?"
"Kelihatannya keadaan Zoro tidak terlalu mengkhawatirkan," sahut Usopp dari samping tempat Zoro berbaring.
"Tidak! Kau salah Tuan hidung panjang,"
"Raw-chan katakan pada kami keadaan mereka yang sesungguhnya,"
"Tidak ada yang bisa kalian lakukan untuk membuat pria ini membuka matanya lagi," sahut Chito datar.
"…!" Chopper.
"…!" Nami.
"…!" Usopp.
"Zoro-san telah terkena jurus terlarang kaum arang. Dan seperti sebuah kutukan, jurus itu akan membunuhnya secara perlahan dalam enam hari!"
"Maksudmu Zoro tidak akan bisa hidup lebih dari enam hari?"
Usopp terduduk lemas, "Zoro…"
.
.
Axel berdiri di depan cermin besar yang ada di kamar Dadan. Dia memandangi pantulan dirinya di cermin dengan pandangan kosong. Sedikit helaan keluar dari mulutnya. Dia turunkan tangan kanannya dari bahunya. "Seperti biasa ini tak akan pernah bekerja untukku?"
Bocah itu berjalan keluar rumah dan duduk merenung di atas pohon lapuk yang sudah tumbang. Dia memeluk kedua lututnya dan menunduk—menangis.
Dari kejauhan Dadan, Dogra dan Magra diam-diam mengawasi Axel. Melihat bocah itu menangis, mereka seakan ikut larut dalam kesedihan. Tapi tak ada yang bisa mereka lakukan kecuali memberikannya ruang untuk menyendiri.
Lalu Sabo datang dan berjongkok di depan Axel. Dia tersenyum, "Apa masih terasa sakit?"
Axel menggeleng sambil menyeka air matanya.
"Kalau begitu kenapa kau menangis?"
"…" Axel menunduk. Menahan agar air matanya tidak keluar.
"Gomen, " Sabo mengusap kepala Axel. "Karena kelengahanku kau terluka, bodohnya lagi aku sama sekali tidak menyadari kapan kejadian itu terjadi. Sebagai seseorang yang seharusnya menjagamu, aku merasa tidak berguna!"
"Semua ini bukan kesalahan Paman! Sungguh!" Axel mencoba meyakinkan. "Aku ingin menceritakan semuanya tapi aku..." Axel menatap Sabo dengan mata berkaca-kaca. "Aku takut Paman akan menganggapku gila."
"...?" Sabo.
"Mungkin apa yang dikatakan oleh penduduk Kuja adalah sebuah kebenaran. Aku memang tak seharusnya di lahirkan..."
"Aku tidak akan pernah menganggapmu gila dan satu hal yang perlu kau ketahui, tidak ada satupun manusia didunia ini yang berhak memutuskan layak tidaknya seseorang untuk dilahirkan. Ingatlah itu!"
Axel mimbik-mimbik lalu menghambur memeluk Sabo. Dia menangis sejadi-jadinya.
"Sebenarnya apa yang telah terjadi, aku tidak pernah melihatmu secengeng ini," Sabo bergumam.
"Apa pelukan seorang ayah juga akan sehangat ini?"
"Hmmm~ mungkin!"
"Kenapa Paman menjawab mungkin?"
"Karena aku juga tidak tahu bagaimana rasanya dipeluk seorang ayah," Sabo nyengir.
"Ahahahak! Itu artinya kita senasib..."
"Kau ini! Kenapa semua sifat Luffy ada padamu?"
"Benarkah?" Axel melepas pelukannya.
"Ya, bahkan saat melihatmu aku seperti kembali hidup di masa lalu! Hanya satu hal yang membedakanmu dengannya,"
"Apa itu?" sahut Axel antusias. "Apa itu, Paman? Cepat katakan!"
"Kau tidak bisa melar seperti Luffy! Hahaha~!" Sabo menarik pipi Axel hingga bocah itu menjerit.
Axel merengut sebentar, lalu terbahak.
"Dia berhasil membuat bocah itu tertawa,"
"Sabo memang paman yang baik,"
"Whoahahaha~ AKU TIDAK MENANGIS!"
..
.
Di Kerajaan Kammabaka, Pulau Momoiro.
Seekor burung pembawa surat kabar menjatuhkan gulungan surat kabar edisi terbaru.
"Buang saja! Aku tidak mau membaca berita murahan yang telah dimanipulasi," sahut sang ratu okama, Ivankon.
Inazuma membalik setiap lembaran surat kabar edisi pagi itu. Memang tidak ada artikel yang menarik. Kebanyakan artikel yang dimuat hanya artikel murahan yang dibuat untuk menaikan pamor angkatan di kalangan masyarakat yang mulai sangsi dengan kinerja mereka sebagai penjunjung keadilan. Dan sisanya adalah artikel tentang penemuan-penemuan baru dan bencana alam.
"Bencana alam?" gumam Inazuma sambil membalik surat kabar ke halaman yang memuat artikel tentang bencana alam. Dia melihat foto yang dimuat dalam artikel itu dengan seksama.
"Kenapa belum juga kau buang! Apa harus aku sendiri yang membuangnya?!" Ivankov mulai mengomel. Dan sebelum omelannya semakin menjadi, Inazuma menyodorkan artikel tentang bencana alam yang sedang menarik perhatiannya.
"Gempa dan tornado besar nyaris membelah Pulau Dawn," Ivankov membaca judul artikel yang ditunjukan inazuma. "Cuma bencana alam biasa yang dibesar-besarkan!"
"Lihat baik-baik foto yang dimuat dalam artikel itu, tidakkah kau merasa keadaan yang tergambar di foto itu hampir sama dengan keadaan kerajaan selatan yang diruntuhkan dua belas tahun yang lalu?"
"Sebuah Tornado muncul dan menghilang begitu saja di semenanjung pulau Dawn. Akibatnya jalur utama penghubung Kerajaan Goa dan desa sekitarnya terputus karena adanya retakan tanah sedalam puluhan meter melintang dari semenajung pulau hingga pegunungan Corvo..." Ivankov meremas surat kabar di tangannya.
"Bagaimana, apa kita akan berlayar sekarang?!"
"Kemampuanmu menganalisa memang tak perlu diragukan, Inazuma!" sahut Ivankov lalu melempar surat kabarnya. "Siapkan kapal, sekarang juga kita jemput google-boy!"
.
.
"Pokoknya aku ingin ikuuuut!"
"Tidak! Kali ini aku tidak akan mengajakmu!"
"Aku berjanji tidak akan berulah, jadi ajaklah aku Paman!" Axel merengek sambil menggelayuti kaki Sabo.
"Ajak saja dia," sahut Dogra.
"Ayolah Paman ajak aku! Ajak aku! Ajak aku!"
"Aku bilang tidak itu artinya tidak!" tegas Sabo.
Axel membuang muka ngambek.
"Aku berjanji tidak akan pulang dengan tangan kosong. Akan kubawakan daging yang banyak untukmu," rayu Sabo.
"Daging?! Hanya untukku?!" sahut Axel bersemangat.
Sabo mengangguk, "Hanya untukmu!"
"Kalau begitu baiklah!"
Seperti dugaanku, kelemahannya adalah daging. Sabo bergumam dalam hati.
"Ambil ini!" Sabo menyerahkan sebuah peluit kecil. "Tiup saat kau dalam keadaan bahaya, aku akan segera datang menolongmu."
Merasa penasaran, Axel meniup peluit Sabo sekuat tenaga.
"ARRRRGGGH~!" Sabo menutup telinganya rapat-rapat. "Jangan meniupnya sekereas itu saat aku ada sedekat ini denganmu!"
Axel melongo heran, peluit itu bahkan tak mengeluarkan bunyi sedikitpun tapi kenapa pamannya itu sampai menutup telinga. "Paman baik-baik saja?"
"Ya, aku baik-baik saja. Hanya sedikit terkejut saat kau membunyikan peluit sekeras itu."
"Peluit ini sama sekali tidak berbuyi,"
"Itu bukan peluit biasa, peluit itu dibuat khusus agar menghasilkan bunyi berfrekuensi tinggi yang tidak akan bisa di dengar oleh manusia,"
"Tapi Paman bisa mendengarnya, Paman bukan manusia ya?' tanya Axel sambil pasang muka innocent.
"Aku manusia sepertimu, hanya saja aku punya pendengaran yang sedikit lebih tajam!"
"...?" Axel.
"Baiklah, aku akan pergi sekarang. Berjanjilah tidak akan berulah selama aku tidak ada!"
"SIAP!" Axel nyengir.
Kemudian...
Dua jam yang membosankan telah berlalu. Axel tidak tahu harus melakukan apa untuk melewati setengah hari berikutnya. Dia bosan jika harus duduk diam sampai Sabo pulang. Apalagi dia sudah berjanji tidak akan berulah.
"Membosankan..." gumam Axel.
Lalu keluar Dogra dan Magra dari dalam rumah.
Axel menatap Dogra dan Magra dari atas kepala sampai ke ujung kaki. Penampilan mereka tak seperti biasanya. Lebih bersih dan rapi. Dan mereka juga membawa tas besar, kira-kira mau pergi kemana mereka...
"Kalian mau pergi kemana?"
"Kami akan pergi ke desa, membeli sake dan bumbu dapur," sahut Dogra.
"Boleh aku ikut?"
Dogra dan Magra saling melihat.
"Dogra! Magra! Apa aku boleh ikut?" Axel merengek lagi.
"TIDAK BOLEH!" sahut Dadan dari belakang Dogra dan Magra.
"Kenapa? Aku bosan jika harus diam di rumah sampai paman Sabo pulang! Aku ingin ke desa bersama mereka!"
"Kau tidak akan bosan, karena setelah ini aku punya pekerjaan untukmu!"
"Aku tidak akan mengerjakaan pekerjaan yang kau berikan! Aku mau pergi ke desa bersama mereka!"
"Dasar bocah! Sekarang juga pergilah mencari kayu!"
"Hanya mencari kayu?"
"Okashira, luka Axel belum sembuh sepenuhnya bagaimana bisa kau menyuruhnya melakukan pekerjaan berat?" sahut Magra.
"Bagaimana jika dia diterkam hewan buas lagi?" tambah Dogra.
Dadan sebenarnya tak tega juga. Tapi untuk menunjukan kegarangannya dia mengesampingkan sisi lembut hatinya. "Kalian selalu saja memanjakannya! Aku hanya menyuruhnya mencari kayu, bukan menyuruhnya mati!"
"Hoiii! Aku sudah menemukan kayu yang bagus! Apa setelah ini aku boleh ikut mereka ke desa?" sahut Axel yang ternyata sudah ada di samping pohon besar tak jauh dari rumah Dadan.
"Aku menyuruhmu mencari kayu yang bisa dibakar, bukan pohon utuh yang yang masih menancap ditanah!"
"Jangan hanya diam, tanggap ini Nek!"
"NG? Tangkap?"
"HUWAAAAAA MENYINGKIR!" Dogra dan Magra berlari komikal.
"HE?" Dadan.
BOOOOM! Sebuah pohon besar roboh tepat di samping Dadan. Wanita berambut ikal itu masih melongo. Hampir saja dia mati tertimpa pohon.
"Sudah kubilang untuk menangkapnya, kenapa nenek malah diam saja!"
Dadan menatap Axel, death glare mode on.
"BOCAH SIALAN KAU INGIN MEMBUNUHKU YA?!"
Dua jitakan super kemudian…
"Sakiit~!" Axel berjalan sambil mengusap dua benjolan di kepalanya. "Aku tidak mengerti kenapa nenek memukulku, padahal kan aku hanya memberi apa yang dia minta!"
"Bos hanya terkejut, sudahlah tak usah kau pikirkan!"
"Ngomong-ngomong bagaimana caramu merobohkan pohon sebesar itu?"
"Mudah kok!" Axel memukul pohon disampingnya.
"…?" Dogra.
"…?" Magra.
"Hanya seperti ini!" Axel nyengir sambil mengacungkan dua jarinya, bersamaan dengan robohnya pohon disampingnya.
"HEEE~ SEKALI PUKUL?!" Dogra dan Magra jawdrop.
Di desa Fusha.
"Dia kuat…"
"Apa perlu kuingatkan lagi siapa anak itu?"
"Tidak! Terima kasih. " Dogra menghela pasrah. "Sejenak aku lupa kalau dia juga cucu Garp. Heran, apa semua anak yang lahir dari keluarga mereka memang terlahir sebagai manusia super?"
"Hahaha, mungkin saja."
"Whoaa ada banyak laki-laki di desa ini?"
"Reaksimu berlebihan, apa sebelumnya kau tinggal di desa yang hanya dihuni oleh wanita sampai kau terkejut melihat ada banyak laki-laki di dunia ini selain dirimu…"
"Di Kuja aku memang satu-satunya anak laki-laki,"
"Kuja? Dimana itu Ku-Ja?"
"Mungkin itu daerah rawan perang sehingga para lelaki meninggalkan rumah dan hanya menyisakan para wanita…" sahut Magra sambil membayangkan keadaan—Kuja—tempat tinggal Axel sebelumnya.
"Ahh bisa juga itu adalah daerah susah pangan sehingga para lelaki harus meninggalkan desa,"
Axel yang berjalan di depan Dogra dan Magra langsung berbalik. Dia bertolak pinggang dan menatap dua bandit asuhan neneknya itu dengan kesal.
"K-Kenapa?" tanya Dogra.
Axel mengacungkan tangannya ke depan, "Kuja tak seperti yang kalian bicarakan! Tidak ada perang dan tidak ada orang kelaparan! Kalaupun ada perang, itu pasti perang kecil untuk mengusir laki-laki yang masuk ke desa!"
"Eeeh…?" Dogra.
"Kenapa laki-laki yang masuk ke desa malah diusir?"
"Ehmm~" Axel garuk-garuk kepala, "Mama bilang hanya wanita yang boleh menginjak tanah Kuja. Karena itu mereka mengusir semua laki-laki yang datang."
"Bukankah kau juga laki-laki, kenapa mereka tidak mengusirmu?" sahut Dogra, straight-faced.
"Entahlah, aku juga pernah menanyakan hal itu tapi tak ada seorangpun yang mau menjawab…" Axel mengakat bahu dan berbalik.
Pada saat berbalik tanpa sengaja Axel menabrak seseorang. Bocah itu jatuh terduduk karena terpental. Dia mendongak ingin meminta maaf tapi orang yang ditabraknya itu sudah berlari pergi entah kemana.
Dogra dan Magra membantu Axel berdiri.
"Kau tidak apa apa?"
Axel diam tak menjawab.
"Dia buru-buru sekali…" sahut Magrah sambil melihat kearah orang yang bertabrakan dengan Axel berlari.
Axel menepis tangan Dogra dan berlari mengejar orang yang bertabrakan dengannya. "Pencuri! Jangan harap kau bisa lari!"
"Pencuri?" sahut Dogra dan Magra bersamaan.
"Axel-kun, tunggu kami!" Dogra dan Magra berteriak lalu mengejar Axel.
Axel terus berlari mengejar orang yang dia sebut pencuri.
"Dasar pencuri! berhenti kau!" Axel merancau.
Sadar sedang dikejar. Pencuri itu berlari zigzag untuk mengecoh Axel. Sayang axel lebih cerdik dari perkiraannya. Takut tertangkap dan dihakimi, pencuri itu tiba-tiba membelokan kaki memasuki gang kecil diantara pedagang.
Axel yang terlanjur mengayuh kaki sekuat tenaga, terkejut melihat pencuri itu berbelok tiba-tiba. Karena tak bisa mengerem dia menabrak seorang wanita yang tengah berbelanja.
"Adududuh~!" Axel mengusap kepalanya yang menyundul barang bawaan wanita yang ditabraknya. Dia seketika berdiri dan membantu memunguti belanjaan yang tercecer.
Wanita yang ditabrak Axel itu hanya terdiam melihat Axel yang sedang sibuk memunguti jeruk-jeruknya.
"Maaf, aku buru-buru!" sahut Axel setelah berhasil memungut semua buah jeruk. Kemudian dia membungkuk dan berlari mengejar si pencuri—lagi.
Lalu seorang pria paruh baya mendekati wanita itu, "Makino, kau baik-baik saja?"
"Saya baik-baik saja, Sonchou!" sahut wanita berambut hijau tua itu.
"Kalau begitu, ayo kita kembali sebelum pintu barmu dirusak lagi! Para bajak laut itu selalu saja mengacau!" kata pria tua itu sembari berjalan mendahului Makino.
Makino berjalan dan berhenti di gang kecil yang Axel masuki. Dia menatap gang itu, "Luffy…"
.
.
Di majonoia.
Perlahan robin mulai membuka matanya. Dia melihat lemah sekitarnya.
"Chopper…"
"Robiiiin, kau sudah sadar! Syukurlah!" seru Chopper bahagia.
"Zoro… dimana Zoro…?"
"Zoro…" Wajah gembira Chopper berubah sedih, air matanya mulai mengenggenang.
Melihat itu Robin sudah tahu kejadian buruk yang dia alami bukanlah mimpi. Dia memejamkan mata, mengingat kejadian saat pria berambut hijau itu menghalau pedang Kagura dengan tubuhnya hanya untuk melindunginya.
Robin menangis—masih dalam keadaan terpejam. "Kenapa kau harus mengorbankan dirimu hanya untuk melindungiku?"
Di tempat Zoro.
Dug! Dug! Dug! Luffy memukul tempok untuk melampiaskan kemarahannya. Dia marah pada dirinya yang tak bisa berbuat apa-apa.
"Luffy hentikan!" Nami menahan tangan Luffy, "Jangan melakukan hal yang sia-sia! Sampai tembok itu hancur pun keadaan tidak akan berubah! Zoro tetap akan terbaring di tempat itu!"
"HUARRRR~!" Luffy memukul tembok semakin keras dari sebelumnya.
Semua orang di ruangan itu terdiam melihat betapa kacaunya Luffy. Terlebih saat pria itu mulai menangis.
"Sial! Sial! Sial! Kenapa aku begitu tak berguna!"
"Luffy…" Nami menutup mulutnya mencoba menahan tangis. Tapi melihat kesedihan Luffy, air matanya tumpah juga.
Sanji menghabiskan isapan terakhir rokoknya lalu berjalan menghampiri Luffy. Dia terlihat kesal. Dan tiba-tiba saja dia memukul Luffy hingga terpental. "Kau menangis seolah dia sudah mati! Apa selama enam hari kau hanya akan menangis dan meratapi nasib?"
Sanji mencengkram kerah Luffy dan memukulnya berkali-kali. "Dia bukan pria lemah! Dia tidak akan mati hanya karena jurus bodoh seperti itu!"
Luffy menangkap pukulan Sanji, dia menyeka air matanya dan berkata, "Aku tidak mau lagi kehilangan orang yang berharga dalam hidupku, karena itu tidak akan kubiarkan Zoro mati!"
.o0*BERSAMBUNG*0o.
Ternyata bisa juga update "Agak" cepat dari biasanya, xoxoxo~
yah telah diputuskan bahwa author tidak akan merubah Sabo dalam fic ini, dan tentang pertarungan Zoro dan Kagura yang kena skip di Chapter ini akan author masukan di chapter berikutnya sebagai scene flashback.
Okay...
see u in the next chapter, chiao~!
